Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Jasa INTERMEDIASI

Sebagai kalangan pengusaha ataupun masyarakat yang hendak melakukan transaksi keuangan seperti jual-beli, pemesanan, kontrak kerja-sama bisnis, dan hubungan hukum lainnya, terkadang yang menjadi kendala utama ialah pertanyaan sederhana berikut:
  • Membayar terlebih dahulu kepada penjual, baru meminta barang diserahkan kepada pembeli; ataukah
  • Terlebih dahulu menuntut agar barang diserahkan oleh penjual, barulah pembeli melakukan pembayaran barang.
Pada dasarnya, tanpa keterlibatan pihak ketiga selaku penengah maupun mediator yang dapat memberikan pendapat secara netral, proprosional, dan objektif, disamping kompeten dibidang profesi aturan hukum, potensi sengketa tetap dapat terjadi dan tidak terelakkan.
 Hery Shietra, KONSULTAN HUKUM


Sebagai contoh sebagaimana tidak jarang terjadi, pihak pemilik rumah hendak menawarkan rumahnya untuk dijual, kemudian calon pembeli menyatakan minatnya untuk membeli. Setelah dilakukan tanda-tangan pada Akta Jual-Beli, ternyata pihak pembeli belum kunjung juga melunasi harga-jual beli setelah sekian lama selain sekadar janji-janji kosong.

Atau sebaliknya, pihak calon pembeli rumah telah menyerahkan sejumlah dana pelunasan, namun ternyata Perjanjian Pengikatan Jual-Beli rumah tidak pernah kunjung direalisasi menjadi Akta Jual-Beli oleh pihak penjual rumah. Apapun opsinya, baik menerima barang terlebih dahulu ataupun terlebih dahulu membayar, selalu terbuka potensi / resiko sengketa hukum, karena memang Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di Indonesia masih secara sumir mengaturnya, apakah menyerahkan barang terlebih dahulu ataukah menyerahkan uang terlebih dahulu. Dimana itulah, tepatnya polemik paling utama yang selama ini mewarnai sengketa perkara perdata maupun pidana di peradilan.

Pihak penjual dapat menemukan dalil alibinya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mengatur bahwa pihak pembeli wajib terlebih dahulu menyerahkan dana jual-beli baru timbul kewajiban penjual untuk menyerahkan barang kepada pihak pembeli.

Sebaliknya, pihak pembeli dapat pula menemukan alibi pembenar bagi dirinya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata guna bersikukuh agar pihak penjual terlebih dahulu menyerahkan barang ke dalam kekuasaan pihak pembeli sebelum pembeli menyerahkan seluruh dana pelunasan jual-beli atau transaksi lainnya.

Apapun itu, Konsultan Shietra selalu menemukan rata-rata akar sengketa perdata terbit dari itikad buruk salah satu pihak, bisa dari pihak penjual dan tidak jarang itikad buruk terbit dari pihak calon pembeli. Karenanya, sejatinya menjadi tidak lagi relevan isu hukum : terlebih dahulu menyerahkan barang, ataukah terlebih dahulu membayar harga.

Bila salah satu pihak tidak beritikad baik, maka apapun itu opsinya, baik terlebih dahulu menyerahkan barang ataupun terlebih dahulu membayar harga, maka akan cenderung bermuara pada sengketa gugatan perdata hingga pidana penipuan ataupun penggelapan. Bahkan tidak jarang, terkadang "legal due dilligence" sekalipun tidak berfungsi optimal bila pada gilirannya transaksi tidak menggunakan "Jasa Intermediasi". Semisal, ditemukan benar bahwa objek tanah adalah milik penjual, namun ketika dana jual-beli diserahkan pembeli, ternyata pihak penjual tidak lagi pernah muncul untuk menanda-tangani Akta Jual-Beli. Bukankah potensi resiko demikian, sangat riskan, serta kerap terjadi?

Karenanya, selalu dibutuhkan pihak penengah (intermediasi), yang dapat menjadi pihak ketiga yang secara netral dan objektif mampu menilai siapakah pihak yang bersalah dan yang patut mendapat perlindungan dan beritikad baik. Seperti apa sajakah fungsi dari seorang penyedia jasa intermediasi ini?

Penyedia jasa intermediasi, dapat berperan sebagai mediator guna menilai dan memberikan opini hukum secara netral dan objektif bagi para pihak yang saling bersengketa, karena bisa jadi sengketa terbit akibat kesalah-pahaman ataupun mis-persepsi / mis-komunikasi, ataupun sebagai "hakim mediasi" guna menentukan pihak manakah yang patut dibenarkan dan pihak lainnya yang patut menghormati pihak lainnya.

Calon penjual atau calon pembeli yang mengetahui bahwa transaksi mereka menggunakan jasa "penengah" yang netral dan bereputasi tinggi (well-known person) seperti Konsultan Shietra, cenderung untuk tidak berani "mencoba-coba" bersikap "nakal"--itu jugalah tepatnya kelebihan utama menggunakan jasa intermediasi yang ditawarkan oleh Konsultan Shietra.

Penyedia jasa intermediasi juga dapat menjadi pihak yang memegang dan menahan dana transaksi dari pihak pembeli, untuk sementara waktu, hingga transaksi tuntas dan disertai verifikasi tiada masalah yang muncul dari pihak pembeli, untuk kemudian oleh penyedia jasa intermediasi selanjutnya dana dari pihak pembeli diserahkan kepada pihak penjual. Dengan demikian, baik pihak penjual maupun pihak pembeli dapat bertransaksi secara tenang, karena terdapat pihak ketiga yang netral dan objektif selaku penengah transaksi kedua belah pihak. Berbisnis dan bertransaksi secara tenang.

Dengan demikian, modus-modus wanprestasi hingga penipuan ataupun penggelapan dapat diminimalisir dan dimitigasi seminimum mungkin. Fungsi penyedia jasa intermediasi, sangat menyerupai seorang "broker" profesional yang menjadi penengah antara pihak pemilik dan calon pembeli, atau seperti sebuah "marketplace" yang menjadi penengah antara penjual dan pembeli, dimana dana pembeli untuk sementara waktu ditahan oleh pihak "marketplace", dimana pihak "marketplace" sekaligus sebagai "hakim" pemutus ketika terjadi sengketa antara penjual dan pihak pembeli.

Dengan memakai analogi jasa penengah semacam "marketplace" (jual-beli online) demikian yang saat kini marak, dimana bahkan pihak penjual dan pembeli tidak pernah saling bertatap-muka dan tidak pernah saling mengenal satu sama lain. Berbekal reputasi dan kepercayaan dari pengguna jasa, penyedia jasa "jasa intermediasi" pun dapat menghubungkan antara dua pihak yang saling berbisnis atau antara penjual dan pihak pembeli dengan tanpa rasa cemas, karena dana dipastikan aman di tangan pihak ketiga yang netral, profesional, serta OBJEKTIF.

Bagi masyarakat calon pengguna "jasa intermediasi" yang berminat menggunakan jasa Konsultan Shietra sebagai sebatas "mediator" ataupun sebagai penengah proses transaksi, silahkan menghubungi kami pada surel dengan alamat legal.hukum@gmail.com dengan disertai subjek email "Permohonan Kerjasama Jasa INTERMEDIASI".

PERINGATAN : Hanya Klien pembayar tarif konsultasi yang berhak untuk menceritakan masalah hukum ataupun mengajukan pertanyaan terkait masalah hukum. Pelanggaran terhadap peringatan ini ataupun penyalahgunaan nomor kontak kerja ataupun email profesi kami, sanksi berlaku. Jasa Intermediasi ialah untuk mencegah sengketa yang belum terjadi, bukan masalah yang telah terjadi. Bagi yang lebih menghendaki layanan jasa konseling seputar hukum, daftarkan diri Anda sebagai klien pengguna jasa Konsultasi Hukum, bukan "jasa intermediasi".

Pastikan untuk mengamankan transaksi Anda, karena mencegah (preventif) selalu lebih baik daripada mengobati (kuratif). Terutama, blla nilai transaksi tergolong bernominal besar, tentu resiko yang sejatinya dapat dimitigasi menjadi riskan karena dapat dihindari dengan solusi pihak ketiga yang NETRAL serta OBJEKTIF, disamping PROFESIONAL dibidang hukum.

Konsultan Shietra akan memberlakukan tarif Jasa Intermediasi dengan besaran serta lingkup cakupan peran sesuai kebutuhan dan kesepakatan dengan klien pengguna jasa. Pahami betul, kuratif secara hukum, jauh lebih berbiaya mahal ketimbang preventif. Sudahkah Anda mengamankan transaksi Anda dengan jasa seorang Intermediator?

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan