Kombinasi Ramuan 3 Jenis Manusia Paling Berbahaya, Beracun, dan Mematikan di Muka Bumi

SENI PIKIR

Ramuan yang Terdiri dari Racikan Bumbu Tiket Terjamin Masuk Surga, Kompromistis terhadap Dosa / Maksiat, dan Iming-Iming Penghapusan Dosa = Resep Kejahatan Sempurna

Hanya seorang Pendosa, yang Membutuhkan Keyakinan Penuh Korupsi bernama “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, sementara Suciwan Memilih Tidak Menodai Dirinya dengan Dosa, dan para Ksatria Memilih untuk Bertanggung-Jawab terhadap Korban alih Melarikan Diri dari Tanggung-Jawab

Untuk dapat menilai suatu bangsa sebagai telah beradab ataukah masih “biadab” bermental purbakala, bukanlah perkara sukar. Indikator tingkat peradaban suatu bangsa, bukan dinilai dari tolak-ukur semacam “agamais” atau tidaknya. Tidak ada yang sukar menjadi pelaku aksi “lip service”, siapapun bisa dan sanggup, bahkan Presiden Republik Indonesia pun dianugerahi gelar “the King of Lip Services”, obral klaim kesuksesan melayani masyarakat, dan lebih sibuk mengumbar klaim daripada menyingsingkan lengan baju untuk real bekerja bagi masyarakat.

Kendalikan Pandemik Wabah dengan Menerapkan Protokol KETAKUTAN, TAKUT DOSA BILA TERTULAR & MENULARI ORANG LAIN

ARTIKEL HUKUM

Ketika Imbauan Protokol Kesehatan sudah Tidak Lagi Efektif Menggetarkan Hati Rakyat yang Sekeras Batu, Kesombongan atas Kesehatannya yang Merasa Kebal Wabah sehingga Menyepelekan dan Meremehkan Kesehatan / Keselamatan Orang Lain

Kebal Wabah Belum Tentu KEBAL DOSA, Jangan Menantang Wabah jika Tidak Ingin Menantang DOSA

Ditengah kian merebak dan meluasnya pandemik global dan domestik akibat wabah virus menular antar manusia, ada saja sebagian diantara masyarakat kita yang secara meremehkan telah menyepelekan ancaman wabah, dengan sindiran penuh sinisme kurang simpatik terhadap para korban maupun para calon korban wabah, sebagai “protokol KETAKUTAN”—yakni ketakutan harus jaga jarak, hindari kerumunan, mencuci tangan, mengenakan masker penutup hidung dan mulut (jika perlu “face shield”). Realita di tengah masyarakat kita, “protokol kesehatan” kian dilecehkan.

Indonesia dari Dulu sudah Hidup Berdampingan dengan Wabah Virus Corona, TIDAK PERNAH LOCKDOWN, ANTI LOCKDOWN

ARTIKEL HUKUM

Pemerintah Indonesia Memaksa Rakyatnya Hidup Berdampingan dengan Mesin Pembunuh bernama WABAH Menular Mematikan antar Manusia, cara Berdamai yang Dipaksakan

Kebijakan YANG PENTING BUKAN LOCKDOWN, Satu Orang Warga Meninggal karena Wabah, adalah Tragedi. Satu Juta Warga Tewas akibat Tertular Pandemik, adalah STATISTIK

Tidak ada orang yang cukup waras untuk bersedia hidup berdampingan dengan mesin pembunuh berantai yang tidak kenal kompromi semacam wabah menular mematikan antar manusia, terlebih pemimpin negara yang masih cukup perduli atas keselamatan rakyatnya. Kita tidak pernah tahu, kapan sang virus penyebab pandemik akan bermutasi menjadi monster yang lebih mematikan dan lebih ganas disamping lebih menular dikemudian hari bila peperangan melawan wabah dibiarkan berlarut-larut tanpa “sepenuh hati”, namun senantiasa “separuh hati” akibat embel-embel tedeng aling-aling “ekonomi rakyat” terancam kolaps.

Aksi Pembodohan Massal oleh Negara, Rakyat Dididik, Dipandang, dan Diperlakukan seperti Keledai Bodoh

ARTIKEL HUKUM

Alih-alih Mengemban Amanat Konstitusi untuk Mencerdaskan Bangsa, Negara Indonesia lewat Pemerintah yang Berkuasa justru Membodohi Rakyatnya Sendiri Dikala Situasi Bangsa dalam Kondisi Urgen akibat Pandemik Wabah Menular antar Manusia

Negarawan Dadakan, Negeri Lelucon, Rakyat Dijadikan Kelinci Percobaan. Negeri ini Terlampau Besar untuk Dicoba-Coba Pemimpin yang Kerdil dan Hanya Buang-Buang Waktu untuk Ucapan Seremonial

Mungkin, satu-satunya penduduk di Indonesia yang merasa sedikit atau banyaknya merasa masih bisa bersyukur ditengah-tengah kondisi pandemik akibat wabah virus menular antar manusia yang sedang melanda dunia tidak terkecuali di Indonesia, disamping para produsen, pedagang besar, dan pengecer alat pelindung diri, obat, suplemen, dan produk-produk kesehatan, serta para raksasa korporasi pemilik marketplace, ialah sang Menteri Pertanahan, Prabowo Subianto. Bagaikan cuaca mendung dan berhujan, menguntungkan para pedagang payung, sekalipun merugikan para pegadang produk-produk es-krim.

4 Karakter Ragam Wajah Pembentukan dan Penerapan Hukum, bagaimanakah Pola dan Watak Hukum di Indonesia?

ARTIKEL HUKUM

Norma Hukum (Seharusnya) Bersifat Tegas, alih-alih Permisif

Hukum Negara yang Ideal, Efektif serta Efisien, Hukum yang Tepat Guna dan Implementatif

Faktor apakah, yang membuat hukum di Indonesia seakan buruk reputasi serta efektivitasnya dalam hal penegakan hukum maupun penindakannya, baik terhadap rakyat sipil maupun terhadap para penyelenggara negara? Terpuruk, itulah status yang dilekatkan pada norma hukum yang ada di republik ini oleh masyarakat kita. Terlebih dikala keadaan atau situasi darurat seperti pandemik akibat infiltrasi gempuran wabah yang diakibatkan virus menular antar manusia, dimana penindakan yang separuh hati atau yang tidak tegas, dapat dipastikan akan tidak berfaedah, bahkan kontraproduktif.

Debitor KPR, Berhak Meminta Diperlihatkan Asli Sertifikat Tanah dan Rumah yang Dibeli olehnya

LEGAL OPINION

Lembaga Keuangan yang Menutup-nutupi Informasi dan Tidak Transparan terhadap Debitornya terkait Sertifikat Tanah Objek Kredit Pemilikan Rumah, adalah Perbuatan Melawan Hukum, Bukan Wanprestasi Menyerahkan Sertifikat Tanah saat Pelunasan KPR

Debitor yang Lugu dan Bodoh, akan cenderung Dieksploitasi dan Diperdaya oleh Perbankan yang Tidak Transparan perihal Dokumen Sertifikat Hak Atas Tanah Objek Fasilitas KPR

Question: Setelah membeli rumah lewat fasilitas KPR (Kredit Pembelian / Pemilikan Rumah) pada salah satu bank di Indonesia, dan setelah beberapa bulan cicilan kredit berjalan, pihak bank selalu berkelit setiap kali saya selaku pembeli sekaligus sebagai nasabah debitor hendak meminta agar diperlihatkan sertifikat asli tanah dari rumah yang saya beli, untuk melihat apakah betul sudah dibalik-namakan ke atas nama saya selaku pembeli atau belum, serta untuk setidaknya meminta salinan dari sertifikat tanah milik saya tersebut yang telah saya beli. Wajar saya saya meminta untuk melihat asli sertifikat dan meminta salinannya, karena saya adalah pembeli sekaligus menjadi pemilik barunya. Ini ada apa sebetulnya, apakah permainan perbankan di Indonesia memang seperti itu, dan langkah hukum apa yang sebaiknya saya ambil?

Perbedaan antara COMMON SENSE dan COMMON PRACTICE

ARTIKEL HUKUM

KENYATAAN Vs. AKAL SEHAT, Akal Sehat Milik Orang Sehat Vs. Akal Sakit Milik Orang Sakit

Seorang Manusia yang Rasional Hidup ditengah Bangsa yang Irasional, seolah menjadi Minoritas dan seakan Melawan Arus akibat Menjaga Akal Sehat

Disebut sebagai mayoritas yang kerap dipersinggungkan dengan apa yang disebut minoritas, adalah terlampau dangkal bila konteksnya ialah perihal keyakinan, suku, ras, ataupun warna kulit dan gender. Alangkah lebih produktif bila kita menjadikan isu perihal “akal sehat” sebagai sentral diskusi perihal Mayoritas Vs. Minoritas, seperti apakah penduduk dunia dan di bangsa kita sendiri, orang-orang ber-akal sehat menjadi kaum mayoritas ataukah justru sebaliknya, merupakan para minoritas yang bisa jadi bergerak melawan arus “mainstream”? Di tengah zaman “edan”, menjadi “eling” artinya harus siap mendapati diri melawan arus zaman yang begitu derasnya menentang kita.

Resiko Hukum Membeli Tanah Girik, Bisa Untung namun Berpotensi Pula Buntung

LEGAL OPINION

Beli Tanah Girik, serupa Beli Kucing dalam Karung, Spekulasi Penuh Resiko Tanpa Kepastian Hukum

Question: Ada yang menawarkan tanah girik kepada keluarga kami. Si penjual membawa kelengkapan dokumen yang cukup meyakinkan, seperti adanya surat keterangan riwayat tanah dan surat ukur dari pihak kepala desa sebagai alat bukti kepemilikan mereka. Memangnya ada resiko, bila tetap kami beli, secara hukum, sekalipun sudah ada surat keterangan dari kepala desa?

Is it That Hard, to be an Adult? Sesukar Itukah, menjadi seorang Manusia Dewasa?

HERY SHIETRA, Is it That Hard, to be an Adult? Sesukar Itukah, menjadi seorang Manusia Dewasa?

 Is it that hard,

To be able to live prosperously without deceiving others?

When you think, deceptive activities as the only path to achieve prosperity of life,

That means you are indeed a stupid person.

Orang Indonesia Tidak Takut Berbuat dosa, Seram dan Mengerikan, sebuah Cerminan Kultur Arogansi

ARTIKEL HUKUM

Narsistik Cerminan Sifat Egoistik

Narsis + Egois + Arogan + Tidak Malu dan Tidak Takut Berbuat Dosa (Menyakiti, Melukai, atau Merugikan Korban) = T-Rex (“Manusia Dinosaurus”, Bertumbuh Manusia namun Berotak Kadal-Limbik)

Sungguh bukanlah sebuah tantangan ringan hidup sebagai bagian dari anggota masyarakat di Indonesia yang dikenal “agamais” namun kerap menyepelekan dan meremehkan hak-hak orang lain atas kesehatan dan keselamatan hidupnya, tanpa rasa bersalah merampas hak-hak warga lain atas ketenangan dan ketenteraman hidup maupun properti miliknya, lebih galak yang bersalah ketika ditegur (ya sudah, biarkan saja pelakunya kian dalam menggali lubang kuburnya sendiri, orang dungu yang bangga menimbun karma Buruk), membalas air susu dan budi baik dengan air tuba, kerap menyelesaikan segala sesuatu serta memaksakan kehendak dengan cara-cara kekerasan fisik, anti kritik, miskin kejujuran terlebih intergritas, sukar diberi kepercayaan, suka ingkar janji, tidak bertanggung-jawab, dimana ketika negeri ini dilanda pandemik akibat wabah menular mematikan, kondisi warga yang patuh terhadap hukum maupun patuh terhadap “protokol kesehatan (cegah dan atasi wabah)” jauh lebih memprihatinkan akibat kian kontrasnya keegosian (sifat egois) mayoritas wajah penduduk di Indonesia.

Kebodohan Seyogianya Bukan untuk Dipertontonkan secara Vulgar serta Bukanlah Tontotan yang Cerdas

ARTIKEL HUKUM

Beriman, namun Justru Memfitnah Tuhan yang Disembah oleh Mereka Sendiri sebagai Kambing Hitam yang Bertanggung Jawab atas Segala Suka Duka Umat Manusia

Bila Aurat Ditutupi Rapat-Rapat, Lantas mengapa Kebodohan Berpikir dan Bertutur-Kata justru Diumbar dan Dipertontonkan Tanpa Malu?

Pada suatu hari Jum’at tengah hari, dari suatu tempat ibadah yang mengumandangkan ceramah seorang pemuka agama lewat pengeras suara yang bahkan masuk menyeruak hingga ke dalam toilet kediaman rumah penulis, sehingga lebih banyak yang “masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri”, bahkan ayat-ayat kitab agamanya diumbar bak selebaran iklan yang diobral sehingga bertebaran di jalan sehingga hanya berakhir masuk mengisi “tong sampah” ibarat sampah-sampah daun berguguran yang berserakan kesana dan kemari tanpa nilai dan tanpa harga, sang pengkhotbah menceritakan sebuah kisah sebagai berikut untuk “mengispirasi” dan “mencerahkan” para umat pemirsanya yang dapat penulis bayangkan hanya “manggut-manggut” bagai tidak memiliki otak pemberian sekaligus sebagai anugerah terbesar dari Tuhan untuk berpikir dan mengkritisi “kebenaran”—otak mana telah digadaikan demi iman yang “membuta” serta “tebal”.

Faktor Penyebab Tingginya Kriminalitas dan Kejahatan di Indonesia

ARTIKEL HUKUM

Penipuan merupakan Delik Formil

Mencoba Menipu Sekalipun Calon Korban Tidak Tertipu, Tetap Dipidana sebagai Percobaan Penipuan

Terdapat sebuah isu hukum klasik, yang tampaknya kini mulai terang-benderang salah satu faktor penyebab mengapa begitu tingginya tingkat kriminalitas di tengah-tengah masyarakat di Indonesia. Yakni, disamping karena faktor kerap absennya (abainya) aparatur penegak hukum yang diberi mandat serta kewenangan monopolistik untuk menegakkan hukum pidana serta memberantas pelaku kejahatan demi melindungi dan mengayomi masyarakat serta publik, dimana fakta realitanya ialah “negara senantiasa tidak pernah benar-benar hadir di tengah masyarakat” sehingga secara langsung maupun tidak langsung menyuburkan sekaligus memelihara praktik kalangan premanisme yang berkeliaran tanpa penindakan berarti oleh negara, terdapat sebuah faktor utama lainnya yang baru penulis pahami ketika pandemik akibat wabah Virus Corona merebak menjadi “global pandemic” sekaligus menjadi momok di Indonesia yang tidak pernah berhasil mengendalikan penyebaran wabah.

Apakah Virus Penyebab Wabah Pandemik, adalah Ciptaan dan Kehendak Tuhan?

ARTIKEL HUKUM

Tanpa Turut Campur Tangan Tuhan Sekalipun, Gempa Bumi dan Gunung Meletus Tetap Akan Terjadi Sepanjang Tahun, ALAMIAH Saja Sifatnya, BY NATURE, Tidak Terkecuali Kemunculan dan Mutasi Virus Penyebab Wabah

Menerka-Nerka Kehendak dan Isi Pikiran Tuhan, Itulah Spekulasi Sekaligus Penistaan (Fitnah) terhadap Tuhan

Para warga yang menolak “protokol kesehatan (cegah dan atasi virus penyebab wabah)” dikala kesehatan serta ekonomi negeri diluluh-lantakkan oleh pandemik yang diakibatkan oleh virus penyebab wabah yang dapat menular antar manusia serta dapat mematikan terhadap warga tertular yang memiliki kondisi fisik penyulit seperti usia lanjut maupun karena faktor daya tahan tubuh yang (kebetulan sedang) lemah karena adanya penyakit penyerta lainnya, mendeklarasikan bahwasannya mencoba mengatasi dan melawan wabah sama artinya mencoba melawan kehendak Tuhan. Mereka, secara arogan mencoba menantang serta menentang, akibat kesombongan atas kesehatannya, berkeberatan bersikap kooperatif sekadar seperti menjaga jarak dan mengenakan masker secara patut dan layak. Apakah kontra-narasi demikian, yang terang-terangan mencoba menentang himbauan pemerintah, merupakan opini yang dapat dipertanggung-jawabkan?

ETIKA KETIMURAN Bangsa Sopan Santun disaat Konteks Pandemik Wabah Virus Menular Antar Manusia

"If someone takes responsibility without force, that is love." [Radhanath Swami]

Ketika seseorang mengambil tanggung jawab turut menerapkan protokol kesehatan tanpa paksaan dari pihak eksternal diri, itulah cinta. Maka, apakah masyarakat kita benar-benar mencintai bangsa Indonesia ini?

"Loving yourself isn't vanity, it's sanity." [Katrina Mayer]

Mencintai kesehatan dan keselamatan diri sendiri bukanlah sebuah keegoisan, tetapi sebuah kewarasan. Ketika masyarakat bersikap egois terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri dengan menantang dan mencobai Tuhan serta serdadu virus COVID penyebab wabah-Nya, itulah kegilaan.

Akibat tetangga yang egois, tumbuh jentik nyamuk medium debam berdarah pada rumahnya. Tetangga dan warga lainnya yang menjaga kebersihan rumahnya, beresiko tergigit nyamuk dan menderita kerugian dari segi kesehatan hingga keselamatan.

Sadarilah, kita tidak hidup seorang diri di tengah-tengah masyarakat urban maupun rural dewasa ini, namun hidup berdampingan dengan warga lainnya. Jadilah pribadi manusia yang penuh tanggung jawab terhadap sesama. BIla tidak ingin dicelakai orang lain, maka jangan celakai orang lain. Ada buah Hukum Karma, bagi pelaku yang dengan sengaja maupun secara lalai mencelakai orang lain.

Mereka yang berbicara dengan cara yang ramah dan penuh senyum, adalah belum tentu tulus bersopan-santun dan bertata-krama, terutama bila itu terjadi dikala pandemik akibat wabah virus menular antar manusia, orang tersebut hidup bermasyarakat tanpa mengindahkan prokokol kesehatan seperti tidak mengenakan masker serta tidak pula menjaga jarak. Karenanya, niat batin mereka patut untuk kita ragukan.

Hanya karena EGOISME dan AROGANSI, disaat pandemik virus menular antar manusia, hidup di tengah-tengah masyarakat dan mengajak berbicara tanpa bersedia mengenakan masker secara layak juga tanpa saling menjaga jarak. Tidak perduli apakah dirinya menjadi agen penularan wabah, tidak juga perduli apakah orang lain bisa jadi akan tertular olehnya dan berdampak fatal.

Bersikap egois, seperti sengaja tidak mengenakan masker ketika menghadap seseorang yang telah mengenakan masker, berdalih bahwa dirinya tidak akan tertular oleh orang yang telah mengenakan masker, namun disaat bersamaan dirinya membawa resiko menulari orang lain yang didekati maupun yang diajak berbicara--terutama ketika ia bersin / batuk dan mengenai kelenjar mata dari lawan bicara yang mengenakan masker sekalipun.

Berikan "punishment" kepada warga yang tidak memiliki itikad baik serta tidak menghormati ataupun menghargai kesehatan ataupun keselamatan orang lain, dengan tidak meladeni dan segera menjauhinya, alih-alih memberikan "reward" berupa menanggapinya. Tidak perlu memaksakan diri untuk memberi penghormatan kepada orang-orang yang tidak menghormati hak-hak kita.

Mengapa masyarakat kita, bersikap seolah-olah sesukar itu memakai masker dan menjaga jarak? Alih-alih “berkorban” (semudah itu saja, masih tidak mau patuh), justru “mengorbankan” kepentingan kesehatan orang lain. Begitu EGOIS-nya sebagian masyarakat Indonesia. Bila tidak perduli pada kesehatan sendiri dengan membiarkan diri tertular, maka itu urusan mereka sendiri (menyesal selalu datang terlambat), namun mereka tidak berhak untuk mencelakai orang lain yang bisa jadi tubuhnya tidak sekuat mereka dan menjadi fatal bila tertular.

Anda bisa jadi tidak percaya wabah COVID selama Anda tinggal di hutan seorang diri, namun Anda tidak punya hak untuk mencelakai orang lain yang saling berbagi sumber daya ruang dan udara dengan Anda. Ketika Anda hidup di tengah masyarakat, maka itu bukan lagi urusan Anda pribadi, namun kepentingan orang lain serta banyak orang.

KESOMBONGAN atas kesehatan diri sendiri, menyepelekan dan meremehkan keadaan kesehatan orang lain, mengabaikan kepentingan kesehatan orang lain. Itukah yang disebut sebagai sopan-santun dan tata-krama etika Ketimuran? Berikan “punishment” kepada mereka yang tidak mampu menghargai kesehatan orang lain, alih-alih memberikan mereka “reward”. Lebih galak yang ditegur ketimbang yang menegur, itu namanya tidak malu dan tidak takut berbuat jahat. Membawa potensi resiko tertular bagi orang lain, adalah “dosa” serta “Karma Buruk”. Bila mereka tidak bersedia menghargai orang lain dan merasa berani mencobai Tuhan, maka takutlah pada buah Karma Buruk akibat melalaikan kepentingan orang lain.

Mereka berdalih, bila Tuhan berkehendak kita mati maka kita akan mati, dan bila Tuhan berkehendak kita hidup maka kita tetap hidup. Jika memang begitu, maka buat apa ada rumah sakit dan apotek? Tutup saja semua rumah sakit dan apotek. Semua penyakit diciptakan serta bersumber dari Tuhan, namun faktanya rumah sakit dan apetek selama ini tidak pernah sepi dari pasien sekalipun tiada wabah.

Bila Anda bisa terkena diabetes, flu batuk, demam, radang ketika luka, sariawan, infeksi bernanah, dan penyakit lainnya yang lazim kita alami, maka atas dasar apa kita berdelusi bahwa kita kebal dari wabah COVID? Anda pikir siapa diri Anda, hendak MENCOBAI Tuhan? Mengapa seolah-olah Agama membuat Umatnya menjadi AROGAN terhadap Tuhan?

Sekalipun mentari dan sinar UV sedang terik-teriknya, namun bila mikro droplet dan bioaerosol beterbangan dari orang yang bersin atau batuk di dekat kita, atau bila tangan mereka habis memasukkan makanan ke dalam mulut tanpa mencuci tangan dan kemudian memegang barang sebelum kemudian berpindah tangan ke tangan orang lain, tetap saja virus akan memasuki saluran pernafasan dan sinar matahari tidak dapat membunuh virus yang bersarang masuk ke serta di dalam tubuh manusia. Gunakan otak dan IQ Anda, karena otak dan IQ adalah pemberian Tuhan. Seseorang mustahil memiliki EQ maupun SQ, bila mereka memiliki IQ yang memprihatinkan.

Vaksin bukanlah barang baru di Indonesia, imunisasi yang kita atau anak kita pernah terima, termasuk vaksin. Redaksi hukum-hukum.com telah disuntik "vaksin COVID" (berpartisipasi pada program pemerintah). Apakah Anda telah turut mendukung langkah pemerintah dengan ikut serta "imunisasi COVID"?

Sediakan setidaknya dua hari cuti paska penyuntikan vaksin (imunisasi vaksin COVID) karena biasanya terjadi keluhan demam, meriang, dan pusing, dan datang ke tempat penyuntikkan vaksin dengan mengenakan baju lengan pendek karena titik penyuntikkan ialah pangkal lengan dekat bahu.

Sepulang dari tempat penyuntikkan vaksin, segera pulang ke rumah dan persiapkan diri untuk beristirahat penuh, jangan keluyuran ke tempat lain sekalipun pada mulanya tampak tidak ada keluhan sama sekali, karena keluhan baru akan muncul secara mendadak sekitar enam jam kemudian.

Vaksin, bukanlah pilar utama mengatasi wabah. Protokol kesehatan dan kesadaran untuk berdisiplin diri menerapkannya secara penuh komitmen, merupakan pilar utama pencegahan mata rantai penularan wabah COVID. Garda terdepan, bukanlah tenaga kesehatan, namun kita semua tanpa terkecuali, warga masyarakat. Pandemik COVID akan berakhir, bila Anda dan kita semua tidak lagi mencoba MENCOBAI Tuhan.

Imunitas yang tinggi, akibat konsumsi multivitamin maupun vaksin, bukan berarti dapat bersikap serampangan. Para "orang terjangkit tanpa gejala" (OTG), adalah orang-orang dengan imun yang tinggi, namun bukan artinya tidak dapat tertular dan menulari orang lain (menjadi agen penular), justru jauh lebih berbahaya karena menjadi "silent killer".

Imunitas bagaikan mobil diperlengkapi alat pengaman "air bag", bukan berarti kita perlu cari penyakit dengan menabrakkan mobil kita atau mencopot pedal rem mobil kita. Diri sendiri meski telah dilindungi "air bag" dan (terutama) orang lain secara lebih fatal, bisa celaka akibat sikap-sikap yang bertanggung jawab atas tubuh dan sikap kita.

Di tengah derasnya arus informasi yang simpang-siur, jadikan pendapat para pakar yang kompeten dibidang epidemik sebagai rujukan utama, seperti virolog, epidemiolog, serta para dokter. Jangan dengarkan ataupun termakan perkataan para "tukang becak" di pasar yang mana tidak dapat dipertanggung-jawabkan pendapat dan opininya selain sekadar berspekulasi atas dasar asumsi penuh delusi yang tidak empiris.

Virus Corona telah menjadi endemik, bukan lagi pandemik? COVID dapat diputus mata rantai penularannya, dalam tempo 1/2 hingga 1 bulan, virus ini mati di dalam tubuh seseorang yang terjangkit, dan bila tidak terjadi penularan baru karena mata rantai penularan bila berhasil terputus tuntas, maka dunia bisa bebas dari wabah, sehingga niscaya, bukan mustahil. Dunia ini telah terlalu penuh oleh penyakit, mengapa harus ditambah Corona? Bagaimana jika virus ini kelak, bermutasi makin ganas dan semakin mematikan serta makin menular? Bisa saja besok atau kelak, "si sombong" yang akan menjadi korbannya.

Para prinsipnya, JANGAN MENANTANG wabah, cepat atau lambat kita menjadi tua, dan tidak selamanya daya tahan tubuh prima, menjadi komorbit, sampai akhirnya tertular dan berpotensi menderita gejala kronis, atau bahkan menjelma fatal dan benar-benar mematikan "si sombong". Bila ketika kita terluka dan masih membutuhkan disinfektan untuk membunuh kuman, artinya tubuh kita tidak kebal dari virus manapun.

Sebar-luaskan informasi dan imbauan sosial ini, bila kita semua masih mencintai negeri dan republik ini, sebagai bagian dari kontra-narasi terhadap mereka yang hendak menghancurkan bangsa ini dengan sikap arogan serta sifat egois mereka yang tidak mencerminkan etika bangsa Ketimuran.

Katakan TIDAK, untuk Setiap Bentuk Penyimpangan Moralitas, Sekecil Apapun, Tanpa Perlu Tawar-Menawar

LEGAL OPINION

Pilihannya hanya Dua, Selalu Kompromi (Penuh Kompromi) atau Tiada Kompromi (Penuh Ketegasan)

Untuk Hal Teknis, Bisa Dinegosiasikan. Namun untuk Urusan Etika dan Prinsip terkait Moralitas, Tiada Kompromi

Question: Sebagai pegawai, meski hanya sekadar menjalankan perintah atasan di perusahaan saat bekerja di kantor, tetap saja hati nurani tidak bisa bohong, kenyataan bahwa semua pekerjaan di kantor saya itu penuh manipulasi, kebohongan, kepalsuan, tipu-muslihat, rekayasa, keburukan, kejahatan, dan bentuk-bentuk kecurangan lainnya yang bisa merugikan orang lain, merugikan kompetitor perusahaan, merugikan pemerintah, merugikan masyarakat, merugikan lingkungan hidup, maupun merugikan konsumen, semata demi kepentingan memperbesar keuntungan pribadi perusahaan maupun pemilik perusahaan tempat saya bekerja.

Saya pikir, yang penting saya dapat pemasukan nafkah dari gaji bulanan, selebihnya biarkan dosa si pemilik perusahaan. Saya hanya menjalankan perintah saja dari atasan, mengerjakan apa yang diperintahkan untuk saya kerjakan, bukan untuk kepentingan maupun untuk keuntungan pribadi saya semua hasil perbuatan kejahatan perusahaan ini. Apakah saya egois, dan apakah keliru memposisikan diri dengan paradigma demikian?

Mengapa Orang Baik Sering Disakiti, Dikecewakan, Dilukai, dan Dijahati? Karena Orang baik di Mata Orang Jahat, adalah Sasaran sekaligus MANGSA EMPUK

ARTIKEL HUKUM

Hanya Pohon yang Banyak Buahnya Saja yang Akan Dilempari Batu, menjadi Wajar bila Orang Baik Selalu Dijahati. Seolah-olah adalah Dosa, bila Tidak Mengganggu dan Mencuri Buah yang Tumbuh di Pinggir Jalan. Seolah-olah adalah Dosa, bila Tidak Menyakiti dan Melukai Orang-Orang Baik

Kakek saya pernah bercerita, pemburu kayu selalu terlebih dahulu mencari dan menyasar pohon yang tumbuh tegak lurus ke atas! Banyak pohon yang tumbuh miring ke sana dan ke sini, tapi berapa banyak sisa pohon di hutan sana yang tumbuh lurus ke atas?” (Basuki Cahaya Purnama)

Menjadi orang baik, terlebih orang suci, jelas-jelas eksistensinya akan membuat orang-orang jahat (terlebih orang yang berdosa, pendosa) merasa diremehkan serta “terancam”, semata karena keberadaan serta eksistensi orang-orang baik maupun para suciwan membuat mereka melihat betapa berbeda dirinya, betapa jauh dirinya, dan betapa jahat-kotornya mereka—berbanding terbalik dengan orang-orang baik yang bersih dan orang-orang suci yang murni. Karenanya, keduanya menjadi tampak kontras ketika berhadapan dengan orang-orang kotor yang penuh oleh noda dosa dan tercemar oleh perbuatan-perbuatan jahat yang tercela.

Debat antara TUHAN Vs. MANUSIA PENDOSA tentang Penghapusan Dosa

SERI SENI HIDUP

Standar Ganda, Cerminan Watak yang Curang, Serakah, dan Tidak Akuntabel sebagai Seorang Umat Manusia yang Mengaku Ber-Tuhan dan Rajin Beribadah

Menurut para pembaca, konsep curang sejenis iming-iming “janji surgawi” semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, adalah lebih menguntungkan ataukah merugikan umat manusia, membawa ancaman ataukah memperutuh “standar moral” umat manusia, menjernihkan ataukah mengeruhkan, lebih banyak mudarat ataukah faedah, musuh untuk ditolak ataukah teman untuk dipeluk dan dipelihara, merusak ataukah membangun dan memelihara peradaban, menjadikan umat manusia kian humanis ataukah menjadikan manusia kian biadab-premanis, obat penyembuh ataukah racun pembunuh, adil ataukah curang, dan lain sebagainya yang saling bertolak-belakang satu sama lainnya menjelma blunder hebat tersendiri yang mengandung “moral hazard” terhebat dalam sejarah umat manusia?

MANUSIA AGAMAIS Vs. ROBOT KOMPUTERISASI dalam Layanan Publik, Pilih yang Mana?

ARTIKEL HUKUM

Tingkat Kejujuran sebuah ROBOT ternyata Jauh Melampaui Bangsa Agamais yang ber-Tuhan, Ironis namun Nyata, Realita, dan Fakta Adanya

Bangsa yang “agamais”, semestinya dipenuhi oleh para manusia suci (suciwan) atau setidaknya berisi manusia-manusia yang baik, luhur, agung, berbudi luhur, penuh kejujuran, kredibel, akuntabel, berintegritas, dapat dipercaya, moralis, serta bertanggung-jawab, semata karena mereka rajin beribadah, berceramah perihal kebaikan, kejujuran, dan keluhuran, mengaku ber-Tuhan, serta meyakini surga dan neraka, maupun tentang hari kiamat. Ironisnya, kini berbagai peran para Aparatur Sipil Negara (manusia “agamais”) di Indonesia sudah akan dan tengah telah digantikan sepenuhnya oleh kehadiran peran sebuah robot. Mengapa demikian?

TINDAK PIDANA KORPORASI, Konsep yang Rawan Disalahgunakan Mafia Hukum

LEGAL OPINION

Pilih Mana, Uang Kembali (Pilih Tindak Pidana Koporasi, Sanksi Denda); atau Pilih Pidanakan Pengurusnya (Penjara bagi Direktur Perusahaan) lalu Gugat Perdata Perusahaannya?

Kita memiliki lembaga Kejaksaan Agung hingga Kejaksaan Negeri yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dengan ribuan personel, lengkap dengan peralatan canggih dan mampu berkoordinasi dengan institusi pemerintahan lainnya terutama seperti dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Badan Pertanahan Nasional (BPN), maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga memudahkan melacak aset dan mengetahui secara pasti harta-kekayaan milik seorang warga maupun badan hukum yang melakukan perbuatan melawan hukum sehingga merugikan keuangan negara maupun kejahatan lainnya. Yang jarang diketahui publik serta lebih jarang lagi dilakukan oleh Kejaksaan kita di Indonesia, ialah peran dan fungsi Kejaksaan selaku “PENGACARA NEGARA” (ranah perdata)—Secara pribadi, penulis melihat bahwa fungsi satu tersebut seolah-olah telah dimati-surikan akibat tidak pernah digalakkan oleh internal organisasi Kejaksaan di Indonesia, sekalipun dari segi jumlah personel, para Jaksa tersebut tergolong “gemuk” dan tidak optimal.

Kiat bagi Warga ketika Menghadapi PREMAN Pelaku Aksi PREMANISME

ARTIKEL HUKUM

Agamais namun Disaat Bersamaan PREMANIS BARBARIS & HEWANIS PREDATORIS

Seseorang yang Benar-Benar Tidak Terkalahkan adalah Orang yang Kebetulan sedang Beruntung atau yang Selalu Diliputi Keberuntungan, Orang yang Beruntung Tidak dapat Disakiti Preman ataupun Pelaku Kejahatan Manapun

Bangsa Indonesia mengklaim sebagai bangsa “agamais” lewat busana maupun ritual yang dilakukan olehnya setiap hari secara berjemaah sekaligus norakisme maupun narsisme. Namun, sudah menjadi rahasia umum, alih-alih bersikap “humanis” ataupun “Tuhanis”, bangsa kita lebih menyerupai wajah para “hewanis” sekaligus “premanis” yang mana selalu saja menjadikan kekerasan fisik sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah, untuk memaksakan kehendaknya, untuk meminta dihormati, maupun untuk sekadar pamer kekuatan ataupun kekuasaan (baca : mempertontonkan kedangkalan peradaban). Orang-orang tidak berotak, wajar bila hanya dapat pamer dan mengandalkan “otot” untuk menganiaya ataupun bermain kekerasan fisik.

Publikasi Kasus Hukum, Lebih Besar Faedah ataukah Mudarat?

LEGAL OPINION

Pilih Mana, Peradilan Pidana di Dunia Manusia ataukah Peradilan Hukum Karma?

KEADILAN NISBI Vs. KEADILAN KARMA, Pilih yang Mana?

Ketika seorang aparatur penegak hukum, menembak mati seorang kriminal ketika sang kriminal melakukan aksinya terhadap korban, atau seorang algojo ketika benar-benar mengeksekusi hukuman mati terhadap seorang terpidana, maka apakah sang aparatur penegak hukum maupun sang algojo, adalah sedang “membunuh” ataukah sebaliknya, sedang “menyelamatkan”? Disini, kita berbicara perihal perspektif serta sudut pandang, dari sudut pandang yang parsial maupun yang imparsial (holistic).

Parity, being Equal, Unrequited. Kesetimpalan, Seimbang, Tidak Bertepuk Sebelah Tangan

HERY SHIETRA, Parity, being Equal, Unrequited. Kesetimpalan, Seimbang, Tidak Bertepuk Sebelah Tangan

This is what is called the human principle,

Namely,

An attitude and reciprocal nature,

Reciprocity.

We can also call it a principle of justice,

Balanced.

Renungan Hari Trisuci Waisak, Siapa Memperbudak Siapa?

Renungan Hari Trisuci Waisak, Siapa Memperbudak Siapa?

Membius Diri Memang Memabukkan, sementara Kesadaran dapat Sangat Menyakitkan. Namun apakah Kita Harus Menipu Diri Sepanjang Waktu dan Lari dari Kenyataan? Mengapa Juga Harus Melarikan Diri dari Kenyataan seolah Realita adalah Musuh, sekalipun Realita Tidak Pernah Memusuhi Kita?

Manusia Tidak Terlahir Polos seperti Kertas yang Putih Bersih, namun Membawa Serta Kekotoran Batin yang Laten Sifatnya

LEGAL OPINION

Hakim dan Pengadilan, Tidaklah Seindah dan Seadil Itu. Hakim adalah Manusia yang Masih Diliputi Kekotoran Batin, Bukan Robot yang Objektif dan Netral Murni

Question: Banyak orang mengaku-ngaku atau membuat kesan sebagai orang yang baik dan penuh perhatian, ternyata hanya penipu yang sangat licik. Kebaikannya hanya untuk pemancing dan perangkap bagi korban targetnya. Banyak pencuri berkedok penolong. Bahkan pengemis pun berdusta, dengan berpura-pura berkaki buntung ataupun berpura-pura miskin, mengeksploitasi kebaikan hati orang lain. Tidak jarang pula kemurahan hati justru menjadi bumerang bagi diri kita sendiri dikemudian hari. Balas air susu dengan air tuba, cerminan tiadanya hati nurani. Tidak kalah banyaknya dengan pembohong yang memasang topeng bak malaikat, masih pula berceramah perhihal kebaikan dan kesucian.

Bukankah aneh, Negeri Indonesia bangsa-nya mengaku ber-Tuhan, rajin beribadah, tepat ibadah lebih menjamur daripada jamur, namun pertanyaannya ialah mengapa juga sulit sekali menemukan orang jujur yang otentik (benar-benar jujur) di republik serba halal-lifestyle ini? Mereka menjaga betul-betul makanan yang dimasukkan ke dalam mulut mereka, namun dari segi ucapan hingga perilaku, kotor dan jahat sekali. Yang perlu kami ketahui, bagaimana dengan hakim di pengadilan, apakah memang betul-betul orang yang tergolong berhati murni seperti “malaikat” dan adil tanpa kompromi seperti Judge Bao yang termasyur dari China itu? Jangan sampai, kita selaku masyarakat justru menyerahkan nasib kita ke tangan manusia yang berhati iblis, celaka dua kali itu namanya.