Bila Anda bertanya,
Apakah yang kurang dari negeri
ini,
Mungkin jawabannya ialah kekurangan
“positive thinking”.
Seseorang akan masuk surga,
Dengan menghindari perbuatan
buruk,
Dan melakukan perbuatan bajik,
Maka itulah yang disebut sebagai “optimistik”.
Sebaliknya,
Seseorang yang meyakini bahwa
ritual sebagai satu-satunya jalan menuju surga,
Maka itulah yang disebut
sebagai “pesimistik”.
Kita dapat melanjutkan hidup,
Dengan menghindari perilaku korup,
Dan bekerja secara jujur,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Ketika seseorang berpandangan
bahwa ia tidak bisa hidup tanpa korupsi,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Kita dapat hidup bahagia,
Sekalipun menjadi rakyat
jelata,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Ketika seseorang terobsesi pada
kekuasaan,
Tanpa kekuasaan maka tiada
kebahagiaan,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Menjalani hidup dengan baik sebagai
cara membalas dendam,
Dan bisa menjalani hidup dengan
baik sekalipun tidak membalas dendam
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Bila kita bersikap seolah-olah hidup
kita akan tamat bila tiada mendapatkan keadilan,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Kita bisa mempertahankan
martabat dengan hidup sederhana dan bersahaja,
Tanpa hingar-bingar,
Jauh dari kemegahan,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Mereka yang memamerkan segala
kepemilikan untuk mengundang perhatian maupun pengakuan,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Kita bisa melanjutkan hidup,
Tanpa tanduk pada rasa takut
dalam diri,
Dengan meninggalkan dan
menanggalkan segala sikap penuh ketakutan yang bersarang dalam diri,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Ketika kita menyerah pada perasaan
takut dan berspekulasi tentang nasib hidup,
Berdelusi-diri seolah bersikap
penakut maka kita akan selamat dan dihargai oleh orang lain,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Kita bisa hidup tenang dan
damai,
Tanpa memanipulasi diri sendiri
juga tanpa menipu orang lain,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Ketika seseorang merepotkan
dirinya sendiri sedemikian rupa,
Agar orang lain terperdaya dan
dapat dirampas hak-haknya,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Bersikap jenius artinya,
Dapat berbahagia tanpa merampas
kebahagiaan orang lain,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Orang dungu berkeyakinan bahwa berhasil
merampas hak-hak orang lain adalah sebuah keberuntungan,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Kita tetap bisa makan secara
berkecukupan dan terpuaskan,
Sekalipun tidak memakan orang
lain,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Mereka yang berparadigma
predator,
“memakan atau dimakan”,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Kita bisa tetap melanjutkan perjalanan
hidup kita,
Sekalipun tiada rekan
seperjalanan,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Ketika seseorang mengemis-ngemis
dan merengek meminta dihapahami, dihormati, maupun dimaklumi,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Percaya bahwa kita adalah
arsitek hidup kita sendiri,
Dengan hanya menanam apa yang
baik dalam rangka untuk memetik hanya yang baik,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Ketika seseorang berkeyakinan
bahwa manusia dilahirkan dan mati dengan vonis sebagai seorang pendosa yang
berdosa,
Pasrah pada makhluk adikodrati,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Bertanggung-jawab adalah hal
yang menakutkan,
Namun kita tetap mengambil opsi
untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan kita sendiri,
Maupun untuk bertanggung-jawab terhadap
orang-orang yang pernah kita sakiti, lukai, maupun rugikan,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Seseorang yang terjerumus
akibat memakan dan termakan ideologi-korup semacam dogma “penghapusan dosa”,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Tidak ikut menyakiti,
Sekalipun disakiti,
Maka itulah yang disebut sebagai
“positive thinking”.
Sebaliknya,
Menyakiti maka ikut menyakiti,
Menjelma sosok yang sama dengan
sosok yang telah pernah menyakiti kita,
Menjadi tidak berbeda dengan
mereka,
Maka itulah yang disebut sebagai
“negative thinking”.
Mengakui dan menerima,
Kenyataan pahit bernama realita
bahwa hidup ini adalah dukkha,
Maka itulah yang disebut
sebagai “positive thinking”.
Sebaliknya,
Mereka yang merasa ada yang
salah dengan hidup mereka,
Karena merasakan derita kehidupan,
Lalu menjadikan itu alasan atau
justifikasi-diri untuk merampas kebahagiaan orang lain,
Maka itulah yang disebut
sebagai “negative thinking”.
Mampu tertawa dan tersenyum,
Saat ditertawakan,
Sekalipun merasakan sakit dan
terluka,
Maka itulah yang disebut
sebagai “positive thinking”.
Sebaliknya,
Berlarut-berlarut menangisi
kerugian yang telah terjadi,
Tanpa mau menyadari opsi lain,
Yakni opsi “untuk tidak lebih
merugi”,
Tidak mampu mengendalikan-diri dan
membiarkan kesedihan menguasai disi,
Maka itulah yang disebut
sebagai “negative thinking”.
Ada kenikmatan yang tidak
berhubungan dengan kenikmatan indria,
Semisal kebahagiaan yang
bersumber dari moralitas,
Kenikmatan terasing dari
kenikmatan indria,
Maka itulah yang disebut
sebagai “positive thinking”.
Sebaliknya,
Berkubang dan menenggelamkan diri
ke dalam lautan kesenangan indria,
Bahkan membayangkan dan menyamakan
kenikmatan surgawi tidak ubahnya kenikmatan duniawi dan menyamakannya,
Maka itulah yang disebut
sebagai “negative thinking”.
Jatuh dan terjatuh,
Bangkit kembali.
Dijatuhkan,
Kembali bangkit,
Maka itulah yang disebut
sebagai “positive thinking”.
Sebaliknya,
Menyelesaikan setiap masalah
dengan kekerasan fisik,
Maka itulah yang disebut
sebagai “negative thinking”.
Tidak gentar menantang orang
yang lebih kuat,
Maka itulah yang disebut
sebagai “positive thinking”.
Sebaliknya,
Hanya berani menindas orang
yang lebih lemah,
Maka itulah yang disebut
sebagai “negative thinking”.
Hanya orang-orang optimistik,
Yang berpikiran positif.
Dan hanya mereka yang pesimistik,
Yang berpikiran negatif.
Ciri-ciri seseorang,
Secara sendirinya akan menentukan
nasib hidup mereka masing-masing.
Hidup adalah pilihan.
Hanya orang berpikiran dangkal
dan pesimistik,
Yang merasa tiada memiliki
pilihan atas hidupnya sendiri.
Menjadi tuan atas hidup kita
sendiri,
Bukan menjadi budak dari Tuhan,
Tuhan yang justru lebih pro kepada
penjahat,
Tuhan yang justru menghapus dosa-dosa
para penjahat,
Bukanlah Tuhan yang patut
dijadikan sumber perlindungan,
Sebagaimana seorang Buddha
melawan siklus penjelmaan,
Memutus siklus kelahiran
kembali,
Melawan arus,
Menantang Tuhan Sang Pencipta.
Bukanlah Hercules,
Yang satu-satunya pernah
melawan Tuhan,
Dahulu maupun dimasa kini.
Betapa sikap optimistik dapat
menjadi sumber keberanian diri.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
