KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Puisi Bersahaja Mengenai Optimistik dan Pikiran Positif

HERY SHIETRA, Puisi Bersahaja Mengenai Optimistik dan Pikiran Positif

Bila Anda bertanya,

Apakah yang kurang dari negeri ini,

Mungkin jawabannya ialah kekurangan “positive thinking”.

Seseorang akan masuk surga,

Dengan menghindari perbuatan buruk,

Dan melakukan perbuatan bajik,

Maka itulah yang disebut sebagai “optimistik”.

Sebaliknya,

Seseorang yang meyakini bahwa ritual sebagai satu-satunya jalan menuju surga,

Maka itulah yang disebut sebagai “pesimistik”.

Kita dapat melanjutkan hidup,

Dengan menghindari perilaku korup,

Dan bekerja secara jujur,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Ketika seseorang berpandangan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa korupsi,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Kita dapat hidup bahagia,

Sekalipun menjadi rakyat jelata,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Ketika seseorang terobsesi pada kekuasaan,

Tanpa kekuasaan maka tiada kebahagiaan,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Menjalani hidup dengan baik sebagai cara membalas dendam,

Dan bisa menjalani hidup dengan baik sekalipun tidak membalas dendam

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Bila kita bersikap seolah-olah hidup kita akan tamat bila tiada mendapatkan keadilan,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Kita bisa mempertahankan martabat dengan hidup sederhana dan bersahaja,

Tanpa hingar-bingar,

Jauh dari kemegahan,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Mereka yang memamerkan segala kepemilikan untuk mengundang perhatian maupun pengakuan,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Kita bisa melanjutkan hidup,

Tanpa tanduk pada rasa takut dalam diri,

Dengan meninggalkan dan menanggalkan segala sikap penuh ketakutan yang bersarang dalam diri,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Ketika kita menyerah pada perasaan takut dan berspekulasi tentang nasib hidup,

Berdelusi-diri seolah bersikap penakut maka kita akan selamat dan dihargai oleh orang lain,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Kita bisa hidup tenang dan damai,

Tanpa memanipulasi diri sendiri juga tanpa menipu orang lain,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Ketika seseorang merepotkan dirinya sendiri sedemikian rupa,

Agar orang lain terperdaya dan dapat dirampas hak-haknya,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Bersikap jenius artinya,

Dapat berbahagia tanpa merampas kebahagiaan orang lain,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Orang dungu berkeyakinan bahwa berhasil merampas hak-hak orang lain adalah sebuah keberuntungan,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Kita tetap bisa makan secara berkecukupan dan terpuaskan,

Sekalipun tidak memakan orang lain,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Mereka yang berparadigma predator,

“memakan atau dimakan”,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Kita bisa tetap melanjutkan perjalanan hidup kita,

Sekalipun tiada rekan seperjalanan,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Ketika seseorang mengemis-ngemis dan merengek meminta dihapahami, dihormati, maupun dimaklumi,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Percaya bahwa kita adalah arsitek hidup kita sendiri,

Dengan hanya menanam apa yang baik dalam rangka untuk memetik hanya yang baik,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Ketika seseorang berkeyakinan bahwa manusia dilahirkan dan mati dengan vonis sebagai seorang pendosa yang berdosa,

Pasrah pada makhluk adikodrati,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Bertanggung-jawab adalah hal yang menakutkan,

Namun kita tetap mengambil opsi untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan kita sendiri,

Maupun untuk bertanggung-jawab terhadap orang-orang yang pernah kita sakiti, lukai, maupun rugikan,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Seseorang yang terjerumus akibat memakan dan termakan ideologi-korup semacam dogma “penghapusan dosa”,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Tidak ikut menyakiti,

Sekalipun disakiti,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Menyakiti maka ikut menyakiti,

Menjelma sosok yang sama dengan sosok yang telah pernah menyakiti kita,

Menjadi tidak berbeda dengan mereka,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Mengakui dan menerima,

Kenyataan pahit bernama realita bahwa hidup ini adalah dukkha,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Mereka yang merasa ada yang salah dengan hidup mereka,

Karena merasakan derita kehidupan,

Lalu menjadikan itu alasan atau justifikasi-diri untuk merampas kebahagiaan orang lain,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Mampu tertawa dan tersenyum,

Saat ditertawakan,

Sekalipun merasakan sakit dan terluka,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Berlarut-berlarut menangisi kerugian yang telah terjadi,

Tanpa mau menyadari opsi lain,

Yakni opsi “untuk tidak lebih merugi”,

Tidak mampu mengendalikan-diri dan membiarkan kesedihan menguasai disi,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Ada kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria,

Semisal kebahagiaan yang bersumber dari moralitas,

Kenikmatan terasing dari kenikmatan indria,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Berkubang dan menenggelamkan diri ke dalam lautan kesenangan indria,

Bahkan membayangkan dan menyamakan kenikmatan surgawi tidak ubahnya kenikmatan duniawi dan menyamakannya,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Jatuh dan terjatuh,

Bangkit kembali.

Dijatuhkan,

Kembali bangkit,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Tidak gentar menantang orang yang lebih kuat,

Maka itulah yang disebut sebagai “positive thinking”.

Sebaliknya,

Hanya berani menindas orang yang lebih lemah,

Maka itulah yang disebut sebagai “negative thinking”.

Hanya orang-orang optimistik,

Yang berpikiran positif.

Dan hanya mereka yang pesimistik,

Yang berpikiran negatif.

Ciri-ciri seseorang,

Secara sendirinya akan menentukan nasib hidup mereka masing-masing.

Hidup adalah pilihan.

Hanya orang berpikiran dangkal dan pesimistik,

Yang merasa tiada memiliki pilihan atas hidupnya sendiri.

Menjadi tuan atas hidup kita sendiri,

Bukan menjadi budak dari Tuhan,

Tuhan yang justru lebih pro kepada penjahat,

Tuhan yang justru menghapus dosa-dosa para penjahat,

Bukanlah Tuhan yang patut dijadikan sumber perlindungan,

Sebagaimana seorang Buddha melawan siklus penjelmaan,

Memutus siklus kelahiran kembali,

Melawan arus,

Menantang Tuhan Sang Pencipta.

Bukanlah Hercules,

Yang satu-satunya pernah melawan Tuhan,

Dahulu maupun dimasa kini.

Betapa sikap optimistik dapat menjadi sumber keberanian diri.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.