Prinsip Demokrasi dan Konsep Kesetaraan dalam Perspektif Buddhisme
Siapa yang menyangka, kita dapat menemukan gagasan mengenai demokrasi dan prinsip kesetaraan (equality) dalam Tipitaka. Bila selama ini banyak sarjana yang menilai bahwa konsep demokrasi dan kesetaraan dilahirkan oleh bangsa Amerika Serikat pasca revolusi “perang saudara” beberapa ratus tahun lampau, sejatinya konsepsi demokrasi dan kesetaraan telah ada lebih dari dua ribu lima ratus tahun silam, yakni digagas oleh Sang Buddha.
Lebih lanjut, Sang Buddha pun menyatakan bahwa
ada yang patut dilayani dan ada yang tidak patut dilayani dalam konteks
demokrasi dan kesetaraan demikian. Bila demokrasi diberlakukan “hanya untuk
melayani demokrasi itu sendiri”, sekalipun terjadi kemerosotan sosial di tengah
masyarakat ataupun pada pihak elit politik yang berkuasa, maka itu bukanlah
tujuan demokrasi yang sebenarnya. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut
dalam kaitannya dengan penerapan konsep “demokrasi yang keblablasan” dewasa
kini di Indonesia:
“Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya
harus dilayani, juga Aku tidak mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani.
Karena jika, ketika melayani seseorang, ia menjadi lebih buruk dan tidak lebih
baik karena pelayanan itu, maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya tidak
dilayani. Dan jika, ketika melayani seseorang, ia menjadi lebih baik dan tidak
lebih buruk karena pelayanan itu, maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya
dilayani.”
Demokrasi yang sehat, tidak bersifat “membuta”,
terlebih bila demokrasi diterapkan sekadar untuk “melayani demokrasi itu
sendiri”. Demokrasi ada dan diterapkan, untuk mencapai sesuatu kepentingan
bersama, namun bukanlah “demokrasi yang menjadi tujuan dari demokrasi”. Semisal,
ketika ada elemen masyarakat berseru, “Yang penting rakyat diberi hak untuk
memilih dalam pemilihan umum Kepala Daerah, bukan dipilih untuk oleh Wakil
Rakyat di parlemen!”, sekalipun berulang-kali Kepala Daerah di daerahnya tertangkap-tangan
akibat korupsi.
Demokrasi, harus ada untuk melayani dan mengabdi
kepada sesuatu tujuan yang lebih esensial, namun demokrasi bukan diadakan untuk
“kepentingan demokrasi”, akan tetapi demi kebaikan segenap warganya. Kita tahu
bahwa demokrasi kerap disimbolkan dengan kalimat jargon “dari dan untuk rakyat”,
yang tidak dapat dipaksakan untuk bermakna “dari rakyat untuk demokrasi”
ataupun “dari rakyat untuk penguasa”. Kutipan sabda Sang Buddha berikut, dapat
menjadi petunjuk-arah bagi penerapan demokrasi maupun bagi rakyat ataupun elit-politik
yang sedang berdemokrasi agar mengetahui batasannya dan tidak menyimpang:
“Jika mereka bertanya kepada seorang mulia sebagai
berikut: ‘Siapakah di antara orang-orang ini yang seharusnya engkau layani –
seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih buruk dan tidak lebih
baik ketika melayaninya, atau seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi
lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya: jika menjawab dengan
benar, seorang mulia akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya
melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak
lebih baik ketika melayaninya; aku seharusnya melayani seseorang yang karena
pelayanan itu aku menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’
“Jika mereka bertanya kepada seorang brahmana …
bertanya kepada seorang pedagang … bertanya kepada seorang pekerja … jika
menjawab dengan benar, seorang pekerja akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku
tidak seharusnya melayani seorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih
buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya; aku seharusnya melayani
seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih baik dan tidak lebih
buruk ketika melayaninya.’”
Lebih jauh lagi, dalam demokrasi, rakyat tidaklah
selalu lebih buruk ataupun lebih bodoh daripada pemimpinnya, begitupula
sebaliknya. Tidak selalu pula pemimpin negara yang bersikap korup terhadap
rakyatnya, karena bisa juga terjadi sebaliknya. Pemimpin yang korup, adalah
lebih tercela daripada rakyat jelata. Sebaliknya, rakyat yang korup, adalah
lebih tercela daripada pemimpinnya. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha
berikut:
“Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa seseorang
adalah lebih baik karena ia berasal dari keluarga bangsawan, juga Aku tidak
mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia berasal dari keluarga
bangsawan. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia
rupawan, juga Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia
rupawan. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia
kaya-raya, juga Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia
kaya-raya.
“Karena di sini, Brahmana, seseorang yang berasal
dari keluarga bangsawan mungkin membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa
yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan
ucapan salah, mengucapkan ucapan fitnah, bergosip, tamak, memiliki pikiran
permusuhan, dan menganut pandangan salah. Oleh karena itu Aku tidak mengatakan
bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia berasal dari keluarga bangsawan.
Tetapi juga, Brahmana, seseorang dari keluarga bangsawan mungkin menghindari
membunuh mangkuk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan
ucapan salah, menghindari mengucapkan ucapan fitnah, menghindari gosip, tidak
tamak, memiliki pikiran tanpa niat-buruk, dan menganut pandangan benar. Oleh
karena itu Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia
berasal dari keluarga bangsawan.”
Semua penduduk / warga adalah setara di mata
hukum (equality before the law), namun tidak semua jenis penduduk /
warga yang patut dilayani oleh negara yang demokratis. Pengusaha yang korup,
tidak semestinya dilayani oleh negara. Tidak terkecuali warga yang korup, tidak
sepatutnya meminta dilayani oleh negara. Begitupula sebaliknya, pemimpin negara
yang korup, tidak pada tempatnya meminta dilayani oleh warganya. Apa gunanya
disebut atau berseragam “aparatur penegak hukum” namun bila perilakunya justru
melanggar hukum. Warga sipil yang patuh terhadap hukum, sejatinya lebih patut
diberi gelar kehormatan sebagai “tegak dalam hukum”. Untuk itu Sang Buddha
telah pernah bersabda dengan kutipan sebagai berikut:
“Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya
harus dilayani, juga Aku tidak mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani.
Karena jika, ketika melayani seseorang, keyakinan, moralitas, pembelajaran,
kedermawanan, dan kebijaksanaannya bertambah dalam pelayanannya, maka Aku
katakan bahwa orang itu seharusnya dilayani.”
Lebih lanjut lagi, Sang Buddha bahkan membahas
perihal “kekayaan seorang rakyat” dan “kekayaan seorang pemimpin negara”, yang
analoginya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit
DhammaCitta Press (2013):
SUTTA 96
Esukārī Sutta : Kepada Esukārī
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Kemudian Brahmana Esukārī mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar
sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan
berkata:
3. “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat tingkat pelayanan. Mereka
menetapkan tingkat pelayanan kepada seorang brahmana, tingkat pelayanan kepada
seorang mulia, tingkat pelayanan kepada seorang pedagang, tingkat pelayanan kepada
seorang pekerja. Di dalamnya, Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai
tingkat
pelayanan kepada seorang brahmana: seorang brahmana boleh melayani seorang brahmana,
seorang mulia boleh melayani seorang brahmana, seorang pedagang boleh melayani
seorang brahmana, dan seorang pekerja boleh melayani seorang brahmana. Ini
adalah tingkat pelayanan kepada seorang brahmana [178] yang ditetapkan oleh
para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan
kepada seorang mulia: seorang mulia boleh melayani seorang mulia, seorang pedagang boleh
melayani seorang mulia, dan seorang pekerja boleh melayani seorang mulia. Ini
adalah tingkat pelayanan kepada seorang mulia yang ditetapkan oleh para
brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan
kepada seorang pedagang: seorang pedagang boleh melayani seorang pedagang, dan seorang pekerja
boleh melayani seorang pedagang. Ini adalah tingkat pelayanan kepada seorang pedagang
yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana
menetapkan ini sebagai tingkat
pelayanan kepada seorang pekerja: hanya seorang pekerja yang boleh melayani seorang
pekerja; karena siapakah orang lainnya yang akan melayani seorang pekerja? Ini
adalah tingkat pelayanan kepada seorang pekerja yang ditetapkan oleh para
brahmana. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”
4. “Baiklah, Brahmana, apakah
seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat tingkat
pelayanan ini?” – “Tidak, Guru Gotama.” – “Misalkan, Brahmana, mereka memaksakan
sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya uang, melarat dan
memberitahunya: ‘Tuan, engkau harus memakan daging ini dan membayarnya’; demikian
pula, tanpa persetujuan dari para petapa dan brahmana [lainnya], namun para
brahmana menetapkan keempat tingkat pelayanan itu.
5. “Aku
tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga Aku tidak
mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani
seseorang, ia menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik karena pelayanan itu,
maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya tidak dilayani. Dan jika, ketika
melayani seseorang, ia menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk karena
pelayanan itu, maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya dilayani.
6. “Jika
mereka bertanya kepada seorang mulia sebagai berikut: ‘Siapakah di antara
orang-orang ini yang seharusnya engkau layani – seorang yang karena pelayanan
itu engkau menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya, atau
seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih baik dan tidak lebih
buruk ketika melayaninya: [179] jika menjawab dengan benar, seorang mulia akan
menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya melayani seseorang yang karena
pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya;
aku seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih
baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’
“Jika
mereka bertanya kepada seorang brahmana … bertanya kepada seorang pedagang …
bertanya kepada seorang pekerja … jika menjawab dengan benar, seorang pekerja
akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya melayani seorang yang
karena pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika
melayaninya; aku seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku
menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’
7. “Aku
tidak mengatakan, Brahmana, bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia berasal
dari keluarga bangsawan, juga Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih
buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan. Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan, juga Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang
adalah lebih baik karena ia kaya-raya, juga Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih buruk karena ia kaya-raya.
8. “Karena
di sini, Brahmana, seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan mungkin
membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku
salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan
fitnah, bergosip, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan
salah. Oleh karena itu Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik
karena ia berasal dari keluarga bangsawan. Tetapi juga, Brahmana, seseorang
dari keluarga bangsawan mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup,
menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah
dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan ucapan salah, menghindari
mengucapkan ucapan fitnah, menghindari gosip, tidak tamak, memiliki pikiran
tanpa niat-buruk, dan menganut pandangan benar. Oleh karena itu Aku tidak
mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan.
“Di
sini, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang yang kaya-raya mungkin
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah. Oleh karena itu
Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan …
karena ia kaya-raya. Tetapi juga, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang
yang kaya-raya … mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan
menganut pandangan benar. Oleh karena itu [180] Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan … karena ia kaya-raya.
9. “Aku
tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga Aku tidak
mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani
seseorang, keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan
kebijaksanaannya bertambah dalam pelayanannya, maka Aku katakan bahwa orang itu
seharusnya dilayani.”
10. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Esukārī berkata kepada Sang
Bhagavā: “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat jenis kekayaan. Mereka
menetapkan kekayaan seorang brahmana, kekayaan seorang mulia, kekayaan seorang pedagang,
dan kekayaan seorang pekerja.
“Di dalamnya, Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang
brahmana –
mengembara mengumpulkan dana makanan; seorang brahmana yang menolak kekayaannya
sendiri, yaitu mengembara mengumpulkan dana makanan, berarti menyalahi tugasnya
bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan
seorang brahmana yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para
brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan
seorang mulia – busur dan tempat anak panah; seorang mulia yang menolak kekayaannya
sendiri, yaitu busur dan tempat anak panah, berarti menyalahi tugasnya bagaikan
seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan
seorang mulia yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para
brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan
seorang pedagang – bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak; seorang pedagang yang menolak
kekayaannya sendiri, yaitu bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak,
berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang
tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang pedagang yang ditetapkan oleh
para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang
pekerja – sabit
dan galah pengangkut beban; seorang pekerja yang menolak kekayaannya sendiri,
yaitu sabit dan galah pengangkut beban, berarti menyalahi tugasnya bagaikan
seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang
pekerja yang ditetapkan oleh para brahmana. Apakah yang Guru Gotama
katakan sehubungan dengan hal ini?”
[NOTE : Adalah praktik sejak masa lampau di antara
para brahmana untuk mengembara mengumpulkan dana makanan bahkan walaupun mereka
memiliki kekayaan berlimpah.
Walaupun pertanian sepertinya adalah pekerjaan yang
tidak seharusnya bagi seseorang yang digambarkan sebagai pedagang, harus
dipahami bahwa para vessa tidak hanya menjalankan usaha perkotaan, tetapi juga
memiliki dan mengawasi pekerjaan pertanian.]
11. “Baiklah, Brahmana, apakah
seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat
jenis kekayaan ini?” – [181] “Tidak, Guru Gotama.” – “Misalkan, Brahmana, mereka memaksakan
sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya uang, melarat dan
memberitahunya: ‘Tuan, engkau harus memakan daging ini dan membayarnya’; demikian
pula, tanpa persetujuan dari para petapa dan brahmana [lainnya], namun para
brahmana menetapkan keempat jenis kekayaan itu.
12. “Aku, Brahmana, menyatakan Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan
seseorang. Tetapi dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan ayahnya di masa
lampau, ia diakui menurut darimana ia terlahir kembali. Jika ia terlahir
kembali dalam kasta mulia, maka ia diakui sebagai seorang mulia; jika ia
terlahir kembali dalam kasta brahmana, maka ia diakui sebagai seorang brahmana;
jika ia terlahir kembali dalam kasta pedagang, maka ia diakui sebagai seorang
pedagang; jika ia terlahir kembali dalam kasta pekerja, maka ia diakui sebagai
seorang pekerja.
Seperti halnya api diakui melalui kondisi tertentu yang bergantung pada apa api
itu membakar – jika api membakar dengan bergantung pada kayu batang, maka api itu
dikenal sebagai api kayu batang; jika api membakar dengan bergantung pada kayu
ranting, maka api itu dikenal sebagai api kayu ranting; jika api membakar dengan
bergantung pada rumput, maka api itu dikenal sebagai api rumput; jika api
membakar dengan bergantung pada kotoran-sapi, maka api itu dikenal sebagai api
kotoran-sapi – demikian
pula, Brahmana, Aku menyatakan Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan
seseorang. Tetapi
dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan ayahnya di masa lampau, ia diakui
menurut darimana ia terlahir kembali. Jika ia terlahir kembali … dalam kasta
pekerja, maka ia diakui sebagai seorang pekerja.
[NOTE : Ariyaṁ kho ahaṁ brāhmaṇa lokuttaraṁ dhammaṁ purissa sandhanaṁ paññāpemi, “Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan seseorang”.
Parihal “ia diakui menurut darimana ia terlahir
kembali”, attabhāvassa abhinibbatti: secara literal, “di manapun
pembuahan kembali individunya terjadi.”]
13. “Jika, Brahmana, seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan
Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, ia menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah,
menghindari ucapan fitnah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gosip, dan
tidak tamak, memiliki pikiran tanpa permusuhan, dan menganut pandangan benar, maka ia adalah seorang
yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. [182] Jika, Brahmana, seseorang dari kasta
brahmana meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pedagang
meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pekerja
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang
Tathāgata, ia menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan menganut
pandangan benar, maka
ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.
14. “Bagaimana
menurutmu, Brahmana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu mengembangkan
pikiran cinta kasih terhadap suatu wilayah tertentu, tanpa pertentangan dan tanpa
permusuhan, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang
pekerja?”
“Tidak,
Guru Gotama. Apakah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang
pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu
mengembangkan pikiran cinta kasih terhadap suatu wilayah tertentu, tanpa
pertentangan dan tanpa permusuhan.”
“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan
keduniawian … (ulangi paragraf
nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma
yang bermanfaat.
15. “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah hanya seorang brahmana yang
mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan
membersihkan diri dari debu dan kotoran, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang,
atau seorang pekerja?”
“Tidak, Guru Gotama. Apakah ia adalah seorang mulia, atau seorang
brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat
kasta itu mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai,
dan membersihkan diri dari debu dan kotoran.”
“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan
keduniawian … (sama
seperti paragraf nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan
yang benar, Dhamma yang bermanfaat.
16. “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Misalkan seorang raja mulia yang sah
mengumpulkan di sini seratus orang yang berasal dari kelahiran berbeda dan
berkata kepada mereka: ‘Tuan-tuan, silakan siapapun juga di sini yang terlahir
dalam keluarga mulia atau keluarga brahmana atau keluarga bangsawan mengambil
sebatang kayu api kayu sāla, kayu salala, kayu cendana, atau kayu padumaka dan menyalakan api dan
menghasilkan panas. Dan juga silahkan siapapun juga di sini yang terlahir dalam keluarga
buangan, keluarga pemburu, keluarga pembuat keranjang, keluarga pembuat kereta,
atau keluarga pemungut sampah, mengambil kayu dari tempat minum anjing, dari
tempat makan babi, dari tempat sampah, atau dari kayu jarak dan menyalakan api dan
menghasilkan panas.’
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh
seseorang dalam kelompok pertama, apakah api itu memiliki kobaran, warna, dan
cahaya, dan apakah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api, sementara
ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dari kelompok ke dua,
api itu tidak memiliki kobaran, tanpa warna, dan tanpa cahaya, dan tidak
mungkin menggunakannya sebagai fungsi api?”
“Tidak,
Guru Gotama. Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam
kelompok pertama, api itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah
mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api. Dan api yang dinyalakan dan
panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok ke dua, api itu juga memiliki
kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai
fungsi api.” [184]
“Karena
semua api memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk
menggunakannya sebagai fungsi api.”
“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan
keduniawian … (sama
seperti paragraf nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan
yang benar, Dhamma yang bermanfaat.”
17. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Esukārī berkata kepada Sang
Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah
membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang
terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki
penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma
dan pada Saṅgha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama
mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur
hidup.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.