Tidak Ada Kekotoran-Batin yang “Kelas Bulu”. Semua Kekotoran-Batin ialah “Kelas Berat”—Jangan Meremehkannya dan Jangan Mengendurkan Kewaspadaan, atau Anda akan Babak-Belur Dibuatnya
Nasehat terbaik untuk diri kita ialah, jangan pernah meremehkan kekotoran-batin yang bersarang dalam diri kita masing-masing, terlebih menantangnya. Bila Anda meremehkan kekotoran-batin Anda, secara “overestimated” diri Anda sendiri lalu mencoba menantang kekotoran-batin yang berliang dalam diri Anda tersebut, maka dapat dipastikan Anda akan jatuh tengkurap, terjungkal, terjerembab, hingga babak-belur dibuatnya. Hanya mereka yang terlatih dalam penempaan disiplin-diri yang ketat bernama “self-control” dan senantiasa mawas diri (under-control), yang memiliki jiwa “militan” dalam berhadap-hadapan dengan kekotoran-batin diri sendiri, dicerminkan dari sabda Sang Buddha berikut: [kesemua kutipan sabda Sang Buddha di bawah ini bersumber dari berbagai sutta pada Majjhima Nikāya dan Aṅguttara Nikāya, Sutta Pitaka, Tipitaka]
“...melalui pemeriksaan-diri demikian, ia mengetahui: ‘Aku tidak
memperoleh ketenangan pikiran internal dan juga tidak memperoleh kebijaksanaan
pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena,’ maka ia harus
mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa,
semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan
pemahaman jernih luar biasa untuk memperoleh kedua kualitas bermanfaat itu.
Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar api akan
mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa,
semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan
pemahaman jernih luar biasa untuk memadamkan [api] di pakaian atau kepalanya,
demikian pula bhikkhu itu harus
mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa,
semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan
pemahaman jernih luar biasa untuk memperoleh kedua kualitas bermanfaat itu. Kemudian, beberapa waktu kemudian, ia memperoleh
ketenangan pikiran internal serta memperoleh kebijaksanaan pandangan terang
yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena.”
“Ada, para bhikkhu, sepuluh topik diskusi ini. Apakah sepuluh ini?
Pembicaraan tentang keinginan yang sedikit, tentang kepuasan, tentang
kesendirian, tentang tidak terikat erat dengan orang lain, tentang pembangkitan
kegigihan, tentang perilaku bermoral, tentang konsentrasi, tentang
kebijaksanaan, tentang kebebasan, tentang pengetahuan dan penglihatan pada
kebebasan. Ini adalah kesepuluh topik diskusi itu.”
“Setelah melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran
dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka
kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan
dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria mata, ia
menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengarkan suara dengan telinga
… Setelah mencium bau-bauan dengan hidung … Setelah mengecap rasa kecapan
dengan lidah … Setelah merasakan objek sentuhan dengan badan … Setelah
mengenali fenomena pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena,
jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk
yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia
berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan
pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian indria yang mulia
ini, ia mengalami kebahagiaan yang tanpa cacat dalam dirinya.”
Itulah sebabnya, Sang Buddha menyebutkan bahwa adalah lebih terpuji seseorang
yang mampu menaklukkan dirinya sendiri daripada memenangkan pertempuran dalam
sebuah peperangan antar kerajaan yang melibatkan ribuan serdadu berzirah. Jangankan
Anda, seorang petapa yang telah menjalani praktek pertapaan yang ekstrem, meninggalkan
takhta dan kekayaan, hidup selibat, terasing dari kenikmatan duniawi maupun
kesenangan indria, sang Pengeran Siddhatta Gotama sampai harus berikrar ketika berhadapan-hadapan
dengan kekotoran batin diri Beliau sendiri : “Aku
tidak akan bangkit dari posisi duduk ini hingga batinku terbebas dari noda-noda
melalui ketidak-melekatan.”
Keunikan paling utama dalam Buddhisme, Sang Buddha tidak melarang orang
lain mendirikan atau berpraktek tempat-tempat hiburan maupun maksiat, ataupun
pakaian dengan busana serba terbuka “you can see”, karena “filter”-nya ialah
diri kita sendiri, dengan menjaga pintu-pintu indria kita sendiri—semisal tidak
memandang remeh indera mata-penglihatan dengan berupaya menghindar dan
meninggalkan objek-objek pemandangan-pemandangan yang membangkitkan birahi,
tempat hiburan yang membangkitkan keserakahan, maupun kemerosotan lainnya. Menjaga
indera lidah-kecapan, dengan menghindari mengonsumsi barang madat memabukkan
yang dapat melemahkan kesadaran. Termasuk indria pikiran, dimana kita tidak
perlu serta berupaya menghindari pemikiran-pemikiran yang berpotensi
mengakibatkan kemunduran kualitas batin.
Kekotoran-batin, ibarat “petinju kelas berat”. Bila Anda belum terlatih
menghadapi kekotoran-batin, maka Anda ibarat “petinju kelas bulu” (kelas amatir).
Ketika Anda sang “petinju kelas bulu” meremehkan kekotoran-batin Anda yang
notabene “petinju kelas berat”, bahkan mencoba menantangnya, itu tidak ubahnya “menantang
maut”, dimana sudah dapat dipastikan vonisnya ialah “KNOCK-OUT” (K.O.) entah
pada ronde kedua, ronde ketiga, atau bahkan sejak ronde babak pertama baru
dimulai. Latihan paling awal, untuk mempersiapkan diri menghadapi kekotoran-batin,
menurut Sang Buddha ialah terasing dari kenikmatan indria serta meninggalkan kualitas-kualitas
tidak bermanfaat. Bila Anda masih mencandu kenikmatan yang berhubungan dengan
kenikmatan indria, bahkan memiliki segudang kualitas-kualitas buruk yang selama
ini Anda pelihara, maka atas dasar delusi apakah Anda merasa lebih superior
daripada kekotoran-batin di dalam diri Anda, dimana tanpa Anda sadari Anda sejatinya
telah tunduk?
Para bhikkhu yang masih junior dan belum terasah, dihimbau oleh Sang
Buddha untuk pergi mencari tempat-tempat terasing seperti ke dalam hutan untuk
berlatih memperkuat “kekuatan batin”, yang jauh dari hingar-bingar, semata agar
“tidak babak-belur” ketika tiba saatnya untuk berhadap-hadapan dengan kekotoran-batin.
Sang Buddha tidak membiarkan para siswa Beliau “mati konyol” dengan “baru
belajar dan berlatih berenang ketika akan tenggelam”. Tidak menjadi masalah
apakah penduduk memakai busana serba terbuka, tempat-tempat maksiat berdiri di setiap
sudut kota maupun desa, barang madat diperdagangkan secara bebas, korupsi
merajalela, gaya hidup hedonis ibarat pola hidup yang populer, para siswa Sang
Buddha yang belum memiliki “kekuatan batin” cukup menghindarinya,
meninggalkannya, serta mengasingkan diri dalam rangka menjaga pintu-pintu indria.
Setahap demi setahap, kekuatan-batin dikembangkan serta ditingkatkan
intensitasnya, barulah akan tiba waktu dimana genderang perang melawan “kekotoran-batin”
dapat ditabuh serta dikumandangkan, sebuah pertarungan epik yang membutuhkan
keberanian serta semangat juang yang “militan”, dimana pada klimaksnya Pangeran
Siddhatta Gotama bertaruh dengan nyawanya di bawah Pohon Bodhi sebelum kemudian
memenangkan pertempuran dan mencapai pencerahan sempurna, barulah Beliau
bangkit dan menjadi guru bagi para manusia dan para dewa. Seperti apakah, siswa
Beliau yang telah terampil dan terasah, sehingga siap menghadapi kekotoran-batinnya
sendiri? Simak apa yang disabdakan oleh Sang Buddha, sebagai berikut:
“Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk
mengembangkan empat landasan kekuatan batin. Di sini seorang bhikkhu
mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam konsentrasi yang
muncul dari kemauan dan usaha penuh tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan
batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari kegigihan dan usaha
penuh tekad. Ia mengembangkan landasan
kekuatan batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari [kemurnian]
pikiran dan usaha penuh tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam
konsentrasi yang muncul dari penyelidikan dan usaha penuh tekad. Dan dengan
demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan
pengetahuan langsung.”
Kebanyakan dari kita,
adalah manusia-manusia “cengeng” mudah mengeluh, mudah terjatuh ke kebiasaan mencandu
kenikmatan indria, tidak berani “melawan arus”, kemampuan kontrol-diri yang
buruk (sumbu-nya pendek), keinginan yang tiada batas, tidak mudah terpuaskan,
mudah menyerah pada godaan indria, maunya cara instan, penuh kecurangan dimana dosa
pun dikorupsi lewat dogma-korup semacam ideologi “penghapusan dosa” (too
good to be true), melekat pada kesenangan duniawi, memelihara sifat bodoh,
gemar menyakiti diri sendiri maupun menyakiti orang lain, namun mengharap dapat
membuat kekotoran-batin dengan mudah dalam satu pukulan atau satu ronde dan “K.O.”?
Kini, tengoklah diri Anda sendiri, masuk dalam golongan manusia yang manakah
dari kriteria manusia yang dijabarkan oleh Sang Buddha, yakni:
“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini
terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang
melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang
dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.
(1) Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di
sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.
(2) Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang
tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air
mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut
orang yang melawan arus.”
“Bagaimanakah, Aggivessana, seorang yang
tidak terkembang dalam jasmani dan tidak terkembang dalam batin? Di sini,
Aggivessana, perasaan menyenangkan muncul dalam diri seorang biasa yang tidak
terpelajar. Tersentuh oleh perasaan menyenangkan itu, ia menginginkan
kesenangan itu dan terus-menerus menginginkan kesenangan itu. Tersentuh oleh
perasaan menyenangkan itu, ia menginginkan kesenangan itu dan terus-menerus
menginginkan kesenangan itu. Perasaan menyenangkan itu lenyap. Dengan lenyapnya
perasaan menyenangkan itu, perasaan menyakitkan muncul. Tersentuh oleh perasaan
menyakitkan itu, ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil
memukul dadanya dan menjadi kebingungan. Ketika perasaan menyenangkan itu
muncul, perasaan itu menyerbu pikirannya dan menetap di sana karena jasmaninya
tidak terkembang. Dan ketika perasaan menyakitkan itu muncul, perasaan itu
menyerbu pikirannya dan menetap di sana karena batinnya tidak terkembang.
Siapapun yang dalam dirinya, dalam kedua kasus ini, perasaan menyenangkan yang
muncul menyerbu pikirannya dan menetap di sana karena jasmaninya tidak
terkembang, dan perasaan menyakitkan yang muncul menyerbu pikirannya dan
menetap di sana karena batinnya tidak terkembang, demikianlah yang disebut tidak
terkembang dalam jasmani dan tidak terkembang dalam batin.
“Dan bagaimanakah, Aggivessana, seorang yang
terkembang dalam jasmani dan terkembang dalam batin? Di sini, Aggivessana,
perasaan menyenangkan muncul dalam diri seorang siswa mulia yang terpelajar.
Tersentuh oleh perasaan menyenangkan itu, ia tidak menginginkan kesenangan itu
atau tidak terus-menerus menginginkan kesenangan itu. Perasaan menyenangkan itu
lenyap. Dengan lenyapnya perasaan menyenangkan itu, perasaan menyakitkan
muncul. Tersentuh oleh perasaan menyakitkan itu, ia tidak berdukacita, tidak
bersedih, dan tidak meratap, ia tidak menangis sambil memukul dadanya dan tidak
menjadi kebingungan. Ketika perasaan menyenangkan itu muncul, perasaan itu
tidak menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena jasmaninya
terkembang. Dan ketika perasaan menyakitkan itu muncul, perasaan itu tidak
menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena batinnya terkembang.
Siapapun yang dalam dirinya, dalam kedua kasus ini, perasaan menyenangkan yang
muncul tidak menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena jasmaninya
terkembang, dan perasaan menyakitkan yang muncul tidak menyerbu pikirannya dan
tidak menetap di sana karena batinnya terkembang, demikianlah yang disebut terkembang
dalam jasmani dan terkembang dalam batin.”
“Para bhikkhu, kenikmatan indria adalah tidak
kekal, kosong, palsu, menipu; kenikmatan indria adalah ilusi, ocehan
orang-orang dungu. Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria
pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan
persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah alam
Māra, wilayah Māra, umpan Māra, tanah perburuan Māra. Oleh karenanya,
kondisi-kondisi batin buruk yang tidak bermanfaat ini seperti ketamakan,
permusuhan, dan anggapan muncul, dan merupakan rintangan bagi seorang siswa
mulia yang dalam latihan di sini.”
“Demikian pula, Rāhula, jika seseorang tidak
malu mengucapkan kebohongan yang disengaja, maka tidak ada kejahatan, Aku
katakan, yang tidak akan ia lakukan. Oleh karena itu, Rāhula, engkau harus
berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan mengucapkan kebohongan bahkan
sebagai suatu gurauan.’”
“Dan di manakah Māra dan pengikutnya tidak
dapat mendatangi? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria,
terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan
berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.
Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si
Jahat dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya.”
“Dan apakah, Ānanda, persepsi meninggalkan?
Di sini, seorang bhikkhu tidak mentolerir pikiran nafsu indria yang telah
muncul; ia meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya.
Ia tidak mentolerir pikiran berniat buruk yang telah muncul … pikiran
mencelakai yang telah muncul … kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat
kapan pun kondisi-kondisi itu muncul; ia meninggalkannya, menghalaunya,
menghentikannya, dan melenyapkannya. Ini disebut persepsi meninggalkan.”
“Aggivessana, bagaimana mungkin bahwa
Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan indria, menikmati
kenikmatan indria, dimangsa oleh pikiran kenikmatan indria, ditelan oleh
pikiran kenikmatan indria, cenderung mencari kenikmatan indria, dapat
mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui melalui pelepasan
keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui pelepasan
keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian? Itu adalah tidak mungkin.”
Sang Buddha dalam
berbagai sutta menyatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan indria memberikan sedikit
kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di dalamnya
lebih banyak lagi, karenanya kita harus mampu melibat bahaya dibalik pelanggaran-pelanggaran
kecil sekalipun. Ada kemungkinan ada diantara para pembaca yang bertanya,
seperti apakah Sang Buddha melatih para siswa-Nya? Perumpamaannya diberikan oleh
Sang Buddha dengan kutipan sebagai berikut:
“Kegigihan harus dibangkitkan dalam diriku
tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan tanpa kacau; tubuhku harus tenang
tanpa gangguan; pikiranku harus dikonsentrasikan dan terpusat.’ Setelah
menjadikan dirinya sendiri sebagai otoritasnya, ia meninggalkan apa yang tidak
bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat; ia meninggalkan apa yang
tercela dan mengembangkan apa yang tidak tercela; ia mempertahankan dirinya
dalam kemurnian. Ini disebut diri sendiri sebagai otoritas.”
“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, tetapi
dikotori oleh kekotoran dari luar.”
“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, dan
terbebaskan dari kekotoran dari luar.”
“Bhaddāli, misalkan seorang pelatih kuda yang
cerdas memperoleh seekor kuda muda dari keturunan murni yang baik. Pertama-tama
ia membuatnya terbiasa mengenakan tali kekang. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan
mengenakan tali kekang, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia
lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak,
namun melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi
tenang dalam tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang
dalam tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terbiasa mengenakan
perlengkapan kuda. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan mengenakan perlengkapan
kuda, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia
memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui
pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam
tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang
dalam tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terlatih dalam
melangkah, dalam berlari berputar, dalam mengangkat kedua kaki depannya, dalam
menderap, dalam menyerang, dalam kualitas-kualitas kerajaan, dalam budaya
kerajaan, dalam kecepatan tertinggi, dalam ketangkasan tertinggi, dalam
kelembutan tertinggi. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan melakukan hal-hal ini,
karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia
memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui
pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam
tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang
dalam tindakan-tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh menghadiahinya dengan
pijatan dan perawatan. Ketika seekor kuda muda jantan dari keturunan murni
memiliki sepuluh faktor ini, ia layak menjadi milik raja, layak melayani raja,
dan dianggap sebagai salah satu faktor seorang raja.”
Seperti apakah, salah
satu contoh kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria? Adalah dogma
yang terlampau dangkal, menyamakan kenikmatan-surgawi dengan kenikmatan-duniawi,
terlebih menyama-ratakannya dengan kenikmatan yang melampaui alam surgawi
(kenikmatan terbebas dari kondisi). Salah satunya ialah kebahagiaan dalam moralitas.
Perhatikan sabda Sang Buddha berupa kutipan berikut:
“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu terampil
dalam jalan pikirannya sendiri? Seperti halnya seorang perempuan atau laki-laki
– muda, berpenampilan muda, dan menyukai perhiasan – akan melihat pantulan
wajahnya di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air
jernih. Jika mereka melihat debu atau noda apa pun di sana, maka mereka akan
berusaha untuk menghilangkannya. Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau
noda di sana, maka mereka menjadi gembira; dan keinginan mereka terpenuhi, mereka
akan berpikir, ‘Betapa beruntungnya bahwa aku bersih!’ Demikian pula,
pemeriksaan-diri adalah sangat membantu bagi seorang bhikkhu [agar tumbuh]
dalam kualitas-kualitas bermanfaat.
“[Ia harus bertanya kepada diri sendiri:] (1)
‘Apakah aku sering condong pada kerinduan [93] atau tanpa kerinduan? (2) Apakah
aku sering condong pada niat-buruk atau tanpa niat-buruk? (3) Apakah aku sering
dikuasai oleh ketumpulan dan kantuk atau bebas dari ketumpulan dan kantuk? (4)
Apakah aku sering gelisah atau tenang? (5) Apakah aku sering diserang oleh
keragu-raguan atau bebas dari keragu-raguan? (6) Apakah aku sering marah atau
tanpa kemarahan? (7) Apakah pikiranku sering kotor atau tidak kotor? (8) Apakah
jasmaniku sering bergejolak atau tidak bergejolak? (9) Apakah aku sering malas
atau bersemangat? (10) Apakah aku sering tidak terkonsentrasi atau
terkonsentrasi?’
“Jika, melalui pemeriksaan-diri
demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering condong pada kerinduan,
condong pada niat-buruk, condong pada ketumpulan dan kantuk, gelisah, diserang
oleh keragu-raguan, marah, kotor dalam pikiran, bergejolak dalam jasmani,
malas, dan tidak terkonsentrasi,’ maka ia harus mengerahkan keinginan luar
biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa,
ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar
biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.
Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar akan mengerahkan
keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar
biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih
luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya, demikian pula
bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan
luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar
biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas
buruk yang tidak bermanfaat itu. [94]
“Tetapi, jika, melalui pemeriksaan-diri
demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering tanpa kerinduan, tanpa
niat-buruk, bebas dari ketumpulan dan kantuk, tenang, bebas dari keragu-raguan,
tanpa kemarahan, tidak kotor dalam pikiran, tidak bergejolak dalam jasmani,
bersemangat, dan terkonsentrasi,’ maka ia harus mendasarkan dirinya pada
kualitas-kualitas bermanfaat yang sama itu dan berusaha lebih lanjut untuk
mencapai hancurnya noda-noda.”
“Para bhikkhu, kondisi tertinggi dari
kedamaian luhur ini telah ditemukan oleh Sang Tathāgata, yaitu, pembebasan
melalui ketidak-melekatan, dengan memahami sebagaimana adanya asal-mula,
lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri dalam hal enam landasan
kontak. Para bhikkhu, itu adalah kondisi tertinggi dari kedamaian luhur
ini yang ditemukan oleh Sang Tathāgata, yaitu, kebebasan melalui
ketidak-melekatan, dengan memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya,
kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri dalam hal enam landasan kontak.”
“Adalah tidak mungkin, murid, tidak dapat
terjadi api menyala tanpa bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu
kecuali dengan [pengerahan] kekuatan batin. Yang seperti api yang menyala
dengan bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu, Aku katakan, adalah
sukacita yang bergantung pada kelima utas kenikmatan indria. Yang seperti
api yang menyala tanpa bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu, Aku
katakan, adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Dan apakah, murid, sukacita yang terpisah
dari kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat? Di
sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ini adalah sukacita yang
terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat. Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran,
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki
keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ini juga
adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat.”
“Ia melihat dirinya murni dari
kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini, ia melihat dirinya terbebas
dari kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini. Ketika ia melihat
ini, kegembiraan muncul dalam dirinya. Ketika ia gembira, sukacita muncul dalam
dirinya; dalam diri seorang yang bersukacita, jasmaninya menjadi tenang;
seseorang yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan; dalam diri seorang yang
merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.
Selanjutnya, seperti
apakah kemajuan dalam disiplin yang diajarkan oleh Sang Buddha? Perhatikan kutipan
khotbah Sang Buddha berikut yang penuh inspiratif serta motivasi:
“Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah
apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena
itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan
dalam Dhamma dan Disiplin ini.”
“Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia
tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria
mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan
kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga
indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Ketika mendengar suatu
suara dengan telinga ... Ketika mencium suatu bau-bauan dengan hidung ...
Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah ... Ketika menyentuh suatu objek
sentuhan dengan badan ... Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran,
ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan
indria pikiran tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa
ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara
pengendaliannya, ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria
pikiran. Dengan memiliki pengendalian mulia akan indria-indria ini, ia
mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa noda.”
“Dengan memiliki kelompok moralitas mulia
ini, dan pengendalian mulia atas indria-indria ini, dan memiliki perhatian
mulia dan kewaspadaan mulia ini, ia mencari tempat tinggal yang terasing:
hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan,
hutan belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.”
“Setelah kembali dari menerima dana makanan,
setelah makan ia duduk bersila, menegakkan badannya, dan menegakkan perhatian
di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan akan dunia, ia berdiam dengan
pikiran yang bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan.
Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang
bebas dari permusuhan, berbelas kasih bagi kesejahteraan semua makhluk hidup;
ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan
dan ketumpulan, ia berdiam dengan terbebas dari kelambanan dan ketumpulan,
seorang yang mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan; ia
memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan
kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam dengan tanpa kegelisahan dengan batin
yang damai; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Dengan
meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tanpa
kebingungan akan kondisi-kondisi bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari
keragu-raguan.
“Setelah meninggalkan kelima rintangan ini,
ketidak-murnian pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, dengan cukup terasing
dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia
masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
keterasingan.”
“Karena, Kandaraka, dalam Sangha para bhikkhu
ini terdapat para bhikkhu yang adalah para Arahant dengan noda-noda telah
dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang
harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah
menghancurkan belenggu penjelmaan, dan yang terbebaskan sepenuhnya melalui
pengetahuan akhir. Dan dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang
dalam tingkat latihan yang lebih tinggi, dengan moralitas yang konstan,
bijaksana, menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan konstan. Mereka berdiam
dengan pikiran kokoh dalam empat landasan perhatian. Apakah empat ini? Di sini,
Kandaraka, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani,
tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan
dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai
perasaan, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan
ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan pikiran
sebagai pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah
menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan
merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh
kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan
akan dunia.”
“Sang Jalan” (Dhamma)
sebagaimana telah ditempuh dan ditunjukkan oleh Sang Buddha, bukanlah diperuntukkan
bagi mereka yang “cengeng”, “pemalas”, “kekanakan”, maupun “pengecut”. Cerminan
yang diumpamakan oleh Sang Buddha berikut, dapat memberikan gambaran yang terang:
“Sekarang ketiga perumpamaan ini muncul
padaKu secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat
sebatang kayu basah terletak di dalam air, dan seseorang datang dengan membawa
sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan
menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Dapatkah orang itu
menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api dengan kayu
basah yang terletak di dalam air?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena
kayu itu adalah kayu basah, dan terletak di dalam air. Akhirnya orang itu hanya
akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”
“Demikian pula, Aggivessana, sehubungan
dengan para petapa dan brahmana itu yang
masih belum hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, dan yang
keinginan indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya
akan kenikmatan indria belum sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara
internal, bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka
tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi;
dan bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka
tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi.
Ini adalah perumpamaan pertama yang muncul padaku secara spontan yang belum
pernah terdengar sebelumnya.
“Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke dua
muncul padaKu secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan
terdapat sebatang kayu basah terletak di atas tanah kering yang jauh dari air,
dan seseorang datang dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan
menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan
kayu api dengan kayu basah yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari air?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena
kayu itu adalah kayu basah, bahkan walaupun kayu itu terletak di atas tanah
kering yang jauh dari air. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan
dan kekecewaan.”
“Demikian pula, Aggivessana, sehubungan
dengan para petapa dan brahmana itu yang hidup dengan jasmani yang terasing
dari kenikmatan indria, tetapi keinginan indrianya, cintanya,
ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan kenikmatan indria belum sepenuhnya
ditinggalkan dan ditekan secara internal, bahkan jika para petapa dan brahmana
baik itu merasakan perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena
usaha, mereka tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan
pencerahan tertinggi; dan bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu tidak
merasakan perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha,
mereka tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan
tertinggi. Ini adalah perumpamaan ke dua yang muncul padaku secara spontan,
yang belum pernah terdengar sebelumnya.
“Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke tiga
muncul padaKu secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan
terdapat sebatang kayu kering terletak di atas tanah kering yang jauh dari air,
dan seseorang datang dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan
menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan
kayu api dengan kayu kering yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari
air?”
“Dapat, Guru Gotama. Mengapa? Karena kayu itu
adalah kayu kering, dan kayu itu terletak di atas tanah kering yang jauh dari
air.”
“Demikian pula, Aggivessana, sehubungan
dengan para petapa dan brahmana itu yang hidup dengan jasmani yang terasing
dari kenikmatan indria, dan yang keinginan indrianya, cintanya,
ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan kenikmatan indria telah sepenuhnya
ditinggalkan dan ditekan secara internal, bahkan jika para petapa dan brahmana
baik itu merasakan perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena
usaha, mereka akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan
tertinggi; dan bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan
mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah
perumpamaan ke tiga yang muncul padaKu secara spontan, yang belum pernah
terdengar sebelumnya. Ini adalah tiga perumpamaan yang muncul padaKu secara
spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.”
“Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan
menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu
membangkitkan kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat yang belum muncul dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan,
mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk
meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul dan
ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia
membangkitkan kemauan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum
muncul dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan
berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk mempertahankan kelangsungan,
ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan
kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha,
membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Seorang yang
berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan
tidak bermanfaat.
“Dan di manakah kehendak-kehendak tidak
bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya disebutkan: di sini, dengan cukup
terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang
disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Adalah di sini kehendak-kehendak
tidak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.”
Ada atau tidaknya umat
maupun pengikut, banyak atau sedikitnya siswa, Sang Buddha tetap makan satu
kali dalam sehari, tidur beralaskan tikar, hanya mengenakan jubah bekas buangan,
dan hanya memiliki harta berupa mangkuk untuk berpindapata (menjadikan diri-Nya
sebagai ladang menanam jasa yang subur bagi umat pendana makanan). Adalah dalam
rangka belas-kasihan, Sang Buddha bersedia merepotkan dirinya membabarkan
Dhamma setelah pada mulanya tidak berminat memutar roda-Dhamma bagi para
makhluk:
25. “Misalkan, para bhikkhu, bahwa di dalam
sebuah hutan terdapat rawa-rawa yang luas di dekat sekumpulan rusa yang menetap
di sana. Kemudian seseorang datang menginginkan kehancuran, bahaya, dan
belenggu bagi rusa-rusa itu, dan ia menutup jalan yang baik dan aman yang
mengarah menuju kebahagiaan rusa-rusa itu, dan ia membuka jalan palsu, dan ia
meletakkan umpan dan memasang benda-benda tiruan sehingga kumpulan rusa itu
akan mengalami bencana, malapetaka, dan kehancuran. Tetapi seorang lainnya
datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan bagi rusa-rusa
itu, dan ia membuka kembali jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju
kebahagiaan rusa-rusa itu, dan ia menutup jalan palsu, dan ia membuang umpan
dan menghancurkan benda-benda tiruan, sehingga kumpulan rusa itu dapat
berkembang, bertambah dan berlimpah.
26. “Para bhikkhu, Aku memberikan perumpamaan
ini untuk menyampaikan maknanya. Maknanya adalah sebagai berikut: ‘Rawa-rawa
yang luas’ adalah sebutan bagi kenikmatan indria. ‘Sekumpulan rusa’ adalah
sebutan bagi makhluk-makhluk. ‘Seseorang yang datang menginginkan kehancuran,
bahaya, dan belenggu’ adalah sebutan bagi Māra si Jahat. ‘Jalan Palsu’ adalah
sebutan bagi jalan salah berunsur delapan, yaitu: pandangan salah, kehendak
salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah, usaha salah, perhatian
salah, dan konsentrasi salah. ‘Umpan’ adalah sebutan bagi kenikmatan dan nafsu.
‘Benda-benda tiruan’ adalah sebutan bagi ketidak-tahuan. ‘Seorang lainnya yang
datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan’ adalah sebutan
bagi Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. ‘Jalan yang baik
dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan rusa-rusa itu’ adalah sebutan bagi
Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: pandangan benar, kehendak benar, ucapan
benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan
konsentrasi benar.
“Demikianlah, para bhikkhu, jalan yang
baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan telah dibuka kembali olehKu,
jalan palsu telah ditutup, umpan telah dibuang, benda-benda tiruan telah
dihancurkan.
27. “Apa yang harus dilakukan untuk para
siswaNya demi belas kasih seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan dan
memiliki belas kasih terhadap mereka, telah Kulakukan untuk kalian, para
bhikkhu. Terdapat bawah pepohonan ini, gubuk-gubuk kosong ini.
Bermeditasilah, para bhikkhu, jangan menunda atau kalian akan menyesalinya
kelak. Ini adalah instruksi Kami kepada kalian.”
15. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Gaṇaka Moggallāna berkata
kepada Sang Bhagavā: “Ada orang-orang yang tidak berkeyakinan dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah bukan
karena keyakinan melainkan untuk mencari penghidupan, yang palsu, menipu, curang,
congkak, kosong, sombong, berkata-kasar, berbicara-lepas, dengan organ-organ
indria tidak terjaga, makan berlebihan, tidak menekuni keawasan, tidak
mempedulikan kehidupan pertapaan, tidak menghargai latihan, hidup dalam
kemewahan, lengah, para pemimpin dalam kemunduran, mengabaikan keterasingan,
malas, kurang gigih, tidak penuh perhatian, tidak penuh kewaspadaan, tidak
terkonsentrasi, dengan pikiran berkeliaran, hampa dari kebijaksanaan, pembual.
Guru Gotama tidak berdiam bersama dengan orang-orang ini.
“Tetapi ada anggota-anggota keluarga yang
telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah karena keyakinan yang tidak palsu, tidak menipu, tidak curang,
tidak congkak, tidak kosong, tidak sombong, tidak berkata-kasar, tidak
berbicara-lepas; yang dengan organ-organ indria terjaga, makan secukupnya,
menekuni keawasan, memperhatikan kehidupan pertapaan, menghargai latihan, tidak
hidup dalam kemewahan atau lengah, yang tekun menghindari kemunduran, para
pemimpin dalam keterasingan, bersemangat, bersungguh-sungguh, kokoh dalam
perhatian, penuh kewaspadaan, terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat, memiliki
kebijaksanaan, bukan pembual. Guru Gotama berdiam bersama dengan orang-orang
ini.”
Pada muaranya, “Auman
Singa” pun berkumandang dari “sang pemenang pertempuran”, “sang penakluk”, sebagaimana
dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu
Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh
Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
~
SUTTA 32 ~
Mahāgosinga
Sutta: Khotbah Panjang di Gosinga
[212] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Taman Hutan pohon Sāla Gosinga bersama dengan sejumlah siswa
terkenal – Yang Mulia Sāriputta, Yang Mulia Mahā Moggallāna, Yang Mulia Mahā
Kassapa, Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Revata, Yang Mulia Ānanda, dan para
siswa terkenal lainnya.
2. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Mahā Moggallāna bangkit dari
meditasinya, mendatangi Yang Mulia Mahā Kassapa, dan berkata kepadanya: “Teman,
Kassapa, mari kita mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk mendengarkan Dhamma.”
– “Baik, teman,” Yang Mulia Mahā Kassapa menjawab. Kemudian Yang Mulia Mahā
Moggallāna, Yang Mulia Mahā Kassapa, dan Yang Mulia Anuruddha mendatangi Yang
Mulia Sāriputta untuk mendengarkan Dhamma.
3. Yang Mulia Ānanda melihat mereka mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk
mendengarkan Dhamma. Kemudian ia mendatangi Yang Mulia Revata dan berkata
kepadanya: “Teman Revata, orang-orang mulia itu mendatangi Yang Mulia Sāriputta
untuk mendengarkan Dhamma. Mari kita juga mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk
mendengarkan Dhamma.” – “Baik, teman,” Yang Mulia Revata menjawab. Kemudian
Yang Mulia Revata dan Yang Mulia Ānanda mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk
mendengarkan Dhamma.
4. Dari jauh Yang Mulia Sāriputta melihat kedatangan Yang Mulia Revata
dan Yang Mulia Ānanda dan berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Silahkan Yang
Mulia Ānanda datang, selamat datang kepada Yang Mulia Ānanda, pelayan Sang Bhagavā,
yang selalu mendampingi Sang Bhagavā. Teman Ānanda, Hutan pohon Sāla Gosinga
sungguh indah, malam ini bulan bercahaya, pepohonan sāla semuanya bermekaran,
dan keharuman surgawi menguar di udara. Bhikkhu seperti apakah, teman Ānanda,
yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
“Di sini, teman [213] Sāriputta, seorang bhikkhu yang telah banyak
belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan menggabungkan apa yang telah
ia pelajari. Ajaran-ajaran
yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan
kata-kata yang benar, dan yang menegaskan kehidupan suci yang murni dan
sempurna –
ajaran-ajaran seperti ini telah banyak ia pelajari, dan ia ingat, ia kuasai
secara verbal, ia selidiki dengan pikiran, dan ia tembus dengan baik melalui
pandangan. Dan ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok dengan
kalimat-kalimat dan kata-kata yang benar dan masuk akal untuk melenyapkan
kecenderungan tersembunyi. Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon
Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Empat kelompok dimaksud ialah para
bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan. Tujuh
kecenderungan tersembunyi diuraikan pada Majjhima Nikāya sutta 18, Madhupiṇḍika
Sutta, dengan kutipan sebagai berikut:
“8. “Para bhikkhu, sehubungan dengan sumber melalui
mana persepsi dan gagasan [yang muncul dari] proliferasi pikiran yang menyerang
seseorang: jika tidak ada apapun di sana yang menyenangkan, yang disambut dan
digenggam, maka ini adalah akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada nafsu, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada penolakan, [110] akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada pandangan-pandangan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada keragu-raguan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada keangkuhan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada penjelmaan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada ketidak-tahuan; ini adalah akhir dari penggunaan tongkat pemukul dan senjata, akhir
dari pertengkaran, percekcokan, perselisihan, tuding-menuding, fitnah, dan
kebohongan; di sini kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat lenyap tanpa
sisa.”
Interpretasi atas paragraf sutta yang tersamar di
atas, berpusat pada kata papañca dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā.
Bhikkhu Ñāṇamoli menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” dan papañcasaññā-sankhā
sebagai “perhitungan mengenai persepsi keberagaman.”
Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang
ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang mungkin
cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman, tetapi kecenderungan
imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan komentar pikiran yang
menghalangi pengenalan data.
Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and
Reality in Early Buddhism, Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca sebagai
“proliferasi konseptual,” dan Bhikkhu Bodhi sebagai penerjemah sutta dari Bahasa
Pāli mengikutinya dengan menggantikan “keberagaman” dari Ñm menjadi
“proliferasi.”
Kitab
Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor –
ketagihan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran menjadi
“membubuhi pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,”
“aku,” dan “diriku.”
Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap,” istilah mana juga muncul dalam Majjhima Nikāya
sutta ke-1, Mūlapariyāya Sutta. Kata Pāli “menganggap” (maññati), yang
berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam
sutta-sutta Pāli untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang /
terbias – pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu
pemahaman yang diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari
imajinasi subjektif seseorang.
Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh menganggap
terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris ke dalam pengalaman
yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab
Komentar, aktivitas menganggap diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam
berbagai cara manifestasinya – keinginan (taṇha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi). Kitab Komentar menuliskan teks ini sebagai: “Setelah melihat tanah
dengan persepsi menyimpang, orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan
atau menilainya – melalui kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar
(papañca) dari ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang
bertolak-belakang [dengan kenyataan].”
Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha
menunjukkan bahwa anggapan atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu
dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif,
lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga
tersamar dalam Pāli – sepertinya filosofis. Bhikkhu Bodhi menganggap pola itu menunjukkan
beragam cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna positif pada makna
keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu
hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena yang dilihat
sebagai objek.
Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini
dapat berupa salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang
mendasari (“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan
dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).
Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan frasa-frasa ini. Pāli tidak
menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke tiga, dan ini menyiratkan
bahwa proses penganggapan berlangsung dari tingkat yang lebih dalam dan lebih
umum daripada yang terlibat dalam pembentukan pandangan diri secara eksplisit,
seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya
44.7.
Dengan demikian aktivitas
penganggapan sepertinya terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai
secara subjektif, dari impuls
dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap untuk
menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap. Akan
tetapi Bhikkhu Ñāṇamoli, memahami objek anggapan implisit sebagai
persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan: “setelah mempersepsikan
tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia menganggap [itu sebagai]
di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari tanah,” dan seterusnya. Frasa
ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara eksplisit menghubungkan penganggapan
dengan keinginan, yang mana di tempat lain dikatakan “bergembira di sana-sini.”
Hal
ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi,
karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan. Kitab Komentar memberikan banyak contoh yang mengilustrasikan
segala jenis penganggapan yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek
penganggapan yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.
Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih
rumit. YM Ñāṇananda menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan
oleh pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum
memasukkan kata saññā. Kitab Komentar mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan
bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca
ataupun papañca itu sendiri. Bhikkhu Bodhi sependapat dengan Ñāṇananda
dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan
(“Perhitungan” dari Bhikkhu Ñāṇamoli adalah terlalu literal) daripada bagian.
Keputusan Bhikkhu Bodhi memperlakukan saññā-sankhā
sebagai kata majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan
dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam
Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang benar-benar
tanpa keraguan.
Pada Interpretasi alternatif dari komponennya,
ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari]
proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari]
proliferasi.” Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses
kognisi itu sendiri adalah “sumber
yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi pikiran
menyerang seseorang.”
Jika dalam proses
kognisi tersebut tidak ada yang disenangi,
disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada
kekotoran-kekotoran akan berakhir.
YM. Ānanda dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai siswa
yang Pāling unggul di antara mereka yang telah banyak belajar, dan
khotbah-khotbahnya dikatakan menyenangkan empat kelompok tersebut (Dīgha Nikāya
16.5.16/ii.145).]
5. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang
Mulia Revata: “Teman Revata, Yang Mulia Ānanda telah mengungkapkan sesuai inspirasinya.
Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Revata: teman Revata, Hutan pohon Sāla
Gosinga sungguh indah, malam ini bulan bercahaya, pepohonan sāla semuanya
bermekaran, dan keharuman surgawi menguar di udara. Bhikkhu seperti apakah,
teman Revata, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
[Kitab Komentar : Yathā sakaṁ paṭibhānaṁ, mengungkapkan sesuai inspirasinya. Frasa ini juga dapat diterjemahkan “menurut
intuisinya” atau “menurut idealismenya.” Bhikkhu Ñāṇamoli menerjemahkan
“sesuai apa yang terpikir olehnya”; Horner, “menurut kapasitasnya.”]
“Di sini, teman Sāriputta, seorang bhikkhu bergembira dalam meditasi
terasing dan senang dalam meditasi terasing; ia menekuni ketenangan pikiran
internal, tidak
mengabaikan meditasi, memiliki pandangan
terang, dan berdiam
dalam gubuk kosong. Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla
Gosinga.”
[Kitab Komentar : YM. Revata dinyatakan sebagai
siswa yang Pāling unggul di antara para siswa meditator.]
6. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang
Mulia Anuruddha: “Teman Anuruddha, Yang Mulia Revata telah mengungkapkan sesuai
inspirasinya. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Anuruddha: teman
Anuruddha, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah … Bhikkhu seperti apakah,
teman Anuruddha, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
“Di sini, teman Sāriputta, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui
manusia, seorang bhikkhu mengamati seribu dunia. Seperti halnya seseorang yang memiliki
penglihatan yang baik, ketika ia naik ke kamar atas istana, dapat mengamati
seribu roda kereta, demikian pula, dengan
mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, seorang bhikkhu mengamati seribu
dunia. Bhikkhu
seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : YM. Anuruddha dinyatakan sebagai
siswa yang Pāling unggul di antara para siswa yang memiliki mata-dewa.]
7. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang Mulia
Mahā Kassapa: “Teman Kassapa, Yang Mulia Anuruddha telah mengungkapkan sesuai
inspirasinya. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Mahā Kassapa: teman
Kassapa, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah … Bhikkhu seperti apakah, teman
Kassapa, [214] yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
“Di sini, teman Sariputta, seorang bhikkhu adalah penghuni hutan dan
memuji kediaman di dalam hutan; ia adalah seorang yang memakan makanan yang didanakan
dan memuji perbuatan memakan makanan yang didanakan; ia adalah seorang pemakai
jubah dari kain yang dibuang dan memuji perbuatan mengenakan jubah dari kain
yang dibuang; ia adalah seorang yang mengenakan tiga jubah dan memuji perbuatan
mengenakan tiga jubah; ia
memiliki keinginan yang sedikit dan memuji keinginan yang sedikit; ia
merasa puas dan memuji kepuasan; ia mengasingkan diri dan memuji keterasingan; ia jauh dari pergaulan
dan memuji perbuatan menjauhi pergaulan; ia
bersemangat dan memuji perbuatan membangkitkan semangat; ia
telah mencapai moralitas dan memuji pencapaian moralitas; ia
telah mencapai konsentrasi dan memuji pencapaian konsentrasi; ia
telah mencapai kebijaksanaan dan memuji pencapaian kebijaksanaan; ia
telah mencapai kebebasan dan memuji pencapaian kebebasan; ia
telah mencapai pengetahuan dan penglihatan akan kebebasan dan memuji pencapaian
pengetahuan dan penglihatan akan kebebasan. Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon
Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Mahā Kassapa adalah siswa yang
paling unggul di antara para siswa yang menjalankan praktik pertapaan.]
8. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang
Mulia Mahā Moggallāna: “Teman Moggallāna, Yang Mulia Mahā Kassapa telah
mengungkapkan sesuai inspirasinya. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia
Mahā Moggallāna: teman Moggallāna, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah …
Bhikkhu seperti apakah, teman Moggallāna, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla
Gosinga?”
“Di sini, teman Sāriputta, dua orang bhikkhu terlibat dalam pembicaraan
mengenai Dhamma yang lebih tinggi dan saling mempertanyakan satu sama lain, dan
masing-masing ditanya oleh pihak lain dan menjawabnya tanpa menjatuhkan, dan
pembicaraan mereka berlanjut sesuai dengan Dhamma. Bhikkhu seperti itu
dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Abhidhamma, “Dhamma yang lebih
tinggi”. Walaupun kata ini di sini tidak dapat merujuk pada Abhidhamma Piṭaka – yang
jelas merupakan produk pemikiran Buddhis belakangan setelah Nikāya-Nikāya –
namun menunjukkan suatu pendekatakan sistematis dan analitis terhadap doktrin
yang bertindak sebagai inti asli dari Abhidhamma Piṭaka.
Dalam suatu pembahasan saksama pada konteks di mana kata “Abhidhamma” muncul
dalam Sutta Piṭaka dari beberapa edisi terbaru, seorang Terpelajar Bahasa Pāli dari
Jepang bernama Fumimaro Watanabe menyimpulkan bahwa para siswa Sang Buddha membentuk
konsep Abhidhamma sebagai pelajaran filosofi dasar untuk mendefinisikan,
menganalisa, dan mengelompokkan dhamma dan untuk mengeksplorasi saling
keterkaitannya. Baca bukunya Philosophy and its Development in the Nikāyas
and Abhidhamma, hal.34-36.]
9. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata kepada
Yang Mulia Sāriputta: “Teman Sāriputta, kami semua telah mengungkapkan sesuai
inspirasi kami. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Sāriputta: teman Sāriputta,
Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah, malam ini bulan bercahaya, pepohonan
sāla semuanya bermekaran, dan keharuman surgawi menguar di udara. Bhikkhu
seperti apakah, teman Sāriputta, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla
Gosinga?”
“Di sini, teman Moggallāna, seorang
bhikkhu menguasai pikirannya, ia tidak membiarkan pikirannya menguasainya. Di pagi hari ia berdiam dalam kediaman atau
pencapaian apapun yang ingin ia [215] diami selama pagi hari; di siang hari ia berdiam
dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin ia diami selama siang hari; di
malam hari ia berdiam dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin ia diami
selama malam hari. Misalkan seorang raja atau menteri raja memiliki selemari
penuh pakaian beraneka warna. Di pagi hari ia akan mengenakan pakaian apapun
yang ingin ia kenakan di pagi hari; di siang hari ia akan mengenakan pakaian
apapun yang ingin ia kenakan di siang hari; di malam hari ia akan mengenakan
pakaian apapun yang ingin ia kenakan di malam hari. Demikian pula, seorang
bhikkhu menguasai pikirannya, ia tidak membiarkan pikirannya menguasainya. Di
pagi hari … di siang hari … di malam hari ia berdiam dalam kediaman atau
pencapaian apapun yang ingin ia diami selama malam hari. Bhikkhu seperti itu
dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
10. Kemudian Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para mulia itu:
“Teman-teman, kita semua telah mengungkapkan sesuai inspirasi kita. Mari kita menghadap
Sang Bhagavā dan melaporkan persoalan ini kepada Beliau. Sebagaimana Sang
Bhagavā menjawab, demikianlah kita harus mengingatnya.” – “Baik, teman,” mereka
menjawab. Kemudian para mulia itu menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud
kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi. Yang Mulia Sāriputta berkata kepada
Sang Bhagavā.
11. “Yang Mulia, Yang Mulia Revata dan Yang Mulia Ānanda mendatangiku
untuk mendengarkan Dhamma. Dari jauh aku melihat mereka datang dan [216] berkata
kepada Yang Mulia Ānanda: ‘Silahkan Yang Mulia Ānanda datang, selamat datang
kepada Yang Mulia Ānanda … Teman Ānanda, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah
… Bhikkhu seperti apakah, teman Ānanda, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla
Gosinga?’ Ketika ditanya demikian, Yang Mulia, Yang Mulia Ānanda menjawab: ‘Di
sini, teman Sāriputta, seorang bhikkhu telah banyak belajar … (seperti pada
paragraf nomor ke-4) … Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla
Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Ānanda memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Ānanda telah banyak belajar, mengingat apa yang
telah ia pelajari, dan menggabungkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran
yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan
kata-kata yang benar, dan yang mengokohkan kehidupan suci yang murni dan
sempurna – ajaran-ajaran seperti ini telah banyak ia pelajari, dan ia ingat, ia
kuasai secara verbal, ia selidiki dengan pikiran, dan ia tembus dengan baik
melalui pandangan. Dan ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok dengan kalimat-kalimat
dan kata-kata yang benar dan masuk akal untuk melenyapkan kecenderungan
tersembunyi.”
12. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Revata: ‘Teman Revata … Bhikkhu seperti apakah, yang dapat menerangi Hutan
pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Revata menjawab: ‘Di sini, teman Sāriputta,
seorang bhikkhu bergembira dalam meditasi terasing … (seperti pada paragraf
nomor ke-5) … Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Revata memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Revata bergembira dalam meditasi terasing,
senang dalam meditasi terasing, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak
mengabaikan meditasi, memiliki pandangan terang, dan berdiam dalam gubuk
kosong.” [217]
13. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Anuruddha: ‘Teman Anuruddha … Bhikkhu seperti apakah yang dapat menerangi Hutan
pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Anuruddha menjawab: ‘Di sini, teman
Sāriputta, dengan mata dewa … (seperti pada paragraf nomor ke-6) … Bhikkhu
seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Anuruddha memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia,
Anuruddha mengamati seribu dunia.”
14. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Mahā Kassapa: ‘Teman Kassapa … Bhikkhu seperti apakah yang dapat menerangi
Hutan pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Mahā Kassapa menjawab: ‘Di sini,
teman Sāriputta, seorang bhikkhu adalah penghuni hutan … (seperti pada paragraf
nomor ke-7) … Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
[218]
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Kassapa memang harus berkata seperti
yang ia katakan. Karena Kassapa adalah seorang penghuni hutan dan memuji
kediaman di dalam hutan … ia telah mencapai pengetahuan dan penglihatan akan
kebebasan dan memuji pencapaian pengetahuan dan penglihatan akan kebebasan.”
15. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Mahā Moggallāna: ‘Teman Moggallāna … Bhikkhu seperti apakah yang dapat
menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Mahā Moggallāna menjawab: ‘Di
sini, teman Sāriputta, dua orang bhikkhu terlibat dalam pembicaraan mengenai
Dhamma yang lebih tinggi … (seperti pada paragraf nomor ke-8) … Bhikkhu seperti
itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Moggallāna memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Moggallāna adalah seorang yang membicarakan
Dhamma.”
16. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna memberitahu Sang
Bhagavā: “Kemudian, Yang Mulia, aku berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: ‘Teman
Sāriputta … Bhikkhu seperti apakah yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla
Gosinga?’ Dan Yang Mulia Sāriputta menjawab: ‘Di sini, teman Moggallāna,
seorang bhikkhu menguasai pikirannya … [219] (seperti pada paragraf nomor ke-9)
… Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Moggallāna. Sesungguhnya, Sāriputta memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Sāriputta menguasai pikirannya, ia tidak
membiarkan pikirannya memguasainya. Di pagi hari ia berdiam dalam kediaman
atau pencapaian apapun yang ingin ia diami selama pagi hari; di siang hari ia
berdiam dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin ia diami selama siang
hari; di malam hari ia berdiam dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin
ia diami selama malam hari.”
17. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta bertanya kepada Sang Bhagavā:
“Yang Mulia, yang manakah di antara kami yang telah berkata dengan benar?”
“Kalian semua telah berkata dengan benar, Sāriputta, masing-masing
dengan caranya masing-masing. Dengarkanlah juga dariKu bhikkhu seperti
apakah yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga. Di sini, Sāriputta,
ketika seorang bhikkhu telah kembali dari perjalanan menerima dana makanan,
setelah makan, ia duduk bersila, menegakkan badan, dan menegakkan perhatian di
depannya, bertekad: ‘Aku
tidak akan bangkit dari posisi duduk ini hingga batinku terbebas dari noda-noda
melalui ketidak-melekatan.’ Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Sementara jawaban-jawaban para
siswa dianggap sebagai idealisme seorang bhikkhu yang telah mencapai kemahiran
dalam bidang tertentu dari kehidupan meninggalkan keduniawian, jawaban Sang
Buddha, dengan menitik-beratkan pada seorang bhikkhu yang masih berjuang untuk mencapai
tujuan, menggaris-bawahi tujuan utama dari kehidupan suci itu sendiri.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para mulia itu merasa
puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
©
Hak
Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril,
dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku
Penulis.