Tubuh, adalah “Sarang Penyakit”. Dunia, adalah “Sarang Kejahatan”. Penjara, adalah “Monumen Kegagalan Peran Orangtua dan Guru dalam Mendidik maupun Memberikan Teladan”, dan Neraka merupakan “Monumen Kegagalan Penciptaan Tuhan Sang Pencipta”
Pernahkah Anda mengamati serta melakukan observasi antropologi sederhana, terhadap fenomena sosial yang nyata-nyata terkandung “standar ganda” berikut. Ketika kita menyaksikan channel suatu media sosial yang menampilkan gambar-gambar ataupun video yang menampakkan kemewahan, keindahan, kemakmuran, kesehatan, kemudaan, kegembiraan, kesenangan, keglamoran, hingar-bingar, berbagai komentar yang kerap muncul dari para netizen kita ialah “hidup ini indah dan nikmat” serta “betapa Tuhan sang Maha Pencipta”. Mereka memuja-muji Tuhan, setinggi langit, seolah-olah mereka pernah minta dilahirkan ke dunia ini. Akan tetapi, giliran pada channel yang menayangkan realita penyakit, usia tua, kematian, kekumuhan, kekeringan, banjir, huru-hara, kejahatan, kriminalitas, bencana alam, maupun bencana sosial lainnya, komentar-komentar yang sebelumnya kerap muncul mendadak senyap, para netizen mendadak seolah sirna, sunyi, bersembunyi dibawah selimutnya. Itulah yang disebut “cherry picking”.
Sesekali penulis mencantumkan komentar terhadap tayangan pada
channel yang menyajikan “truth always bitter” berupa “dukkha
dibalik kehidupan”, dengan sentilan komentar sebagai berikut : “Katanya
hidup itu nikmat dan indah, ciptaan Tuhan Sang Pencipta. Katanya ‘pelangi itu
indah, ciptaan Tuhan’. Ayo, mana para pemuja-muji Tuhan Sang Pencipta, kok mendadak
menghilang dan tidak ada yang mengangkat tangan mendukung bahwa hidup itu indah
dan nikmat?” Tentu saja, tidak ada yang menaggapi komentar yang penulis
sisipkan, karena mereka hanya ingin membaca komentar yang mereka ingin baca,
mendengar hanya apa yang mereka ingin dengar, dan memercayai sesuatu yang ingin
mereka percayai. Betapa antara realita-kenyataan dan harapan, dapat demikian bersenjang,
dan disitulah letak bias-persepsi yang pada gilirannya memunculkan “cacat-logika”.
Mereka menjelek-jelekkan peran IQ dan disaat bersamaan mengagung-agungkan apa
yang mereka sebut sebagai SQ (spiritual quotient), sekalipun fakta
realitanya IQ anak-anak sekolahan kita di Indonesia skor-nya selama ini selalu
paling bawah di negara-negara ASEAN.
Pada channel yang menyajikan informasi kesehatan, penulis
juga sesekali memberi sentilan komentar : “Yang tercantum logo HALAL, maka
makan saja, jangan dipilih-pilih dan jangan dipikir dua kali, langsung beli dan
makan tanpa perlu membatasi diri, membaca informasi kandungan komposisi,
ataupun memilih-milih produk.” Pada channel yang menyajikan realita ekonomi
yang kian melesu dan seolah tiada keadilan—mengingat kesenjangan ekonomi kian
lebar antara si kaya dan si miskin—penulis pun sesekali memberikan sentilan
komentar : “Katanya Tuhan tidak pernah tidur”, “Katanya menikah
membuka pintu rezeki”, “Katanya banyak anak (maka) banyak rezeki”,
dan lain sebagainya—si bapak, menikah dan melahirkan banyak anak ialah
dilandasi “selfish motive”, yakni agar kaya-raya. Tentu saja, negeri
yang tidak pernah kekurangan kaum agamais ini, mendadak sirna, tiada yang
memberi tanggapan terhadap komentar penulis.
Babi, disebut “haram”. Ironisnya, ideologi korup semacam dogma
“penghapusan / pengampunan / penebusan dosa”, diklaim dan dikampanyekan lewat
speaker pengeras suara tanpa rasa malu ataupun tabu ke publik luas, sebagai “halal
lifestye”, sekalipun nyata-nyata itu hanya dibutuhkan oleh kalangan “koruptor-dosa”
dimana dosa-dosa pun dikorupsi. Mereka tidak malu dan tidak takut, karena tidak
mau melihat bahaya dibalik perbuatan buruk. Sekujur tubuh ditutup busana, mulai
dari ujung rambut sampai ujung kaki, “aurat berjalan”. Ironisnya, ideologi
korup semacam “penghapusan / pengampunan dosa” demikian justru dikampenyakan
lewat speaker pengeras suara kepada umum dengan begitu bangganya (secara
seronok), sekalipun berbuat jahat—memproduksi dosa dan “penghapusan dosa”, adalah
bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter—merupakan “aurat
terbesar” yang justru dipertontonkan secara vulgar.
Ini dan itu disebut “haram”, “dosa”, “maksiat”, “dilarang”, dan
“dibenci Tuhan”, seolah-olah mereka merupakan kaum paling superior yang berhak
menggurui maupun menghakimi kaum lainnya, namun dinegasikan sendiri oleh dogma
internal ideologi mereka yang mengkampanyekan dogma-korup “penghapusan dosa” alih-alih
mempromosikan gaya hidup bertanggung-jawab ataupun higienis dari dosa maupun
maksiat (contradictio in terminis). Mulut mereka besar (besar-mulut)
ketika berbicara Tuhan, neraka, surga, ayat-ayat kitab, namun mereka lebih
sibuk “cuci-tangan” dan “cuci-dosa” alih-alih memilih bertanggung-jawab atas korban-korban
yang telah pernah atau masih sedang mereka sakiti, lukai, dan rugikan alias
miskin jiwa ksatria. Mereka adalah kaum pengecut sejati, para pecundang kehidupan.
Seseorang boleh saja berbuat keliru, namun ia tidak boleh
lari dari tanggung-jawab, membuat korbannya sampai harus mengemis-ngemis pertanggung-jawaban
dari sang pelaku. Realitanya, yang bersalah lebih galak daripada korbannya,
semata karena takut—miskin jiwa ksatria, seorang penakut tulen—alias tidak
berani dimintakan pertanggung-jawaban, karenanya reaktif. Mereka juga bahkan
dikenal kerap “menyelesaikan setiap masalah, dengan kekerasan fisik”. Ketika mereka
masih merupakan kaum minoritas di Nusantara, mereka menikmati toleransi yang
diberikan oleh nenek-moyang Nusantara yang mayoritasnya beragama Buddha pada
abad ke-15 Masehi. Giliran mereka menjelma mayoritas, mereka berupaya
memberangus toleransi yang semula mereka tuntut dan nikmati. Polanya selalu
serupa, di negara manapun mereka berada.
Terhadap dosa dan maksiat, demikian kompromistik. Akan tetapi
terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka demikian intoleran. Mereka
menyebut “Tuhan Maha Adil”, namun sang Tuhan justru lebih PRO terhadap penjahat
(pendosa) dengan merampas hak-hak korban atas keadilan, dan menghapus dosa-dosa
sang penjahat (pendosa). Adalah percuma, bila Anda menjadi seorang korban lalu mengadu
atau melapor kepada Tuhan seperti tayangan / adegan di sinetron rohani. Jangan pernah
melecehkan orang yang terkena “bisul pada bokongnya”, Anda pun tidak terkecuali
dapat terkena / tertimpa hal / musibah serupa di kemudian hari, menjadi korban.
Tentu saja, komentar-komentar penulis di atas, hingga kini tiada satupun yang menanggapi,
kaum agamais mendadak tertidur-lelap.
Mereka mengisahkan seorang ayah (mereka sebut sebagai “nabi”)
yang tega menyembelih alias mengorbankan nyawa milik orang lain—alih-alih nyawa
milik sang ayah itu sendiri—yakni nyawa milik sang anak, semata karena sang
ayah tergiur dan tergila-gila oleh iming-iming dapat bersetubuh dengan puluhan bidadari
di surga. Seorang ayah yang baik, akan memilih untuk masuk neraka demi menebus
nyawa sang anak. Apakah pernah, sang nabi berkata : “I treasure him more
than my own life”? At that time, the prophet was not a father, but an
EXECUTOR! Sudah terdapat buku berjudul “Selfish Genes” karya Richard Dawkins,
namun penulis menyebut dogma-dogma dalam kitab “agama dosa” yang mempromosikan “penghapusan
dosa” sebagai “Kitab Selfish Codes”—karena memang berisi kode-kode atau ayat-ayat
yang cenderung egois dan korup. Bahkan, kenikmatan-surgawi pun digambarkan
tidak ubahnya kenikmatan-duniawi berupa persetubuhan atau persenggamaan—cerminan
bahwa sang “nabi rasul Allah” tidak pernah mengenal “kenikmatan yang melampaui
kenikmatan indria” ataupun “kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan
indria”.
Mereka bersikap seolah-olah, menghindari perbuatan buruk
bukanlah ibadah. Mereka juga bersikap seolah-olah, berbuat kebajikan bukanlah
ibadah. Serta Mereka bersikap seolah-olah, memurnikan pikiran bukanlah ibadah. Ketika
beribadah saja, mereka merampas ketenangan hidup dan hak-hak orang lain—semisal
menimbulkan “polusi suara” hingga praktek berjemaah parkir liar persis di depan
pagar kediaman warga tanpa izin pemilik rumah sekalipun mereka bisa pergi ke
tempat ibadah dengan berjalan kaki dari kediamannya—maka bagaimana ketika
mereka tidak sedang beribadah dan tidak sedang berbusana agamais? Berkata jujur,
bukanlah kejahatan, karena realitanya memang adalah demikian apa adanya.
Untuk memuliakan Tuhan, ialah dengan menjadi manusia yang
mulia, sebagaimana seseorang mengharumkan nama keluarganya dengan menjadi manusia
yang bermanfaat bagi masyarakat, bukan menjelma seorang “penyakit sosial”
bernama “pendosa pecandu penghapusan dosa”, setidaknya menjadi manusia yang
berjiwa ksatria yang siap dan berani untuk tampil bertanggung-jawab. Bila Anda tidak
berani menempuh jalan kesucian untuk menjadi manusia yang suci, maka setidaknya
tempuh jalan ksatria, alih-alih memilih menjelma “koruptor-dosa”. Adalah mustahil
Tuhan mencoba-coba umat manusia, mengingat usia umat manusia sudah sama tua
dengan usia Planet Bumi ini, kecuali Tuhan diberi gelar “Profesor LING-LUNG”
dan tidak benar-benar “Maha Tahu” sehingga perlu Anda gurui dan dikte saat Anda
berdoa.
Pendosa yang mencandu-berat ideologi “penghapusan dosa”,
namun hendak berceramah perihal hidup luhur, mulia, lurus, baik, bersih, murni,
adil, jujur, agung, serta terpuji? Itu ibarat orang buta yang hendak menuntun
para butawan lainnya, neraka pun di pandang sebagai surga, dan berbondong-bondong
mereka terperosok masuk ke jurang gelap-nista tersebut. Mereka hanya sedang
berdelusi, sebagai kaum paling superior, dimana sejatinya mereka hanyalah para pemalas
yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih perbuatan bajik untuk mereka
petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan merupakan kaum pengecut yang
begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka
sendiri. Sang Buddha pernah menyinggung perihal mereka, dengan kutipan sebagai
berikut:
“Bahwa para petapa dan brahmana yang tidak memahami sebagaimana
adanya kepuasan sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan
diri sebagai jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, dapat
memahami sepenuhnya kenikmatan indria oleh mereka sendiri atau mengajarkan
kepada orang lain sehingga orang itu dapat memahami sepenuhnya kenikmatan
indria – itu adalah tidak mungkin. Bahwa para petapa dan brahmana yang memahami
sebagaimana adanya kepuasan sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan
membebaskan diri sebagai jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan
indria, dapat memahami sepenuhnya kenikmatan indria oleh mereka sendiri atau
mengajarkan kepada orang lain sehingga orang itu dapat memahami sepenuhnya
kenikmatan indria – itu adalah mungkin.”
“Hidup itu dukkha”, dimana kita juga diperkenalkan
oleh Sang Buddha apa yang merupakan “asal mula dukkha”, disamping adanya
“akhir dari dukkha”, dan tentunya “jalan menuju akhir dari dukkha”.
Kita terlahir dan berkerabat serta mewarisi perbuatan kita sendiri, bukan
ritual yang menjadi faktor keselamatan seseorang. Itulah sebabnya, Buddhisme
adalah agama yang optimistik. Sebaliknya. dogma “ritual sebagai jalan keselamatan”,
adalah agama yang pesimistik. Bila agama pesimistik mengejar kenikmatan-indria,
maka agama optimistik mengajarkan adanya “kenikmatan-kenikmatan yang
berhubungan dengan kenikmatan indria” dan ada “kenikmatan yang melampaui segala
kenikmatan indria”.
Khotbah Sang Buddha perihal adanya “kenikmatan-kenikmatan
yang berhubungan dengan kenikmatan indria” dan ada “kenikmatan yang melampaui
segala kenikmatan indria”, salah satu sutta-nya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~SUTTA 13~
Mahādukkhakkhandha Sutta : Khotbah Panjang tentang
Kumpulan Penderitaan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Kemudian, pada pagi harinya, sejumlah bhikkhu
merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luar mereka, [84]
memasuki Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Kemudian mereka berpikir: “Masih
terlalu pagi untuk pergi menerima dana makanan. Bagaimana jika kami pergi ke
taman para pengembara sekte lain.” Maka mereka pergi ke taman para pengembara
sekte lain dan saling bertukar sapa dengan para pengembara. Setelah ramah-tamah
itu berakhir, mereka duduk di satu sisi. Para pengembara itu berkata kepada
mereka:
3. “Teman-teman, Petapa Gotama menjelaskan pemahaman
penuh pada kenikmatan indria, dan kami juga demikian; Petapa Gotama menjelaskan
pemahaman penuh pada bentuk materi, dan kami juga demikian; Petapa Gotama
menjelaskan pemahaman penuh pada perasaan, dan kami juga demikian. Kalau
begitu, apakah perbedaannya di sini, antara ajaran Petapa Gotama tentang Dhamma
dan ajaran kami, antara instruksi-instruksi Beliau dan instruksi-instruksi
kami?”
[Kitab Komentar : “Pemahaman
penuh” (pariññā) di sini berarti mengatasi (samatikkama) atau
meninggalkan (pahāna). Para pengembara sekte lain mengidentifikasikan
pemahaman penuh pada kenikmatan indria sebagai jhāna pertama, pemahaman
penuh pada bentuk materi sebagai alam makhluk tanpa materi, dan pemahaman penuh
pada perasaan sebagai alam makhluk tanpa-persepsi. Sang Buddha, sebaliknya,
menggambarkan pemahaman penuh pada kenikmatan indria sebagai jalan
yang-tidak-kembali, dan pemahaman penuh pada bentuk materi dan perasaan sebagai
jalan Kearahantaan.]
4. Kemudian para bhikkhu itu tidak menyetujui juga
tidak membantah kata-kata para pengembara itu. Dengan tanpa melakukan kedua hal
itu mereka bangkit dari duduk dan pergi, dengan berpikir: “Kami akan memahami
makna dari kata-kata ini di hadapan Sang Bhagavā.”
5. Ketika mereka telah pergi ke Sāvatthī untuk
menerima dana makanan dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan mereka
menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di
satu sisi dan memberitahukan apa yang telah terjadi.
[Sang Bhagavā berkata:] [85]
6. “Para bhikkhu, para pengembara sekte lain yang
berkata demikian harus ditanya sebagai berikut: ‘Tetapi,
teman-teman, apakah kepuasan, apakah bahaya, apakah jalan membebaskan diri
sehubungan dengan kenikmatan indria? Apakah kepuasan, apakah bahaya, apakah
jalan membebaskan diri sehubungan dengan bentuk materi? Apakah kepuasan, apakah
bahaya, apakah jalan membebaskan diri sehubungan dengan perasaan?’ Dengan ditanya demikian,
para pengembara sekte lain tidak akan mampu menjelaskan hal itu, dan lebih jauh
lagi, mereka akan mengalami kesulitan. Mengapakah? Karena hal ini bukanlah bidang
mereka. Para bhikkhu, Aku tidak melihat seorangpun di dunia ini bersama para dewa,
Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini dengan para petapa dan brahmana, dengan
para pangeran dan rakyatnya, yang mampu memuaskan pikiran dengan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan ini, kecuali Sang Tathāgata atau para siswaNya yang telah
mempelajarinya dari Beliau.
(KENIKMATAN INDRIA)
7. (i) “Dan apakah, para bhikkhu, kepuasan
sehubungan dengan kenikmatan indria? Para bhikkhu, terdapat lima utas
kenikmatan indria ini. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh
mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan
kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga
yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan
kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Bau-bauan yang dikenali oleh hidung yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan
yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria. Kenikmatan
dan kegembiraan yang muncul dengan bergantung pada kelima utas kenikmatan
indria ini adalah kepuasan sehubungan dengan kenikmatan indria.
8. (ii) “Dan apakah, para bhikkhu, bahaya
sehubungan dengan kenikmatan indria? Di sini, para bhikkhu, sehubungan dengan keterampilan
yang dengannya seorang anggota keluarga mencari nafkah – apakah juru periksa
atau akuntan atau juru hitung atau petani atau pedagang atau peternak atau
pemanah atau pegawai kerajaan, atau keterampilan apapun – ia harus mengalami
dingin, ia harus mengalami panas, ia terluka oleh kontak dengan lalat, nyamuk,
angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia terancam kematian oleh lapar
dan haus. Ini adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan
penderitaan yang terlihat di sini dan saat ini, dengan kenikmatan indria
sebagai penyebabnya, dengan kenikmatan indria sebagai sumbernya, kenikmatan
indria sebagai dasarnya, [86] penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
[Komentar : Banyak diantara
kita yang menyiksa diri demi mengejar dan mempertahankan kenikmatan indria,
bahkan dengan mempertaruhkan kesehatan ataupun keselamatan, entah
mengatas-namakan ketidak-puasan, pekerjaan, obsesi, nafsu, keinginan,
ketagihan, kerinduan, dan lain sebagainya.]
9. “Jika tidak ada harta yang didapat oleh anggota keluarga sewaktu
ia bekerja dan berjuang dan berusaha demikian, maka ia berdukacita, bersedih,
dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan,
mengeluhkan: ‘Pekerjaanku sia-sia, usahaku tidak membuahkan hasil!’ Ini juga adalah bahaya sehubungan
dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat di sini dan saat
ini ... penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
10. “Jika ada harta yang didapat oleh anggota keluarga sewaktu
ia bekerja dan berjuang dan berusaha demikian, ia mengalami kesakitan dan
kesedihan dalam menjaganya: ‘Bagaimana agar raja atau pencuri tidak merampas
hartaku, juga agar api tidak membakarnya, juga agar air tidak menghanyutkannya,
juga agar pewaris yang penuh kebencian tidak merampasnya?’ Dan ketika ia
menjaga dan melindunginya, raja atau pencuri merampasnya, atau api membakarnya,
atau air menghanyutkannya, atau pewaris yang penuh kebencian merampasnya. Dan
ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan
menjadi kebingungan, mengeluhkan: ‘Apa yang kumiliki sudah tidak ada lagi!’ Ini juga adalah bahaya
sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat di sini
dan saat ini ... penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
11. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan
indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah
kenikmatan indria, raja berselisih dengan raja, para mulia berselisih dengan
para mulia, brahmana berselisih dengan brahmana, perumah-tangga berselisih
dengan perumah-tangga, ibu berselisih dengan anak, anak berselisih dengan ibu,
ayah berselisih dengan anak, anak berselisih dengan ayah, saudara laki-laki
berselisih dengan saudara laki-laki, saudara laki-laki dengan saudara
perempuan, saudara perempuan dengan saudara laki-laki, teman dengan teman. Dan
di sini dalam perselisihan, percekcokan, pertengkaran, mereka saling menyerang
satu sama lain dengan tinju, bongkahan tanah, tongkat kayu, atau pisau, yang
mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya
sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat di sini
dan saat ini ... penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
12. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan
indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah
kenikmatan indria, orang-orang mengambil pedang dan perisai dan mengikatkan
busur dan tempat anak panah, dan dalam peperangan dalam barisan berlapis ganda
mereka menyerang dengan anak-anak panah dan tombak beterbangan dan pedang berkelebatan;
dan di sana mereka terluka oleh anak-anak panah dan tombak, dan kepala mereka
terpenggal oleh pedang, yang mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya
sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat di sini
dan saat ini ... penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
13. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan
indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah
kenikmatan indria, orang-orang mengambil pedang dan perisai dan mengikatkan
busur dan tempat anak panah, mereka menyerang benteng, dengan anak-anak panah
dan tombak beterbangan [87] dan pedang berkelebatan; dan di sana mereka terluka
oleh anak-anak panah dan tombak dan tersiram cairan mendidih dan digilas benda
berat, dan kepala mereka terpenggal oleh pedang, yang mana mereka menimbulkan
kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan
indria, kumpulan penderitaan yang terlihat di sini dan saat ini ... penyebabnya
hanyalah kenikmatan indria.
14. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan
indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah
kenikmatan indria, orang-orang mendobrak masuk ke rumah-rumah, merampas harta,
melakukan perampokan, menyergap di jalan-jalan raya, menggoda istri orang lain,
dan ketika mereka tertangkap, raja menjatuhkan berbagai hukuman pada mereka. Raja
memerintahkan untuk mencambuk mereka, memukul dengan rotan, memukul dengan
pentungan, memotong tangan mereka, memotong kaki mereka, memotong tangan dan
kaki mereka, memotong telinga mereka, memotong hidung mereka, memotong telinga
dan hidung mereka; mereka dikenai siksaan ‘panci bubur,’ ‘cukuran kulit kerang
yang digosok,’ ‘mulut Rāhu,’ ‘lingkaran api,’ ‘tangan menyala,’ ‘helai rumput,’
‘pakaian kulit kayu,’ ‘kijang,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asin,’ ‘tusukan
berporos’, ‘gulungan tikar jerami’; dan mereka disiram dengan minyak mendidih,
dan mereka dibuang agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan mereka dalam keadaan
hidup ditusuk dengan kayu pancang, dan kepala mereka dipenggal dengan pedang -
yang mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya
sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat di sini
dan saat ini ... penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
[Kitab Komentar memberikan
penggambaran grafis pada masing-masing bentuk siksaan yang disebutkan di atas.]
15. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan
indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah
kenikmatan indria, orang-orang melakukan perilaku salah dalam perbuatan,
ucapan, dan pikiran. Setelah melakukan demikian, saat hancurnya jasmani, setelah
kematian, mereka muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam tujuan kelahiran
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka. Ini juga adalah bahaya
sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan dalam kehidupan
mendatang, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan indria
sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah
kenikmatan indria.
[Kitab Komentar : Harus
dipahami bahwa sementara bahaya dalam kenikmatan indria yang sebelumnya disebut
“kumpulan penderitaan yang terlihat di sini dan saat ini” (sandiṭṭhiko dukkhakkhandho), akan
tetapi dalam paragraf yang ini disebut “kumpulan penderitaan dalam kehidupan mendatang”
(samparāyiko dukkhakkhandho).]
16 (iii) “Dan apakah, para bhikkhu, jalan membebaskan diri sehubungan
dengan kenikmatan indria? Yaitu lenyapnya keinginan dan nafsu, ditinggalkannya
keinginan dan nafsu akan kenikmatan indria. Ini adalah jalan membebaskan diri sehubungan
dengan kenikmatan indria.
[Kitab Komentar : Nibbāna
adalah lenyapnya dan ditinggalkannya keinginan dan nafsu akan kenikmatan
indria, karena dengan bergantung pada Nibbāna, keinginan dan nafsu dilenyapkan
dan ditinggalkan. Ini juga dapat dianggap termasuk jalan yang-tidak-kembali,
yang sempurna dalam meninggalkan keinginan dan nafsu pada kenikmatan indria.]
17. “Bahwa para petapa dan brahmana yang tidak memahami sebagaimana
adanya kepuasan sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan
diri sebagai jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, dapat memahami
sepenuhnya kenikmatan indria oleh mereka sendiri atau mengajarkan kepada orang
lain sehingga orang itu dapat memahami sepenuhnya kenikmatan indria – itu
adalah tidak mungkin. Bahwa para petapa dan brahmana yang memahami sebagaimana adanya [88]
kepuasan sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan diri
sebagai jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, dapat memahami
sepenuhnya kenikmatan indria oleh mereka sendiri atau mengajarkan kepada orang
lain sehingga orang itu dapat memahami sepenuhnya kenikmatan indria – itu
adalah mungkin.
(BENTUK MATERI)
18. (i) “Dan apakah, para bhikkhu, kepuasan sehubungan dengan
bentuk materi? Misalkan terdapat seorang gadis dari kasta ksatria atau kasta brahmana
atau perumah-tangga, berusia lima belas atau enam belas tahun, tidak terlalu
tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk, kulitnya
tidak terlalu gelap juga tidak terlalu cerah. Apakah kecantikan dan
kemenarikannya sedang berada pada puncaknya?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Kenikmatan
dan kegembiraan yang bergantung pada kecantikan dan kemenarikan itu adalah
kepuasan sehubungan dengan bentuk materi.
19. (ii) “Dan apakah, para bhikkhu, bahaya sehubungan dengan bentuk
materi? Belakangan seseorang melihat perempuan yang sama di sini pada usia
delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, tua, bungkuk seperti
kerangka atap, terlipat, ditopang oleh tongkat, berjalan terhuyung-huyung,
lemah, kemudaannya sirna, giginya tanggal, rambutnya memutih, rambutnya rontok,
gundul, keriput, dengan seluruh tubuh berbisulan. Bagaimana menurut kalian,
para bhikkhu? Apakah kecantikan dan kemenarikannya sebelumnya lenyap dan bahayanya
menjadi nyata?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, ini
adalah bahaya sehubungan dengan bentuk materi.
20. “Kemudian lagi, seseorang melihat perempuan
yang sama ini sakit, menderita, dan sakit keras, berbaring dengan dikotori oleh
kotoran dan air kencingnya sendiri, diangkat oleh beberapa orang dan
dibaringkan oleh orang lain. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah
kecantikan dan kemenarikannya sebelumnya lenyap dan bahayanya menjadi nyata?”
– “Benar, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, ini juga adalah bahaya sehubungan dengan bentuk materi.
21. “Kemudian lagi, seseorang melihat perempuan
yang sama ini sebagai mayat yang dibuang di pekuburan, satu, dua, tiga hari setelah
kematian, membengkak, memucat, dan meneteskan cairan. Bagaimana menurut
kalian, para bhikkhu? Apakah kecantikan dan kemenarikannya sebelumnya lenyap
dan bahayanya menjadi nyata?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, ini
juga adalah bahaya sehubungan dengan bentuk materi.
22-29. “Kemudian lagi, seseorang melihat perempuan
yang sama ini sebagai mayat yang dibuang di pekuburan, dimangsa oleh burung
gagak, burung elang, burung nasar, anjing, serigala, atau berbagai jenis
belatung ... [89] tulang-belulang dengan daging dan darah, terangkai oleh urat
... tulang-belulang tanpa daging berlumuran darah, terangkai oleh urat …
tulang-belulang tanpa daging dan darah, terangkai oleh urat ... tulang-belulang
yang tercerai-berai di segala penjuru – di sini tulang lengan, di sana tulang
kaki, di sini tulang paha, di sana tulang rusuk, di sini tulang pinggul, di
sana tulang punggung, di sini tengkorak ... tulang-belulang yang memutih,
berwarna seperti kulit kerang ... tulang-belulang menumpuk ... tulang-belulang
yang lebih dari setahun, lapuk dan remuk menjadi debu. Bagaimana
menurut kalian, para bhikkhu? Apakah kecantikan dan kemenarikannya sebelumnya
lenyap dan bahayanya menjadi nyata?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu,
ini juga adalah bahaya sehubungan dengan bentuk materi.
30. (iii) “Dan apakah, para bhikkhu, jalan membebaskan diri sehubungan
dengan bentuk materi? Yaitu pelenyapan keinginan dan nafsu,
ditinggalkannya keinginan dan nafsu akan bentuk materi. Ini adalah jalan
membebaskan diri sehubungan dengan bentuk materi.
31. “Bahwa para petapa dan brahmana yang tidak
memahami sebagaimana adanya kepuasan sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya,
dan jalan membebaskan diri sebagai jalan membebaskan diri sehubungan dengan
bentuk materi, dapat memahami sepenuhnya bentuk materi oleh mereka sendiri
atau mengajarkan kepada orang lain sehingga orang itu dapat memahami sepenuhnya
bentuk materi – itu adalah tidak mungkin. Bahwa para petapa dan brahmana
yang memahami sebagaimana adanya kepuasan sebagai kepuasan,
bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan diri sebagai jalan membebaskan
diri sehubungan dengan bentuk materi, dapat memahami sepenuhnya bentuk
materi oleh mereka sendiri atau mengajarkan kepada orang lain sehingga orang
itu dapat memahami sepenuhnya bentuk materi – itu adalah mungkin.
(PERASAAN)
32. (i) “Dan apakah, para bhikkhu, kepuasan sehubungan dengan perasaan? Di sini, para bhikkhu, dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai
dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan
yang muncul dari keterasingan. Pada saat itu ia tidak menghendaki
penderitaannya sendiri, atau penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya.
[90] pada saat itu ia hanya merasakan perasaan yang bebas dari penderitaan.
Kepuasan tertinggi sehubungan dengan perasaan adalah kebebasan dari
penderitaan, Aku katakan.
[Kitab Komentar : Perihal “sukacita
dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan”, untuk mengungkapkan bahaya dalam
perasaan, Sang Buddha memilih kenikmatan duniawi yang paling halus dan luhur,
kebahagiaan dan kedamaian jhāna, dan menunjukkan bahwa bahkan
kondisi-kondisi demikian adalah tidak kekal dan dengan demikian tidak
memuaskan.]
33-35. “Kemudian lagi, dengan menenangkan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
konsentrasi. Dengan meluruhnya sukacita, ia berdiam dalam keseimbangan, dan penuh
perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia
masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia
mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki
keseimbangan dan penuh perhatian.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan ia
masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan
dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Pada saat itu ia tidak
menghendaki penderitaannya sendiri, atau penderitaan orang lain, atau
penderitaan keduanya. Pada saat itu ia hanya merasakan perasaan yang bebas dari
penderitaan. Kepuasan tertinggi sehubungan dengan perasaan adalah kebebasan
dari penderitaan, Aku katakan.
36. (ii) “Dan apakah, para bhikkhu, bahaya sehubungan dengan
perasaan? Perasaan adalah tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan.
Ini adalah bahaya sehubungan dengan perasaan.
37. (iii) “Dan apakah, para bhikkhu, jalan membebaskan diri sehubungan
dengan perasaan? Yaitu pelenyapan keinginan dan nafsu, ditinggalkannya keinginan dan
nafsu akan perasaan. Ini adalah jalan membebaskan diri sehubungan dengan
perasaan.
38. “Bahwa para petapa dan brahmana yang tidak memahami sebagaimana
adanya kepuasan sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan
diri sebagai jalan membebaskan diri sehubungan dengan perasaan, dapat memahami
sepenuhnya perasaan oleh mereka sendiri atau mengajarkan kepada orang lain
sehingga orang itu dapat memahami sepenuhnya perasaan – itu adalah tidak
mungkin. Bahwa para petapa dan brahmana yang memahami sebagaimana adanya
kepuasan sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan diri
sebagai jalan membebaskan diri sehubungan dengan perasaan, dapat memahami
sepenuhnya perasaan oleh mereka sendiri atau mengajarkan kepada orang lain
sehingga orang itu dapat memahami sepenuhnya perasaan – itu adalah mungkin.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.