Ada Sebuah Jawaban yang Melampaui Dugaan Anda, yang Melampaui Segala Kenikmatan Indria, yang Melampaui Semua Pencapaian. Apakah Itu, yang Bahkan Membuat Pangeran Gotama Meninggalkan Takhta dan Kekuasaan-Singgasana?
“Sekarang, Udāyin, kenikmatan dan kegembiraan yang
muncul dengan bergantung pada kelima utas kenikmatan indria ini disebut
kenikmatan indria – kenikmatan yang kotor, kenikmatan yang kasar, kenikmatan
yang tidak mulia. Aku katakan bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh dikejar,
bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh dikembangkan, bahwa jenis kenikmatan ini
tidak boleh dilatih, bahwa jenis kenikmatan ini seharusnya ditakuti” [SANG
BUDDHA]
Akar penyebab dari fenomena mencandu dan kecanduan zat-zat adiktif seperti tembakau, alkohol, obat-obatan terlarang, maupun candu konsumsi mata seperti menonton pertunjukan seronok, candu konsumsi pikiran seperti judol, candu indera sentuhan seperti “hubungan intim”, ataupun candu-candu lainnya seperti keserakahan terhadap harta, jabatan, maupun kekuasaan, ialah diakibatkan oleh pandangan keliru bahwa “hidup adalah indah” maupun “hidup adalah nikmat”, dan memakan serta termakan oleh dogma-dogma demikian, lalu tenggelam tanpa ia sadari.
Ambil contoh orang-orang yang kecanduan barang
madat seperti obat-obatan terlarang, mereka merasa “nikmat”, lalu dengan
rasio-nya yang terbatas mulai berspekulasi : “Inilah realita yang sesungguhnya,
hidup adalah nikmat.” Ia tidak menyadari, asal-muasal premis yang diolah oleh
rasio-nya telah ternyata keliru sejak awal. Ketika ia tidak lagi merasakan efek
kimiawi obat-obatan terlarang yang merangsang otaknya, ia kembali ke realita
yang sesungguhnya, yakni “hidup adalah dukkha”, dan bahwa “truth always
bitter”, dimana bahkan faktanya tiada sesuatu yang benar-benar dapat
disebut “diriku”, “aku”, ataupun “milikku”.
Apakah itu “dukkha”? Segala sesuatu yang sifatnya
tidak konstan, tidak dapat digenggam erat, temporer, selalu berubah sehingga
mengecewakan, merindukan, menakutkan, tidak memuaskan, itulah dukkha. Ilustrasinya
ialah fenomena di keseharian seperti kelahiran, penuaan, kematian; dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan adalah penderitaan; tidak
memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan, berpisah dari apa yang
dicintai; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh
kemelekatan adalah penderitaan. Ketika para pecandu menemui fenomena demikian
adalah eksis dan ia alami secara langsung, ia ironisnya justru berupaya memungkiri,
membohongi dirinya, menipu dirinya sendiri, dan menenggelamkan diri dalam
delusi bahwa “hidup adalah nikmat dan indah”. Mereka yang meyakini bahwa “Tuhan
Sang Pencipta” adalah sempurna dan ideal, cenderung jatuh dalam delusi demikian,
yakni persepsi : “Tidaklah mungkin Tuhan menciptakan ‘kehidupan adalah dukkha’”.
Dampaknya, fatal. Sang pecandu menjelma pecandu
yang kian mencandu dan kecanduan hingga taraf ketergantungan, realita dipandang
sebagai ilusi dan ilusi diyakini sebagai fakta realita. Kemungkinan kedua
ialah, mereka akan merampas hak-hak dan kebahagiaan orang lain, seolah hanya ia
seorang diri yang merasakan derita pada hidup dan dirinya. Mari kita kembali
kepada postulat di awal, bahwa “hidup adalah nikmat dan indah”. Ketika
seseorang mendapati realita yang justru nyata-nyata menyatakan sebaliknya, ia
mulai meragukan pengalaman hidupnya sendiri. “Ada yang tidak beres atas kehidupan
dan diri saya, karena saya justru merasakan ‘dukkha’.” Apakah Anda merasa
“familier”, terhadap pandangan serupa demikian?
Ia mulai berpikir, bahwa dunia dan semua orang
sedang berkomplot untuk membuatnya menderita. Ia tidak mau menyadari, bahwa
semua orang merasakan “dukkha” sebagai “template” dasariah
seluruh makhluk hidup yang masih terkondisi. Ia pun mulai memunculkan dan
mengembangkan perasaan iri hati atau cemburu melihat “kebahagiaan” orang lain,
lalu merampasnya dengan berbagai kejahatan; atau sebaliknya, menenggelamkan
diri dalam konsumsi barang-barang madat yang memabukkan serta melemahkan
kesadaran. Ia menjelma seorang pecundang yang tidak berani menghadapi realita, fakta
yang sebenarnya bahwa “hidup adalah dukkha”. Zat madat, adalah alibi
sempurna untuk “justifikasi delusi-diri”, mengingkari realita.
Sebaliknya, mereka yang telah memahami bahwa
hidup adalah dukkha adanya, tidak pernah merasa perlu untuk iri hati
melihat kesuksesan orang lain, tidak terdorong untuk merusak kegembiraan orang
lain, tidak merampas “kebahagiaan” siapapun, juga tidak merasa perlu untuk
menipu diri sendiri dengan mengonsumsi barang-barang madat. Mereka berani melihat
dan mengakui segala sesuatu sebagaimana apa-adanya. Mungkin ada di antara Anda yang
kemudian bertanya, apakah bersikap realistis, artinya berkutat sepanjang hidup
dalam dukkha? Kemungkinan terbesarnya, orangtua maupun guru Anda di sekolah
tidak pernah memberitahu Anda, bahwa ada jenis-jenis kenikmatan yang “tidak
berhubungan dengan kenikmatan indria”. Anda tergolong orang yang beruntung,
menemukan ulasan dalam artikel ini.
Terasing dari kenikmatan indria, dalam rangka memeroleh “kenikmatan
yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria”, itulah yang tidak pernah Anda
ketahui karena memang orangtua maupun guru Anda di sekolah tidak pernah
mengajarkan ataupun memberitahukannya kepada Anda, dimana itulah yang menjadi
akal-muasal banyaknya anggota masyarakat kita yang terjerumus dalam “kenikmatan
indria” yang sifatnya selalu “adiktif sekaligus merusak”. Mereka tidak akan
pernah mengenal, apakah itu atau seperti apakah itu “kenikmatan yang tidak
berhubungan dengan kenikmatan indria”—salah satunya, perhatikan sabda Sang
Buddha berikut:
“Dan
bagaimanakah seorang bhikkhu terampil dalam jalan pikirannya sendiri? Seperti
halnya seorang perempuan atau laki-laki – muda, berpenampilan muda, dan
menyukai perhiasan – akan melihat pantulan wajahnya di sebuah cermin yang
bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air jernih. Jika mereka melihat
debu atau noda apa pun di sana, maka mereka akan berusaha untuk
menghilangkannya. Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau noda di sana, maka
mereka menjadi gembira; dan keinginan mereka terpenuhi, mereka akan berpikir, ‘Betapa
beruntungnya bahwa aku bersih!’ Demikian pula, pemeriksaan-diri adalah
sangat membantu bagi seorang bhikkhu [agar tumbuh] dalam kualitas-kualitas
bermanfaat.”
Dengan mencandu harta, seseorang pejabat bisa menjelma koruptor,
penjual menipu konsumennya, pegawai menggelapkan inventaris kantor, warga
merampok kediaman warga lainnya, dan disaat bersamaan mereka kehilangan “KEBERSIHAN”.
Bukankah itu “harga” yang terlampau mahal untuk dibayarkan? Lebih jauh lagi,
Sang Buddha juga menyebutkan bahwa konsumsi barang madat dapat membuat si
pecandu kehilangan sifat-sifat baik. Sifat-sifat baik, adalah harta terbesar
seseorang, namun si dungu tidak menghargainya, mencampakkannya bagaikan sampah,
dan terbenam dalam kecanduan. Sama dungunya dengan para kriminil yang
menggadaikan “KEMURNIAN DIRI” demi sesuatu yang sejatinya tidak layak
dikorbankan.
Apakah yang membuat Anda berpikir, mengapa Pangeran Siddhatta
Gotama memilih untuk menjadi seorang petapa hutan, dengan meninggalkan takhta
dan kekuasaan maupun harta? Karena Beliau kemudian menemukan sesuatu yang
sifatnya melampaui “kenikmatan yang berhubungan dengan kenikmatan indria” namun
tidak membawa resiko keburukan apapun. Orang serakah, korup, culas, pendusta,
arogan, serta delusif dan melekat pada sifat-sifat dangkal demikian untuk
sepanjang hidupnya, adalah orang-orang yang “cengeng”. Apakah ada di antara Anda
yang mengetahui, apa sebabnya atau mengapa disebut demikian? Karena mereka
bersikap seolah-olah hidup akan “tamat” bila tidak menjadi seorang pecandu,
sekalipun hidupnya sejatinya telah “tamat” dengan menjadi seorang pecandu. Alasan
kedua, secara naif mereka bersikap seolah-olah tiada yang namanya “kebahagiaan
dalam moralitas”, “kebahagiaan dari meninggalkan kenikmatan indria”, “kebahagiaan
yang muncul dari keterasingan dari keramaian dan dari kekotoran”, “kebahagiaannya
adalah bertujuan untuk menenangkan kekotoran”, dan “kebahagiaannya adalah
bertujuan untuk mencapai pencerahan”.
Mungkin memang bukan sepenuhnya salah mereka. Tiada seorang
pun yang sebelum ini pernah mengenalkan kepada mereka “kenikmatan-kenikmatan
yang tiada hubungannya dengan kenikmatan indria”, bahkan mereka selama ini diasup
dogma bahwa kebahagiaan surgawi sekalipun wujudnya ialah berupa kenikmatan tubuh
duniawi seperti persetubuhan fisik yang kasar, bukan “kenikmatan meditatif”
yang halus sifatnya. Penjelasan selengkapnya mengapa ketika Petapa Gotama telah
merealisasi pencerahan di bawah Pohon Boddhi, memilih untuk tidak kembali ke
siggasana dan tidak juga bersedia mewarisi takhta, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~SUTTA 66~
Laṭukikopama Sutta : Perumpamaan Burung Puyuh
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di negeri orang-orang
Anguttarāpa di mana terdapat sebuah pemukiman bernama Āpaṇa.
2. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan
jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke Āpaṇa untuk menerima dana makanan.
Ketika Beliau telah menerima dana makanan di Āpaṇa dan telah kembali dari perjalanan
itu, setelah makan Beliau pergi ke suatu hutan untuk melewatkan hari. Setelah
memasuki hutan, Beliau duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari.
3. Pada pagi hari itu, Yang Mulia Udāyin merapikan
jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia juga pergi ke Āpaṇa untuk menerima dana makanan.
Ketika ia telah menerima dana makanan di Āpaṇa dan telah kembali dari
perjalanan itu, setelah makan ia pergi ke hutan yang sama untuk melewatkan hari.
Setelah memasuki hutan, ia duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari.
4. Kemudian, sewaktu Yang Mulia Udāyin sedang
sendirian dalam meditasi, buah pikiran berikut ini muncul dalam pikirannya: “Betapa
banyaknya kondisi menyakitkan yang telah disingkirkan oleh Sang Bhagavā dari
kami! Betapa banyaknya kondisi menyenangkan yang telah dibawa oleh Sang Bhagavā
untuk kami! Betapa banyaknya kondisi tidak bermanfaat yang telah disingkirkan
oleh Sang Bhagavā dari kami! Betapa banyaknya kondisi bermanfaat yang telah
dibawa oleh Sang Bhagavā untuk kami!”
5. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Udāyin
bangkit dari meditasinya, pergi menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud
kepada Beliau, ia duduk di satu sisi [448] dan berkata kepada Beliau:
6. “Di sini, Yang Mulia, sewaktu aku sedang
sendirian dalam meditasi, buah pikiran berikut ini muncul dalam pikiranku:
‘Betapa banyaknya kondisi menyakitkan yang telah disingkirkan oleh Sang Bhagavā
dari kami! … Betapa banyaknya kondisi bermanfaat yang telah dibawa oleh Sang
Bhagavā untuk kami!’ Yang Mulia, sebelumnya kami terbiasa makan di malam
hari, di pagi hari, dan sepanjang siang hari di luar waktu selayaknya.
Kemudian ada suatu kejadian ketika Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu
sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, tinggalkanlah makan di siang hari, yang adalah
di luar waktu yang selayaknya.’ Yang Mulia, aku kecewa dan sedih, dengan
pikiran: ‘Para perumahtangga yang berkeyakinan memberikan berbagai jenis
makanan kepada kami selama siang hari di luar waktu selayaknya, namun Sang
Bhagavā memberitahukan kepada kami untuk meninggalkannya, Yang Sempurna
memberitahukan kepada kami untuk melepaskannya.’ Demi cinta kasih dan
penghormatan kepada Sang Bhagavā, dan karena malu dan takut akan pelanggaran,
kami meninggalkan makan di siang hari, yang di luar waktu selayaknya.
[Kitab Komentar : Dari paragraf
di atas dan paragraf berikutnya, sepertinya Sang Buddha membatasi waktu makan
yang diperbolehkan bagi para bhikkhu dalam dua tahap berturut-turut, pertama
melarang hanya makan sore dan memperbolehkan makan malam. Akan tetapi, dalam
kisah latar belakang dalam Vinaya dari Pāc 37 (Vinaya Pitaka iv.85) tidak
disebutkan larangan berturut-turut ini. Sebaliknya, teks sepertinya
menganggapnya sebagai suatu pengetahuan umum bahwa para bhikkhu tidak boleh
mengonsumsi makanan setelah lewat tengah hari, dan ini menunjukkan bahwa Sang
Buddha menetapkan peraturan yang melarang makan tidak pada waktunya dengan satu
kelompok pernyataan yang berlaku untuk semua makanan setelah lewat tengah hari.]
“Kemudian kami hanya makan di malam hari dan di pagi
hari. Kemudian ada suatu kejadian ketika Sang Bhagavā berkata kepada para
bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, tinggalkanlah makan di malam hari, yang
adalah di luar waktu yang selayaknya.’ Yang Mulia, aku kecewa dan sedih,
dengan pikiran: ‘Sang Bhagavā memberitahukan kami untuk meninggalkan makan dua
kali kami yang lebih mewah, Yang Sempurna memberitahukan kami agar
meninggalkannya.’ Suatu ketika, Yang Mulia, seseorang telah memperoleh sop
di siang hari dan ia berkata: ‘Sisihkanlah itu dan kita akan memakannya bersama
pada malam hari.’ [Hampir] semua makanan dipersiapkan pada malam hari, sedikit
pada siang hari. Demi cinta kasih dan penghormatan kepada Sang Bhagavā, dan
karena malu dan takut akan pelanggaran, kami meninggalkan makan di malam hari,
yang di luar waktu selayaknya.
“Pernah terjadi, Yang Mulia, para bhikkhu itu
mengembara untuk menerima dana di malam hari yang gelap gulita telah terperosok
ke lubang kakus, jatuh ke saluran air kotor, menabrak semak berduri, dan
menabrak sapi yang sedang tertidur; mereka telah bertemu dengan para penjahat
yang telah melakukan kejahatan dan yang sedang merencanakan kejahatan, dan mereka
digoda secara seksual oleh perempuan-perempuan. Suatu ketika, Yang Mulia, aku
sedang berjalan untuk menerima dana makanan di malam yang gelap gulita. Seorang
perempuan yang sedang mencuci panci melihatku melalui cahaya kilat halilintar
dan ia berteriak ketakutan: ‘Kasihanilah aku, setan telah datang padaku!’ Aku
memberitahunya: ‘Saudari, aku bukan setan, aku adalah seorang bhikkhu [449]
yang sedang mengumpulkan dana makanan.’ – ‘Maka, engkau adalah seorang bhikkhu
yang ibu dan ayahnya telah mati! Lebih baik, bhikkhu, engkau membelah perutmu
dengan pisau daging yang tajam daripada berkeliaran mencari dana makanan demi
perutmu di malam yang gelap gulita ini!’ Yang Mulia, ketika aku teringat hal itu aku berpikir:
‘Betapa banyaknya kondisi menyakitkan yang telah disingkirkan oleh Sang Bhagavā
dari kami! Betapa banyaknya kondisi menyenangkan yang telah dibawa oleh Sang Bhagavā
untuk kami! Betapa banyaknya kondisi tidak bermanfaat yang telah disingkirkan
oleh Sang Bhagavā dari kami! Betapa banyaknya kondisi bermanfaat yang telah
dibawa oleh Sang Bhagavā untuk kami!’”
[Kitab Komentar : Ucapan “Maka,
engkau adalah seorang bhikkhu yang ibu dan ayahnya telah mati!” ini adalah
dalam bentuk yang sepertinya percakapan Pāli. Kitab Komentar menjelaskan: jika
ibu dan ayah seseorang masih hidup, mereka akan memberikan berbagai makanan
kepada putera mereka dan memberikan tempat untuk tidur, dan dengan demikian ia
tidak perlu berkeliling mencari makanan di malam hari.]
7. “Demikian pula, Udāyin, terdapat
orang-orang sesat di sini yang, ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini,’
mengatakan: ‘Apalah hal kecil dan remeh seperti ini? Petapa ini terlalu
cerewet!’ Dan mereka tidak meninggalkan hal itu dan mereka menunjukkan sikap
tidak sopan terhadapKu serta terhadap para bhikkhu lain yang menyukai latihan.
Bagi mereka hal itu menjadi tali pengikat yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan
menjadi gandar yang tebal.
8. “Misalkan, Udāyin, seekor burung puyuh terjebak
oleh tanaman rambat kering dan karenanya dapat mengakibatkan luka, tertangkap,
atau kematian. Sekarang misalkan seseorang berkata: ‘Tanaman rambat kering yang
menjebak burung puyuh itu yang dapat mengakibatkan luka, tertangkap, atau
kematian, baginya adalah tali pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan
tanpa inti.’ Apakah ia berkata dengan benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Karena bagi burung puyuh itu
tanaman rambat kering yang mengikatnya dan dapat mengakibatkan luka, tertangkap,
atau kematian, baginya adalah tali pengikat yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan
gandar yang tebal.”
“Demikian pula, Udāyin, terdapat orang-orang sesat
di sini yang, ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ ... tidak meninggalkan
hal itu dan mereka menunjukkan sikap tidak sopan terhadapKu serta terhadap para
bhikkhu lain yang menyukai latihan. Bagi mereka hal itu menjadi tali pengikat
yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan menjadi gandar yang tebal.
9. “Udāyin, terdapat anggota keluarga tertentu di sini yang, [450]
ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini,’ mengatakan: ‘Apalah hal kecil dan
remeh seperti ini yang harus ditinggalkan, Sang Bhagavā memberitahukan kepada
kita untuk meninggalkan, Yang Sempurna memberitahukan kepada kita untuk melepaskan.’
Namun mereka meninggalkannya dan tidak memperlihatkan sikap tidak sopan
terhadapKu atau terhadap para bhikkhu lain yang menyukai latihan. Setelah meninggalkannya,
mereka hidup dengan nyaman, tenang, hidup dari pemberian orang lain, dengan
pikiran [terasing] seperti rusa liar. Bagi mereka hal tersebut menjadi tali
pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.
10. “Misalkan, Udāyin, seekor gajah besar dengan
gading sepanjang tiang kereta, dewasa dalam posturnya, dari keturunan yang
baik, dan terbiasa dalam pertempuran, terikat dengan tali kulit yang kuat,
tetapi hanya dengan sedikit menggerakkan badannya ia dapat memutuskan dan
menghancurkan tali itu dan kemudian pergi ke manapun yang ia sukai. Sekarang
misalkan seseorang berkata: ‘Tali kulit yang kuat itu yang mengikat gajah besar itu
... baginya adalah tali pengikat yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan gandar yang
tebal.’ Apakah ia berkata dengan benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Tali kulit yang kuat itu yang
mengikat gajah besar itu, yang hanya dengan sedikit menggerakkan badannya ia dapat
memutuskan dan menghancurkan tali itu dan kemudian pergi ke manapun yang ia
sukai, baginya adalah tali pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.”
“Demikian pula, Udāyin, terdapat anggota keluarga tertentu
di sini yang, ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ … meninggalkannya dan
tidak memperlihatkan sikap tidak sopan terhadapKu atau terhadap para bhikkhu
lain yang menyukai latihan. Setelah meninggalkannya, mereka hidup dengan
nyaman, tenang, hidup dari pemberian orang lain, dengan pikiran [terasing] seperti
rusa liar. Bagi mereka hal tersebut menjadi tali pengikat yang lunak, lemah,
lapuk dan tanpa inti.
11. “Misalkan, Udāyin, ada seseorang yang miskin,
melarat, tidak punya uang, dan ia memiliki sebuah pondok bobrok yang terbuka
bagi burung-burung gagak, bukan jenis terbaik, dan satu ranjang kayu, bukan
jenis terbaik, [451] dan beberapa biji-bijian dan benih labu dalam pot, bukan
jenis terbaik, dan seorang istri yang kurus, bukan jenis terbaik. Ia melihat
seorang bhikkhu di halaman vihara sedang duduk di bawah keteduhan sebatang pohon,
tangan dan kakinya tercuci bersih setelah memakan makanan lezat, menekuni
pikiran yang lebih tinggi. Ia mungkin berpikir: ‘Betapa menyenangkannya kondisi
petapa itu! Betapa sehatnya kondisi petapa itu! Seandainya aku dapat mencukur rambut
dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah!’ Tetapi karena tidak mampu
meninggalkan sebuah pondok bobrok yang terbuka bagi burung-burung gagak, bukan
jenis terbaik, dan satu ranjang kayu, bukan jenis terbaik, dan beberapa
biji-bijian dan benih labu dalam pot, bukan jenis terbaik, dan istrinya yang
kurus, bukan jenis terbaik, maka ia tidak mampu mencukur rambut dan janggutnya,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Sekarang misalkan seseorang berkata: ‘Tali
yang mengikat orang itu sehingga ia tidak dapat meninggalkan sebuah pondok
bobrok … dan istrinya yang kurus, bukan jenis terbaik, maka ia tidak mampu
mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah – baginya
adalah adalah tali pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.’ Apakah orang
itu berkata dengan benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Tali yang mengikat orang itu
sehingga ia tidak dapat meninggalkan sebuah pondok bobrok … dan istrinya yang
kurus, bukan jenis terbaik, maka ia tidak mampu mencukur rambut dan janggutnya,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah – baginya hal-hal tersebut adalah
tali pengikat yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan gandar yang tebal.”
“Demikian pula, Udāyin, terdapat orang-orang sesat
di sini yang, ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ ... tidak meninggalkan
hal itu dan mereka menunjukkan sikap tidak sopan terhadapKu serta terhadap para
bhikkhu lain yang menyukai latihan. Bagi mereka hal itu menjadi tali pengikat
yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan menjadi gandar yang tebal.
12. “Misalkan, Udāyin, ada seorang perumah-tangga
kaya atau putera perumah-tangga kaya, [452] dengan banyak harta dan kekayaan,
dengan banyak batangan emas, banyak lumbung, banyak ladang, banyak tanah,
banyak istri, dan banyak budak laki-laki dan perempuan. Ia melihat seorang
bhikkhu di halaman vihara sedang duduk di bawah keteduhan sebatang pohon, tangan
dan kakinya tercuci bersih setelah memakan makanan lezat, menekuni pikiran yang
lebih tinggi. Ia mungkin berpikir: ‘Betapa menyenangkannya kondisi petapa itu!
Betapa sehatnya kondisi petapa itu! Seandainya aku dapat mencukur rambut dan janggutku,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah!’ Dan karena mampu meninggalkan banyak batangan
emasnya, banyak lumbungnya, banyak ladangnya, banyak tanahnya, banyak istrinya,
dan banyak budaknya laki-laki dan perempuan, maka ia mampu mencukur rambut dan janggutnya,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Sekarang misalkan seseorang berkata: ‘Tali
yang mengikat orang itu sehingga ia dapat meninggalkan batangan emasnya …
banyak budaknya laki-laki dan perempuan, dan mencukur rambut dan janggutnya,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah – baginya hal-hal tersebut adalah tali
pengikat yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan gandar yang tebal.’ Apakah orang itu
berkata dengan benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Tali yang mengikat orang itu
sehingga ia dapat meninggalkan batangan emasnya … banyak budaknya laki-laki dan
perempuan, dan mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah – baginya hal-hal tersebut adalah tali pengikat yang lunak, lemah,
lapuk dan tanpa inti.”
“Demikian pula, Udāyin, terdapat anggota keluarga
tertentu di sini yang, ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ … meninggalkannya
dan tidak memperlihatkan sikap tidak sopan terhadapku atau terhadap para
bhikkhu lain yang menyukai latihan. [453] Setelah meninggalkannya, mereka hidup
dengan nyaman, tenang, hidup dari pemberian orang lain, dengan pikiran [terasing]
seperti rusa liar. Bagi mereka hal tersebut menjadi tali pengikat yang lunak,
lemah, lapuk dan tanpa inti.
13. “Udāyin, terdapat empat jenis orang yang ada di
dunia ini. Apakah empat ini?
[Kitab Komentar : Sang Buddha
mengangkat ajaran ini untuk menganalisa orang yang meninggalkan apa yang telah
diberitahukan untuk ditinggalkan (sebagaimana dimaksud pada paragraf nomor ke-9,
yakni mereka yang memandang dan menjadikan keduniawian sebagai “tali pengikat
yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti”) ke dalam empat jenis individu
berbeda.]
14. “Di sini, Udāyin, seseorang
mempraktikkan jalan untuk meninggalkan perolehan, untuk melepaskan perolehan. Ketika ia mempraktikkan jalan
itu, ingatan dan kehendak yang berhubungan dengan perolehan menyerangnya. Ia
menerimanya; ia tidak meninggalkannya, tidak melenyapkannya, tidak menyingkirkannya,
dan tidak memusnahkannya. Orang demikian Kusebut terbelenggu, bukan tidak
terbelenggu. Mengapakah? Karena Aku telah mengetahui keberagaman tertentu dari
indria-indra dalam diri orang ini.
[Kitab Komentar : Upadhi,
“melepaskan perolehan”. Kitab Komentar mengemas: Untuk meninggalkan
empat jenis upadhi – kelompok-kelompok unsur kehidupan,
kekotoran-kekotoran, bentukan-bentukan kehendak, dan utas-utas kenikmatan
indria (khandh’upadhi kiles’upadhi abhisankhār’upadhi kāmaguṇ’upadhi).]
15. “Di sini, Udāyin, seseorang mempraktikkan jalan
untuk meninggalkan perolehan, untuk melepaskan perolehan. Ketika ia mempraktikkan
jalan itu, ingatan dan kehendak yang berhubungan dengan perolehan menyerangnya.
Ia tidak menerimanya; ia meninggalkannya, melenyapkannya, menyingkirkannya, dan
memusnahkannya. Orang demikian juga Kusebut terbelenggu, bukan tidak
terbelenggu. Mengapakah? Karena Aku telah mengetahui keberagaman tertentu dari
indria-indria dalam diri orang ini.
[Kitab Komentar : Orang biasa,
pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, yang-tidak-kembali dapat termasuk dalam
kelompok pertama (sebagaimana pada paragraf nomor ke-14), yang-tidak-kembali
karena ketagihan pada penjelmaan (kelahiran-kembali) masih ada dalam dirinya
dan dengan demikian kadang-kadang ia dapat menikmati pikiran-pikiran kenikmatan
duniawi. Empat yang sama dapat digolongkan dalam kelompok ke dua (sebagaimana
pada paragraf nomor ke-15), orang biasa karena ia mungkin dapat menekan
kekotoran yang telah muncul, membangkitkan kegigihan, mengembangkan pandangan
terang, dan melenyapkan kekotoran dengan mencapai jalan lokuttara.]
16. “Di sini, Udāyin, seseorang
mempraktikkan jalan untuk meninggalkan perolehan, untuk melepaskan perolehan.
Ketika ia mempraktikkan jalan itu, ingatan dan kehendak yang berhubungan dengan
perolehan kadang-kadang menyerangnya karena lemahnya perhatian. Perhatiannya
mungkin lambat muncul, tetapi ia dengan cepat meninggalkannya, melenyapkannya,
menyingkirkannya, dan memusnahkannya. Seperti halnya seseorang meneteskan dua atau
tiga tetes air di atas lempengan besi yang dipanaskan sepanjang hari, jatuhnya tetesan
air itu mungkin lambat namun air itu akan dengan cepat menguap dan lenyap.
Demikian pula, di sini seseorang mempraktikkan jalan … Perhatiannya mungkin
lambat muncul, tetapi ia dengan cepat meninggalkannya, melenyapkannya, menyingkirkannya,
dan memusnahkannya. Orang demikian juga Kusebut terbelenggu, bukan tidak
terbelenggu. [454] Mengapakah? Karena Aku telah mengetahui keberagaman tertentu
dari indria-indria dalam diri orang ini.
[Kitab Komentar : Jenis orang
yang disebutkan di atas, yang memiliki kewaspadaan pada kecondongan pikirannya
sendiri, dibedakan dengan jenis sebelumnya hanya oleh kelambanannya dalam
membangkitkan perhatian untuk meninggalkan kekotoran yang telah muncul.]
17. “Di sini, Udāyin, seseorang,
setelah memahami bahwa perolehan adalah akar penderitaan, melepaskan dirinya
dari perolehan dan terbebaskan dalam hancurnya perolehan. Orang demikian
Kusebut tidak terbelenggu, bukan terbelenggu. Mengapakah? Karena Aku telah
mengetahui keberagaman tertentu dari indria-indria dalam diri orang ini.
[Kitab Komentar : Orang yang
dimaksud tersebut adalah seorang Arahant, yang telah melenyapkan segala
belenggu, tanpa menyisakan kekotoran-batin yang paling laten sekalipun.]
18. “Ada, Udāyin, lima utas kenikmatan indria. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk
yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali
oleh telinga yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung
dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Bau-bauan yang dikenali oleh
hidung yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan
kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan
yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan
kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima
utas kenikmatan indria.
19. “Sekarang, Udāyin, kenikmatan dan kegembiraan
yang muncul dengan bergantung pada kelima utas kenikmatan indria ini disebut
kenikmatan indria – kenikmatan yang kotor, kenikmatan yang kasar, kenikmatan
yang tidak mulia. Aku katakan bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh
dikejar, bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh dikembangkan, bahwa jenis kenikmatan
ini tidak boleh dilatih, bahwa jenis kenikmatan ini seharusnya ditakuti.
20. “Di sini, Udāyin, dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.
Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk
dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan
pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Dengan meluruhnya sukacita, seorang
bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan,
masih merasakan kenikmatan pada jasmani, seorang bhikkhu masuk dan berdiam
dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia
memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh
perhatian.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan
pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan
berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki
bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena
keseimbangan.
21. “Ini disebut kebahagiaan pelepasan keduniawian, kebahagiaan
keterasingan, kebahagiaan kedamaian, kebahagiaan pencerahan. Aku katakan bahwa jenis
kenikmatan ini harus dikejar, bahwa jenis kenikmatan ini harus dikembangkan,
bahwa jenis kenikmatan ini harus dilatih, bahwa jenis kenikmatan ini seharusnya
tidak ditakuti.
[Kitab Komentar : Terkait kalimat
“kebahagiaan pelepasan keduniawian, kebahagiaan keterasingan, kebahagiaan
kedamaian, kebahagiaan pencerahan” dalam paragraf di atas, Bhikkhu Bodhi
berbeda dengan Bhikkhu Ñāṇamoli dalam menerjemahkan sukha
sebagai “kebahagiaan” dan bukan sebagai “kenikmatan” untuk menghindari
frasa-frasa yang terdengar janggal yang dapat diakibatkan dari konsistensi yang
kaku. Kitab Komentar menjelaskan jhāna-jhāna sebagai nekkhammasukha
karena menghasilkan kebahagiaan dari meninggalkan kenikmatan indria;
sebagai pavivekasukha karena menghasilkan kebahagiaan yang muncul
dari keterasingan dari keramaian dan dari kekotoran; sebagai upasamasukha
karena kebahagiaannya adalah bertujuan untuk menenangkan kekotoran; dan sebagai
sambodhasukha karena kebahagiaannya adalah bertujuan untuk mencapai
pencerahan. Jhāna-jhāna itu sendiri, tentu saja, bukanlah kondisi-kondisi
pencerahan.]
22. “Di sini, Udāyin, dengan cukup terasing dari
kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu
masuk dan berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
keterasingan. Sekarang ini, Aku katakan, adalah bagian dari yang dapat
mengganggu. Dan apakah di sana yang menjadi bagian dari yang dapat mengganggu?
Awal pikiran dan kelangsungan pikiran yang belum lenyap di sana, itu adalah apa
yang menjadi bagian dari yang dapat mengganggu.
[Kitab Komentar : Semua kondisi
pikiran di bawah jhāna ke empat dikelompokkan sebagai “yang dapat
mengganggu” (iñjita). Jhāna ke empat dan semua kondisi yang lebih
tinggi disebut “yang tidak mengganggu” (aniñjita).
Āneñja (BBS); ānañja (PTS).
Ini adalah istilah teknis untuk pencapaian-pencapaian meditatif dari jhāna
ke empat melalui empat pencapaian tanpa materi. Tetapi karena dua pencapaian tanpa
materi yang tertinggi dibahas secara terpisah, sepertinya bahwa dalam sutta ini
hanya jhāna ke empat dan dua pencapaian tanpa materi yang lebih rendah
yang dimaksudkan sebagai “ketanpa-gangguan.”]
23. “Di sini, Udāyin, dengan menenangkan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi. Sekarang ini, Aku katakan, adalah bagian dari yang dapat
mengganggu. Dan apakah di sana yang menjadi bagian dari yang dapat mengganggu?
Sukacita dan kenikmatan yang belum lenyap di sana, itu adalah apa yang menjadi
bagian dari yang dapat mengganggu.
24. “Di sini, Udāyin, dengan meluruhnya sukacita, seorang
bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan,
masih merasakan kenikmatan pada jasmani, seorang bhikkhu masuk dan berdiam
dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia
memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh
perhatian.’ Sekarang ini, Aku katakan, adalah bagian dari yang dapat
mengganggu. Dan apakah di sana yang menjadi bagian dari yang dapat mengganggu?
[455] Kenikmatan keseimbangan yang belum lenyap di sana, itu adalah apa yang
menjadi bagian dari yang dapat mengganggu.
25. “Di sini, Udāyin, dengan meninggalkan kenikmatan
dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan,
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki
bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena
keseimbangan. Sekarang ini, Aku katakan, adalah bagian dari yang tidak
mengganggu.
26. “Di sini, Udāyin, dengan cukup terasing dari
kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu
masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … Itu, Aku katakan, belum cukup.
Tinggalkanlah, Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
[Kitab Komentar :Perihal frasa “belum
cukup”, tidaklah selayaknya untuk melekatinya dengan ketagihan, dan seseorang
seharusnya tidak berhenti pada titik ini, dan beranjak melampauinya.]
27. “Di sini, Udāyin, dengan menenangkan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
ke dua … Itu melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup.
Tinggalkanlah, Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang
melampauinya?
28. “Di sini, Udāyin, dengan meluruhnya sukacita ...
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga ... Itu melampaui sebelumnya.
Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah, Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang
melampauinya?
29. “Di sini, Udāyin, dengan meninggalkan kenikmatan
dan kesakitan ... seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat ... Itu
melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah,
Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
30. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria,
dengan tanpa perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah
tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa
batas. Itu melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup.
Tinggalkanlah, Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang
melampauinya?
31. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran
adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran
tanpa batas. Itu melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup.
Tinggalkanlah, Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang
melampauinya?
32. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada
apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Itu melampaui sebelumnya.
Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah, Aku katakan;
lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
33. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam
dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. [456] Itu melampaui
sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah, Aku
katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
34. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan.681 Itu melampaui
sebelumnya. Demikianlah Aku mengatakan tentang meninggalkan bahkan landasan
bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Apakah engkau melihat, Udāyin,
belenggu apapun, kecil atau besar, yang pelepasannya tidak Aku katakan?”
[Kitab Komentar : Lenyapnya
persepsi dan perasaan bukan hanya sekedar satu pencapaian yang lebih tinggi
dalam skala konsentrasi, melainkan di sini menyiratkan pengembangan pandangan-terang
penuh yang membawa menuju puncaknya dalam Kearahantaan.]
“Tidak, Yang Mulia.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Yang Mulia Udāyin merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.