Jangan Bersikap Seolah-Olah Anda (Pemakai AI) tidak Memiliki Segudang Kompetitor dan Jangan pula Bersikap Seolah-Olah Kompetitor Anda Tidak dapat Menggunakan Aplikasi AI Serupa—Anak Sekolah Dasar dan Jutaan Penduduk di Bangladesh pun dapat menjadi Kompetitor Anda
Terdapat hoaks yang tergolong “misleading” alias menyesatkan, berisi propaganda bahwa penggunaan AI (Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence) membuat produktivitas meningkat. Bahkan, dengan “AI Agent”, Anda tidak perlu bekerja sama sekali namun mampu memproduksi segudang dan selautan konten digital, lantas Anda berdelusi menjadi miliarder? Orang dungu, tidak mampu melihat bahaya dibalik sesuatu yang “too good to be true”. Terdapat dua kekeliruan fatal dibalik gaya berpikir “kampungan” demikian. Pertama, jangan bersikap seolah-olah Anda tidak memiliki segunung kompetitor. Kedua, jangan bersikap seolah-olah kompetitor Anda tidak dapat menggunakan maupun mengakses aplikasi / platform AI serupa.
Sejak era disrupsi AI, industri dan model bisnis berubah,
produk digital yang Anda hasilkan bisa jadi meningkat drastis dari segi
kualitas maupun kuantitas, namun apakah berbanding lurus dengan “hasil” yang
dapat dipetik? Para era pra AI, kita mengenal istilah “comparative
advantage”, dimana keunikan dan keterampilan spesifik dapat bersifat
spesial dan “unik”. “Comparative advantage” menjadi “entry barrier”,
sehingga tidak semua kalangan dapat menjadi kompetitor Anda dalam realita pada
bursa atau pasar yang ada di lapangan. Ketika “supply” penyedia jasa
terbatas, sementara itu “demand” cukup membanjiri, maka penyedia jasa
memetik buah manisnya, “banjir orderan”.
Pasca disrupsi AI, “comparative advantage”
tenggelam dan tewas. Anak Sekolah Dasar maupun seluruh penduduk di seluruh negara
berjumlah miliaran penduduk dapat menghasilkan sinema sekaliber Hollywood. Pengguna
jasa (demand), kian menipis karena mereka yang selama ini menyewa dan membayar
tenaga jasa industri kreative, mulai secara otonom menghasilkan karya mereka
sendiri sebagaimana kini industri makanan “junk food” mulai menayangkan
iklan pariwara yang mereka produksi sendiri menggunakan aplikasi “AI
generative”, yang membuat banyak kalangan penyedia jasa pariwara dirudung
kecemasan dan “gigit jari”, mulai beranjak surut dari era kejayaannya.
Mungkin dapat kita tambahkan satu postulat lagi,
yakni yang ketiga, yaitu jangan bersikap seolah-olah pengguna jasa Anda tidak
dapat menggunakan AI untuk memproduksi konten mereka sendiri secara mandiri. Dari sudut pandang realistis
demikian, jelas bahwa fenomena AI cenderung merugikan pelaku usaha dibidang
jasa, suatu “mimpi buruk” yang menjadi kenyataan—namun ironisnya, seakan tidak
mampu memprediksi bahaya dan “harga sosial-ekonomi” yang harus dibayarkan
dibalik tawaran AI, banyak pelaku usaha terutama penyedia jasa yang turut
bersuka-ria dalam hingar-bingar AI. Jawablah secara jujur kepada diri Anda sendiri:
Apa
gunanya mampu memproduksi selautan konten, namun di luar sana telah banjir konten-konten
serupa dari AI maupun dari AI yang lebih canggih lagi? Bisa jadi anak Sekolah Dasar yang
kini menjadi kompetitor Anda, menertawakan karya Anda yang dianggap “tertinggal”,
karena semisal sang anak Sekolah Dasar menggunakan Ai terbaru yang lebih
canggih.
Dahulu, banyak kalangan musisi yang begitu “sok
jual-mahal” dan kerap “dikit-dikit menggugat”, dengan alasan melanggar hak
cipta lagu atau musik. Kini, semua orang dapat menciptakan lagu dan musiknya
sendiri menggunakan AI. Semua orang, tanpa terkecuali. Alhasil, banjir “musisi-musisi
dadakan” yang sebelumnya tidak pernah kita kenal, yang kini mampu memproduksi
segudang konten musik dan lagu dalam waktu singkat. Musik-musik para musisi “manual”,
mulai tenggelam di tengah lautan konten musik dan lagu hasil “AI generative”. Kelak,
dapat kita prediksi berbagai kedai ataupun kios, kafe, rumah makan, minimarket,
memutar musik-musik yang diciptakan dari AI. Para musisi yang selama ini “cerewet”
dan “jual mahal”, kian tersingkir dari dunia permusikan.
Cobalah Anda bayangkan, kompetitor Anda bukanlah
lagi “production house” yang bermodal besar, akan tetapi anak-anak Sekolah
Dasar, bahkan jutaan dan miliaran penduduk di negara-negara yang selama ini
terbelakang, tertinggal, dan tersisihkan, juga mulai menjadi kompetitor Anda
dan mulai masuk ke pasar yang sama, untuk memperebutkan sisa-sisa “remah”
pangsa pasar yang masih tersisa. Pengguna jasa yang selama ini menggunakan jasa
pihak ketiga untuk menghasilkan konten, mulai beralih secara mandiri menjadi
pengguna AI yang sama dengan yang Anda gunakan untuk memproduksi selautan
konten AI.
Ingat, anak kecil yang belum lulus Sekolah Dasar
sekalipun mampu menjadi seorang “prompter”—profesi yang paling
menyedihkan karena harus siap-siap tenggelam bersama jutaan atau miliaran “prompter”
lainnya. Tiada yang bisa dibanggakan mampu memproduksi konten yang tampak megah
dan masif, anak kecil pun bisa dan mampu melakukannya. Anda “banting harga” dan
“banting harga diri” sekalipun, bisa jadi pengguna jasa yang masih tersisa
(remah-remah) akan mendekat kepada warga di Bangladesh yang bukan lagi sekadar “obral
harga dan harga diri”. Bersediakah Anda tetap bermain di pasar yang serba “menggadaikan
harga diri”?
Ketika “supply” terbatas, seburuk apapun
kualitas sinema yang Anda produksi semisal film-film televisi era pra tahun
2000, tetap laris-manis dan banyak penonton serta mencetak “box office”
karena berhasil menjual jutaan tiket bioskop saat rilis. Kini, ketika “supply”
justru banjir secara “over-supply” (berkat AI), sementara “demand”
kian menipis mengingat pengguna jasa Anda mulai beralih menggunakan AI untuk
membuat iklan pariwara untuk mempromosikan produk mereka, maka untuk apakah
segudang konten yang telah Anda miliki dan produksi dengan AI? Apakah artinya “produksi
meningkat berkat AI”? Apalah gunanya segudang portofolio dan contoh karya-karya
digital Anda? Apakah Anda sedang mencoba “menipu diri Anda sendiri”,
dengan berdelusi seolah AI tersebut eksklusif hadir dan eksis hanya untuk Anda? Menyakitkan? Truth always
bitter.
Tahun ini mungkin kondisi ekonomi masih “euforia”
peningkatan produksi berkat AI, sehingga masih terdapat ekonomi yang mengalir
dan berputar. Saat “bulan madu” usai, pesta pun bubar. Konten-konten Anda tidak
bernilai sama sekali, karena terdapat banjir konten diluar sana oleh AI berbagai
AI lainnya, oleh miliaran penduduk pengguna AI. Jangankan “jual mahal”, “jual
murah” pun bila ada pengguna jasa yang masih bersedia memakai jasa Anda, Anda sudah
patut bersyukur. Yang mengherankan ialah, banyak pihak-pihak yang belum mau menyadari
“harga sosial-ekonomi” yang harus mereka bayarkan akibat disrupsi AI—bahkan menjadi
pemakai yang kecanduan AI.
Semua orang pun termakan dan memakan propaganda “bila
tidak menggunakan AI, maka Anda akan tertinggal”. Anda pun tergila-gila mengejar
pemakaian AI, memproduksi segudang konten digital “AI generative” (FOMO, frear
of missing out, takut tertinggal dan ketinggalan). Namun ada yang terlupa
oleh Anda dan tidak dapat Anda abaikan, jutaan hingga miliaran bahkan para pengguna jasa yang
selama ini memakai jasa penyedia jasa, juga dapat beralih menggunakan AI serupa
maupun beragam AI lainnya yang bisa jadi jauh lebih canggih daripada AI yang Anda
gunakan selama ini.
Bila ada diantara Anda yang masih “keras kepala”
dan “bermimpi di-siang bolong”, mari kita ulangi paradigma yang telah kita
paparkan secara gamblang di atas. Pertama, jangan bersikap seolah-olah Anda tidak memiliki
kompetitor atau hanya memiliki sedikit kompetitor. Kedua, jangan
bersikap seolah-olah kompetitor Anda tidak dapat menggunakan AI serupa ataupun
Ai yang lebih canggih untuk memproduksi segudang dan selautan konten digital
serupa secara sama masifnya. Ketiga, jangan bersikap seolah-olah pengguna jasa Anda tidak
dapat beralih dengan mudah sebagai pengguna AI serupa untuk menghasilkan produk
digital serupa. Keempat, jangan bersikap seolah-olah peningkatan produktivitas
akan bernilai dan berharga di tengah banjir konten digital serupa yang
mematikan “comparative advantage”.
Anda sedang mengkhianati profesi Anda selaku
selaku pelaku industri kreative, ketika Anda justru mencandu dan kecanduan AI
yang merampas profesi dan masa depan Anda. Tiada yang lebih ironis daripada “mengkhianati
profesi sendiri”, tanpa menyisakan harga diri maupun martabat. Sebagaimana kata
pepatah klasik yang masih relevan hingga saat kini : Yang hidup dari “pedang”,
akan mati karena “pedang”. Pengguna AI bukanlah “pekerja cerdas”, mereka pekerja
yang “dungu”. Seseorang dibayar karena harus bekerja keras dan memeras keringat
sekalipun itu pekerja “kerah putih”. Dapat bermalas-malasan namun mampu
menghasilkan lautan konten “berkat AI”, dan berharap dapat hidup makmur oleh
karenanya?
Jangan bersikap seolah-olah jutaan / miliaran “prompter”
di luar sana tidak memiliki impian “too good to be true” serupa. Adalah “naif”,
ketika Anda berpikir dan berasumsi bahwa AI ada dan hadir secara eksklusif
hanya untuk Anda seorang. Mengapa penulis tidak pernah menggunakan AI untuk menghasilkan karya
tulis, hingga saat kini? Karena sekalipun kelak profesi penulis terancam akibat
kalah dengan para pengguna AI, setidaknya penulis masih menyisakan dan
menyelamatkan “harga diri” serta martabat, dengan tidak memakai AI yang
membunuh jutaan profesi konvensional.
Setidaknya penulis menghargai kecerdasan otak
penuli sendiri, dan berdiri di atas otak dan kepala serta kaki penulis sendiri.
Bagi penulis, setiap artikel yang penulis terbitkan adalah sebuah “masterpiece”
hasil elaborasi dan olah-otak, dan begitulah cara penulis menghargai otak dan harga-diri
yang penulis miliki. Ada kepuasan tersendiri, setelah mampu menghasilkan sebuah
karya tulis secara manual dan konvensional. Sebaliknya, sekalipun para pengguna
AI mampu memproduksi selautan konten, apalah yang dapat mereka benar-benar banggakan,
mereka hanya sedang “membohongi diri mereka sendiri”.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.