KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Malu dan Takut Menyakiti, Merugikan, maupun Melukai Orang / Makhluk Hidup Lainnya, Demi Kepentingan Siapakah?

ORANG GILA artinya, Tidak Malu dan Tidak Takut Merugikan, Melukai, maupun Menyakiti Pihak Lain

Tidak Ada yang Lebih Berbahaya daripada ORANG DUNGU (Orang Gila yang Bangga dapat Melukai, Merugikan, ataupun Menyakiti Orang Lain, Seolah Prestasi yang Patut DIbanggakan)

Tidak Berkepentingan Bukan Berarti Tidak Terdampak Langsung

Ketika Anda berjumpa atau berhadapan dengan orang gila, maka apakah opsi terbaiknya, sebisa mungkin menghindari dan menjauhinya, ataukah berperang melawannya hingga “pertumpahan darah”? Mungkin Anda punya sumber daya untuk mengalahkan “orang gila” tersebut, namun untuk apakah Anda terobsesi untuk menang melawan kalangan “orang gila”? Faktanya, jika kita berbeda dengan orang gila tersebut, maka mereka tidaklah sederajat dengan kita. Bila kita cukup bijak dan masih “waras”, pilihan terbaik ialah menghindari “orang-orang gila” semacam demikian.

Akan tetapi, pertanyaan terbesarnya, apakah orang-orang yang tidak malu dan tidak takut merugikan pihak lain, yang tidak malu dan tidak takut menyakiti orang lain, maupun yang tidak malu dan tidak takut melukai makhluk hidup lainnya, adakah dapat disebut sebagai manusia waras yang “tidak gila”? Mungkin Anda selaku konsumen maupun pedagang makanan semacam sate yang memproduksi polusi udara berupa asap pembakaran arang, tidak keberatan atas polusi tersebut, sekalipun lapak dagangannya di tengah-tengah keramaian, karena ada “konflik kepentingan”. Namun, pernahkah Anda memerhatikan dan menghormati kepentingan pihak-pihak tidak berkepentingan atas produk bernama sate tersebut akan tetapi “terdampak”?

Bila Anda seorang pecandu produk bakaran tembakau ataupun produsennya, tidak keberatan membakar tembakau di manapun. Akan tetapi, pernahkah Anda memerhatikan dan menghargai kepentingan orang-orang yang tidak berkepentingan terhadap produk tembakau tersebut akan tetapi “terdampak”? Tidak ada yang melarang Anda untuk merusak diri Anda sendiri—ciri “orang gila”—namun mengapa Anda turut merusak kesehatan orang lain dengan membakar tembakau di sembarang tempat? Tidak jarang mereka membakar tembakau di kediaman mereka, mengakibatkan anggota keluarganya menjelma “perokok pasif” yang dampaknya lebih fatal daripada “perokok pasif”.

Ketika kita ditegur oleh orang yang merasa terganggu oleh aktivitas kita, sebenarnya juga adalah demi kepentingan diri kita, karena kita masih waras, agar kita tidak merugikan pihak manapun (tidak menanam Karma Buruk sehingga terhindar dari konsekuensi buruknya di masa mendatang). Sang Buddha pernah menyebutkan, bahwa perbuatan baik artinya tidak merugikan diri sendiri juga tidak merugikan orang lain. Ketika Anda menganiaya orang lain yang terganggu atas perbuatan Anda, maka sejatinya Anda sedang “berbuat perbuatan BURUK” dalam dua derajat : mengganggu orang lain atau membuat orang lain terganggu, dan menganiaya alias melukai dalam rangka membungkam mulut orang-orang yang Anda rugikan.

Demi memelihara dan melestarikan “perbuatan buruk”, Anda bahkan menganiaya orang lain alih-alih mulai meninggalkan kebiasaan buruk tersebut, sungguh “tidak waras”. Ilustasi konkret sederhana berikut, mungkin cukup mewakili pengalaman banyak masyarakat. Semisal kediaman Anda yang berbatasan dengan hunian tetangga, Anda mungkin merasa tidak masalah memakai deterjen atau pengharum pakaian yang berlebihan—karena itu kepentingan Anda, kepentingan “orang gila” yang merasa tidak keberatan mengakumulasi racun calon bibit kanker ke dalam paru-paru mereka sendiri.

Hanya orang yang masih “waras”, yang menginternalisasi prinsip keberadaban “sic utere tuo ut alienum non laedas” yang bermakna : Gunakan harta kita, properti kita, halaman kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain. Ciri orang “tidak waras”, ialah merugikan diri sendiri maupun juga merugikan orang lain. Mereka senang dan punya kebiasaan merugikan tubuh-dirinya sendiri, juga membuat derita orang lain, semisal tetangga yang terganggu oleh bau menyengat deterjen dan pengharum pakaian Anda. Anda bahkan tidak mau pengertian, dengan menutup potensi bahwa tetangga Anda memiliki pernafasan yang sensitif atau penyakit asma. Bila Anda masih “waras”, maka Anda tidak akan berlebihan memakai deterjen, baik tubuh Anda maupun orang lain tidak akan terganggu. Ketika mereka ditegur, alih-alih “sadar diri dan malu”, mereka justru reaktif dengan “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik”—ciri manusia primitif era zaman batu purbakala, manusia biadab yang belum beradab, yang semestinya sudah lama masuk museum.

Ilustrasi lainnya ialah produsen produk semacam tahu maupun tempe tradisional, mereka seringkali memakai kayu sebagai bahan bakar proses produksi. Bagi produsen produk pangan tersebut, maupun bagi pihak konsumennya, bisa jadi tidak merasa bersalah ataupun keberatan terhadap polusi yang ditimbulkan akibat aktivitas pabrik pembuatan tahu dan tempe. Akan tetapi, pernahkah mereka memerhatikan dan menghormati kepentingan pihak-pihak yang tidak berkepentingan terhadap produk tahu dan tempe tersebut akan tetapi “terdampak”? Masalahnya ialah, di kota metropolitan sekaliber Jakarta sekalipun, pabrik tempe dan tahu beroperasi di tengah pemukiman padat penduduk.

Hanya orang “waras” alias “tidak gila”, yang memahami arti penting “malu dan takut menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak lain”. Tidak merugikan, tidak melukai, dan tidak menyakiti pihak manapun, adalah kepentingan kita juga, bila kita masih cukup “waras”. Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi pernah menuliskan, “Rasa malu (hiri) dan takut akan perbuatan-salah (ottappa) adalah dua kualitas pelengkap yang oleh Sang Buddha disebut ‘penjaga dunia’ (Anguttara Nikāya sutta i.51) karena kedua itu berfungsi sebagai landasan moralitas. Rasa malu memiliki karakteristik muak pada kejahatan, dikuasai oleh rasa hormat pada diri sendiri, dan bermanifestasi sebagai kehati-hatian. Takut akan perbuatan-salah memiliki karakteristik takut pada kejahatan, dikuasai oleh kepedulian pada pendapat orang lain, dan bermanifestasi sebagai ketakutan dalam melakukan kejahatan. Baca Visuddhimagga XIV, 142.”

Dalam berbagai sutta, Sang Buddha menyebut “orang-orang gila” demikian sebagai “orang dungu”. Pernah penulis mengatakan kepada seseorang, bahwa lebih baik penulis disakiti daripada menyakiti. Tentunya, penulis harus menjalankan apa yang penulis katakan / tuliskan. Berangkat atau bermula dari perenungan apakah, penulis sampai kepada kesimpulan demikian, bahwa “lebih baik kita disakiti (oleh orang lain) daripada menyakiti (orang lain)”? Ketika penulis dianiaya oleh “manusia-manusia gila”, penulis memilih tidak membalas dan berupaya sebisa mungkin menghindarinya daripada merepotkan diri untuk membalas dendam terhadap “orang gila” maupun “manusia purba-biadab”, atas alasan apakah?

Salah satu hal terpenting dalam Buddhisme, ialah perenungan. Ketika penulis merenungkan peristiwa seseorang mengalami kecelakaan-tunggal, dan tangan atau kakinya patah, sudah dapat kita bayangkan betapa merepotkan dan deritanya dibalik peristiwa musibah demikian. Penulis tidak menginginkan pengalaman serupa dialami oleh penulis, karenanya penulis tidak pernah berminat untuk menanam “bibit-bibit musibah” untuk penulis petik sendiri buah-pahit-getir-nya di masa mendatang. Kita semua tentu menyukai memetik dan menikmati buah yang manis, karenanya, mengapa masyarakat kita justru acapkali senang menanam hal-hal buruk yang dapat dicela oleh para bijaksanawan atau bahkan berjiwa kekanakan dengan seolah bila perbuatan jahatnya tidak diketahui oleh orang lain maka itu artinya perbuatan tersebut tidak pernah mereka lakukan? Bukankah hanya “orang gila”, yang merasa bangga dan berprestasi dapat menanam Karma Buruk untuk, mereka petik sendiri buah pahitnya dikehidupan mendatang?

Cobalah renungkan, betapa menderitanya orang-orang yang harus berobat ke rumah-sakit akibat menderita penyakit. Karenanya, pastikan masakan yang Anda masak ataupun produk-tani yang Anda produksi, benar-benar diproses atau diproduksi secara higienis serta bebas dari polutan beracun agar konsumen Anda terhindar dari penyakit. Bila Anda produsen produk-produk pangan dalam kemasan, pastikan bahan baku maupun kandungannya tidak mengandung resiko penyakit bagi yang mengonsumsinya. Bila Anda tidak ingin tertipu oleh orang lain, maka janganlah menipu. Bila Anda tidak ingin dirampas haknya, maka mulailah mengemudi dengan tidak “melawan arus” dan menghormati pengguna jalan yang berjalan sesuai lajurnya. Fenomena sosialnya justru menampilkan corak yang sebaliknya : mau dan senang menipu, namun keberatan tertipu—ciri “orang gila”.

Perihal “pikiran tanpa-permusuhan dan pikiran tanpa-kekejaman” sebagai lawan sifat dari “pikiran permusuhan dan pikiran kekejaman”, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

~ SUTTA 19~

Dvedhāvitakka Sutta: Dua Jenis Pikiran

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, sebelum pencerahanKu, sewaktu Aku masih menjadi seorang Bodhisatta yang belum tercerahkan, Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku membagi pikiran-pikiranKu dalam dua kelompok.’ Kemudian Aku mengelompokkan ke satu sisi pikiran-pikiran keinginan indria, pikiran-pikiran permusuhan, dan pikiran-pikiran kekejaman, dan Aku mengelompokkan ke sisi yang lain pikiran-pikiran pelepasan keduniawian, pikiran-pikiran tanpa permusuhan, dan pikiran-pikiran tanpa-kekejaman.

[Kitab Komentar : Perihal upaya untuk membagi pikiran-pikiran Beliau ke dalam dua kelompok pikiran, terjadi selama enam tahun usaha Sang Bodhisatta dalam mencapai pencerahan.

Pikiran tanpa-permusuhan dan pikiran tanpa-kekejaman juga dapat dijelaskan secara positif sebagai pikiran cinta kasih (mettā) dan pikiran belas kasih (karuā).]

3. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, [115] suatu pikiran keinginan indria muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran keinginan indria ini telah muncul dalam diriKu. Ini mengarah pada penderitaanKu, pada penderitaan orang lain, dan pada penderitaan keduanya; pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna.’ Ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaanKu,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan orang lain,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan keduanya,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu. Kapanpun pikiran keinginan indria muncul dalam diriKu, Aku meninggalkannya, melenyapkannya, mengusirnya.

[Komentar : Paradigma berpikir Sang Bodhisatta adalah cara berpikir orang “waras”. Sebaliknya, “orang gila” tidak akan berhenti, sekalipun mereka merasakan sendiri bahwa itu mengarah pada penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, maupun penderitaan bagi keduanya.]

4. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, suatu pikiran permusuhan muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran permusuhan ini telah muncul dalam diriKu. Ini mengarah pada penderitaanKu, pada penderitaan orang lain, dan pada penderitaan keduanya; pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna.’ Ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaanKu,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan orang lain,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan keduanya,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu. Kapanpun pikiran permusuhan muncul dalam diriKu, Aku meninggalkannya, melenyapkannya, mengusirnya.

5. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, suatu pikiran kekejaman muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran kekejaman ini telah muncul dalam diriKu. Ini mengarah pada penderitaanKu, pada penderitaan orang lain, dan pada penderitaan keduanya; pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna.Ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaanKu,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan orang lain,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan keduanya,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu. Kapanpun pikiran kekejaman muncul dalam diriKu, Aku meninggalkannya, melenyapkannya, mengusirnya.

6. “Para bhikkhu, apapun yang sering dipikirkan dan direnungkan oleh seorang bhikkhu, maka itu akan menjadi kecenderungan pikirannya. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran-pikiran keinginan indria, maka ia telah meninggalkan pikiran pelepasan keduniawian dan mengembangkan pikiran keinginan indria, dan kemudian pikirannya condong pada pikiran keinginan indria. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran permusuhan, maka ia telah meninggalkan pikiran tanpa-permusuhan dan mengembangkan pikiran permusuhan, dan kemudian pikirannya condong pada pikiran permusuhan. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran kekejaman, maka ia telah meninggalkan pikiran tanpa-kekejaman dan mengembangkan pikiran kekejaman, dan kemudian pikirannya condong pada kekejaman.

[Komentar : Kita mulai dapat memahami, betapa memprihatinkannya orang-orang dewasa, terlebih yang telah berambut putih, akan tetapi gemar “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik”, pikirannya condong pada kekejaman dan permusuhan, dan disaat bersamaan jauh dari pikiran tanpa-kekejaman maupun pikiran tanpa-permusuhan. Terlebih, mereka mempertontonkan sifat demikian kepada anak-cucunya, sungguh teladan yang lebih memprihatinkan, mewariskan “sifat gila” atau “kegilaan” gaya berpikir.]

7. “Bagaikan pada bulan terakhir musim hujan, pada musim gugur, ketika panen berlimpah, seorang penggembala sapi menjaga sapi-sapinya dengan secara terus-menerus menepuk dan menyodok sapi-sapinya dan dengan tongkat untuk mengawasi dan mengekang sapi-sapi itu. Mengapakah? Karena ia melihat bahwa ia akan dicambuk, dikurung, dihukum, atau disalahkan [jika ia membiarkan sapi-sapi itu berkeliaran ke dalam wilayah panen]. Demikian pula Aku melihat bahaya, kemunduran, dan kekotoran dalam kondisi-kondisi tidak bermanfaat, dan berkah pelepasan keduniawian, aspek pemurnian dalam kondisi-kondisi bermanfaat. [116]

8. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, suatu pikiran pelepasan keduniawian muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran pelepasan keduniawian ini telah muncul dalam diriKu. Ini tidak mengarah pada penderitaanKu, atau pada penderitaan orang lain, atau pada penderitaan keduanya; pikiran ini mendukung kebijaksanaan, tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menuntun menuju Nibbāna.’ Jika Aku memikirkan dan merenungkan pikiran ini bahkan selama semalam, bahkan selama sehari, bahkan selama sehari semalam, Aku tidak melihat apapun yang menakutkan di dalamnya. Tetapi dengan terlalu memikirkan dan merenungkan maka Aku dapat melelahkan tubuhKu, dan jika tubuhKu lelah, pikiran menjadi terganggu, dan ketika pikiran terganggu, maka itu berarti jauh dari konsentrasi.’ Maka Aku mengokohkan pikiranKu secara internal, menenangkannya, membawanya menuju keterpusatan, dan mengonsentrasikannya. Mengapakah? Agar pikiranKu tidak terganggu.

[Kitab Komentar : Pemikiran dan perenungan yang berlebihan mengarah pada kegelisahan. Untuk menjinakkan dan melunakkan pikiran, Sang Bodhisatta akan memasuki pencapaian meditatif, kemudian ia akan keluar dari sana dan mengembangkan pandangan terang.]

9. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, suatu pikiran tanpa permusuhan muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran tanpa-permusuhan ini telah muncul dalam diriKu. Ini tidak mengarah pada penderitaanKu, atau pada penderitaan orang lain, atau pada penderitaan keduanya; pikiran ini mendukung kebijaksanaan, tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menuntun menuju Nibbāna.’ Jika Aku memikirkan dan merenungkan pikiran ini bahkan selama semalam, bahkan selama sehari, bahkan selama sehari semalam, Aku tidak melihat apapun yang menakutkan di dalamnya. Tetapi dengan terlalu memikirkan dan merenungkan maka Aku dapat melelahkan tubuhKu, dan jika tubuhKu lelah, pikiran menjadi terganggu, dan ketika pikiran terganggu, maka itu berarti jauh dari konsentrasi.’ Maka Aku mengokohkan pikiranKu secara internal, menenangkannya, membawanya menuju keterpusatan, dan mengonsentrasikannya. Mengapakah? Agar pikiranKu tidak terganggu.

10. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, suatu pikiran tanpa-kekejaman muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran tanpa-kekejaman ini telah muncul dalam diriKu. Ini tidak mengarah pada penderitaanKu, atau pada penderitaan orang lain, atau pada penderitaan keduanya; pikiran ini mendukung kebijaksanaan, tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menuntun menuju Nibbāna.’ Jika Aku memikirkan dan merenungkan pikiran ini bahkan selama semalam, bahkan selama sehari, bahkan selama sehari semalam, Aku tidak melihat apapun yang menakutkan di dalamnya. Tetapi dengan terlalu memikirkan dan merenungkan maka Aku dapat melelahkan tubuhKu, dan jika tubuhKu lelah, pikiran menjadi terganggu, dan ketika pikiran terganggu, maka itu berarti jauh dari konsentrasi.’ Maka Aku mengokohkan pikiranKu secara internal, menenangkannya, membawanya menuju keterpusatan, dan mengonsentrasikannya. Mengapakah? Agar pikiranKu tidak terganggu.

11. “Para bhikkhu, apapun yang sering dipikirkan dan direnungkan oleh seorang bhikkhu, maka itu akan menjadi kecenderungan pikirannya. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran-pikiran pelepasan keduniawian, maka ia telah meninggalkan pikiran keinginan indria dan mengembangkan pikiran pelepasan keduniawian, dan kemudian pikirannya condong pada pikiran pelepasan keduniawian. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran tanpa-permusuhan, maka ia telah meninggalkan pikiran permusuhan dan mengembangkan pikiran tanpa-permusuhan, dan kemudian pikirannya condong pada pikiran tanpa permusuhan. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran tanpa-kekejaman, maka ia telah meninggalkan pikiran kekejaman dan mengembangkan pikiran tanpa-kekejaman, dan kemudian pikirannya condong pada tanpa-kekejaman.

12. “Bagaikan pada bulan terakhir musim panas, ketika semua hasil panen telah dibawa ke dalam desa-desa, [117] seorang penggembala sapi menjaga sapi-sapinya sambil duduk di bawah sebatang pohon atau di ruang terbuka, karena ia hanya perlu memperhatikan bahwa sapi-sapinya ada di sana; demikian pula, Aku hanya perlu memperhatikan bahwa kondisi-kondisi itu ada di sana.

[Komentar : Bandingkan dengan perumpaan sebelumnya, ketika ladang masih sedang akan panen, maka pengawasan dan pengekangan oleh sang penggembala tidak boleh kendur sedikitpun.]

13. “Kegigihan tanpa lelah muncul dalam diriKu dan perhatian tanpa henti menjadi kokoh, tubuhKu tenang dan tidak terganggu, pikiranKu terkonsentrasi dan terpusat.

14. “Dengan cukup terasing dari keinginan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.

[Kitab Komentar mengatakan bahwa Sang Bodhisatta mengembangkan empat jhāna menggunakan perhatian pada pernafasan sebagai subjek meditasiNya.]

15. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi.

16. “Dengan meluruhnya sukacita, Aku berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’

17. “Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.

18. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Aku mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya Aku mengingat banyak kehidupan lampau.

[Kitab Komentar : Perihal pengetahuan mengingat kehidupan lampau, dijelaskan secara terperinci dalam Visuddhimagga XIII, 13-71.]

19. “Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai olehKu pada jaga pertama malam itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.

20. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan mereka, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang baik, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.

[Kitab Komentar : Mengenai pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk, dijelaskan secara terperinci dalam Visuddhimagga XIII, 72-101.]

21. “Ini adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai olehKu pada jaga ke dua malam itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.

22. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’

[Kitab Komentar : Setelah menunjukkan Empat Kebenaran Mulia dalam sifat sejatinya (yaitu, dalam hal penderitaan), paragraf tentang noda-noda disebutkan untuk menunjukkan secara tidak langsung melalui kekotoran.]

23. “Ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, pikiranKu terbebas dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda Ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’ Aku secara langsung mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.

[Menurut Kitab Komentar, frasa “Ketika aku mengetahui dan melihat demikian” merujuk pada pandangan terang dan “sang jalan”; yang mencapai puncaknya dalam jalan Kearahantaan; frasa “pikiranKu terbebaskan” menunjukkan saat buah, dan frasa “muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan’” menunjukkan pengetahuan peninjauan (baca Visuddhimagga XXII, 20-21), demikian pula dengan kalimat berikutnya yang dimulai dengan “Aku secara langsung mengetahui.”]

24. “Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang Kucapai pada jaga ke tiga malam itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.

25. “Misalkan, para bhikkhu, bahwa di dalam sebuah hutan terdapat rawa-rawa yang luas di dekat sekumpulan rusa yang menetap di sana. Kemudian seseorang datang menginginkan kehancuran, bahaya, dan belenggu bagi rusa-rusa itu, dan ia menutup jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan rusa-rusa itu, dan ia membuka jalan palsu, dan ia meletakkan umpan dan memasang benda-benda tiruan sehingga kumpulan rusa itu akan mengalami bencana, malapetaka, dan kehancuran. Tetapi seorang lainnya datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan bagi rusa-rusa itu, dan ia membuka kembali jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan rusa-rusa itu, dan ia menutup jalan palsu, dan ia membuang umpan dan menghancurkan benda-benda tiruan, sehingga kumpulan rusa itu dapat berkembang, bertambah dan berlimpah.

26. “Para bhikkhu, Aku memberikan perumpamaan ini untuk menyampaikan maknanya. [118] Maknanya adalah sebagai berikut: ‘Rawa-rawa yang luas’ adalah sebutan bagi kenikmatan indria. ‘Sekumpulan rusa’ adalah sebutan bagi makhluk-makhluk. ‘Seseorang yang datang menginginkan kehancuran, bahaya, dan belenggu’ adalah sebutan bagi Māra si Jahat. ‘Jalan Palsu’ adalah sebutan bagi jalan salah berunsur delapan, yaitu: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah. ‘Umpan’ adalah sebutan bagi kenikmatan dan nafsu. ‘Benda-benda tiruan’ adalah sebutan bagi ketidak-tahuan.Seorang lainnya yang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan’ adalah sebutan bagi Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. ‘Jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan rusa-rusa itu’ adalah sebutan bagi Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

Demikianlah, para bhikkhu, jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan telah dibuka kembali olehKu, jalan palsu telah ditutup, umpan telah dibuang, benda-benda tiruan telah dihancurkan.

27. “Apa yang harus dilakukan untuk para siswaNya demi belas kasih seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan dan memiliki belas kasih terhadap mereka, telah Kulakukan untuk kalian, para bhikkhu. Terdapat bawah pepohonan ini, gubuk-gubuk kosong ini. Bermeditasilah, para bhikkhu, jangan menunda atau kalian akan menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi Kami kepada kalian.

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.