Vaksin Korupsi, agar Imun dari Sifat-Sifat Korup
Question : Mengapa bisa sampai ada orang yang terjerumus korupsi? Bukankah lucu juga ironis, bila ia kelak ketika sudah tua lalu bercerita kepada anak-cucunya, bahwa ia betapa dulunya ia mulanya adalah orang baik sebelum kemudian mengubur masa depannya sendiri demi korupsi? Bukankah itu sifat kekanak-kanakan orang dewasa, seolah bila aksi korupnya tidak diketahui dan tidak disadari oleh orang lain karena diselubungi rencana-intelektual yang terencana dan sistematik, seolah ia tidak pernah korupsi??
Brief
Answer : Masing-masing dari kita
perlu mulai merenungkan serta memahami, bahwa adalah wajar mengalami fenomena ketidak-kekalan
(perubahan dan keberpisahan), adalah wajar mengalami fenomena penderitaan
maupun ketidak-puasan (dukkha), adalah wajar mengalami fenomena “tanpa-diri
bernama ‘aku’”, adalah wajar mengalami fenomena kekecewaan, adalah wajar
mengalami fenomena kebosanan / kejemuan. Segala yang berkondisi, sifatnya tidak
kekal, mengecewakan, serta “tanpa-diri [sehingga tiada yang dapat disebut ‘milik
aku’]”, karenanya tidak dapat digenggem erat.
Menyadari
dan memahami demikian secara apa adanya, kita tidak lagi merasa perlu merampas hak-hak
orang lain, karena orang lain pun merasakan fenomena-fenomena serupa. Sebaliknya,
bila kita merasa “ada yang salah pada diri aku karena merasa dukkha”,
akibatnya fatal, timbul persepsi maupun pemahaman keliru bahwa orang lain merasakan
nikmat, bukan dukkha, dalam hidupnya—sekalipun sejatinya adalah “normal”
dan wajar saja sifat segala sesuatu yang berkondisi, tanpa terkecuali, bukan
hanya Anda yang sedang atau akan mengalami dan merasakannya.
PEMBAHASAN:
Moralitas dan
kematian, tidak dapat ditawar-tawar, juga tidaklah dapat kita mengatas-namakan
derita, ketidak-puasan, ataupun kemiskinan sebagai dalil / alibi untuk merampas
hak-hak orang lain. Untuk selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 134 ~
Lomasakangiyabhaddekaratta
Sutta: Lomasakangiya dan Satu Malam Yang Baik
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Lomasakangiya sedang menetap di negeri
Sakya di Kapilavatthu di Taman Nigrodha.
[Kitab Komentar : Menurut Komentar Theragāthā, Yang
Mulia Lomasakangiya telah menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kassapa. Setelah Buddha
Kassapa membabarkan Bhaddekaratta Sutta, seorang bhikkhu tertentu
menyampaikannya kepada Lomasakangiya. Karena tidak mampu memahaminya, ia
berseru: “Di masa depan, semoga aku mampu mengajarkan sutta ini kepadamu!” Yang
lain menjawab: “Semoga aku dapat menanyakannya kepadamu!” Pada masa sekarang
Lomasakangiya terlahir di sebuah keluarga Sakya di Kapilavatthu, sedangkan
bhikkhu lainnya itu menjadi Dewa Candana.]
2. Kemudian, pada larut malam, Candana, dewa muda berpenampilan indah yang
menerangi seluruh Taman Nigrodha, mendekati Yang Mulia Lomasakangiya. Sambil
berdiri di satu sisi, Candana si dewa muda berkata kepadanya:
“Bhikkhu, apakah engkau ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang yang
telah melewatkan satu malam yang baik’?” [200]
“Teman, aku tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah
Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat ringkasan
dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”
“Bhikkhu, aku juga tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang
Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Bhikkhu, apakah engkau ingat
syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”
“Teman, aku tidak ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu
Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat syair dari ‘Seorang Yang
Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”
“Bhikkhu, aku ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam
Yang Baik.’”
“Tetapi, Teman, bagaimanakah syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu
Malam Yang Baik yang engkau ingat’?”
“Bhikkhu, suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di antara para dewa di
alam surga Tiga Puluh Tiga, di atas batu pualam merah di bawah pohon
Pāricchattaka. Di sana Sang Bhagavā membabarkan ringkasan dan penjelasan dari
‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik kepada para dewa di alam
surga Tiga Puluh Tiga:
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ini terjadi pada tahun
ke tujuh setelah Pencerahan Sang Buddha, pada saat Beliau melewatkan tiga bulan
masa vassa di alam surga Tiga Puluh Tiga mengajarkan Abhidhamma kepada para
dewa dari sepuluh ribu sistem dunia yang berkumpul di sana.]
3.
‘Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu
Atau
membangun harapan di masa depan;
Karena
masa lalu telah ditinggalkan
Dan
masa depan belum dicapai.
Melainkan
lihatlah dengan pandangan terang
Tiap-tiap
kondisi yang muncul saat ini;
Ketahuilah
hal itu dan yakinlah pada hal itu,
Dengan
tak terkalahkan, tak tergoyahkan.
Hari
ini usaha harus dilakukan;
Besok
mungkin kematian datang, siapa yang tahu?
Tidak
ada tawar-menawar dengan Kematian
Yang
dapat menjauhkannya dan gerombolannya,
Tetapi
seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,
Tanpa
mengendur, siang dan malam –
Adalah
ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,
Yang
telah melewati satu malam yang baik.’
4. “Bhikkhu, aku ingat syair ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang
Baik’ seperti demikian. Bhikkhu, pelajarilah ringkasan dan penjelasan dari
‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, kuasailah
ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang
Baik.’ Bhikkhu, hafalkanlah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah
Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang
Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’ adalah bermanfaat, dan merupakan
dasar-dasar kehidupan suci.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Candima si dewa muda, yang setelah itu
lenyap seketika.
5. Kemudian, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Lomasakangiya
merapikan tempat tinggalnya, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya,
melakukan perjalanan menuju Sāvatthī. Ia [201] akhirnya sampai di Sāvatthī, dan
menghadap Sang Bhagavā di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi,
memberitahukan kepada Sang Bhagavā segalanya yang telah terjadi, dan berkata:
“Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan kepadaku ringkasan
dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’”
6. “Bhikkhu, apakah engkau mengenal dewa muda itu?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Bhikkhu, dewa muda itu bernama Candana. Ia menekuni Dhamma,
memperhatikan, menyimaknya dengan seluruh pikirannya, mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.
Maka, Bhikkhu, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Lomasakangiya menjawab Sang Bhagavā. Sang
Bhagavā berkata sebagai berikut:
7. “Janganlah
seseorang menghidupkan kembali masa lalu
Atau
membangun harapan di masa depan;
[Kitab Komentar : Secara lebih literal kedua baris pertama dapat
diterjemahkan: “Janganlah seseorang kembali ke masa lampau atau hidup dalam
pengharapan di masa depan.” Makna ini akan lebih jelas dalam paragraf penjelasan
di dalam sutta ini.]
Karena
masa lalu telah ditinggalkan
Dan
masa depan belum dicapai.
Melainkan
lihatlah dengan pandangan terang
Tiap-tiap
kondisi yang muncul saat ini;
[Kitab Komentar : Ia harus merenungkan tiap-tiap kondisi yang muncul saat
ini, tepat di mana munculnya, melalui tujuh perenungan pandangan terang
(pandangan terang ke dalam ketidak-kekalan, penderitaan, tanpa-diri,
kekecewaan, kebosanan, lenyapnya, lepasnya.)]
Ketahuilah
hal itu dan yakinlah pada hal itu,
Dengan
tak terkalahkan, tak tergoyahkan.
[Kitab Komentar : Asaṁhīraṁ asankuppaṁ, “dengan
tak terkalahkan, tak tergoyahkan”. Kitab Komentar menjelaskan bahwa sutta ini
dikatakan bertujuan untuk menunjukkan pandangan terang dan lawan pandangan
terang dimana dalam sutta terpisah Sang Buddha menyatakan “Tetapi apapun
juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk
pada lenyapnya.”; karena pandangan terang adalah “tak terkalahkan, tak tergoyahkan”
karena tidak terkalahkan atau tergoyahkan oleh nafsu dan kekotoran lainnya.
Di tempat lain ungkapan “tak terkalahkan, tak
tergoyahkan” digunakan untuk menggambarkan Nibbāna (yaitu, Sn v.1149) atau
menggambarkan pikiran yang terbebaskan (misalnya, Theragāthā v.649), tetapi di
sini tempaknya merujuk pada tingkatan dalam pengembangan pandangan terang.
Kemunculan kembali bentuk kata kerja saṁhirati pada paragraf nomor ke-12 dan ke-13 menyiratkan bahwa makna yang dimaksudkan
adalah perenungan saat ini tanpa tersesat ke dalam pandangan diri.]
Hari
ini usaha harus dilakukan;
Besok
mungkin kematian datang, siapa yang tahu?
Tidak
ada tawar-menawar dengan Kematian
Yang
dapat menjauhkannya dan gerombolannya,
Tetapi
seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,
Tanpa
mengendur, siang dan malam –
Adalah
ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,
[Kitab Komentar : Sang “Bijaksana Damai” (santo muni) adalah Sang
Buddha.]
Yang
telah melewati satu malam yang baik.
8. “Bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang menghidupkan
kembali masa lalu?
Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk
materi demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia memelihara
kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian di masa
lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentukan-bentukan
[kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian di masa lalu.’ Itu adalah bagaimana
seseorang menghidupkan kembali masa lalu.
[Kitab Komentar : Seseorang “menemukan kesenangan”
dengan membawa ketagihan atau pandangan yang berhubungan dengan ketagihan di
masa lalu. Harus dipahami bahwa ini bukanlah sekadar perenungan masa lalu
melalui ingatan yang menyebabkan belenggu, tetapi menghidupkan kembali pengalaman
masa lalu dengan pikiran-pikiran ketagihan. Sehubungan dengan hal ini ajaran
Sang Buddha sangat jauh berbeda dengan ajaran Krishnamurti, yang tampaknya
menganggap bahwa ingatan itu sendiri sebagai penjahat di belakang layar.]
9. “Dan bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang tidak menghidupkan
kembali masa lalu?
Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki
bentuk materi demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara
kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian di masa
lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki
bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara
kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian di masa
lalu.’ Itu adalah bagaimana seseorang tidak menghidupkan kembali masa lalu.
[Kitab Komentar : Sintaksis dari Bahasa Pāli memperbolehkan
kalimat “Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku
memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’” diinterpretasikan dalam dua
cara, sebagai menyebutkan bahwa seseorang berpikir, “Aku memiliki bentuk
demikian di masa lalu,” namun tidak menemukan kesenangan dalam pikiran itu;
atau bahwa seseorang tidak menemukan kesenangan di masa lalu dengan memikirkan
pikiran demikian. Horner, Ñāṇananda (dalam Ideal Solitude), dan Bhikkhu Ñāṇamoli
menafsirkan kalimat ini dalam cara pertama; Bhikkhu Bodhi mempertahankan
terjemahan Bhikkhu Ñāṇamoli dalam edisi pertama. Setelah mempertimbangkan,
sekarang Bhikkhu Bodhi percaya bahwa interpretasi ke dua adalah lebih tepat
menyampaikan makna teks tersebut. Ini juga berkaitan, secara lebih baik, dengan
syair itu sendiri, yang menginstruksikan agar siswa tidak berdiam di masa lalu
dan di masa depan melainkan merenungkan “tiap-tiap kondisi yang muncul saat
ini” seperti yang disampaikan oleh syair itu sendiri.]
10. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang membangun harapan di
masa depan? Seseorang
memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk
materi demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia memelihara
kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki persepsi demikian di
masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki
bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan
di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki kesadaran demikian di masa
depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang membangun harapan di masa depan.
[Kitab Komentar : Dalam edisi pertama, kalimat “Seseorang
memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk
materi demikian di masa depan!’” diterjemahkan: “Dengan berpikir, ‘Aku akan
memiliki bentuk materi demikian di masa depan,’ seseorang menemukan kesenangan
di dalam itu.” Setelah merenungkan kembali, sekarang bagi Bhikkhu Bodhi selaku
penerjemah dari Bahasa Pāli tampaknya bahwa kalimat itu mengungkapkan seruan
harapan di masa depan.]
11. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak membangun harapan
di masa depan? Seseorang
tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki
bentuk materi demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia tidak
memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki persepsi
demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa
depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku
memiliki kesadaran demikian di masa depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang
tidak membangun harapan di masa depan.
12. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang terkalahkan sehubungan
dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak
terpelajar, yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak
disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak
terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk
materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi
sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Ia menganggap
perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan
sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Ia menganggap
persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau bentuk materi
sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Ia menganggap
bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri, atau diri sebagai memiliki
bentukan-bentukan [kehendak], atau bentukan-bentukan [kehendak] sebagai di
dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan [kehendak]. Ia
menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau
kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Itu adalah bagaimana seseorang terkalahkan
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini.
[Kitab Komentar : Kata kerja mulai dari kalimat
“terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini” dan dalam
paragraf berikutnya, saṁhirati, merujuk kembali pada baris dalam syair, “tak terkalahkan, tak
tergoyahkan.” Kitab Komentar mengemas: “Seseorang diseret oleh ketagihan dan
pandangan karena ketiadaan pandangan terang.”]
13. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak terkalahkan
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia yang
terpelajar, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin dalam Dhamma
mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin dalam
Dhamma mereka, tidak
menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk
materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam
bentuk materi. Ia tidak menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai
memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di
dalam perasaan. Ia tidak menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki
persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam
persepsi. Ia tidak menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri, atau
diri sebagai memiliki bentukan-bentukan [kehendak], atau bentukan-bentukan
[kehendak] sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan
[kehendak]. Ia tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai
memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di
dalam kesadaran. Itu adalah
bagaimana seseorang tidak terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang
muncul saat ini.
14. “Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu ... Yang telah
melewati satu malam yang baik.” [202]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Lomasakangiya
merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
©
Hak
Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril,
dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku
Penulis.