KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Bila Kehendak adalah “AKU”, mengapa Ada Orang yang Begitu Konyolnya Terjerumus Korupsi Sekalipun Telah Makmur dan Berlebihan?

Vaksin Korupsi, agar Imun dari Sifat-Sifat Korup

Question : Mengapa bisa sampai ada orang yang terjerumus korupsi? Bukankah lucu juga ironis, bila ia kelak ketika sudah tua lalu bercerita kepada anak-cucunya, bahwa ia betapa dulunya ia mulanya adalah orang baik sebelum kemudian mengubur masa depannya sendiri demi korupsi? Bukankah itu sifat kekanak-kanakan orang dewasa, seolah bila aksi korupnya tidak diketahui dan tidak disadari oleh orang lain karena diselubungi rencana-intelektual yang terencana dan sistematik, seolah ia tidak pernah korupsi??

Brief Answer : Masing-masing dari kita perlu mulai merenungkan serta memahami, bahwa adalah wajar mengalami fenomena ketidak-kekalan (perubahan dan keberpisahan), adalah wajar mengalami fenomena penderitaan maupun ketidak-puasan (dukkha), adalah wajar mengalami fenomena “tanpa-diri bernama ‘aku’”, adalah wajar mengalami fenomena kekecewaan, adalah wajar mengalami fenomena kebosanan / kejemuan. Segala yang berkondisi, sifatnya tidak kekal, mengecewakan, serta “tanpa-diri [sehingga tiada yang dapat disebut ‘milik aku’]”, karenanya tidak dapat digenggem erat.

Menyadari dan memahami demikian secara apa adanya, kita tidak lagi merasa perlu merampas hak-hak orang lain, karena orang lain pun merasakan fenomena-fenomena serupa. Sebaliknya, bila kita merasa “ada yang salah pada diri aku karena merasa dukkha”, akibatnya fatal, timbul persepsi maupun pemahaman keliru bahwa orang lain merasakan nikmat, bukan dukkha, dalam hidupnya—sekalipun sejatinya adalah “normal” dan wajar saja sifat segala sesuatu yang berkondisi, tanpa terkecuali, bukan hanya Anda yang sedang atau akan mengalami dan merasakannya.

PEMBAHASAN:

Moralitas dan kematian, tidak dapat ditawar-tawar, juga tidaklah dapat kita mengatas-namakan derita, ketidak-puasan, ataupun kemiskinan sebagai dalil / alibi untuk merampas hak-hak orang lain. Untuk selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

~ SUTTA 134 ~

Lomasakangiyabhaddekaratta Sutta: Lomasakangiya dan Satu Malam Yang Baik

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Lomasakangiya sedang menetap di negeri Sakya di Kapilavatthu di Taman Nigrodha.

[Kitab Komentar : Menurut Komentar Theragāthā, Yang Mulia Lomasakangiya telah menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kassapa. Setelah Buddha Kassapa membabarkan Bhaddekaratta Sutta, seorang bhikkhu tertentu menyampaikannya kepada Lomasakangiya. Karena tidak mampu memahaminya, ia berseru: “Di masa depan, semoga aku mampu mengajarkan sutta ini kepadamu!” Yang lain menjawab: “Semoga aku dapat menanyakannya kepadamu!” Pada masa sekarang Lomasakangiya terlahir di sebuah keluarga Sakya di Kapilavatthu, sedangkan bhikkhu lainnya itu menjadi Dewa Candana.]

2. Kemudian, pada larut malam, Candana, dewa muda berpenampilan indah yang menerangi seluruh Taman Nigrodha, mendekati Yang Mulia Lomasakangiya. Sambil berdiri di satu sisi, Candana si dewa muda berkata kepadanya:

“Bhikkhu, apakah engkau ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang yang telah melewatkan satu malam yang baik’?” [200]

“Teman, aku tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”

“Bhikkhu, aku juga tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Bhikkhu, apakah engkau ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”

“Teman, aku tidak ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”

“Bhikkhu, aku ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’”

“Tetapi, Teman, bagaimanakah syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik yang engkau ingat’?”

“Bhikkhu, suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di antara para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga, di atas batu pualam merah di bawah pohon Pāricchattaka. Di sana Sang Bhagavā membabarkan ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik kepada para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga:

[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ini terjadi pada tahun ke tujuh setelah Pencerahan Sang Buddha, pada saat Beliau melewatkan tiga bulan masa vassa di alam surga Tiga Puluh Tiga mengajarkan Abhidhamma kepada para dewa dari sepuluh ribu sistem dunia yang berkumpul di sana.]

3. ‘Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu

Atau membangun harapan di masa depan;

Karena masa lalu telah ditinggalkan

Dan masa depan belum dicapai.

Melainkan lihatlah dengan pandangan terang

Tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini;

Ketahuilah hal itu dan yakinlah pada hal itu,

Dengan tak terkalahkan, tak tergoyahkan.

Hari ini usaha harus dilakukan;

Besok mungkin kematian datang, siapa yang tahu?

Tidak ada tawar-menawar dengan Kematian

Yang dapat menjauhkannya dan gerombolannya,

Tetapi seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,

Tanpa mengendur, siang dan malam –

Adalah ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,

Yang telah melewati satu malam yang baik.’

4. “Bhikkhu, aku ingat syair ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’ seperti demikian. Bhikkhu, pelajarilah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, kuasailah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, hafalkanlah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’ adalah bermanfaat, dan merupakan dasar-dasar kehidupan suci.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Candima si dewa muda, yang setelah itu lenyap seketika.

5. Kemudian, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Lomasakangiya merapikan tempat tinggalnya, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, melakukan perjalanan menuju Sāvatthī. Ia [201] akhirnya sampai di Sāvatthī, dan menghadap Sang Bhagavā di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi, memberitahukan kepada Sang Bhagavā segalanya yang telah terjadi, dan berkata: “Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan kepadaku ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’”

6. “Bhikkhu, apakah engkau mengenal dewa muda itu?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Bhikkhu, dewa muda itu bernama Candana. Ia menekuni Dhamma, memperhatikan, menyimaknya dengan seluruh pikirannya, mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Maka, Bhikkhu, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Lomasakangiya menjawab Sang Bhagavā. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

7. “Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu

Atau membangun harapan di masa depan;

[Kitab Komentar : Secara lebih literal kedua baris pertama dapat diterjemahkan: “Janganlah seseorang kembali ke masa lampau atau hidup dalam pengharapan di masa depan.” Makna ini akan lebih jelas dalam paragraf penjelasan di dalam sutta ini.]

Karena masa lalu telah ditinggalkan

Dan masa depan belum dicapai.

Melainkan lihatlah dengan pandangan terang

Tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini;

[Kitab Komentar : Ia harus merenungkan tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini, tepat di mana munculnya, melalui tujuh perenungan pandangan terang (pandangan terang ke dalam ketidak-kekalan, penderitaan, tanpa-diri, kekecewaan, kebosanan, lenyapnya, lepasnya.)]

Ketahuilah hal itu dan yakinlah pada hal itu,

Dengan tak terkalahkan, tak tergoyahkan.

[Kitab Komentar : Asahīra asankuppa, “dengan tak terkalahkan, tak tergoyahkan”. Kitab Komentar menjelaskan bahwa sutta ini dikatakan bertujuan untuk menunjukkan pandangan terang dan lawan pandangan terang dimana dalam sutta terpisah Sang Buddha menyatakan “Tetapi apapun juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.”; karena pandangan terang adalah “tak terkalahkan, tak tergoyahkan” karena tidak terkalahkan atau tergoyahkan oleh nafsu dan kekotoran lainnya.

Di tempat lain ungkapan “tak terkalahkan, tak tergoyahkan” digunakan untuk menggambarkan Nibbāna (yaitu, Sn v.1149) atau menggambarkan pikiran yang terbebaskan (misalnya, Theragāthā v.649), tetapi di sini tempaknya merujuk pada tingkatan dalam pengembangan pandangan terang. Kemunculan kembali bentuk kata kerja sahirati pada paragraf nomor ke-12 dan ke-13 menyiratkan bahwa makna yang dimaksudkan adalah perenungan saat ini tanpa tersesat ke dalam pandangan diri.]

Hari ini usaha harus dilakukan;

Besok mungkin kematian datang, siapa yang tahu?

Tidak ada tawar-menawar dengan Kematian

Yang dapat menjauhkannya dan gerombolannya,

Tetapi seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,

Tanpa mengendur, siang dan malam –

Adalah ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,

[Kitab Komentar : Sang “Bijaksana Damai” (santo muni) adalah Sang Buddha.]

Yang telah melewati satu malam yang baik.

8. “Bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang menghidupkan kembali masa lalu? Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian di masa lalu.’ Itu adalah bagaimana seseorang menghidupkan kembali masa lalu.

[Kitab Komentar : Seseorang “menemukan kesenangan” dengan membawa ketagihan atau pandangan yang berhubungan dengan ketagihan di masa lalu. Harus dipahami bahwa ini bukanlah sekadar perenungan masa lalu melalui ingatan yang menyebabkan belenggu, tetapi menghidupkan kembali pengalaman masa lalu dengan pikiran-pikiran ketagihan. Sehubungan dengan hal ini ajaran Sang Buddha sangat jauh berbeda dengan ajaran Krishnamurti, yang tampaknya menganggap bahwa ingatan itu sendiri sebagai penjahat di belakang layar.]

9. “Dan bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang tidak menghidupkan kembali masa lalu? Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian di masa lalu.’ Itu adalah bagaimana seseorang tidak menghidupkan kembali masa lalu.

[Kitab Komentar : Sintaksis dari Bahasa Pāli memperbolehkan kalimat “Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’” diinterpretasikan dalam dua cara, sebagai menyebutkan bahwa seseorang berpikir, “Aku memiliki bentuk demikian di masa lalu,” namun tidak menemukan kesenangan dalam pikiran itu; atau bahwa seseorang tidak menemukan kesenangan di masa lalu dengan memikirkan pikiran demikian. Horner, Ñāananda (dalam Ideal Solitude), dan Bhikkhu Ñāamoli menafsirkan kalimat ini dalam cara pertama; Bhikkhu Bodhi mempertahankan terjemahan Bhikkhu Ñāamoli dalam edisi pertama. Setelah mempertimbangkan, sekarang Bhikkhu Bodhi percaya bahwa interpretasi ke dua adalah lebih tepat menyampaikan makna teks tersebut. Ini juga berkaitan, secara lebih baik, dengan syair itu sendiri, yang menginstruksikan agar siswa tidak berdiam di masa lalu dan di masa depan melainkan merenungkan “tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini” seperti yang disampaikan oleh syair itu sendiri.]

10. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang membangun harapan di masa depan? Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk materi demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki persepsi demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki kesadaran demikian di masa depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang membangun harapan di masa depan.

[Kitab Komentar : Dalam edisi pertama, kalimat “Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk materi demikian di masa depan!’” diterjemahkan: “Dengan berpikir, ‘Aku akan memiliki bentuk materi demikian di masa depan,’ seseorang menemukan kesenangan di dalam itu.” Setelah merenungkan kembali, sekarang bagi Bhikkhu Bodhi selaku penerjemah dari Bahasa Pāli tampaknya bahwa kalimat itu mengungkapkan seruan harapan di masa depan.]

11. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak membangun harapan di masa depan? Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk materi demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki persepsi demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki kesadaran demikian di masa depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang tidak membangun harapan di masa depan.

12. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak terpelajar, yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Ia menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Ia menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Ia menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan [kehendak], atau bentukan-bentukan [kehendak] sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan [kehendak]. Ia menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Itu adalah bagaimana seseorang terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini.

[Kitab Komentar : Kata kerja mulai dari kalimat “terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini” dan dalam paragraf berikutnya, sahirati, merujuk kembali pada baris dalam syair, “tak terkalahkan, tak tergoyahkan.” Kitab Komentar mengemas: “Seseorang diseret oleh ketagihan dan pandangan karena ketiadaan pandangan terang.”]

13. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, tidak menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Ia tidak menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Ia tidak menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Ia tidak menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan [kehendak], atau bentukan-bentukan [kehendak] sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan [kehendak]. Ia tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Itu adalah bagaimana seseorang tidak terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini.

14. “Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu ... Yang telah melewati satu malam yang baik.” [202]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Lomasakangiya merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.