KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Tumbangnya COMPARATIVE ADVANTAGE dan ENTRY BARIER Kompetitor Akibat “Euforia AI”

Bursa Kerja yang Tergusur oleh Bursa Industri AI (Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence)

Sudah menjadi pemandangan lumrah, pelaku usaha, produser, hingga programmer “tanpa pegawai” alias solopreneur. Namun, itu bukanlah fenomena mengerikan terbaru, harga yang harus dibayar oleh rakyat global dibalik “euforia AI”. Kini, dikabarkan telah banyak perusahaan kecil maupun perusahaan raksasa yang tidak lagi menyewa penyedia jasa untuk menghasilkan produk, semisal video iklan pariwara untuk mempromosikan produk junkfood mereka, membuat geram para pekerja seni maupun produser iklan yang selama ini hidup dan menghidup karyawannya dengan merancang dan memproduksi iklan pariwara.

Ada dua hal yang jarang dipahami masyarakat yang kian asyik dan sibuk tenggelam dalam “euforia AI”. Pertama, janganlah kita bersikap seolah-olah kompetitor maupun pengguna jasa Anda tidak dapat mengakses dan menggunakan AI yang sama dengan yang Anda gunakan ataupun yang akan Anda gunakan. Kedua, janganlah bersikap seolah-olah Anda diuntungkan oleh keberaaan AI. Faktanya, kompetitor Anda bermunculan secara masif, termasuk jutaan warga di Somalia maupun Bangladesh yang siap menjual murah jasanya, mampu menghasilkan produk video maupun musik serupa, dengan memakai AI yang serupa dengan yang Anda gunakan.

Siapakah yang pada akhirnya diuntungkan alias mengambil keuntungan besar, dibalik tergusurnya “bursa kerja”? Tidak lain tidak bukan ialah “industri AI” itu sendiri, dimana fenomena “bursa AI” menggurita dan mampu mengambil-alih sebagian fungsi pekerjaan konvensional, yang kelak akan mengambil-alih untuk seluruhnya ketika “robot + AI” kian diproduksi secara masif dan murah harganya. Kini, Anda mungkin menikmati berbagai “keuntungan” dibalik “industri AI”, bagaikan sedang diberikan “permen” agar Anda senang, dan bergantung padanya, serta pamor AI menjadi “trending topik” yang semakin masif dan meluas. Dengan cara demikianlah, valuasi “industri AI” mengalami fenomena peningkatan grafik pengguna secara eksponensial, harga sahamnya meningkat dan investor siap menggelontorkan dana tanpa batasan, berkat daya-ungkit “euforia AI” yang bahkan dikampanyekan oleh petinggi bangsa sekaliber Wakil Presiden Republik Indonesia yang kerap sesumbar perihal AI kepada anak-anak sekolahan yang hasil Tek Kemampuan Akademiknya dibawah rata-rata.

Perhatikan hoaks terbesar dibalik “industri AI” berikut : AI hanyalah “alat bantu”, AI tidak bisa menggantikan manusia dalam fungsi pekerjaan. Agar tidak kalah bersaing, maka gunakanlah AI sebagai pengguna aktif. Namun, tengoklah realita, betapa “bursa kerja” kini minim lowongan pekerjaan bagi “pekerja manusia” (human labor). Para pelaku usaha mulai menjelma pelaku usaha tunggal tanpa pegawai, tanpa karyawan, tanpa buruh. Bahkan perusahaan besar sekaliber manufaktur pembuatan kendaraan bermotor roda empat yang begitu komplekss proses produksinya, telah ternyata berkat “padat modal plus robotik AI”, mampu memproduksi kendaraan bermotor TANPA SEORANG PUN PEKERJA MANUSIA di pabriknya. Hanya terdapat pekerja manusia berupa petugas kebersihan, yang itu pun cepat atau lambat akan digantikan dan tergantikan.

Sekarang ini telah dapat kita jumpai restoran, dimana tidak ada koki manusia, tidak ada pramusaji manusia, tiada kasir manusia, semuanya digerakkan oleh tenaga-tenaga “robot powered by AI”. Kapitalisasi dana yang semula dialokasikan untuk belanja pegawai (upah atau gaji pekerja / buruh), kini beralih menjadi pundi-pundi segar bagi pemilik “industri AI”. Pada titik itulah, “bursa AI” laris-manis, sementara “bursa kerja” tenggelam. Di China, robot-robot berpenggerak kecerdasan-buatan bukan hanya merambah sektor pergudangan, ia juga telah masuk hingga ke pedesaan untuk pertanian hingga jasa kurir, yang sebelumnya diprediksi tidak akan mampu tergantikan oleh robot maupun AI.

Ledakan generasi muda di China yang menganggur, telah memasuki fase yang mengerikan. Mereka bahkan mengklaim sebagai “generasi terakhir China”. Angka pernikahan merosot, populasi mereka pun turut menurun. Kaum wanita mengalami kepanikan massal, umur terus bertambah namun menjomblo, serta sekalipun bergelar akademik strata-dua namun “jobless”, sudah menjadi pemandangan umum di Tiongkok belakangan ini. Tetap saja “industri robotik” dan “industri AI” di China seakan “kesetanan”, menekan dalam-dalam pedal-gas (akselerasi penuh, mengatas-namakan “perang dagang”) tanpa sekalipun berpikir untuk menekan pedal rem dan menyadari kondisi generasi muda mereka yang telah berdarah-darah.

Dalam kesempatan sebelumnya, penulis telah membahas perihal “matinya ‘comparative advantage’ akibat AI”. Itu adalah pengungkapan paling terjujur yang dapat Anda temukan, diantara berbagai kepalsuan dibalik hingar-bingar disrupsi AI. Sedikit mengulang pembahasan penting tersebut, karena tiada satupun pemerhati teknologi digital yang menyadari bahaya paling laten dari “industri AI” yang dibiarkan merajalela tanpa “Analisis Mengenai Dampak Sosial-Ekonomi” (AMDSE), bahwa Ai sejatinya tidak mambantu pekerjaan Anda, namun justru mematikan talenta dan keunikan dari karya-karya Anda sebelumnya. Dengan mudahnya AI mencuri dan membajak karya-karya tulis maupun karya-karya seni para penulis dan seniman. Ketika seorang pelaku seni maupun penulis mulai menggunakan AI untuk berkarya, sama artinya mereka telah mengkhianati profesinya sendiri.

Janganlah bangga ketika Anda mampu memproduksi video sinematik sekaliber film Hollywood, tanpa mengeluarkan biaya untuk pegawai maupun proses produksi film / sinema yang selama ini dikenal berbiaya tinggi anggarannya (high cost industry), semudah menggunakan AI generator. Jangan lupa, bahwa faktanya pesaing Anda pun mampu menghasilkan output produk video serupa. Yang lebih mengerikan ialah, SEMUA ORANG DI SELURUH DUNIA DAPAT / BERPOTENSI MENJADI KOMPETITOR ANDA. Peluang Anda untuk bersaing di persaingan / kompetisi, kian menipis. Para penduduk di Bangladesh maupun di Suriah ataupun di India, dapat membanting harga jasa maupun produknya ke titik nadir, akibat “over supply” penyedia jasa, mengingat bahwa kini mereka pun mampu menghasilkan jasa / produk yang serupa dengan Anda.

Hanya orang dungu, yang tidak mampu membaca bahaya yang tersembunyi dibalik sesuatunya. Yang paling mengerikan, kini benar-benar terjadi, pengguna jasa tidak lagi memakai jasa pihak eksternal, karena penggna jasa kini juga dapat mengakses serta menggunakan AI yang serupa dengan yang Anda gunakan ataupun akan gunakan, tentunya dengan “fitur premium” yang tidak terbeli oleh Anda. Alhasil, “demand” menurun drastis, sementara di luar sana banjir “over supply”. Ketika “supply” tidak lagi sebanding dengan “demand”, akibatnya jelas, tidak butuh gelar ekonom untuk menjelaskannya, “perang harga” menjadi begitu irasional, bukan lagi “banting harga”, akan tetapi “menjual harga diri”, dimana video sekaliber Hollywood bisa jadi ditawarkan dengan biaya jasa hanya setara dengan harga segelas kopi.

Di industri hukum, banyak kantor-kantor hukum besar yang juga terjebak dalam “euforia AI”. Mereka merasa terbantu oleh kemudahan yang ditawarkan serta dihadirkan oleh AI untuk menganalisa dan membuat dokumen hukum. Pertanyaannya, apakah hanya mereka yang bisa mengakses AI, sementara kompetitor mereka, jutaan Sarjana Hukum yang selama ini tersisih dan terpinggirkan, tidak dapat mengakses dan menggunakan AI serupa? Alhasil, tiada lagi keistimewaan ataupun keunikan dari jasa ataupun produk hukum yang dihasilkan oleh berbagai firma hukum besar demikian. Kantor-kantor hukum besar pengguna AI tersebut, perlahan namun pasti, akan turut tenggelam pamornya, kehilangan keunikan, tiada lagi “comparative advantage”.

Singkatnya, dunia pra-“industri AI”, kita mengenal istilah kompetisi maupun persaingan usaha yang sehat, berkat penyedia barang maupun jasa yang memiliki keunikan atau keunggulan tertentu bernama “comparative advantages” yang sukar untuk ditiru oleh kompetitor yang ada serta menjadi “entry barier” bagi calon pesaing lainnya untuk memasuki pasar yang sama. Pada era disrupsi AI dewasa kini, tiada lagi “entry barier”, gugurnya “comparative advantage”, dimana kompetitor Anda bukanlah lagi sesama anak bangsa, namun juga jutaan rakyat kelaparan di negara-negara lain luar sana yang siap untuk menjual jasanya dengan harga serendah segelas kopi. Bersediakah Anda menggadaikan martabat profesi Anda, hanya demi segelas kopi?

Sekadar informasi, mulai terdapat riak-riak berupa gerakan berupa penolakan terhadap “industri AI” di negara-negara maju yang terdampak dan mulai menyadari bahaya dibalik penetrasi AI di pasar yang mengakibatkan gugur-tumbangnya “bursa kerja”. Ironisnya, pergerakan yang sama belum muncul di Indonesia, yang masih “euforia” dan kian kecanduan terhadap sesuatu yang kelak dalam waktu dekat akan menyingkirkan mereka dari “bursa kerja” maupun kompetisi. Ekonomi nasional maupun global tidak akan pernah lagi pulih, tiada “perputaran uang” akibat tiada pegawai yang memiliki penghasilan berupa gaji / upah bulanan, yang ada ialah pemusatan kapitalisasi pada para pemodal dibalik “industri AI”, yang sebagian besar justru berada di luar negeri.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.