“Para bhikkhu, ketakutan apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan karena seorang bijaksana; kesulitan apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan karena seorang bijaksana; bencana apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan karena seorang bijaksana. Demikianlah si dungu membawa ketakutan, si bijaksana tidak membawa ketakutan; si dungu membawa kesulitan, si bijaksana tidak membawa kesulitan; si dungu membawa bencana, si bijaksana tidak membawa bencana. Tidak ada ketakutan yang datang dari si bijaksana, tidak ada kesulitan yang datang dari si bijaksana, tidak ada bencana yang datang dari si bijaksana.” [SANG BUDDHA]
Sifat dungu, bukanlah sesuatu yang dipandang oleh kebanyakan orang sebagai sesuatu yang sifatnya “harmless”. Sifat dungu, cenderung berbahaya dan orang dungu seringkali membahayakan atau membawa bahaya bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Jauh dari sifat dungu, dengan cara itulah seseorang dapat disebut seorang bijaksana dan seorang penyelidik. Sifat dungu tidak pandang umur, sekalipun seseorang telah berambut putih, akan tetapi sifat dan sikap dungu dapat tetap bersarang dalam dirinya karena dipelihara dan diberi asupan “makan” setiap hari sepanjang hidupnya.
Tiada orang yang lebih dungu, daripada mereka yang justru
merepotkan dirinya menanam perbuatan-perbuatan buruk, untuk mereka petik
sendiri pahit-getirnya buah Karma Buruk. Repot-repot menanam Karma Buruk, lebih dungu
daripada orang pemalas yang bersikap pasif dengan tidak berbuat apapun
sepanjang hidupnya. Banyak kita jumpai dalam realita pengalaman kita sendiri
ataupun lewat pemberitaan, semisal koruptor mengoleksi segudang harta kekayaan,
yang tidak akan pernah dapat habis ia konsumsi sepanjang hidupnya, namun Karma
Buruk sebesar itulah yang akan ia warisi di kehidupan-kehidupan berikutnya. Pertanyaan
relevannya, apakah itu layak?
Merujuk doktrin dan konsep ilmu pidana yang
selama ini diberlakukan di Indonesia, kesalahan pidana terbagi menjadi dua
derajat, yakni kesengajaan (dolus) dan kelalaian (culpa). Akan tetapi,
sifat dungu belumlah diakui secara legal-formal sebagai kesalahan pidana yang
dapat dimintakan pertanggung-jawaban. Itulah sebabnya, penulis kerap menyebutkan
bahwa sifat naif (ignorant) tetap harus dipidana, bahkan sifatnya ialah “strict
liability” alias pihak Jaksa Penuntut Umum tidak perlu membuktikan adanya
unsur kesengajaan ataupun kelalaian yang menjadi niat batin sang pelaku. Mungkin
akar kata “ignorant” ialah “ignore” (Bahasa Inggris), yang bermakna : mengabaikan,
tak mengindahkan, tidak mengambil perduli. Ia tidak akan perduli, apakah dirinya menyeret
serta orang lain menuju petaka atau menjadikan orang lain terkena “getah”-nya.
Sifat dan sikap dungu, adalah benih dan perbuatan jahat itu
sendiri, yang karenanya perlu kita waspadai potensi sifat dungu dalam diri
ataupun ketika mendapati orang yang sedang kita hadapi notabene merupakan tipikal
“orang dungu”—bisa jadi mereka tidak takut masuk penjara ataupun masuk neraka,
karenanya mereka tidak merasa malu ataupun takut baik terhadap hukum negara
maupun hukum karma, dengan tetap mencelakai orang lain—merasa senang, atau
bahkan gemar merepotkan diri melakukan kejahatan-kejahatan.
Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~ SUTTA 115 ~
Bahudhātuka Sutta: Banyak Jenis Unsur
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, ketakutan
apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan karena seorang
bijaksana; kesulitan apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan
karena seorang bijaksana; bencana apapun yang muncul, semuanya muncul karena si
dungu, bukan karena seorang bijaksana. Seperti halnya api yang muncul di sebuah lumbung
yang terbuat dari rumpun gelagah atau rerumputan akan membakar bahkan
rumah-rumah beratap lancip, dengan dinding yang diplester luar dan dalam, yang
tertutup, terkunci dengan palang, dengan jendela berpenutup; demikian pula,
para bhikkhu, ketakutan apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu,
bukan karena seorang bijaksana; kesulitan apapun yang muncul, semuanya muncul
karena si dungu, bukan karena seorang bijaksana; bencana apapun yang muncul,
semuanya muncul karena si dungu, bukan karena seorang bijaksana. Demikianlah si dungu membawa
ketakutan, si bijaksana tidak membawa ketakutan; si dungu membawa kesulitan, si
bijaksana tidak membawa kesulitan; si dungu membawa bencana, si bijaksana tidak
membawa bencana. Tidak ada ketakutan yang datang dari si bijaksana, tidak ada
kesulitan yang datang dari si bijaksana, tidak ada bencana yang datang dari si
bijaksana. Oleh
karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami harus menjadi
orang bijaksana, kami harus menjadi penyelidik.’” [62]
3. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda bertanya kepada Sang
Bhagavā: “Dengan cara bagaimanakah, Yang Mulia, seorang bhikkhu dapat disebut
seorang bijaksana dan seorang penyelidik?”
“Ketika,
Ānanda, seorang bhikkhu terampil dalam unsur-unsur, terampil dalam
landasan-landasan, terampil dalam kemunculan bergantungan, terampil dalam apa
yang mungkin dan apa yang tidak mungkin, dengan cara itulah ia dapat disebut
seorang bijaksana dan seorang penyelidik.”
(UNSUR-UNSUR)
4. “Tetapi, Yang Mulia, dengan cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat
disebut terampil
dalam unsur-unsur?”
“Terdapat, Ānanda, delapan belas unsur ini: unsur mata, unsur bentuk,
unsur kesadaran-mata; unsur telinga, unsur suara, unsur kesadaran-telinga;
unsur hidung, unsur bau-bauan, unsur kesadaran-hidung; unsur lidah, unsur rasa
kecapan, unsur kesadaran-lidah; unsur badan, unsur objek sentuhan, unsur kesadaran-badan;
unsur pikiran, unsur objek-pikiran, unsur kesadaran-pikiran. Ketika ia
mengetahui dan melihat kedelapan-belas unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Delapan belas unsur ini
didefinisikan dalam Vibhaṅga §§183-84 / 87-90 dan dijelaskan secara terperinci
dalam Visuddhimagga XV, 17-43. Secara ringkas, unsur pikiran (manodhātu),
menurut Abhidhamma, termasuk kesadaran yang beralih pada kelima objek indria
yang mengalami kontak dengan kelima organ indria (pañcadvārāvajjana-citta)
dan kesadaran yang menerima objek setelah dikenali melalui indria-indria (sampaṭicchana-citta).
Unsur kesadaran-pikiran (manoviññāṇadhātu)
termasuk semua jenis kesadaran kecuali kesadaran lima indria dan unsur pikiran.
Unsur objek-pikiran (dhammadhātu) termasuk jenis-jenis fenomena
materi yang halus yang tidak terlibat dalam pengenalan indria, yaitu ketiga
kelompok unsur batin perasaan, persepsi, dan bentukan-bentukan, dan Nibbāna.
Tidak termasuk konsep-konsep, gagasan-gagasan abstrak, penilaian-penilaian, dan
sebagainya. Walaupun yang terakhir ini termasuk dalam gagasan objek-pikiran (dhammārammaṇa), unsur
objek-pikiran hanya termasuk hal-hal yang ada karena sifat alaminya, bukan
hal-hal yang dibentuk oleh pikiran.]
5. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada, Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur tanah, unsur air,
unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran. Ketika ia mengetahui
dan melihat keenam unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam
unsur-unsur.”
6. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur kenikmatan, unsur kesakitan,
unsur kegembiraan, unsur kesedihan, unsur keseimbangan, dan unsur
ketidak-tahuan. Ketika ia mengetahui dan melihat keenam unsur ini, maka seorang
bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Ini didefinisikan dalam Vibhaṅga §§180 / 85-86. Unsur kenikmatan dan kesakitan adalah perasaan
menyenangkan dan menyakitkan dalam jasmani; unsur kegembiraan dan kesedihan
adalah perasaan menyenangkan dan menyakitkan dalam batin; unsur keseimbangan
adalah perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. Kitab Komentar mengatakan bahwa ketidak-tahuan
disebutkan karena jelas serupa dengan unsur keseimbangan.]
7. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur keinginan indria, unsur
pelepasan keduniawian, unsur permusuhan, unsur tanpa permusuhan, [63] unsur
kekejaman, dan unsur tanpa-kekejaman. Ketika ia mengetahui dan melihat keenam
unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Vibhaṅga §§183 / 86-87 mendefinisikan ini sebagai enam yang bersesuaian dengan
jenis-jenis awal pikiran (vitakka); baca Majjhima Nikāya 19.2. Karena
terampil dalam “mengetahui dan melihat keenam unsur ini”, maka ia mampu
membedakan manakah yang merupakan unsur keinginan indria, unsur pelepasan
keduniawian, unsur permusuhan, unsur tanpa permusuhan, unsur kekejaman, maupun unsur
tanpa-kekejaman.]
8. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, tiga unsur ini: unsur alam-indria, unsur materi
halus, dan unsur tanpa materi. Ketika ia mengetahui dan melihat ketiga unsur
ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar menjelaskan unsur bidang-indria
sebagai kelima kelompok unsur kehidupan yang berhubungan dengan alam-indria (kāmāvacara),
unsur materi-halus sebagai kelima kelompok unsur kehidupan yang berhubungan
dengan alam-materi halus (rūpāvacara), dan unsur tanpa materi sebagai
empat kelompok unsur kehidupan yang berhubungan dengan alam tanpa materi (arūpāvacara).]
9. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, dua unsur ini: unsur terkondisi dan unsur tidak
terkondisi. Ketika ia mengetahui dan melihat kedua unsur ini, maka seorang
bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Unsur terkondisi termasuk segala
sesuatu yang dihasilkan oleh kondisi dan merupakan sebutan bagi “kelima
kelompok unsur kehidupan”. Unsur tidak terkondisi adalah Nibbāna.
Karakteristik ketidak-kekalan yang menandai segala
sesuatu yang terkondisi, mengarah secara langsung pada pengenalan universalitas
dukkha atau penderitaan. Sang Buddha menggaris-bawahi aspek dukkha
yang meliputi segalanya ini ketika, dalam penjelasannya pada kebenaran mulia
pertama, Beliau berkata, “singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang
terpengaruh oleh kemelekatan adalah penderitaan.”
Kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan (pañc’upādānakkhandhā)
adalah skema pengelompokan yang dirancang oleh Sang Buddha untuk
mendemonstrasikan sifat personalitas. Skema ini terdiri dari segala jenis
keterkondisian yang mungkin, yang tersebar dalam lima kategori – bentuk materi,
perasaan, persepsi, bentukan-bentukan pikiran, dan kesadaran.
Kelompok unsur bentuk materi (rūpa) termasuk jasmani fisik dengan organ-organ indrianya serta
objek-objek materi eksternal. Kelompok unsur perasaan (vedanā) adalah unsur perasaan dalam
pengalaman, apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral. Persepsi (saññā), kelompok unsur ke tiga, adalah
faktor yang bertanggung jawab untuk mencatat kualitas-kualitas segala sesuatu
dan juga merupakan pelaku dalam pengenalan dan ingatan. Kelompok unsur bentukan-bentukan (sankhārā) adalah sebuah istilah payung yang
mencakup segala kehendak, emosi, dan aspek-aspek intelektual dari pikiran. Dan kesadaran (viññāṇa), kelompok
unsur ke lima, adalah kesadaran dasar dari suatu objek yang sangat diperlukan
bagi segala kognisi.
Seperti yang ditunjukkan oleh Yang Mulia Sāriputta
dalam analisis cerdasnya atas kebenaran mulia pertama, perwakilan dari seluruh “lima
kelompok unsur kehidupan” hadir pada setiap kesempatan pengalaman, muncul
sehubungan dengan masing-masing dari keenam organ indria dan objek-objeknya.
Pernyataan Sang Buddha bahwa “kelima kelompok unsur
kehidupan” adalah dukkha, mengungkapkan bahwa segala sesuatu yang sedang
kita identifikasikan dan kita anggap sebagai landasan bagi kebahagiaan, jika
dilihat dengan benar, adalah landasan bagi penderitaan. Bahkan ketika kita
merasa diri kita sedang nyaman dan aman, ketidak-stabilan kelompok-kelompok
unsur kehidupan itu sendiri adalah sumber tindasan dan mempertahankan kita
terus-menerus diterpa oleh penderitaan dalam bentuk yang lebih mencolok.
Keseluruhan situasi menjadi berlipat ganda lebih
jauh lagi pada dimensi yang di luar jangkauan perhitungan ketika kita
memperhitungkan pengungkapan Sang Buddha atas fakta kelahiran kembali. Semua
makhluk yang ketidak-tahuan dan ketagihannya masih ada akan mengembara dalam
lingkaran kelahiran berulang, saṁsāra (lafal baca :
“sang-saa-ra”), tidak kekal dan tunduk pada perubahan, tidak mampu memberikan
keamanan yang bertahan lama. Kehidupan di alam manapun adalah tidak stabil,
terhanyutkan, tanpa naungan dan pelindung, tidak memiliki apa-apa.]
(LANDASAN-LANDASAN)
10. “Tetapi, Yang Mulia, dengan cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat
disebut terampil
dalam landasan-landasan?”
“Terdapat,
Ānanda, enam landasan indria internal dan eksternal ini: mata dan
bentuk-bentuk, telinga dan suara-suara, hidung dan bau-bauan, lidah dan rasa
kecapan, badan dan objek-objek sentuhan, pikiran dan objek-objek pikiran.
Ketika ia mengetahui dan melihat keenam landasan internal dan eksternal ini,
maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam landasan-landasan.”
[Kitab Komentar : Kedua-belas landasan didefinisikan
dalam Vibhaṅga §§155-167/70-73 dan dijelaskan dalam
Visuddhimagga XV, 1-6. landasan pikiran termasuk semua jenis kesadaran, dan
dengan demikian terdiri dari seluruh tujuh unsur yang memfungsikan kesadaran.
Landasan objek-pikiran adalah identik dengan unsur objek-pikiran.]
(KEMUNCULAN
BERGANTUNGAN)
11. “Tetapi, Yang Mulia, dengan cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat
disebut terampil
dalam kemunculan bergantungan?”
[Kitab Komentar : Formulasi umum “Empat Kebenaran
Mulia” sesungguhnya adalah versi ringkas dari formulasi yang lebih panjang yang
mengungkapkan asal-mula dan lenyapnya keterikatan dalam saṁsāra. Doktrin dalam
versi yang lebih luas dari pembabaran kedua kebenaran ini disebut paṭicca samuppāda, kemunculan
bergantungan. Dalam pernyataan
yang paling lengkapnya doktrin ini menjelaskan asal-mula dan lenyapnya
penderitaan dalam formula dua belas faktor yang saling berhubungan dalam
sebelas dalil.
Yang Mulia Sāriputta mengutip kata-kata Sang Buddha
bahwa seorang yang melihat kemunculan bergantungan melihat Dhamma dan seorang
yang melihat Dhamma melihat kemunculan bergantungan. Menurut interpretasi
biasa, rangkaian dua belas faktor merentang hingga tiga masa kehidupan dan
dibagi dalam tahap sebab dan akibat.
Karena ketidak-tahuan (avijjā) – didefinisikan sebagai ketiadaan
pengetahuan atas Empat Kebenaran Mulia – maka seseorang terlibat dalam
perbuatan-perbuatan berkehendak atau kamma, yang dapat berupa jasmani,
ucapan, atau pikiran, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Perbuatan-perbuatan kamma
ini adalah bentukan-bentukan (sankhārā), dan matang dalam kondisi-kondisi
kesadaran (viññāṇa) – pertama sebagai
kesadaran kelahiran kembali pada momen konsepsi dan setelah itu sebagai kondisi
kesadaran pasif yang dihasilkan dari kamma yang matang dalam perjalanan
sepanjang kehidupan.
Bersama dengan kesadaran di sana muncul batin-jasmani (nāmarupa), yaitu organisme psikofisikal,
yang dilengkapi dengan enam
landasan (saḷāyatana), kelima
organ indria fisik dan pikiran sebagai indria dengan fungsi kognisi yang lebih
tinggi. Melalui organ indria, kontak (phassa) terjadi antara kesadaran dan objeknya,
dan kontak mengondisikan perasaan (vedanā).
Mata rantai dari kesadaran hingga perasaan adalah
produk kamma masa lampau, dari tahap sebab yang diwakili oleh
ketidak-tahuan dan bentukan-bentukan. Dengan mata rantai berikutnya tahap aktif
secara kamma dari kehidupan sekarang dimulai, menghasilkan penjelmaan
baru di masa depan.
Dengan dikondisikan oleh perasaan, maka ketagihan (taṇhā) muncul, ini adalah
kebenaran mulia ke dua. Ketika ketagihan menguat, maka akan memunculkan kemelekatan (upādāna), yang dengannya sekali lagi
seseorang akan terlibat dalam perbuatan-perbuatan berkehendak yang penuh dengan
penjelmaan
baru (bhava).
Penjelmaan baru dimulai dari kelahiran (jāti), yang tak terhindarkan akan mengarah
pada penuaan
dan kematian (jarāmaraṇa).
Ajaran kemunculan bergantungan juga menunjukkan
bagaimana lingkaran / siklus kehidupan (tumimbal-lahir) dapat dipatahkan. Dengan munculnya pengetahuan sejati, penembusan
sepenuhnya pada Empat Kebenaran Mulia, maka ketidak-tahuan dapat dilenyapkan. Akibatnya, pikiran tidak lagi menuruti ketagihan
dan kemelekatan, perbuatan kehilangan potensinya untuk menghasilkan kelahiran
kembali, dan bahan bakarnya dihilangkan, lingkaran itu berakhir. Hal ini
menandai tujuan ajaran yang disiratkan oleh kebenaran mulia ke tiga, yaitu lenyapnya penderitaan.]
“Di sini, Ānanda, seorang
bhikkhu mengetahui sebagai berikut: “Jika ini ada, maka itu terjadi; dengan
munculnya ini, maka muncul pula itu. Jika ini tidak ada, maka itu tidak
terjadi; dengan lenyapnya ini, maka lenyap pula itu. Yaitu, dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi,
maka bentukan-bentukan [muncul]; dengan bentukan-bentukan sebagai kondisi, maka
kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, maka batin-jasmani; dengan
batin-jasmani sebagai kondisi, maka enam landasan; dengan enam landasan sebagai
kondisi, maka kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan; dengan
perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan; dengan ketagihan sebagai kondisi,
maka kemelekatan; dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka [64] penjelmaan;
dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai
kondisi, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan terjadi. Demikianlah
asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini.
[Komentar : Mengapa terdapat serta terjadi “penuaan
dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan”?
Karena adanya “kelahiran sebagai kondisi”. Mengapa ada kelahiran? Bila kita
rujuk dengan urutan yang dibalik, maka pangkal-sebabnya ialah adanya “ketidak-tahuan
sebagai kondisi”.]
“Tetapi
dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan, maka lenyap pula
bentukan-bentukan; dengan lenyapnya bentukan-bentukan, maka lenyap pula
kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula batin-jasmani; dengan
lenyapnya batin-jasmani, maka lenyap pula enam landasan; dengan lenyapnya enam
landasan, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula
perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan
lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya
kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka
lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan
kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan
penderitaan ini.’ Dengan cara inilah, Ānanda, seorang bhikkhu dapat disebut
terampil
dalam kemunculan bergantungan.”
(YANG
MUNGKIN DAN YANG TIDAK MUNGKIN)
12. “Tetapi, Yang Mulia, dengan
cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam apa yang mungkin
dan apa yang tidak mungkin?”
“Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu memahami: ‘Adalah mustahil, tidak
mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar dapat menganggap
bentukan apapun sebagai kekal – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat
menganggap suatu bentukan sebagai kekal – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi
bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar dapat menganggap bentukan apapun
sebagai menyenangkan – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat
menganggap suatu bentukan sebagai menyenangkan – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak
mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar dapat menganggap
apa pun sebagai diri – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat
menganggap sesuatu sebagai diri – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Tidak ada kemungkinan seseorang
yang memiliki pandangan benar dapat menganggap bentukan apapun sebagai kekal.
Seseorang yang memiliki pandangan benar (diṭṭhisampanno) adalah
seorang yang memiliki pandangan sang jalan, seorang siswa mulia dengan tingkat
minimal pemasuk-arus. “Bentukan” di sini harus dipahami sebagai bentukan
terkondisi (sankhatasankhāra) yaitu, segala sesuatu yang terkondisi.
Tidak ada kemungkinan seseorang yang memiliki
pandangan benar dapat menganggap bentukan apapun sebagai menyenangkan. Itu menunjukkan
bahwa seorang siswa mulia di bawah tingkat Kearahantaan masih dapat memahami
bentukan-bentukan sebagai menyenangkan dengan pikiran yang terlepas dari
pandangan salah, tetapi ia tidak dapat mengadopsi pandangan bahwa segala
bentukan adalah menyenangkan. Walaupun persepsi dan pikiran atas
bentukan-bentukan sebagai menyenangkan muncul dalam dirinya, ia mengetahui
melalui perenungan bahwa gagasan demikian adalah keliru.
Ada kemungkinan bahwa seorang biasa dapat menganggap
sesuatu sebagai diri. Dalam paragraf tentang “diri” ini, sankhāra,
“bentukan”, digantikan oleh dhamma, “sesuatu”. Kitab Komentar
menjelaskan bahwa penggantian ini dilakukan untuk memasukkan konsep-konsep,
seperti gambaran kasiṇa, dan sebagainya, yang oleh orang biasa cenderung diidentifikasikan
sebagai “diri”. Akan tetapi, dengan memandang fakta bahwa Nibbāna
digambarkan sebagai tidak dapat hancur (accuta) dan sebagai kebahagiaan
(sukha), dan juga dapat disalah-pahami sebagai “diri” (baca Majjhima
Nikāya 1.26), kata sankhāra dapat dianggap hanya termasuk yang
terkondisi, sedangkan dhamma termasuk baik yang terkondisi maupun yang
tidak terkondisi. Akan tetapi, interpretasi ini tidak disetujui oleh
komentar-komentar dari Ācariya Buddhaghosa.]
13. “Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang
yang memiliki pandangan benar dapat membunuh ibunya – tidak ada kemungkinan
seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat membunuh
ibunya – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak
mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar dapat membunuh
ayahnya … dapat membunuh seorang Arahant – tidak ada kemungkinan seperti itu.’
Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat membunuh ayahnya …
dapat membunuh seorang Arahant – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami:
‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan
benar dapat, dengan pikiran membenci, melukai seorang Tathāgata hingga berdarah
– tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa
seorang biasa dapat, dengan pikiran membenci, melukai seorang Tathāgata hingga
berdarah – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi
bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar dapat memecah-belah Saṅgha … dapat menerima
ajaran guru lain – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat
memecah-belah Saṅgha … dapat menerima
ajaran guru lain – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Bagian di atas membedakan orang
biasa dan siswa mulia dalam hal lima kejahatan berat. Kitab Komentar
menunjukkan bahwa seorang siswa mulia tidak mampu secara sengaja membunuh
makhluk hidup, tetapi perbedaan yang diberikan di sini melalui pembunuhan ibu
dan pembunuhan ayah menekankan pada sisi bahaya dari kondisi orang biasa dan
kekuatan seorang siswa mulia.
Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat menerima
ajaran guru lain, yaitu, dapat mengakui seorang lain selain Sang Buddha sebagai
guru spiritual tertinggi.]
14. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa dua orang Yang Sempurna, Yang Tercerahkan
Sempurna dapat muncul pada masa yang sama dalam satu sistem dunia – tidak ada
kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa satu orang Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna dapat muncul
dalam satu sistem dunia – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi
bahwa dua orang Raja Pemutar-Roda dapat muncul pada masa yang sama dalam satu
sistem dunia – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa satu orang Raja
Pemutar-Roda dapat muncul dalam satu sistem dunia – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Kemunculan seorang Buddha lain
adalah tidak mungkin terjadi sejak pada saat seorang Bodhisatta memasuki rahim
ibunya dalam kehidupan terakhirNya hingga PengajaranNya lenyap sama sekali.
Persoalan ini dibahas dalam Milindapañha 236-39.]
15. “Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seorang
perempuan dapat menjadi seorang Yang Sempurna, seorang Yang Tercerahkan
Sempurna – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin
bahwa seorang laki-laki dapat menjadi seorang Yang Sempurna, seorang Yang
Tercerahkan Sempurna – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seorang perempuan dapat menjadi seorang
Raja Pemutar-Roda … bahwa seorang perempuan dapat menempati posisi Sakka [66] …
bahwa seorang perempuan dapat menempati posisi Māra … bahwa seorang perempuan
dapat menempati posisi Brahmā – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia
memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang laki-laki dapat menjadi seorang Raja Pemutar-Roda
… bahwa seorang laki-laki dapat menempati posisi Sakka … bahwa seorang
laki-laki dapat menempati posisi Māra … bahwa seorang laki-laki dapat menempati
posisi Brahmā – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Pernyataan ini hanya menegaskan
bahwa seorang Buddha yang Tercerahkan Sempurna adalah selalu berjenis kelamin
laki-laki, tetapi tidak menyangkal bahwa seorang yang sekarang adalah perempuan
dapat menjadi seorang Yang Tercerahkan Sempurna di masa depan. Akan tetapi,
untuk menjadi demikian, pada tahap awalnya, ia harus terlahir kembali
sebagai seorang laki-laki.
Dalam Buddhisme, tidak ada diskriminasi gender
secara absolut, mengingat setiap individu yang kini terlahir bergender pria,
dalam kehidupan sebelumnya, tidak terhitung jumlahnya telah pernah terlahir
sebagai seorang perempuan, demikian juga sebaliknya.]
16. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku jasmani yang salah. Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku ucapan yang salah. Adalah mustahil,
tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku pikiran yang salah - tidak ada
kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa suatu akibat yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku jasmani yang salah. Adalah mungkin
bahwa suatu akibat yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan
dapat dihasilkan dari perilaku ucapan yang salah. Adalah mungkin bahwa suatu
akibat yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan dapat
dihasilkan dari perilaku pikiran yang salah - ada kemungkinan seperti itu.’
17. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang tidak diharapkan, tidak
diinginkan, tidak menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku jasmani yang
baik. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang tidak
diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku
ucapan yang baik. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat
yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan dapat dihasilkan
dari perilaku pikiran yang baik – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin terjadi bahwa suatu
akibat yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku
jasmani yang baik. Adalah mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan,
diinginkan, menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku ucapan yang baik.
Adalah mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku pikiran yang baik – ada kemungkinan
seperti itu.’
18. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni perbuatan salah
dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. [67] Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang
menekuni perbuatan salah dalam ucapan dapat karena hal itu, karena alasan itu,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia,
bahkan di alam surga. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang
yang menekuni perbuatan salah dalam pikiran dapat karena hal itu, karena alasan
itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seseorang yang
menekuni perbuatan salah dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam menderita,
di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Adalah
mungkin bahwa seseorang yang menekuni perbuatan salah dalam ucapan dapat karena
hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul
kembali di alam menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka . Adalah mungkin bahwa seseorang yang menekuni perbuatan salah
dalam pikiran dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam menderita, di alam yang tidak
bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Dalam paragraf di atas, perihal “Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni perbuatan salah
dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. ... yang menekuni perbuatan salah dalam ucapan dapat karena hal itu, karena
alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga. ... yang menekuni perbuatan salah dalam pikiran
dapat karena
hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga – tidak ada kemungkinan seperti itu.”, frasa “karena hal itu, karena alasan itu” (tannidāna tappaccayā) adalah sangat
penting. Seperti yang akan diperlihatkan oleh Sang Buddha dalam Majjhima Nikāya
136, seorang yang menekuni perbuatan jahat mungkin terlahir kembali di alam
surga dan seorang yang menekuni perbuatan baik mungkin terlahir kembali di alam
rendah. Tetapi dalam kasus-kasus itu kelahiran kembali itu disebabkan oleh
beberapa kamma yang berbeda dengan kamma dari kebiasaan yang ia
tekuni. Hukum yang ketat hanya berlaku pada hubungan antara kamma dan
akibatnya.]
19. “Ia
memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni
perbuatan benar dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam menderita, di alam
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Adalah mustahil,
tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam
ucapan dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, muncul kembali di alam menderita, di alam yang tidak bahagia,
dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi
bahwa seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam pikiran dapat karena hal
itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul
kembali di alam menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seseorang yang menekuni
perbuatan benar dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di
alam surga. Adalah mungkin bahwa seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam
ucapan dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Adalah
mungkin bahwa seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam pikiran dapat
karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian,
muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga – ada kemungkinan seperti
itu.’
“Dengan cara inilah, Ānanda, seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam apa yang
mungkin dan apa yang tidak mungkin.”
(PENUTUP)
20. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang
Bhagavā: “Sungguh
mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Apakah nama dari khotbah Dhamma ini?”
“Engkau boleh mengingat khotbah Dhamma ini, Ānanda, sebagai ‘Banyak Jenis
Unsur’ dan sebagai ‘Empat Putaran’1092 dan sebagai ‘Cermin Dhamma’ dan sebagai
‘Tambur Tanpa-Kematian’ dan sebagai ‘Kemenangan Tertinggi dalam Peperangan.’”
[Kitab Komentar : “Empat putaran” adalah
unsur-unsur, landasan-landasan, kemunculan bergantungan, dan yang mungkin dan
yang tidak mungkin.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa
puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.