Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Menggelapkan Aset Perusahaan dengan Nominal yang Hanya Beberapa Juta Rupiah, Tetap Dipidana Penjara

LEGAL OPINION
Question: Sebetulnya jika diam-diam (tanpa izin) kantor, ada karyawan yang menjual beberapa inventaris lama kantor ke pasar loak yang tampaknya memang hanya sudah menjadi barang bekas teronggok di gudang kantor, dan hasil penjualan barang-barang bekas itu ke pengepul tidak sampai puluhan juta rupiah, apa tetap bisa ada ancaman pidananya jika dilaporkan?
Brief Answer: Dari contoh kasus yang pernah terungkap dan terjadi dalam praktik peradilan, tampaknya menggelapkan aset perusahaan ataupun suatu instansi yang dijual dengan nominal yang hanya ... juta Rupiah sekalipun, tetap divonis pidana penjara hampir ... lamanya—sehingga tidak boleh diremehkan ataupun disepelekan ancaman hukumannya. [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
Sekalipun inventaris milik institusi tersebut menurut penilaian kita sudah tidak lagi dapat dipakai untuk operasional, namun bukanlah menjadi alasan pembenar untuk menguasai secara ilegal atau bahkan menjual barang milik pihak lain tanpa izin dan sepengetahuan pemiliknya.
Biasanya, pencurian maupun penggelapan bermula dari aksi pencurian dan penggelapan secara “sedikit demi sedikit”, yang kemudian berlanjut secara bertahap meningkat mencapai nilai nominal yang lebih besar. Oleh karenanya, setiap aksi pencurian maupun penggelapan, tidak pernah dapat dibenarkan oleh kesusilaan maupun oleh hukum.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret yang cukup mencerminkan dan patut mendapat perhatian, mengingat ancaman sanksi vonis sebagai hukumannya, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk putusan Mahkamah Agung RI perkara pidana penggelapan register Nomor ... K/PID/20... tanggal ... , dimana Terdakwa didakwa karena telah melakukan dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang dilakukan karena ada hubungan kerja atau karena pencahariannya atau karena mendapat upah untuk itu, sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 374 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Sementara dalam Dakwaan Alternatif Kedua, Terdakwa didakwa karena telah melakukan dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 372 KUHP.
Objek barang yang digelapkan Terdakwa merupakan Kotak Suara inventaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) dimana Terdakwa menjadi salah satu pegawainya. Terdakwa yang bertanggung-jawab memindahkan Kotak Suara dari gudang sewaan KPU ke gudang yang lain untuk, justru memerintahkan pihak pengemudi truk pengangkut Kotak Suara agar menyerahkan Kotak Suara yang diangkutnya kepada tempat penampungan barang rongsokan rekanan Terdakwa.
Setibanya di tempat rongsokan, diturunkanlah ... buah kotak suara dan ... sak yang berisi sampul surat suara. Setelah dilakukan penimbangan oleh pembeli barang, ... buah kotak suara yang terbuat dari alumunium seberat ... kg dihargai senilai Rp ....000,00 per kilonya, sedangkan ... sak yang berisi sampul surat suara seberat ... kg dihargai senilai Rp ...00,00 sehingga total uang yang diterima Terdakwa dari penjualan ilegal demikian, sebanyak Rp ....000,00.
Beberapa tahun kemudian, ketika pihak KPU melakukan stok opname terhadap barang-barang di KPU ..., barulah diketahui ada barang-barang yang hilang berupa kotak suara, bilik suara, dan surat suara, sehingga dilakukan pelaporan ke Polres ... dan dari penyidikan, akhirnya Terdakwa diamankan pihak berwajib.
Terhadap tuntutan pihak Jaksa, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Negeri ... Nomor .../Pid.B/20.../PN.Bjn., tanggal ... , dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang bahwa terhadap pledoi kuasa hukum Terdakwa poin c Majelis berpendapat bahwa Majelis sependapat dengan pendapat yang disampaikan DR. M. ..., S.H., M.H. yang menerangkan bahwa perbuatan materiil sdr. ... termasuk kategori tindak pidana umum bukan tindak pidana korupsi, mengacu pada KUHP;
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa ... Bin SAMAD telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘PENGGELAPAN’ sebagaimana dakwaan Alternatif Kedua Penuntut Umum;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama ...;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa tersebut, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur Nomor .../PID/20.../PT.SBY, tanggal ... yang amar lengkapnya sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menerima permintaan banding dari Penasihat Hukum Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum tersebut;
2. Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri ... Nomor .../Pid.B/20.../PN.Bjn tanggal ... yang dimintakan banding tersebut;
3. Memerintahkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan.”
Baik pihak Jaksa Penuntut maupun pihak Terdakwa, masing-masing mengajukan upaya hukum kasasi. Adapun pokok keberatan yang diajukan oleh pihak Terdakwa, ialah bahwa laporan barang yang hilang sebanyak ... bilik suara, ... kotak suara, dan ... karung surat suara, namun yang terungkap hanya ... bilik suara, sehingga ini jauh dari fakta yang sebenarnya.
Terdakwa justru menuding Pejabat KPU ... yang korup, yang mana menurut laporan polisi pada tanggal ... , KPU Kehilangan ... buah bilik suara, ... kotak suara dan ... karung surat suara, sedangkan fakta yang terungkap di persidangan bahwa Terdakwa hanya didakwa menggelapkan ... buah bilik suara, yang secara tidak langsung membuktikan bahwa ada kejahatan terorganisir secara lebih besar dibalik semua fakta itu. Sedangkan pelaku yang sebenarnya sampai sekarang tidak terungkap dan tidak diungkap. Tetap saja, selentingan fakta yuridis demikian tidak dimaknai Terdakwa bebas untuk melakukan tindak kejahatan.
Dimana terhadapnya, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan kasasi dari Pemohon Kasasi I / Penuntut Umum dan Pemohon Kasasi II / Terdakwa tersebut Mahkamah Agung berpendapat sebagai berikut:
“Bahwa alasan kasasi Penuntut Umum dan Terdakwa tidak dapat dibenarkan dengan alasan sebagai berikut:
- Bahwa putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi yang menguatkan putusan Judex Facti Pengadilan Negeri yang menyatakan Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan, dan menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama ... , telah tepat dan telah menerapkan peraturan hukum sebagaimana mestinya;
- Bahwa putusan Judex Facti telah mempertimbangkan fakta hukum yang relevan secara yuridis dengan tepat dan benar sesuai fakta hukum yang terungkap di muka sidang, yaitu Terdakwa selaku ... yang diperbantukan pada KPU ... telah mengangkut beberapa truk kotak suara dan surat suara dari Gudang ... ke Kantor KPU, namun dalam perjalanan ternyata Terdakwa telah menjual kotak suara dan bungkus surat suara tersebut ke tempat barang rongsokan di Jalan ... di sebelah utara Stadion ... , untuk penjualan lembaran aluminium kotak suara dan kertas wadah sampul surat suara Terdakwa memperoleh uang keseluruhannya sebesar Rp ....000,00 (... rupiah);
- Bahwa selain itu alasan kasasi Penuntut Umum dan Terdakwa berkenaan dengan penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang sesuatu kenyataan. Hal tersebut tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan tingkat kasasi;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I / Penuntut Umum dan Pemohon Kasasi II / Terdakwa tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
- ... permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I / PENUNTUT UMUM pada KEJAKSAAN NEGERI ... tersebut;
- ... permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi II / Terdakwa ... bin SAMAD tersebut.” [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan