KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Yang Pahit, Jangan Selalu Dibuang. Yang Manis, Jangan Selalu Dimakan. Kenikmatan Indria, Jangan Selalu Diikuti. Terasing dari Kenikmatan Indria, Jangan Selalu Dijauhi

Ada, Kenikmatan yang Tidak Berhubungan dengan Kenikmatan Indria.” [SANG BUDDHA]

Sang Buddha menyebutkan, barang madat yang sifatnya adiktif, (secara gradual) dapat menghilangkan sifat baik seseorang yang mencandunya. Mereka yang mengonsumsi produk bakaran tembakau (maupun yang sintesis), minuman beralkohol, hingga obat-obatan terlarang, bukan hanya kehilangan uang, namun juga kehilangan harta terbesarnya sebagai seorang manusia, yakni kehilangan sifat-sifat baik. Tidak heran bila Sang Buddha membagi tiga tipikal manusia, yakni “manusia-manusia”, “manusia-hewan”, dan “manusia-dewa”.

Tanpa si pecandu sadari, seiring hari aktivitasnya mencandu hal-hal adiktif, wataknya berubah 5 derajat, lalu 5 derajat di tahun berikutnya, dan seterusnya, sampai pada akhirnya beberapa tahun kemudian sifatnya telah berubah 180 derajat dari sifatnya semula, tanpa ia sadari—suatu cacat psikologi seorang manusia yang paling fatal, namun lazim terjadinya. Sama seperti seseorang yang tidak / gagal menyadari, mendadak dirinya telah tumbuh berat dan tumbuh tinggi, secara gradual. Seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit bila diakumulasikan, tidak terasa telah “menggunung”. Itulah yang dimaksud oleh Sang Buddha sebagai “bahaya dibalik pelanggaran-pelanggaran kecil maupun besar”.

Perhatikan fenomena-fenomena berikut, betapa “selalu ada ‘harga’ non-uang yang harus kita bayarkan dibalik kenikmatan indria”. Menteri Kesehatan merilis bahwa empat penyakit dengan pembiayaan terbesar program Jaminan Kesehatan Nasional berkaitan dengan konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan. Beban pembiayaan untuk penyakit gagal-ginjal meningkat secara eksponensial dari Rp2,32 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp13,38 triliun pada tahun 2025. Industri makanan meraup keuntungan besar sepanjang tahunnya dengan menjual produk-produk ultra-process yang “nikmat” memanjakan lidah konsumennya, yang muaranya berdampak langsung pada pembiayaan kesehatan nasional. Yang nikmat, mengapa ditolak? Jangankan itu, Pangeran Siddhatta Gotama bahkan menolak takhta dan singgana kerajaan.

Marcus R. Squirrell dalam penelitiannya terhadap 1.325 responden yang menghabiskan waktu sekitar 12 jam dalam seminggu untuk aktivitas “cybersex”. Dari hasil penelitian itu, telah ternyata 92% responden mengalami gangguan psikologis. Sebanyak 27% mengalami depresi berat, 30% mengalami kecemasan tinggi, dan 35% merasa tertekan dengan aktivitasnya. Intensitas “cybersex” yang semakin lama akan semakin memperburuk tingkat depresi dan kecemasan. Eksposur kronis terhadap konten seksual secara daring dapat meningkatkan risiko kecanduan seksual pada orang yang sudah memiliki faktor risiko, seperti penyalahgunaan zat dan obat serta “impulse control disorder”.

Sang Buddha tidak hanya mengajarkan “hidup adalah dukkha dan asal-mula dukkha”, namun juga dipasangkan dengan ajaran mengenai “adanya akhir dari dukkha serta jalan menuju akhir dari dukkha”. Ketika seseorang tidak menyadari bahwa ia tengah berada di dalam kondisi dukkha, maka ia tidaklah niscaya keluar dari dukkha untuk mencari jalan menuju akhir dari dukkha. Ada “akhir dari dukkha” serta “jalan menuju akhir dari dukkha”, karenanya Buddhisme bukanlah agama yang pesimistik, namun optimistik. Bila Anda masih menggenggam kerinduan dan demam yang kuat terhadap kenikmatan indria (kemelekatan), maka jangan harap Anda keluar dari permainan pasang-surutnya dukkha.

Sang Buddha menyebutkan, apa yang oleh kebanyakan orang yang masih tebal kekotoran-batinnya dianggap sebagai kesenangan, adalah dukkha di mata seorang Buddha. Banyak manusia, yang bahkan gemar menyakiti dirinya sendiri ataupun memiliki suatu kehendak untuk berbuat sesuatu yang ia sesali sendiri di kemudian hari. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut, yang membuat Buddhisme begitu unik dan berbeda dari agama manapun, serta “melawan arus”, baik di masa lampau, di masa kini, maupun di masa depan:

“Para bhikkhu, kenikmatan indria adalah tidak kekal, kosong, palsu, menipu; kenikmatan indria adalah ilusi, ocehan orang-orang dungu. Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah alam Māra, wilayah Māra, umpan Māra, tanah perburuan Māra. Oleh karenanya, kondisi-kondisi batin buruk yang tidak bermanfaat ini seperti ketamakan, permusuhan, dan anggapan muncul, dan merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang dalam latihan di sini.”

“Dan di manakah Māra dan pengikutnya tidak dapat mendatangi? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya.”

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.

(1)  Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.

(2)  Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.”

Sang Buddha tegas menyatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di dalamnya lebih banyak lagi. Mengamati fenomena sosial dewasa kini dimana tidak sedikit anggota masyarakat kita yang kian terjerumus dan terjerat pada kenikmatan-kenikmatan indria, obat penawarnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

~ SUTTA 138 ~

Uddesavibhanga Sutta : Penjelasan suatu Ringkasan

[223] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian suatu ringkasan dan penjelasan. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

3. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu harus memeriksa segala sesuatu sedemikian sehingga ketika ia sedang memeriksanya, kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak. Jika kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan jika dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak, maka baginya tidak ada asal-mula penderitaan – kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan.

4. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah mengatakan hal ini, Yang Sempurna bangkit dari duduknya dan memasuki kediamanNya.

[Kitab Komentar : Agak janggal bahwa Sang Buddha, setelah mengatakan bahwa Beliau akan mengajarkan ringkasan dan penjelasan, hanya membabarkan ringkasan dan pergi tanpa membabarkan penjelasan. Walaupun di tempat lain Sang Buddha pergi mendadak setelah memberikan pernyataan yang membingungkan (seperti, pada Majjhima Nikāya 18), pada peristiwa-peristiwa itu Beliau sebelumnya memang tidak menyatakan niatnya untuk memberikan penjelasan. Kitab Komentar tidak memberikan penjelasan.]

5. Kemudian, segera setelah Sang Bhagavā pergi, para bhikkhu berpikir: “Sekarang, teman-teman, Sang Bhagavā telah bangkit dari dudukNya dan masuk ke dalam kediamanNya setelah memberikan ringkasan singkat tanpa menjelaskan makna terperinci. Sekarang siapakah yang akan menjelaskan secara terperinci?” Kemudian mereka berpikir: “Yang Mulia Mahā Kaccāna dipuji oleh Sang Guru dan dihargai oleh teman-temannya yang bijaksana dalam kehidupan suci. Ia mampu menjelaskan maknanya secara terperinci. Bagaimana jika kita mendatanginya dan menanyakan makna dari hal ini.”

6. Kemudian para bhikkhu mendatangi Yang Mulia Mahā Kaccāna dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, mereka duduk di satu sisi dan memberitahunya tentang apa yang telah terjadi, dan menambahkan: “Sudilah Yang Mulia Mahā Kaccāna menjelaskannya kepada kami.”

7. [Yang Mulia Mahā Kaccāna menjawab:] “Teman-teman, ini seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, berpikir bahwa inti kayu harus dicari di antara dahan dan dedaunan dari sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, setelah ia melewatkan akar dan batang. Dan demikian pula dengan kalian, para mulia, bahwa kalian berpikir bahwa aku dapat ditanya tentang makna dari hal ini, setelah kalian melewati Sang Bhagavā ketika kalian berhadapan dengan Sang Guru. Dalam hal mengetahui, Sang Bhagavā tahu; dalam hal melihat, Beliau melihat; Beliau adalah penglihatan, Beliau adalah pengetahuan, Beliau adalah Dhamma, Beliau adalah yang suci; Beliau adalah yang mengucapkan, yang menyatakan, pembabar makna, pemberi Tanpa-Kematian, Raja Dhamma, Sang Tathāgata. Itu adalah waktunya ketika kalian seharusnya menanyakan maknanya kepada Sang Bhagavā. Sebagaimana Beliau menjelaskan, demikianlah kalian harus mengingatnya.”

8. “Tentu saja, teman Kaccāna, Dalam hal mengetahui, Sang Bhagavā mengetahui; dalam hal melihat, Beliau melihat; Beliau adalah penglihatan … Sang Tathāgata. Itu adalah waktunya ketika kami seharusnya menanyakan maknanya kepada Sang Bhagavā. Sebagaimana Beliau menjelaskan, demikianlah kami harus mengingatnya. Namun Yang Mulia Mahā Kaccāna dipuji oleh Sang Guru dan dihargai oleh teman-temannya yang bijaksana dalam kehidupan suci. Yang Mulia Mahā Kaccāna mampu menjelaskan makna secara terperinci dari ringkasan singkat yang diberikan oleh Sang Bhagavā tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci. Sudilah Yang Mulia Mahā Kaccāna menjelaskannya tanpa menganggapnya merepotkan.”

9. “Maka dengarkanlah, Teman-teman, dan perhatikanlah pada apa yang akan aku katakan.”

“Baik, Teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Mahā Kaccāna berkata sebagai berikut:

10. “Bagaimanakah, Teman-teman, kesadaran disebut ‘teralihkan dan berhamburan secara eksternal’? Di sini, ketika seorang bhikkhu telah melihat suatu bentuk dengan mata, jika kesadarannya mengikuti gambaran bentuk, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, terbelenggu oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, maka kesadarannya disebut ‘teralihkan dan berhamburan secara eksternal.’

[Kitab Komentar : Kesadaran adalah “teralihkan dan berhamburan secara eksternal,” yaitu, di antara objek-objek eksternal, ketika muncul melalui keterikatan pada objek eksternal.

Bentuk itu sendiri disebut gambaran bentuk (rūpanimitta) dalam hal bahwa bentuk itu menjadi penyebab bagi munculnya kekotoran. Seseorang yang “mengikutinya” melalui nafsu.]

Ketika ia telah mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, jika kesadarannya mengikuti gambaran objek pikiran, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, terbelenggu oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, maka kesadarannya disebut ‘teralihkan dan berhamburan secara eksternal.’

11. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, kesadaran disebut ‘tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal’? Di sini, ketika seorang bhikkhu telah melihat suatu bentuk dengan mata, jika kesadarannya tidak mengikuti gambaran bentuk, tidak terikat dan tidak terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, tidak terbelenggu oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, maka kesadarannya disebut ‘tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal.’ [226]

Ketika ia telah mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, jika kesadarannya tidak mengikuti gambaran objek pikiran, tidak terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam gambaran objek pikiran, maka kesadarannya disebut ‘tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal.’

12. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, pikiran disebut ‘terpaku secara internal’? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Jika kesadarannya mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, terbelenggu oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan maka pikirannya disebut ‘terpaku secara internal.’

[Kitab Komentar : Pikiran “terpaku secara internal” melalui kemelekatan pada objek internal. Teks sutta itu sendiri bergeser dari viññāa dalam ringkasan oleh Sang Buddha menjadi citta dalam penjelasan oleh Mahā Kaccāna.]

13. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Jika kesadarannya mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, maka pikirannya disebut ‘terpaku secara internal.’

14. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan dengan penuh perhatian dan kewaspadaan penuh, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Jika kesadarannya mengikuti keseimbangan, terikat dan terkekang oleh keseimbangan, maka pikirannya disebut ‘terpaku secara internal.’

15. “Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya dari kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Jika kesadarannya mengikuti gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, maka kesadarannya disebut ‘terpaku secara internal.’ Itu adalah bagaimana pikiran disebut ‘terpaku secara internal.’ [227]

16. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, pikiran disebut ‘tidak terpaku secara internal’? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … Jika kesadarannya tidak mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, tidak terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan maka pikirannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

[Komentar : Ada kenikmatan yang muncul dari “keterasingan dari kenikmatan indria”, dimna pada sutta lainnya dari Majjhima Nikāya Sang Buddha menyebutnya sebagai “kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria”, semisal kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, suatu kondisi-batin berupa “bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan”, keseimbangan-batin, kenikmatan pada pencerapan-perhatian penuh pada jasmani, maupun “kebahagiaan dalam moralitas dengan merenungkan bahwa dirinya bersih tanpa noda”.]

17. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Jika kesadarannya tidak mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi … maka pikirannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

18. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam … masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga … Jika kesadarannya tidak mengikuti keseimbangan … maka pikirannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

19. “Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan … seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat … Jika kesadarannya tidak mengikuti gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, tidak terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, maka kesadarannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’ Itu adalah bagaimana pikiran disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

20. “Bagaimanakah, Teman-teman, terjadinya gejolak karena kemelekatan? Di sini seorang biasa yang tidak terpelajar, yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Bentuk materinya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan bentuk materi dan bentuk materi yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya terlena dengan perubahan bentuk materi itu. Kondisi-kondisi pikiran yang bergejolak yang muncul dari keterlenaan pada perubahan bentuk materi muncul bersama-sama dan menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena kemelekatan ia menjadi bergejolak. [228]

[Kitab Komentar : Perihal istilah “gejolak karena kemelekatan”, gejolak muncul dari kemelekatan, dan lenyap dengan lenyapnya kemelekatan. Sebuah sutta dalam Sayutta Nikāya (SN 22:7/iii,16) identik dengan paragraf ini dari Majjhima Nikāya 138, tertulis upādā paritassanā, “gejolak karena kemelekatan”.

Kitab Komentar menjelaskan frasa tidak umum paritassanā dhammasamuppādā sebagai “gejolak keinginan dan munculnya kondisi-kondisi tidak bermanfaat (lainnya).”

Gejolak yang diakibatkan oleh kemelekatan demikian berakibat dari ketiadaan inti yang kekal dalam segala sesuatu yang dapat memberikan perlindungan dari penderitaan yang diendapkan oleh perubahan dan ketidak-stabilannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, “tidak dapat digenggam erat”]

Ia menganggap perasaan sebagai diri … Ia menganggap persepsi sebagai diri … Ia menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri … Ia menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Kesadarannya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan kesadaran dan kesadaran yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya terlena dengan perubahan kesadaran itu. Kondisi-kondisi pikiran yang bergejolak yang muncul dari keterlenaan pada perubahan kesadaran muncul bersama-sama dan menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena kemelekatan ia menjadi bergejolak. Itu adalah bagaimana terjadinya gejolak karena kemelekatan.

21. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, terjadinya ketiadaan-gejolak karena ketidak-melekatan? Di sini seorang siswa mulia yang terpelajar, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, tidak menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Bentuk materinya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan bentuk materi dan bentuk materi yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya tidak terlena dengan perubahan bentuk materi itu. Kondisi-kondisi pikiran yang terganggu yang muncul dari keterlenaan pada perubahan bentuk materi tidak muncul bersama-sama dan tidak menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya tidak dikuasai, ia tidak menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena ketidak-melekatan ia menjadi tidak bergejolak.

[Kitab Komentar : Frasa “ketidak-melekatan” dari kalimat “terjadinya ketiadaan-gejolak karena ketidak-melekatan” ini adalah identik baik dalam versi Majjhima maupun Sayutta.]

Ia tidak menganggap perasaan sebagai diri … Ia tidak menganggap persepsi sebagai diri … Ia tidak menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri … Ia tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Kesadarannya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan kesadaran dan kesadaran yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya tidak terlena dengan perubahan kesadaran itu. Kondisi-kondisi pikiran yang terganggu yang muncul dari keterlenaan pada perubahan kesadaran tidak muncul bersama-sama dan menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya tidak dikuasai, ia tidak menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena ketidak-melekatan ia menjadi tidak bergejolak. Itu adalah bagaimana terjadinya ketiadaan-gejolak karena ketidak-melekatan.

22. “Teman-teman, ketika Sang Bhagavā bangkit dari dudukNya dan memasuki kediamanNya setelah memberikan ringkasan singkat tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, yaitu: ‘Para bhikkhu, seorang bhikkhu harus memeriksa segala sesuatu sedemikian sehingga ketika ia sedang memeriksanya, kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak. Jika kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan jika dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak, maka baginya tidak ada asal-mula penderitaan – kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan,’ aku memahami maknanya secara terperinci seperti demikian. [229] Sekarang, Teman-teman, jika kalian menghendaki, temuilah Sang Bhagavā dan tanyakan kepada Beliau tentang makna ini. Sebagaimana Beliau menjelaskan, demikianlah kalian harus mengingatnya.”

23. Kemudian para bhikkhu, dengan merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Yang Mulia Mahā Kaccāna, bangkit dari duduk dan mendatangi Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan memberitahu Sang Bhagavā segalanya yang telah terjadi setelah Beliau pergi, dengan menambahkan: “Kemudian, Yang Mulia, kami mendatangi Yang Mulia Mahā Kaccāna dan bertanya kepadanya tentang makna ini. Yang Mulia Mahā Kaccāna menjelaskan makna ini kepada kami dengan kata-kata, kalimat-kalimat, dan frasa-frasa ini.”

24. “Mahā Kaccāna adalah seorang bijaksana, Para Bhikkhu, Mahā Kaccāna memiliki kebijaksanaan tinggi. Jika kalian bertanya kepadaKu tentang makna ini, maka Aku akan menjelaskannya kepada kalian dengan cara yang sama seperti yang telah dijelaskan oleh Mahā Kaccāna. Demikianlah maknanya, dan demikianlah kalian harus mengingatnya.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.