Orang Modern yang Sama Dungunya dengan Manusia Primitif Era Zaman Purbakala, bahkan Lebih Dungu—karena Manusia Purba Tidak Menimbun Istri, Uang, maupun Dinasti Kekuasaan
Seseorang Disebut Bijaksana, karena Mampu Melihat
Bahaya Dibalik “Wanita, Uang, dan Kekuasaan”
Fenomena klasik yang terus berulang, belasan hingga puluhan peserta didik diperdaya oleh gurunya sendiri hingga mengalami kehamilan. Sang pelaku, telah menjadi “korban” dari “wanita”, karenanya ia telah kehilangan martabatnya sebagai seorang manusia demi nafsu rendahan. Begipula jabatan-jabatan terhormat seperti tokoh publik, jatuh oleh “uang”, menjelma pesakitan di persidangan kasus korupsi, kehilangan masa depan dan nama yang rusak. Akibat kesombongan atas kesehatan maupun kekuatannya, seseorang mantan penguasa ingin terus mempertahankan dan membangun kekuasaan lewat “konsolidasi politik” serta “dinasti politik”, tidak terpuaskan, dimana rakyat yang dipaksa harus membayar harganya.
Bagaikan seorang anak kecil, yang begitu melekat
pada mainannya yang tidak bernilai di mata orang dewasa. Sama halnya, di mata
seorang Buddha, “wanita, uang, kekuasaan”, adalah “mainan” bagi kanak-kanak,
hanya orang-orang berjiwa kekanak-kanakan yang melekat dan tergila-gila pada “mainan”
kekanakan demikian. Tidak mengherankan, ketika Sang Buddha bersabda bahwa apa
yang dianggap sebagai kesenangan di mata banyak orang awam, adalah dukkha
di mata seorang Buddha.
Sama seperti ketika Anda beranjak remaja, Anda pun
mulai meninggalkan dan membuang “mainan-mainan” Anda masih kecil, “mainan-mainan”
mana pernah Anda anggap sebagai “barang paling beharga” semasa Anda masih kecil.
Ketika beranjak dewasa, ia mulai menanggalkan “mainan-mainan”-nya yang ia
koleksi semasa remaja, serta menertawakan betapa naif dirinya semasa masih remaja.
Akan tetapi, tidak semua orang betul-betul beranjak dewasa meski usianya
menginjak paruh-baya dan rambutnya telah memutih. Bahkan, kesenangannya
tergolong “tidak logis”, yakni mulai mengoleksi “mainan-mainan berbahaya”
bernama menimbun berbagai Karma Buruk.
Ada
bukti, bahwa manusia modern yang sekalipun terliterasi dengan baik, bahkan
memiliki gelar sarjana yang mampu membaca dan menulis, telah ternyata lebih
dungu daripada umat manusia masa lampau lebih dari dua ribu tahun yang lampau,
sebagaimana dapat kita simak selengkapnya dalam “Khotbah-Khotbah Menengah
Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA 82
Raṭṭhapāla Sutta: Tentang Raṭṭhapāla
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang mengembara di negeri Kuru bersama dengan sejumlah besar Saṅgha para bhikkhu, dan akhirnya
Beliau tiba di suatu pemukiman Kuru bernama Thullakoṭṭhita.
2. Para brahmana perumah-tangga di Thullakoṭṭhita mendengar: “Petapa Gotama,
putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah mengembara di
Negeri Kuru [55] bersama dengan sejumlah besar Saṅgha para bhikkhu dan telah
sampai di Thullakoṭṭhita. Sekarang berita baik
sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa
Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan
sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa
bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia,
tercerahkan, terberkahi. Beliau menyatakan dunia ini bersama dengan para
dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para
pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh diriNya sendiri dengan
pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal,
indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan kata-kata dan makna yang
benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna
sepenuhnya.’ Sekarang adalah baik sekali jika dapat menemui para Arahant
demikian.”
3. Kemudian para brahmana perumah-tangga dari
Thullakoṭṭhita pergi menemui Sang
Bhagavā. Beberapa bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa
lainnya saling bertukar sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah ini
berakhir, duduk di satu sisi; beberapa lainnya merangkapkan tangan sebagai penghormatan
kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya menyebutkan nama
dan suku mereka di hadapan Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa hanya
berdiam diri dan duduk di satu sisi. Ketika mereka telah duduk, Sang Bhagavā
memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan
mereka dengan khotbah Dhamma.
4. Pada saat itu seorang anggota keluarga bernama Raṭṭhapāla, putera seorang kepala
suku di Thullakoṭṭhita itu, sedang duduk di
tengah-tengah pertemuan itu. Kemudian ia berpikir: “Seperti yang kupahami dari
Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah selagi menetap di rumah juga menjalani
kehidupan suci, yang sepenuhnya murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang
digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah
kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah.”
[NOTE : Karena Raṭṭhapāla siap menerima resiko
kematian untuk memperoleh izin dari orangtuanya untuk meninggalkan keduniawian,
kelak ia dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai yang terbaik di antara mereka
yang meninggalkan keduniawian karena keyakinan. Syair syairnya terdapat
pada Theragāthā 769-93.]
5. Kemudian para brahmana perumah-tangga Thullakoṭṭhita, setelah diberikan
instruksi, didorong, dibangkitkan semangatnya, dan digembirakan oleh Sang
Bhagavā dengan khotbah Dhamma, merasa senang dan gembira mendengar kata-kata
Beliau. Mereka bangkit dari duduk [56], dan setelah bersujud kepada Beliau,
mereka pergi, dengan Beliau tetap di sisi kanan mereka.
6. Segera setelah mereka pergi, Raṭṭhapāla mendatangi Sang Bhagavā,
dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada
Sang Bhagavā: “Yang Mulia, seperti yang kupahami dari Dhamma yang diajarkan
oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah selagi menetap di rumah juga menjalani
kehidupan suci, yang sepenuhnya murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang
digosok. Yang Mulia, aku ingin mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah
kuning, dan meninggalkan kedunaiwian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang
Bhagavā, aku ingin menerima penahbisan penuh.”
“Apakah engkau telah diizinkan oleh orangtuamu, Raṭṭhapāla, untuk meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?”
“Belum, Yang Mulia, aku belum diizinkan oleh
orangtuaku.”
“Raṭṭhapāla, Tathāgata tidak memberikan pelepasan keduniawian kepada siapapun
yang belum mendapatkan izin orangtuanya.”
“Yang Mulia, Aku akan memastikan bahwa orangtuaku
mengizinkan aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah.”
7. Kemudian Raṭṭhapāla bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud
kepada Sang Bhagavā, ia pergi, dengan Beliau tetap di sisi kanannya. Ia
menghadap orangtuanya dan memberitahu mereka: “Ibu dan ayah, seperti yang
kupahami dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah selagi menetap
di rumah juga menjalani kehidupan suci, yang sepenuhnya murni dan sempurna
bagaikan kulit kerang yang digosok. Aku ingin mencukur rambut dan janggutku,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Izinkanlah aku meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
Ketika ia mengatakan hal ini, orangtuanya menjawab:
“Anakku Raṭṭhapāla, engkau adalah anak kami satu-satunya, yang kami
sayangi dan cintai. Engkau dibesarkan dalam kenyamanan, tumbuh dalam kenyamanan, engkau
tidak tahu apa-apa tentang penderitaan, anakku Raṭṭhapāla. [57] Bahkan jika engkau
meninggal dunia, kami tidak akan rela kehilangan engkau, jadi bagaimana mungkin
kami mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup?”
[NOTE : Melepaskan anak untuk
hidup bebas sesuai aspirasinya, merupakan “peng-kurban-nan TANPA DARAH” dalam
Buddhisme.]
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya si
anggota keluarga Raṭṭhapāla berkata kepada orangtuanya: “Ibu dan ayah … izinkanlah aku meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya
orangtuanya menjawab: “Anakku Raṭṭhapāla … bagaimana mungkin kami mengizinkan engkau
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah selagi engkau masih hidup?”
Kemudian, karena tidak menerima izin dari
orangtuanya untuk meninggalkan keduniawian, si anggota keluarga Raṭṭhapāla berbaring di lantai, dan
berkata: “Di sini aku akan mati atau menerima pelepasan keduniawian.” [58]
8. Kemudian orangtua Raṭṭhapāla berkata kepadanya: “Anakku
Raṭṭhapāla, engkau adalah anak kami satu-satunya, yang kami
sayangi dan cintai. Engkau dibesarkan dalam kenyamanan, tumbuh dalam kenyamanan, engkau
tidak mengetahui penderitaan, anakku Raṭṭhapāla. Bangunlah, anakku Raṭṭhapāla, makan, minum, dan
hiburlah dirimu. Sambil makan, minum, dan menghibur diri, engkau dapat
berbahagia menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan baik. Kami tidak
mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah. Bahkan jika engkau meninggal dunia, kami tidak akan rela
kehilangan engkau, jadi bagaimana mungkin kami mengizinkan engkau meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi
engkau masih hidup.” Ketika hal ini dikatakan, Raṭṭhapāla berdiam diri.
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya
orangtuanya berkata kepadanya: “Anakku Raṭṭhapāla … jadi bagaimana mungkin kami mengizinkan
engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah selagi engkau masih hidup.” Untuk ke tiga kalinya, Raṭṭhapāla berdiam diri.
9. Kemudian orangtua Raṭṭhapāla mendatangi teman-temannya
dan berkata: “Anak-anak, Raṭṭhapāla berbaring di lantai, setelah berkata: ‘Di sini aku akan mati atau
menerima pelepasan keduniawian.’ Marilah, anak-anak, datangilah Raṭṭhapāla dan katakan kepadanya:
‘Teman Raṭṭhapāla, engkau adalah putera
tunggal orangtuamu … Bangunlah, teman Raṭṭhapāla, makan, minum, dan hiburlah dirimu … [59]
bagaimana mungkin orangtuamu mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih
hidup?’”
10. Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatanginya dan
berkata: “Sahabat Raṭṭhapāla, engkau adalah putera tunggal orangtuamu, yang
disayangi dan dicintai. Engkau dibesarkan dalam kenyamanan, tumbuh dalam
kenyamanan, engkau tidak tahu apa-apa tentang penderitaan, Sahabat Raṭṭhapāla. Bangunlah, Sahabat Raṭṭhapāla, makan, minum, dan
hiburlah dirimu. Sambil makan, minum, dan menghibur diri, engkau dapat
berbahagia menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan baik. Orangtuamu
tidak mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah. Bahkan jika engkau meninggal dunia, mereka tidak
akan rela kehilangan engkau, jadi bagaimana mungkin mereka mengizinkan engkau
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah selagi engkau masih hidup?” Ketika hal ini dikatakan, Raṭṭhapāla berdiam diri.
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya
teman-temannya berkata kepadanya: “Teman Raṭṭhapāla … bagaimana mungkin
mereka mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup?” Untuk ke tiga kalinya
Raṭṭhapāla berdiam diri.
11. Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatangi orangtuanya
dan berkata kepada mereka: “Ibu dan ayah, Raṭṭhapāla berbaring di lantai,
setelah berkata: ‘Di sini aku akan mati atau [60] menerima pelepasan
keduniawian.’ Sekarang jika kalian tidak mengizinkannya meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, ia akan
mati di sana. Tetapi jika kalian mengizinkannya, kalian akan melihatnya lagi
setelah ia meninggalkan keduniawian. Dan jika ia tidak menikmati pelepasan
keduniawian, apa lagi yang dapat ia lakukan selain kembali ke sini? Jadi
izinkanlah ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah.”
“Kalau begitu, anak-anak, kami mengizinkan Raṭṭhapāla meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Tetapi ketika ia
telah meninggalkan keduniawian, ia harus mengunjungi orangtuanya.”
Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatanginya dan
berkata: “Bangun, teman Raṭṭhapāla. Orangtuamu mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Tetapi ketika engkau telah
meninggalkan keduniawian, engkau harus mengunjungi orangtuamu.”
12. Kemudian Raṭṭhapāla bangun, dan ketika ia telah memulihkan
kekuatannya, ia mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia
duduk di satu sisi dan memberitahu Beliau: “Yang Mulia, aku telah mendapatkan
izin dari orangtuaku untuk meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah. Sudilah Sang Bhagavā memberikan pelepasan
keduniawian kepadaku.”
Kemudian Raṭṭhapāla menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang
Bhagavā, dan ia menerima penahbisan penuh.
13. Kemudian, tidak lama setelah Yang Mulia Raṭṭhapāla menerima penahbisan
penuh, setengah bulan setelah ia menerima penahbisan penuh, Sang Bhagavā,
setelah menetap di Thullakoṭṭhita selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Sāvatthī,
dan di sana [61] Beliau menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
14. Tidak lama kemudian, dengan berdiam sendirian,
terasing, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang Mulia Raṭṭhapāla, dengan menembusnya
untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini
masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari oleh
anggota-anggota keluarga yang meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia mengetahui secara langsung: “Kelahiran
telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan
telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Raṭṭhapāla menjadi salah satu di
antara para Arahant.
15. Kemudian Yang Mulia Raṭṭhapāla menghadap Sang Bhagavā,
dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan memberitahu
Beliau: “Yang Mulia, aku ingin mengunjungi orangtuaku, jika Sang Bhagavā
mengizinkan.”
Kemudian Sang Bhagavā dengan pikiranNya menembus
pikiran Yang Mulia Raṭṭhapāla. Ketika Beliau mengetahui bahwa Raṭṭhapāla tidak mungkin lagi
meninggalkan latihan dan kembali ke kehidupan rendah, Beliau berkata: “Engkau
boleh pergi, Raṭṭhapāla.”
16. Kemudian Yang Mulia Raṭṭhapāla bangkit dari duduknya,
dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia pergi, dengan Beliau tetap di sisi
kanannya. Kemudian ia merapikan tempat tinggalnya, dan dengan membawa mangkuk
dan jubahnya, ia pergi menuju Thullakoṭṭhita. Dengan berjalan secara bertahap, ia akhirnya
tiba di Thullakoṭṭhita. Di sana ia menetap di
Thullakoṭṭhita di Kebun Migācira milik
Raja Koravya. Kemudian, pada pagi harinya, ia merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Thullakoṭṭhita untuk menerima dana
makanan. Ketika berjalan untuk menerima dana makanan dari rumah ke rumah di
Thullakoṭṭhita, ia sampai di rumah
ayahnya sendiri.
17. Pada saat itu ayah dari Yang Mulia Raṭṭhapāla sedang duduk di aula di
pintu tengah setelah merapikan rambutnya. Ketika dari kejauhan ia melihat
kedatangan Yang Mulia Raṭṭhapāla, ia berkata: “Putera tunggal kami, yang kami sayangi dan cintai,
telah meninggalkan keduniawian gara-gara para petapa gundul ini.” [62] Kemudian
di rumah ayahnya sendiri Yang Mulia Raṭṭhapāla tidak menerima dana makanan maupun penolakan
yang sopan; melainkan ia menerima hinaan.
18. Kemudian seorang budak perempuan milik salah
satu sanak saudaranya sedang membuang bubur basi. Melihat hal ini, Yang Mulia
Raṭṭhapāla berkata kepadanya:
“Saudari, jika makanan itu hendak dibuang, buanglah ke dalam mangkukku ini.”
Ketika ia melakukan hal itu, ia mengenali ciri-ciri
tangan, kaki, dan suaranya. Kemudian ia mendatangi sang ibu dan berkata: “Untuk
engkau ketahui, Nyonya, bahwa putera majikanku, Raṭṭhapāla, telah datang.”
“Astaga! Jika apa yang engkau katakan benar, maka
engkau tidak akan menjadi budak lagi!”
Kemudian ibu Yang Mulia Raṭṭhapāla mendatangi sang ayah dan
berkata: “Untuk engkau ketahui, perumah-tangga, bahwa sang anggota keluarga, Raṭṭhapāla, telah datang.”
19. Saat itu Yang Mulia Raṭṭhapāla sedang memakan bubur
basi di dekat tembok di suatu tempat berteduh. Ayahnya mendatanginya dan
berkata: “Raṭṭhapāla, anakku, tentu saja ada
… dan engkau memakan bubur basi! Apakah itu bukan rumahmu untuk engkau
kunjungi?”
[NOTE : Ayahnya bermaksud
mengatakan: “Raṭṭhapāla, anakku, ada harta
kekayaan kita – kita tidak dapat disebut miskin – namun engkau duduk di tempat
seperti ini memakan bubur basi!” Akan tetapi, perumah-tangga itu dirundung
kesedihan sehingga tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.]
“Bagaimana mungkin kami memiliki rumah,
perumah-tangga, jika kami telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah? Kami tidak memiliki rumah, perumah-tangga.
Kami mendatangi [63] rumahmu, namun kami tidak menerima dana makanan maupun
penolakan yang sopan di sana; sebaliknya kami hanya menerima hinaan.”
“Marilah, anakku Raṭṭhapāla, mari masuk ke rumah.”
“Cukup, perumah-tangga, aku sudah selesai makan hari
ini.”
“Kalau begitu, anakku Raṭṭhapāla, sudilah menerima
makanan besok.” Yang Mulia Raṭṭhapāla menerima dengan berdiam diri.
20. Kemudian, setelah mengetahui bahwa Yang Mulia Raṭṭhapāla telah menerima, ayahnya
pulang ke rumahnya di mana ia meletakkan uang-uang emas dan perak dalam
tumpukan besar dan menutupinya dengan kain. Kemudian ia menyuruh para mantan
istri Yang Mulia Raṭṭhapāla: “Kemarilah, para menantu, hiaslah dirimu dengan
perhiasan-perhiasan agar Raṭṭhapāla melihatmu sangat cantik dan menarik.”
21. Ketika malam telah berlalu, ayah Yang Mulia Raṭṭhapāla mempersiapkan berbagai
jenis makanan di rumahnya dan mengumumkan waktunya kepada Yang Mulia Raṭṭhapāla: “Sudah waktunya, anakku
Raṭṭhapāla, makanan telah siap.”
22. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Raṭṭhapāla merapikan jubah, dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia pergi ke rumah ayahnya dan duduk
di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian ayahnya membuka tumpukan uang emas
dan perak itu dan berkata: “Anakku Raṭṭhapāla, ini adalah kekayaan dari pihak ibumu; kekayaan dari pihak ayahmu
adalah tumpukan yang lain dan kekayaan leluhurmu adalah tumpukan yang lain
lagi. Anakku Raṭṭhapāla, engkau dapat menikmati
kekayaan dan melakukan perbuatan baik. Marilah, anakku, [64] tinggalkanlah
latihan dan kembalilah ke kehidupan rendah, nikmatilah kekayaan dan melakukan
perbuatan baik.”
“Perumah-tangga, jika engkau sudi menuruti
nasihatku, maka muatlah tumpukan uang emas dan perak ini dalam kereta dan bawalah
untuk dibuang di tengah arus sungai Gangga. Mengapakah? Karena,
perumah-tangga, dari benda-benda ini akan muncul padamu dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan.”
23. Kemudian para mantan istri Yang Mulia Raṭṭhapāla memeluk kakinya dan
berkata kepadanya: “Bagaimanakah rupa mereka, putera junjunganku, para
bidadari yang karena mereka engkau menjalani kehidupan suci?”
“Kami tidak menjalani kehidupan suci demi bidadari,
Saudari-saudari.”
“Putera junjungan kami, Raṭṭhapāla, memanggil kami ‘saudari-saudari,’” mereka menangis dan
jatuh pingsan di sana.
24. Kemudian Yang Mulia Raṭṭhapāla berkata kepada ayahnya:
“Perumah-tangga, jika ada makanan yang hendak diberikan, maka berikanlah.
Jangan menyusahkan kami.”
“Makanlah, anakku Raṭṭhapāla, makanan telah siap.”
Kemudian, dengan tangannya sendiri, ayah Yang Mulia
Raṭṭhapāla melayaninya dengan
berbagai makanan baik. Ketika Yang Mulia Raṭṭhapāla telah selesai makan dan
telah menggeser mangkuknya ke samping, ia berdiri dan mengucapkan syair ini:
25. “Lihatlah sebuah boneka di sini didandani,
[NOTE : Syair-syair ini jelas merujuk pada mantan
istri-istrinya, yang dihias untuk menggodanya agar kembali ke kehidupan awam. Meski,
tidak disebutkan mengenai istri-istri ini dalam bagian sutta mengenai hari-hari
sebelum penahbisannya.]
Sebuah tubuh yang dibangun dari luka,
Sakit, suatu objek keprihatinan,
Di mana tidak ada kestabilan di dalamnya.
Lihatlah sesosok patung di sini didandani
Dengan perhiasan dan anting-anting juga,
Kerangka tulang-belulang yang dibungkus kulit,
Dibuat menarik oleh pakaiannya.
Kakinya dihias dengan warna kemerahan
Dan bedak ditaburkan di wajahnya:
Ini dapat memperdaya seorang dungu, tetapi tidak
Seorang yang mencari pantai seberang. [65]
Rambutnya dihias dalam delapan kepangan
Dan salep dioleskan di matanya:
Ini dapat memperdaya seorang dungu, tetapi tidak
Seorang yang mencari pantai seberang.
Tubuh kotor yang dihias indah
Bagaikan kendi salep yang baru dicat:
Ini dapat memperdaya seorang dungu, tetapi tidak
Seorang yang mencari pantai seberang.
Pemburu rusa memasang perangkap
Tetapi sang rusa tidak terjebak;
Kami memakan umpan dan sekarang pergi
Meninggalkan si pemburu yang meratap.”
26. Setelah Yang Mulia Raṭṭhapāla berdiri dan mengucapkan
syair ini, ia pergi ke kebun Migācira milik Raja Koravya dan duduk di bawah
sebatang pohon untuk melewatkan hari.
27. Kemudian Raja Koravya berkata kepada penjaga
kebun sebagai berikut: “Penjaga kebun, bersihkan Kebun Migācira agar kami dapat
pergi ke kebun rekreasi untuk melihat tempat yang menyenangkan.” – “Baik,
Baginda,” ia menjawab. Ketika ia sedang membersihkan Kebun Migācira, si penjaga
kebun melihat Yang Mulia Raṭṭhapāla duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari. Ketika ia
melihatnya, ia mendatangi Raja Koravya dan memberitahunya: “Baginda, Kebun
Migācira telah dibersihkan. Raṭṭhapāla ada di sana, putera seorang kepala suku terkemuka di Thullakoṭṭhita ini, yang sering engkau
puji, ia duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari.”
[NOTE : Dengan mengingat
bhikkhu ini, raja akan memujinya di tengah-tengah bala tentaranya atau
haremnya: “Anak muda itu telah melakukan hal yang sulit – setelah
meninggalkan harta kekayaannya, ia meninggalkan keduniawian tanpa berbalik atau
melihat ke belakang.”]
“Kalau begitu, penjaga kebun, cukuplah dengan kebun rekreasi
untuk hari ini. Sekarang kami akan pergi memberi penghormatan kepada Guru Raṭṭhapāla itu.”
28. Kemudian, dengan berkata: “Bagikanlah semua
makanan yang telah dipersiapkan di sana,” Raja Koravya mempersiapkan sejumlah
kereta, dan mengendarai salah satunya, dengan disertai oleh banyak kereta, ia
pergi keluar dari Thullakoṭṭhita dengan kemegahan penuh seorang raja untuk menemui Yang Mulia Raṭṭhapāla. Ia berkendara sejauh
jalan yang dapat dilalui oleh kereta, dan kemudian ia turun dari kereta dan
melanjutkan dengan berjalan kaki bersama dengan para pejabat pentingnya menuju
tempat di mana Yang Mulia Raṭṭhapāla berada. [66] Ia saling bertukar sapa dengan Yang Mulia Raṭṭhapāla, dan ketika ramah-tamah
ini berakhir, ia berdiri di satu sisi dan berkata: “Ini adalah permadani kulit
gajah. Silahkan Guru Raṭṭhapāla duduk di sini.”
“Tidak perlu, Baginda. Duduklah, aku sudah duduk di
alas dudukku sendiri.”
Raja Koravya duduk di tempat yang telah dipersiapkan
dan berkata:
29. “Guru Raṭṭhapāla, ada empat jenis kehilangan. Karena mereka
mengalami empat jenis kehilangan ini, beberapa orang mencukur rambut dan
janggut mereka, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Apakah empat ini? Yaitu kehilangan
karena penuaan, kehilangan karena penyakit, kehilangan kekayaan, dan kehilangan
sanak saudara.
30. “Dan apakah kehilangan karena penuaan? Di sini, Guru Raṭṭhapāla, seseorang menjadi tua,
jompo, terbebani tahun demi tahun, lanjut dalam usia, sampai pada tahap
terakhir kehidupan. Ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Aku sudah tua, jompo,
terbebani tahun demi tahun, lanjut dalam usia, sampai pada tahap terakhir
kehidupan. Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh kekayaan yang belum diperoleh
atau untuk menambah kekayaan yang telah diperoleh. Bagaimana jika aku mencukur
rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Karena ia mengalami
kehilangan karena penuaan itu, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan
jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah. Ini disebut kehilangan karena penuaan.
Tetapi Guru Raṭṭhapāla saat ini masih muda, seorang pemuda berambut hitam
yang memiliki berkah kemudaan, dalam tahap utama kehidupan. Guru Raṭṭhapāla
tidak mengalami kehilangan apapun karena penuaan. Apakah yang telah ia ketahui
atau ia lihat atau ia dengar sehingga ia meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?
31. “Dan apakah kehilangan karena penyakit? Di sini, Guru Raṭṭhapāla, seseorang menjadi
sakit, menderita, dan sakit parah. Ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Aku
sakit, menderita, dan sakit parah. Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh
kekayaan yang belum diperoleh … [67] … menuju kehidupan tanpa rumah.’ Karena ia
mengalami kehilangan karena penyakit itu … ia meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ini disebut kehilangan
karena penyakit. Tetapi Guru Raṭṭhapāla saat ini bebas dari penyakit dan kesakitan; ia
memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin juga tidak terlalu
panas melainkan sedang. Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami kehilangan apapun karena penyakit.
Apakah yang telah ia ketahui atau ia lihat atau ia dengar sehingga ia
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah?
32. “Dan apakah kehilangan kekayaan? Di sini, Guru Raṭṭhapāla, seseorang yang kaya,
memiliki banyak harta, memiliki banyak kepemilikan. Perlahan-lahan kekayaannya
menyusut. Ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Sebelumnya aku kaya, memiliki
banyak harta, memiliki banyak kepemilikan. Perlahan-lahan kekayaanku menyusut.
Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh kekayaan yang belum diperoleh … menuju
kehidupan tanpa rumah.’ Karena ia telah mengalami kehilangan kekayaan … ia
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah. Ini disebut kehilangan kekayaan. Tetapi Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami kehilangan kekayaan. Apakah yang
telah ia ketahui atau ia lihat atau ia dengar sehingga ia meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?
33. “Dan apakah kehilangan sanak saudara? Di sini, Guru Raṭṭhapāla, seseorang memiliki
banyak teman dan sahabat, sanak saudara dan kerabat. Perlahan-lahan sanak
saudaranya itu menyusut. Ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Sebelumnya aku
memiliki banyak teman dan sahabat, sanak saudara dan kerabat. Perlahan-lahan
sanak saudaranya itu menyusut. Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh kekayaan
yang belum diperoleh … [68] … menuju kehidupan tanpa rumah.’ Karena ia telah
mengalami kehilangan sanak saudara … ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan
rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ini disebut kehilangan sanak
saudara. Tetapi Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami kehilangan sanak saudara manapun.
Apakah yang telah ia ketahui atau ia lihat atau ia dengar sehingga ia
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah?
34. “Guru Raṭṭhapāla, ini adalah empat jenis kehilangan itu.
Karena mereka mengalami empat jenis kehilangan ini, beberapa orang mencukur
rambut dan janggut mereka, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Guru
Raṭṭhapāla tidak mengalami salah satu dari empat ini. Apakah
yang telah ia ketahui atau ia lihat atau ia dengar sehingga ia meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?”
35. “Baginda, ada empat ringkasan Dhamma yang telah
diajarkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna
dan tercerahkan sempurna. Setelah mengetahui dan melihat dan mendengarnya,
aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah. Apakah empat ini?
36. (1) “‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak stabil,
terhanyutkan’: ini adalah ringkasan pertama dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang
Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna.
Setelah mengetahui dan melihat dan mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.
[NOTE : Upaniyati loko
addhuvo, terhanyut ke arah penuaan dan kematian.]
(2) “‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tanpa naungan dan
tanpa pelindung’: ini adalah ringkasan ke dua dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang
Bhagavā yang mengetahui dan melihat …
(3) “‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak memiliki
apa-apa, seseorang harus meninggalkan segalanya dan melanjutkan: ini adalah ringkasan ke tiga
dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat …
(4) “‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak lengkap,
tidak pernah terpuaskan, budak ketagihan: ini adalah ringkasan ke empat
dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat …
37. “Baginda, ini adalah ringkasan Dhamma yang telah
diajarkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan
tercerahkan sempurna. [69] Setelah mengetahui dan melihat dan mendengarnya, aku
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah.”
38. “Guru Raṭṭhapāla berkata: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak stabil,
terhanyutkan.’ Bagaimanakah makna dari pernyataan ini dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Ketika engkau berusia
dua puluh atau dua puluh lima tahun, apakah engkau adalah seorang penunggang
gajah yang mahir, seorang penunggang kuda yang mahir? Seorang kusir kereta yang
mahir? Seorang pemanah mahir, seorang pemain pedang yang mahir, dengan tangan
dan kaki yang kuat, kekar, dan mampu bertempur?”
“Ketika aku berusia dua puluh atau dua puluh lima
tahun, Guru Raṭṭhapāla aku adalah seorang
penunggang gajah yang mahir … dengan tangan dan kaki yang kuat, kekar, dan
mampu bertempur. Bahkan kadang-kadang aku berpikir bahwa aku memiliki kekuatan
super. Aku tidak melihat seorangpun yang dapat menyamaiku dalam hal kekuatan.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah
engkau sekarang memiliki tangan dan kaki yang sama kuatnya, sama kekarnya dan
sama mampunya untuk bertempur?”
“Tidak, Guru Raṭṭhapāla. sekarang aku sudah tua, jompo, terbebani tahun
demi tahun, lanjut dalam usia, sampai pada tahap terakhir kehidupan; umurku
sudah delapan puluh tahun. Kadang-kadang aku bermaksud meletakkan kakiku di
sini namun aku meletakkannya di tempat lain.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā
yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak stabil, terhanyutkan’; dan ketika aku mengetahui
dan melihat dan mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan,
betapa benarnya hal itu diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun
juga adalah tidak stabil, terhanyutkan.’ Sungguh memang demikianlah adanya!
39. “Guru Ratthapāla, ada di kerajaan ini pasukan
gajah dan pasukan berkuda, pasukan kereta dan pasukan pejalan kaki, yang akan
mengatasi segala ancaman pada kita. [70] Sekarang Guru Ratthapāla berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tanpa naungan dan tanpa pelindung.’ Bagaimanakah makna dari
pernyataan ini dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah
engkau memiliki penyakit kronis?”
“Aku memiliki penyakit masuk angin kronis, Guru Raṭṭhapāla. Kadang-kadang
teman-teman dan sahabatku, sanak saudara dan kerabatku, berdiri di
sekelilingku, berpikir: ‘Sekarang Raja Koravya akan mati, sekarang Raja Koravya akan
mati!’”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Dapatkah
engkau memerintahkan teman-teman dan sahabatmu, sanak saudara dan kerabatmu:
‘Marilah, teman-teman dan sahabatku, sanak saudara dan kerabatku, semua kalian
yang hadir di sini ambillah sebagian perasaan sakit ini agar perasaan sakit ini
menjadi berkurang’? Atau apakah engkau harus merasakan sakit itu sendiri?”
“Aku tidak dapat memerintahkan teman-teman dan sahabatku,
sanak saudara dan kerabatku demikian, Guru Raṭṭhapāla.
Aku harus merasakan sakit itu sendiri.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā
yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tanpa naungan dan tanpa pelindung’; dan ketika aku mengetahui
dan melihat dan mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan,
betapa benarnya hal itu diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun
juga adalah tanpa naungan dan tanpa pelindung.’ Sungguh memang demikianlah adanya!
40. “Guru Raṭṭhapāla, ada di kerajaan ini uang-uang emas dan perak
yang berlimpah yang tersimpan dalam gudang-gudang harta dan lumbung-lumbung.
Sekarang Guru Raṭṭhapāla berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak memiliki apa-apa, seseorang harus
meninggalkan segalanya dan melanjutkan.’ Bagaimanakah makna dari pernyataan ini
dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Engkau
sekarang [71] memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria, tetapi apakah
engkau dapat memilikinya dalam kehidupan mendatang: ‘Semoga aku dapat menikmati
dan memiliki kelima utas kenikmatan indria yang sama ini’? Atau apakah orang
lain akan mengambil-alih harta ini, sementara engkau harus berlanjut sesuai
dengan perbuatanmu?”
“Aku tidak dapat memilikinya dalam kehidupan mendatang,
Guru Raṭṭhapāla. Sebaliknya, orang lain akan mengambil-alih harta
ini sementara aku harus berlanjut sesuai dengan perbuatanku.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā
yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak memiliki apa-apa, seseorang harus
meninggalkan segalanya dan melanjutkan’; dan ketika aku mengetahui dan melihat dan
mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah.”
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan,
betapa benarnya hal itu diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun
juga adalah tidak memiliki apa-apa, seseorang harus meninggalkan segalanya dan
melanjutkan.’ Sungguh memang demikianlah adanya!
41. “Sekarang Guru Raṭṭhapāla berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak
ketagihan.’ Bagaimanakah makna dari pernyataan ini dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah
engkau menguasai negeri Kuru yang kaya ini?”
“Benar, Guru Raṭṭhapāla.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan
seorang yang terpercaya dan dapat diandalkan mendatangimu dari timur dan
berkata: ‘Untuk engkau ketahui, Baginda, bahwa aku datang dari timur, dan di
sana aku melihat suatu negeri yang luas, kuat dan kaya, berpenduduk padat dan
ramai oleh orang-orang. Terdapat banyak pasukan gajah di sana, banyak pasukan
berkuda, pasukan kereta, dan pasukan pejalan kaki; ada banyak gading di sana,
dan banyak uang-uang emas dan perak baik yang telah diolah maupun belum diolah,
dan banyak perempuan untuk dijadikan istri. Dengan kekuatanmu yang sekarang
engkau dapat menaklukkannya. Taklukkanlah, Baginda.’ Apakah yang akan engkau
lakukan?” [72]
“Kami akan menaklukkannya dan menguasainya, Guru Raṭṭhapāla.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan
seorang yang terpercaya dan dapat diandalkan mendatangimu dari barat … dari
utara … dari selatan … dari seberang samudra dan berkata: ‘Untuk engkau
ketahui, Baginda, bahwa aku datang dari seberang samudra, dan di sana aku
melihat suatu negeri yang luas, kuat dan kaya … Taklukkanlah, Baginda.’ Apakah
yang akan engkau lakukan?”
“Kami akan menaklukkannya juga dan menguasainya, Guru Raṭṭhapāla.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā
yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak
ketagihan’; dan ketika aku mengetahui dan melihat dan mendengarnya, aku
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah.”
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan,
betapa benarnya hal itu diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun
juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak ketagihan.’ Sungguh
memang demikianlah adanya!”
42. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Raṭṭhapāla. Dan setelah mengatakan
hal itu ia berkata lebih lanjut:
“Aku melihat orang-orang kaya di dunia ini, yang masih
Karena ketidaktahuan mereka tidak memberikan harta yang
mereka kumpulkan.
Dengan serakah mereka menimbun kekayaan mereka
Masih menginginkan kenikmatan indria yang lebih jauh
lagi.
Seorang raja yang telah menaklukkan bumi ini secara paksa
Dan menguasai negeri yang dibatasi oleh samudra
Namun masih tidak puas dengan pantai sebelah sini
Dan lapar akan pantai seberang juga. [73]
Sebagian besar orang juga, bukan hanya seorang raja,
Menemui kematian dengan ketagihan tidak mereda;
[Dengan rencana-rencana] yang masih belum terlaksana
mereka meninggalkan jasad
Keinginan masih tetap tidak terpuaskan di dunia ini.
Sanak saudaranya meratap dan menjambak rambut
mereka,
Menangis, ‘Aduh! Celaka! Orang yang kami cintai
sudah mati!’
Mereka membawa jasad yang terbungkus kain pembungkus
mayat
Untuk meletakkannya di atas tumpukan kayu bakar dan
membakarnya disana.
Dengan Berpakaian kain pembungkus mayat, ia meninggalkan
harta kekayaannya.
Didorong dengan tongkat kayu ia terbakar [di atas
tumpukan kayu bakar]
Dan ketika ia mati, tidak ada sanak saudara atau
teman-teman
Yang dapat memberikannya naungan dan perlindungan di
sini.
Sementara keturunannya mengambil alih harta kekayaannya,
makhluk ini
Harus berlanjut sesuai dengan perbuatannya;
Dan ketika ia mati tak seorangpun yang dapat
mengikutinya;
Tidak anak atau istri atau harta kekayaan ataupun
kerajaan.
Usia panjang tidak diperoleh melalui harta kekayaan
Juga kemakmuran tidak dapat menghalau usia tua;
Hidup ini singkat, seperti yang dikatakan oleh semua
orang bijaksana,
Tidak mengenal keabadian, hanya perubahan.
Yang kaya dan yang miskin sama-sama akan merasakan
sentuhan [Kematian],
Yang dungu dan yang bijaksana juga akan merasakannya;
Tetapi sementara si dungu terpukul oleh kedunguannya,
Si bijaksana tidak gemetar akan sentuhannya.
Kebijaksanaan adalah lebih baik di sini daripada harta
kekayaan,
Karena dengan kebijaksanaan seseorang mencapai tujuan
akhir.
Karena orang-orang melalui ketidak-tahuan melakukan
perbuatan-perbuatan jahat
Sementara gagal mencapai tujuan dalam kehidupan demi
kehidupan.
Ketika seseorang memasuki rahim dan alam berikutnya,
Memperbarui lingkaran kelahiran berikutnya,
Yang lain yang memiliki sedikit kebijaksanaan,
karena mempercayainya,
Juga memasuki rahim dan alam berikutnya. [74]
Bagaikan seorang perampok yang tertangkap basah dalam
perampokan
Mengalami penderitaan karena perbuatan jahatnya,
Demikian pula orang-orang setelah kematian, di alam
berikutnya,
Mengalami penderitaan karena perbuatan-perbuatan jahat
mereka.
Kenikmatan indria, bervariasi, manis, menyenangkan,
Dalam berbagai cara mengganggu pikiran:
Melihat bahaya dalam ikatan indria ini
Aku memilih menjalani kehidupan tanpa rumah, O Baginda.
Bagaikan buah yang jatuh dari pohonnya, demikian pula
orang-orang,
Baik muda maupun tua, jatuh ketika jasmani ini hancur.
Melihat hal ini juga, O Baginda, aku meninggalkan
keduniawian:
Kehidupan pertapaan adalah jaminan yang lebih baik.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.