Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pencurian dalam Keluarga, Tetap Dipidana, Bahkan dengan Hukuman yang Diperberat oleh Hakim

LEGAL OPINION
Question: Bila yang melakukan pencurian, pelakunya ternyata adalah anggota keluarga sendiri, apa juga bisa dipidana karena mencuri?
Brief Answer: Dalam praktik peradilan, ... bagi seorang anggota keluarga dilaporkan kepada pihak berwajib sebagai tersangka pelaku pencurian, untuk kemudian diproses oleh pihak penyidik, dilanjutkan dengan proses penuntutan serta vonis hukuman pidana oleh jaksa dan hakim. [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
Ternyata pula dari berbagai putusan yang pernah terungkap di persidangan, kasus-kasus dengan kategori “pencurian dalam keluarga” cukup ... terjadi dan diproses secara hukum—yang pastilah sengketa internal keluarga bersangkutan sangatlah kompleks, oleh sebab penyelesaian secara kekeluargaan tidak juga dapat menjadi solusi sehingga berujung pemidanaan.
Hanya saja yang perlu dipahami, laporan pemidanaan hanya dapat diajukan oleh anggota keluarga yang ... , bukan oleh anggota keluarga yang tidak memiliki ... akibat perbuatan pelaku yang juga sesama anggota keluarga.
Yang tidak kalah penting untuk dipahami, “pencurian dalam keluarga” menjadi faktor / hal yang ... (bukan sebaliknya), dimana Majelis Hakim akan menyatakan dalam pertimbangan hukumnya, bahwa perbuatan Terdakwa dapat menimbulkan ... di dalam keluarga, dimana seharunya Terdakwa ikut menjaga kerukunan keluarga.
PEMBAHASAN:
Salah satu ilustrasi konkretnya, dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan lewat putusan Pengadilan Negeri ... perkara pidana register Nomor .../Pid.B/20.../PN.Blt. tanggal ..., bermula ketika di dalam gudang sebuah rumah toko (...), diletakkan sebuah mesin ..., yang merupakan satu dari berbagai alat-alat yang digunakan dalam rangka pembangunan ... dimaksud, sebagaimana diminta pengerjaan proyeknya oleh ... dan ... yang merupakan para pemilik tanah.
Adapun barang-barang yang dibeli dalam rangka pembangunan proyek ... tersebut, adalah milik keluarga (milik bersama), dengan harga sektar Rp. ....000.000. Terdakwa secara memaksa mengambil mesin tersebut meski telah dilarang oleh penanggung-jawab proyek pembangunan, karena mesin masih digunakan untuk membangun proyek di tempat tersebut.
Dimana terhadap tuntutan Jaksa Penuntut Umum, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terdakwa didakwa dengan dakwaan yang disusun dalam dakwaan ... , oleh karena itu, Majelis Hakim akan mempertimbangkan, apakah perbuatan Terdakwa telah memenuhi unsur-unsur dari ketentuan yang didakwakan tersebut;
“Dakwaan Tunggal tersebut menyatakan, terdakwa didakwa melakukan perbuatan yang diatur dan diancam pidana menurut ketentuan Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo. Pasal 367 Ayat (2) KUHP;
“Menimbang, bahwa unsur-unsur Pasal 362 KUHP, adalah:
- barang siapa;
- mengambil sesuatu benda yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain;
- dengan maksud untuk menguasai benda tersebut secara melawan hukum.
“Bahwa, Terdakwa ...tidak meminta ijin kepada Saksi ... sebagai pihak yang mempunyai andil atau sebagai salah seorang yang mempunyai hak ... atas mesin ... tersebut;
 “Bahwa, berdasarkan uraian tersebut, Terdakwa telah terbukti melakukan perbuatan mengambil sesuatu benda (hal hal ini berupa mesin ...) yang sebagian merupakan milik Saksi ... (Pelapor) yang sebagai anggota keluarga juga memiliki hak milik atas mesin ... tersebut seabgaimana anggota keluarga lainnya;
“Bahwa, susbtansi dari perbuatan melawan hukum adalah sebagai berikut, bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, atau melanggar hak subjektif orang lain, atau melanggar kaidah atau susila (goede zeden), atau bertentangan dengan asas ‘kepatutan’, ketelitian, serta sikap hati-hati dalam pergaulan hidup masyarakat;
“Bahwa, sebagaimana terungkap dalam fakta di persidangan, Terdakwa ...memindahkan mesin ..., dari lokasi di ... di jalan ... ke lokasi di jalan ...;
“Bahwa, perbuatan tersebut dilakukan oleh Terdakwa ...tanpa seijin Saksi ..., sebagai salah satu pihak yang mempunyai hak milik atas mesin ... tersebut;
“Bahwa, Terdakwa ...mempunyai kewajiban untuk menghormati hak pihak lain yang juga berhak atas mesin ... tersebut, yaitu Saksi ...;
“Bahwa, perbuatan Terdakwa ...yang memindahkan mesin ... tersebut dari lokasi di ... di jalan ... ke lokasi di jalan ... , tanpa persetujuan atau tanpa seijin dari Saksi ..., merupakan perbuatan yang melanggar hak Saksi ... sebagai pihak yang juga mempunyai hak atas mesin ... tersebut, sebagaimana juga anggota keluarga yang lain;
“Bahwa, dengan kata lain, berarti Terdakwa ...telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum;
“Bahwa, berdasarkan uraian tersebut di atas, Terdakwa ...menunjukkan sikapnya yang hendak menguasai barang berupa mesin ... tersebut secara melawan hukum;
“Menimbang, bahwa ketentuan Pasal 362 KUHP, dalam dakwaan tersebut dihubungkan dengan ketentuan Pasal 367 Ayat (2) KUHP, yang memuat ketentuan sebagai berikut: ‘Apabila mereka itu adalah suami atau istri yang telah bercerai meja makan dan tempat tidur, atau bercerai harta kekayaan atau saudara sedarah atau karena perkawinan baik di dalam geris lurus atau di dalam garis samping sampai derajat kedua, maka tuntutan terhadap mereka hanyalah dapat dilakukan, apabila ada pengaduan terhadap mereka yang diajukan oleh orang terhadap siapa telah ... kejahatan itu.’;
“Menimbang, bahwa Saksi ... / ..., mengajukan Surat Pengaduan tertanggal ..., kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia Resor Kota ... atas perbuatan Terdakwa ...yang merupakan saudara kandung Saksi ... / ..., yang mengambil berupa mesin ..., tanpa seijin Saksi ..., sebagai pihak yang mempunyai hak atas mesin ... tersebut sebagaimana anggota keluarga lainnya;
“Menimbang, bahwa proses penyidikan perkara ini telah memenuhi ketentuan Pasal 367 Ayat (2) KUHP;
“Menimbang, bahwa semua unsur dakwaan tersebut telah dipenuhi semuanya oleh Terdakwa;
Hal-hal yang memberatkan:
- bahwa, perbuatan Terdakwa dapat menimbulkan ... di dalam keluarga, seharunya Terdakwa ikut menjaga ... keluarga;
Hal-hal yang meringankan:
- bahwa, Terdakwa bersikap sopan di persidangan;
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan Terdakwa ...alias ... , telah ... secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Pencurian dalam ...;
2. Menghukum Terdakwa dengan pidana penjara selama ... (...) bulan.” [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan