Pikiran adalah Perbuatan Itu Sendiri, yakni Verba “Berpikir”, karenanya Pikiran Jahat dapat DIpidana
Dengan memakai doktrin “chain of command” (rantai komando), seorang atasan di kemiliteran dapat turut dipidana bila anak-buahnya melakukan sesuatu yang kemudian dinilai merupakan perbuatan melawan hukum. Yang melakukan kejahatan secara aktual, ialah prajurit bawahan, namun mengapa sang pimpinan-lah yang satu-satunya bisa dipidana berdasarkan doktrin “chain of command”? Karena “pikiran” dapat dipidana. Bahkan, pelaku aktualnya, yakni serdadu yang menjalankan perintah atasan, sebagai eksekutor perintah atasan, tidak dipidana. Karenanya, faktor / unsur “pikiran” tidak dapat diremehkan esensinya sebagai penentu siapakah yang dapat dimintakan pertanggung-jawaban pidana secara hukum. Itu adalah contoh konkret yang paling kentara, bahwa “pikiran” bisa lebih berbobot-nilai daripada perbuatan lahiriah.
Dalam teks ilmu hukum pidana, ada
disebutkan bahwa “pikiran tidak dapat dipidana”. Sudah sejak lama, bahkan
sejak penulis masih duduk sebagai mahasiswa di kursi perguruan tinggi hukum,
penulis tidak sependapat dengan doktrin para pujangga hukum pidana masa lampau
yang masih diadopsi hingga saat kini, dimana dahulu kala kejahatan-kejahatan “kerah
putih” masih belum lazim dikenal. Dalam kejahatan-kejahatan era modern
kontemporer berupa kejahatan “kerah putih” (white collar crime), ada
yang namanya pelaku “aktor intelektual” dibalik aksi para pelaku aktual di lapangan
(eksekutor, perbuatan lahiriah), otak kejahatan dibalik layar yang merencanakan
dan mengorganisir seluruh aksi pelaku lapangan.
Perancang yang mengorkestrasi
para pelakunya, setting modus operandi maupun lokasi kejahatan,
penyiapan kondisi, suplai logistik alat-alat kejahatan, rekruitmen penjahat-penjahat
terampil, pembagian peran, penentuan target korban, hingga persiapan “selubung”
untuk berkelit dan beralibi, bahkan secara sistematik memetakan cara
mengaburkan asal-usul hasil kejahatan, di-arsitek-i oleh sang “aktor
intelektual” yang notabene pelaku utama. Pelaku utama, merupakan pelaku dominan, sekalipun pihak
eksekutornya ialah pihak yang lain. Mengapa penulis berpendirian, bahwa “aktor intelektual”
merupakan “pelaku dominan”? Ilustrasi paling sederhana, ialah kalangan bandar obat-obatan terlarang.
Para bandar tersebut, selalu menggunakan kurir pihak ketiga untuk mendistribusikan
obat-obatan terlarang yang mereka perjual-belikan dan edarkan.
Karena kalangan bandar tidak
pernah secara langsung-personal terjun sendiri ke lapangan untuk mengantarkan paket-paket
berisi barang terlarang tersebut, maka penulis selalu berpendirian bahwa agar
modus-operandi demikian tidak dapat disalah-gunakan, maka kalangan kurir
harus dihukum SAMA BERAT dengan bila sang bandar yang menjadi kurirnya sendiri sebelum
kemudian ditangkap dan diadili. Bila tidak demikian, maka yang diuntungkan
ialah kalangan bandar, karena tiada resiko fatal yang berpotensi terjadi
manakala kurirnya tertangkap-tangan oleh aparatur penegak hukum, lalu sang
kurir divonis pidana ringan oleh pengadilan—alibi klise “sang kurir adalah
orang miskin yang butuh uang”—sementara sang bandar tidak jelas dimana “batang
hidung”-nya setiap kali obat-obatan terlarang beredar-luas di masyarakat.
Jadilah, mendistribukan obat-obatan
terlarang akan menyerupai “iseng-iseng berhadiah”—bila sang kurir tidak
tertangkap, “untung besar”. Bila sang kurir tertangkap, para “pembela HAM” akan
membela sang kurir dengan jargon “menghukum mati adalah melanggar HAM, apalagi
Terdakwa HANYALAH SEORANG KURIR, BUKAN BANDAR”. Sungguh naif, seolah
kalangan bandar pernah terjun-langsung ke lapangan sebagai kurir. Apapun skenarionya,
sang bandar tetap aman tidak tersentuh hukum, selamanya “aman” (dibalik layar)
sebagai “anomim”. Begitupula kejahatan-kejahatan seperti “human trafficking”,
dimana yang diperjual-belikan bukanlah komoditas, namun manusia, yang ironisnya
pelaku maupun korbannya ialah sesama anak bangsa sendiri, namun vonis bagi
pelakunya cenderung ringan. Tidak jarang terjadi, jaringan sindikat pelaku “perdagangan
manusia” begitu berlapis. Otak dibalik modus kejahatan yang sering berupa lintas-negara,
sukar diendus ataupun dilacak keberadaannya, karena yang menjadi aktor pelaku
di lapangan adalah anak-buah kaki-tangan semata.
Fakta demikian, secara
sendirinya telah membantah teori ilmu hukum pidana klasik. Dalam kejahatan
korporasi, pihak pengendali (pemegang kendali) dapat dipidana, sekalipun
bukan ia yang menjadi pelaku aktual di lapangan. Dalam banyak kasus korupsi
oleh Kepala Daerah di Tanah Air, sang Kepala Daerah yang menyalah-gunakan
wewenang / kekuasaan-jabatannya (kolusi) jarang secara langsung memeras dan
memungut setoran / dana dari pihak peserta tender maupun dari aparatur jajaran
dibawah instansinya, biasanya menggunakan “makelar” yang ialah sanak-saudara
atau orang kepercayaan suruhan sang Kepala Daerah. Tidak terkecuali para mafia
yang tumbuh-subur di Indonesia, ataupun pelaku kartel harga, sang “pemodal” (cukong)
selalu tersembunyi di balik layar dan tidak pernah menjadi aktor yang
mengeksekusi (eksekutor) di lapangan.
Bila aparatur penegak hukum menerapkan
ilmu hukum pidana klasik, “pikiran tidak dapat dipidana”, hanya perbuatan
lahiriah berupa ucapan maupun aksi fisik yang dapat dipidana, maka dapat dipastikan
kejahatan-kejahatan “kerah-putih” sebagaimana contoh-contoh di atas, akan lolos
dari jerat hukum. Pertanyaan kedua yang tidak kalah penting dan relevan, siapakah yang sepaturnya
dihukum paling berat, pelaku-lapangan (eksekutor) atakah sang “otak intelektual”
yang merencanakan kejahatan tersebut? Anda harus ingat dan memegang jawaban atas pertanyaan
tersebut, sebelum kita beralih pada bahasan lebih jauh untuk menguji “asumsi” Anda.
Kini, adakah diantara para
pembaca yang pernah merenungkan fenomana sosial berikut. Ini dan itu, disebut “haram”.
Ini dan itu, disebut “dilarang Tuhan”. Ini dan itu, disebut “dosa”. Namun, isi
pikiran mereka yang mengumandangkan jargon-jargon demikian, justru dikuasai,
demam, kerinduan, serta mabuk-kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition of
sins) dimana tentunya butuh “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”—keduanya saling
budling tanpa dapat dipisahkan, bagaikan sikat gigi dan pasta gigi yang saling
komplomenter. Bahkan, lebih jauh lagi, dosa-dosa pun hendak mereka korupsi
sehingga menjelma “KORUPTOR DOSA”, lewat dogma korup “PENGHAPUSAN DOSA”
demikian. Dogma, adalah ranah “pikiran”, dan ia merupakan pengeruh pandangan, yang
mana pandangan keruh pada gilirannya akan meracuni persepsi seseorang ketika melihat
segala sesuatunya untuk dapat dikenali suatu objek “sebagaimana adanya” ataukah
“sebagaimana subjektivitas sang pengamat”.
Terdapat falsafah, bahwa “aktor intelektual” sebagai si
pemilik “pikiran” atau pencetus “pikiran jahat”, harus dihukum lebih berat
daripada para “aktor lapangan” yang mengeksekusi pikiran tersebut lewat
perbuatan lahiriah eksekutornya, sebagaimana dapat kita simak Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA 56
Upāli Sutta : Kepada Upāli
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Nāḷandā
di Hutan Mangga Pāvārika.
2. Pada saat itu Nigaṇṭha Nātaputta sedang berada di
Nāḷandā bersama sekumpulan besar
para Nigaṇṭha. Kemudian, ketika seorang
Nigaṇṭha [bernama] Dīgha Tapassī
telah menerima dana makanan dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah
makan ia pergi ke Hutan Mangga Pāvārika untuk menemui Sang Bhagavā. [372] Ia
saling bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, dan ketika ramah-tamah ini selesai,
ia berdiri di satu sisi. Ketika berdiri di sana, Sang Bhagavā berkata
kepadanya: “Ada tempat duduk, Tapassī, duduklah jika engkau menginginkan.”
3. Ketika hal ini dikatakan, Dīgha Tapassī mengambil
tempat duduk yang rendah dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata
kepadanya: “Tapassī, berapa banyakkah jenis perbuatan yang digambarkan oleh
Nigaṇṭha Nātaputta sebagai
pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk?”
“Teman Gotama, Nigaṇṭha Nātaputta tidak menggunakan
penggambaran ‘perbuatan, perbuatan’; Nigaṇṭha Nātaputta biasanya menggunakan penggambaran
‘tongkat, tongkat.’”
“Kalau begitu, Tapassī, berapa banyakkah jenis
tongkat yang digambarkan oleh Nigaṇṭha Nātaputta sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan
perbuatan buruk?”
“Teman Gotama, Nigaṇṭha Nātaputta menjelaskan tiga
jenis tongkat sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan
buruk; yaitu, tongkat jasmani, tongkat ucapan, dan tongkat pikiran.”
“Bagaimanakah, Tapassī, apakah tongkat jasmani
adalah satu hal, tongkat ucapan adalah hal lainnya, dan tongkat pikiran adalah
hal lainnya lagi?”
“Tongkat jasmani adalah satu hal, Guru Gotama,
tongkat ucapan adalah hal lainnya, dan tongkat pikiran adalah hal lainnya
lagi.”
“Dari ketiga jenis tongkat ini, Tapassī, yang
dianalisa dan dibedakan sedemikian, jenis yang manakah yang oleh Nigaṇṭha Nātaputta digambarkan sebagai yang paling tercela bagi
pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk: tongkat jasmani
atau tongkat ucapan atau tongkat pikiran?”
“Dari ketiga jenis tongkat ini, Teman Gotama, yang
dianalisa dan dibedakan sedemikian, Nigaṇṭha Nātaputta menggambarkan
tongkat jasmani sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk,
dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran
tidak terlalu tercela.”
“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”
“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”
“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”
“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”
“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”
“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”
Demikianlah Sang Bhagavā membuat Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mempertahankan
pernyataannya sampai tiga kali. [373]
4. Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī bertanya
kepada Sang Bhagavā: “Dan Engkau, Teman Gotama, berapa banyakkah jenis tongkat
yang digambarkan olehMu sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan
perbuatan buruk?”
“Tapassī, Sang Tathāgata tidak menggunakan
penggambaran ‘tongkat, tongkat’; Sang Tathāgata biasanya menggunakan
penggambaran ‘perbuatan, perbuatan.’”
“Kalau begitu, Teman Gotama berapa banyakkah jenis
perbuatan yang digambarkan olehMu sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam
melakukan perbuatan buruk?”
“Tapassī, Aku menggambarkan tiga jenis perbuatan
sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk; yaitu,
perbuatan jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran.”
“Bagaimanakah, Teman Gotama, apakah perbuatan
jasmani adalah satu hal, perbuatan ucapan adalah hal lainnya, dan perbuatan
pikiran adalah hal lainnya lagi?”
“Perbuatan jasmani adalah satu hal, Tapassī,
perbuatan ucapan adalah hal lainnya, dan perbuatan pikiran adalah hal lainnya
lagi.”
“Dari ketiga jenis perbuatan ini, Teman Gotama, yang
dianalisa dan dibedakan sedemikian, jenis yang manakah yang olehMu digambarkan sebagai yang
paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan
buruk: perbuatan jasmani atau perbuatan ucapan atau perbuatan pikiran?”
“Dari ketiga jenis perbuatan ini, Tapassī, yang
dianalisa dan dibedakan sedemikian, Aku menggambarkan perbuatan
pikiran sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam
melakukan perbuatan buruk, sedangkan perbuatan jasmani dan perbuatan ucapan
tidak terlalu tercela.”
[NOTE : Sang Buddha mengatakan
hal tersebut, karena dalam ajaranNya kehendak (cetanā), suatu faktor
batin, adalah unsur kamma yang paling penting, dan dengan ketiadaannya –
yaitu, dalam kasus aktivitas jasmani atau ucapan yang tidak disengaja – tidak
ada kamma yang dihasilkan. Akan tetapi, terdapat juga pendapat bahwa
Sang Buddha mengatakan hal ini dengan merujuk pada pandangan salah dengan
akibat pasti (niyatā micchā diṭṭhi),
dan mengutip Anguttara Nikāya 1:18.3/i.33 sebagai dukungan: “Para bhikkhu, Aku
tidak melihat apapun yang begitu tercela seperti halnya pandangan salah.
Pandangan salah adalah yang paling tercela dari segala hal.”]
“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman
Gotama?”
“Aku mengatakan perbuatan pikiran, Tapassī.”
“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman
Gotama?”
“Aku mengatakan perbuatan pikiran, Tapassī.”
“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman
Gotama?”
“Aku mengatakan perbuatan pikiran, Tapassī.”
Demikianlah Nigaṇṭha Dīgha Tapassī membuat Sang
Bhagavā mempertahankan pernyataanNya sampai tiga kali, dan setelah itu ia
bangkit dari duduknya dan pergi menghadap Nigaṇṭha Nātaputta.
5. Pada saat itu Nigaṇṭha Nātaputta sedang duduk
bersama sejumlah besar umat awam dari Bālaka yang dipimpin oleh Upāli. Dari
kejauhan Nigaṇṭha Nātaputta melihat kedatangan
Nigaṇṭha Dīgha Tapassī dan bertanya
kepadanya: “Dari manakah engkau datang di siang hari ini, Tapassī?”
“Aku datang dari kediaman Petapa Gotama, Yang
Mulia.”
“Apakah engkau berbincang-bincang dengan Petapa
Gotama, Tapassī?” [374]
“Aku berbincang-bincang dengan Petapa Gotama, Yang
Mulia.”
“Seperti apakah perbincanganmu dengan Beliau,
Tapassī?”
Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī menceritakan kepada Nigaṇṭha Nātaputta keseluruhan
pembicaraannya dengan Sang Bhagavā.
6. Ketika hal ini dikatakan Nigaṇṭha Nātaputta berkata: “Bagus,
bagus, Tapassī! Nigaṇṭha Dīgha Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang
telah diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah
artinya tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani
yang kasar? Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi
pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat
ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”
7. Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli
berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Bagus, bagus, Yang Mulia, [di pihak] Dīgha Tapassī! Yang
Mulia Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang telah
diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah artinya
tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang kasar?
Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan
perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan
tongkat pikiran tidak terlalu tercela. Sekarang, Yang Mulia, aku akan pergi dan
membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Jika Petapa
Gotama di hadapanku mempertahankan apa yang Beliau pertahankan di hadapan Yang
Mulia Dīgha Tapassī, maka bagaikan seorang kuat mencengkeram seekor domba
jantan berbulu lebat pada bulunya dan menariknya berputar, demikian pula dalam
perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke
sini dan menarikNya berputar. Bagaikan seorang pembuat minuman keras yang kuat
dapat melemparkan sebuah saringan minuman besar ke dalam tangki air yang dalam,
dan dengan memegang salah satu ujungnya, menariknya ke sana dan menariknya ke
sini dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan
menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menarikNya
berputar. Bagaikan seorang pengaduk minuman keras yang kuat dapat memegang tepi
saringan dan mengguncangnya ke bawah dan mengguncangnya ke atas dan mengguncangnya
ke segala arah, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan mengguncang Petapa
Gotama ke bawah [375] dan mengguncang Beliau ke atas dan mengguncang Beliau ke
segala arah. Dan bagaikan seekor gajah berumur enam puluh tahun akan mencebur
ke dalam kolam dan menikmati permainan mencuci rami, demikian pula aku akan
menikmati permainan mencuci rami dengan Petapa Gotama. Yang Mulia, aku akan
pergi dan membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini.”
“Pergilah, perumah-tangga, dan bantahlah doktrin
Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Karena apakah aku sendiri atau
Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau
sendiri harus membantah doktrin Petapa Gotama.”
8. Ketika hal ini dikatakan, Nigaṇṭha Dīgha Tapassī berkata kepada
Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, aku
tidak setuju perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa
Gotama. Karena Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir
pengalihan keyakinan yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut
sekte lainnya.”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa
perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin
saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah
perumah-tangga Upāli. Pergilah, perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa
Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau
sendiri harus membantah doktrin Petapa Gotama.”
Untuk ke dua kalinya ... Untuk ke tiga kalinya, Nigaṇṭha Dīgha Tapassī berkata kepada
Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, aku
tidak setuju perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa
Gotama. Karena Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir
pengalihan keyakinan yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut
sekte lainnya.”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa
perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin
saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah
perumah-tangga Upāli. Pergilah, perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa
Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau
sendiri harus membantah doktrin Petapa Gotama.”
9. “Baik, Yang Mulia,” perumah-tangga Upāli
menjawab, dan ia bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Nigaṇṭha Nātaputta, dengan Nigaṇṭha Nātaputta di sisi kanannya,
ia pergi mendatangi Sang Bhagavā di Hutan Mangga Pāvārika. [376] Di sana,
setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada
Sang Bhagavā: “Yang Mulia, apakah tadi Nigaṇṭha Dīghā Tapassī datang ke
sini?”
“Tadi Nigaṇṭha Dīgha Tapassī datang ke sini, perumah-tangga.”
“Yang Mulia, apakah Engkau berbincang-bincang
dengannya?”
“Aku berbincang-bincang dengannya, perumah-tangga.”
“Seperti apakah perbincanganMu dengannya, Yang
Mulia?”
Kemudian Sang Bhagavā menceritakan kepada
perumah-tangga Upāli keseluruhan pembicaraanNya dengan Nigaṇṭha Dīgha Tapassī.
10. Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli
berkata kepada Sang Bhagavā: “Bagus, bagus, Yang Mulia, di pihak Tapassī! Nigaṇṭha Dīgha Tapassī telah menjawab
Petapa Gotama seperti seorang siswa yang telah diajarkan dengan baik yang
memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah artinya tongkat pikiran yang halus
bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang kasar? Sebaliknya, tongkat
jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam
melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak
terlalu tercela.”
“Perumah-tangga, jika engkau akan berdebat dengan
berdasarkan pada kebenaran, maka kita mungkin akan terlibat dalam perbincangan
mengenai hal ini.”
“Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada
kebenaran, Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.”
11. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Di sini
beberapa Nigaṇṭha mungkin mengalami kesusahan,
menderita, dan sakit keras [dengan penyakit yang membutuhkan perawatan dengan
air dingin, yang tidak diperbolehkan oleh sumpahnya] dan ia akan menolak air
dingin [walaupun menginginkannya] dan hanya menggunakan air panas [yang
diperbolehkan dan dengan demikian menjaga sumpahnya secara jasmani dan ucapan].
Karena tidak mendapatkan air dingin maka ia akan mati. Sekarang,
perumah-tangga, di manakah Nigaṇṭha Nātaputta menggambarkan kelahiran kembalinya [terjadi]?”
“Yang Mulia, ada para dewa yang disebut
‘pikiran-terikat’; ia akan terlahir kembali di sana. Mengapakah? Karena ketika
ia mati ia masih terikat [oleh kemelekatan] dalam pikiran.”
“Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana
engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa
yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat
pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, Yang
Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata
demikian, namun tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan
perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan
tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”
12. “Bagaimana menurutmu, [377] perumah-tangga? Di
sini beberapa Nigaṇṭha mungkin terkendali dengan
empat pengawasan – terkekang oleh segala pengekangan, terjepit oleh segala
pengekangan, tercuci oleh segala pengekangan, dan dituntut oleh segala
pengekangan - namun ketika berjalan maju dan mundur ia menyebabkan
kehancuran banyak makhluk hidup. Apakah akibat yang dijelaskan oleh Nigaṇṭha Nātaputta terhadapnya?”
“Yang Mulia, Nigaṇṭha Nātaputta tidak
menjelaskan apa yang tidak disengaja sebagai sangat tercela.”
“Tetapi jika orang itu sengaja, perumah-tangga?”
“Maka itu adalah sangat tercela, Yang Mulia.”
“Tetapi dalam kelompok manakah [dari ketiga tongkat]
Nigaṇṭha Nātaputta menjelaskan kehendak, perumah-tangga?”
“Dalam tongkat pikiran, Yang Mulia.”
[NOTE : Sang Buddha menunjukkan
suatu kontradiksi antara ajaran-ajaran Jain bahwa, bahkan dengan tidak adanya
kehendak, “tongkat jasmani” merupakan yang paling tercela dibandingkan dengan
yang lainnya, dan penegasan mereka bahwa adanya kehendak banyak mengubah
karakter moral dari suatu perbuatan.]
“Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana
engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa
yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat
pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran,
Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata
demikian, namun tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan
perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan
tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”
13. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Apakah
pemukiman Nāḷandā ini berhasil dan makmur,
apakah ramai dan penuh dengan orang?”
“Benar, Yang Mulia, demikianlah.”
“Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Misalkan seseorang
datang dengan mengacungkan pedang dan berkata: ‘Dalam sesaat, dalam sekejap,
aku akan menjadikan seluruh makhluk hidup di pemukiman Nāḷanda ini menjadi satu tumpukan
daging, menjadi satu gunung daging.’ Bagaimana menurutmu, perumah-tangga,
mampukah orang itu melakukan hal itu?”
“Yang Mulia, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat
puluh, atau bahkan lima puluh orang tidak akan mampu menjadikan seluruh makhluk
hidup di pemukiman ini menjadi satu tumpukan daging, menjadi satu gunung daging
dalam sesaat atau sekejap, apalagi hanya satu orang?”
“Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Misalkan seorang
petapa atau brahmana yang memiliki kekuatan batin dan mencapai penguasaan
pikiran datang dan berkata: ‘Aku akan menghancurkan pemukiman Nāḷanda
ini menjadi abu dengan satu perbuatan pikiran membenci.’ Bagaimana menurutmu,
perumah-tangga, dapatkah petapa atau brahmana itu melakukan hal tersebut?” [378]
“Yang Mulia, seorang petapa atau brahmana demikian yang memiliki
kekuatan batin dan mencapai penguasaan pikiran akan mampu menghancurkan
sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau bahkan lima puluh Nāḷanda
menjadi abu dengan satu perbuatan pikiran membenci, apalagi hanya satu Nāḷanda?”
“Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana
engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa
yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat
pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran,
Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata
demikian, namun tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan
perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan
tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”
14. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Pernahkah
engkau mendengar bagaimana hutan-hutan Daṇḍaka, Kālinga, Mejjha, dan Mātanga menjadi hutan?” –
“Pernah, Yang Mulia.” – “Karena engkau pernah mendengarnya, bagaimanakah
terjadinya hutan-hutan itu?” – “Yang Mulia, aku mendengar bahwa hutan-hutan itu
terjadi melalui perbuatan pikiran membenci dari para petapa.”
“Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana
engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa
yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat
pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran,
Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
15. “Yang Mulia, aku merasa puas dan senang sejak
perumpamaan Bhagavā yang pertama. Namun demikian, aku pikir aku harus membantah
Sang Bhagavā seperti itu karena aku ingin mendengarkan dari Sang Bhagavā
berbagai solusi atas permasalahan. Mengagumkan, Yang Mulia! Mengagumkan, Yang
Mulia! Sang Bhagavā telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah
Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi,
menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan
agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Yang
Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā [379] dan pada Dhamma dan pada Sangha
para bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah
menerima perlindungan seumur hidup.”
16. “Selidikilah dengan saksama, perumah-tangga. Baik sekali bagi orang
terkenal seperti engkau untuk menyelidiki dengan saksama.”
“Yang Mulia, aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih
senang dengan pemberitahuan Sang Bhagavā itu. Karena sekte-sekte lain,
ketika mendapatkan aku sebagai siswa mereka, akan membawa panji ke seluruh Nāḷanda mengumumkan: ‘Perumah-tangga
Upāli telah menjadi siswa kami.’ Tetapi, sebaliknya, Sang Bhagavā
memberitahukan: ‘Selidikilah dengan saksama, perumah-tangga. Baik sekali bagi
orang terkenal seperti engkau untuk menyelidiki dengan saksama.’ Jadi untuk ke dua kalinya,
Yang Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma dan pada Sangha
para bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah
menerima perlindungan seumur hidup.”
17. “Perumah-tangga, keluargamu telah lama menyokong para Nigaṇṭha
dan engkau harus mempertimbangkan bahwa dana harus diberikan kepada mereka
ketika mereka datang.”
“Yang Mulia, aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih
senang dengan pemberitahuan Sang Bhagavā itu. Yang Mulia, aku telah mendengar
bahwa Petapa Gotama mengatakan sebagai berikut: ‘Persembahan harus diberikan
hanya kepadaKu; persembahan tidak boleh diberikan kepada orang lain.
Persembahan harus diberikan hanya kepada para siswaKu; persembahan tidak boleh
diberikan kepada para siswa orang lain. Hanya persembahan yang diberikan
kepadaKu yang menghasilkan buah, bukan apa yang diberikan kepada orang lain. Hanya
persembahan yang diberikan kepada para siswaKu yang menghasilkan buah, bukan
apa yang diberikan kepada para siswa orang lain.’ Tetapi, sebaliknya, Sang
Bhagavā menganjurkan untuk memberikan persembahan kepada para Nigaṇṭha. Bagaimanapun juga kami akan
mengetahui waktunya untuk itu, Yang Mulia. Jadi untuk ke tiga kalinya, Yang
Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma dan pada Sangha para
bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah
menerima perlindungan seumur hidup.”
18. Kemudian Sang Bhagavā membabarkan kepada
perumah-tangga Upāli instruksi bertingkat, yaitu, khotbah tentang memberi,
khotbah tentang moralitas, khotbah tentang alam surga; Beliau menjelaskan
bahaya, kemunduran, dan kekotoran dalam kenikmatan indria dan berkah dari
pelepasan keduniawian. Ketika Beliau mengetahui bahwa pikiran perumah-tangga
Upāli [380] telah siap, dapat menerima, bebas dari rintangan, gembira, dan
berkeyakinan, Beliau membabarkan kepadanya ajaran yang khas para Buddha: penderitaan,
asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan [menuju lenyapnya penderitaan]. Bagaikan sehelai kain bersih
dengan semua noda disingkirkan akan dapat menerima warna dengan merata,
demikian pula, selagi perumah-tangga Upāli duduk di sana, penglihatan Dhamma
yang sangat bersih tanpa noda muncul dalam dirinya: “Segala
sesuatu yang tunduk pada kemunculan juga tunduk pada kelenyapan.” Kemudian perumah-tangga
Upāli melihat Dhamma, mencapai Dhamma, memahami Dhamma, mengukur Dhamma; ia
menyeberang melampaui keragu-raguan, menyingkirkan kebingungan, memperoleh
keberanian, dan menjadi tidak tergantung pada orang lain dalam Pengajaran Sang
Guru. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Sekarang, Yang Mulia, kami
harus pergi. Kami sibuk dan banyak urusan yang harus dikerjakan.”
“Silakan engkau pergi, perumah-tangga.”
19. Kemudian perumah-tangga Upāli, setelah merasa
senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan
setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau di sisi kanannya, ia
kembali ke rumahnya. Di sana ia memanggil penjaga pintunya sebagai berikut:
“Penjaga pintu, mulai hari ini dan seterusnya aku menutup pintuku untuk para
Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan aku membuka pintuku
untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan
para siswa Sang Bhagavā. Jika ada Nigaṇṭha datang, katakan pada mereka sebagai berikut:
‘Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan seterusnya perumah-tangga
Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah menutup pintunya untuk para
Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya
untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan
para siswa Sang Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan,
tunggulah di sini; mereka akan membawakannya untukmu di sini.’” – “Baik, Tuan,”
penjaga pintu itu menjawab.
20. Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mendengar: “Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa
Petapa Gotama.” Kemudian ia menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, aku
telah mendengar sebagai berikut: ‘Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa
Petapa Gotama.’”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa
perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin
saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah
perumah-tangga Upāli.” [381]
Untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya
Nigaṇṭha Dīgha Tapassī memberitahukan
kepada Nigaṇṭha Nātaputta:
“Yang Mulia, aku telah mendengar sebagai berikut:
‘Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama.’”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi …”
“Yang Mulia, haruskah aku pergi dan mencari tahu
apakah perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama atau tidak?”
“Pergilah, Tapassī, dan cari tahu apakah ia telah
menjadi siswa Petapa Gotama atau tidak.”
21. Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mendatangi
rumah perumah-tangga Upāli. Dari jauh penjaga pintu melihatnya datang dan
memberitahunya: “Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan
seterusnya perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah
menutup pintunya untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya
untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan
para siswa Sang Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan,
tunggulah di sini; mereka akan membawakannya untukmu di sini.”
“Aku tidak membutuhkan persembahan, teman,” ia
berkata, dan ia kembali menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, sangat benar bahwa
perumahtangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Yang Mulia, engkau tidak
menyetujui ketika aku memberitahukan kepadamu: ‘Yang Mulia, aku tidak setuju
perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa Gotama. Karena
Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir pengalihan keyakinan
yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut sekte lainnya.’ Dan
sekarang, Yang Mulia, perumah-tangga Upāli telah dialihkan keyakinannya oleh
Petapa Gotama dengan sihir pengalihan keyakinannya!”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa
perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin
saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah
perumah-tangga Upāli.“
Untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya
Nigaṇṭha Dīgha Tapassī memberitahukan
kepada Nigaṇṭha Nātaputta:
“Yang Mulia, sangat benar bahwa perumah-tangga Upāli
telah menjadi siswa Petapa Gotama [382] ... dengan sihir pengalihan
keyakinannya!”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi …
dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga
Upāli. Sekarang aku akan pergi sendiri dan mencari tahu apakah ia telah menjadi
siswa Petapa Gotama atau tidak.”
22. Kemudian Nigaṇṭha Nātaputta bersama dengan
sejumlah besar para Nigaṇṭha mendatangi rumah perumah-tangga Upāli. Dari jauh Penjaga pintu
melihatnya datang dan memberitahunya:
“Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini
dan seterusnya perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah
menutup pintunya untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya
untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan
para siswa Sang Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan,
tunggulah di sini; mereka akan membawakannya untukmu di sini.”
“Penjaga pintu, pergilah temui perumah-tangga Upāli
dan katakan kepadanya: ‘Tuan, Nigaṇṭha Nātaputta sedang berdiri di gerbang luar bersama sejumlah besar para
Nigaṇṭha; ia ingin menemui Tuan.’”
“Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia pergi
menemui perumah-tangga Upāli dan memberitahukan kepadanya: ” Tuan, Nigaṇṭha Nātaputta sedang berdiri di
gerbang luar bersama sejumlah besar para Nigaṇṭha; ia ingin menemui Tuan.”
“Kalau begitu, penjaga pintu, persiapkan
tempat-tempat duduk di aula di pintu tengah.”
“Baik, Tuan,” ia menjawab, dan setelah ia
mempersiapkan tempat-tempat duduk di aula di pintu tengah, ia kembali menghadap
perumah-tangga Upāli dan memberitahunya: “Tuan, tempat-tempat duduk telah
dipersiapkan di aula di pintu tengah. Silahkan Tuan datang.”
23. Kemudian perumah-tangga Upāli [383] memasuki
aula di pintu tengah dan duduk di tempat duduk tertinggi, terbaik, termulia
yang ada di sana. Kemudian ia memberitahu si penjaga pintu: “Sekarang, penjaga
pintu, temuilah Nigaṇṭha Nātaputta dan beritahukan kepadanya: ‘Yang Mulia, perumah-tangga Upāli
berkata: “Silahkan masuk, Yang Mulia.”’”
“Baik, Tuan,” ia menjawab, dan ia menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan
memberitahunya: “Yang Mulia, perumah-tangga Upāli berkata: ‘Silahkan masuk,
Yang Mulia.’” Kemudian Nigaṇṭha Nātaputta bersama dengan sejumlah besar para Nigaṇṭha memasuki aula di pintu
tengah.
24. Sebelumnya, ketika perumah-tangga Upāli dari
kejauhan melihat kedatangan Nigaṇṭha Nātaputta, ia biasanya keluar untuk menemuinya, membersihkan tempat
duduk tertinggi, terbaik, termulia yang ada di sana dengan jubah luarnya, dan
setelah menata seluruhnya, ia mempersilahkannya duduk di tempat duduk tersebut.
Tetapi sekarang, sambil duduk di tempat duduk tertinggi, terbaik, termulia,
ia berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, ada tempat-tempat duduk; duduklah jika kalian
menghendaki.”
25. Ketika hal ini dikatakan, Nigaṇṭha Nātaputta berkata: “Perumah-tangga,
engkau gila, engkau bodoh. Engkau pergi dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, aku
akan membantah doktrin Petapa Gotama,’ dan engkau telah kembali dengan terjebak
oleh jaring besar ajaranNya. Bagaikan seseorang yang pergi untuk mengebiri
orang lain dan kembali dengan dirinya sendiri yang dikebiri, bagaikan seseorang
yang pergi untuk mencungkil mata orang lain dan kembali dengan matanya sendiri
tercungkil; demikian pula engkau, perumah-tangga, pergi dengan mengatakan:
‘Yang Mulia, aku akan membantah doktrin Petapa Gotama,’ dan engkau telah
kembali dengan terjebak oleh jaring besar ajaranNya. Perumah-tangga, engkau
telah teralihkan oleh Petapa Gotama dengan sihir pengalihannya!”
26. “Sungguh menguntungkan sekali sihir pengalihan
itu, Yang Mulia, sungguh baik sekali sihir pengalihan itu! Yang Mulia, jika
sanak saudara dan kerabatku teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan
menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan sanak saudara dan kerabatku untuk
waktu yang lama. Jika semua para mulia teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu
akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan para mulia itu untuk waktu
yang lama. [384] Jika semua brahmana ... semua pedagang ... semua pekerja
teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan
kebahagiaan para pekerja itu untuk waktu yang lama. Jika dunia ini bersama
dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan
brahmana, para pangeran dan rakyatnya, teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu
akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dunia untuk waktu yang lama.
Sehubungan dengan hal ini, Yang Mulia, aku akan memberikan perumpamaan
kepadamu; karena beberapa orang bijaksana di sini memahami makna suatu
pernyataan melalui perumpamaan.
27. “Yang Mulia, suatu ketika terdapat seorang
brahmana yang sudah tua, jompo, dan terbebani dengan tahun demi tahun, dan ia
memiliki istri seorang brahmana muda yang sedang hamil dan menjelang
persalinan. Kemudian ia berkata kepada suaminya: ‘Pergilah, brahmana, belilah
seekor monyet muda di pasar dan bawa pulang untukku sebagai teman bermain bagi
anakku.’ Ia menjawab: ‘Tunggulah, istriku, hingga engkau melahirkan anak. Jika
engkau melahirkan anak laki-laki, maka aku akan pergi ke pasar dan membelikan seekor
monyet jantan muda dan membawanya pulang sebagai teman bermain bagi anakmu;
tetapi jika engkau melahirkan anak perempuan, maka aku akan pergi ke pasar dan
membelikan seekor monyet betina muda dan membawanya pulang sebagai teman
bermain bagi anakmu.’ Untuk ke dua kalinya ia mengajukan permohonan yang sama
dan menerima jawaban yang sama. Untuk ke tiga kalinya ia mengajukan permohonan
yang sama. Maka, karena pikirannya terikat pada istrinya dengan cinta,
ia pergi ke pasar, membeli seekor monyet jantan muda, membawanya pulang, dan
berkata kepada istrinya: ‘Aku telah membeli monyet jantan muda ini di pasar
[385] dan membawanya pulang kepadamu sebagai teman bermain bagi anakmu.’
Kemudian istrinya berkata kepadanya: ‘Pergilah, brahmana, bawalah monyet jantan
muda ini kepada Rattapāṇi
putera pencelup kain dan katakan padanya: “Rattapāṇi, aku ingin agar monyet jantan
muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali dan
dihaluskan kedua sisinya.”’ Kemudian, karena pikirannya terikat pada
istrinya dengan cinta, ia membawa monyet jantan muda itu kepada Rattapāṇi putera seorang pencelup kain
dan berkata: ‘Rattapāṇi,
aku ingin agar monyet jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep,
dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāṇi putera pencelup kain
memberitahukan kepadanya: ‘Tuan, monyet jantan muda ini akan menerima celupan, tetapi
bukan pukulan atau penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin
para Nigaṇṭha bodoh akan memberikan kegembiraan pada orang-orang
bodoh namun bukan pada orang-orang bijaksana, dan tidak akan bertahan terhadap
ujian atau penghalusan.
“Kemudian, Yang Mulia, pada kesempatan lain brahmana
itu membawa sepasang pakaian baru kepada Rattapāṇi putera pencelup kain dan
berkata: ‘Rattapāṇi, aku ingin agar sepasang
pakaian baru ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali
dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāṇi putera pencelup kain memberitahukan kepadanya:
‘Tuan, sepasang pakaian baru ini akan menerima celupan, dan
pukulan dan penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin
Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, akan memberikan
kegembiraan pada orang-orang bijaksana namun bukan pada orang-orang bodoh, dan
akan bertahan terhadap ujian dan penghalusan.”
28, “Perumah-tangga, masyarakat dan raja mengenalmu
sebagai berikut: ‘Perumah-tangga Upāli adalah seorang siswa dari Nigaṇṭha Nātaputta.’ Siswa siapakah
engkau harus kami anggap?”
Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli
bangkit dari duduknya, dan merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, [386]
ia merangkapkan tangannya sebagai penghormatan ke arah Sang Bhagavā dan
memberitahukan kepada Nigaṇṭha Nātaputta:
29. “Dalam hal ini, Yang Mulia, dengarlah siswa
siapa aku ini:
Beliau adalah Sang Bijaksana yang telah menyingkirkan
delusi,
Telah meninggalkan belantara dalam pikiran, pemenang
dalam peperangan;
Beliau tidak menderita, dengan pikiran seimbang yang
sempurna,
Matang dalam moralitas, berkebijaksanaan mulia;
Melampaui segala godaan, Beliau adalah tanpa noda:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Bebas dari kebingungan, Beliau berdiam dalam kepuasan,
Menolak perolehan duniawi, wadah kegembiraan;
Seorang manusia yang telah menyelesaikan tugas pertapaan,
Seorang yang membawa jasmani terakhirnya;
Beliau sama sekali tanpa tanding dan sama sekali tanpa
noda:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau bebas dari keragu-raguan dan terampil,
Pendisiplin dan pemimpin yang unggul.
Tidak seorangpun melampaui kualitas-kualitasnya yang
gilang-gemilang;
Tanpa bimbang, Beliau adalah penerang;
Setelah mematahkan keangkuhan, Beliau adalah pahlawan:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Sang Pemimpin kelompok, Beliau tidak terukur,
Kedalamamnya tidak terukur, Beliau mencapai keheningan;
Pemberi keamanan, pemilik pengetahuan,
Beliau berdiri dalam Dhamma, dengan batin terkendali;
Setelah mengatasi segala belenggu, Beliau terbebaskan:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Gajah yang bersih tanpa noda, hidup di tempat terpencil,
Dengan belenggu-belenggu seluruhnya dihancurkan,
sepenuhnya terbebas;
Terampil dalam berdiskusi, penuh dengan kebijaksanaan,
Panjinya telah diturunkan, Beliau tidak lagi bernafsu;
[NOTE : “Panji” adalah keangkuhan berupa
pandangan keliru tentang adanya “aku” atau “milik-ku”. Baca Majjhima Nikāya
22.35.]
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tidak lagi
berproliferasi:
[NOTE : Nippapañcassa, berproliferasi.
Interpretasi atas paragraf yang tersamar ini berpusat pada kata papañca
dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā. Bhikkhu Ñāṇamoli menerjemahkan papañca sebagai
“keberagaman” dan papañcasaññā- sankhā sebagai “perhitungan mengenai
persepsi keberagaman.”
Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang
ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang mungkin
cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman akibat
faktor subjektivitas seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan,
tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan
komentar pikiran yang menghalangi pengenalan data.
Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and
Reality in Early Buddhism, Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca
sebagai “proliferasi konseptual,” dan penerjemah mengikutinya dengan
menggantikan “keberagaman” dari Bhikkhu Ñāṇamoli menjadi “proliferasi.”
Komentar mengidentifikasikan timbulnya
proliferasi ini sebagai tiga faktor – ketagihan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran
menjadi “membubuhi” pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan
“milikku,” “aku,” dan “diriku.” Karenanya, pengalaman seseorang dapat
begitu personal akibat subjektivitas.
Papañca dengan demikian adalah
berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap”. Kata Pali “menganggap” (maññati), yang
berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam
sutta-sutta Pali untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang –
pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang
diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif
seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan.
Penyimpangan kognitif yang
diusulkan oleh “menganggap” terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari
perspektif egosentris ke dalam pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh
persepsi spontan. Menurut Kitab Komentar, aktivitas “menganggap” diatur oleh tiga
kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara manifestasinya – keinginan (taṇha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).
Penerjemah lain menuliskan
contoh ilustrasi demikian, sebagai berikut : “Setelah melihat tanah dengan
persepsi menyimpang, orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan atau
menilainya – melalui kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca)
dari ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam
beragam cara yang bertolak-belakang [dengan kenyataan].”
Empat cara menganggap (maññanā).
Sang Buddha menunjukkan bahwa “anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam
salah satu dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola
linguistik: akusatif, lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola
ini – yang juga tersamar dalam Pali – sepertinya filosofis.
Penerjemah menganggap pola itu
menunjukkan beragam cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna
positif pada makna keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah
ambang bayangan, suatu hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena
yang dilihat sebagai objek. Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini
dapat berupa salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang
mendasari (“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia
membayangkan dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai
‘milikku’”).
Tetapi hati-hati dalam
menginterpretasikan frasa-frasa ini. Pali tidak menyediakan objek langsung bagi
cara ke dua dan ke tiga, dan ini menyiratkan bahwa proses “penganggapan”
berlangsung dari tingkat yang lebih dalam dan lebih umum daripada yang terlibat
dalam pembentukan pandangan diri secara eksplisit, seperti yang dijelaskan
misalnya pada Majjhima Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya 44.7.
Dengan demikian aktivitas
“penganggapan” sepertinya terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang
diwarnai secara subjektif, dari impuls dan pikiran yang mana makna
identitas pribadi masih belum lengkap untuk menjelaskan struktur intelektual
yang telah dijelaskan secara lengkap.
Akan tetapi penerjemah lain,
memahami objek “anggapan” implisit sebagai persepsi itu sendiri, dan karena itu
menerjemahkan: “setelah mempersepsikan tanah dari tanah, ia menganggap [itu
sebagai] tanah, ia menganggap [itu sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu
terpisah] dari tanah,” dan seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam
X,” secara eksplisit menghubungkan “penganggapan” dengan keinginan, yang mana
di tempat lain dikatakan “bergembira di sana-sini.” Hal ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses
pemikiran kaum duniawi, karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai
asal-mula penderitaan.
Terdapat banyak contoh kasus
yang mengilustrasikan segala jenis “penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas
menegaskan bahwa objek “penganggapan” yang dimaksudkan adalah makna egoistis
yang keliru.
Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih
rumit. YM Ñāṇananda menginterpretasikannya
sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh pikiran yang cenderung
berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum memasukkan kata saññā.
Penerjemah lain mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan
bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca
ataupun papañca itu sendiri. Penerjemah sependapat dengan Ñāṇananda dalam menganggap sankhā lebih
sebagai berarti konsep atau gagasan (“Perhitungan” dari Bhikkhu Ñāṇamoli adalah terlalu literal) daripada bagian.
Keputusan penerjemah memperlakukan saññā-sankhā
sebagai kata majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan
dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam
Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang
benar-benar tanpa keraguan. Pada Interpretasi alternatif dari komponennya,
ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari]
proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari]
proliferasi.”
Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses kognisi itu sendiri adalah “sumber
yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi pikiran
menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada yang
disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada
kekotoran-kekotoran akan berakhir.]
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Yang terbaik di antara para petapa, tanpa rencana curang,
Memperoleh tiga pengetahuan, mencapai kesucian;
Batinnya dibersihkan, seorang ahli khotbah,
Beliau selalu hidup dalam ketenangan, penemu pengetahuan;
Yang pertama dari semua pemberi, Beliau selalu mampu:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau adalah Yang Mulia, terkembang dalam pikiran,
Yang telah mencapai tujuan dan membabarkan kebenaran;
Memiliki perhatian dan pandangan terang penembusan,
Beliau tidak condong ke depan maupun ke belakang;
[NOTE : Itu merujuk pada tidak adanya keterikatan
dan kejijikan.]
Bebas dari gangguan, mencapai kemahiran:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau telah mengembara dengan benar dan berdiam dalam
meditasi,
Tidak terkotori dalam batin, sempurna dalam kemurnian;
Beliau tidak bergantung dan sama sekali tanpa takut,
Hidup terasing, mencapai puncak;
Setelah menyeberang oleh diri sendiri, Beliau menuntun
kami menyeberang:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Yang memiliki ketenangan tertinggi, dengan kebijaksanaan
luas,
Seorang dengan kebijaksanaan tinggi, hampa dari segala
keserakahan;
Beliau adalah Sang Tathāgata, Beliau adalah Yang
Termulia,
Seorang yang tanpa tandingan, tidak ada yang menyamaiNya;
Beliau pemberani, terampil dalam segala hal:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau telah mematahkan ketagihan dan menjadi Yang
Tercerahkan,
Menghalau segala kabut, sepenuhnya tanpa noda;
Yang paling layak menerima persembahan, makhluk yang
paling perkasa,
Orang yang paling sempurna, melampaui perkiraan;
Terbaik dalam kemegahan, mencapai puncak keagungan:
Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.”
30. “Kapankah engkau menggubah syair pujian kepada
Petapa Gotama itu, perumah-tangga?”
“Yang Mulia, misalkan terdapat timbunan berbagai
jenis bunga, [387] dan kemudian seorang pembuat kalung bunga yang cerdas atau
muridnya ingin merangkainya menjadi kalung bunga berwarna-warni; demikian pula,
Yang Mulia, Sang Bhagavā memiliki banyak kualitas yang patut dipuji, ratusan
kualitas yang patut dipuji. Siapakah, Yang Mulia, yang tidak akan memuji yang patut
dipuji?”
31. Kemudian, karena Nigaṇṭha Nātaputta tidak mampu
menahankan penghormatan yang diberikan kepada Sang Bhagavā, ia memuntahkan
darah panas dari mulutnya di sana dan pada saat itu juga.
[NOTE : Dukacita yang berat
muncul dalam dirinya karena kehilangan penyokong awamnya, dan ini menghasilkan
gangguan pada jasmaninya yang mengakibatkan ia memuntahkan darah panas. Setelah
memuntahkan darah panas, hanya sedikit makhluk yang dapat bertahan hidup. Demikianlah
mereka membawanya ke Pāvā dengan menggunakan tandu, dan tidak lama
kemudian ia meninggal dunia.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.