KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Kiat Berjuang Menaklukkan Warisan Genetik yang Buruk dalam Rangka “SELF-DETERMINATION”

Seorang Penegak Hukum Tidaklah Dilahirkan sebagai Penegak Hukum, namun oleh Perbuatannya Selama Hidup yang Menegakkan Hukum

Buah Tidak Jatuh Jauh dari Pohonnya, itu Tumbuhan yang Hanya dapat Menyerah pada Nasib (Vegatatif). Seorang Manusia Mampu Menentukan Siapa Dirinya Sendiri, bahkan Menaklukkan Warisan Genetik Silsilah Keluarnya dan Bergerak Melampaui Penjara Genetik (Deliberatif)

Menyerah pada Blueprint Genetik Diri atau Menaklukkan dan Melampaui Penjara Genetik Diri

Kejahatan adalah genetik, dan ia dilahirkan (the criminal was born). Sebagian tokoh dunia kriminologi di masa lampau maupun peneliti genetik-genom masa kini, berpendapat demikian, budak genetik. Apakah hanya karena memakai seragam penegak hukun, seseorang disebut sebagai “penegak hukum” ataukah karena ia dilahirkan (untuk) menjadi “penegak hukum”? Apakah hanya karena mengenakan toga dan memegang palu di pengadilan, seseorang patut disebut atau mendaku sebagai seorang “hakim”? Apakah hanya karena mengenakan busana agamais, seseorang patut diakui sebagai seorang yang “suci”?

Jangan lupa pada pepatah “bibit, bobot, dan bebet”, faktor kelahiran dan silsilah keluarga atau latar-belakang keluarga (bibit), hanya satu aspek dari tiga aspek, terdapat dua aspek lainnya yang lebih penting dan bisa jadi lebih menentukan arah hidup seseorang (faktor bebet dan bobot), yakni bagaimana ia secara sadar (deliberatif) memilih untuk menjalani hidupnya, tidak lain ialah perbuatan yang bersangkutan itu sendiri sepanjang hayatnya—jika perlu “melawan arus” kecondongan / kecenderungan / tendensi yang muncul dari hatinya) dalam rangka “mendidik diri sendiri”.

Tiada individu yang lebih gagal, daripada mereka yang gagal untuk mengendalikan dan mengarahkan diri mereka sendiri (to be under-control). Dalam pandangan Buddhisme, seseorang dilahirkan tidak seumpama kertas yang putih-polos. Seseorang terlahir-kembali akibat “kekotoran batin” berupa keserakahan, amarah-dendam, dan delusi dari kehidupan lampaunya. Karenanya, semua orang berpotensi menjadi “kriminal”. Ketika kita menyerah pada “warisan kekotoran-batin” yang terbawa dari kehidupan lampau, maka kita akan jatuh pada “arus kebodohan” dan hanyut sebelum tenggelam.

Itulah “kabar baik”-nya, yakni tiada seorang pun, terlahir dalam kondisi “genetik sempurna”, dan Anda tidak seorang diri. Segalanya harus dibentuk-tempa, bagaikan seorang pembuat irigasi mengarahkan aliran sungai dengan penuh perhitungan, agar kita menjadi individu yang lebih ideal, apapun genetik bawaan lahir kita. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Sang Buddha tentang perjuangan “menaklukkan diri”:

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.

(1)  Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.

(2)  Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.”

Mengapa ada aparatur penegak hukum, yang kemudian justru menjelma menjadi pesakitan (terdakwa) di persidangan dan divonis hukuman pidana, meski selama ini yang bersangkutan yang mengadili dan memvonis pihak lain? Karena ia lupa atau salah-paham, bahwa bukan karena mengenakan seragam penegak hukum, maka ia adalah “penegak hukum”. Sebaliknya, mereka yang dilahirkan atau beranjak dari “selokan” sekalipun, tidak berarti selamanya ia terkungkung dalam dunia yang tidak pernah mendapatkan sorot kehangatan mentari. Martabat seseorang ditentukan oleh perbuatan semasa hidup seseorang pada masa kini, bukan karena kelahiran.

Kita tahu ada penegak hukum yang bekerja di balik layar, semisal intel, meski ia tidak mengenakan seragam penegak hukum dan bekerja dalam senyap, atau bahkan berperilaku seperti anggota mafia, namun ia adalah seorang “penegak hukum”, dan ia tahu serta menyadari bahwa dirinya ialah seorang “penegak hukum”. Kita dapat menyebutnya sebagai “menjiwai” perannya dan sadar selalu atas fungsinya. Namun, banyak aparatur penegak hukum yang sekalipun mengenakan seragam penegak hukum, mereka justru mengambil peran sebagai “sang penjahat” (the felon / evildoer). Kelahiran mereka bisa jadi terhormat adanya, seragam mereka bersih dan berkelas, namun bila perilaku mereka busuk, mereka tetap adalah “manusia busuk”.

Masyarakat kita dewasa kini mudah menilai atau bahkan menghakimi orang lain, semata karena tampilan luarnya, “merek”-nya sebagai pemuka agama atau penegak hukum, gelarnya (profesor), atributnya (jabatan, warisan sifat budaya feodal), akan tetapi bukan esensinya (perbuatan seseorang). Ketika sesuatu mengklaim dirinya adalah “Tuhan”, akan tetapi ajaran atau perintahnya berisi kekejaman dan kekejian tidak manusiawi (tidak humanis), terlebih Tuhanis, adalah lebih patut diberi nama sebagai IBLIS (SATAN).

Pembahasan seutuhnya yang sarat inspirasi, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 98

Vāseṭṭha Sutta : Kepada Vāseṭṭha

[115] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala.

[NOTE : Teks dari sutta ini tidak termasuk dalam Majjhima Nikāya edisi Pāli Text Society, karena identik dengan sutta dengan judul yang sama dalam Sutta Nipata, yang diterbitkan dalam dua versi yang berbeda oleh Pāli Text Society. Oleh karena itu nomor halaman dalam kurung siku merujuk pada edisi Sn dari Anderson-Smith.]

2. Pada saat itu sejumlah brahmana kaya dan terkenal sedang menetap di Icchānangala, yaitu, Brahmana Cankī, Brahmana Tārukkha, Brahmana Pokkharasāti, Brahmana Jāussoi, Brahmana Todeyya, dan para brahmana kaya dan terkenal lainnya.

3. Kemudian, sewaktu murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja sedang berjalan-jalan untuk berolah-raga, diskusi berikut ini terjadi antara mereka: “Bagaimanakah seseorang disebut seorang brahmana?” Murid brahmana Bhāradvāja berkata: “Jika ia berasal dari kelahiran baik pada kedua pihak, keturunan dari ibu dan ayah yang murni hingga tujuh generasi sebelumnya, tidak dapat dibantah dan tanpa cela dalam hal kelahiran, maka ia adalah seorang brahmana.” Murid brahmana Vāseṭṭha berkata: “Jika ia bermoral dan mematuhi peraturan-peraturan, maka ia adalah seorang brahmana.”

4. Tetapi murid brahmana Bhāradvāja tidak dapat [116] meyakinkan murid brahmana Vāseṭṭha, juga murid brahmana Vāseṭṭha tidak dapat meyakinkan murid brahmana Bhāradvāja.

5. Kemudian murid brahmana Vāseṭṭha berkata kepada murid brahmana Bhāradvāja: “Tuan, Petapa Gotama, putera Sakya, yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, sedang menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala. Sekarang suatu berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’ Marilah, Bhāradvāja, kita pergi menemui Petapa Gotama dan menanyakan kepada Beliau sehubungan dengan persoalan ini. Sebagaimana Beliau menjawabnya, demikianlah kita akan mengingatnya.” – “Baik, Tuan,” murid brahmana Bhāradvāja menjawab.

6. Kemudian kedua murid brahmana itu, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, mereka duduk di satu sisi dan murid brahmana Vāseṭṭha berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair sebagai berikut:

7. Vāseṭṭha

1. “Kami berdua diakui memiliki

Pengetahuan Tiga Veda,

Karena aku adalah murid Pokkharasāti

Dan ia adalah murid Tārukkha.

2. Kami telah mencapai penguasaan penuh

Atas segala yang diajarkan oleh para ahli Veda;

Mahir dalam ilmu bahasa dan tata bahasa

Kami setara dengan guru-guru kami dalam hal pembacaan. [117]

3. Perselisihan muncul di antara kami, Gotama,

Sehubungan dengan pertanyaan tentang kelahiran dan kasta:

Bhāradvāja mengatakan seseorang adalah brahmana melalui kelahiran,

Sedangkan aku mengatakan seseorang adalah brahmana melalui perbuatan.

[NOTE : Di sini kata “kamma” harus dipahami sebagai perbuatan atau tindakan sekarang, dan bukan perbuatan lampau yang menghasilkan akibat sekarang sebagai buahnya.]

Ketahuilah hal ini, O Petapa, sebagai perdebatan kami.

4. Karena kami tidak bisa saling meyakinkan satu sama lain,

Atau membuatnya melihat sudut pandang yang lain,

Kami telah mendatangiMu, Tuan,

Yang termasyhur sebagai seorang Buddha.

5. Seperti halnya orang-orang merangkapkan tangannya

Menyembah bulan ketika bulan mulai mengembang,

Demikian pula di dunia ini mereka memuliakan Engkau

Dan menyembah Engkau, Gotama.

6. Maka sekarang kami bertanya kepadaMu, Gotama,

Pembuka mata di dunia ini:

Apakah seseorang menjadi brahmana melalui kelahiran atau perbuatan?

Jelaskanlah kepada kami yang tidak mengetahui

Bagaimana kami seharusnya mengenali seorang brahmana.

8. Buddha

7. “Aku akan mengajarkan engkau secara berurutan sebagaimana adanya, Vāseṭṭha,” Sang Bhagavā berkata,

“Pengelompokan umum makhluk-makhluk hidup;

Karena banyak jenis kelahiran.

8. Pertama-tama ketahuilah rumput dan pepohonan:

Walaupun tidak memiliki kesadaran-diri,

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

9. Berikutnya adalah ngengat dan kupu-kupu

Dan seterusnya hingga semut dan rayap:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

10. Kemudian ketahuilah jenis-jenis binatang kaki empat

[dari berbagai jenisnya] baik kecil maupun besar:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

11. Ketahuilah binatang-binatang yang perutnya adalah kakinya,

Yaitu, kelompok ular berbadan panjang:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

12. Ketahui juga ikan-ikan yang berdiam di air

Habitatnya adalah alam cair:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

13. Berikutnya ketahuilah burung-burung yang mengepakkan sayapnya

Ketika terbang di angkasa raya:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

9. 14. “Sementara dalam kelahiran-kelahiran ini perbedaan-perbedaan

Kelahiran menjadi tanda khususnya,

Pada manusia tidak ada perbedaan kelahiran

Yang menjadi tanda khususnya.

15. Tidak di rambut juga tidak di kepala

Tidak di telinga juga tidak di mata

Tidak di mulut juga tidak di hidung

Tidak di bibir juga tidak di kening;

16. Juga tidak di bahu atau di leher

Juga tidak di perut atau di punggung

Juga tidak di bokong atau di dada

Juga tidak di organ kelamin atau cara berhubungan seksual

17. Tidak di tangan juga tidak di kaki

Juga tidak di jari tangan atau di kuku

Tidak di lutut juga tidak di paha

Juga tidak dalam warna kulit atau dalam suara

Di sini kelahiran tidak memiliki tanda khusus

Seperti halnya dengan jenis kelahiran lainnya. [119]

18. Pada tubuh manusia

Tidak ada tanda khusus dapat ditemukan

Perbedaan di antara manusia

Hanyalah sebutan verbal

[NOTE : Sāmaññā, hanyalah sebutan verbal. Di antara binatang-binatang, keberagaman bentuk dari bagian-bagian tubuh mereka ditentukan oleh spesiesnya (yoni), tetapi hal itu (perbedaan spesies) tidak terdapat pada tubuh para brahmana dan kasta-kasta manusia lainnya. Oleh karena itu, perbedaan antara brahmana, khattiya, dan sebagainya, hanyalah sebutan verbal; diucapkan hanya sekadar sebagai ungkapan konvensional.]

10. 19. “Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

[NOTE : Hingga pada titik ini Sang Buddha telah mengkritik pernyataan Bhāradvāja bahwa kelahiran menjadikan seseorang sebagai brahmana. Sekarang Beliau akan mendukung pernyataan Vāseṭṭha bahwa perbuatan menjadikan seseorang sebagai brahmana. Karena para brahmana masa lampau dan para bijaksana lainnya di dunia ini tidak akan mengakui kebrahmanaan seseorang yang cacat dalam penghidupan, moralitas, dan perilaku.]

Melalui pertanian, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang petani, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

20. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui berbagai keahlian, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang ahli, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

21. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui barang-barang dagangan, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang pedagang, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

22. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Dengan melayani orang-orang lain, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang pelayan, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

23. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Dengan mencuri, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang perampok, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

24. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui keterampilan memanah, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang prajurit, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

25. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui keterampilan religius, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang pandita, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

26. Siapapun juga yang memerintah di antara manusia

Pemukiman dan kerajaan, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang penguasa, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

11. 27. “Aku menyebutnya bukan seorang brahmana

Karena asal-usul dan silsilahnya

Jika rintangan masih bersembunyi dalam dirinya,

Ia hanyalah seorang yang mengatakan ‘Tuan.’

[NOTE : Bhavādi. Bho, “Tuan,” adalah cara menyapa yang biasanya digunakan di antara para brahmana. Mulai titik ini dan seterusnya Sang Buddha akan mengidentifikasikan brahmana sejati sebagai Arahant. Bait 27-54 di sini identik dengan Dhammapada 396-423, kecuali pada bait tambahan dalam Dhammapada 423.]

Siapapun yang tanpa rintangan dan tidak lagi melekat:

Ia Kusebut seorang brahmana.

28. Yang telah memotong semua belenggu

Dan tidak lagi terguncang oleh kesedihan,

Yang telah mengatasi segala ikatan, terlepas:

Ia Kusebut seorang brahmana. [120]

29. Yang telah memotong tali pengikat

Juga tali kendali dan tali kekang,

Yang palang penghalangnya telah diangkat, yang tercerahkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

30. Yang menahankan tanpa jejak kebencian

Hinaan, kekerasan, dan juga penindasan.

Dengan kekuatan kesabaran tertata baik:

Ia Kusebut seorang brahmana.

31. Yang tidak terbakar oleh kemarahan,

Patuh, bermoral, dan rendah-hati,

Lembut, membawa jasmani terakhirnya:

Ia Kusebut seorang brahmana.

32. Siapapun juga, yang bagaikan hujan di atas daun seroja,

[NOTE : Seroja adalah teratai, yang daunnya tidak terbasahi oleh air hujan karena air tidak melekat pada permukaan daun teratai.]

Atau biji mostar di atas ujung jarum,

Sama sekali tidak melekat pada kenikmatan indria

Ia Kusebut seorang brahmana.

33. Yang mengetahui di sini di dalam dirinya sendiri

Hancurnya segala penderitaan

Dengan beban diturunkan, dan terlepas:

Ia Kusebut seorang brahmana.

34. Yang dengan pemahaman mendalam, bijaksana,

Dapat mengetahui sang jalan dan bukan sang jalan

Dan telah mencapai tujuan tertinggi:

Ia Kusebut seorang brahmana.

35. Jauh dari para perumah-tangga

Dan mereka yang menjalani kehidupan tanpa rumah,

Yang mengembara tanpa rumah atau keinginan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

36. Yang telah menyingkirkan tongkat pemukul

Terhadap semua makhluk lemah ataupun kuat,

Yang tidak membunuh atau menyebabkan makhluk lain terbunuh:

Ia Kusebut seorang brahmana.

[NOTE : Bandingkan dengan kisah Ibrahim / Abraham terhadap puteranya, Ismail / Ishaq, yang tega menyembelih dan menumpahkan darah (merampas nyawa) sang anak demi sang ayah bisa bersenang-senang masuk surga. Pengorbanan dalam Buddhisme bersifat “TANPA DARAH”.]

37. Yang tidak melawan di antara para lawannya.

Damai di antara mereka yang terbiasa melakukan kekerasan,

Yang tidak melekat di antara mereka yang melekat:

Ia Kusebut seorang brahmana.

38. Yang telah menjatuhkan segala nafsu dan kebencian,

Menurunkan keangkuhan dan sikap meremehkan,

Bagaikan biji mostar di ujung jarum:

Ia Kusebut seorang brahmana. [121]

39. Yang mengucapkan kata-kata yang bebas dari kekasaran,

Penuh makna, senantiasa jujur,

Yang tidak menghina siapapun:

Ia Kusebut seorang brahmana.

40. Yang di dunia ini tidak akan pernah mengambil

Apa yang tidak diberikan, panjang atau pendek,

Kecil atau besar atau indah atau menjijikkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

41. Yang tidak lagi memiliki kerinduan

Sehubungan dengan alam ini dan alam mendatang,

Yang hidup tanpa kerinduan dan terlepas:

Ia Kusebut seorang brahmana.

42. Yang tidak lagi memiliki kegemaran

Tidak ada lagi kebingungan karena ia mengetahui;

Yang telah memperoleh pijakan kokoh dalam Tanpa-Kematian:

Ia Kusebut seorang brahmana.

43. Yang telah melampaui segala ikatan di sini

Dari perbuatan baik dan buruk,

Tanpa kesedihan, tanpa noda, dan murni:

Ia Kusebut seorang brahmana.

44. Yang, murni bagaikan bulan tanpa noda,

Bersih dan jernih, dan yang padanya

Kesenangan dan penjelmaan telah dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

45. Yang telah menyeberangi rawa,

Lumpur, sasāra, segala delusi,

Yang telah menyeberang ke pantai seberang

Dan bermeditasi dalam jhāna-jhāna,

Tidak terganggu dan tidak bingung,

Mencapai Nibbāna melalui ketidak-melekatan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

46. Yang telah meninggalkan kenikmatan-kenikmatan indria

Dan mengembara di sini tanpa rumah

Dengan keinginan indria dan penjelmaan dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

47. Yang juga telah meninggalkan ketagihan,

Dan mengembara di sini tanpa rumah

Dengan ketagihan dan penjelmaan dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

48. Yang meninggalkan semua belenggu manusia

Dan telah melepaskan belenggu surgawi,

Terlepas dari segala belenggu di manapun:

Ia Kusebut seorang brahmana.

49. Yang meninggalkan kesenangan dan ketidak-puasan,

Yang sejuk dan tanpa perolehan,

Pahlawan yang telah melampaui seluruh alam:

Ia Kusebut seorang brahmana. [122]

50. Yang mengetahui bagaimana makhluk-makhluk meninggal dunia

Untuk muncul kembali dalam banyak cara,

Ia tidak mencengkeram, mulia, sadar:

Ia Kusebut seorang brahmana.

51. Yang tujuannya tidak diketahui

Oleh para dewa, hantu, dan manusia,

Seorang Arahant dengan noda-noda dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

52. Yang tanpa rintangan sama sekali,

Di depan, di belakang, atau di tengah,

Yang tanpa rintangan dan tidak lagi melekat:

Ia Kusebut seorang brahmana.

53. Pemimpin kelompok, pahlawan sempurna,

Petapa besar yang kemenangannya telah diraih,

Tanpa gangguan, dimurnikan, tercerahkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

54. Yang mengetahui banyak kehidupan lampaunya

Dan melihat alam-alam surga dan alam sengsara,

Yang telah mencapai hancurnya kelahiran:

Ia Kusebut seorang brahmana.

12. 55. “Karena nama dan kasta diberikan

Sebagai sekadar sebutan di dunia ini;

Berasal-mula dari konvensi,

Yang diberikan di sana-sini.

56. Bagi mereka yang tidak mengetahui fakta ini,

Pandangan salah telah lama bersembunyi dalam batin mereka;

Tanpa mengetahui, mereka mengatakan kepada kita:

‘Ia adalah seorang brahmana melalui kelahiran.’

57. Seseorang bukanlah seorang brahmana melalui kelahiran,

Juga bukan melalui kelahiran seseorang menjadi bukan-brahmana

Seseorang menjadi brahmana melalui perbuatan,

Seseorang menjadi bukan-brahmana melalui perbuatan.

58. Karena orang-orang menjadi petani melalui perbuatan mereka,

[NOTE : Melalui perbuatan kehendak sekarang yang menyelesaikan pekerjaan bertani, dan sebagainya.]

Dan melalui perbuatan mereka menjadi orang-orang ahli;

Dan orang-orang menjadi pedagang melalui perbuatan mereka,

Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi pelayan.

59. Dan orang-orang menjadi perampok melalui perbuatan mereka,

Dan melalui perbuatan mereka menjadi prajurit;

Dan orang-orang menjadi pandita melalui perbuatan mereka,

Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi penguasa. [123]

13. 60. “Maka demikianlah bagaimana yang sungguh bijaksana

Melihat perbuatan sebagaimana adanya,

Yang melihat kemunculan bergantungan,

Terampil dalam perbuatan dan akibatnya.

[NOTE : Dengan bait ini kata “kamma” mengalami pergeseran makna yang ditandai oleh kata “kemunculan bergantungan.” “Kamma” di sini bukan lagi hanya berarti perbuatan sekarang yang menentukan status sosial seseorang, melainkan perbuatan dalam makna khusus kekuatan yang mengikat makhluk-makhluk pada lingkaran kehidupan. Pemikiran yang sama ini menjadi lebih jelas pada bait berikutnya.]

61. Perbuatan menyebabkan dunia berputar,

Perbuatan menyebabkan generasi berganti.

Makhluk-makhluk hidup terikat oleh perbuatan

Bagaikan roda kereta terikat oleh porosnya.

62. Pertapaan, kehidupan suci,

Pengendalian-diri dan latihan batin –

Dengan ini seseorang menjadi brahmana,

Dalam ketinggian ini kebrahmanaan itu terletak.

[NOTE : Bait di atas dan yang berikutnya sekali lagi merujuk pada Arahant. Akan tetapi, di sini, perbedaannya tidak terletak pada perbedaan Arahant sebagai seorang yang menjadi suci melalui perbuatannya dan brahmana melalui kelahiran yang tidak layak menyandang sebutan itu, melainkan pada perbedaan antara Arahant sebagai seorang yang terbebaskan dari belenggu perbuatan dan akibat, dan semua makhluk lainnya yang masih terikat oleh perbuatan mereka pada lingkaran kelahiran dan kematian.]

63. Seseorang yang memiliki tiga pengetahuan,

Damai, dengan segala penjelmaan dihancurkan:

Kenalilah ia demikian, O Vāseṭṭha,

Sebagai Brahmā dan Sakka bagi mereka yang memahami.”

14. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sagha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama mengingat kami sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.