Jangan Besikap Seolah-Olah Kompetitor dan Pelanggan Anda tidak dapat Menggunakan AI yang Sama dengan Anda
Banyak yang membuat narasi, bahwa menggunakan AI (Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence) membuat bisnisnya bertumbuh 300% alias tiga kali lipat. Itu adalah klaim yang mustahil alias tidak niscaya, atas dasar apakah? Klaim demikian hanyalah delusi, mengingat yang bersangkutan bersikap seolah-olah kompetitornya tidak menggunakan AI untuk juga mendongkrak bisnis mereka. Faktanya, pangsa pasar yang sama diperebutkan oleh para pemain yang satu sama lainnya saling menggunakan AI, muaranya tetap saja “kue” yang sama terdistribusi sebagaimana sebelumnya, terutama bila kalangan konsumen juga menggunakan AI agar tidak mudah diperdaya oleh penyedia barang atau jasa.
Faktor kedua yang lebih
realistis ialah, justru tingkat kompetisi kian ketat, karena kompetitornya semakin
masif mengingat alat-alat AI dapat diakses oleh lebih banyak pihak yang menjadi
“kompetitor baru”, berbondong-bondong memasuki pasar yang relatif sama dengan sama-sama
berlomba-lomba memakai AI yang sama. Mereka yang sebelumnya bukanlah pemain di
pasar, karena faktor keterbatasan modal usaha untuk menggaji pegawai, kini dapat
memakai AI untuk menekan biaya usaha (bahkan tanpa pegawai sama sekali), mengakibatkan
naik pesatnya tingkat kompetisi untuk memperebutkan “kue” yang ada di pasar
yang kian kompetitif.
Akibat derasnya arus kompetitor
yang saling berebut “kue”, mengakibatkan para “pemain baru” berani untuk “banting
harga” serendah mungkin sehingga harga di pasaran menjadi hancur pada muaranya
karena “perang harga” yang tidak lagi terhindarkan antar pelaku usaha. Pemain yang
tidak kuat menghadapi kompetisi “perang harga”, pada akhirnya memilih “gulung
tikar” dan terdegradasi dari pasar. Tidak ada lagi istilah BRP (break event
point) di mata kompetitor Anda, mengingat mereka tidak mem-pekerjakan
pegawai, semuanya diproduksi memakai AI, karenanya mereka dapat menawarkan
tarif jasa yang diluar angka psikologis. Bagaimana bila kompetitor Anda, ialah
jutaan warga dari negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, India, Afrika,
atau negara-negara yang sebelumnya bukan pemain di dunia bisnis global, mampukah
Anda “perang harga” dengan mereka?
Bila AI saja sudah cukup
mematikan, maka “humanoid robot + AI” akan jauh lebih mematikan. China dengan “insane”
(gila) terobsesi untuk menutup seluruh lapangan pekerjaan bagi penduduknya
sendiri, dan menggantikannya dengan pekerja robot, mengatas-namakan “efisiensi
usaha”, serta merasa bangga (ciri orang dungu, tidak mampu melihat adanya
potensi ancaman bahaya dibalik sesuatu). Baru-baru ini China merilis robot
kurir pengantar paket yang mampu naik tangga untuk mengirim paket-paket bagi
para pembeli barang daring. Setelah sukses memproduksi robot koki, robot kungfu-master,
robot penari, robot pelari, robot polisi, robot militer, robot pengelola barang
di gudang, mereka di China juga merambah profesi rural seperti pertanian atau
mungkin juga peternakan akan menyusul secara rakusnya.
Banyak yang berasumsi, dengan kembali
ke pedesaan, mereka para warga usia muda di China akan menemukan pekerjaan
bertani yang masih tersisa untuk bisa mereka bekerja dan mencari nafkah
(sebagian besar lulusan baru di China, frustasi karena tidak memiliki
pekerjaan). Namun lagi-lagi, China memproduksi robot-robot yang mampu menggantikan
seluruh fungsi pekerjaan di bidang pertanian, menjelma otomatisasi. Di perkotaan
China, pabrik pembuatan kendaraan bermotor telah sepenuhnya tidak lagi menggunakan
“tenaga kerja manusia”, seluruh proses produksi hingga perakitan menggunakan
tangan-tangan robotik, yang begitu efektif dan efisien, mampu bekerja 24 jam
per hari serta 7 hari dalam seminggu, tanpa menuntut upah maupun cuti.
Sudah terdapat, di China,
restoran tanpa koki dan tanpa pramusaji, karena kesemua fungsi pekerjaan
tersebut telah diambil-alih oleh robot-robot AI. Di Amerika Serikat, terdapat
minimarket tanpa kasir, dimana Anda membeli barang-barang dengan sensor yang
mampu mendeteksi barang apa saja dan berapa banyak serta berapa total harganya
yang harus dibayar, lalu dompet-digital pembeli pun akan terdebet secara
otomatis saat berjalan keluar dari minimarket. Dunia tergila-gila menciptakan
sistem yang menihilkan fungsi pekerjaan manusia, dimana bahkan kendaraan bermotor
tidak lagi membutuhkan supir seperti taksi dan bus umum di China maupun di Amerika
Serikat.
Pekerjaan bartender, sudah lama
diambil-alih oleh robot AI. Kedepannya, yang dapat diramalkan serta diprediksi
pasti akan terjadi, mengingat mahalnya “ongkos” membangun militer manusia, robot-robot
militer akan menjadi suatu fenomena dimana banyak negara berlomba-lomba memproduksi
pasukan robot tentaranya, mengingat betapa efisiennya perang menggunakan drone
(pesawat tanpa awak). Jangan bayangkan robot yang serupa dengan Robocop,
Terminator, ataupun Iron-Man yang kaku dan lamban gerakannya khas robot. Robot di
China mampu mengalahkan pelari manusia, berakrobatik di udara, bermain nuchaku
dengan fasih, bertinju, menari dengan gemulai, bangkit dari tanah lewat salto,
mampu menjaga keseimbangan meski ditendang dengan keras (manusia saja tidak
mampu), terlebih urusan akurasi tembakan terhadap target yang mereka bidik—tentara
manusia terkendala oleh tubuh yang tidak konstan akibat detak jantung dan nafas,
terlebih keterbatasan indera penglihatan.
Lensa mata tentara robot, sudah
menyertakan sensor arah dan kecepatan angin, ditambah inframerah pengukur jarak
dari posisinya ke target, mengakibatkan tingkat akurasi robot militer begitu
optimal. Berikan mereka senapan sniper, semut di ujung gunung pun akan mampu mereka
tembak secara akurat. Di tambah sensor radar, mereka menjelma mesin-pembunuh
yang bukan lagi lawan tandingan sekaliber Rambo sekalipun. Katakanlah sang
Rambo mampu melumpuhkan satu robot tentara, namun ia kemudian menemukan bahwa
dirinya telah dikepung oleh ribuan robot tentara yang lebih cerdas daripada IQ sang
rambo. Mati satu robot tentara, semudah memproduksi seribu atau jutaan robot-robot
tentara lainnya, yang tidak butuh dilatih mahal-mahal, cukup instal perangkat
lunak hasil “copy dan paste”, semurah itu. Negara manakah, yang tidak
tergiur untuk membangun sepasukan robot militernya? Perang, tidak lagi mahal
harganya, dan pada saat itulah “perang terbuka” menjadi “menu keseharian”
geopolitik dunia.
Kini, coba tanyakan kepada diri
Anda sendiri, pekerjaan baru jenis semacam apakah yang dihasilkan oleh AI? Anda
bisa menguruh AI untuk meriset kompetitor Anda, kompetitor Anda pun akan
melakukannya terhadap Anda. Lantas, keuntungan semacam apakah yang Anda maksudkan
dengan memakai AI? Jangan pernah berdelusi bahwa bermain saham dengan bantuan “AI
Agent” atau “AI Assistance” yang dapat Anda suruh untuk menganalisa akan naik atau
akan turunnya harga-harga saham masing-masing emiten di bursa saham, karena ribuan
atau jutaan pemain saham selain Anda pun akan melakukan hal serupa. Lantas,
ketika semua orang mamakai AI, siapakah yang sejatinya paling benar-benar diuntungkan?
Euforia penggunaan AI, membuat
banyak para pemakainya berdelusi, delusi “seolah-olah hanya ia seorang yang
dapat menggunakan AI”. Faktanya, semua kompetitornya menggunakan AI yang serupa
atau bahkan AI yang lebih canggih. Ketika kompetitornya bukan hanya “hitungan
jari”, namun jutaan sesama warga di Indonesia, bahkan miliaran penduduk dunia (global
vilage), maka jangan pula berdelusi bahwa “Anda memiliki input kosakata
untuk prompt yang cerdas dan briliant”. Apa susahnya berkreasi teks pada kotak “prompt”,
kompetitor Anda yang berjumlah miliaran orang di luar sana pun berdelusi asumsi
serupa, bahwa mereka lebih kreatif dalam “membangun teks di kolom prompt”. Mengapa
Anda harus dibayar mahal untuk hal yang “semudah itu”, dan mengapa juga Anda harus
dipakai untuk hal yang “semudah itu saja”?
Di dunia ini, tidak akan
terbagi ke dalam tiga golongan : pengguna AI yang cerdik, pengguna AI yang
bodoh, dan bukan pengguna AI. Seperti yang telah diungkap di atas, kompetitor
pengguna AI bukan berjumlah “hitungan jari”, namun miliaran penduduk dunia,
mengakibatkan tiada yang unik dan tiada “comparative advantage” antar
pengguna AI. Katakanlah separuh dari populasi dunia adalah pengguna AI yang
mampu “membangun teks yang kreatif di kolom prompt”, tetap saja jumlah
kompetitor Anda ialah masih berjumlah miliaran orang. Bila hanya sepuluh persen
dari mereka yang bisa begitu “jenius membangun teks pada kolom prompt”, maka
itu artinya tetap saja berjumlah ratusan jutaan orang di luar sana yang menjadi
kompetitor Anda, memperebutkan “kue” yang sifatnya terbatas di pasar. Ketika muncul
AI yang baru, maka Anda harus meraba-raba mulai dari awal kembali “prompt”
apakah yang cocok. Lantas, apa yang hebat dan “tersisa” dari Anda? Yang hebat
bukanlah Anda, hanya hanya pengguna, bukan pemain.
Jangan pernah berdelusi bahwa konsumen
atau pelanggan Anda tidak dapat menggunakan Ai yang serupa dengan yang Anda gunakan.
Artinya, semakin tertutup dan menipis “kue” yang tersisa di pasar. Kian sempitnya
“demand” di pasar, sementara “supply” penyedia jasa atau barang
justru membludak, mengakibatkan “perang harga” dan “banting harga” menjadi fenomena
yang tidak terhindarkan, sebelum kemudian Anda dipaksa dan terpaksa membanting
harga-diri Anda sendiri. Itulah sebabnya, kelak tipikal pelaku usaha hanya akan
terbagi menjad dua : pengguna AI dan bukan pengguna AI. Kedokteran modern barat
terbukti tidak menghilangkan sepenuhnya profesi tabib obat tradisional semacam “Traditional
Chinesee Medicine” (TCM), keduanya berbeda “genre” dan segmen pasar.
Demi mempertahankan kualitas
otak, penulis memilih tipikal yang kedua, yakni “bukan pengguna AI”. Selebihnya,
biarlah sejarah yang akan mencatat, siapakah yang akan punah terlebih dahulu,
para pengguna AI ataukah segelintir kecil pihak yang tetap bersikap konservatif
dengan “tidak menggunakan AI” (lebih mengandalkan otak dan otot sendiri). Satu hal
yang pasti, semakin banyak yang menjadi dokter modern barat, dan kian langka
tabib TMC, mengakibatkan yang langka menjadi bernilai lebih tinggi. Ketika para
pengguna AI kian masif-menggurita, para “tidak menggunakan AI” menjadi langka,
dimana mungkin saja justru itulah yang benar-benar dibutuhkan dan dicari para
pengguna barang / jasa di kemudian hari.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.