Jangan Buang Waktu dan Uang Anda untuk Menyandang Gelar Akademik, Berinvestasilah kepada Keterampilan dan Instrumen Keuangan / Modal Bisnis
Tidak Ada yang Lebih Membuang-Buang Dana daripada
Program Pasca Sarjana
Mulai kini, bila Anda memiliki anak, maka cukup sekolahkan ia pada Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, tanpa perlu membuang waktu dan uang untuk berkuliah. Pendidikan Tinggi di kampus maupun universitas, merupakan bisnis alias industri pendidikan yang sangat menguntungkan pihak manajemen dibaliknya, meski berkedok “yayasan”, namun terbukti gagal untuk menjamin lulusannya akan dapat “balik modal” selepas dinyatakan lulus berkuliah. Fenomena demikian saat kini kian lazim dijumpai baik di negeri sekaliber China, dan juga dapat mulai kita temukan di Indonesia, dimana para sarjana maupun penyandang gelar paska sarjana “putus asa” dalam mencari pekerjaan selama bertahun-tahun.
Ada produser acara televisi
berupa film dokumenter di Indonesia, yang membuat film dimana proses produksi,
penyuntingan / editing, marketing, kesemuanya diurus atau dibuat oleh sang
produser seorang diri tanpa karyawan, karena kesemua prosesnya telah banyak
dibantu oleh program AI (artificial intelligence, kecerdasan buatan).
Ada banyak konten kreator yang membuat video dimana aktornya semua diperani
oleh AI, tanpa aktor manusia sungghuan, alias tiada proses syuting ataupun
setting lokasi sama sekali.
Di Tiongkok alias China, ada
restoran yang keseluruh proses memasaknya dilakukan oleh “robot koki”. Masih di
Tiongkok pula, ada produsen mobil bermerek dengan luasan pabrik pembuatan dan
perakitan kendaraan roda empat, yang keseluruhnya mengadopsi teknologi
otomatisasi robotik, dimana karyawan manusia yang ada hanya petugas kebersihan.
Di pergudangan pada berbagai perusahaan ekspedisi raksasa, juga masih di China,
proses sortir barang dilakukan oleh robot-robot cerdas yang bekerja secara
efisien 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu.
Kita baru masuk di fase awal
disrupsi AI, yang diklaim “AI sekadar alat bantu, bukan untuk menggantikan
manusia”—lebih jujurnya “BELUM mulai untuk menggantikan manusia, itu masih
bersifat “COOMING SOON”. Kita belum masuk ke fase menengah maupun fase
menjelang kepunahan manusia akibat tiadanya pekerjaan yang membutuhkan lagi
“tenaga manusia”. Namun, dampak sosial-ekonominya sudah begitu mengkhawatirkan
dimana riak-riaknya mulai dapat kita rasakan (belum memasuki fase “bubble yang
akan meletus”), sementara banyak para “dunguwan” yang euforia memakai AI, tanpa
mau menyadari bahaya laten yang bersembunyi dibaliknya, yang berpotensi
menggantikan perannya dalam berprofesi di masa mendatang sebagai harga “mahal”
yang harus mereka sendiri bayarkan dengan “kehilangan pekerjaan” karena pencari
kerja lain juga dapat menggunakan program AI serupa, tanpa “comparative
advantage”.
Ketika tiba saat dimana
teknologi digital memasuki fase AGI (artificial general intelligence),
dimana kecerdasan buatan benar-benar mampu menyamai, menyaingi, dan melampaui
kecerdasan seorang manusia, tanda-tanda kepunahan umat manusia sudah tidak akan
lama lagi. Masuk ke tahap ASI (artificial super intelligence), maka
tiada lagi profesi yang tersisa bagi “tenaga kerja manusia”—tidak terkecuali
profesi dokter maupun programmer, terlebih akuntan—karena AI mampu
merancang-bangun AI baru yang lebih holistik, dimana kemampuan “machine
learning” dibangun dari miliaran processor dimana satu processor menyamai otak
satu orang manusia. Pada saat itulah, manusia menjadi objek dari AI, bukan lagi
AI objek dari manusia—alias subjeknya ialah AI, dan subordinatnya ialah
manusia.
Manusia, memburu kaum hewan dan
memangsa mereka, semata karena kita memandang rendah kecerdasan kaum hewan, dan
berangkat dari asumsi demikian manusia memberi justifikasi dan legitimasi bagi
kaumnya untuk menjadikan hewan sebagai ternak untuk dieksploitasi dan
disembelih untuk dikonsumsi serta ditumbalkan. Dengan hukum yang sama, tanpa
perlu menunggu makhluk semacam ET alias alien dengan UFO-nya datang menjajah
Planet Bumi, umat manusia dengan senang dan bangga menciptakan penjajah bagi
umatnya sendiri, menggiring kaumnya dengan riang-gembira menuju kepunahan.
Tidak sedikit kaum “pengguna
AI” berdebat dengan penulis, memandang penulis merupakan kaum kolot-konservatif
yang memandang berlebihan bahaya dibalik AI. Satu kalimat dari penulis berikut,
cukup efektif untuk membungkam “mulut besar” para pecandu AI tersebut : “Nenek
moyang saya, tidak pernah butuh AI. Nenek moyang saya mengadalkan otak dan
otot-nya sendiri untuk survive, dan mereka HAPPY!” Dalam kesempatan
sebelumnya, penulis mengulas kecerdasan manusia bersifat evolusioner, bertahap
perlahan-lahan. Akan tetapi, kita akan tertinggal dari AI, mengingat sifat
pembelajaran AI ialah revolusioner yang dramatis dan eksponensial.
Satu manusia, satu kepala, dan
satu kepala hanya muat untuk satu otak. AI, dapat dijejali oleh jutaan hingga
miliaran chip mengandung core processor yang tidak terbatas jumlahnya.
Kabar buruknya bagi Anda, wahai umat manusia, untuk mereplikasi kecerdasan
seorang manusia, butuh sumber daya waktu, energi, usaha, serta biaya yang
sangat tidak murah. Untuk membesarkan seorang anak, butuh pendidikan dan asupan
gizi serta biaya lain yang tidak sedikit selama belasan hingga puluhan tahun.
Itu pun, tidak menjamin sang anak akan dapat menemukan pekerjaan yang mapan
ketika ia beranjak dewasa. Kita dapat menyebutnya sebagai “investasi yang penuh
spekulasi”. Dua orang anak, artinya dua kali usaha dan sumber daya yang sama.
Sementara AI, dapat direplikasi atau digandakan semudah “copy and paste”.
Pelaku usaha bermodal kuat manakah, yang tidak tergiur masuk dalam industri AI?
Negara-negara penguasa
teknologi AI, mampu membangun pasukan “robot Rambo” yang mahir dalam teknologi
bertempur serta berperang, terampil mengoperasionalkan helikopter, kapal selam,
hingga tank, semudah memproduksi kendaraan bermotor. Sebaliknya, kontras dengan
itu, negara atau orang miskin, tidak akan mampu berkompetisi, karena membangun
industri AI butuh modal yang sangat tidak sedikit. Negara miskin akan semakin
miskin, sementara orang melarat akan tetap melarat tanpa dapat memperbaiki
nasib, itulah vonis yang sudah dapat diprediksi melihat fenomena teknologi AI
yang begitu disruptif, sekalipun teknologi AI baru mulai diperkenalkan satu
dekade terakhir.
Tengoklah wakil presiden Anda,
yang kapasitas otaknya hanya mampu untuk “plonga-plongo” atau bagi-bagi susu
saat berjumpa warga, kerap sesumber perihal “AI”, bahkan memasukkan AI ke
kurikulum pendidikan anak sekolah, tanpa realistis menengok hasil tes akademik
terutama skor rata-rata kemampuan matematik dan literasi anak-anak sekolahan
kita yang begitu memprihatinkan. Anak sekolahan manakah, yang mampu membeli
sebuah satu super komputer? Satu buah super komputer manakah, yang dapat
membangun industri AI? Tengok pula para pemerhati penedidikan kita yang selalu
mengulang-mengulang kalimat klise : IQ tidak penting, yang penting SQ. Anda
pikir, berapa skor IQ bangsa Indonesia, sudah tergolong jenius ataukah selama
ini masih jauh dibawah rata-rata dan tertinggal dari negara-negara lain di
kawasan? Tengok jugalah presiden Anda, yang mendahulukan isi perut, ketimbang
memberi asupan bagi intelektual anak-anak kita di sekolah.
Banyak yang putus asa mencari
pekerjaan, bukan karena membludaknya angka pengangguran di negeri ini maupun
negara-negara lainnya saat disrupsi AI dan otomatisasi melanda dunia global
bagaikan wabah tidak terbendung yang dengan deras membanjiri. Kepanikan dan
kecemasan ini diakibatkan oleh satu kriteria yang seolah tercantum dalam setiap
lowongan pekerjaan yang masih tersedia : “LOWONGAN : Dicari orang yang mampu
lebih cerdas dan lebih efisien daripada AI.” Sementara itu, tidak ada Perguruan
Tinggi kita yang berani menjamin, bahwa mereka sanggup mendidik putera-puteri
Anda untuk menjadi lebih cerdas, lebih terampil, dan lebih efisien daripada AI.
Lebih kejam lagi, terdapat juga kriteria tidak tertulis dalam iklan lowongan
kerja dimaksud : “Gaji yang ditawarkan harus lebih murah daripada biaya listrik
bagi AI.”
Kriteria di awal saja, sudah
begitu membuat “patah arang”, mustahil secara jujur untuk dipenuhi. IPK (Indeks
Prestasi Kumulatif) sebuah AGI, atau bahkan ASI, jauh melampaui nilai skor
4,00. Seorang bergelar “cum laude” sekalipun tampak sedungu dan selamban
simpanse yang primitif. Putera dan puteri Anda, akan menyerah sebelum
benar-benar memulai untuk berperang mencari pekerjaan. Mereka, layu sebelum
benar-benar sempat berkembang. Memecat dirinya sendiri sebelum benar-benar
bekerja. Buat apa repot-repot belajar, buat apa repot-repot mencari kerja,
“mager” saja. Pekerjaannya ialah mencari pekerjaan, sebelum kemudian menyerah
dan pasrah pada nasib—nasib yang sengaja dirancang dan diwujudkan oleh umat
manusia yang tidak mau belajar dari “tidak seharusnya teknologi nuklir
diciptakan oleh umat manusia” (teknologi mana dapat memusnahkan peradaban
manusia, semudah menekan tombol peluncur rudal berhulu ledak nuklir hidrogen).
Simpanse, tidak repot-repot memusnahkan kaumnya sendri. Manusia, telah
ternyata, dapat lebih dungu daripada simpanse. Ada harga untuk sebuah
kerepotan, dan juga ada “harga” yang harus dibayarkan untuk sebuah kemudahan.
AI, merupakan sains dan inovasi
terakhir dari peradaban umat manusia. Sudah banyak pengamat industri AI yang
memprediksinya. Hanya orang dungu yang tidak merasa takut dan gagal menyadari
bahaya dibaliknya, bahkan dengan bangga menikmati, mencandu, dan bergantung
pada segala serta segudang “kembang gula” adiktif yang ditawarkan oleh
teknologi AI pada fase awal disrupsi AI. Bukan sejauh apa manusia “dapat”
berinovasi dan membuat teknologi canggih, namun apa yang “seharusnya” dilakukan
oleh umat manusia. Umat manusia bukan akan punah karena perang militer “Militer
Manusia Vs. Robot Terminator”, namun didahului oleh kepunahan profesi bagi umat
manusia yang kesemuanya telah diambil-alih oleh robot-robot berpenggerak teknologi
berbasis AI (powered by AI).
Tidak sampai dua dekade sejak
ulasan ini ditulis, kesemua investor bermodal besar yang memakai pendekatan
“padat modal”, tidak lagi identik dengan pembukaan lapangan kerja baru bagi “tenaga
kerja manusia” lokal di negara tempat sang investor menanamkan modalnya. Mereka
membawa serta modal berupa “mesin-mesin robot AI” (tidak dikategorikan sebagai
Tenaga Kerja Asing, sehingga tidak butuh ijin, bahkan bebas bea masuk) untuk
berproduksi, sehingga alhasil tidak akan pernah tercipta “padat karya”. Justru,
industri-industri “padat modal” dalam negeri dimangsa oleh
perusahaan-perusahaan asing “predator” yang memonopoli pangsa pasar lewat
produk-produk mereka yang membanjiri pasaran dengan harga yang murah namun
dapat diproduksi secara masif berkat efisiensi produksi berbasis “tenaga kerja
robotik”. Dimana, “home industry” sekalipun pun terlahap dan ikut
termakan, tidak lolos seleksi, turut tersapu hingga “ikan-ikan cere”, termangsa
dengan rakusnya. Istilah “survival of the fittest”, kian menakutkan,
umat manusia kalah berkompetisi terhadap robot ciptaan mereka sendiri yang
lebih berkompeten.
Absurd-nya, tidak ada
industri-industri “padat modal” (antitesis dari “padat karya”) tersebut yang
menyadari, siapakah yang akan membeli produk-produk produksi pabrik “padat
modal” mereka, bila tidak ada dana yang berputar di tengah masyarakat akibat
daya beli yang terpukul berkat tiadanya lapangan pekerjaan, sementara yang ada
ialah pemusatan kekayaan di tangan para pemodal kuat dibalik industri
berteknologi AI? Kini, bila Anda masih berniat untuk meng-kuliahkan anak-anak
Anda hingga ke Perguruan Tinggi agar bergelar sarjana, atau bila anak terkasih
Anda “ngotot” untuk berkuliah, maka sarankan kepada anak Anda untuk mencari
kampus yang berani memberi garansi : “Lulusan kami akan lebih kompeten dan
lebih efisien dari pada AI manapun di masa mendatang”.
Tidak ada maksud penulis
melarang siapapun untuk berkuliah. Yang jelas “buang-buang uang dan waktu”
ialah program paska sarjana. Bila motivasi Anda atau anak Anda ialah semata
untuk mencari pekerjaan, maka untuk apa buang-buang dana untuk berkuliah?
Mereka akan menemukan bahwa ijasah mereka benar-benar “tidak berguna” serta
“tidak berharga” dimana bahkan kantor pegadaian pun mungkin tidak lama lagi
akan menolak objek gadai berupa ijasah Perguruan Tinggi elit manapun. Bila
motivasi Anda untuk menjadi pengusaha atau membuka usaha, maka berkuliah tentu
“spekulasi” yang masih dapat ditempuh, disamping opsi alternatif berupa kursus
intensif bidang-bidang spesifik keterampilan tertentu.
Fenomena realita demikian,
telah terjadi di banyak negara, dimana habis biaya miliaran rupiah untuk meraih
gelar Master atau bahkan Phd-Doktoral, akan tetapi “menganggur” (jobless).
Alih-alih merasa bangga, mereka bahkan mulai malu menyandang gelar tersebut,
dan mulai menyadari betapa ia telah membuang-buang waktu, uang, serta
ekspektasi yang membuatnya “berjalan di tempat” dan “kehabisan waktu”,
disamping “kehilangan muka” untuk menghadapi dunia yang kejam ini, dan mulai
menarik diri dari dunia. Banyak netizen yang menyatakan, betapa indahnya
kehidupan pendahulu kita di era serba manual, setidaknya mereka tidak
berkompetisi dengan AI dimana lapangan pekerjaan masih membutuhkan “tenaga
kerja manusia”, dan dimana manusia masih belum tergantikan sebagai “yang
tercerdas”.
Itulah, akibat ulah “arogansi
intelektual” umat manusia modern. Orang bijak pernah berpesan, kita boleh
menginjak “pedal akselerasi” dalam-dalam, sepanjang kita tahu dan punya yang
namanya “pedal rem” serta tahu kapan harus menginjaknya dalam-dalam. Hidup itu
merepotkan, tidak terkecuali membuka usaha. Karena membuka usaha adalah
merepotkan, maka pelaku usaha membuka lowongan dan merekrut pegawai. Ketika
usaha tidak lagi merepotkan “berkat AI”, maka silahkan pegawai masuk museum
atau masuk “kebun binatang” untuk menjadi tontonan.
Orang yang paling cerdas,
bukanlah mereka yang mampu melakukan eksplorasi dan eksploitasi kecerdasan
otaknya sampai sejauh apa menciptakan teknologi canggih, namun yang mampu untuk
membuat prediksi dan menyadari harga yang harus dibayarkan berupa resiko bahaya
dibaliknya. Biarkan anak ayam berjuang untuk menetas, tanpa kita “bantu”
mengupas kulit cangkangnya. Biarkan kupu-kupu berupaya keras untuk keluar dari
kepompongnya, tanpa kita “bantu”. Kita, umat manusia, sejatinya dapat hidup
tanpa AI. Pendahulu kita telah membuktikan bahwa mereka bisa melangsungkan
kehidupan dan memberikan tongkat estafet kepada generasi berikutnya, tanpa AI.
Apakah kita benar-benar membutuhkan AI? Ingat, ada harga dibalik sebuah
“kemudahan” yang harus Anda bayarkan, setidaknya akan ada gaji yang hilang.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.