KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Membedah Psikologi Kriminal dan Spekulan, Ada Kemiripan diantara Keduanya : Merasa “SPESIAL” (sebuah “DELUSI”)

Boleh Anda Tidak Percaya, namun Hendaknya Tidak MENANTANG dan Tidak Memprovokasi / Menyeret-Serta Orang Lain untuk Turut Terseret oleh Spekulasi Anda

Bijaksana Vs. Dunguwan Penuh Spekulasi (Spekulan)

Dalam banyak kesempatan, sering penulis berpesan, jika Anda tidak percaya pada metafisika seperti Feng Shui, Rebirth (tumimbal-lahir telah dapat dibuktikan secara ilmiah melalui metoda ilmiah psikologi “past-life regression”), ataupun Hukum Karma, maka cukup simpan pandangan itu untuk Anda yakini sendiri, tanpa memprovokasi orang lain untuk diseret bersama Anda, terlebih “MENANTANG”. Bolah saja, dan silahkan, itu hak Anda bila Anda tidak percaya pada pantangan menempati rumah yang berkondisi “tusuk sate”. Namun, janganlah menantangnya dengan secara sengaja menempati tempat tersebut. Terlebih mengkampanyekan “sifat menantang” Anda kepada orang lain, agar turut tidak percaya dan melakukan sikap menantang serupa, itu tidak bijaksana.

TCM, Traditional Chinese Medicine, seperti akupuntur, belum bisa dijelaskan secara sains, namun mengapa sampai kini masih eksis, apakah semata faktor “placebo effect”? Bukan tidak dapat dijelaskan oleh sains, akan tetapi belum dapat dijelaskan oleh sains masa kini, sebagaimana kelak sains akan mampu menjelaskan fenomena makhluk gaib. Sains, masih terus berkembang, sains masa kini belum sempurna, masih berevolusi. Begitupula meditasi yang mampu membangkitkan kekuatan batin maupun daya untuk menyembuhkan, belum dapat sepenuhnya dijelaskan secara ilmiah.

Belakangan ini, kerap muncul seorang tokoh spekulan yang pandai melontarkan spekulasi ke ruang publik, baik pada media sosial maupun pada media konvensional. Tokoh-spekulan tersebut melontarkan argumentasi tanpa dasar yang cenderung dilandasi teori spekulasi, tanpa didukung oleh kajian ilmiah, menyatakan dengan penuh percaya diri bahwa tubuh manusia “telah sempurna”, sehingga tidak perlu diberikan vaksin apapun, juga tidak perlu takut pada virus dari hewan manapun karena semua hewan tersebut telah ada sejak bumi terbentuk. Yang patut dicela oleh tokoh-spekulan tersebut, yang bersangkutan membuat kampanye agar publik luas menolak divaksin serta mengkritik kebijakan pemerintah yang memberi vaksin bagi warganya.

Apakah belum cukup jatuh korban jiwa, anak-anak tidak berdosa yang menderita penyakit polio, campak, dan penyakit lainnya, semata akibat orangtua menolak anaknya divaksin? Virus malaria dan demam-berdarah, sudah ada sejak era purbakala, namun apakah tubuh manusia bisa beradaptasi sesempurna itu? Mengapa juga para jemaah haji-umroh diwajibkan oleh otoritas Arab Saudi untuk divaksin meningitis? Wabah dan penyakit akibat terpapar virus, merupakan fakta sejarah yang terjadi sejak generasi leluhur kita, bahkan sejak sebelum “teori spekulasi” itu sendiri dikembangkan oleh para spekulan yang hanya pandai berspekulasi. Adalah wajar sifatnya, seseorang jatuh sakit akibat terpapar virus ataupun bakteri. Siapa juga yang belum pernah jatuh sakit akibat hal demikian? Wabah sangat menyerupai fenomena alam mematikan lainnya, seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, yang akan ada dan terus mengancam, dimana umat manusia perlu bersikap waspada dalam menyikapi fenomena “alami” (by nature) demikian.

Yang tidak dapat penulis tolerir dari sang spekulan ialah, ia akan cenderung menghakimi pihak-pihak yang jatuh sakit akibat terpapar virus atau bakteri, sebagai “kurang iman-nya” atau “tubuh kamu tidak normal sehingga bisa sakit atau tewas akibat terpapar virus / bakteri”. Alam, tidaklah sempurna, tidak terkecuali tubuh ini. Bila alam ini sempurna, modifikasi cuaca tidak Anda butuhkan. Hujan berkepanjangan atau kekeringan berkepanjangan, manusia perlu berjuang “melawan alam”, bukan “tunduk pada alam”, mengingat alam belumlah sempurna adanya. Kesemua ini adalah hasil proses evolusi dan seleksi alam, dimana prosesnya masih sedang berlangsung, belum sempurna adanya. Sang Buddha membabarkan, bila Anda adalah “AKU” atau “telah sempurna”, maka tanyakanlah kepada diri Anda sendiri:

1.) mengapa rambut Anda terus bertumbuh panjang meski Anda mungkin tidak menginginkan demikian, atau sebaliknya, tidak bertumbuh sama sekali ataupun berubah menjadi memutih saat menjelang lanjut usia?

2.) mengapa Anda dapat merasakan perasaan sakit yang dapat memukul Anda, bahkan hingga memicu serangan jantung, atau merasa bosan saat seorang diri?

3.) mengapa Anda bahkan bisa lupa dimana Anda menaruh kunci ataupun barang-barang Anda?

4.) mengapa kita punya kecenderungan / kehendak untuk bahkan menyakiti diri sendiri, seperti mengonsumsi sesuatu yang kita tahu merusak kesehatan maupun melontarkan perkataan yang kita sesali sendiri di kemudian hari?

5.) siapa juga yang suka mencium bau busuk-menyegat (kesadaran penciuman) ataupun makanan dengan rasa pahit (kesadaran pengecap), sensasi nyeri (kesadaran sentuhan), suara musik yang rombeng (kesadaran pendengaran), pemandangan tumpukan sampah ataupun pemukiman kumuh (kesadaran penglihatan), maupun trauma yang terus-menerus mengusik (kesadaran pikiran)?

Faktanya, tubuh kita maupun alam ini, masih berada di persimpangan jalan. Seseorang yang berharap “sempurna” dengan tanda “tidak menua”, “tidak sakit”, dan “tidak meninggal dunia”, sama artinya melawan hukum alam itu sendiri. Dia pikir—sang spekulan—siapa dirinya? Seorang Buddha, yang jiwanya telah tercerahkan sempurna sekalipun, tubuh manusianya dapat jatuh sakit dan meninggal dunia akibat faktor makanan sebagaimana yang dialami Buddha Siddhatta Gotama. Bisa jadi dana makanan yang diterima oleh Sang Buddha, mengandung bakteri atau kuman penyakit yang kemudian menyerang organ pencernaan Beliau. Seakan, Sang Buddha hendak memberi pesan kepada para siswa-Nya karena sejak semula telah meramalkan batas usia hidup tubuh Sang Buddha, bahwa “Tubuh ini tidaklah sempurna adanya” (bukan “AKU”, bukan “milik-Ku”, berubah, tidak kekal, dan dukkha). Menua, sakit, meninggal dunia, bukanlah hal yang “spesial” untuk orang tertentu, itu adalah fenomena yang wajar adanya dimana pasti dialami setiap makhluk yang masih berkondisi.

Setelah dilakukan evaluasi, penyakit mental sang spekulan tidak lain tidak bukan ialah “sakit akibat delusi” bahwa logikanya telah sempurna dan dirinya adalah “ISTIMEWA”. Evy Poumpouras, seorang jurnalis, penyandang gelar Master untuk ilmu psikologi-forensik, dan mantan agen rahasia USA yang banyak berhadapan dengan beragam sifat manusia, mengutarkan dalam suatu acara berjudul “How to Succeed Without Confidence, Motivation, or Healing”, dengan kutipan sebagai berikut:

I began my career as a former special agent with the United States Secret Service and the U.S. Secret Service.

There's a dual mission at agency. You do protection, which means you protect, the president, former presidents, foreign heads of state, and you also work criminal investigations, serious crimes across the board. And I did interviews and interrogations after I left the US Secret Service, I had a more public persona.

I wrote my book, Becoming Bulletproof, and then I began working on air. Today I work for NBC news and I cover crime and national security. What was interesting is people began writing into me, and they started writing into me with questions, wanting guidance every.

I want to ask my boss for a raise, but I don't know how to do it. I'm afraid every. I'd like to change career paths, but I don't know how to do it, I'm afraid. And the questions vary. They were all over the place and I began doing mentor sessions.

I thought, you know, I really can't answer a person's question in a text or in a note or even in an email. So I started doing a few mentor sessions, guiding people. Then a few became a few dozen, then a few dozen became a few hundred. And over the years, I did hundreds of mentor sessions with people, and I found a pattern.

I found a pattern that they were all at the core,  struggling with common issues, that there were these inhibitors, these patterns in their way of thinking and behavior that caused them to be stuck, that caused them not to know how to move forward. And I want to share these with you today.

First inhibitor, you're not that special. Here's the thing. We may like to think of ourselves as special. Okay, so if I'm special, then that means you're not special. Well, or if you're all special, then nobody is special.

The other thing is, when you think of yourself as being special, it kind of means that you're separate from everyone else. You are unique.

You know, it's interesting. I'm a criminal justice professor, and obviously my background is criminology. We found that people who commit crime, chronic crime, those people that commit crime over and over and over again, they think they're special because the laws and the rules don't apply to them. The laws and the rules are for everybody else.

I'm special. What else is really interesting is that those who think of themselves as special become extremely self-focused. I am so focused on myself and me that I make my problems special. My pain is special and my suffering is special.

Nobody knows how I feel because I am so special that I hurt so differently. And when you feel like that, there are higher rates of depression and you have higher rates of anxiety because I am so unique.

But what I found is when you think that you are that special, you feel alone in the world. You can't get through it. Nobody understands you.

You're not that special. And do you know what that means? You're not alone in the world.

When I was a special agent, uh, I was exposed to the events of September 11th, 2001. I worked out of the United States field office in New York City, and I went to work that day at the World Trade Center.

So I was there from when the first plane hit to the second to the collapse of the first tower and the second tower.

Now, what was interesting, there was a moment when that was all happening, that exposure to see all those people suffer and all those people that I couldn’t help or save.

And what got me through that really tragic event is I understood I wasn't that special in my pain, that other people had been exposed to what I had been exposed to, and that if they could get through it, I could get through it.

I knew that I wasn't alone in the world.

Now, this is the number one thing I get asked about when people come to me. Evie, I need confidence. I’m not confident.

How do you manifest confidence?

I'm going to tell you something. Confidence is overrated. Overrated.

Here's a secret. You don't need it. You don’t need it.

Think of it this way. I want to do something. Typically, people want confidence so that they can do something.

So here’s the thing I want to do.

Here is me. I want to go from here to here.

Ideally I would go this way. Here's my achievement. Boom. I'm done.

But do you know what we do? We say, ah, wait, I need confidence to do this. So instead of going this way, I'm going to break my path and I'm going to go on this wild journey to find confidence. Where's this confidence?

Confidence I need you. Where are you? Where are you?

And then once I get it, then I can come back. You have done this.

Such a windy road and gone all over the place that you either forget to go back, you get distracted, or you lose faith. And we never achieve what we want to achieve.

And with that one other thing you don't need is motivation.

Motivation equals mediocrity.

Often people think I need to be motivated to do something.

I need motivation to go work out. I need motivation to study so I can go to school I need motivation to do these things.

I will tell you something. If you wait to be motivated in life to do something, you will do the bare minimum.

Bahaya dibalik sebuah spekulasi, spekulan yang patut kita waspadai, terlebih resiko menyebar-luaskan spekulasi dan terpapar oleh paham spekulasi demikian, dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

Sutta 102

Pañcattaya Sutta: Lima dan Tiga

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.935 Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu,” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(SPEKULASI TENTANG MASA DEPAN)

2. “Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan dan menganut pandangan tentang masa depan, yang menyatakan berbagai dalil doktrin sehubungan dengan masa depan.

(I) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian.’

(II) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian.’

(III) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri bukan memiliki juga bukan tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian.’

(IV) Atau mereka menjelaskan pemusnahan, kehancuran, dan kebinasaan dari makhluk yang ada [pada saat kematian].

(V) Atau beberapa menyatakan Nibbāna di sini dan saat ini.936

“Demikianlah (a) mereka menggambarkan keberadaan diri yang tidak hancur setelah kematian; (b) atau mereka menggambarkan pemusnahan, kehancuran, dan kebinasaan dari makhluk yang ada [pada saat kematian]; (c) atau mereka menyatakan Nibbāna di sini dan saat ini. Demikianlah [pandangan-pandangan] ini dari lima menjadi tiga, dan dari tiga menjadi lima. Ini adalah ringkasan dari ‘lima dan tiga.’

3. (1) “Di sana, para bhikkhu, para petapa dan brahmana [229] yang menjelaskan diri sebagai memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian menggambarkan bahwa diri itu, yang memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, sebagai:

bermateri;

atau tanpa materi;

atau bermateri juga tanpa-materi;

atau bukan bermateri juga bukan tanpa-materi;

atau memiliki persepsi kesatuan;

atau memiliki persepsi keberagaman;

atau memiliki persepsi terbatas;

atau memiliki persepsi tidak terbatas.937

Atau yang lainnya, di antara sedikit dari mereka yang melampaui hal ini, beberapa menyatakan tentang kasia-kesadaran, yang tanpa batas dan tanpa gangguan.938

4. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan diri sebagai memiliki diri dan tidak rusak setelah kematian menggambarkan diri itu sebagai bermateri … atau mereka menggambarkannya sebagai memiliki persepsi dan tidak terbatas. Atau yang lainnya, [230] beberapa menyatakan tentang landasan kekosongan, tanpa batas dan tanpa gangguan; [bagi mereka] “tidak ada apa-apa” dinyatakan sebagai persepsi yang paling murni, paling tinggi, paling baik, dan tidak terlampaui – apakah persepsi bentuk, persepsi tanpa bentuk, persepsi kesatuan, atau persepsi keberagaman.939 Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.940

5. (II) “Di sana, para bhikkhu, para petapa dan brahmana itu yang menjelaskan diri sebagai tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian menggambarkan diri itu, yang tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, sebagai:

Bermateri;

Atau tanpa materi;

Atau bermateri juga tanpa-materi;

Atau bukan bermateri juga bukan tanpa-materi.941

6. “Di sana, para bhikkhu, mereka mengkritik para petapa dan brahmana yang menjelaskan diri sebagai memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian. Mengapakah? Karena mereka mengatakan: ‘Persepsi adalah penyakit, persepsi adalah tumor, persepsi adalah anak panah; ini adalah damai, ini adalah luhur, yaitu, tanpa persepsi.’

7. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan diri sebagai tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian menggambarkan diri itu, yang tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, sebagai bermateri ... atau bukan bermateri juga bukan tanpa-materi. Bahwa petapa atau brahmana manapun dapat mengatakan: “Terlepas dari bentuk materi, terlepas dari perasaan, terlepas dari persepsi, terlepas dari bentukan-bentukan, aku akan menjelaskan datang dan perginya kesadaran, lenyapnya dan kemunculan kembalinya, pertumbuhannya, peningkatannya, dan kematangannya” – itu adalah tidak mungkin.942 Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada [231] lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

8. (III) “Di sana, para bhikkhu, para petapa dan brahmana itu yang menjelaskan diri sebagai bukan memiliki juga bukan tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian menggambarkan diri itu, yang memiliki juga tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, sebagai:

Bermateri;

Atau tanpa materi;

Atau bermateri juga tanpa-materi;

Atau bukan bermateri juga bukan tanpa-materi.943

9. “Di sana, para bhikkhu, mereka mengkritik para petapa dan brahmana yang menjelaskan diri sebagai memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, dan mereka mengkritik para petapa dan brahmana yang menjelaskan diri sebagai tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian. Mengapakah? Karena mereka mengatakan: ‘Persepsi adalah penyakit, persepsi adalah tumor, persepsi adalah anak panah dan tanpa persepsi adalah kelumpuhan;944 ini adalah damai, ini adalah luhur, yaitu, bukan persepsi juga bukan tanpa-persepsi.’

10. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan diri sebagai bukan memiliki persepsi juga bukan tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian menggambarkan diri itu, yang bukan memiliki juga bukan tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, sebagai bermateri ... atau bukan bermateri juga bukan tanpa-materi. Jika petapa atau brahmana manapun menjelaskan bahwa memasuki landasan ini terjadi melalui bentukan-bentukan sehubungan dengan apa yang dilihat, didengar, dicerap, dan dikenali, itu dinyatakan sebagai bencana dalam memasuki landasan ini.945 [232] Karena landasan ini, dinyatakan, tidak dicapai sebagai pencapaian dengan bentukan-bentukan; landasan ini, dinyatakan, dicapai sebagai pencapaian dengan sisa-sisa bentukan-bentukan.946 Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

11. (IV) “Di sana, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menjelaskan pemusnahan, kehancuran, dan kebinasaan suatu makhluk yang ada [pada saat kematian]947 mengkritik para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan diri sebagai memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, dan mereka mengkritik para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan diri sebagai tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, dan mereka mengkritik para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan diri sebagai bukan memiliki juga bukan tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian. Mengapakah? Semua petapa dan brahmana baik ini, dengan bergegas maju ke depan, menyatakan keterikatan mereka sebagai berikut: ‘Kita akan seperti demikian setelah mati, kita akan seperti demikian setelah mati.’ Seperti halnya seorang pedagang yang pergi ke pasar dan berpikir: ‘Karena ini, itu akan menjadi milikku; dengan ini, aku akan mendapatkan itu’; demikian pula, para petapa dan brahmana baik ini tampak seperti para pedagang itu ketika mereka menyatakan: ‘Kita akan seperti demikian setelah mati, kita akan seperti demikian setelah mati.’

12. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan pemusnahan, kehancuran, dan kebinasaan suatu makhluk yang ada [pada saat kematian], karena ketakutan pada identitas dan kejijikan pada identitas, terus-menerus berlari dan berputar di sekeliling identitas yang sama itu.948 Seperti halnya seekor anjing yang terikat oleh tali pengikat pada sebuah tiang atau tonggak [233] akan terus-menerus belari dan berputar di sekeliling tiang atau tonggak yang sama itu; demikian pula, para petapa dan brahmana baik itu, karena ketakutan pada identitas dan kejijikan pada identitas, terus-menerus berlari dan berputar di sekeliling identitas yang sama itu. Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

13. “Para bhikkhu, petapa atau brahmana manapun yang berspekulasi tentang masa depan dan menganut pandangan tentang masa depan, yang menyatakan berbagai dalil doktrin sehubungan dengan masa depan, semuanya menyatakan kelima landasan ini atau salah satu di antaranya.949

(SPEKULASI TENTANG MASA LAMPAU)

14. “Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau dan menganut pandangan tentang masa lampau, yang menyatakan berbagai dalil doktrin sehubungan dengan masa lampau.

(1) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah abadi: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’950

(2) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah tidak abadi: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’951

(3) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah abadi dan juga tidak abadi: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’952

(4) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah bukan abadi dan juga bukan tidak abadi: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’953

(5) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah terbatas: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’954

(6) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah tidak terbatas: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(7) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah terbatas dan juga tidak terbatas: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(8) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah bukan terbatas dan juga bukan tidak terbatas: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(9) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia memiliki persepsi kesatuan: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’955

(10) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia memiliki persepsi keberagaman: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(11) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia memiliki persepsi terbatas: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(12) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia memiliki persepsi tidak terukur: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(13) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia [mengalami] kenikmatan luar biasa: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ [234]

(14) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia [mengalami] kesakitan luar biasa: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(15) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia [mengalami] kenikmatan dan juga kesakitan: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

(16) Beberapa menyatakan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia tidak [mengalami] kenikmatan maupun kesakitan: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

15. (1) “Di sana, para bhikkhu, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah abadi: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ bahwa terlepas dari keyakinan, terlepas dari persetujuan, terlepas dari tradisi lisan, terlepas dari penalaran, terlepas dari penerimaan pandangan melalui perenungan, mereka akan memiliki pengetahuan pribadi yang murni dan jernih atas hal ini – itu adalah tidak mungkin.956 Karena mereka tidak memiliki pengetahuan pribadi yang murni dan jernih, bahkan sekedar potongan pengetahuan yang dijelaskan oleh para petapa dan brahmana baik itu [atas pandangan mereka] dinyatakan sebagai kemelekatan di pihak mereka.957 Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan. Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

16. (2-16) “Di sana, para bhikkhu, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan sebagai berikut: ‘Diri dan dunia adalah tidak abadi ... abadi dan tidak abadi ... bukan abadi juga bukan tidak abadi ... terbatas ... tidak terbatas ... terbatas dan tidak terbatas ... bukan terbatas juga bukan tidak terbatas ... memiliki persepsi kesatuan ... memiliki persepsi keberagaman ... memiliki persepsi terbatas ... memiliki persepsi tidak terukur ... [mengalami] kenikmatan luar biasa ... [mengalami] kesakitan luar biasa ... [mengalami] kenikmatan dan kesakitan ... tidak [mengalami] kenikmatan maupun kesakitan: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ bahwa terlepas dari keyakinan, terlepas dari persetujuan, terlepas dari tradisi lisan, terlepas dari penalaran, terlepas dari penerimaan pandangan melalui perenungan, mereka akan memiliki pengetahuan pribadi yang murni dan jernih atas hal ini – itu adalah tidak mungkin. [235] Karena mereka tidak memiliki pengetahuan pribadi yang murni dan jernih, bahkan sekedar potongan pengetahuan yang dijelaskan oleh para petapa dan brahmana baik itu [atas pandangan mereka] dinyatakan sebagai kemelekatan di pihak mereka. Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.958

(NIBBĀNA DI SINI DAN SAAT INI)959

17. (V) “Di sini, para bhikkhu,960 seorang petapa atau brahmana, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan dan karena sama sekali tidak condong pada belenggu-belenggu kenikmatan indria, masuk dan berdiam dalam sukacita keterasingan.961 Ia berpikir: ‘Ini damai, ini luhur, bahwa aku masuk dan berdiam dalam sukacita keterasingan.’ Sukacita keterasingan itu lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya sukacita keterasingan itu, maka kesedihan muncul, dan dengan lenyapnya kesedihan, maka sukacita keterasingan muncul.962 Seperti halnya cahaya matahari meliputi area yang ditinggalkan oleh bayangan, dan bayangan meliputi area yang ditinggalkan oleh cahaya matahari, demikian pula, Dengan lenyapnya sukacita keterasingan itu, maka kesedihan muncul, dan dengan lenyapnya kesedihan, maka sukacita keterasingan muncul.

18. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Petapa atau brahmana baik ini, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan … dan dengan lenyapnya kesedihan, maka sukacita keterasingan muncul. Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

19. “Di sini, para bhikkhu, seorang petapa atau brahmana, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan, dan karena sama sekali tidak condong pada belenggu-belenggu kenikmatan indria, dan dengan mengatasi sukacita keterasingan, masuk dan berdiam dalam kenikmatan nonduniawi.963 Ia berpikir: ‘Ini damai, ini luhur, bahwa aku masuk dan berdiam dalam kenikmatan non-duniawi.’ Kenikmatan nonduniawi itu lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya kenikmatan non-duniawi, maka sukacita keterasingan muncul, dan dengan lenyapnya sukacita keterasingan, maka kenikmatan non-duniawi muncul. [236] Seperti halnya cahaya matahari meliputi area wilayah yang ditinggalkan oleh bayangan, dan bayangan meliputi area yang ditinggalkan oleh cahaya matahari, demikian pula, Dengan lenyapnya kenikmatan non-duniawi, maka sukacita keterasingan muncul, dan dengan lenyapnya sukacita keterasingan, maka kenikmatan non-duniawi muncul.

20. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Petapa atau brahmana baik ini, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan … dan dengan lenyapnya sukacita keterasingan, maka kenikmatan nonduniawi muncul. Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

21. “Di sini, para bhikkhu, seorang petapa atau brahmana, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan, dan karena sama sekali tidak condong pada belenggu-belenggu kenikmatan indria, dan dengan mengatasi sukacita keterasingan dan kenikmatan non-duniawi, masuk dan berdiam dalam perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.964 Ia berpikir: ‘Ini damai, ini luhur, bahwa aku masuk dan berdiam dalam perasaan yang bukan-menyakitkan-juga- bukan-menyenangkan.’ Perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan itu lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan itu, maka kenikmatan non-duniawi muncul, dan dengan lenyapnya kenikmatan non-duniawi, maka perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan muncul. Seperti halnya cahaya matahari meliputi area yang ditinggalkan oleh bayangan, dan bayangan meliputi area yang ditinggalkan oleh cahaya matahari, demikian pula, dengan lenyapnya perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan itu, maka kenikmatan non-duniawi muncul, dan dengan lenyapnya kenikmatan non-duniawi, maka perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan muncul.

22. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Petapa atau brahmana baik ini, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan … [237] … dan dengan lenyapnya kenikmatan non-duniawi, maka perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan muncul. Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

23. “Di sini, para bhikkhu, seorang petapa atau brahmana, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan, dan karena sama sekali tidak condong pada belenggu-belenggu kenikmatan indria, dan dengan mengatasi sukacita keterasingan, kenikmatan non-duniawi, dan perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, menganggap dirinya sebagai berikut: ‘Aku dalam keadaan damai, aku telah mencapai Nibbāna, aku tanpa kemelekatan.’965

24. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Petapa atau brahmana baik ini, dengan melepaskan pandangan tentang masa lampau dan masa depan … menganggap dirinya sebagai berikut: ‘Aku dalam keadaan damai, aku telah mencapai Nibbāna, aku tanpa kemelekatan.’ Tentu saja yang mulia ini menyatakan jalan menuju Nibbāna. Namun petapa atau brahmana baik ini masih melekat, melekat apakah pada pandangan tentang masa lampau atau pada pandangan tentang masa depan atau pada belenggu kenikmatan indria atau pada sukacita keterasingan atau pada kenikmatan non-duniawi atau pada perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. Dan ketika yang mulia ini menganggap dirinya sebagai berikut: ‘Aku dalam keadaan damai, aku telah mencapai Nibbāna, aku tanpa kemelekatan,’ itu juga dinyatakan sebagai kemelekatan di pihak petapa atau brahmana baik ini.966 Hal itu terkondisi dan kasar, tetapi ada lenyapnya bentukan-bentukan.’ Setelah mengetahui ‘Ada hal ini,’ dengan melihat jalan membebaskan diri dari hal itu, Sang Tathāgata telah melampauinya.

25. “Para bhikkhu, kondisi tertinggi dari kedamaian luhur ini telah ditemukan oleh Sang Tathāgata, yaitu, pembebasan melalui ketidak-melekatan,967 dengan memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri dalam hal enam landasan kontak. Para bhikkhu, itu adalah kondisi tertinggi dari kedamaian luhur ini yang ditemukan oleh Sang Tathāgata, [238] yaitu, kebebasan melalui ketidak-melekatan, dengan memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri dalam hal enam landasan kontak.”968 Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

CATATAN KAKI:

935. Sutta ini adalah padanan dengan panjang menengah dari Brahmajāla Sutta yang lebih panjang, yang terdapat dalam Digha Nikāya dan diterbitkan dalam terjemahannya dengan komentarnya dalam Bodhi, Discourse on the All-Embracing Net of Views. Penjelasan terperinci pada hampir seluruh pandangan yang disebutkan dalam sutta ini dapat dibaca dalam Pendahuluan dan Bagian ke-dua buku tersebut. Ada terjemahan Tibet atas Pañcatraya Sūtra, padanan dari teks ini yang berasal dari aliran Mūlasarvāstivāda, yang bukunya dituliskan dalam Skt. Teks ini dibahas oleh Peter Skilling dalam Mahāsūtras II, pp. 469-511. Skilling menggaris-bawahi perbedaan menarik antara versi teks ini dan versi Pali.

936. Skilling menunjukkan bahwa Pañcatraya versi Tibet, menyatakan Nirvāa di sini dan saat ini tidak termasuk dalam pandangan akan masa depan melainkan merupakan kelompok terpisah. Brahmajāla Sutta menempatkan pernyataan Nibbāna tertinggi di sini dan saat ini di antara pandangan-pandangan akan masa depan, tetapi penataan dalam versi Tibet tampaknya lebih logis.

937. Dalam Brahmajāla Sutta keenam-belas variasi pandangan ini disebutkan, delapan yang terdapat di sini dan dua tetrad lainnya: diri sebagai terbatas, tidak terbatas, keduanya, dan bukan keduanya; dan diri sebagai mengalami kenikmatan luar biasa, kesakitan luar biasa, gabungan keduanya, dan bukan keduanya. Dalam sutta sekarang ini kedua tetrad ini dimasukkan ke dalam spekulasi tentang masa lampau pada §14, tetapi pada Sayutta Nikāya 24:37-44 / iii.219-20 dijelaskan sebagai diri setelah kematian.

938. Jelas, bahwa dalam daftar di atas pandangan-pandangan diri sebagai tanpa materi, memiliki persepsi kesatuan, dan memiliki persepsi tanpa batas adalah berdasarkan pada pencapaian landasan ruang tanpa batas. M menjelaskan kasia-kesadaran sebagai landasan kesadaran tanpa batas, menyebutkan bahwa para penganut teori ini menyatakan landasan itu sebagai diri.

939. Persepsi di dalam meditasi tanpa materi ke tiga – landasan kekosongan – adalah yang paling halus dari semua persepsi duniawi. Walaupun masih ada jenis persepsi dalam pencapaian tanpa materi ke empat, ini begitu halusnya sehingga tidak lagi layak disebut sebagai persepsi.

940. MA menuliskan sebagai berikut: “Semua jenis persepsi itu bersama dengan pandangan-pandangan adalah terkondisi, dan karena terkondisi, maka kasar. Tetapi karena ada Nibbāna, yang disebut lenyapnya bentukan-bentukan, yaitu, bentukan-bentukan yang terkondisi. Setelah mengetahui, ‘Ada hal ini,’ yaitu ada Nibbāna, dengan melihat jalan membebaskan diri dari yang terkondisi, maka Sang Tathāgata telah melampaui yang terkondisi itu.”

941. Tetrad ke dua dari §3 dihilangkan di sini, karena diri dianggap sebagai tidak memiliki persepsi. Dalam Brahmajāla Sutta kedelapan variasi pandangan ini disebutkan, empat ini ditambah tetrad terbatas-tidak terbatas.

942. MA menunjukkan bahwa pernyataan ini dibuat dengan merujuk pada alam-alam kehidupan di mana terdapat seluruh kelima kelompok unsur kehidupan. Dalam alam tanpa-materi kesadaran ada tanpa kelompok unsur bentuk-materi, dan dalam alam tanpa-persepsi ada bentuk-materi tetapi tanpa kesadaran. Tetapi kesadaran tidak pernah ada tanpa ketiga kelompok unsur batin lainnya.

943. Brahmajāla Sutta menyebutkan delapan variasi pandangan ini, empat ini ditambah tetrad terbatas-tidak terbatas.

944. Sammoha, di sini jelas memiliki makna berbeda dari “kebingungan” atau “delusi” seperti biasanya.

945. MA menjelaskan kata majemuk diṭṭhasutamutaviññātabba sebagai bermakna “apa yang dikenali sebagai terlihat, terdengar, dan terindra” dan menganggapnya merujuk pada pengenalan pintu indria. Akan tetapi, hal ini juga dapat merupakan seluruh pengenalan pintu pikiran yang lebih kasar. Untuk memasuki pencapaian tanpa materi ke empat, semua “bentukan batin” yang biasa yang terlibat dalam proses pengenalan lainnya harus diatasi, karena keberadaannya adalah rintangan untuk memasuki pencapaian ini. Karena itu ini disebut “tidak memiliki persepsi” (n’eva saññi).

946. Sasankhārāvasesasamāpatti. Di dalam pencapaian tanpa materi ke empat masih ada sisa-sisa bentukan batin yang sangat halus, karena itu disebut “bukan tidak memiliki persepsi” (nāsaññi).

947. Brahmajāla menjelaskan tujuh jenis pandangan pemusnahan, di sini seluruhnya dikelompokkan menjadi satu.

948. “Ketakutan dan kejijikan pada identitas” adalah suatu aspek vibhavata, ketagihan pada ketiadaan. Pandangan pemusnahan yang karenanya “ketakutan dan kejijikan pada identitas” ini muncul masih melibatkan suatu identifkasi sebagai diri – diri yang musnah pada saat kematian – dan dengan demikian, terlepas dari penyangkalan ini, hal ini mengikat si penganutnya pada lingkaran kehidupan.

949. Sejauh ini hanya empat dari lima kelompok spekulasi tentang masa depan yang telah dianalisa, namun Sang Buddha berkata seolah-olah semuanya telah dijelaskan. MA berusaha untuk memecahkan persoalan ini dengan menjelaskan bahwa pernyataan “Nibbāna di sini dan saat ini” tercakup dalam “memiliki persepsi kesatuan” dan “memiliki persepsi keberagaman” dalam §3. Akan tetapi, penjelasan ini tidak meyakinkan. Ñm, dalam Ms, menambahkan judul “Nibbāna di sini dan saat ini” pada §17, dan §17-21 tampaknya bersesuaian dengan empat terakhir dari lima doktrin Nibbāna di sini dan saat ini dalam Brahmajāla. Akan tetapi, interpretasi ini sepertinya dilawan oleh §13 dan oleh frasa yang digunakan dalam §17, §19, dan §21, “dengan melepaskan pandangan-pandangan tentang masa lampau dan masa depan,” yang mengeluarkan doktrin Nibbāna di sini dan saat ini dari pandangan-pandangan tentang masa depan (walaupun ditempatkan di antara pandangan-pandangan demikian dalam pembukaan). Persoalan ini tampaknya tidak dapat dipecahkan, dan memunculkan kecurigaan bahwa teks telah mengalami perubahan hingga tingkat tertentu dalam penyampaian lisan. Penambahan pandangan-pandangan tentang masa lampau persis di bawah juga menimbulkan persoalan. Bukan hanya karena pandangan-pandangan itu tidak disebutkan dalam pembukaan, tetapi penempatan yang masa lampau setelah yang masa depan membalikkan urutan waktu yang normal. Skilling beranggapan bahwa paragraf ini adalah bagian dari komentar lisan dari sutta ini yang, pada titik tertentu, terserap ke dalam teks.

950. Pandangan ini memasukkan seluruh empat pandangan eternalis yang berspekulasi tentang masa lampau yang disebutkan dalam Brahmajāla.

951. Karena ini adalah pandangan yang merujuk pada masa lampau, dapat dianggap menyiratkan bahwa pada titik tertentu di masa lampau diri dan dunia muncul secara spontan dari ketiadaan. Demikianlah ini terdiri dari dua doktrin asal-mula yang terjadi secara kebetulan dari Brahmajāla, seperti pendapat MA.

952. Ini memasukkan keempat jenis eternalisme sebagian.

953. Ini dapat memasukkan keempat jenis pengelakan tanpa akhir atau “geliat-belut” pada Brahmajāla.

954. Pandangan-pandangan 5-8 bersesuaian persis dengan empat pandangan perpanjangan dari Brahmajāla.

955. Kedelapan pandangan (9-16) adalah, dalam Brahmajāla, termasuk di dalam doktrin-doktrin yang memiliki persepsi keabadian yang terdapat dalam kelompok spekulasi tentang masa depan.

956. Yaitu, mereka harus menerima doktrin mereka di atas suatu dasar selain pengetahuan, yang melibatkan kepercayaan atau penalaran. Pada Majjhima Nikāya 95.14, dikatakan bahwa kelima dasar pendirian ini menghasilkan kesimpulan yang dapat terbukti benar atau salah.

957. MA: ini sebenarnya bukanlah pengetahuan melainkan pemahaman keliru; demikianlah ini dinyatakan sebagai kemelekatan pada pandangan-pandangan.

958. MA mengatakan bahwa pada titik ini keseluruh enam puluh dua pandangan yang dijelaskan dalam Brahmajāla Sutta telah dicantumkan, namun sutta ini bahkan memiliki jangkauan yang lebih luas karena memasukkan penjelasan atas pandangan identitas (paling jelas pada §24).

959. Bagian judul ini, dan huruf Romawi berikutnya “V”, ditambahkan oleh Ñm dengan anggapan bahwa paragraf ini menyajikan doktrin Nibbāna di sini dan saat ini, yang disebutkan tetapi tidak dijelaskan sebelumnya.

960. MA: Bagian ini dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana keseluruhan enam puluh dua pandangan spekulatif muncul di atas pandangan identitas.

961. Paviveka pīti. Ini merujuk pada dua jhāna pertama, di mana pīti termasuk.

962. MA menjelaskan bahwa ini adalah kesedihan yang disebabkan oleh kehilangan jhāna. Kesedihan ini tidak muncul segera saat lenyapnya jhāna, melainkan setelah perenungan atas lenyapnya.

963. Nirāmisa sukha. Ini adalah kenikmatan jhāna ke tiga.

964. Jhāna ke empat.

965. Santo’ham asmi, nibbuto’ham asmi, anupādāno’ham asmi. Dalam Pali ungkapan aham asmi, “aku,” mengungkapkan bahwa ia masih terlibat dengan kemelekatan, seperti yang akan ditunjukkan oleh Sang Buddha.

966. MA menganggap ini sebagai kiasan dari pandangan identitas. Demikianlah ia masih melekati suatu pandangan.

967. MA di tempat lain menyebutkan ungkapan “kebebasan melalui ketidak-melekatan” (anupāda vimokkha) menyiratkan Nibbāna, tetapi di sini ini berarti pencapaian buah Kearahantaan.

968. Brahmajāla Sutta juga menunjuk pada pemahamanan asal-mula, dan seterusnya atas keenam landasan kontak sebagai jalan untuk melampaui segala pandangan.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.