Apa yang Sebenarnya Dirampas dari Anda oleh Industri AI (Artificial Intelligence, Kecerdasan Buatan)
Bagaimana cara AI mematikan peradaban Anda dan keberlanjutan hidup kita semua? Ada yang menyebutkan, bahwa AI (kecerdasan buatan, Artificial Intelligence) merupakan invensi terakhir umat manusia, sebelum umat manusia punah akibat teknologi yang mereka ciptakan sendiri. Baik teknologi nuklir maupun AI, tidak semestinya diciptakan karena nenek-moyang umat manusia tidak pernah benar-benar—lebih tepatnya benar-benar tidak pernah—membutuhkan teknologi semacam AI untuk bertahan hidup dan untuk merasakan kebahagiaan dalam hidup. Bukanlah soal apa dan sejauh apa yang dapat diciptakan oleh umat manusia, namun apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kita ciptakan.
Dalam banyak kejadian, ketika
penulis memberi peringatan kepada berbagai pihak bahaya dibalik AI, telah ternyata
tanggapan atau respon yang penulis dapatkan justru ialah cibiran, tertawaan,
serta olokan. Hanya orang dungu, yang tidak dapat melihat adanya potensi bahaya
dibalik sesuatu. Dalam kesempatan ini, penulis akan menuangkan apa yang membuat
penulis sampai pada satu kesimpulan, bahwa teknologi AI merupakan ancaman yang
lebih besar lagi dan lebih nyata bagi umat manusia ketimpang Perang Dunia. Terhadap
teknologi nuklir, kita menaruh waspada. Berbeda dengan nuklir, teknologi AI
justru mampu menarik minat bayak penggemar, pemakai, bahkan “penyembah”-nya. Mereka
tidak sadar, bahwa teknologi AI merupakan “silent killer” yang secara
terselubung dan perlahan-lahan mengambil-alih lapangan pekerjaan mereka.
“Early warning system”
di otak penulis berbunyi, jauh sebelum teknologi AI—terlebih teknologi humanoid
yang “powered by AI”—hadir, lebih tepatnya ketika mendapati adanya
kawasan industri yang tampak seperti “kota mati”, karena tidak tampak
keberadaan pekerja manusia, sementara proses produksi bekerja 24 jam dalam
sehari dan 7 hari dalam seminggu. Produk dan proses produksinya dihasilkan
secara otomatisasi lewat lengan-lengan robotik, yang sangat akurat juga efisien
disamping produktif. Kini, berbagai produsen kendaraan bermotor di China, telah
tidak memiliki tenaga kerja manusia sama sekali, kecuali petugas kebersihan. Mereka
menyebutnya sebagai industri “padat modal”, bukan “padat karya”. Jangankan itu,
produsen jamu (terkesan “tradisional”) di Indonesia memiliki pabrik yang juga
seluruh proses produksinya ialah otomatisasi oleh mesin.
Cara pertama industri AI
memusnahkan peradaban umat manusia, kita ter-demotivasi untuk mengasah “skill”,
semata dengan “potong kompas” (jalan pintas) memakai instant tools bernama
“AI”. Perhatikan kalimat berikut yang kerap terdengar di berbagai media, “Kalau
dulu kita harus belajar berbulan-bulan program komputer pengolah gambar, kini
cukup mengetikkan beberapa kata dalam kolom ‘prompt’, maka hasilnya pun akan
keluar seketika itu juga.” Kini, semua orang mampu menjadi “translator”
(setidaknya bagi dirinya sendiri), tanpa perlu belajar bahasa asing. Siapa yang
tidak akan tergiur? Dulu, kita dipekerjakan dan dibayar karena pekerjaan /
proyek yang menguras sumber daya waktu, perhatian, ketelitian, serta energi. Kini,
ketika semua itu terpangkas hebat, atas dasar apakah Anda masih mengharap
penghasilan yang “layak” dan “setara”?
Anda bahkan tidak mampu lagi mendefinisikan
secara akuat, apa yang disebut dengan “equal trade” sebagai dasar Anda mengenakan
tarif jasa. Baik merekayasa gambar, membuat ilustrasi, merangkai cerita dan
narasi, memproduksi video ataupun musik, hingga pekerjaan dengan tingkat
kompleksitas lebih tinggi seperti menganalisa data, chat bot, membuat
ringkasan dari dokumen setebal kamus, menerjemahkan, dan lain sebagainya. Dengan
begitu, kita akan menyerah pada potensi talenta dalam diri kita. Kita tidak
lagi terpanggil untuk mengasah keterampilan unik untuk bernalar, melukis,
menggambar, merancang, menganalisa, dan lain sebagainya. Perlahan namun pasti,
kemampuan akademik maupun keterampilan umat manusia akan terdegradasi, ke titik
paling terendah, tanpa mereka sadari—menjelma bergantung sepenuhnya terhadap industri
AI dan diperbudak olehnya.
Cara kedua industri AI
mematikan peradaban umat manusia, ialah sirnanya “comparative advantage”.
Kita tahu bahwa skill satu orang dan orang lainnya, memiliki ciri khas masing-masing
yang sukar tergantikan serta mampu dibedakan secara kontras. Namun, itu di era konvensional.
Ketika kesemua proses produksi mengandalkan AI, maka proses produksi sejatinya
dilakukan oleh server dimana teknologi dan algoritma AI berada. Alhasil, antar “user”
sejatinya tidak saling memiliki keterampilan yang tidak dapat saling
tergantikan, tiada lagi istilah “unik”. Mereka tidak lagi memiliki apa yang
disebut “comparative advantage”. Yang betul-betul memiliki “comparative
advantage”, ialah pemilik teknologi AI yang satu yang berkompetisi dengan
produsen teknologi AI lainnya.
Perhatikan konstruksi berikut. Seseorang
freelancer di Bangladesh menggunakan platform AI yang sama dengan
platform AI yang juga Anda andalkan selama ini untuk bekerja. Adapun pemberi
kerja, membuat tender bagi para penyedia jasa. Freelancer di Bangladesh,
membanting harga untuk proyek yang ditawarkan, maka Anda pun terpanggil untuk “perang
harga”. Akhirnya, Anda memilih untuk menyerah, karena freelancer kompetitor
Anda di Bangladeh benar-benar “banting harga” ke skala psikologis yang tidak
dapat lagi Anda terima. Pada gilirannya, pemberi proyek mulai berani untuk
hanya menawarkan komisi yang setara dengan harga segelas kopi di kota Anda, untuk
sebuah proyek yang tetap diterima dengan sigap oleh freelancer di
Bangladesh. Membuat proyek video yang dahulu butuh ongkos produksi setara ribuan
atau bahkan USD, kini hanya di-obral seharga segelas kopi. Sampai kapankah Anda
akan sanggup bertahan pada ritme “pekerjaan” yang bahkan tidak layak disebut “kerja”
demikian?
Pengguna jasa, tetap akan
memilih penyedia jasa lepas dari Bangladesh, karena output-nya akan sama
saja dengan yang sanggup Anda tawarkan, karena Anda dan pesaing Anda menggunakan
platform yang identik sama. Ketika Anda mampu mengakses layanan tidak berbayar
maupun layanan berbayar dari industri AI yang tercanggih dan terkini sekalipun,
kompetitor Anda pun demikian, mereka, ribuan atau jutaan kompetitor Anda, mampu
mengaksesnya serta ter-update teknologi Ai terkini serta kekinian. Lenyapnya
“comparative advantage”, mengakibatkan kompetitor Anda bukan hanya
hitungan jari satu atau dua orang, bukan juga satu kota, satu negara, namun
seluruh penduduk dunia mampu membuat hasil atau output yang sama dengan Anda.
Muaranya, Anda mengobral tarif jasa maupun harga diri Anda. Bagi yang memilih
menyisakan harga diri, artinya tersisih dari kompetisi dan teralienasi serta
merasa “gagal”.
Dari situ saja, kita semestinya
sudah mampu membaca, ke arah mana pembahasan kita selanjutnya. Ketika “AI hanyalah
alat bantu”, namun menggiring ke arah punahnya “comparative advantage”,
maka itu tidak ubahnya dengan “AI mengambil-alih pekerjaan manusia”. Perhatikan
dua postulat berikut : Pertama, “AI hanyalah alat bantu”. Kedua, “comparative
advantage” punah akibat AI. Kedua postulat tersebut, sejatinya saling
menegasikan satu sama lainnya, sehingga salah satunya mau tidak mau harus
diberi stampel sebagai “false logic”. Anda masih berkeras-kepala, bahwa “AI
hanyalah ‘alat bantu’”? Jika begitu, silahkan Anda menyerah terkait otak Anda yang
lamban dan tidak kompeten demikian.
Anda mampu menghasilkan video
sinematik sekaliber produksi Hollywood atau animasi yang realistik. Pertanyaannya,
apa yang istimewa dari video produksi Anda, bila jutaan orang di luar sana
mampu membuatnya, dimana bahkan pihak-pihak yang semula merupakan “pengguna
jasa” juga mampu membuatnya sendiri dengan “alat bantu” bernama AI yang sama,
maka untuk apakah lagi mereka mengandalkan penyedia jasa semacam penyedia jasa
eksternal, bila mereka mampu langsung mengakses dan menggunakan teknologi AI
tanpa peran Anda yang hanya sekadar sebagai “makelar”? Anda lihat, pada muaranya
industri AI akan mengambil-alih pekerjaan Anda, dalam senyap maupun dalam gegap-gempita.
Produsen AI, sejatinya menggelontorkan
dana miliaran USD, untuk membangun industri AI. Bung, mereka bukanlah “Sinterklas”,
mereka pebisnis (sekaligus predator) yang berorientasi profit. Untuk apa mereka
membakar uang sebanyak itu bila bukan dimotivasi oleh keserakahan untuk
memonopoli semua fungsi pekerjaan umat manusia lewat tekonologi AI dan juga
menyuplai “tenaga kerja robotik”? Kita semestinya mampu membaca, ke arah
manakah para produsen AI tersebut dengan berinvestasi miliaran USD dengan
membangun server dengan menyedot / rakus chip-chip memori RAM yang bahkan membuat
produsen handphone dan komputer pusing tujuh-keliling karena suplai chip memori
RAM langka di pasaran akibat diborong-ludes oleh industri AI. Industri AI terobsesi
menciptakan Artificial General Intelligence (AGI) atau bahkan Super AI
yang jauh lebih canggih dan lebih cerdas secara eksponensial.
Kita tahu dari pemberitaan bahwa
hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) para murid / siswa kita di sekolah, tergolong
memprihatinkan, terutama kemampuan berbahasa dan matematika. Apa yang membuat Anda
yakin—yakin ataukah spekulasi—bahwa teknologi AI akan mampu memotivasi serta
mendongkrak level intelektual mereka, alih-alih membuat terjerembab kemampuan
otak mereka yang sudah dalam taraf memprihatinkan dan mencemaskan demikian? Pemerintah
kita masih memiliki Pekerjaan Rumah mencerdaskan bangsa, dengan “raport merah”
berupa fakta rendahnya SDM (sumber daya manusia) kita di Indonesia. Alih-alih mengerem
prevalensi jumlah pemakai dan pengandal AI, pemerintah kita justru
mempromosikan dan mengkampanyekan serta mengintroduksinya kedalam kurikulum
sekolah anak Anda.
Tanyakan kepada diri Anda sendiri,
berapa banyakkan industri AI yang dibangun di Indonesia oleh anak bangsa? Bangsa
Indonesia adalah bangsa konsumen pemakai, bukan produsen. Kita semestinya
prihatin hanya bernasib dan stagnan sebagai pemakai, bukan pemain. Semakin banyak
pemakai Ai di Indonesia, pada muaranya yang diuntungkan ialah produsen AI di
luar negeri. Saat kini, para pengguna di Indonesia maupun di seluruh dunia,
masih memasuki tahap euforia disrupsi AI. Adapun “roadmap” dibalik otak para
pendiri, investor, dan CEO dibalik industri AI ialah menggiring umat manusia
untuk “menyerah terkait otaknya” (yang “lamban dan purba”), untuk sepenuhnya bergantung,
ketergantungan, serta kecanduan AI.
Sejahat-jahatnya zat adiktif
yang selama ini menghantui masyarakat kita, mereka yang terjerumus dan kecanduan
masih memiliki kesempatan untuk keluar dari kecanduan, setipis apapun itu
harapannya. Namun, teknologi AI bisa lebih berbahaya daripada zat-zat adiktif apapun
yang sejauh ini pernah kita kenal. Ketika seseorang memutuskan untuk “menyerah
terkait otaknya” dengan semata mengandalkan AI untuk seumur hidupnya, maka relasi
yang tercipta ialah “ketergantungan absolut” pada teknologi AI milik para
produsen AI. Pada saat itulah, investasi para investor / pendiri / pemilik
industri Ai akan “panen masal”, dan disaat bersamaan perbudakan oleh AI merajai
dunia.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.