Manusia dapat Lebih Dungu dan Konyol daripada Kaum Hewan, ROBOT AI adalah Bukti Kebodohan Umat Manusia, bukan Bukti Kecerdasan Spesies Manusia
Kaum hewan, tidak menciptakan sesuatu untuk memusnahkan eksistensi kaum mereka sendiri. Telah ternyata, umat manusia dapat lebih dungu daripada kaum hewan maupun makhluk primata manapun. AI (artificial intelligence) dewasa ini sudah sangat berlebihan dan melampauid batasan, karena menggantikan / men-susbstitusi banyak peran “tenaga kerja manusia”. Namun, tanpa mau menyadari ancaman kepunahan “lapangan kerja bagi manusia” dibalik kemeriahan dan hingar-bingar AI, kini berbagai negara berlomba-lomba membuat robot-robot AI yang mampu selincah bahkan lebih kompeten daripada manusia. Jangan bayangkan Robocop ataupun Iron Man yang kaku dan “robot”, “humanoid AGI” selincah dan segemulai penari manusia tanpa ada kekakuan “khas robot” tempo dulu.
Motorik manusia, penuh
kekeliruan. Dokter dapat membuat gerakan yang keliru saat melakukan operasi
terhadap pasien. Atlet dapat membuat gerakan keliru yang tidak perlu saat
bertanding. Teknisi dapat membuat kekeliruan minor maupun mayor saat melakukan
solder terhadap papan sirkuit semikonduktor. Pembalap dapat melakukan gerakan
yang kurang responsif dan adaptif terhadap jalur trek. Pengemudi dapat membuat
respon yang justru fatal akibatnya. Penjahit dapat melukai jarinya sendiri saat
menjahit. Pemahat dapat memahat bagian yang semestinya tidak terkena pahat. Penulis
dapat membuat “typo” alias “clerical error” saat menulis essai.
Baru-baru ini di Tiongkok,
produsen “humanoid AGI” merilis tampilan robot-robot humanoid di atas panggung
pertunjukkan yang mampu melakukan gerakan kung-fu yang sangat fasih bahkan
berakrobatik. Robot-robot ini mampu seketika menyeimbangkan diri ketika
ditendang dari belakang, bangkit seketika ketika terjatuh, lompat salto di
udara dan mendarat dengan sempurna, serta berdansa dan bermanuver yang tidak
mampu dilakukan oleh rata-rata manusia. Ironisnya, dengan bodohnya banyak
manusia yang merasa senang dapat berinteraksi dengan sang robot, tanpa
menyadari bahwa sang robot kelak akan menggantikan eksistensi sang manusia yang
berinteraksi dengan sang robot alias menjadi ancaman laten bagi umat manusia. Kepunahan
umat manusia, pun dimulai.
Lebih tepatnya, baik produsen “humanoid
AGI” tersebut maupun manusia-manusia yang merasa senang dapat berinteraksi
dengan sang robot, sama-sama dungu. Para manusia jago kung-fu di atas panggung
yang berkolaborasi dengan robot-robot “humanoid AGI” kung-fu, tidak mau
menyadari bahwa diri mereka telah tergantikan oleh robot, dan tidak merasa
terancam oleh kehadiran robot-robot tersebut. Mereka juga tidak mau menyadari, perangkat
keras (hardware) “humanoid AGI” dapat diproduksi sebanyak ribuan, jutaan,
atau miliaran unit, dengan kemampuan yang sama hebatnya, cukup semudah “copy
and paste” perangkat lunak (software) dari satu buah robot
prototipe. Sementara untuk menghasilan satu orang yang cerdas dan terlatih,
butuh banyak waktu, usaha, dan biaya, yang tidak dapat dilakukan semudah “copy
and paste”.
Nenek-moyang kita, leluhur
kita, dapat “survive” dan “happy” tanpa memeluarkan AI ataupun “humanoid
AGI”. Bila kita pertanyakan lebih lanjut, sebenarnya buat apakah robot-robot “humanoid
AGI” tersebut diciptakan? Jawabannya ialah keserakahan korporasi dibalik industri
AI. Dimulai dari gerakan industrialisasi “padat modal”, berbagai pabrikan sejak
dua dasawarsa lampau telah menggantikan “tenaga kerja manusia”-nya dengan
lengan-lengan robotik dalam serangkaian proses produksinya mulai dari hulu hingga
hilir, dan terbukti jauh lebih presisi, lebih produktif, serta tentunya lebih
efisien. Gerakan lengan-lengan mesin mekanik atau robot sederhana tersebut, kemudian
berevolusi berkat kehadiran disrupsi AI, bahkan AGI, mengakibatkan berbagai
industri saat kini tidak lagi mempekerjakan “tenaga kerja manusia” sekalipun
produksi mereka berlangsung secara masif tanpa henti. Tidak percaya? Tengoklah berbagai
kawasan industri, akan menyerupai “kota mati” namun proses produksi berlangsung
24 jam dalam sehari dan 7 X 24 jam dalam seminggu.
Berbagai pabrikan mobil,
restoran, industri kreatif, ekspedisi, dan lain sebagainya, mulai diwarnai oleh
“tenaga kerja robotik”. Dapat Anda bayangkan, sebuah produsen mobil di Tiongkok,
tidak memiliki pegawai manusia selain tenaga kebersihan. Selebihnya, proses
produksi mobil mereka, dari hulu hingga hilir perakitan, sepenuhnya telah diambil-alih
oleh robot-robot AI. Begitupula restoran di Tiongkok, koki-nya telah ternyata
mulai tergantikan oleh robot, termasuk pramusajinya. Pengelola gudang pada perusahaan-perusahaan
logistik, pekerjanya mulai digantikan oleh robot-robot AI. Investor “padar modal”
semacam ini yang membawa serta “tenaga kerja robotik” sebagai faktor “modal mesin
produksi”, dapat dipastikan tidak membuka lapangan pekerjaan bagi “tenaga kerja
manusia”, dan menjadi predator bagi industri “padat karya” lokal.
Kedepannya, mengingat kurangnya
akurasi kalangan dokter ketika melakukan operasi terhadap tubuh pasien,
mengakibatkan profesi dokter berpotensi tinggi untuk tergantikan dan digantikan
oleh “dokter-dokter robot” yang mampu membedah secara lebih presisi dengan
tingkat akurasi yang tinggi. Banyak yang mengatakan, suster perawat maupun pengasuh
lansia tidak dapat tergantikan oleh robot. Itu hanyalah asumsi dan “harapan
semu”. Cepat atau lambat, semua profesi yang mengandalkan gerakan motorik,
dapat digantikan oleh robot, terlebih peran atau fungsinya dapat dipetakan
kedalam suatu pola-pola yang dapat dikonvensi ke dalam algoritma.
Bila robot telah mampu
melakukan aksi kung-fu yang jarang dapat dilakukan oleh sebagian besar manusia
yang berlatih kung-fu, juga mampu berakrobatik secara sempurna, maka itu
pertanda bahwa profesi militer pun akan segera berakhir, dalam waktu dekat. Tingkat
akurasi “militer robot”, dapat dipastikan 100% akurat saat melakukan tembakan
dari jarak jauh, dengan nmemperhitungkan jarak lewat pemandu laser, sensor
kecepatan angin, dan sebagainya. “Militer manusia”, sangatlah mahal dan berbiaya
besar, semisal kompensasi bagi keluarga sang anggota militer ketika terluka, mengalami
kecacatan, atau bahkan meninggal dunia. Itulah sebabnya, berbagai negara
menahan diri untuk saling berperang, karena berperang sangatlah mahal—setidaknya
bila yang diutus untuk berperang ialah “tentara manusia” (human soldier).
Namun, ketika “robot-robot tentara
AGI” telah mampu diproduksi secara masif, dengan keterampilan yang dapat
digandakan semudah “copy and paste” perangkat lunaknya hasil “machine
learning” (sehingga tidak membutuhkan biaya tinggi untuk pelatihan dan rekruitmen),
maka menyiapkan berbagai batalion tempur pasukan bukanlah lagi hal yang begitu mahal.
Ketika membuat batalion pasukan “tentara robot” dapat dilakukan oleh suatu
negara, tanpa harus menguras cadangan devisa negara secara mendalam sebagaimana
perang konvensional “tentara manusia” yang berbiaya tinggi, maka opsi untuk
berperang dan menjajah negara lain dapat sewaktu-waktu dilancarkan tanpa perlu
banyak berwacana antara Kepala Negara dan Parlemen internal negara masing-masing.
Power, tends to corrupt. Absolute power, corrupt absolutely. Begitulah,
Lord Acton telah meramalkan, dan kian relevan hingga saat kini.
Kita tahu, bahwa anggaran
pertahanan masing-masing negara dialokasikan begitu memakan dan menguras
anggaran belanja negara, karenanya berperang ialah “proyek bakar uang” yang
harus dihindari sebisa mungkin. Kelak, membangun militer dapat direalisasikan
semudah dan semurah memproduksi jutaan kendaraan bermotor. Kelak, berbagai
negara akan berlomba-lomba memproduksi pasukan “robot tentara AI”, bukan lagi “pasukan
tentara manusia” yang sangat mahal biayanya disamping memakan sumber daya waktu.
Semakin besar dan masif produksi, semakin murah “cost production”-nya,
dan semakin tinggi pula potensi penyalah-gunaan sumber daya “pasukan robot”-nya
alias tergoda untuk menyulut perperangan. Perang Dunia, diprediksi akan kita
alami kembali, dengan durasi dan intensitas yang eksponensial.
Tidak ada era dimana pesawat berpenumpang
komersial di-piloti oleh pilot manusia. Habis sudah era pesawat tempur yang
dikomandoi oleh pilot manusia. Tidak ada pengemudi dibalik kemudi. Semua fungsi
dibalik motorik manusia, telah ternyata dapat dipelajari oleh AGI, AGI (software)
mana kemudian disuntikkan ke dalam “hardware” berupa humanoid. Cukup melatih
satu “robot Rambo” yang dapat menggunakan segala alal perang, mampu mengendarai
semua kendaraan perang, siap menjelajahi segala jenis medan dengan logistik
terbatas (terlebih energinya bersumber dari fusi nuklir), terampil segala macam
seni bela-diri, lalu menggunakan data-data software tersebut untuk
melakukan “produksi massal” para “robot Rambo”. Negara manakah, yang akan sungkan
dan berpikir seribu kali, untuk menyerang dan menjajah negara lain, bila sudah
memiliki bergudang-gudang “pasukan robot AI”?
Siapa sangka, profesi yang
paling terancam, ialah mereka yang mengandalkan “ilmu pasti” alias eksakta
seperti kedokteran. Penyakit anu, obatnya anu. Analisa dokter manusia, dapat meleset,
namun tidak analisa AI. Keterampilan dokter dalam membedah tubuh pasien, dapat
dipetakan dengan mudah oleh AI, mengingat tubuh manusia sejak jutaan tahun
lampau hingga jutaan tahun ke depan, adalah sama saja mengingat evolusi tubuh
manusia bergerak secara lamban, tidak seperti revolusi kecanggihan teknologi
dibalik industri AI.
Semestinya, kapitalis penguasa
industri AI melirik “ceruk pasar” ini dengan masuk penetrasi AI-nya ke bidang
medik terapan untuk menggantikan sepenuhnya peran dokter, mengingat konon biaya
untuk mencetak seorang “dokter manusia” sangatlah menguras waktu serta sumber
daya ekonomi. Cukup ciptakan satu “dokter robot” prototipe, lalu menggandakannya
semudah dan semurah produksi masal kendaraan bermotor. Hanya persoalan waktu,
hingga kemungkinan demikian menjadi kenyataan. Sebaliknya, disiplin ilmu yang
ketidak-pastiannya tinggi, justru sukar untuk dimasuki sepenuhnya oleh industri
AI seperti “industri hukum” di Tanah Air, dimana “taat hukum justru membuat Anda
‘aneh sendiri’”.
Dulu, alias mitos klasik,
menyebutkan bahwa yang membutuhkan gerakan motorik sebagai dominasi profesinya,
tidak dapat tergantikan oleh komputer, kini kesemua itu menjadi tampak rapuh dan
kehilangan pijakan realitasnya. Pelukis, sudah sejak lama digantikan oleh AI. Petarung
kung-fu dan akrobatik, telah mampu digantikan oleh “humanoid AGI”. Pasukan robot
perang, kini sedang “on going” menuju rilis (masih malu-malu untuk di-launcing
beberapa negara yang telah memproduksinya). Dokter robot, masih ditunda agar
tidak mengundang “blunder” hebat meski sangat realistis. Anda masih yakin, ada
fungsi dan peran motorik tertentu yang mustahil digantikan oleh “humanoid AGI”?
Jangan lupa, “humanoid AGI” produksi Tiongkok saat kini telah mampu
BERAKROBATIK secara sempurna salto bertubi-tubi di udara dan mendarat secara sempurna—yang
mana Anda sendiri pun tidak mampu melakukannya. Terlebih hanya urusan
jahit-menjahit produk garmen ataupun hanya sekesar, mencuci, menyetrika, dan
melipat baju.
Bila militer robot saja
niscaya, maka bagaimana dengan fungsi gerakan motorik yang lebih sederhana,
seperti bertani dan berladang? Dulu, “mesin sederhana” seperti mesin bajak
bernama traktor sangat membantu dalam pertanian, kini petani itu sendiri dapat
dengan mudah digantikan dan tergantikan oleh “petani robot”. Mereka yang dulu mencari nafkah dari memerah
susu sapi, kini “robot pemerah susu sapi” akan mengambil-alih peran (profesi)-nya.
Singkatnya, sebagai penutup, Anda benar-benar yakin, masih ada profesi yang tersisa
bagi Anda sekalipun Anda mengungsi ke pedesaan untuk mencari nafkah dan pekerjaan?
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.