The ULTIMATE HELP, Pertolongan Tertinggi

HERY SHIETRA, The ULTIMATE HELP, Pertolongan Tertinggi 

When we worship something,

With faith or hope,

That something we worship will be able to save us,

So ask the following questions,

How long can this help be given to us?

Until when,

Will we be saved?

Not only have we lived as human beings once,

But the countless rebirths we’ve been through,

And still will continue to be reborn,

In the cycle of being born, getting old, getting sick, before dying,

And reborn in another woman’s womb,

Born in heaven,

Born in the human realm,

Born in the animal realm,

Born in a ghost realm,

Born in hell,

We just keep going round and round in an endless cycle of suffering,

A NEVER ENDING STORIES,

And TO BE CONTINUE...

When natural disasters come our way,

It is true that we need help from others or help from the gods,

But that is not what is the highest help,

Since we too have experienced similar calamities in past lives,

Countless,

Countless tears have we shed from our eyeballs in past lives,

We will continue to experience similar disasters in the life to come,

Over and over and over again.

Until when,

Do we need a helping hand from others or expect help from the gods?

It’s not all that,

The real supreme help.

The path leading to the cessation of the cycle of rebirth,

No longer reborn,

Breaking the chains of karma,

No more being born in any womb,

completely free,

No more suffering,

No more disappointment,

No more teardrops,

No more crying.

That’s the real supreme help,

It’s not temporary help.

We've been born,

As a king,

As a slave,

As a noble,

As a worker,

As a man,

As a woman,

As a beautiful and handsome person,

As an ugly person,

As a rich man,

As a poor man,

As a ruler,

As an oppressed,

As a strong,

As a weak person,

As a genius,

As a stupid person,

As a respected person,

As an outcast,

As a famous,

As someone who is merely a spectator or extra,

Whatever that is.

Worldly happiness and pleasures,

Only temporary,

It is impermanent and uncertain.

Even the richest people in the world,

Still gripped by the discontent of life,

And constantly searching with difficulty,

What is the ultimate happiness where there is nothing left for us to want,

And what is the meaning of life.

NO PAIN, NO GAIN.

THERE IS GAIN, so THERE IS PAIN!

We pay for all the pleasures we pursue with all the pain,

Like trying to grip the sand tightly in your hand,

Pleasure and pain, one after another,

Endless, never ending,

The effect of every formation is conditioned by three factors,

Namely,

impermanent,

Discontent and disappointment due to impermanence,

And there is no existence called self, where even we are not able to control the disease in our own body.

The truth about a life of discontent,

Knowledge of the causes of suffering,

End of misery,

And the way to the end of suffering,

That is real help,

Where once we are able to achieve it,

We are liberated in the truest sense.

If you say that, this creation is a work and is the will of God,

Then you can say that,

The path that was pointed out and walked by the Buddha,

It is the way to go against the will of God,

Break free from God’s game,

Breaking free from the grip of God's hand,

A road to independence.

Buddhism,

Therefore,

It is not a teaching to know who God is,

But teachings contain maps,

As a guide where there is a path to FREEDOM for us to take.

The rest,

It’s up to you,

Will you keep playing in this world full of burning fire, the source of all this discontent,

Or feel enough, firmly “ENOUGH!”,

No more game,

Not as a spectator,

And not as a player,

Neither as producer nor director,

Letting go of all these physical and mental formations,

And out of all these silly games.

© HERY SHIETRA Copyright.

 

Ketika kita menyembah sesuatu,

Dengan keyakinan atau harapan,

Bahwa sesuatu yang kita sembah tersebut akan mampu menyelamatkan diri kita,

Maka tanyakanlah pertanyaan berikut,

Sampai kapankah pertolongan tersebut dapat diberikan kepada kita?

Sampai kapankah,

Kita akan terselamatkan?

Kita bukan hanya telah pernah hidup sebagai seorang manusia sebanyak satu kali,

Namun sudah tidak terhitung lagi kelahiran kembali yang telah pernah kita lewati,

Dan masih akan terus terlahir kembali,

Dalam siklus berupa lahir, menjadi tua, sakit, sebelum kemudian meninggal dunia,

Dan terlahirkan kembali dalam rahim wanita lain,

Terlahir di alam surga,

Terlahir di alam manusia,

Terlahir di alam hewan,

Terlahir di alam hantu,

Terlahir di alam neraka,

Kita hanya terus berputar-putar dalam siklus derita tidak berkesudahan,

Sebuah NEVER ENDING STORIES,

Dan TO BE CONTINUE...

Ketika musibah bencana alam menghampiri kita,

Memang betul bahwa kita butuh pertolongan dari orang lain ataupun bantuan dari para dewata,

Namun bukanlah itu yang menjadi pertolongan paling tinggi,

Karena kita pun telah pernah mengalami musibah serupa di kehidupan-kehidupan lampau,

Tidak terhitung jumlahnya,

Tidak terhitung jumlah tetesan air mata yang telah pernah kita jatuhkan dari kedua bola mata kita di kehidupan-kehidupan lampau,

Kita masih akan terus mengalami bencana serupa di kehidupan yang akan datang,

Berulang-ulang dan berulang-ulang.

Sampai kapankah,

Kita membutuhkan uluran tangan orang lain ataupun mengharapkan bantuan dari para dewata?

Bukanlah semua itu,

Bantuan yang tertinggi yang sesungguhnya.

Jalan menuju terputusnya siklus kelahiran kembali,

Tidak lagi bertumimbal lahir,

Terputusnya belenggu rantai karma,

Tiada lagi terlahir dalam rahim manapun,

Terbebas sepenuhnya,

Tiada lagi derita,

Tiada lagi kekecewaan,

Tiada lagi tetesan air mata,

Tiada lagi tangisan.

Itulah pertolong tertinggi yang sesungguhnya,

Bukan pertolongan yang temporer sifatnya.

Kita telah pernah terlahir,

Sebagai seorang raja,

Sebagai seorang budak,

Sebagai seorang bangsawan,

Sebagai seorang buruh,

Sebagai seorang laki-laki,

Sebagai seorang wanita,

Sebagai seorang yang cantik dan rupawan,

Sebagai seorang yang buruk rupa,

Sebagai seorang jenius,

Sebagai seorang yang dungu,

Sebagai seorang yang kaya,

Sebagai seorang yang miskin,

Sebagai seorang berkuasa,

Sebagai seorang yang tertindas,

Sebagai seorang yang kuat,

Sebagai seorang yang lemah,

Sebagai seorang yang dihormati,

Sebagai seorang yang tersisihkan,

Sebagai seorang yang terkenal,

Sebagai seorang yang sekadar menjadi penonton atau figuran,

Apapun itu.

Kebahagiaan dan kesenangan duniawi,

Hanya temporer,

Tidak kekal dan tidak pasti.

Bahkan orang-orang paling kaya di dunia inipun,

Masih juga dicengkeram oleh ketidakpuasan hidup,

Dan terus-menerus mencari dengan susah payah,

Apa itu kebahagiaan tertinggi dimana tiada lagi yang kita inginkan,

Serta apa makna hidup ini.

TANPA SAKIT, TANPA PEROLEHAN.

ADA PEROLEHAN, maka ada SAKIT!

Kita membayar segala kesenangan yang kita kejar tersebut dengan segala derita,

Seperti mencoba menggenggam erat pasir di tangan,

Kesenangan dan derita yang silih berganti,

Tidak berkesudahan,

Akibat setiap bentukan terkondisikan oleh tiga faktor,

Yakni,

Tidak kekal,

Ketidakpuasan dan kekecewaan akibat ketidakkekalan,

Dan tidak eksistensi bernama diri, dimana bahkan kita tidak mampu mengontrol penyakit dalam tubuh kita sendiri.

Kebenaran mengenai hidup yang penuh ketidakpuasan,

Pengetahuan mengenai penyebab dari derita tersebut,

Akhir dari derita,

Dan jalan menuju akhir derita,

Itulah pertolongan yang sesungguhnya,

Dimana setelah kita mampu mencapainya,

Kita terbebaskan dalam arti sesungguhnya.

Bila engkau menyebut bahwa penciptaan ini adalah karya dan menjadi kehendak Tuhan,

Maka engkau pun dapat berkata bahwa,

Jalan yang ditunjukkan dan telah dilewati oleh Sang Buddha,

Ialah jalan untuk melawan kehendak Tuhan,

Melepaskan diri dari permainan Tuhan,

Melepaskan diri dari cengkeraman tangan Tuhan,

Sebuah jalan menuju kemerdekaan.

Buddhisme,

Karenanya,

Bukanlah ajaran untuk mengenal siapa itu Tuhan,

Namun ajaran berisi peta,

Sebagai petunjuk arah dimana terdapat jalan menuju KEBEBASAN untuk dapat kita tempuh.

Selebihnya,

Terserah kepada Anda,

Apakah akan tetap bermain-main dalam dunia penuh kobaran api membakar, sumber dari segala ketidakpuasan ini,

Atau merasa cukup sampai di sini saja,

Tiada lagi terlibat dalam permainan,

Bukan sebagai penonton,

Dan bukan sebagai pemain,

Bukan pula sebagai produser maupun sutradara,

Melepaskan semua bentukan fisik maupun bentukan batin ini,

Dan keluar dari segala permainan konyol ini.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

TELUSURI Artikel dalam Website Ini: