Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Dua Putusan Saling Tumpang-Tindih Satu Sama Lain Meski Sama-Sama Berkekuatan Hukum Tetap

LEGAL OPINION
Question: Apa yang dapat dilakukan, bila sampai terjadi ada dua putusan yang eksis dalam dua register nomor perkara yang saling berbeda, tapi isi sengketa atau pokok perkaranya sama, sehingga antar putusan saling tumpang-tindih satu sama lain (overlaping)? Kedua putusan tersebut sama-sama telah berkekuatan hukum tetap statusnya (inkracht). Jadilah perselisihan kian berlarut, karena masing-masing pihak saling mengklaim sebagai pemilik yang sah berdasar kedua putusan dengan dua register perkara yang saling berbeda namun saling tumpang-tindih.
Brief Answer: Upaya hukum yang dapat dilakukan ialah mengajukan permohonan upaya hukum ... bernama “...”, dengan dalil telah terjadi ..., yang mengakibatkan terjadi ketidak-pastian hukum dikarenakan ... . [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
Dalam ... , kedua ... tersebut dimajukan kepada Hakim Peninjauan Kembali, dengan tujuan agar ... , dan ... perkara lainnya. Yang akan dibatalkan ialah ... akibat “...”, sementara yang akan dikuatkan / dikukuhkan Majelis Hakim ... ialah ... . [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
Pengetahuan hukum yang tidak kalah penting, selama ini persepsi yang tercipta di benak masyarakat ialah seolah upaya hukum ... terbatas dalam tempo paling lambat ... . Namun tampaknya khusus untuk kasus terjadinya ... , agar tetap tercipta kepastian hukum maka ketentuan limitatif tempo waktu demikian ... diberlakukan secara ... , sehingga pemohonan ... tetap dapat diajukan sekalipun ... . [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret yang sangat relevan, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk putusan Mahkamah Agung RI sengketa perdata register Nomor .../2017 tanggal ... 2017, perkara antara:
1. Ny.... ; 2. ... ; 3. ... ; 4. Ny. ... ; 5. Ny. ... ; 6. Ny. ... , sebagai Para Pemohon Peninjauan Kembali, semula selaku Tergugat VII, ..., Turut Tergugat I, dan IX; melawan
1. AHLIWARIS Ny. ... : 2. AHLI WARIS ... ; 3. Ny. ... ; 4. AHLI WARIS Ny. EUTIK ... ; 5. ... ; 6. ... ; 7. ... ; 8. AHLI WARIS ... , selaku Para Termohon Peninjauan Kembali dahulu Para Penggugat.
Para Penggugat adalah ahli waris dan/atau ahli waris pengganti dari almarhumah Ny. ...  yang meninggal dunia pada tanggal 27 April 1990, sedangkan Ny. ...  merupakan anak angkat dari almarhumah Ny. ...  yang telah meninggal dunia pada tanggal ....
Pengangkatan almarhumah Ny. ...  sebagai anak angkat dilakukan oleh Ny. ...  (almarhumah) dan suaminya ...  (almarhum), dikarenakan mereka tidak mempunyai keturunan atau anak. Pengangkatan itu dilakukan pada tahun ..., yaitu ketika Ny. ...  masih berusia ± 9 bulan.
Sejak pengangkatan tersebut Ny. ...  (almarhumah) tinggal bersama-sama dengan almarhumah Ny. ...  dan almarhum ...  sebagai orang tua angkatnya, Ny. ...  diurus, dirawat, disekolahkan dan dinikahkan oleh almarhumah Ny. ...  dan almarhum ... .
Setelah almarhumah Ny. ...  meninggal dunia, tanah-tanah peninggalannya baik berupa tanah darat maupun tanah sawah dibagi-bagikan, dimiliki, dikuasai dan dikelola oleh Para Penggugat sebagai anak (ahli waris) dari almarhumah Ny. ... .
Tergugat I atas permintaan dari Tergugat VI Dkk., kemudian menerbitkan surat keterangan yang menerangkan bahwa objek tanah warisan bukan merupakan tanah Para Penggugat, akan tetapi adalah milik almarhumah Ny. ... .
Dengan surat-surat tersebutlah, kemudian dipakai oleh Tergugat VI Dkk. untuk menggugat Para Penggugat dalam register perkara Nomor .../PN.BB, dan dengan surat-surat tersebut pula pada tanggal ... 1995 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bale Bandung menjatuhkan putusan dengan amar pada pokoknya menyatakan bahwa Para Tergugat merupakan ahli waris Ny. ...  yang berhak atas harta peninggalannya. Dalam tingkat banding berdasarkan putusan Nomor ... tanggal ... 1996, putusan Pengadilan Negeri tersebut “dikuatkan”. Hingga tingkat kasasi dan peninjauan kembali dalam putusan Nomor .../1999 tanggal ... 1999, dan putusan Nomor ... PK/Pdt/2000 tanggal ... 2007, putusan kembali “dikuatkan”.
Setelah Para Penggugat mengetahui Tergugat I, Tergugat II, dan Almarhum ... membuat dan mengeluarkan surat-surat palsu tersebut, Para Penggugat melaporkan tindakan Tergugat I, Tergugat II dan almarhum ... tersebut kepada Penyidik Kepolisian dengan dasar laporan “membuat surat palsu” atau “menyuruh orang lain menggunakan surat seolah-olah asli dan tidak dipalsukan”.
Laporan pidana demikian ditindak-lanjuti dengan terbitnya putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor .../Pid.B/20.../PN.BB, Tergugat telah didakwa melanggar ketentuan Pasal 263 Ayat (1) Kitab Undang Undang Hukum Pidana, selanjutnya Pengadilan menjatuhkan pidana pada tanggal ... 2004, dengan amar:
- Menyatakan Terdakwa - H. Moh. ...(Tergugat I) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘membuat surat palsu’;
- Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan.”
Begitupula dalam perkara Nomor .../Pid.B/20.../PN BB tanggal 10 Februari 2004, Tergugat II dinyatakan juga terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “membuat surat palsu” dengan dijatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama 4 bulan.
Begitu pun dalam perkara pidana Nomor .../Pid.B/20.../PN BB, tanggal 10 Februari 2004, dinyatakan bahwa Terdakwa ... terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “membuat surat palsu”, dan menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama 4 bulan.
Terhadap putusan Pengadilan Negeri perkara pidana tersebut, para Terdakwa tidak mengajukan upaya hukum (mereka menerima dan mengaku bersalah), sehingga putusan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde), maka cukup beralasan apabila Pengadilan Negeri menyatakan bahwa terhadap putusan Pengadilan register Nomor .../PN.BB tanggal ... 1995 dan turunannya, yang didasarkan pada surat-surat palsu yang dibuat oleh para Tergugat, menjadi “batal demi hukum”.
Sementara dalam sanggahannya pihak Tergugat mendalilkan, bahwa gugatan Para Penggugat “Nebis In Idem”, karena yang menjadi objek gugatan adalah sama persis dengan objek perkara yang telah diputus oleh Pengadilan Negeri Bale Bandung tanggal ... 1995, Nomor .../PN.BB, dimana yang menjadi Para Penggugat adalah para ahli waris Ny. ...  Almh (Para Tergugat dalam Perkara ini), sementara yang menjadi Para Tergugat adalah para ahli waris dari Ny. ...  Almh.
Merujuk Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor ... K/Pdt/2001, tanggal ... 2002, dinyatakan bahwa meskipun kedudukan subjek yang berbeda, akan tetapi objek perkara sama dengan perkara yang telah diputuskan terdahulu dan berkekuatan hukum tetap, maka gugatan dinyatakan nebis in idem. Dirujuk pula SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) Nomor ... Tahun ... : “agar azas nebis in idem dapat dilaksanakan dengan baik dan demi kepastian hukum bagi pencari keadilan dengan menghindari adanya putusan yang berbeda”.
Objek yang digugat dan diperkarakan sekarang oleh Para Penggugat sama dengan apa yang disengketakan dalam perkara Nomor .../PN.BB dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka gugatan sekarang ini secara formil mengandung unsur nebis in idem, sehingga gugatan harus dinyatakan “tidak dapat diterima”.
Terhadap gugatan dan bantahan demikian, yang kemudian menjadi amar Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor .../PdtG/20.../PN.Bb, tanggal ... 2010, sebagai berikut:
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang telah dilakukan Petugas Jurusita Pengadilan Negeri Bale Bandung;
3. Menyatakan Tergugat I, Tergugat III dan almarhum ..., telah melakukan perbuatan melawan hukum;
4. Menyatakan Tergugat IV, ... , dan Tergugat XI telah melakukan perbuatan melawan hukum;
5. Menyatakan tanah-tanah objek perkara yang antara lain: ... adalah sah menurut hukum milik Para Penggugat;
6. Menghukum Tergugat IV, ... dan XI atau siapa saja yang mendapat hak dari mereka (Tergugat IV, ... dan XI) atas tanah-tanah tersebut di atas (sebagaimana disebutkan dalam butir 5.a sampai dengan butir 5.o amar putusan di atas) untuk mengosongkan dan menyerahkannya kepada Para Penggugat;
7. Menghukum Tergugat I sampai dengan Tergugat XI secara tanggung renteng untuk membayar ganti rugi materil dari tanaman sawah sejumlah Rp ....000,00 ditambah hasil penjualan palawija sebesar Rp ...000.000,00 menjadi sejumlah Rp ....300.000,00 setiap tahun terhitung sejak tahun 2008 sampai dengan putusan dalam perkara ini mempunyai kekuatan hukum tetap;
8. Menghukum Tergugat I sampai dengan Tergugat XI secara tanggung renteng untuk membayar ganti rugi materil dari tanaman dan hasil penjualan ... Tahun 2003 dan Tahun 2008 = Rp ...000.000,00, Para Penggugat secara kontan dan sekaligus kepada Para Penggugat;
9. Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp ...000,00 setiap hari atas kelalaian Para Tergugat tidak melaksanakan isi putusan dalam perkara ini;
10. Menyatakan gugatan yang lain dan selebihnya tidak dapat diterima.”
Yang menarik dari perkara ini, putusan Pengadilan Negeri Nomor .../PdtG/20.../PN.Bb tersebut diputus pada tanggal ... 2010 dan telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena tidak diajukan banding. namun permohonan Peninjauan Pembali baru diajukan ke hadapan Kepaniteraan Pengadilan Negeri pada tanggal ... 2016, alias setelah berselang waktu 6 tahun lamanya dari putusan yang hendak diajukan Peninjauan Kembali.
Pihak Tergugat mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali, dengan pokok keberatan bahwa ibu ...  (almarhumah) telah meninggal dunia sejak tahun 1964 tanpa mempunyai keturunan, namun meninggalkan beberapa ahli waris, yaitu kakak kandung dan adik kandung. Pada masa hidupnya, ibu ...  mempunyai kekayaan tanah darat dan sawah. Dikarenakan ibu ...  tidak mempunyai keturunan maka ia mengurus salah seorang perempuan yang telah menjadi janda dan beranak satu, yaitu: Ny ...  (almarhumah), dimana Nyi ...  hanyalah seorang pembantu yang mengurus tanah ibu ...  semenjak Ibu ...  meninggal, sehingga objek tanah dikuasainya oleh pembantu tersebut, seolah-olah tanah tersebut kepunyaan ...  sendiri.
Tahun 1995, ahli waris ibu ...  menggugat ahli waris Ibu ...  di dengan Nomor Perkara .../PN.BB dan telah diputus pada tanggal ... 1995, bahkan pada tanggal ... 2002 ahli waris Ibu ...  telah memohon Eksekusi ke pengadilan. Satu fakta hukum yang terpenting ialah, dalam putusan Perkara Nomor .../Pdt.G/20...PN.BB tidak ada bunyi yang menyatakan bahwa putusan-putusan terdahulu dibatalkan—dan itulah yang tepatnya menimbulkan overlaping antar putusan.
Dimana terhadapnya, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan korektif, sebagai berikut:
“Menimbang bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan-alasan peninjauan kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali tersebut dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti dengan seksama memori peninjauan kembali tanggal ... 2016 dan kontra memori peninjauan kembali tanggal ... 2016, dihubungkan dengan pertimbangan dan putusan Judex Facti, telah ditemukan kekhilafan Hakim dan suatu kekeliruan yang nyata karena salah menerapkan hukum oleh Judex Facti (Pengadilan Negeri), dengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa ditemukan kekhilafan Hakim dalam hal ini Judex Facti (Pengadilan Negeri) dalam memutus perkara a quo, sesuai ... permohonan peninjauan kembali, yaitu Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor .../PN.BB, tanggal ... 1995, juncto Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor .../PT.BDG, tanggal ... 1996, juncto Putusan Kasasi MA RI Nomor .../1999, tanggal ... 1999, juncto Putusan Peninjauan Kembali MA RI Nomor ...  PK/Pdt/2000, tanggal ...  2007, sehingga putusan perkara ...;
“Bahwa objek sengketa a quo telah diputus oleh Pengadilan Negeri terdahulu yang telah berkekuatan hukum tetap, dengan berdasarkan bukti Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor .../PN.BB, juncto Nomor .../PN.BB, tanggal ... 2003 dan Berita Acara Eksekusi Pengosongan/Penyerahan Nomor .../PN.BB, juncto Nomor .../PN.BB, tanggal ... 2003, sehingga ...;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, Mahkamah Agung berpendapat terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali: Ny. ... dan kawan serta membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor .../Pdt.G/20.../PN.BB, tanggal ... 2010 serta Mahkamah Agung akan mengadili kembali perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini;
M E N G A D I L I :
- Mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali: 1. Ny. ..., 2. ..., 3. ..., 4. Ny. ..., 5. Ny. ... dan 6. ... tersebut;
- Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor .../PdtG/20.../PN.BB, tanggal ... 2010;
MENGADILI KEMBALI:
Dalam Eksepsi:
- Menerima eksepsi Para Tergugat-Tergugat I, ... dan XI serta Tergugat-Tergugat V, ... dan Turut Tergugat I, II;
Dalam Pokok Perkara:
- Menyatakan gugatan Para Penggugat ... .” [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan