Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

The Skills to be Independent in Our Own Mental State, Keterampilan Bersikap Independen dalam Kondisi Mental Diri Kita


HERY SHIETRA, The Skills to be Independent in Our Own Mental State, Keterampilan Bersikap Independen dalam Kondisi Mental Diri Kita

Other people or even this world might disappoint us,
Without being able to completely avoid it.
But more important than all that,
We don't need to contribute to making ourselves disappointed,
By starting to be determined to always be aware,
That they will in no way be held responsible for the losses we suffer from feeling discouraged.
How could they be expected to be held responsible,
Want to know the loss of time and thoughts that we suffer due to their actions,
They did not care about it at all.
So that,
Why do we let ourselves lose time, damage the happiness of life, and get discouraged by ourselves?
This is the time,
Take responsibility for the happiness of our own lives,
Being autonomously independent and empowered in our mental state,
By starting to learn to stand on our own feet,
Stand on our own minds,
Standing on the inner firmness and determination ourselves.
Other people, even the people who are closest to us,
Maybe at some time will be able to hurt and hurt us.
However, that is not the most important.
The most important thing is,
We don't need to hurt, especially to hurt ourselves.
Other people, even those whom we have trusted,
It could one day betray and harm us.
However, that is not the most important thing.
The most important thing is,
We do not betray and will never harm ourselves.
Other people and many people out there,
It could be doubting or even harassing ourselves,
Although due to the limitations of their own perspective.
However, that is not the most important thing to focus on.
The most important thing for us is,
When we do not doubt and do not abuse ourselves as an internal condition of ourselves that needs to be maintained and cared for,
Whatever our external condition.
Other people may be “full of terms” toward us,
Even covered with ulterior motives and agendas,
Fake smiles or even fake empathy,
Or even fake face with the intention of tricking us.
However,
That is not the most important thing for us to know.
The most important thing for us to do at this time is,
To always be honest and kind to ourselves,
And we are well aware that we are not an impostor,
Then that is more than enough.
It could be people out there,
Being unfair to us,
Even if we never hurt and harm others,
So we should expect that other people have never been unjust towards us.
However,
We can never control the world outside us,
So that is not the most important thing we can do.
The most priority for us now is,
To always only focus on the following two things,
Namely to focus solely on what are the priorities in our lives,
Namely what is most important in our lives,
And to focus on finding solutions to all of our life's questions,
Not to focus on the endless problems of life, or to the injustices we suffer and experience.
There will be and will always be those who intend to bring down and weaken us,
Even those who are only good at taking advantage by exploiting us and our kindness.
This world will never be short of people of bad character and behavior.
But that is not the most important thing for us to know.
The most important thing we need to always know is,
Solely to fight for the good of ourselves,
Not to smoothen the intentions of others who do not really have good intentions towards us,
Who really wants to see us fall and give up forever.
We don't need to close ourselves off from the beauty and the vastness of the world out there,
Simply because of the many people who have evil intentions, wandering out there,
Like a predator for others.
Live happily and full of enthusiasm,
In order to witness the beauty of the world,
Not living life for people who don't deserve to get our attention.
Therefore,
We can walk lighter,
No burden,
Live free and happy.
As long as we know that we are good people,
That we are different from them,
Then we always know that we deserve to be happy and decide to be happy,
At least in a mental state that is overwhelmed by our own decision to stay happy,
Whatever conditions outside us, which we are unable to control completely.
That is what is called,
The skills to be independent in our own mental state,
Namely firmness of our own heart,
Which without knowing the word condition”.
© HERY SHIETRA Copyright.

Orang lain atau bahkan dunia ini mungkin saja dapat mengecewakan dri kita,
Tanpa dapat sepenuhnya kita hindari.
Namun yang lebih penting dari kesemua itu,
Kita tidak perlu turut membuat kecewa diri kita sendiri,
Dengan mulai bertekad untuk selalu menyadari,
Bahwa mereka sama sekali tidak akan bertanggung jawab atas kerugian yang kita derita akibat berkecil hati.
Bagaimana mungkin mereka dapat diharapkan akan bertanggung jawab,
Mau tahu atas kerugian waktu serta pikiran yang kita derita akibat perbuatan mereka pun,
Mereka sama sekali tidak memperdulikannya.
Sehingga,
Mengapa juga kita membiarkan diri kita merugi waktu, rusaknya kebahagiaan hidup, dan berkecil hati seorang diri?
Inilah saatnya,
Ambil tanggung jawab atas kebahagiaan hidup diri kita sendiri,
Menjadi otonom serta independen secara berdaya dalam kondisi mental kita,
Dengan cara mulai belajar untuk berdiri di atas kaki diri kita sendiri,
Berdiri di atas pikiran diri kita sendiri,
Berdiri di atas keteguhan batin serta kebulatan tekad diri kita sendiri.
Orang lain, bahkan orang-orang yang paling dekat dari diri kita,
Mungkin saja pada suatu waktu akan dapat melukai serta menyakiti diri kita.
Namun, bukanlah itu yang terpenting.
Yang terpenting ialah,
Kita tidak perlu turut melukai terlebih menyakiti diri kita sendiri.
Orang lain, bahkan oleh mereka yang selama ini kita berikan kepercayaan,
Dapat saja suatu ketika mengkhianati dan merugikan diri kita.
Akan tetapi, bukanlah itu juga yang terpenting.
Yang paling terpenting ialah,
Kita tidak mengkhianati dan tidak akan pernah merugikan diri kita sendiri.
Orang lain dan banyak orang di luar sana,
Bisa jadi meragukan hingga melecehkan diri kita,
Sekalipun karena keterbatasan sudut pandang mereka sendiri.
Akan tetapi, bukan itu yang paling penting untuk menjadi fokus perhatian kita.
Yang terpenting untuk diri kita ialah,
Ketika kita tidak meragukan serta tidak melecehkan diri kita sendiri sebagai kondisi internal diri kita yang perlu tetap dijaga dan dirawat,
Apapun kondisi eksternal diri kita.
Orang lain bisa saja bersikap penuh syarat kepada kita,
Hingga diselubungi motif dan agenda tersembunyi,
Senyum dan empati palsu,
Atau bahkan wajah palsu dengan maksud untuk menipu diri kita.
Namun demikian,
Bukanlah itu yang paling penting untuk kita ketahui.
Yang terpenting untuk kita lakukan pada saat ini ialah,
Untuk selalu bersikap jujur dan baik kepada diri kita sendiri,
Dan kita menyadari betul bahwa diri kita bukanlah seorang penipu,
Maka itu sudah lebih dari cukup.
Bisa jadi orang-orang di luar sana,
Bersikap tidak adil terhadap diri kita,
Sekalipun kita tidak pernah menyakiti terlebih merugikan orang lain,
Sehingga kita patut mengharapkan agar orang lain pun tidak pernah bersikap tidak adil terhadap diri kita.
Meski demikian,
Kita tidak pernah dapat mengendalikan dunia di luar diri kita,
Sehingga bukanlah itu yang terpenting untuk dapat kita kerjakan.
Yang paling menjadi prioritas bagi diri kita pada saat kini ialah,
Untuk selalu hanya berfokus pada kedua hal berikut ini,
Yakni untuk berfokus semata pada apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita,
Yakni apa yang paling penting dalam hidup kita,
Serta untuk berfokus mencari solusi atas segala pertanyaan hidup kita,
Bukan berfokus pada masalah hidup yang tiada habisnya, ataupun terhadap ketidakadilan yang kita derita dan alami.
Akan ada dan akan selalu ada orang-orang yang bermaksud untuk menjatuhkan dan melemahkan diri kita,
Hingga yang hanya pandai mengambil keuntungan dengan cara mengeksploitasi diri dan kebaikan hati kita.
Dunia ini tidak akan pernah kekurangan orang-orang yang buruk karakter serta perilakunya.
Namun juga bukanlah itu yang terpenting untuk kita ketahui.
Hal terpenting yang perlu kita selalu ketahui ialah,
Semata untuk berjuang demi kebaikan diri kita,
Bukan untuk membuat lancar niat orang lain yang belum tentu memiliki niat baik terhadap diri kita,
Yang memang ingin melihat kita terjatuh dan menyerah untuk selamanya.
Kita tidak perlu menutup diri dari indah dan betapa luasnya dunia di luar sana,
Semata karena banyaknya manusia-manusia yang memiliki jahat yang berkeliaran di luar sana,
Bagaikan predator bagi sesamanya.
Hiduplah berbahagia serta penuh semangat,
Demi dapat menyaksikan indahnya dunia,
Bukan menjalani hidup untuk orang-orang yang tidak layak untuk mendapatkan perhatian diri kita.
Dengan demikian,
Kita dapat melangkahkan kaki secara lebih ringan,
Tanpa beban,
Hidup bebas dan bahagia.
Sepanjang kita mengetahui bahwa diri kita adalah orang baik,
Bahwa diri kita berbeda dari mereka,
Maka kita selalu tahu bahwa kita layak untuk hidup berbahagia dan memutuskan untuk menjadi bahagia,
Setidaknya dalam kondisi batin yang diliputi oleh keputusan diri kita sendiri untuk tetap berbahagia,
Apapun kondisi di luar diri kita yang tidak mampu kita kendalikan sepenuhnya.
Itulah yang disebut dengan,
Keterampilan untuk bersikap independen dalam kondisi mental diri kita sendiri,
Yakni ketegasan hati,
Yang tanpa mengenal kata syarat.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan