Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kerugian Menggugat Tanpa Dasar Hukum yang Sahih, Digugat Balik Rekonvensi

LEGAL OPINION
Question: Ada orang yang mengancam mau gugat kami, dia mau gugat kami untuk rebut tanah kami. Dia mengklaim seenaknya, lalu kami mau digugat seenaknya. Sebenarnya keadilan hukum itu dimana, orang punya tanah bisa digugat seenaknya oleh orang lain? Bukankah untuk hidup tenang tanpa diganggu ketenangan hidup kita, adalah hak asasi?
Brief Answer: Biarkan saja pihak-pihak tersebut mengajukan gugatan absurb (menyalah-gunakan fungsi lembaga peradilan), mengingat di era keterbukaan informasi sek... ini, semua putusan wajib dibuka ke publik, sehingga menggugat dapat dimaknai sama seperti “membuka aib sendiri”. Warga negara yang direpotkan dengan “diseret secara paksa” sebagai Tergugat di persidangan, dapat menggunakan kesempatan lewat momen gugatan demikian, yakni dengan mengajukan ... “...”, agar gugatan Penggugat berbalik menjadi “...” bagi dirinya sendiri.
Itulah sebabnya mengapa menjadi penting menjadi subjek hukum yang ... terhadap hukum, beraktivitas dan berkegiatan usaha sesuai ... yang ada, menjadi warga yang ... terhadap norma-norma hukum, agar sekalipun suatu waktu bermasalah dengan warga negara atau subjek hukum lain yang ingin “...” secara hukum, hukum secara sendirinya telah memberi ... bagi subjek hukum yang selama ini ... terhadap hukum. [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret yang sangat mencerminkan bahaya dibalik gugatan yang tidak rasional sekaligus “harga sosial” yang harus dibayar untuk gugatan irasional semacam itu, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk putusan sengketa register Nomor ... K/Pdt./20... tanggal ..., perkara antara:
- ..., sebagai Pemohon Kasasi, semula selaku Penggugat; melawan
1. ... ; 2. ... , selaku Para Termohon Kasasi dahulu Para Tergugat.
Penggugat mengdaku sebagai pemilik yang sah atas 2 bidang tanah seluas ... m2, yang semula diperoleh Penggugat masing-masing berasal dari satu bidang tanah milik ... berdasarkan Surat Penyerahan Hak Atas Tanah dengan ganti rugi tertanggal ... yang kemudian surat di-legalisasi oleh dan di hadapan pejabat yang berwenang sebagaimana tertuang dalam Surat Pernyataan Penyerahan dan Pelepasan Hak Atas Tanah Dengan Ganti Rugi tertanggal ... seluas ... m2.
Kepemilikan hak atas satu bidang tanah yang lainnya, diperoleh Penggugat berasal dari tanah milik ..., berdasarkan Surat Penyerahan Hak Atas Tanah dengan ganti rugi tertanggal ... seluas ... m2. Sejak kedua bidang tanah tersebut diganti rugi oleh Penggugat dari ... dan ..., Penggugat telah menguasai, menempati menanami, mengelola dan mengolahnya sampai dengan saat kini.
Pada bulan ..., Penggugat mendatangi almarhum ... (meninggal dunia pada tahun 20...), selaku suami dari Tergugat I dan ayah kandung dari Tergugat II, bermaksud untuk meminjam sejumlah uang sebesar Rp....000,00 untuk jangka waktu selama ... bulan, dimana Penggugat telah menerimanya sebagaimana tertuang dalam kuitansi tanda-terima tertanggal ....
Sebagai jaminan dari Penggugat atas pelunasan pinjaman tersebut kepada almarhum ..., yaitu 2 bidang tanah darat milik Penggugat tersebut, yang merupakan satu hamparan kesatuan dan berbatasan langsung. Perjanjian pinjam-meminjam uang dengan jaminan yang merupakan akta “dibawah tangan” tersebut diberi judul “Surat Penyerahan Ganti Rugi Atas Sebidang Tanah Darat tertanggal ...”.
Sekalipun judul tersebut telah secara eksplisit menyiratkan maksud hubungan hukum yang terjadi, namun Penggugat tetap menyatakan bahwa surat tersebut semula adalah Surat Perjanjian Pinjam Meminjam Uang dengan jaminan, namun entah mengapa sewaktu akan ditandatangani oleh Penggugat dan almarhum ..., judul surat tersebut mengalami perubahan dan ditaruh judul oleh almarhum. ... menjadi “Surat Penyerahan Ganti Rugi Atas Sebidang Tanah Darat”, padahal tujuan surat tersebut dibuat adalah sebagai penegasan supaya Penggugat dapat membayar hutangnya kepada almarhum ... tepat waktu dengan ketentuan apabila dalam jangka waktu ... sejak surat ditanda-tangani Penggugat tidak sanggup membayar hutangnya, maka tanah darat milik Penggugat tersebut beralih hak kepemilikannya kepada almarhum ... selaku kreditor.
Pada mulanya, Penggugat berkeberatan untuk menandatangani surat dimaksud, namun oleh karena Penggugat menaruh percaya kepada almarhum ... Dikarenakan juga telah lama menjalin kerjasama dalam pembuatan ..., akhirnya surat tersebut Penggugat tanda-tangani.
Pada halaman belakang surat dimaksud oleh Kepala Desa ..., dibuat perjanjian tambahan yang menyatakan “Dalam jangka waktu enam bulan setelah surat penyerahan ini tidak dapat dikembalikan kepada pihak kedua maka tanah tersebut menjadi hak milik pihak kedua”. Akan tetapi perjanjian tambahan tersebut tidak pernah ditandatangani baik oleh Penggugat maupun almarhum ...
Bulan ... , alias 1 bulan sebelum pinjaman uang tersebut akan jatuh tempo pada bulan ... , almarhum ... mengutus seseorang untuk menagih uangnya tersebut kepada Penggugat. Menanggapi itu, Penggugat menyerahkan sejumlah uang sebesar Rp ...00.000,00 sebagai pembayaran pinjaman Penggugat kepada almarhum ...
Pada saat itu juga, Penggugat menerangkan kepadanya bahwa untuk kekurangan bayar pelunasan hutang sebesar Rp ....000,00 dari keseluruhan pinjaman sebesar Rp....000,00 diperhitungkan oleh Penggugat sebagai upah kerja Penggugat yang selama ... yang tidak dibayarkan oleh almarhum ... kepada Penggugat dalam kerjasama pembuatan .... Selanjutnya Penggugat berkesimpulan bahwa persoalan pinjam meminjam uang dengan jaminan tersebut Penggugat anggap telah selesai dan tuntas.
Meski uang pinjaman telah diselesaikan secara tuntas oleh Penggugat kepada almarhum ... melalui orang yang diutusnya untuk menagih piutangnya kepada Penggugat, akan tetapi almarhum ... sampai dengan saat ini tidak pernah menyerahkan asli bukti surat penyerahan ganti rugi tertanggal ... dan asli kuitansinya tersebut kepada Penggugat sebagai bukti pelunasan.
Tahun ... , almarhum ... melaporkan Penggugat kepada Kepolisian Sektor Secanggang atas laporan tindak pidana penipuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ... KUHPidana, tindak pidana penggelapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ... KUHPidana, dan tindak pidana penggelapan atas b... tidak bergerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal ... ayat (1) KUH Pidana.
Atas dasar laporan pidana tersebut, terbitlah putusan Pengadilan Negeri ... Nomor .../Pid.B/20.../PN... , tanggal ..., diputus secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan “perbuatan menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara ... sesuatu hak tanah yang belum bersertifikat padahal diketahui bahwa yang mempunyai atau turut mempunyai hak di atasnya adalah orang lain”, sehingga Penggugat dijatuhi hukuman penjara selama ... tahun.
Putusan Pengadilan Negeri ... tersebut kemudian dikuatkan lagi lewat putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor .../PID/20.../PT-MDN., tanggal .... Hukuman penjara selama 1 tahun tersebut telah Penggugat jalani secara penuh, sehingga saat kini Penggugat telah bebas.
Tidak berhenti sampai disitu, tanggal ..., Tergugat II selaku ahliwaris dari almarhum ... mengajukan pengaduan kepada Kepolisian Resor Langkat di Stabat, dengan Penggugat sebagai terlapor atas dugaan penguasaan tanah tanpa izin yang berhak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Ayat (1) Huruf a Undang-Undang Nomor ... Prp Tahun ... tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak Atau Kuasanya.
Di dalam laporannya tersebut, Tergugat II mengklaim bahwa objek tanah yang dikuasai oleh Penggugat adalah kepunyaan orang tua kandungnya (almarhum ...), bahkan telah menuduh Penggugat dengan tuduhan pidana penguasaan tanah tanpa izin yang berhak. Meski pada kenyataannya sejak kepemilikan objek tanah tersebut Penggugat peroleh atas dasar jual-beli dari ... dan ... sejak tahun ... dan ... atau hampir selama 25 tahun, objek tanah tersebut tetap ditempati, ditanami, diolah dan dikelola oleh Penggugat sampai dengan saat kini, sama sekali tidak pernah dikelola alias telah ditelantarkan oleh Tergugat I dan Tergugat II selaku ahliwaris dari almarhum ... maupun almarhum ... semasa hidupnya pada waktu menjalin kerjasama pembuatan ... dengan Penggugat.
Dalam sanggahannya, pihak Tergugat menampik dengan menyatakan bahwa Surat Penyerahan / Ganti Rugi Atas Sebidang Tanah Darat tertanggal 0..., berisi klausula: “Maka oleh sebab itu mulai dari tanggal penyerahan surat ini dan sekaligus ditanda-tangani, maka jatuhlah hak tanah darat tersebut menjadi ... oleh saudara ... (pihak kedua) dengan cara sah dan benar.” Dengan demikian dari segi judul maupun substansi, perjanjian demikian adalah jual-beli, bukan hutang-piutang dengan jaminan berupa agunan.
Terhadap gugatan Penggugat maupun gugatan-balik Tergugat (rekonvensi), Pengadilan Negeri Stabat kemudian menjatuhkan putusan Nomor .../Pdt.G/20.../PN.Stb., tanggal ..., dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
Dalam Konvensi:
Dalam Pokok Perkara:
- Menolak gugatan Penggugat dalam Konvensi seluruhnya;
Dalam Rekonvensi:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat I dan II dalam Rekonvensi / Tergugat I dan II dalam Konvensi sebagian;
2. Menyatakan Surat Penyerahan / Ganti Rugi Atas Sebidang Tanah Darat tertanggal ..., berkekuatan hukum;
3. Menyatakan sebidang tanah seluas ... m2 yang terletak di ... dengan batas-batas sebagai berikut: ... adalah milik almarhum ...;
4. Memerintahkan Tergugat dalam Rekonvensi / Penggugat dalam Konvensi untuk menyerahkan Surat Penyerahan Hak Atas Tanah Dengan Ganti Rugi tertanggal ... dan Surat Penyerahan Hak Atas Tanah Dengan Ganti Rugi tertanggal ... kepada Penggugat I dan II dalam Rekonvensi / Tergugat I dan II dalam Konvensi dalam keadaan baik;
5. Menolak gugatan Penggugat I dan II dalam Rekonvensi / Tergugat I dan II dalam Konvensi selain dan selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Penggugat, putusan Pengadilan Negeri diatas kemudian ... oleh Pengadilan Tinggi Medan, lewat putusannya Nomor .../PDT/20.../PT.MDN., tanggal ....
Pihak Penggugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan-alasan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena putusan Pengadilan Tinggi Medan yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri ... tidak salah menerapkan hukum, putusan dan pertimbangan hukumnya sudah tepat dan benar yaitu ... gugatan Penggugat dalam Konvensi dan ... gugatan Para Penggugat Rekonvensi untuk sebagian, putusan mana telah sesuai dengan fakta persidangan yang telah dipertimbangkan secara cukup oleh Judex Facti yang menunjukkan bahwa objek sengketa adalah ... Para Tergugat dalam Konvensi / Para Penggugat dalam Rekonvensi yang berasal dari peninggalan orang tuanya ... yang memperolehnya melalui penyerahan dengan pembayaran ganti rugi kepada Penggugat dalam Konvensi / Tergugat dalam Rekonvensi, sedangkan Penggugat dalam Konvensi / Tergugat dalam Rekonvensi tidak dapat membuktikan dalil-dalil gugatannya bahwa penyerahan tanah objek sengketa kepada almarhum ... adalah sebagai ... Penggugat kepada almarhum ... , karena itu putusan Judex Facti dalam perkara a quo sudah tepat sehingga layak untuk dikuatkan;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, ternyata putusan Judex Facti / Pengadilan Tinggi ... dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi ... tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ... tersebut.” [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan