Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Jual-Beli Rumah yang Mengandung Penipuan, dapat Dipidana

LEGAL OPINION
Question: Jika ada iming-iming yang menggerakkan orang lain untuk membeli atau menjual rumahnya, apa itu selalu bisa dituntut secara perdata (gugatan), tidak bisa dituntut secara pidana?
Brief Answer: Jika memang terdapat unsur niat batin untuk menipu (tipu-daya) yang sangat kentara maupun implisit (sehingga modus penipuan tampak demikian halus dan terselubung), maka “kemasan luar” berupa iming-iming jual-beli tidak menjadi “alasan pembenar” untuk melakukan atau bahkan “mengobral” perilaku tindak pidana penipuan yang merugikan warga negara lainnya.
Ranah pidana, sangat terkait erat dengan “maksud batin” (alam pikir, mens rea) di dalam diri seorang Tersangka / Terdakwa. Sementara dalam ranah perdata, hanya melihat bentuk luar dari perilaku (secara lahiriah, actus reus).
Merugikan subjek hukum lain, secara lahiriah cukup didapati adanya kerugian bagi korban, maka hak gugat secara perdata menjadi aktif. Namun hukum pidana melihat lebih jauh ke dalam “alam batin” dari pelaku, untuk menentukan dapat atau tidaknya pelaku dituntut secara pidana disamping secara perdata. Itulah sebabnya, tuntutan pidana dan proses gugatan perdata dapat berjalan secara simultan.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret yang cukup representatif, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan lewat putusan Mahkamah Agung RI sengketa jual-beli tanah berujung pidana karena adanya unsur “penipuan berupa iming-iming”, register Nomor 995 K/PID/2016 tanggal 27 September 2016, dimana Terdakwa didakwa karena telah dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi utang maupun menghapuskan piutang, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Mulanya Terdakwa menghubungi Lokito Tedjokusumo dan menawarkan tanah yang terletak di Kavling P18 dan P19 Sektor VI Damai Indah Golf Perumahan Bumi Serpong Damai, dan pada saat itu untuk meyakinkan dan agar Lokito Tedjokusumo tertarik, maka Terdakwa mengatakan bahwa tanah tersebut dijual murah karena per kavlingnya hanya Rp3.000.000.000,00 sehingga untuk 2 kavling seharga Rp6.000.000.000,00.
Selain itu, agar lebih meyakinkan dan agar Lokito Tedjokusumo tergerak hatinya maka Terdakwa juga mengatakan bahwa uang pengurusan dan pengalihan hak atas objek tanah tersebut akan dititipkan kepada Notaris sebagai pihak yang mengetahui pengurusan surat tanah, selanjutnya Terdakwa juga mengajak Lokito Tedjokusumo untuk melakukan pengecekan lokasi tanah agar lebih meyakinkan lagi.
Selanjutnya pada tanggal 02 Oktober 2014, Terdakwa meminta kepada Lokito Tedjokusumo untuk mentransfer uang sebesar Rp210.000.000,00 ke rekening Notaris atas nama Masruroh, S.H., sebagai penebusan surat warkah objek tanah Kavling P18, dan akhirnya Lokito Tedjokusumo tertarik dan tergerak hatinya sehingga akhirnya Lokito Tedjokusumo kembali mentransfer dana ke rekening notaris, sebesar Rp210.000.000,00 sesuai permintaan dari Terdakwa.
Selanjutnya Terdakwa kembali meminta kepada Lokito Tedjokusumo untuk mentransfer uang sebesar Rp160.000.000,00 ke rekening Notaris, sebagai penebusan surat warkah tanah Kavling P19, dan kembali Lokito Tedjokusumo tergerak hatinya sehingga akhirnya Lokito Tedjokusumo pada tanggal 14 Oktober 2014 mentransfer ke rekening notaris sebesar Rp160.000.000,00 sesuai permintaan dari Terdakwa.
Berlanjut pada tanggal 05 November 2014, Lokito Tedjokusumo kembali mentransfer ke rekening notaris sebesar Rp200.000.000,00 atas permintaan Terdakwa untuk pengurusan surat warkah tanah Kavling P18 dan P19. Setelah itu pada tanggal 11 Desember 2014, Lokito Tedjokusumo juga mentransfer ke rekening notaris, sebesar Rp600.000.000,00 atas permintaan Terdakwa untuk pengikatan jual-beli dari Sdr. M.H. Ramzy Nasroen kepada Lokito Tedjokusumo. Selain itu pada bulan Januari 2015 atas permintaan Terdakwa untuk pengurusan surat tanah ke BPN Tangerang, Lokito Tedjokusumo juga menyerahkan cek tunai sebanyak 2 kali yang pertama sebesar Rp250.000.000,00 dan yang kedua sebesar Rp200.000.0000,00 kepada Terdakwa.
Kemudian atas permintaan Terdakwa, pada tanggal 06 Februari 2015 Lokito Tedjokusumo menyerahkan uang tunai sebesar Rp160.000.000,00 kepada Sdr. Fauzul Azim August Riva alias Riva untuk penebusan surat dari Sinar Mas Land Plaza perihal surat konfirmasi permohonan pengalihan hak, dan yang terakhir pada tanggal 18 Februari 2015 Lokito Tedjokusumo kembali mentransfer uang sebesar Rp200.000.0000,00 kepada Sdr. Christ Michael atas perintah Terdakwa untuk pengalihan hak dari Sdr.Bambang Samijono kepada Sdr.H.M.Ramzy Nasroen.
Selanjutnya uang yang ada di rekening Notaris, yang dikirim oleh Lokito Tedjokusumo atas permintaan Terdakwa ditransfer kembali ke rekening Terdakwa oleh pihak notaris bersangkutan, antara lain tanggal 02 Oktober 2014 sebesar Rp95.000.000,00 dan tanggal 3 Oktober 2014 sebesar Rp15.000.000,00 untuk kepentingan kantor Terdakwa.
Tanggal 14 Oktober 2014, diserahkan oleh sang notaris, secara tunai sebesar Rp65.000.000,00 kepada Terdakwa untuk operasional kantor dan juga ditransfer ke rekening Terdakwa sebesar Rp80.000.000,00 dan tanggal 17 Oktober 2014 ditransfer ke rekening Terdakwa sebesar Rp30.000.000,00. Selanjutnya atas permintaan Terdakwa untuk kepentingan kantornya, kembali pihak notaris mentransfer sebesar Rp65.000.000,00 dan pada tanggal 11 November 2014, sang notaris kembali mentransfer ke rekening Terdakwa sebesar Rp3.000.000,00.
Selain itu juga atas permintaan Terdakwa untuk kepentingan kantornya kembali pada tanggal 04 Desember 2014, sang notaris mentransfer sebesar Rp30.000.000,00. Tanggal 05 Desember 2014, sang notaris kembali mentransfer sebesar Rp145.000.000,00 dan pada tanggal 08 Desember 2014 pihak notaris mentransfer sebesar Rp20.000.000,00 kepada Terdakwa.
Akan tetapi setelah Lokito Tedjokusumo menyerahkan uang sejumlah Rp1.980.000,00 sebagaimana permintaan Terdakwa, ternyata apa yang telah dijanjikan oleh Terdakwa untuk pengurusan dan pengalihan hak atas tanah di Kavling P18 dan P19, ternyata tidak terlaksana, bahkan setelah dilakukan pengecekan kepada pihak Sinar Mas Land Plaza BSD City terhadap surat konfirmasi permohonan bidang tanah yang terletak di Kavling P18 dan P19 kepada H.M. Ramzy Nasroen yang dikeluarkan oleh Sinar Mas Land Plaza yang ditandatangani oleh Sdr. Hermawan Wijaya selaku Direktur yang dikirimkan oleh Terdakwa melalui email kepada Lokito Tedjokusumo, ternyata surat tersebut tidak benar dan bukan merupakan produk dari Sinar Mas Land Plaza BSD City. Akibat perbuatan Terdakwa, Lokito Tedjokusumo mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp1.980.000,00.
Sementara dalam Dakwaan Alternatif Kedua, Terdakwa didakwa karena dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHPidana.
Terhadap tuntutan Jaksa, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 1343/Pid.B/2015/PN.Jkt.Utr tanggal 17 Desember 2015, dengan amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa pada awalnya Terdakwa menghubungi saksi Lokito Tedjokusumo dan menawarkan tanah yang terletak di Kav. P18 dan P 19;
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa Andreas Wahyu Santoso, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Penipuan’;
2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun;
3. Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa akan dikurangkan seluruhnya dari pidana penjara yang dijatuhkan;
4. Memerintahkan agar Terdakwa tetap ditahan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 30/PID/2016/PT.DKI tanggal 4 Maret 2016, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menerima permintaan banding Terdakwa;
2. Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 1343/Pid.B/2015/PN.Jkt.Utr. tanggal 17 Desember 2015 yang dimintakan banding tersebut;
3. Memerintahkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan.”
Pihak Terdakwa mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa jika Pelapor merasa dirugikan Rp2.000.000.000,00 atas perbuatan Terdakwa, merupakan suatu kebohongan besar sebab:
1. Tidak ada bukti otentik yang membuktikan Saksi Pelapor melakukan transfer ke Terdakwa;
2. Pelapor (Lokito Tedjokusumo) adalah seorang perantara atau calo tanah.
3. Tidak ada transaksi yang dilakukan Saksi Pelapor (Lokito Tedjokusumo) yang berkaitan dengan jual beli tanah yang terletak di Kav. P18 dan P19.
4. Bahwa hubungan hukum yang terjadi antara Terdakwa dengan pihak Pelapor adalah murni hubungan kerja.
Pada mulanya, Pelapor memerintahkan Terdakwa untuk mencari tanah yang murah guna kepentingan bisnis pihak Pelapor. Atas perintah tersebutlah, Terdakwa mencari tanah dan mendapat Kavling P18 dan P19. Kemudian, segala urusan yang berkaitan dengan hal tersebut dilakukan sendiri oleh Saksi Pelapor.
Pihak Pelapor hanya memerintahkan Terdakwa untuk memastikan tanah tersebut dijual dan mengawal proses pengalihan hak atas tanah tersebut kepada LINDA. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perbuatan Terdakwa sama sekali tidak memenuhi unsur “maksud untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum”, karena diketahui bahwa pada mulanya pihak Pelapor-lah yang memerintahkan Terdakwa untuk mencari tanah. Dengan demikian:
1. pihak pelapor bukan orang yang dirugikan;
2. pelapor bukan pembeli;
3. pelapor tidak pernah mengeluarkan uang atas jual beli tanah Kavling P18 dan P19;
4. pelapor yang ingin mendapatkan keuntungan dari jual beli tanah Kavling P18 dan P19;
5. pelapor tidak pernah melakukan transaksi apapun dengan Terdakwa yang berkaitan jual beli tanah Kavling P18 dan P19.
Terdakwa menyebutkan pula, bahwa Majelis Hakim telah menzalimi Terdakwa dengan menjatuhkan hukuman berupa pidana penjara selama 3 tahun, suatu vonis yang dirasa sangat kejam oleh Terdakwa, karena bersikukuh perkara ini bukan merupakan tindak pidana, melainkan urusan perdata yaitu pengalihan hak atas tanah yang prosesnya belum selesai atau masih dalam proses.
Dimana terhadapnya, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi / Terdakwa tersebut Mahkamah Agung berpendapat sebagai berikut:
“Bahwa alasan kasasi Terdakwa tidak dapat dibenarkan karena Judex Facti / Pengadilan Tinggi yang menguatkan putusan Judex Facti / Pengadilan Negeri yang menyatakan Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Penipuan’ dan menjatuhkan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, telah tepat dan benar dan tidak salah menerapkan peraturan hukum;
“Bahwa lagi pula alasan kasasi Terdakwa tersebut mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan. Alasan semacam itu tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi;
“Bahwa alasan kasasi Terdakwa tidak dapat dibenarkan pula karena menyangkut berat ringannya pidana yang dijatuhkan yang merupakan wewenang Judex Facti untuk menentukannya dan tidak tunduk pada pemeriksaan kasasi. Judex Facti dalam putusannya telah mempertimbangkan keadaan-keadaan yang memberatkan dan meringankan sesuai dengan Pasal 197 Ayat (1) Huruf f KUHAP;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi / Terdakwa ANDREAS WAHYU SANTOSO tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan