Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Tidak Perlu Seluruh Ahli Waris Tergugat, Turut Digugat

LEGAL OPINION
Question: Ada orang yang mau kami gugat. Masalahnya, orang itu kini sudah terlanjur meninggal dunia. Masalah kedua, apa semua anaknya harus kami gugat, sebagai ahli waris yang menggantikan kedudukan almarhum tergugat? Ngak mungkin kami bisa tahu, berapa banyak anaknya, dan siapa saja nama anak-anaknya itu.
Brief Answer: Dalam identitas pihak Tergugat, cukup dicantumkan “Ahli waris Bpk/Ibu ...”, sehingga siapa nantinya yang akan muncul dan menghadap ke persidangan, bukan lagi urusan pihak Penggugat, karena yang paling berkepentingan serta mengetahui siapa saja ahli waris bersangkutan, ialah keluarga internal pihak Tergugat itu sendiri.
Terlagi pula Mahkamah Agung RI pernah membuat kaedah yurisprudensi, bahwa demi asas peradilan yang cepat dan efisien, maka tidak perlu bagi pihak Penggugat untuk diwajibkan menarik seluruh ahli waris almarhum Tergugat, sepanjang perkara gugatan perdata tersebut bukanlah perihal sengketa kepemilikan.
PEMBAHASAN:
Kaedah preseden dimaksud, merupakan esensi yang SHIETRA & PARTNERS sarikan dari yurisprudensi putusan Mahkamah Agung RI sengketa kontraktual register Nomor 2917 K/Pdt/2010 tanggal 24 Agustus 2011, perkara antara:
- Ha. TJANNO AMIN, sebagai Pemohon Kasasi, semula selaku Penggugat; melawan
- ROSDIANA MUHAMMAD, selaku Termohon Kasasi dahulu Tergugat.
Suami Penggugat semasa hidupnya membeli sebidang ruko (rumah toko) dengan Sertifikat Hak Milik No. 462/Pinaesaan 1977, seluas luas 22 m2, semula atas nama Maria Tarore dan kini telah beralih-nama keatas nama suami Penggugat, berdasarkan Akte Jual Beli sehingga telah menjadi hak milik sah Abdul Rasyid (suami Penggugat).
Jual beli antara Maria Tarore dengan suami Penggugat tersebut, terjadi sejak tanggal 1 Juli 1985 dengan Akte Jual Beli di hadapan Pejabat PPAT Kota Manado, selanjutnya dilakukan peralihan hak keatas nama suami Penggugat. Sengketa bermula ketika pada tahun 1985, orang tua Tergugat, Hj. Muhammad, datang menemui Penggugat dengan maksud ingin menempati sebagian ruko dengan ukuran 3,5 x 3 m2 bagian sebelah utara untuk sementara waktu, dengan syarat hanya sementara waktu dan tidak diperkenankan untuk dikontrakkan kepada siapa pun tanpa sepengetahuan dari Penggugat.
Tahun 1986, Penggugat mendapat kejutan, ternyata Tergugat telah mengontrakkan ruko tersebut kepada pihak ketiga bernama Kok Song, tanpa sepengetahuan dari Penggugat. Perbuatan Tergugat yang justru mengontrakkan ruko bukan milik Tergugat sejak tahun 1986 s/d 2008, adalah perbuatan melawan hukum.
Kemudian pada awal 2008, Penggugat menegur Kok Song agar tidak memperpanjang kontrak sewa ruko dimaksud, dengan alasan bahwa ruko yang ditempatinya tersebut adalah milik Penggugat berdasarkan Sertifikat Kepemilikan No. 46/Pinaesaan. Selanjutnya Kok Song tidak lagi memperpanjang kontraknya.
Setelah selesai kontrak oleh Kok Song, Tergugat langsung mengambil-alih penguasaan fisik sebagian ruko, dengan dikuasai dan diduduki oleh Tergugat tanpa sepengetahuan Penggugat. Sehingga perbuatan Tergugat yang menguasai dan menduduki ruko tanpa hak, mengakibatkan kerugian bagi pihak Penggugat, dimana Penggugat tidak bisa menempati ruko miliknya secara bebas.
Penggugat telah berulang-kali menawarkan perdamaian kepada Tergugat, namun tidak membuahkan hasil. Terhadap itikad tidak baik pihak Tergugat, karena itu Penggugat mengajukan gugatan ini demi kepastian hukum dan memulihkan hak Penggugat. Untuk itu Penggugat memohonkan agar Tergugat atau siapa saja yang menguasai dan menduduki objek sengketa dimaksud, agar dihukum oleh pengadilan untuk menyerahkan ruko kepada Penggugat dalam keadaan kosong.
Terhadap gugatan Penggugat, pihak Tergugat dalam sanggahannya mendalilkan, dengan hanya ditariknya ROSDIANA MOHAMMAD sebagai Tergugat, adalah hal yang keliru, sebab segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah-toko yang sekarang menjadi objek sengketa, merupakan tanggung-jawab bersama dari seluruh ahli waris dari H. Mohammad. Sehingga, seharusnya Penggugat menarik seluruh ahli waris dari H. Mohammad selaku “penguasa” rumah toko (ruko).
Dengan tidak ditariknya seluruh ahli waris dari H. Mohammad dalam gugatan Penggugat, maka  gugatan Penggugat cacat formil, demikian Tergugat mendalilkan dan mencari pembenaran diri. Terhadap gugatan sang pemilik ruko, Pengadilan Negeri Manado kemudian menjatuhkan putusan sebagaimana tertuang dalam register No. 201/Pdt.G/2009/PN.Mdo., tanggal 20 Januari 2010, dengan amarnya sebagai berikut:
MENGADILI :
DALAM POKOK PERKARA:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan sah menurut hukum Penggugat adalah pemilik sah ruko (rumah toko) bersertifikat hak milik No. 462/Pinaesaan 1977 luas 22 m2 yang terletak di Kompleks Pasar Empat Lima, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Manado atas nama Abdul Rasyid suami Penggugat, dengan batas-batas : ...;
3. Menyatakan perbuatan Tergugat mengontrakkan dan menguasai dan menduduki berbagai ruko bagian utara (rumah toko) luas 3,5 x 3 m2 yang terletak di Kompleks Pasar Empat Lima, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Manado batas-batas adalah : ... adalah tanpa hak olehnya perbuatan tersebut adalah perbuatan melawan hukum;
4. Menghukum Tergugat menyerahkan ruko (rumah toko) luas 3,5 x 3 m2 kepada Penggugat dalam keadaan kosong dan baik, dan jika Tergugat tidak mau memenuhi isi putusan ini maka Penggugat memohon agar dilaksanakan eksekusi terhadap objek sengketa tersebut;
5. Memerintahkan kepada Tergugat untuk menyerahkan ruko tersebut (objek sengketa) kepada Penggugat sebagai pemilik sah;
6. Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat, putusan Pengadilan Negeri diatas kemudian dianulir oleh Pengadilan Tinggi Manado lewat putusannya No. 65/Pdt/2010/PT.Mdo., tanggal 19 Juli 2010, dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa oleh karena H. Muhammad telah meninggal dunia dan meninggalkan 10 orang anak, maka anak-anak tersebut mempunyai hak dan tanggung-jawab yang sama atas objek sengketa tersebut, olehnya anak-anak tersebut harus dilibatkan dalam perkara ini;
MENGADILI :
- Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Tergugat Konvensi / Penggugat Rekonvensi;
- Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor 201/Pdt.G/2009/PN.Mdo., tanggal 20 Januari 2010 yang dimohonkan banding tersebut;
MENGADILI SENDIRI:
DALAM EKSEPSI:
- Menerima eksepsi Tergugat tersebut;
DALAM POKOK PERKARA:
- Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.”
Terkejut mendapati putusan yang melukai hak dirinya, pihak Penggugat selaku pemilik ruko mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa memang benar yang melakukan hubungan hukum diantara para pihak adalah orang tua Tergugat. Namun seharusnya ketika orang tua Tergugat meninggal ruko sudah harus dikembalikan kepada yang berhak, yaitu pihak Penggugat, karena sertifikat tanah ruko ialah “atas nama” suami Penggugat, yakni SHM No. 469/Pinaesaan.
Akan tetapi Tergugat justru mengambil-alih sebagian ruko tersebut, yang tidak lain merupakan sebentuk perbuatan melawan hukum. Secara yuridis dan asas kemanfaatan, tidak ada keperluan untuk menarik pihak ahli waris dari orang tua Termohon dalam perkara ini, karena tidak ada kepentingan hukumnya.
Fakta hukum ialah, secara de facto terbukti yang menguasai secara fisik adalah diri Tergugat seorang diri, sedangkan ahli waris yang lain tidak menguasai dan tidak ikut “campur-tangan” dalam masalah ini, sehingga menjadi tidak masuk akal jika demi untuk menyelesaikan sengketa ini, sampai harus menarik pihak lain yang tidak memiliki kepentingan hukum maupun hubungan hukum dengan sengketa ini.
Fakta hukumnya sudah sangat jelas, yang melanggar hak Penggugat ialah pihak Tergugat sendiri secara personal, maka tidak ada urgensi untuk menarik pihak lain dalam perkara ini. Dimana terhadapnya, Mahkamah Agung membuat pertimbangan korektif serta amar putusan penuh elaborasi, sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan kasasi dapat dibenarkan, karena meneliti dengan seksama memori kasasi tanggal 9 Agustus 2010 dan kontra memori kasasi tertanggal 23 Agustus 2010 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti in casu putusan Pengadilan Tinggi Manado, ternyata telah salah dalam menerapkan hukum, dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa penentuan tentang siapa yang harus digugat, sepenuhnya adalah hak Penggugat;
- Bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan tempat, tanggal 6 November 2009 atas obyek perkara (in casu ruko) ternyata bahwa yang nyata-nyata menguasai obyek perkara hanyalah Tergugat Rosdiana Muhammad;
- Bahwa dari bukti dan fakta-fakta yang terungkap di persidangan ternyata bahwa Penggugat telah berhasil membuktikan dalil gugatannya bahwa ruko terperkara adalah milik Penggugat, dan Tergugat tidak berhasil membuktikan dalil bantahannya;
- Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut dihubungkan dengan azas peradilan yang harus dilaksanakan secara sederhana, murah dan cepat, maka keharusan seluruh ahli waris dari alm. H. Muhammad untuk ikut digugat adalah tidak beralasan, para ahli waris dari alm. H. Muhammad tidak perlu ditarik sebagai pihak karena bukan sengketa kepemilikan;
- Bahwa masuknya H. Muhammad ke objek terperkara adalah hanya pinjam untuk menempati sementara 3,5 x 3 m2 dengan catatan tidak boleh disewakan / dikontrakkan kepada siapapun tanpa sepengetahuan Penggugat, oleh karenanya maka putusan Pengadilan Tinggi Manado dalam perkara ini tidak dapat dipertahankan;
- Bahwa meneliti dengan seksama pertimbangan Pengadilan Negeri Manado dalam perkara ini ternyata sudah cukup dan benar;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, menurut pendapat Mahkamah Agung terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : Ha. TJANNO AMIN dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Manado No. 65/PDT/2010/PT.MDO., tanggal 19 Juli 2010 yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Manado No.201/Pdt.G/2009/PN.Mdo., tanggal 20 Januari 2010 serta Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akand isebutkan dibawah ini;
M E N G A D I L I :
“Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : Ha. TJANNO AMIN tersebut;
“Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Manado No. 65/PDT/2010/PT. MDO., tanggal 19 Juli 2010 yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Manado No.201/Pdt.G/2009/PN.Mdo., tanggal 20 Januari 2010;
MENGADILI SENDIRI:
DALAM EKSEPSI:
- Menolak eksepsi Tergugat;
DALAM POKOK PERKARA:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan sah menurut hukum Penggugat adalah pemilik sah ruko (rumah toko) bersertifikat hak milik No. 462/ Pinaesaan 1977 luas 22 m2 yang terletak di Kompleks Pasar Empat Lima, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Manado atas nama Abdul Rasyid suami Penggugat, dengan batas-batas : ...;
3. Menyatakan perbuatan Tergugat mengontrakkan dan menguasai serta menduduki ruko bagian utara (rumah toko) luas 3,5 x 3 m2 yang terletak di Kompleks Pasar Empat Lima, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Manado dengan batas-batas: ... adalah tanpa hak oleh karenanya perbuatan tersebut adalah perbuatan melawan hukum;
4. Menghukum Tergugat untuk menyerahkan ruko (rumah toko) luas 3,5 x 3 m2 yang terletak di Kompleks Pasar Empat Lima, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Manado dengan batas-batas: ... kepada Penggugat sebagai pemilik yang sah dalam keadaan kosong dan baik;
5. Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan