Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Sengketa Tanah, Sensitif Perihal Waktu, Berpacu dengan Waktu

LEGAL OPINION
Question: Pak Hery (SHIETRA & PATNERS) menyampaikan bahwa masalah tanah itu sensitif soal waktu. Maksudnya bagaimana?
Brief Answer: Mereka yang sama-sama mengklaim sebagai pemilik atas sebidang hak atas tanah, sangat terkait isu waktu, dengan artian siapa yang dapat membuktikan bahwa ialah yang terlebih dahulu melakukan peralihan hak atas tanah sesuai prosedural hukum pertanahan yang berlaku, maka ia yang paling dilindungi dan diakui oleh hukum sebagai pemilik yang sah.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah cerminan konkret, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk pada putusan Mahkamah Agung RI sengketa tanah register Nomor 1608 K/Pdt/2016 tanggal 21 September 2016, perkara antara:
- Hj. NURLAILY, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Terlawan I; melawan
- DAULAT SIHOTANG, selaku Termohon Kasasi dahulu Pelawan; dan
- DEWI CLARA (anak/Ahli Waris Alm. Rimsen Sihotang dan (Almh) Jasmanidar, selaku Turut Termohon Kasasi dahulu Turut Terlawan.
Pelawan mengklaim sebagai pemilik sebidang tanah yang terletak di RT. 10 RW. 02 Desa Karya Indah Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, diperoleh dengan cara dibeli dari ibu Turut Terlawan yang bernama almh. Jasmanidar sesuai dengan Surat Keterangan Ganti Kerugian tertanggal 18 Desember 2007, seluas 2 (dua) hektar.
Setelah dibelinya tanah tersebut oleh Pelawan dari orang tua Turut Terlawan, kemudian Pelawan membangun pondok diatas bidang tanah dan sampai sekarang tanah milik Pelawan masih tetap dirawat dan dikelola serta ditanami dengan tanaman berupa kelapa brida, lengkuas, dan jahe oleh Pelawan, dimana tidak ada orang lain yang mengaku-ngaku pemilik atas tanah milik Pelawan.
Oleh sebab kini Pelawan ingin meningkatkan alas hak atas tanah yang masih berupa Surat Keterangan Ganti Kerugian menjadi Sertifikat Hak Milik, selanjutnya pada tanggal 21 September 2012 Pelawan meminta tolong kepada teman Pelawan untuk melakukan pengurusan sertifikat atas tanah milik Pelawan, namun tanpa Pelawan duga ternyata Surat Keterangan Ganti Kerugian yang rencananya ditingkatkan menjadi Sertifikat Hak Milik tersebut telah dibawa kabur oleh orang tersebut, sehingga dengan kejadian tersebut Pelawan telah memberikan laporan kepada pihak kepolisian.
Masalah timbul, bermula dari informasi yang Pelawan terima yaitu sekitar awal bulan Januari 2014, Pengadilan Negeri Bangkinang telah melaksanakan Sita Eksekusi terhadap obyek perkara Perdata Nomor 26/Pdt.G/2008/PN.Bkn tanggal 02 April 2009, antara Terlawan melawan Turut Terlawan, dimana ternyata seluruh tanah Pelawan seluas 2 Ha, ternyata termasuk tanah yang ikut terkena sita.
Apabila dicermati Putusan Perdata Nomor 26/Pdt.G/2008/PN.Bkn tanggal 02 April 2009 yang dijadikan dasar Sita Eksekusi yang dilakukan Pengadilan Negeri Bangkinang,telah keliru dengan mengikut-sertakan lahan milik Pelawan sebagai obyek tersita, oleh karena seharusnya Sita Eksekusi yang dimohonkan Terlawan berada di wilayah Kecamatan Tapung Hulu dan bukan berada di wilayah Tapung tempat dimana lahan Pelawan berada.
Selama ini Pelawan tidak pernah berperkara masalah tanah milik Pelawan baik di Pengadilan Negeri Bangkinang dengan Terlawan maupun dengan Turut Terlawan, namun menapa tanah milik Pelawan ikut disita eksekusi oleh Pengadilan Negeri Bangkinang, sementara Pelawan tidak pernah ditarik sebagai pihak dalam perkara putusan Pengadilan Negeri Bangkinang Nomor 26/Pdt.G/2008/PN.Bkn tanggal 02 April 2009 hingga terbitnya Putusan Mahkamah Agung Nomor 1811 K/PDT/2010 tertanggal 07 September 2011, dimana semua putusan tersebut, Pelawan sama sekali tidak pernah ikut disertakan sebagai pihak didalamnya.
Apabila pihak Turut Terlawan dipanggil (aanmaning) oleh Pengadilan Negeri Bangkinang untuk menyerahkan tanah tersebut termasuklah tanah Pelawan yang bukan lagi merupakan hak dari orang tua Turut Terlawan yang bernama almh.Jasmanidar, dimana Pelawan bukan pula sebagai Tergugat dalam perkara antara Terlawan dengan Turut Terlawan, sehingga dengan demikian tidak ada hak bagi Turut Terlawan untuk menyerahkan tanah tersebut kepada Terlawan dan tidak ada putusan Pengadilan yang menyatakan Pelawan sebagai pihak yang kalah dan harus menyerahkan tanah milik Pelawan kepada Terlawan.
Pelawan selaku pemilik sah atas bidang tanah, akan sangat dirugikan sekali kalau tanah tersebut nantinya di Eksekusi oleh Pengadilan, karena obyek yang dimohon Eksekusi oleh Terlawan berada di wilayah Kecamatan Tapung Hulu dan sejak awal Pelawan sama sekali tidak pernah ditarik sebagai pihak dalam perkara Terlawan melawan Turut Terlawan, dan bahkan Pelawan sama sekali tidak mengetahui telah adanya gugatan antara Terlawan dengan Turut Terlawan.
Mengingat Eksekusi atas tanah milik Pelawan akan menimbulkan bahaya riil terhadap tanah milik Pelawan, maka Pelawan mengajukan gugatan ini dengan memohon agar Pengadilan berkenan menangguhkan eksekusi tersebut, hingga perkara ini telah mendapat putusan berkekuatan hukum tetap.
Terhadap gugatan pihak Pelawan, Pengadilan Negeri Bangkinang kemudian menjatuhkan Putusan Nomor 03/PDT/PLW/2014/PN.Bkn tanggal 08 Januari 2015, dengan amar sebagai berikut:
“Menimbang, Pelawan membeli sebidang tanah seluas 2 Ha. dengan cara mencicil dari Rimsen Sihotang (suami Jasmanidar) dengan cara mencicil sejak tahun 2004 dan selanjutnya diterbitkan Surat Keterangan Ganti Rugi tertanggal 09 Desember 2007 yang dikeluarkan Camat Tapung Nomor 764/SKGR/TP/2012 (Bukti Surat P-1). Pembelian tanah oleh Pelawan dilakukan sebelum ada Gugatan dari Terlawan kepada Rimsen Sihotang (suami Jasmanidar) tertanggal 18 Juli 2008 (Bukti Surat T-2), peralihan hak atas tanah dari Rimsen Sihotang kepada Pelawan terjadi pada saat tanah tersebut tidak dalam sengketa;
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Menerima dan mengabulkan seluruh gugatan Perlawanan Pelawan;
2. Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang benar;
3. Menyatakan Pelawan adalah pemilik sah atas tanah terperkara seluas 2 Ha yang terletak di RT. 10 RW. 02 Desa Karya Indah Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, dengan batas-batasnya sebagai berikut: ...;
4. Menyatakan sah Surat Keterangan Ganti Kerugian Nomor 595/1.247/KI/07 tanggal 18 Desember 2007 atas tanah seluas 2 Ha (dua hektare);
5. Menyatakan tidak sah Sita Eksekusi yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Bangkinang atas permohonan Terlawan dengan dasar Putusan Pengadilan Negeri Bangkinang Nomor 26/Pdt.G/2008/PN.Bkn tanggal 02 April 2009 dan Putusan Pengadilan Tinggi Nomor 05/PDT/2010/PTR tanggal 09 Pebruari 2010 dan Putusan Mahkamah Agung Nomor 1811.K/PDT/2010 tertanggal 07 September 2011 oleh karena adanya kekeliruan obyek sita;
6. Menyatakan menangguhkan eksekusi atas tanah milik Pelawan sampai perkara ini mendapat keputusan yang tetap.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Terlawan I, putusan Pengadilan Negeri tersebut diatas, kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Pekanbaru dengan Putusan Nomor 95/PDT/2015/PT.PBR tanggal 09 September 2015.
Pihak Terlawan I mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa dasar kepemilikan Terlawan I telah diperkuat dengan Putusan Mahkamah Agung RI yang berkekuatan hukum tetap Nomor 1811 K/PDT/2010 tanggal 07 September 2011 juncto Putusan Pengadilan Negeri Bangkinang Nomor 26/PDT.G/2008/PN.Bkn tanggal 02 April 2009, dimana Rimsen Sihotang menjadi salah satu Tergugat dengan lahannya seluas 2 Ha. yang diklaim oleh Pelawan.
Berdasarkan fakta tersebut, menjadi jelas bahwa jual-beli yang dilakukan oleh Rimsen Sihotang (suami Jasmanidar) pada tanggal 23 Maret 2012 dilakukan setelah Terlawan I memenangkan Perkara dan dinyatakan tanah Rimsen Sihotang adalah milik Terlawan I.
Walaupun jual beli tanah yang digugat oleh Pelawan dilakukan pada tanggal 09 Desember 2009, akan tetapi baru diregister oleh Pejabat yang berwenang pada tanggal 23 Maret 2012, atau dapat dikatakan lebih 2,5 tahun kemudian baru didaftarkan, dimana sesuai dengan peraturan perundang-undangan jual beli baru sah apabila telah didaftarkan pada pejabat yang berwenang untuk itu.
Dengan demikian apabila Judex Facti dalam pertimbangan hukumnya menyatakan 2 Ha lahan milik Pelawan dibeli sebelum Rimsen Sihotang berperkara dengan Terlawan I serta dengan bukti kepemilikan yang sah, adalah bertentangan dengan hukum dan fakta-fakta hukum yang ada. Dimana terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan tersebut dapat dibenarkan, oleh karena Judex Facti telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa Surat Bukti kepemilikan Pelawan atas tanah obyek sengketa P-l Surat Keterangan Ganti Rugi an. Daulat Sihotang tanggal 09 Desember 2007 yang dikeluarkan oleh Camat Tapung Nomor 764/SKGR/TP/2012 dan P-2 berupa kwitansi pembelian dari Rimsen Sihotang tanggal 09 Juli 2004, sementara bukti Surat Kepemilikan Terlawan Hj.Nurlaily (bukti T-3 s/d T-13) sudah di terbitkan pada 08 Agustus 2003, dengan arti kata kepemilikan Terlawan sudah lebih dahulu;
- Bahwa berdasarkan bukti Terlawan yakni T-2a (Putusan PN Bangkinang Nomor 26/Pdt.G/2008/PN.Bkn antara Hj. Nurlaily sebagai Penggugat melawan Rimsen Sihotang, dkk), T2-b (Putusan PT Pekanbaru Nomor 03/PDT/2010/PT.PBR) dan T-2c (putusan Mahkamah Agung Rl Nomor 1811 K/PDT/2010) yang dimenangkan Terlawan Hj. Nurlaily atas Rimsen Sihotang, dan kawan-kawan menunjukkan bahwa obyek sengketa bukan milik Pelawan, melainkan milik Terlawan (Hj. Nurlaily atas Rimsen Sihotang);
“Bahwa oleh karena itu putusan Judex Facti harus dibatalkan dan Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara ini dengan pertimbangan berikut:
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, dengan tidak perlu mempertimbangkan alasan kasasi lainnya, Mahkamah Agung berpendapat bahwa terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Hj. NURLAILY dan membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 95/PDT/2015/PT PBR tanggal 09 September 2015 yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Nomor 03/PDT/PLW/2014/PN Bkn tanggal 08 Januari 2015 serta Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan disebutkan dibawah ini;
M E N G A D I L I :
- Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Hj. NURLAILY tersebut;
- Membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 95/PDT/2015/PT.PBR tanggal 09 September 2015 juncto Putusan Pengadilan Negeri 03/PDT/PLW/2014/PN Bkn tanggal 08 Januari 2015;
MENGADILI SENDIRI:
Dalam Pokok Perkara:
1. Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang tidak benar;
2. Menolak gugatan perlawanan Pelawan untuk seluruhnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan