Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Membeli dengan Nama Palsu, Bukan Wanprestasi Namun Penipuan

LEGAL OPINION
Question: Membeli tanpa membayar, itu namanya ingkar janji, perdata. Tapi gimana bila kasusnya, pembeli pakai identitas tidak benar, sehingga tidak dapat ditagih karena nama dan alamatnya ternyata palsu?
Brief Answer: Salah satu rumusan kualifikasi delik pidana penipuan, ialah digunakannya “martabat palsu” ketika membuat suatu hutang, seperti nama palsu atau Kartu Tanpa Penduduk yang dipalsukan, sehingga menimbulkan kerugian bagi korban yang tergerak batinnya untuk memberikan hutang akibat penyalah-gunaan kepercayaan oleh si pelaku—sehingga yang kemudian terbit ialah wanprestasi keperdataan sekaligus tindak pidana penipuan.
PEMBAHASAN:
Untuk memudahkan pemahaman, tepat kiranya SHIETRA & PARTNERS merujuk putusan Mahkamah Agung RI perkara pidana penipuan register Nomor 1689 K/PID/2015 tanggal 12 Januari 2016, dimana Terdakwa didakwakan karena telah dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Berawal ketika Terdakwa HENRY KURNIADI yang merupakan karyawan di Astra International, memesan tiket pesawat dan voucher hotel melalui Sdri. Rezky Gustinawati yang merupakan karyawan di bagian Administrasi di Divisi Performance dan Reward Managemen pada PT. Astra International kepada pihak PT. Astrindo Satrya Kharisma (Astrindo Travel), dan Sdri. Rezky Gustinawati sering melakukan pemesanan tiket pesawat dan vocher hotel kepada Astrindo Travel untuk keperluan PT. Astra International Managemen.
Pada awalnya pembayaran berjalan tidak ada masalah, namun pada pemesanan tiket untuk bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan Desember 2013 atas nama HENRY KURNIADI, dkk, jumlah tagihan seluruhnya senilai US$ 66,316.00. Pada saat Astrindo Travel melakukan penagihan terhadap PT. Astra International, ternyata pemesanan tiket tersebut bukan untuk keperluan PT. Astra International, melainkan untuk keperluan pribadi Terdakwa HENRY KURNIADI, sehingga PT. Astra International tidak mau melakukan pembayaran atas tiket pesawat dan vocher yang dipesan melalui Sdri. Rezky Gustinawati, sehingga kemudian Astrindo Travel melakukan penagihan langsung kepada Terdakwa.
Terlebih, pada saat Terdakwa HENRY KURNIADI memesan tiket dan vocher hotel, statusnya sudah berhenti menjadi karyawan PT. Astra International sejak bulan Juli 2013, dan Terdakwa HENRY KURNIADI mulai memesan sejak bulan Oktober 2013. Karena antara Sdri. Rezki Gustinawati dan Terdakwa HENRY KURNIADI sudah saling kenal karena sebelumnya teman sesama karyawan PT. Astra International, sehingga ketika Terdakwa HENRY KURNIADI minta tolong untuk dibantu dengan alasan sakit dan harus berobat ke luar negeri sehingga kemudian Sdri. Rezky Gustinawati membantu Terdakwa HENRY KURNIADI dengan mengeluarkan tiket dan vocher hotel.
Dalam memesan tiket dan vocher hotel tersebut Sdri. Rezky Gustinawati tidak memberitahukan kepada PT. Astra International maupun Astrindo Travel karena menurut Sdri. Rezky Gustinawati sifatnya pribadi dan Terdakwa HENRY KURNIADI mengaku telah melakukan konfirmasi kepada Astrindo Travel.
Semua tiket pesawat dan vocher hotel adalah pesanan dari Terdakwa melalui Sdri. Rezky Gustinawaty, antara lain tujuan negara Amerika Serikat, Canada, New Zealand, Jepang dan Korea. Terdakwa menggunakan tiket pesawat dan vocher hotel tersebut adalah untuk keperluan pribadi Terdakwa dan keluarga Terdakwa, dimana pemesanan tersebut pembayarannya dalam waktu 14 hari sampai 30 hari sejak invoice atau tagihan diterbitkan dan harus dibayar melalui Sdri. Rezky Gustinawaty atau langsung kepada Astrindo Travel.
Terdakwa pernah membuat surat pernyataan tertanggal 08 April 2014 dan tertanggal 20 Mei 2014, yang pokoknya menyatakan akan segera menyelesaikan kewajibannya untuk membayar invoice atau tagihan, namun hingga kini Terdakwa tidak juga melunasi kewajibannya.
Akibat peristiwa demikian, Astrindo Travel mengalami kerugian materi dengan jumlah seluruhnya yaitu US$ 66,316.00 atau dengan kurs rupiah saat ini Rp12.120,- per dollarnya sehingga nilai seluruhnya dalam rupiah adalah sekitar Rp803.749.920.
Adapun unsur-unsur Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP adalah sebagai berikut:
- Barang siapa;
- Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum;
- Dengan memakai nama palsu atau martabat paksu dengan tipu-muslihat ataupun dengan rangkaian perkataan bohong;
- Menggerakkan orang lain untuk menyerahkan suatu barang kepadanya atau memberi hutang ataupun menghapuskan hutang.
- Yang melakukan, menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatannya.
Terhadap tuntutan Jaksa, yang kemudian menjadi amar putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 382/Pid.B/2015/PN.Jkt.Utr tanggal 10 Juni 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa HENRY KURNIADI tersebut diatas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan penipuan sebagaimana dalam dakwaan Kesatu, melanggar Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa HENRY KURNIADI oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor:188/PID/2015/PT. DKI tanggal 01 September 2015, dengan amar sebagai berikut:
- Menerima permintaan banding dari Penasihat Hukum Terdakwa tersebut;
- Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 382/Pid.B/2015/PN.Jkt.Ut, tanggal 10 Juni 2015 yang dimintakan banding tersebut;
- Memerintahkan agar Terdakwa tetap ditahan.”
Pihak Terdakwa mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa hubungan / perselisihan hukum antara Terdakwa dan Pelapor adalah perselisihan hukum keperdataan mengenai pemesanan tiket pesawat dan voucher hotel, dimana Terdakwa telah membayar sebagian tagihan tersebut dan sisanya tertunda pembayarannya karena Terdakwa sedang dalam kondisi sakit.
Dengan demikian, hubungan hukum antara Terdakwa dan Pelapor merupakan hubungan / perselisihan hukum hutang-piutang yang merupakan domain / ranah hukum perdata murni. Apalagi Pemohon telah membayar sebagian hutang tersebut kepada penjual dan penjual tiket telah menerima sebagian pembayaran hutang tersebut dari Terdakwa, demikian dalil Terdakwa, tanpa mau mengakui telah mencatut nama perusahaan yang seolah-olah sebagai pemesan tiket.
Dimana terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan kasasi dari Pemohon Kasasi / Terdakwa tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan kasasi Terdakwa tidak dapat dibenarkan karena Judex Facti tidak salah menerapkan hukum dalam mengadili Terdakwa. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 188/Pid/2015/PT.DKI tanggal 01 September 2015 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 382/Pid.B/2015/PN.Jkt. tanggal 10 Juni 2015 yang menyatakan Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan penipuan sebagaimana dakwaan kesatu Penuntut Umum, dibuat berdasarkan pertimbangan hukum yang benar.
“Terdakwa terbukti melakukan tindak penipuan terhadap PT. Astrindo Satrya Kharisma (Astrindo Travel) yang dilakukan Terdakwa dengan cara meminta tolong kepada Rezky Gustinawati, karyawan PT. Astra Internasional yang salah satu tugasnya adalah pemesanan tiket pesawat untuk kepentingan Terdakwa dan keluarganya, seolah-olah pesanan tersebut dari Astra Internasional sehingga ketika Astrindo Satrya Kharisma menangih uang pemesanan tiket tersebut kepada PT. Astra Internasional, PT. Astra Internasional menolak untuk membayarnya karena tidak pernah melakukan pemesanan tiket tersebut sehingga Astrindo Travel mengalami kerugian sebesar US$ 66,316.00 setara dengan Rp803.749.920,00;
“Menimbang, bahwa namun demikian putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 188/PID/2015/PT.DKI tanggal 01 September 2015 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 382/Pid.B/ 2015/PN.Jkt.Utr tanggal 10 Juni 2015 harus diperbaiki sekedar mengenai lamanya pidana yang dijatuhkan, karena Terdakwa telah membayar sebagian dari hutangnya dan membuat Pernyataan Hutang atas hutang yang akan dilunasinya;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi tersebut harus ditolak dengan memperbaiki amar putusan Pengadilan Tinggi tersebut diatas;
M E N G A D I L I :
“Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/TERDAKWA : HENRY KURNIADI tersebut;
“Memperbaiki putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 188/PID/2015/PT.DKI tanggal 01 September 2015, yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 382/Pid.B/2015/PN.Jkt.Utr tanggal 10 Juni 2015, sekedar mengenai lamanya pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa sehingga selengkapnya berbunyi sebagai berikut;
1. Menyatakan Terdakwa HENRY KURNIADI tersebut diatas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan ‘PENIPUAN’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa HENRY KURNIADI oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan