Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Berjemaah Mencabut Keterangan Berita Acara Pemeriksaan

LEGAL OPINION
Question: Kata Pak Hery (SHIETRA & PARTNERS), BAP polisi tidak bisa secara begitu saja dicabut oleh seorang terdakwa, saat dihadapkan ke persidangan? Apa ada kemungkinan lain?
Brief Answer: Selama terdakwa dan para saksi secara kompak mencabut keterangan tertentu dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), maka dapat memberi satu petunjuk pada Majelis Hakim bahwasannya memang kejadian yang disebut dalam BAP tidaklah sah—meski tampak ganjil, karena seakan mempermainkan proses hukum dengan memberi keterangan yang tidak benar untuk kemudian dicabut secara berjemaah, terutama bila pihak-pihak yang mencabut keterangan dalam BAP ialah sesama pelaku (komplotan) kejahatan, yang tentulah tidak objektif dalam memberi keterangan yang meringankan bagi sesama pelaku.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret betapa pencabutan keterangan dalam dalam BAP kerap disalahgunakan oleh komplotan pelaku kriminil, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk pada putusan Mahkamah Agung RI perkara pidana register Nomor 174 K/Pid/2016 tanggal 20 April 2016, dimana Terdakwa didakwa karena telah secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan sengaja melakukan, yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan perbuatan merampas nyawa orang lain, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHP jo. pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Sementara dalam Dakwaan Alternatif Kedua, terdakwa didakwa karena telah secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan sengaja melakukan, yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan perbuatan melukai berat orang lain sehingga mengakibatkan kematian, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (3) KUHP jo. pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Namun, terhadap tuntutan Jaksa, terbit putusan Pengadilan Negeri Manado No. 241/Pid.B/2015/PN.Mnd. tanggal 29 Oktober 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
- Menyatakan terdakwa ROCKY LODEWIJK SANDI ALBERT TIWOW alias ROKY tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh Penuntut Umum pada dakwaan Primair, Subsidair dan Lebih Subsidair;
- Membebaskan Terdakwa ROCKY LODEWIJK SANDI ALBERT TIWOW alias ROKY dari segala dakwaan tersebut;
- Memerintahkan supaya terdakwa segera dikeluarkan dari dalam  tahanan.”
Jaksa Penuntut mengajukan upaya hukum kasasi, berkeberatan karena pengadilan justru membebaskan pelaku, karena para pelaku lainnya mencabut keterangan yang dahulu mereka berikan saat di-BAP pihak penyidik kepolisian. Saksi Ricky Trybill Alexander Tiwow adalah adik kandung dari Terdakwa dan juga sebagai terdakwa dalam berkas tersendiri, sedangkan saksi Atika Putri Engka adalah pacar dari Terdakwa, kemudian di persidangan kedua saksi tersebut memberikan keterangan tidak sesuai dengan keterangan pada tingkat penyidikan. Pada saat disidik oleh polisi, kedua saksi setelah membaca hasil Berita Acara Pemeriksaan, tidak membantah, bahkan kedua saksi menandatangani hasil Berita Acara Pemeriksaan tersebut.
Meskipun dari hasil Visum Et Repertum tidak terdapat tanda kekerasan yang dilakukan terdakwa namun dalam keterangan Ricky Trybill Alexander Tiwow dalam Berita Acara Pemeriksaan menerangkan yang melakukan penikaman terhadap korban adalah dirinya, namun sebelumnya yang lebih dulu melakukan tendangan terhadap korban adalah Terdakwa, dan ketika saksi mengejar korban, Terdakwa mengikuti saksi maupun korban dengan sepeda.
Kemudian saat korban melewati Terdakwa, Terdakwa langsung menendang korban hingga mengena di bagian pinggang korban. Korban sempat kebingungan, karena di belakang ada si pembunuh, sedangkan di depan ada Terdakwa, sehingga korban berupaya meloloskan diri dengan melompat pagar tetapi saat posisi korban memanjat pagar, si pembunuh sudah melakukan penikaman yang mengena pada leher korban sehingga korban langsung jatuh di dalam pagar.
Adapun saksi yang juga merupakan pelaku lainnya, Atika Putri Engka, serta Terdakwa langsung pergi meninggalkan korban dalam posisi tergeletak tidak bergerak. Ricky Trybill Alexander Tiwow, si pembunuh, menerangkan bahwa Terdakwa menendang korban dengan sekuat tenaga dan jarak dirinya dengan Terdakwa kurang lebih 6 meter dan penerangan lampu gelap, tetapi masih bisa melihat.
Atika Putri Engka alias Tika dalam Berita Acara Pemeriksaan menerangkan saat Ricky Trybill Alexander Tiwow mengejar korban, pada saat itu juga Terdakwa hendak mengejar korban namun dirinya melarang tetapi Terdakwa tidak mengindahkan larangan, sehingga Terdakwa langsung tancap gas ikut mengejar korban, sedangkan dirinya tetap berada diatas sepeda motor bersama Terdakwa, kemudian Terdakwa yang masih berada diatas sepeda motor langsung menendang korban sebanyak satu kali sehingga korban sempoyongan, lalu korban kembali melarikan diri dengan cara melompat pagar rumah orang, sampai terjadilah pembunuhan.
Keterangan kedua saksi tersebut menunjukkan bahwa Terdakwa telah turut serta sengaja menyebabkan perasaan tidak enak, rasa sakit dan luka yang menjadikan mati orangnya yang telah dilakukan bersama-sama dengan Ricky Trybill Alexander Tiwow, karena Terdakwa tidak ada upaya untuk menghentikan adanya perbuatan dari Ricky Trybill Alexander Tiwow, yang notabene merupakan adik kandung Terdakwa.
Dimana terhadap fakta yang diurai Jaksa Penuntut, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan permohonan kasasi dri pemohon kasasi / Penuntut Umum tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan permohonan kasasi dari pemohon kasasi / Penuntut Umum tersebut tidak dapat dibenarkan karena putusan Judex Facti / Pengadilan Negeri tidak salah menerapkan hukum yang dengan secara tepat dan benar mempertimbangkan fakta-fakta hukum yang relevan secara yuridis sebagaimana yang terungkap di dalam persidangan berdasarkan alat-alat bukti yang diajukan sesuai dengan ketentuan hukum yaitu ternyata Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah bemelakukan perbuatan yang didakwakan Jaksa / Penuntut Umum, sehingga Terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan Jaksa / Penuntut Umum;
“Bahwa Putusan Judex Facti / Pengadilan Negeri Manado No. 241/Pid.B/2015/PN.Mnd. tanggal 29 Oktober 2015 yang menyatakan Terdakwa ROCKY LODEWIJK SANDI ALBERT TIWOW alias ROKY tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh Penuntut Umum pada dakwaan Primair, Subsidair dan Lebih Subsidair, dan oleh karena itu Terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan Penuntut Umum, dibuat berdasar pertimbangan hukum yang benar, baik pertimbangan peraturan perundang-undangan sebagai dasar pembebasan kepada Terdakwa dari segala dakwaan, maupun pertimbangan peraturan perundang-undangan sebagai dasar hukum putusan;
“Bahwa Terdakwa tidak cukup bukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan, karena Terdakwa meskipun dalam pemidanaan pendahuluan di kepolisian menerangkan ini menendang korban pada saat ia mengejar Ricky Trybill Alexander Tiwow yang saat itu korban setelah berada di dekatnya saat akan melintas di depan sepeda motor yang Terdakwa kendarai bersama pacarnya, Atika Putri Eugka, akan tetapi keterangan Tersebut dicabut demikian pula keterangan Atika Putri dan Ricky Trybill Alexander Tiwow alias Reky, yang semula menerangkan Terdakwa menendang korban, juga keduanya mencabut keterangan yang menyatakan Terdakwa menendang korban;
“Bahwa oleh karena menurut yurisprudensi tetap keterangan Terdakwa yang dicabut dalam hal tidak disertai alasan yang masuk akal, terhadap Terdakwa terdapat petunjuk kesalahan Terdakwa oleh karena petunjuk kesalahan Tersebut tidak disertai alat bukti lain yang sah, maka Terdakwa tidak cukup bukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan kepadanya;
“Bahwa alasan kasasi permohonan kasasi dari pemohon kasasi / Penuntut Umum tidak dapat dibenarkan pula karena berkenaan dengan penilaian hasil pembuktian yang putusannya tidak tunduk pada pemeriksaan pada tingkat kasasi;
“Bahwa putusan Judex Facti tidak bertentangan dengan hukum dan atau Undang-Undang;
“Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana diatas maka terdapat alasan yang cukup untuk menolak permohonan kasasi Jaksa / Penuntut Umum;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: JAKSA / PENUNTUT UMUM PADA KEJAKSAAN NEGERI MANADO tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan