Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pidana Meracun Namun Korban Tidak Sampai Meninggal

LEGAL OPINION
Question: Diberi minuman yang mengandung racun insektisida, meski korban telah meminumnya namun hanya menjadi sakit, tidak sampai jatuh mati, itu dikategorikan pidana apa oleh hakim?
Brief Answer: Sebagai “percobaan pembunuhan berencana” bila korban masih dapat diselamatkan oleh pertolongan medis, dan sebagai “pembunuhan berencana” bila sampai timbul korban jiwa.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret, sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Ngawi perkara pidana register Nomor 78/PID.B/2011/PN.Ngw tanggal 12 Mei 2011, terdakwa didakwa karena telah memasukan racun serangga kedalam minuman, sehingga membahayakan bagi orang lain, sebagai buntut dari kejengkelan yang namun salah sasaran. Dimana terhadap tuntutan Jaksa, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa Terdakwa Puryani binti Sastro Pardi didakwa dengan dakwaan tunggal maka Majelis akan mempertimbangkan unsur-unsur dari pasal yang didakwakan dimana Terdakwa didakwa melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP jo. Pasal 53 ayat (1) KUHP yang unsur-unsurnya sebagai berikut:
1. Barang siapa;
2. Dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain;
3. Percobaan untuk melakukan kejahatan.
“Ad. 2. Unsur Dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain;
“Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan sengaja adalah akibat dari perbuatan itu dikehendaki atau dengan kata lain akibat itu menjadi maksud dan tujuan dari perbuatan yang dilakukan;
“Menimbang, bahwa sedang yang dimaksud dengan direncanakan adalah ada waktu tenang untuk dapat memikirkan cara yang sebaik-baiknya untuk melakukan perbuatannya;
“Maka diketahui bahwa oleh karena pada tanggal 11 Desember 2010 sekira pukul 13.00 WIB telah datang petugas bank titil/bank harian ke rumah saksi Partini dan menawarkan pinjaman uang kepada saksi Partini sebesar Rp.150.000,- sedang Terdakwa yang kemudian mengutarakan maksudnya untuk pinjam, tapi tidak dikabulkan, maka Terdakwa langsung mendongkol dan jengkel kepada saksi Partini.
“Dan selanjutnya setelah mandi dan terdakwa melihat botol racun serangga merk ... 30 EC di rumahnya, maka timbul niat terdakwa untuk meracuni saksi Partini. Kemudian terdakwa mengambil botol yang berisi cairan racun serangga tersebut, dan isinya terdakwa tuangkan kedalam gelas plastik bekas minuman air mineral, selanjutnya obat dibawa Terdakwa ke rumah saksi Partini lewat samping rumah dan masuk lewat pintu belakang rumah saksi Partini yang tidak terkunci.
“Kemudian obat serangga Terdakwa tuangkan ke dalam kendi/tempat air minum yang ada diatas meja makan saksi Partini. Maksud dan tujuan terdakwa menuang racun serangga tersebut agar saksi Partini sakit. Akibat setelah saksi Partini meminum air kendi yang sudah dituangi racun serangga tersebut mulut saksi Partini terasa panas dan esok harinya dibawa ke Puskesmas;
“Menimbang, bahwa dari pertimbangan tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa akibat dari maksud dan tujuan perbuatan terdakwa sudah tercapai, sedang sebetulnya terdakwa punya waktu yang cukup untuk mengurungkan maksud perbuatannya tetapi tetap dilakukan juga oleh terdakwa, dengan demikian unsur ini telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa;
Ad. 3. Unsur Perbuatan untuk melakukan kejahatan.
“Menimbang, bahwa menurut KUHP serta komentar-komentarnya, oleh R. Soesilo, Politea Bogor maka supaya percobaan pada kejahatan dapat dihukum maka harus memenuhi syarat-syarat, niat sudah ada untuk berbuat kejahatan orang sudah memulai berbuat kejahatan dan perbuatan kejahatan itu tidak jadi sampai selesai oleh karena terhalang oleh sebab-sebab yang timbul kemudian, tidak terletak dalam kemauan penjahat itu sendiri;
“Menimbang, bahwa oleh karena maksud hati terdakwa untuk meminjam uang di bank titil/Bank Harian tidak dikabulkan sedang saksi Partini menerima pinjaman Rp.150.000,- maka hati terdakwa merasa dongkol, kesal, jengkel kepada saksi Partini dan selanjutnya ketika dirumahnya terdakwa melihat botol racun serangga merk ... 30 EC, maka diambilah gelas plastik bekas minuman air mineral dan dituanglah racun serangga kedalamnya, kemudian dibawalah obat serangga dalam gelas plastik tersebut ke rumah saksi Partini untuk kemudian dituang dalam kendi/tempat air minum di rumah saksi Partini, maka Partini yang meminum air kendi tersebut terasa pahit dan mulutnya panas ditumpahkanlah air tersebut ke tanah sehingga terhindarlah saksi Partini dari akibat yang lebih parah, dengan demikian unsur ini telah terbukti atas perbuatan terdakwa;
“Menimbang, bahwa oleh karena unsur dalam pasal 340 KUHP jo pasal 53 ayat (1) KUHP telah terbukti maka Majelis berpendapat bahwa terdakwa Puryani binti Sastro Pardi telah terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana: Percobaan Pembunuhan Berencana, oleh karenanya terdakwa harus dinyatakan bersalah dan dihukum;
“Menimbang, bahwa pada diri terdakwa tidak ditemukan alasan pemaaf maupun alasan pembenar sehingga terdakwa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya;
“Menimbang, bahwa sebelum menjatuhkan hukuman kepada terdakwa maka perlu dipertimbangkan keadaan yang memberatkan dan meringankan bagi terdakwa;
Hal-hal yang memberatkan:
- Perbuatan terdakwa mengancam jiwa/nyawa saksi Partini;
Hal-hal yang meringankan:
- Terdakwa bersikap sopan dan jujur dalam persidangan;
- Terdakwa belum pernah dihukum;
- Terdakwa ibu rumah tangga yang mempunyai tanggungan anak kecil;
M E N G A D I L I :
- Menyatakan terdakwa PURYANI Binti SASTRO PARDI telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Percobaan pembunuhan berencana’;
- Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan;
- Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
- Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan