Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Sita Eksekusi Atas Nilai Objek Secara Tidak Proporsional

LEGAL OPINION
Telaah Eksekusi Terhadap Grub Usaha, Subjek Hukum-Subjek Hukum yang Saling Terafiliasi Guna Rasionalisasi Eksekusi
Question: Apa mungkin terjadi, aset perusahaan disita dieksekusi oleh pengadilan, karena dinyatakan kalah melawan gugatan buruh, dimana perusahaan telah dihukum membayar pesangon yang nilainya tidak seberapa, sementara nilai tersebut tidak sebanding bila dibandingkan dengan nilai aset perusahaan yang disita?
Brief Answer: Pada prinsipnya, putusan pengadilan wajib dihormati dan dilaksanakan oleh para pihak yang terkait putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. Perihal besar atau kecilnya nominal yang disebutkan dalam amar putusan, sebanding atau tidaknya dengan aset pihak yang kalah yang dapat disita dan dieksekusi, tidak relevan untuk dipermasalahkan sepanjang pihak yang dihukum belum memenuhi isi amar putusan secara layak dan patut. SOP yang berlaku di pengadilan, biasanya eksekusi didahului oleh teguran (aanmaning), yang mana bila tidak diindahkan barulah eksekusi dilangsungkan.
Lebih jauh lagi, pernah terjadi, eksekusi pengadilan dapat dilakukan juga terhadap entitas badan hukum lain yang masih satu grub usaha dengan tereksekusi, sehingga menjelma sebentuk eksekusi hukum yang menyerupai “subsidi silang” antar badan usaha yang dimiliki oleh pemilik (owner) yang sama.
PEMBAHASAN:
Guna memudahkan pemahaman, SHIETRA & PARTNERS merujuk pada putusan Mahkamah Agung RI sengketa perlawanan terhadap eksekusi, register Nomor 2802 K/Pdt/2008 tanggal 14 Agustus 2009, perkara antara:
- SHINE HILL LIMITED, selaku pemegang saham mayoritas pada PT. Kalimanis Plywood Industries dan PT. Santi Murni Plywood, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Pelawan; melawan
- HERMIN KALEMBANG dkk, KUMANAJI  dkk, SUMIYANI,dDkk, para pekerja selaku Pemohon eksekusi, d/a. Serikat Pekerja / Serikat Buruh pada PT. Kalimanis Plywood Industries, SP/SB PT. Gany Mulya Sejahtera Industrie SP/SB. PT Kalhold Utama, selaku Para Termohon Kasasi dahulu para Terlawan.
Terlawan yang berjumlah + 4.590 orang semula bekerja selaku karyawan pada PT. Kalimanis Plywood Industries, PT. Gany Mulya Sejahtera Industries, PT. Santy Murni Plywood, dan PT. Kalhold Utama, yang oleh pekerja maupun masyarakat disebut sebagai PT. Kalimanis Group.
Sejak terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia sekitar tahun 1997, perusahaan-perusahaan pada PT. Kalimanis Plywood Industries, PT. Gany Mulya Sejahtera Industries, PT. Santy Murni Plywood dan PT. Kalhold Utama, mengalami kesulitan keuangan dan operasional yang berdampak terganggu  / terhambatnya operasional perusahaan-perusahaan dimaksud dan akhirnya sekitar tahun 2002, berhenti dan tidak mampu lagi melanjutkan operasional termasuk tidak mampu menyelesaikan kewajiban-kewajiban kepada kreditur, pihak ketiga dan karyawan.
Pada tahun 2004, Terlawan (para Pekerja) mengajukan permohonan penyelesaian masalah ketenagakerjaan melalui P4D di Samarinda dan sampai keluarnya Putusan P4P (kini Pengadilan Hubungan Industrial) tanggal 08 Juni 2004.
Pelawan (Shine Hill Limited) adalah pemegang saham mayoritas pada PT. Santi Murni Plywood, PT. Kalimanis Plywood Industries, dimana Pelawan telah membeli dan mengambil alih aset-aset berikut hutang piutang PT. Santi Murni Plywood, PT. Kalimanis Plywood Industrie, dengan Akta penegasan Jual Beli Saham tertanggal 14 Mei 2004, maka Pelawan adalah pemilik sah dari asset-asset PT. Santi Murni Plywood, PT. Kalimanis Plywood Industries.
Terlawan berbekal Putusan P4P, mengajukan permohonan Pelaksanaan Putusan P4P ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sehingga Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengeluarkan penetapan tanggal 23 Februari 2005, yang melimpahkan pelaksanaan eksekusi P4P tersebut kepada Ketua Pengadilan Negeri Samarinda.
Selanjutnya Ketua Pengadilan Negeri Samarinda mengeluarkan Penetapan Sita Eksekusi tanggal 08 Agustus 2006 yang pelaksanaan Sita Eksekusi dilakukan pada tanggal 22 Agustus 2006 dan 23 Agustus 2006 terhadap aset-aset (harta milik) PT. Santi Murni Plywood Industries, baik berupa barang tetap (tanah dan bangunan) maupun terhadap barang tidak bergerak (mesin utama, mesin-mesin produksi, alat berat, kapal Penarik (tug boat dan Pontoon) sebagaimana tertuang dalam Berita Acara Sita Eksekusi No. 07/Pdt.Del/2005/PN.Smda 22 Agustus 2006 dan 23 Agustus 2006.
Pelawan selaku pemilik saham mayoritas pada PT. Santi Murni Plywood, PT. Kalimanis Plywood Industries, dan PT. Kalimanis Plywood Industries menyatakan keberatan dan mengajukan perlawanan (verzet) terhadap Sita Eksekusi yang dilakukan oleh Jurusita Pengadilan Negeri, dengan alasan bahwa Pekerja selaku pihak dalam perkara tidak jelas kedudukan hukumnya, berapa orang dan siapa saja pekerja di PT. Kalimanis Plywood Industries, berapa orang dan siapa saja pekerja di PT. Gani Mulya Sejahtera Industries, dan berapa orang dan siapa saja pekerja di PT. Kalhold Utama, sebab hubungan hukum antara pekerja dengan objek hukum yang disita eksekusi harus jelas menurut hukum oleh karena kekayaan dan managemen tiap-tiap perusahaan selaku badan hukum terpisah–pisah.
Putusan pengadilan ketenagakerjaan yang menyatakan salah satu pihak berperkara adalah KALIMANIS GROUP, adalah keliru dan kabur sebab secara hukum tidak pernah ada subyek hukum yang bernama PT. KALIMANIS GROUP yang merupakan istilah untuk kumpulan Kelompok Usaha, sehingga tuntutan Terlawan (selaku Pekerja) yang dibenarkan oleh P4P dalam putusannya, menjadi keliru tentang Pihak (subyek hukum) yang dihukum untuk memenuhi amar putusan pengadilan ketenagakerjaan.
Kekayaan tiap badan hukum, masing-masing saling berdiri sendiri sebagai subjek hukum, masing-masing terpisah kekayaan serta hak dan kewajibannya sebagaimana diatur Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas, sehingga tidak ada hubungan hukum antara Pekerja PT. Santi Murni Plywood dengan PT. Kalimanis Plywood Industries, demikian pula sebaliknya, oleh karenanya obyek sita eksekusi tidak jelas untuk kepentingan siapa sita dilaksanakan.
Oleh karena Putusan pengadilan ketenagakerjaan tanggal 08 Juni 2004 telah terdapat kekeliruan tentang subyek hukum yang berperkara dengan menyatakan dan menghukum KALIMANIS GROUP, yang tidak dikenal dan tidak pernah ada menurut hukum serta tidak jelasnya Pihak Pekerja disebutkan mewakili badan hukum-badan hukum yang mana, maka putusan demikian adalah tidak memenuhi syarat yuridis untuk dilaksanakan (non executable).
Terhadap perlawanan Pelawan, Pengadilan Negeri Samarinda kemudian menjatuhkan putusan No. 65/Pdt.G/2006/PN.SMD, tanggal 1 Agustus 2007, dengan amar sebagai berikut :
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara :
- Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang tidak benar;
- Menolak Perlawanan Pelawan untuk seluruhnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Pelawan, putusan Pengadilan Negeri diatas kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Samarinda dengan putusan No. 27/Pdt/2008/PT.KT.SMDA, tanggal 28 Mei 2008.
Pelawan mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa Kalimanis Group bukanlah badan hukum (bukan rechtspersoon, bukan pula legal entity) sehingga tidak dapat menjadi atau dijadikan subyek hukum. Putusan pengadilan ketenagakerjaan justru menetapkan Kalimanis Group sebagai terhukum, dimana dalam putusan dimaksud Kalimanis Group dihukum meski bukan merupakan badan hukum ataupun subyek hukum yang dikenal dalam sistem hukum di Indonesia.
Putusan pengadilan ketenagakerjaan juga tidak menguraikan dengan jelas bagaimana hubungan hukum masing-masing Terlawan selaku pihak pekerja dengan masing-masing badan hukum (perseroan) tempatnya bekerja, yakni apakah karyawan bersangkutan bekerja pada PT. Kalimanis Plywood Industries, PT. Gany Mulya Sejahtera Industries, PT. Santi Murni Plywood, ataukah bekerja pada PT. Kalhold Utama.
PT. Kalimanis Plywood Industries, PT. Gany Mulya Sejahtera Industries, PT. Santi Murni Plywood serta PT. Kalhold Utama hanya mempunyai hubungan hukum dengan pekerjanya masing-masing. Pelawan menguraikan pula, jumlah Terlawan yang semula berjumlah 4.509 orang kini hanya tersisa 578 orang, karena sekitar 3.931 orang diantaranya telah menerima kompensasi Pemutusan Hubungan Kerja dari Pelawan yang pembayarannya dilakukan melalui Dinas Tenaga Kerja Kota Samarinda. Jumlah tersebut terus berkurang karena setiap hari selalu ada yang menerima PHK dari PT. Kalimanis Plywood industries dan PT. Santi Murni Plywood sesuai Kesepakatan Bersama.
Ternyata nilai obyek yang disita berdasarkan Sita Eksekusi, nilainya mencapai ratusan milyar rupiah, sangat berlebihan dan tidak proporsional dengan jumlah tuntutan pekerja yang hanya beberapa milyar rupiah. Penyitaan yang tidak proporsional ini, terutama disebabkan oleh kekeliruan dalam putusan pengadilan ketenagakerjaan yang membuat rancu hubungan hukum antara Tertawan dengan masing-masing badan hukum perseroan tempat para pekerja tersebut bekerja.
Kelirunya merumuskan hubungan hukum antara Terlawan dengan masing-masing perseroan, menyebabkan kekeliruan pula dalam pelaksanaan Sita Eksekusi oleh Pengadilan Negeri Samarinda. Buktinya, berdasarkan Surat Dinas Tenaga kerja Kota Samarinda tanggal 26 November 2007 tentang Jumlah Eks Pekerja PT. Kalimanis Plywood Industries dan PT. Santi Murni Plywood, yang belum menerima keputusan untuk di-PHK, Terlawan yang mempunyai hubungan hukum dengan PT. Kalimanis Plywood Industries hanya 4 orang dengan nilai tuntutan hanya sekitar puluhan juta, namun nilai obyek yang disita oleh Pengadilan Negeri Samarinda untuk memenuhi tuntutan tersebut ternyata berjumlah puluhan milyar rupiah.
Dengan demikian tidak proporsional menyesuaikan nilai sita dan tuntutan adalah tindakan yang sewenang-wenang disamping berlebihan. Dimana terhadap berbagai argumentasi pihak Tereksekusi, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan-keberatan ini tidak dapat dibenarkan karena putusan Pengadilan Tinggi / judex facti yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri sudah tepat dan benar yaitu tidak salah menerapkan hukum atau melanggar hukum yang berlaku;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, lagipula ternyata bahwa putusan judex facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi : PT. SHINE HILL LIMITED tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : PT. SHINE HILL LIMITED tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan