Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kekerasan Bukan Unsur Mutlak dalam Pidana Perampokan

LEGAL OPINION
Question: Misal ada orang datang mau mencuri, tapi bawa senjata api atau senjata tajam. Pencurian berhasil, namun tak ada korban jiwa yang jatuh, terluka pun tidak. Itu masuknya, pencurian atau perampokan? Kan, ngak ada yang terluka. Lalu jika pelakunya dua orang, apa sudah pasti keduanya dijatuhi hukuman yang sama lamanya?
Brief Answer: Kata kuncinya, selama korban menjadi terancam oleh keberadaan senjata tajam atau senjata api yang dibawa oleh pelaku, maka kualifikasi delik perampokan telah terjadi secara sempurna, entah perampokan tersebut akan berhasil atau gagalnya kemudian.
Dalam delik pidana perampokan, unsurnya bersifat alternatif, antara “kekerasan” atau “ancaman kekerasan”. Pelaku yang menjadi pelopor kejahatan sekaligus pelaku ketika beraksi, biasanya akan dipertimbangkan hakim sebagai faktor yang memberatkan ketika menjatuhkan vonis—dapat berupa ide, ajakan, suruhan, usulan, dorongan, pendanaan, dsb.
PEMBAHASAN:
Untuk memudahkan pemahaman, SHIETRA & PARTNERS untuk itu akan merujuk ilustrasi putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung perkara pidana perampokan register Nomor 749/Pid.B/2015/PN.Blb. tanggal 27 Oktober 2015, dimana Terdakwa didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dengan Dakwaan Tunggal, telah melakukan suatu tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 365 ayat (2) ke 2 KUHP, yang mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
a. Barang Siapa;
b. Mengambil Sesuatu Barang/Benda;
c. Yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain;
d. Dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum;
e. Yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.
f. Dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu.
Bermula pada tanggal 08 Maret 2015 sekitar pukul 13.00 WIB, Terdakwa bersama-sama dengan KISWANTO alias WANTO alias DODI bin KISWANDI dan Sdr. WAWAN alias DENI serta Sdr. ENDU bertempat di Toko Mas Barokah di Kabupaten Bandung Barat, telah melakukan perampokan dan mengambil barang berupa emas berbagai bentuk yang ada di etalase dan mengambil uang dalam brankas di toko.
Awalnya Terdakwa yang telah memiliki gambaran Toko Mas yang akan dirampok, selanjutnya Terdakwa meminta bantuan kepada DEDEN untuk memperkenalkan teman DEDEN yang mau diajak oleh Terdakwa untuk melakukan perampokan, kemudian Terdakwa dikenalkan kepada WAWAN.
Selanjutnya WAWAN datang ke rumah Terdakwa dan melakukan pemantauan terhadap lokasi Toko Mas yang ditunjukkan oleh Terdakwa. Selanjutnya WAWAN menghubungi KISWANTO alias WAWAN dan meminta untuk mencari orang yang bisa membantu dengan menyediakan perahu untuk melarikan diri dan menghubungi ENDU untuk menyiapkan senjata api.
Terdakwa bersama KISWANTO, kemudian melakukan pemantauan jalan untuk melarikan diri, kemudian setelah semua siap Terdakwa kembali pulang ke rumahnya. Tanggal 27 Pebruari 2015, Terdakwa bersama WAWAN menemui KISWANTO dan H. ALI ASEP NUROHMAN untuk mengambil motor, Jacket hitam dan sarung tangan hitam yang akan dipakai nanti pada saat melakukan perampokan.
Setelah semua rencana disiapkan, Terdakwa bersama ENDU dengan mengendarai sepeda motor yang telah ditimpal dengan spotlight hitam tanpa nomor polisi serta KISWANTO berboncengan dengan WAWAN, masing-masing membawa senjata api berangkat menuju lokasi Toko Mas yang menjadi target.
KISWANTO dan WAWAN tiba pertama di Toko Mas Barokah dan langsung mereka menodongkan senjata api kepada para Karyawan Toko Mas Barokah, selanjutnya datang Terdakwa bersama ENDU dan langsung masuk ke dalam toko, selanjutnya membuka etalase toko yang berisi emas berbagai bentuk dan memasukan emas-emas tersebut ke dalam tas yang sudah dipersiapkan / dibawa serta memasukkan sebagaian emas-emas yang diambilnya tersebut ke dalam saku celananya Terdakwa.
Perbuatan Terdakwa juga diikuti oleh saksi KISWANTO dan WAWAN dengan membuka brankas dan mengambil uang didalamnya. Setelah menguras emas dalam etalase dan uang dalam brankas, Terdakwa bersama temannya sebelum keluar dari Toko Mas tersebut telah menembakkan senjata api ke udara dan menembak ban mobil yang sedang parkir di depan Toko Mas Barokah, kemudian Terdakwa bersama teman-temannya melarikan diri menuju Dermaga Curug Gunung Saguling.
Disana mereka (Terdakwa dan teman-temannya) telah ditunggu oleh H. ALI ASEP NUROHMAN dan selanjutnya KISWANTO, ENDU dan WAWAN menyeberang ke Maroko Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat, sementara Terdakwa pergi menuju daerah Cipatat untuk mengamankan diri.
Atas perbuatan Terdakwa bersama rekan-relammua, korban Pemilik Toko Mas Barokah mengalami kerugian sebesar Rp. 2.000.000.000,-. Terhadap tuntutan jaksa, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan sebagaimana tersebut diatas ternyata barang-barang berupa emas berbagai bentuk yang tersimpan dalam etalase Toko dan uang dalam brankas seluruhnya atau sebagian bukan kepunyaan Terdakwa dan teman-temannya, tetapi barang-barang tersebut (emas dan uang) adalah milik ... (Pemilik Toko Mas Barokah) dan berdasarkan keterangan saksi korban, jumlah emas seluruhnya adalah kurang lebih sekitar 8,5 Kg, sehinggga jumlah kerugian seluruhnya (emas dan uang dalam brankas) kurang lebih sekitar Rp. 2.000.000.000,-.
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta dan alasan tersebut diatas, maka unsur ke tiga (ad.c) ‘Yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain’ telah pula terpenuhi;
Ad.d. ‘Dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum’;
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan ternyata kesengajaan dan maksud Terdakwa serta teman-temannya (yaitu KISWANTO, WAWAN, dan ENDU) yang telah mengambil barang berupa emas bebagai bentuk dalam etelase dan uang dalam tersebut dilakukan dengan cara pembagian tugas dengan cara-cara sebagaimana tersebut diatas, dimana Terdakwa dan teman-temannya tersebut sudah mengetahui dan menyadari kalau mengambil dan memiliki barang tersebut yang dilakukan dengan cara yang demikian seperti yang telah Terdakwa dan teman-temannya lakukan adalah bertentangan dengan hukum, akan tetapi Terdakwa dan teman-temannya tetap saja melaksanakan / melakukan perbuatan tersebut;
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta dan alasan tersebut diatas, maka unsur ke empat (ad.d) ‘Dengan maksud untuk memliki secara melawan hukum’ telah pula terpenuhi oleh perbuatan Terdakwa tersebut;
Ad.e. ‘Yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan’;
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas ternyata perbuatan Terdakwa dan teman-temannya tersebut untuk dapat mengambil barang-barang berupa emas berbagai bentuk dalam etalase dan uang dalam brankas tersebut dilakukan dengan diawali, disertai dan diikuti ancaman kekerasan dengan cara sebagai berikut:
- Bahwa KISWANTO dan WAWAN tiba pertama di Toko Mas Barokah dan langsung mereka menodongkan senjata api kepada karyawan Toko Mas Barokah, selanjutnya datang Terdakwa bersama ENDU dan langsung masuk ke dalam Toko Mas Barokah, selanjutnya membuka etalase toko yang berisi emas berbagai bentuk dan memasukan emas-emas tersebut ke dalam tas yang sudah dipersiapkan;
- Bahwa perbuatan Terdakwa juga diikuti oleh KISWANTO dan WAWAN dengan membuka brankas dan mengambil uang di dalam brankas tersebut;
- Bahwa setelah menguras emas dalam etalase dan uang dalam brankas lalu Terdakwa bersama temannya sebelum keluar dari Toko Mas tersebut telah menembakkan senjata api ke udara dan menembak ban mobil yang sedang parkir di depan Toko Mas Barokah, kemudian Terdakwa bersama teman-temannya tersebut lalu pergi;
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta dan alasan tersebut diatas, maka unsur ke lima (ad.e) ‘Yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan’ telah pula terpenuhi;
Ad. f. ‘Dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu’;
“Menimbang, bahwa untuk pembuktian pencurian yang dilakukan secara bersekutu oleh dua orang atau lebih adalah cukup, bahwa perbuatan itu telah dilakukan dan mereka secara langsung turut serta melakukannya, tidak perlu ternyata berapa bagian yang dilakukan oleh mereka (Terdakwa) masing-masing sebagaimana halnya dalam perkara ini (HR.1 Desember 1902);
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan ternyata perbuatan perampokan Toko Mas Barokah tersebut dilakukan oleh Terdakwa tidak sendirian melainkan dilakukan bersama teman-temannya yaitu KISWANTO, WAWAN, dan ENDU dengan pembagian tugas yang telah dibicarakan sebelumnya dan masing-masing menjalankan tugas sesuai dengan yang direncanakan sebagaimana tersebut diatas;
“Menimbang, bahwa oleh karena diantara mereka (Terdakwa dan teman-temannya) telah ada kesepakatan untuk melakukan perbuatan tersebut, sebagaimana yang dikehendaki oleh mereka, maka disini telah terjadi persekutuan dan adanya kerja sama diantara mereka (Terdakwa dan teman-temannya) tersebut diatas;
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta dan alasan tersebut diatas, maka unsur ke enam (ad.f) ‘Dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu’ telah pula terpenuhi;
“Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur yang terkandung dalam Dakwaan tersebut telah terpenuhi oleh perbuatan Terdakwa, sehingga dengan demikian kepada Terdakwa harus dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam Pasal 365 ayat (2) ke 2 KUHP;
“Menimbang, bahwa sebelum menjatuhkan pidana kepada Terdakwa, terlebih dahulu akan dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan, yaitu sebagai berikut:
Hal-hal yang memberatkan :
- Perbuatan Terdakwa meresahkan masyarakat;
- Perbuatan Terdakwa merugikan orang lain, yang dalam hal ini adalah saksi H. NANDANG ABDUL LATIP sebagai Pemilik Toko Mas Barokah;
- Dalam melakukan aksinya Terdakwa bersama teman-temannya tersebut dapat membahayakan nyawa orang lain karena masing-masing membawa senjata api;
- Terdakwa sebagai pencetus atau otak dilakukannya tindak pidana tersebut;
- Terdakwa telah menikmati hasil perbuatannya;
Hal-hal yang meringankan :
- Terdakwa bersikap sopan dipersidangan dan mengaku secara terus terang tentang perbuatan yang dilakukannnya;
- Terdakwa mempunyai tanggungan keluarga anak dan isteri;
“Menimbang, bahwa berdasarkan hal-hal yang memberatkan dan hal yang meringankan seperti tersebut diatas, selanjutnya Majelis Hakim akan melihat dan mempertimbangkan pula tentang kadar kesalahan Terdakwa yang terungkap dipersidangan, apalagi kalau dikaitkan dengan berbagai pertimbangan konsep keadilan yang pada pokoknya penjatuhan hukuman kepada Terdakwa adalah harus disesuaikan dengan tingkat kesalahan peran Terdakwa dalam tindak pidana yang terjadi, apalagi disini Terdakwa adalah sebagai pencetus atau otak dari tindak pidana yang dlakukannya tersebut, sehingga keadaan seperti itu akan pula dijadikan pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus berat ringannya penjatuhan pidana kepada Terdakwa;
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan Terdakwa NANDANG PERMANA alias ENDANG bin ASEP SAEPUDIN, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Pencurian Dengan Kekerasan Secara Bersama-Sama’; [Note SHIETRA & PARTNERS: Semestinya ‘Pencurian dengan ancaman kekerasan'.]
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa tersebut diatas, oleh karena itu dengan pidana penjara selama : 6 (ENAM) TAHUN.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan