Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kekayaan Pendiri Vs. Kekayaan Badan Hukum Perseroan

LEGAL OPINION
Question: Ada salah seorang diantara para pendiri perusahaan (berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas) kami, yang memberi inbreng sebagai aset perusahaan berupa sebidang tanah untuk membangun kantor operasional dan pabrik. Tiba-tiba saja saat ini kantor kami disita oleh pengadilan karena ada sengketa antara suatu pihak dengan salah seorang pendiri perusahaan kami. Bukankah mestinya objek tanah telah jadi milik perusahaan, mengapa bisa disita pihak lain yang tidak ada sangkut-paut dengan perusahaan?
Brief Answer: Jika badan hukum telah resmi dan sah berdiri lewat diterbitkannya Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum oleh otoritas yang berwenang, artinya status badan hukum telah valid sebagai subjek hukum yang berdiri sendiri secara tunggal dan mandiri (legal entity & rechts persoon), terpisah dari kekayaan, hak, dan kewajiban para pendirinya.
PEMBAHASAN:
Terdapat ilustrasi kasus serupa yang telah diberikan putusan, sebagaimana SHIETRA & PARTNERS dapat merujuk pada putusan Mahkamah Agung sengketa perdata register Nomor 494 PK/Pdt/2002 tanggal 8 Agustus 2006, perkara antara:
- PT. SETIAWAN DWI TUNGGAL, sebagai Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Pembantah; melawan
- 16 (enam belas) orang warga negara, selaku Para Termohon Peninjauan Kembali dahulu Para Terbantah I s/d XV.
Pembantah adalah pemegang hak/pemilik atas bidang-bidang tanah beserta bangunan yang berdiri diatasnya, sebagaimana terurai dalam penetapan Pengadilan Negeri Tangerang No. 47/DEL/PEN.CB/1995/PN.TNG jo. No. 180/PDT.G/1995/PN.JKT.UT. tanggal 30 Nopember 1995, tertulis atas nama PT. Setiawan Dwi Tunggal (Pembantah).
Namun kemudian bidang-bidang tanah tersebut telah diletakkan sita jaminan oleh Pengadilan Negeri Tangerang. Peletakkan sita jaminan tersebut didasarkan atas adanya perkara gugat-menggugat di Pengadilan Negeri Jakarta Utara antara Terbantah I s/d VII melawan Terbantah VII s/d Terbantah XV, dalam perkara No. 180/PDT.G/1995/PN.JKT.UT.
Namun, sita jaminan setelah secara keliru justru diletakkan atas tanah hak/milik Pembantah, padahal Pembantah bukanlah pihak dalam perkara tersebut dan karena selain tidak mempunyai hubungan hukum, baik dengan Terbantah I s/d VII, maupun Terbantah VII s/d XV, tanah tersebut telah Pembantah bebaskan dan telah mendapatkan hak berupa Sertifikat-Sertifikat Hak Guna Bangunan dari Badan Pertanahan Kabupaten Tangerang.
Oleh karena tanah-tanah yang telah diletakan sita jaminan terbukti milik Pembantah, sedangkan Pembantah tidak pernah menjadi salah satu pihak dalam perkara No. 180/Pdt.G/1995/PN.Jkt.Ut., karenanya tidak mempunyai hubungan hukum baik dengan Terbantah I s/d VII maupun dengan Terbantah VIII s/d XV, maka sita jaminan adalah salah alamat, sehingga haruslah diangkat.
Terhadap perlawanan yang diajukan Pembantah, yang menjadi amar putusan Pengadilan Negeri Tangerang No. 66/Pdt/Bth/1996/PN.Tng. tanggal 2 September 1996 adalah sebagai berikut :
1. Mengabulkan Bantahan Pembantah seluruhnya;
2. Menyatakan Pembantah adalah Pembantah yang benar;
3. Menyatakan bahwa Pembantah adalah pemegang hak/pemilik atas: Sebidang tanah luas ...;
4. Membatalkan Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang No. 47/DEL/PEN.CB/1995/PN.TNG. jo No. 180/PDT.G/1985/PN.JKT.UT. tanggal 9 Nopember 1995;
5. Memerintahkan Panitera/Juru Sita Pengadilan Negeri Tangerang untuk mengangkat sita jaminan yang telah diletakkan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang No. 47/DEL.CB/1995/PN.TNG jo. No. 180/PDT.G/1995/PN.JKT.UT. tanggal 9 Nopember 1995 jo. Berita Acara Penyitaan Jaminan No. 47/BA/DEL.CB/1995/PN.TNG. jo. No. 180/ PDT.G/1995/PN.JKT.UT. tanggal 30 Nopember 1995, sepanjang menyangkut tanah-tanah hak/milik Pembantah;
6. Menyatakan putusan dalam perkara ini dapat dijalankan terlebih dahulu walaupun ada upaya verzet, banding maupun kasasi (uitvoerbaar bij voorraad).”
Dalam tingkat banding, yang menjadi putusan Pengadilan Tinggi Bandung No. 618/Pdt/1996/PT.Bdg. tanggal 27 Januari 1997 adalah sebagai berikut :
- Menerima permohonan banding dari kuasa para Pembanding, semula Para Terbantah VIII, IX, X, XI, XII, XIII, XIV dan XV tersebut;
- Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Tangerang, Nomor 66/Pdt.Bth/1996/PN.Tng., tertanggal 2 September 1996, yang dimohonkan banding dengan;
MENGADILI SENDIRI :
DALAM POKOK PERKARA :
- Menyatakan Pembantah adalah Pembantah yang tidak benar;
- Menolak bantahan Pembantah untuk seluruhnya;
- Menyatakan sah dan berharga sita jaminan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 180/Pdt/G/1995/PN.JKT.UT., tanggal 6 Nopember 1995 jo. Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor 47/Del/Pen.CB/1995, sesuai dengan berita acara sita jaminan Nomor 47.BA/Del.CB/1995/PN.Tng. jo. Nomor 180/Pdt/G/1995/PN.Jkt.UT. tanggal 30 Nopember 1995, terhadap tanah-tanah sengketa dalam perkara ini.”
Dalam tingkat kasasi, amar putusan Mahkamah Agung RI No. 2618 K/PDT/1997 tanggal 28 Juni 2000 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : PT. SETIAWAN DWI TUNGGAL tersebut.”
Badan hukum Perseroan mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut, Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa alasan-alasan tersebut dapat dibenarkan, dengan pertimbangan sebagai berikut :
1. Bahwa, sekalipun pada dasarnya keberatan Peninjauan Kembali itu dalam kasus ini ditujukan terhadap Putusan Pengadilan Tinggi, tetapi karena putusan kasasinya tersebut menolak kasasi, sehingga berarti putusan Pengadilan Tinggi itu yang berlaku, maka keberatan-keberatan Peninjauan Kembali dapat ditujukan pada isi putusan Pengadilan Tinggi yang dianggap keliru;
2. Bahwa dalam permohonan Peninjauan Kembali, Pemohon Peninjauan Kembali menyampaikan bukti baru antara lain PK-1 berupa Kutipan Daftar Keputusan Menteri Kehakiman tertanggal 20 Oktober 1983 No. C.2-6916.HT.01.01.TH.83 tentang Penetapan Persetujuan Atas Akta Pendirian PT. Setiawan Dwi Tunggal (Pemohon Peninjauan Kembali/ Pembantah);
3. Berdasarkan bukti baru tersebut, maka terdapat kekeliruan yang nyata dalam putusan/pertimbangan hukum Pengadilan Tinggi yang telah dikuatkan oleh putusan Kasasi Mahkamah Agung, yaitu bahwa oleh karena PT. Setiawan Dwi Tunggal telah mendapat pengesahan dari Departemen Kehakiman, maka asset PT. Setiawan Dwi Tunggal tersebut terpisah dari harta kekayaan Para Pemegang Saham;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas menurut Mahkamah Agung terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali : PT. SETIAWAN DWI TUNGGAL dan membatalkan putusan Mahkamah Agung No. 2681 K/Pdt/1997 tanggal 28 Juni 2000 yang menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung No. 618/Pdt/1996/PT.Bandung tanggal 27 Januari 1997 yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Tangerang No. 66/Pdt.Bth/1996/PN.Tng. tanggal 2 September 1996 serta Mahkamah Agung akan mengadili kembali perkara ini dengan amar sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini;
“Menimbang, bahwa oleh karena Para Termohon Peninjauan Kembali adalah pihak yang kalah, maka dihukum untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan dan dalam peninjauan kembali;
“Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang No. 4 tahun 2004 dan Undang-Undang No. 14 tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 tahun 2004 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;
M E N G A D I L I :
“Mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali : PT. SETIAWAN DWI TUNGGAL, tersebut;
“Membatalkan putusan Mahkamah Agung No. 2681 K/Pdt/1997 tanggal 28 Juni 2000 yang menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung No. 618/Pdt/1996/PT.Bandung tanggal 27 Januari 1997 yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Tangerang No. 66/Pdt.Bth/1996/PN.Tng. tanggal 2 September 1996;
MENGADILI KEMBALI :
DALAM POKOK PERKARA :
1. Mengabulkan bantahan Pembantah sebahagian;
2. Menyatakan Pembantah adalah Pembantah yang benar;
3. Menyatakan bahwa Pembantah adalah pemegang hak/pemilik atas : Sebidang tanah luas ...;
4. Membatalkan Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang No. 47/DEL/PEN.CB/1995/PN.TNG. jo. No. 180/PDT.G/1985/PN.JKT.UT. tanggal 9 Nopember 1995;
5. Memerintahkan Panitera/Juru Sita Pengadilan Negeri Tangerang untuk mengangkat sita jaminan yang telah diletakkan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang No. 47/DEL.CB/1995/PN.TNG jo. No. 180/PDT.G/1995/PN.JKT.UT. tanggal 9 Nopember 1995 jo. Berita Acara Penyitaan Jaminan No. 47/BA/DEL.CB/1995/PN.TNG. jo. No. 180/PDT.G/1995/PN.JKT.UT. tanggal 30 Nopember 1995, sepanjang menyangkut tanah-tanah hak/milik Pembantah.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan