Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Larangan Alih-Sewa Kendaraan Rental

LEGAL OPINION
Question: Kontrakkan rumah tidak boleh dialih-sewakan kepada orang lain. Bagaimana dengan mobil yang disewa dari rental, apa juga adalah larangan serupa?
Brief Answer: Resikonya tinggi, jika orang yang Anda berikan sewa kendaraan yang Anda sendiri menyewa kendaraan tersebut dari pihak rental, kemudian menggelapkan kendaraan tersebut, maka pihak rental pemilik kendaraan dapat mempidana Anda meski pelaku penggelapan sebenarnya ialah orang yang Anda berikan alih-sewa.
Dalam kasus alih-sewa rumah / kediaman, jarang terdengar kasus pidana terhadap praktik alih-sewa, karena benda tidak bergerak tidak memiliki karakter untuk digelapkan—dalam konteks hak atas tanah, ‘penguasaan secara fisik’ berbeda dengan ‘penguasaa secara yuridis’. Berbeda dengan karakter benda bergerak, sehingga faktor resiko ini perlu untuk dipahami.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi kasus berikut dapat memberikan pemahaman, sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Mungkid perkara pidana register Nomor 155/Pid.B/2014/PN.Mkd. tanggal 25 November 2014, dimana Terdakwa menyewa sebuah mobil rental, yang lalu dipinjamkan kepada kawannya, dimana ketika Terdakwa meminta agar mobil tersebut dikembalikan padanya, namun sang kawan tak dapat memberikan karena mobil tersebut dipinjamkan lagi olehnya kepada pihak lain yang tidak pernah kembali sehingga Terdakwa ditangkap pihak berwajib.
Dengan demikian Jaksa mendakwa bahwa Terdakwa telah melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, sebagaimana diatur dan diancam pidana berdasar Pasal 372 KUH Pidana jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.
Jaksa menyebutkan, diri Terdakwa telah mengetahui mobil rental tidak diperbolehkan dipindah-tangankan atau dipinjamkan kepada orang lain, akibat perbuatan Terdakwa bersama–sama dengan kawannya yang dipinjamkan (belum tertangkap dan diragukan eksistensinya), sehingga pemilik kendaraan mengalami kerugian. Terhadap tuntutan Jaksa Penuntut Umum, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, ... berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas Pengadilan berpendapat:
“Karena Terdakwa tidak pernah mengajukan alat bukti apapun terkait dengan dalilnya yang menyatakan bahwa mobil yang disewanya dari Rental mobil MH Trans milik Muh. Tarudin telah dibawa oleh temannya yang bernama Faizal maka dalil Terdakwa tersebut harus dikesampingkan dalam perkara a quo;
“Adanya fakta 1 (satu) unit mobil dan STNK atas nama ... telah disewa oleh Terdakwa dari Rental mobil MH Trans sejak tanggal 24 Januari 2014 dan setelah lampau masa sewa tidak pernah dikembalikan oleh Terdakwa menunjukan adanya fakta yang telah berbicara sendiri (Res Ipsa Loquitur) bahwa Terdakwa telah dengan sengaja melawan hukum berupa melalaikan kewajiban untuk mengembalikan barang yang telah disewa yang masa sewanya telah berakhir sehingga seolah telah memiliki barang yang disewanya tersebut padahal Terdakwa mengetahui dengan sadar bahwa mobil yang disewanya tersebut bukan milik terdakwa;
“Bahwa tindakan Terdakwa yang telah pergi dengan isterinya dari kediamannya untuk beberapa waktu tanpa memberikan penjelasan kepada Rental mobil MH Trans atas keadaan mobil yang telah disewanya sehingga pihak saksi Muh. Tarudin selaku pemilik Rental mobil MH Trans kesulitan untuk menemui Terdakwa guna meminta pertanggungan jawab atas Mobil yang tidak dikembalikannya ketika masa sewa telah lampau menunjukan Terdakwa memiliki itikad tidak baik kepada Rental mobil MH Trans yang semakin memberikan petunjuk kuat jika Terdakwa telah telah bertindak seolah pemilik dari kendaraan yang telah disewanya;
“Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas yang pada pokoknya Terdakwa telah dengan sengaja melawan hukum bertindak seolah memiliki barang yang disewanya padahal Terdakwa menyadari barang tersebut bukan miliknya maka dengan sendirinya unsur yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain dalam perkara a quo telah terpenuhi.
“Bahwa dengan demikian karena perbuatan Terdakwa tersebut diatas diawali dari sewa menyewa yang merupakan perbuatan perdata yang wajar pada umumnya maka dapat disimpulkan jika pada mulanya penguasaan Terdakwa terhadap 1 (satu) unit mobil ... bukan karena kejahatan dan oleh karena itu pula maka unsur tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan dalam perkara a quo telah terpenuhi.
“Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur dari Pasal 372 KUH Pidana jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana;
“Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa;
Keadaan yang memberatkan:
- Perbuatan Terdakwa meresahkan masyarakat;
- Perbuatan Terdakwa menimbulkan kerugian materiil dan immaterill bagi pihak Muh. Taruddin selaku pemilik Rental dan Baryanto selaku pemilik mobil;
Keadaan yang meringankan:
- Terdakwa mengakui perbuatannya dan menyadari kesalahannya serta menyesali kesalahannya tersebut sehingga berjanji untuk tidak mengulanginya;
M E N G A D I L I
1. Menyatakan Terdakwa EKO WAHYU SETIYAWAN bin TUHADI tersebut diatas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Penggelapan;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan