KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Contoh Cacat-Logika yang Berangkat dari Bias Persepsi : Hidup Itu Indah (Bukan Dukkha) maka Terjerumus dalam Kenikmatan-Indria

Tubuh, adalah “Sarang Penyakit”. Dunia, adalah “Sarang Kejahatan”. Penjara, adalah “Monumen Kegagalan Peran Orangtua dan Guru dalam Mendidik maupun Memberikan Teladan”, dan Neraka merupakan “Monumen Kegagalan Penciptaan Tuhan Sang Pencipta”

Pernahkah Anda mengamati serta melakukan observasi antropologi sederhana, terhadap fenomena sosial yang nyata-nyata terkandung “standar ganda” berikut. Ketika kita menyaksikan channel suatu media sosial yang menampilkan gambar-gambar ataupun video yang menampakkan kemewahan, keindahan, kemakmuran, kesehatan, kemudaan, kegembiraan, kesenangan, keglamoran, hingar-bingar, berbagai komentar yang kerap muncul dari para netizen kita ialah “hidup ini indah dan nikmat” serta “betapa Tuhan sang Maha Pencipta”. Mereka memuja-muji Tuhan, setinggi langit, seolah-olah mereka pernah minta dilahirkan ke dunia ini. Akan tetapi, giliran pada channel yang menayangkan realita penyakit, usia tua, kematian, kekumuhan, kekeringan, banjir, huru-hara, kejahatan, kriminalitas, bencana alam, maupun bencana sosial lainnya, komentar-komentar yang sebelumnya kerap muncul mendadak senyap, para netizen mendadak seolah sirna, sunyi, bersembunyi dibawah selimutnya. Itulah yang disebut “cherry picking”.

Urgensi Adopsi Konsep Tanggung-Jawab RENTENG dalam Hukum Perdata kedalam Hukum Acara Pidana

Konsep Tanggung-Jawab RENTENG, para Pelaku Patut Berpikir Ribuan Kali Sebelum Terlibat dalam Mata-Rantai Kejahatan, karena Kejahatan Tidak Lagi Menyerupai “Iseng-Iseng Berhadiah”

Tanggung-Jawab Proporsional Vs. Tanggung-Jawab Renteng

Ada ketidak-sinkronan atau disparitas antara sebab dan akibat dibalik suatu kerugian, dalam konteks pertanggung-jawaban pidana dan konteks pertanggung-jawaban perdata. Dalam konteks pertanggung-jawaban perdata, berlaku tanggung-jawab secara renteng bagi para pelaku (para tergugat) yang terlibat dalam timbulnya kerugian bagi pihak penggugat, untuk mengganti kerugian tersebut. Artinya, seluruh tergugat dapat ditagih secara proporsional juga dapat disita maupun dieksekusi harta kekayaannya sekalipun secara tidak proporsional. Perihal pertanggung-jawaban renteng secara perdata, lebih banyak dibentuk lewat norma preseden (best practice) peradilan perkara perdata—sehingga semestinya juga dapat menjadi “best practice” peradilan perkara pidana.

Akar Penyebab Candu dan Kecanduan, serta Cara Terhindar / Terbebas dari Jerat Candu

Ada Sebuah Jawaban yang Melampaui Dugaan Anda, yang Melampaui Segala Kenikmatan Indria, yang Melampaui Semua Pencapaian. Apakah Itu, yang Bahkan Membuat Pangeran Gotama Meninggalkan Takhta dan Kekuasaan-Singgasana?

“Sekarang, Udāyin, kenikmatan dan kegembiraan yang muncul dengan bergantung pada kelima utas kenikmatan indria ini disebut kenikmatan indria – kenikmatan yang kotor, kenikmatan yang kasar, kenikmatan yang tidak mulia. Aku katakan bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh dikejar, bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh dikembangkan, bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh dilatih, bahwa jenis kenikmatan ini seharusnya ditakuti” [SANG BUDDHA]

Akar penyebab dari fenomena mencandu dan kecanduan zat-zat adiktif seperti tembakau, alkohol, obat-obatan terlarang, maupun candu konsumsi mata seperti menonton pertunjukan seronok, candu konsumsi pikiran seperti judol, candu indera sentuhan seperti “hubungan intim”, ataupun candu-candu lainnya seperti keserakahan terhadap harta, jabatan, maupun kekuasaan, ialah diakibatkan oleh pandangan keliru bahwa “hidup adalah indah” maupun “hidup adalah nikmat”, dan memakan serta termakan oleh dogma-dogma demikian, lalu tenggelam tanpa ia sadari.

Blokir Bukanlah Sita Jaminan dan BPN / Kantor Pertanahan Bukanlah Hakim Pengadilan yang Berhak Melakukan Sita / Penyitaan terhadap Sertifikat Hak Atas Tanah

Sertifikat Hak Atas Tanah Tunduk (juga) pada Asas “Presumptio Iustae Causa”—yang Bermakna Suatu Sertifikat Hak Atas Tanah Selalu Dianggap Sah, kecuali Ada Keputusan Baru yang Membatalkan atau Mencabut Keputusan yang Lama

Question : Bukankah yang bisa membekukan status kepemilikan tanah secara permanen, hanyalah hakim lewat “sita jaminan”? Mengapa kantor pertanahan justru memblokir sertifikat tanah kami sehingga kami tidak bisa menjualnya semata karena ada gugatan dari pihak yang tidak jelas mengaku-ngaku itu tanah milik mereka, sementara pengadilan tidak pernah membuat penetapan “sita jaminan” atas tanah milik kami ini?

Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) Umum Vs. Sprindik dengan Disertai Penetapan Tersangka

Resiko dan Kelemahan Fatal Model Surat Perintah Penyidikan Konvensional, ketika Praperadilan Tersangka Dikabulkan Pengadilan, maka Status Tersangka Berikut Sita Pidana Terancam Gugur Sekaligus

Question : Bila status tersangka dibatalkan oleh pengadilan lewat gugatan-praperadilan yang dimenangkan oleh pihak tersangka, maka apakah barang-barang milik tersangka juga otomatis dilepaskan karena ikut gugur sita pidananya?

Jangan Pernah Meremehkan Kekotoran-Batin, Terlebih Menantangnya. Itulah Nasehat Terbaik bagi yang Belum Terlatih dalam Disiplin-Diri yang Ketat dan Terampil dalam SELF-CONTROL

Tidak Ada Kekotoran-Batin yang “Kelas Bulu”. Semua Kekotoran-Batin ialah “Kelas Berat”—Jangan Meremehkannya dan Jangan Mengendurkan Kewaspadaan, atau Anda akan Babak-Belur Dibuatnya

Nasehat terbaik untuk diri kita ialah, jangan pernah meremehkan kekotoran-batin yang bersarang dalam diri kita masing-masing, terlebih menantangnya. Bila Anda meremehkan kekotoran-batin Anda, secara “overestimated” diri Anda sendiri lalu mencoba menantang kekotoran-batin yang berliang dalam diri Anda tersebut, maka dapat dipastikan Anda akan jatuh tengkurap, terjungkal, terjerembab, hingga babak-belur dibuatnya. Hanya mereka yang terlatih dalam penempaan disiplin-diri yang ketat bernama “self-control” dan senantiasa mawas diri (under-control), yang memiliki jiwa “militan” dalam berhadap-hadapan dengan kekotoran-batin diri sendiri, dicerminkan dari sabda Sang Buddha berikut: [kesemua kutipan sabda Sang Buddha di bawah ini bersumber dari berbagai sutta pada Majjhima Nikāya dan Aṅguttara Nikāya, Sutta Pitaka, Tipitaka]

Hengkangnya Investor Asing maupun Lokal dari Bursa Indonesia, Bermuara Melemahnya Kurs Rupiah, “YOU ASKED FOR IT”, Pemerintahan Indonesia “Please, DON’T PUSH YOUR LUCK”!

Pemerintahan Indonesia Kerap “Pasang Badan” dan “Menantang”, ketika Warga / Pengusaha Lokal maupun Asing yang Kecewa Mengutakan “KAPOK MENANAMKAN MODAL DI INDONESIA”, alih-alih Merasa Malu dan Takut. Konsekuensi Logisnya, HENGKANG dari Indonesia

Sudah dari jauh hari, kita dapat memprediksi kolapsnya kurs Rupiah dan hengkangnya investor asing maupun domestik dari Indonesia. Indikator sederhananya : Pertama, bila Anda memiliki dana yang memadai, apakah Anda akan memilih untuk tetap berdomisili dan menjadi warga di Indonesia ataukah hijrah ke negara lain? Kedua, bagaimana pandangan dan perlakuan para pejabat di Indonesia, terhadap warga sebangsa maupun terhadap warga asing yang masuk ke Indonesia, sebagai subjek ataukah sebagai objek “sapi perahan”? Ketiga, apakah selama ini baik lembaga eksekutif, lembaga yudikatif, maupun lembaga legislatif di Indonesia, kerap “pasang badan”, dengan pola berpikir “seburuk apapun pelayanan kami kepada publik, toh lembaga kami tetap berdiri tanpa bisa dibubarkan”? Keempat, rezim perpajakan kita di Indonesia apakah memotivasi pelaku usaha untuk sukses dalam bisnisnya ataukah membuat pelaku usaha takut dan cemas untuk meningkatkan laba usahanya? Kelima, praktek penegakan hukum kita begitu korup, mengakibatkan tiadanya kepastian hukum bagi warga sendiri maupun bagi pelaku usaha, praktek korup mana tetap terjadi secara masif di tubuh lembaga kehakiman, hingga saat kini sekalipun pemimpin bangsa silih-berganti.

Puisi Bersahaja Mengenai Optimistik dan Pikiran Positif

HERY SHIETRA, Puisi Bersahaja Mengenai Optimistik dan Pikiran Positif

Bila Anda bertanya,

Apakah yang kurang dari negeri ini,

Mungkin jawabannya ialah kekurangan “positive thinking”.

Seseorang akan masuk surga,

Dengan menghindari perbuatan buruk,

Dan melakukan perbuatan bajik,

Maka itulah yang disebut sebagai “optimistik”.

AI (Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence) Membuat Produktivitas Meningkat, namun Daya Beli justru Menurun?

Jangan Bersikap Seolah-Olah Anda (Pemakai AI) tidak Memiliki Segudang Kompetitor dan Jangan pula Bersikap Seolah-Olah Kompetitor Anda Tidak dapat Menggunakan Aplikasi AI Serupa—Anak Sekolah Dasar dan Jutaan Penduduk di Bangladesh pun dapat menjadi Kompetitor Anda

Terdapat hoaks yang tergolong “misleading” alias menyesatkan, berisi propaganda bahwa penggunaan AI (Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence) membuat produktivitas meningkat. Bahkan, dengan “AI Agent”, Anda tidak perlu bekerja sama sekali namun mampu memproduksi segudang dan selautan konten digital, lantas Anda berdelusi menjadi miliarder? Orang dungu, tidak mampu melihat bahaya dibalik sesuatu yang “too good to be true”. Terdapat dua kekeliruan fatal dibalik gaya berpikir “kampungan” demikian. Pertama, jangan bersikap seolah-olah Anda tidak memiliki segunung kompetitor. Kedua, jangan bersikap seolah-olah kompetitor Anda tidak dapat menggunakan maupun mengakses aplikasi / platform AI serupa.

Bukan Hanya Barang Bukti yang Divonis “Dirampas Untuk Negara” yang dapat DIsita Pidana (Sita Eksekusi)

Baik Perkara Pidana maupun Perdata, Terhukum yang Tidak Melaksanakan Vonis / Amar Putusan dapat Disita-Eksekusi Harta / Aset Milik Terpidana / Tergugat

Question : Bila ada aset Terpidana yang tidak dinyatakan “dirampas untuk negara” dalam amar putusan pidana, maka apakah Kejaksaan selaku eksekutor putusan dikemudian hari tetap dapat menyita aset-aset lain milik Terpidana?

Tingkat Keberhasilan Pusat Rehabilitasi Swasta Berbiaya Mahal bagi Pecandu / Penyalahguna Obat-Obatan Terlarang hanya Sebatas 1 Digit (1—9%), alias Tingkat Kegagalannya mencapai 91%

Rehabilitasi Terbaik bagi Pecandu / Penyalahguna Obat-Obatan Terlarang ialah Mengisolir Diri di Penjara alias Dikerangkeng, Bukan Pusat Rehabilitasi Berbiaya Mahal

Belajar, tujuannya agar kita mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang benar dan mana yang keliru, serta agar kita “naif”. Bagi masyarakat awam yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya dibalik praktek “pusat rehabilitasi pecandu obat-obatan terlarang”, mungkin terdengar ideal seruan bahwa para pemakai / pecandu obat-obatan terlarang dikirim atau divonis berobat ke pusat rehabilitasi. Dari berbagai jurnal ilmiah maupun litelatur serta studi para peneliti, kita barulah mengetahui bahwa tingkat keberhasilan di pusat rehabilitasi swasta berbiaya mahal sekalipun, tingkat keberhasilannya hanya sebatas 1 digit alias antara 1—9% (satu sampai sembilan persen).

Penyidik Kepolisian Bersama Kantor Pertanahan dapat Melakukan “Rekonstruksi Pengukuran dan Pengembalian Batas Tanah” dimana Hasilnya menjadi Penentu Terjadi atau Tidaknya Penyerobotan Lahan

Fungsi “Rekonstruksi Pengukuran Dan Pengembalian Batas Tanah” yang dapat Menyelesaikan Masalah Pidana, Sekalipun Sengketa antara Pelapor dan Terlapor Belum Diselesaikan secara Perdata Lewat Gugatan

Question : Saat melapor atau membuat aduan ke polisi, polisi menolak aduan dengan mengatakan agar masalah sengketa batas tanah diselesaikan dulu secara perdata lewat gugatan. Bila pihak yang kami laporkan terbukti benar menyerobot menurut hakim perkara perdata, barulah boleh melapor pidananya. Apakah benar harus selalu begitu prosedurnya?

Surat Girik maupun Surat Keterangan Tanah oleh Lurah / Kepala Desa, Bukanlah dan Tidak dapat Lagi menjadi Alat Bukti dalam Gugat-Menggugat Sengketa Perdata Kepemilikan Tanah di Pengadilan

Surat Girik maupun Surat Keterangan Tanah oleh Lurah / Kepala Desa hanya Berfungsi Sebatas “Petunjuk” dalam Rangka Pendaftaran Tanah ke BPN

Question : Apakah benar, kabar berita yang menyatakan bahwa tanah girik tidak lagi diakui oleh negara sebagai bukti hak atas tanah, dan apa juga maksud atau konsekuensi hukumnya?

“Slow Living” dan “Slow Moving” Bukanlah sebuah Kekeliruan, Sepanjang Tidak Membiarkan Diri Mengalami Kemunduran / Kemerosotan

Belajar dari Falsafah Kura-Kura Vs. Kelinci

Biar Perlahan namun Pasti, Konsisten Beranjak Maju, Tidak Mengalami Kemunduran, Akhirnya akan Tiba di Tujuan

Tidak masalah bila jalan dan kemajuan kita adalah lamban daripada orang-orang di luar sana yang tampak serba sibuk, penuh kesibukan, dan selalu “mobile” seolah tidak kenal lelah, tidak pernah libur, dan seakan tidak butuh tidur. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Sibuk hilir-mudik, kesana dan kemari, pulang-pergi dengan kecepatan dan akselerasi yang super tinggi. Namun, beberapa saat kemudian, mental dan energi mereka terkuras dan letih. Selanjutnya, mereka jatuh dalam konsumsi barang madat yang memabukkan dan melemahkan kesasdaran. Terjadilah apa yang disebut sang Buddha sebagai “kemunduran” atau “kemerosotan”. Karena, menurut Sang Buddha, zat madat seperti bakaran tembakau, alkohol, obat-obatan terlarang dapat membuat si pecandu “kehilangan sifat-sifat baik”. Sama seperti purnawirawan militer yang menjelma bertubuh “buncit” selepasnya dari kemiliteran, disiplin mereka mengendur.

Berita Acara Pengukuran Ulang / Pengukuran Pengembalian Batas Sertifikat Tanah oleh BPN, dapat Dianulir Lewat Gugatan Perdata

Sengketa Batas-Batas Tanah merupakan “Sengketa Kepemilikan” yang menjadi Yurisdiksi Pengadilan Negeri, Bukan Sengketa Tata Usaha Negara

Question : Surat ukur dan gambar situasi yang ada dalam sertifikat tanah, itu apa bedanya? Bila ada overlaping dengan sertifikat tanah milik tetangga, maka patokannya ialah yang mana?

Jangan Percaya Begitu Saja pada Luas Bidang Tanah yang Tercantum dalam SHM, SHGU, maupun SHGU—Luas Tanah Bisa BERUBAH SEWAKTU-WAKTU dan Sepihak, dalam “Pengukuran Ulang” / “Pengukuran Pengembalian Batas”

Membeli Tanah Bersertifikat BPN, Ibarat “Membeli Kucing dalam Karung”, Tiada Kepastian “Data Fisik” Berupa Luas Tanah yang Tercantum dalam Sertifikat Hak Atas Tanah

Question : Dengan mudahnya pihak BPN bisa menerbitkan sertifikat ganda atau bahkan sertifikat tanah yang sebagian maupun seluruhnya tumpang-tindih (overlaping) dengan pemegang hak lainnya. Ketika kami komplain, sebagai pemilik tanah yang diklaim sebagai tanah milik pihak ketiga atas dasar sertifikat tanah yang diterbitkan oleh BPN setempat, pihak BPN hanya semudah berkata “silahkan gugat ke pengadilan”. Mereka yang menerbitkan sertifikat, namun mengapa jadinya kami yang harus repot-repot menggugat ke pengadilan untuk membatalkan sertifikat tumpang-tindih yang diklaim milik orang lain? Itu bukan “tanggung-jawab”, namun mengalihkan tanggug-jawab hukum juga tanggung-jawab moril.

Memahami Makna “Mempunyai Persamaan Pada Pokoknya dengan Merek Pihak Ketiga”, Lewat Contoh Kasus Sengketa Merek di Pengadilan Niaga

NAMA (Identitas Penyebutan) dalam Merek, Bersifat Paling Signifikan sebagai Pembeda Paling Utama dengan Merek Pihak Lain

Question : Merek kita yang telah resmi terdaftar di Kementerian Hukum, berpotensi sewaktu-waktu dapat dibatalkan oleh gugatan pihak lain yang mengklaim memiliki kesamaan dengan merek miliknya yang telah terlebih dahulu terdaftar, dengan alasan “mempunyai persamaan pada pokoknya” dengan merek pihak lain tersebut. Konkretnya seperti apakah, yang dimaksud dengan “mempunyai persamaan pada pokoknya”?

Kreditor Pembeli Cessie Tidak Berhak Menagih Bunga maupun Biaya Lainnya dari Debitor, hanya Berhak Menuntut Sebatas Hutang Pokok

Ketika Kreditor Mengalihkan / Menjual Piutang atau Hak-Tagihnya kepada Pihak Ketiga, maka Kreditor Pembeli Cessie Tidak Lagi Berhak Menuntut Biaya ataupun Bunga dari Debitor saat Menagih Piutang

Question : Fenomena dewasa kini, banyak lembaga pembiayaan maupun lembaga keuangan yang menjual hak-tagihnya (Cessie) kepada kreditor perorangan yang bisa jadi “rentenir perorangan”. Bila itu yang kemudian terjadi dan dialami oleh debitor, meminjam kredit dari lembaga keuangan namun kemudian ditagih oleh “rentenir perorangan” karena pihak lembaga keuangan menjual piutangnya kepada “rentenir perorangan”, maka bagaimana pendirian hakim di pengadilan bila kami selaku debitor memperkarakan masalah ini lewat gugatan?

Kreditor-Awal Menjual Separuh Piutangnya (Cessie) kepada Kreditor-Baru, maka apakah Dihitung menjadi 2 (Dua) Entitas Kreditor yang dapat Mempailitkan Debitornya?

Ketika Kreditor Mengalihkan Separuh Piutangnya kepada Kreditor Lain, lalu Mem-PKPU / Mem-Pailitkan Debitornya, apakah yang Akan Terjadi?

Question : Apabila kreditor menjual cessie separuh piutangnya terhadap debitor yang sama, apakah itu bisa menjadi celah-hukum untuk mempailitkan debitornya, mengingat syarat mempailitkan debitor ialah adanya minimal dua pihak kreditor?

Malu dan Takut Menyakiti, Merugikan, maupun Melukai Orang / Makhluk Hidup Lainnya, Demi Kepentingan Siapakah?

ORANG GILA artinya, Tidak Malu dan Tidak Takut Merugikan, Melukai, maupun Menyakiti Pihak Lain

Tidak Ada yang Lebih Berbahaya daripada ORANG DUNGU (Orang Gila yang Bangga dapat Melukai, Merugikan, ataupun Menyakiti Orang Lain, Seolah Prestasi yang Patut DIbanggakan)

Tidak Berkepentingan Bukan Berarti Tidak Terdampak Langsung

Ketika Anda berjumpa atau berhadapan dengan orang gila, maka apakah opsi terbaiknya, sebisa mungkin menghindari dan menjauhinya, ataukah berperang melawannya hingga “pertumpahan darah”? Mungkin Anda punya sumber daya untuk mengalahkan “orang gila” tersebut, namun untuk apakah Anda terobsesi untuk menang melawan kalangan “orang gila”? Faktanya, jika kita berbeda dengan orang gila tersebut, maka mereka tidaklah sederajat dengan kita. Bila kita cukup bijak dan masih “waras”, pilihan terbaik ialah menghindari “orang-orang gila” semacam demikian.