Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Mutasi Tempat Kerja yang Patut

LEGAL OPINION
Question: Yang disebut dengan mutasi tempat kerja yang patut, itu seperti apa rambu atau patokan parameternya?
Brief Answer: Indikatornya cukup kompleks (situasional), sehingga agar sukar untuk membuat kriteria yang berlaku general. Namun pedoman utamanya ialah merujuk pada asas kepatutan itu sendiri, yang salah satu diantaranya ialah tidak mengandung unsur intimidasi, tidak mengandung unsur demosi, dilandasi itikad baik para pihak, kesediaan Pekerja, dan akomodasi yang sewajarnya.
PEMBAHASAN:
Agar kaedah hukum yang abstrak demikian tampak lebih konkret, untuk itu SHIETRA & PARTNERS merujuk pada ilustrasi sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI sengketa mutasi register Nomor 661 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 1 September 2016, perkara antara:
- AMRAN LUBIS, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Penggugat; melawan
- PT. GM/SSL ASIAN AGRI GROUP, selaku Termohon Kasasi dahulu Tergugat.
Penggugat telah bekerja sejak tahun 2006 sampai dengan saat ini, selama 9 tahun. Selama Penggugat mengabdi dan bekerja di Kebun di tempat Tergugat, Penggugat selalu berupaya memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan Penggugat tidak pernah mendapat teguran ataupun Surat Peringatan dari Penggugat.
Akan tetapi Penggugat kemudian merasa terkejut, tanpa alasan yang jelas Penggugat dimutasi oleh pihak management PT. GM/SSL Asian Agri Group Kebun Batu Anam, efektif tertanggal 27 April 2015 dipindahkan dari kebun Batu Anam ke kebun Sentral.
Penggugat menolak mutasi karena Penggugat tidak tahu apa salah sebenarnya yang bersangkutan, sehingga dimutasi. Administrasi data Penggugat pun sudah dipindahkan sehingga tidak lagi dapat berobat ke klinik perusahaan.
Penggugat juga merupakan seorang pengurus Serikat Pekerja, untuk itu beliau merujuk kaedah Perjanjian Kerja Bersama yang memiliki pengaturan: “Untuk memelihara hubungan dan kerjasama yang baik antara pengusaha dan FSP.PP-SPSI maka setiap perubahan status atau pemindahan dari seseorang fungsionaris PUK SP.PP-SPSI sebelumnya harus diadakan musyawarah antara pengusaha dan PUK SP.PP-SPSI.”
Penggugat telah meminta Mediator Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Asahan untuk melakukan Mediasi mengenai mutasi ini, dimana kemudian pihak mediator menerbitkan Anjuran tertulis, dengan substansi: “Agar sdr. Amran Lubis dapat dipekerjakan kembali ke tempat asalnya semula di perkebunan Batu Anam dan masalah haknya tentang THR tahun 2015 dan Upah dari bulan Juni 2015 sampai dengan sekarang dapat segera dibayarkan oleh pihak management PTGM/SSL Asian Agri Group.”
Terhadap gugatan sang Pekerja, Pengadilan Hubungan Industrial Medan kemudian menjatuhkan putusan Nomor 231/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Mdn., tanggal 3 Maret 2016, dengan pertimbangan serta yang amar yang penting untuk disimak, sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P-3 = T-1 berupa Surat Promosi/Mutasi dari Tergugat kepada Penggugat tanggal 27 April 2015 terhitung tanggal 1 Mei 2015 dikuatkan keterangan seluruh saksi Idris Sirait, Belinton Simangunsong, Bintang Barimbing dan Jalaluddin Siregar, jabatan, golongan dan fasilitas yang diberikan kepada Penggugat adalah sama, hanya saja tempat kerjanya berbeda yakni dari kebun Batu Anam ke kebun Sentral, dimana kebun Sentral listrik hidup sampai dengan jam 23.00 WIB karena belum masuk PLN sehingga masih menggunakan genset, kedua kebun adalah merupakan milik PT Gunung Melayu Asian Agri Group, dimana jaraknya juga relatif dekat hanya 10 km dan berada di wilayah satu desa yakni Desa Batu Anam, dengan demikian mutasi bukan demosi;
“Menimbang, bahwa berdasarkan bukti T-2 juncto T-3 dikuatkan keterangan saksi Jalaluddin Siregar, karyawan Tergugat selaku notulen perundingan Bipartit dan juga Wakil Sekretaris PUK SP.PP-SPSI di perusahaan Tergugat, maka di persidangan terbukti pihak pengusaha dan pihak PUK SP.PP-SPSI serta PC F.SPPP-SPSI Kabupaten Asahan yang dihadiri pula oleh Penggugat sendiri, telah melakukan perundingan Bipartit atau musyawarah bersama tertanggal 04 Mei 2015 yang salah satu pokok masalahnya adalah tentang mutasi Penggugat dan telah menghasilkan kesimpulan agar pemutasian dapat ditunda 1 bulan ke depan, terhitung 1 Mei 2015 menjadi 1 Juni 2015, selanjutnya akan dipertimbangkan;
“Menimbang, bahwa berdasarkan bukti T-9 dikuatkan keterangan saksi Belinton Barimbing dan Jalaluddin terbukti pada tanggal 13 Juni 2015 Tergugat telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja terhadap Penggugat dan terbukti telah dipanggil secara patut sebanyak 2 (dua) kali, akan tetapi Penggugat tetap tidak hadir melaksanakan mutasi, sehingga berdasar apabila Penggugat dikualifikasikan mengundurkan diri sesuai ketentuan Pasal 168 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003;
“Menimbang, bahwa di persidangan tidak terdapat bukti Pemutusan Hubungan Kerja telah ditetapkan oleh Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Akan tetapi hubungan kerja sudah sulit dilanjutkan, maka berdasarkan ketentuan Pasal 151 ayat (3) Pemutusan Hubungan Kerja harus ditetapkan sejak tanggal 13 Juni 2015, karena Penggugat dikualifikasikan mengundurkan diri berdasarkan ketentuan Pasal 168 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
MENGADILI :
- Menyatakan gugatan Penggugat dikabulkan sebagian;
- Menyatakan Surat Mutasi I Nomor 15/GM-GME/Int/04/2015, tanggal 27 April 2015 batal karena belum memenuhi ketentuan Pasal II ayat (2) huruf f PKB BKS-PPS FSP.PP-SPSI tahun 2015-2017 dan menyatakan Surat Mutasi II Nomor 22/GM-GME/Int/05/2015, tanggal 25 Mei 2015 sah karena telah memenuhi ketentuan Pasal II ayat (2) huruf f PKB BKS-PPS FSP.PP-SPSI tahun 2015-2017 juncto Pasal 32 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
- Menyatakan hubungan kerja Penggugat dengan Tergugat putus karena dikualifikasikan mengundurkan diri berdasarkan ketentuan Pasal 151 ayat (3) juncto Pasal 168 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003;
- Menghukum Tergugat membayar hak-hak normatif Penggugat akibat Pemutusan Hubungan Kerja berdasarkan ketentuan Pasal 168 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 berupa Uang Pengganti Perumahan, Pengobatan dan Perawatan, serta Upah bulan Juni 2015 sebesar Rp6.131.988,00 (enam juta seratus tiga puluh satu ribu sembilan ratus delapan puluh delapan rupiah);
- Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Sang Pekerja mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 15 Maret 2016 dan kontra memori kasasi tanggal 9 Mei 2016, dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa Penggugat telah dikualifikasikan mengundurkan diri karena menolak mutasi, sebagaimana ketentuan Pasal 168 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
- Bahwa prosedur mutasi sesuai dengan Pasal II ayat (2) huruf f PKB 2015—2017 yaitu berdasarkan musyawarah antara Tergugat dengan PUK SPPP SPSI, dan telah pula diberi waktu 1 (satu) bulan;
- Bahwa secara substansial mutasi adalah patut karena tidak ada tindakan berupa demosi, sedangkan keterbatasan jam penerangan / listrik di tempat baru karena sumber penerangan dari genset tidak patut menjadi alasan penolakan, mengingat bidang usaha tempat bekerja Penggugat adalah perkebunan;
- Bahwa karena mutasi telah benar secara prosedural dan substansial serta merupakan tindakan yang lazim dalam hubungan kerja maka sah, tetapi karena pekerja tidak melaksanakan mutasi walaupun telah dipanggil secara patut dan tertulis sebanyak 2 (dua) kali, maka tepat Pemutusan Hubungan Kerja ditetapkan sejak tanggal 13 Juni 2015 dan hak-hak Penggugat yang harus dibayarkan oleh Tergugat adalah sebagaimana telah dipertimbangkan dengan tepat dan benar oleh Judex Facti;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi AMRAN LUBIS tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi AMRAN LUBIS tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan