Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Gugatan Debitor Menjadi Bumerang, Tips dan Trik bagi Pembeli / Pemenang Lelang Eksekusi Hak Tanggungan atas Tanah beserta Bangunan Diatasnya

LEGAL OPINION
Question: Sebagai pemenang lelang eksekusi Hak Tanggungan, bagaikan “babak-belur” menghadapi fakta bahwa objek lelang eksekusi yang saya beli dari Kantor Lelang Negara, dalam kondisi berpenghuni. Debitor terlelang eksekusi tak mau mengosongkan diri dari rumah objek lelang, dan biaya eksekusi pengosongan di pengadilan demikian tinggi. Belum lagi kini debitor mengajukan gugatan pembatalan lelang terhadap saya dan kreditor. Adakah solusi bagi saya selaku pemenang lelang menghadapi dilematika demikian?
Brief Answer: Kebetulan Anda selaku pemenang lelang digugat, ajukan gugatan balik (rekonvensi), dengan salah satu petitum-nya ialah agar Majelis Hakim yang memutus menyatakan agar biaya pengosongan menjadi beban debitor dan uang paksa (dwangsom) untuk setiap hari keterlambatan debitor mengosongkan diri dari objek.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi kasus yang paling tepat dapat ditemukan dalam putusan Pengadilan Negeri Surakarta perkara perdata register Nomor 37/Pdt.G/2014/PN.Ska. tanggal 23 September 2014, antara:
- MASITA FITA SARI dan SUYATNO, sebagai Para Penggugat; melawan
1. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK. CABANG SURAKARTA SUDIRMAN, sebagai Tergugat I;
2. KANTOR PELAYANAN KEKAYAAN NEGARA DAN LELANG SURAKARTA, sebagai Tergugat II;
3. I NYOMAN PATRA, sebagai Tergugat III.
Penggugat I merupakan debitor Tergugat I, dengan jaminan pelunasan hutang berupa sebidang tanah yang menjadi Objek Sengketa gugatan ini. Agunan kemudian dilelang eksekusi hak tanggungan lewat Tergugat II, dimana yang menjadi pembeli/pemenang lelang ialah Tergugat III.
Menghadapi gugatan Penggugat, Tergugat I mengajukan gugatan balik (rekonvensi) dengan dalil: gugatan debitor yang mengakibatkan menurunnya tingkat kepercayaan calon pembeli pada lelang lainnya kepada Tergugat dan mengutip pula ketentuan yang telah diperjanjikan dalam dalam surat persetujuan membuka kredit pada Pasal 9 diatur:
“Bilamana pinjaman tidak dibayar lunas pada waktu yang telah ditetapkan, Bank berhak untuk menjual seluruh jaminan sehubungan dengan pinjman ini, baik secara dibawah tangan maupun di muka umum, untuk dan atas permintaan Bank dan atas kerelaan sendiri tanpa paksaan peminjam dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya akan menyerahkan / mengosongkan barang jaminan sebagaimana tersebut dalam Pasal 4 Surat Perjanjian Kredit Ini.”
Tergugat III pun turut mengajukan gugatan balik, dimana terhadap permohonan gugatan balik tersebut, Majelis Hakim membuat pertimbangan hukum sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa dari pertimbangan tersebut diatas maka Tergugat III konpensi/Penggugat II dalam Rekonpensi I Nyoman Patra adalah pembeli yang sah dan dilindungi hukum maka ia berhak untuk menikmati, menggunakan dan memanfaatkan tanah tersebut, oleh karena itu Petitum tuntutan Penggugat II Rekonpensi nomor 4 dinyatakan beralasan dan dikabulkan;
“Menimbang, bahwa Tertgugat III konpensi/Penggugat II dalam Rekonpensi adalah Pembeli sah dan dilindungi oleh hukum, maka Penggugat I konpensi/Tergugat Rekonpensi harus menyerahkan tanah tersebut tanpa syarat kepada Penggugat II Rekonpensi, dalam keadaan kosong. Dengan demikian maka Petitum tuntutan gugatan Rekonpensi dari Penggugat II dalam Rekonpensi pada nomor 5 dinyatakan beralasan dan dikabulkan, yakni memerintahkan Para Penggugat dalam Konpensi/Tergugat Rekonpensi untuk mengosongkan obyek sengketa, SHM No.260 atas nama I Nyoman Patra dahulu An. Suyatno desa Pondok, Grogol Sukoharjo, dengan biaya pengosongan menjadi beban Para Penggugat dalam Konpensi/Tergugat Rekonpensi;
Tiba pada amar putusannya yang fenomenal sekaligus solutif bagi dilematika yang dihadapi banyak pembeli lelang eksekusi, Majelis Hakim memutus:
M E N G A D I L I :
I. DALAM KONPENSI :
DALAM POKOK PERKARA :
- Menolak gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;
- Menghukum Para Penggugat untuk membayar semua biaya perkara, sejumlah Rp. 1.771.000,- (Satu juta tujuh ratus tujuh puluh satu ribu rupiah);
II. DALAM REKONPENSI :
1. Mengabulkan gugatan Penggugat I dan Penggugat II dalam Rekonpensi / Tergugat I dan Tergugat III dalam Konpensi untuk sebagian;
2. Menyatakan Penggugat I dan Penggugat II dalam Rekonpensi / Tergugat I dan Tergugat III dalam Konpensi adalah Penggugat yang benar, beritikad baik dan harus dilindungi hukum;
3. Menyatakan Para Penggugat dalam Konpensi/Tergugat Rekonpensi adalah debitur yang tidak beritikad baik;
4. Menyatakan sah lelang Hak tanggungan atas SHM No.260 atas nama I Nyoman Patra dahulu atas nama Suyatno;
5. Menghukum Para Penggugat dalam Konpensi/Tergugat Rekonpensi untuk mengambil sisa hasil lelang Agunan SHM No.260 atas nama I Nyoman Patra dahulu An. Suyatno yang dilelang tanggal 15 Mei 2013 setelah dikurangi pelunasan kewajiban kredit para Penggugat dan biaya-biaya lelang;
6. Memerintahkan Para Penggugat dalam Konpensi / Tergugat Rekonpensi untuk mengosongkan obyek sengketa, SHM No.260 atas nama I Nyoman Patra dahulu An. Suyatno desa Pondok, Grogol Sukoharjo, dengan biaya pengosongan menjadi beban Para Penggugat dalam Konpensi/Tergugat Rekonpensi;
7. Menghukum Tergugat dalam Rekonpensi untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah) perhari setiap keterlambatan melaksanakan Putusan ini terhitung sejak perkara ini mempunyai kekuatan hukum pasti;
8. Menghukum Tergugat dalam Rekonpensi/ Penggugat Konpensi membayar biaya perkara dalam gugatan Rekonpensi sejumlah nihil;
9. Menolak Gugatan Penggugat I dan II dalam Rekonpensi selebihnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan