Nikola Tesla Vs. Albert Einstein, Teori Ether Vs. Relativitas. Siapakah Jenius yang Sejati?

SENI PIKIR & TULIS

Sebuah Prediksi : Teori Relativitas Vs. Penemuan MATERI GELAP, Pertarungan Ilmu Pengetahuan Masa Depan

Spekulasi Dibalik Ilmu Pengetahuan dan Sains Paling Modern Sekalipun

Banyak yang Lebih Jenius daripada Einstein, namun Tenggelam karena (Semata) Faktor Kurang Beruntung

Sungguh betapa ringkih dan rapuhnya landasan yang menjadi fondasi dari ilmu pengetahuan (Iptek), tempat kita bertopang dan menopangkan asumsi sebagai roda kehidupan, sekalipun itu di era dengan zaman serba digital yang canggih ini. Bagaimana tidak, sifat keberlakuan atau kebenarannya hanyalah nisbi semata (lawan kata “kebenaran absolut”), alias tentatif serta temporer, sebelum kemudian dibantah dan terbukti dipatahkan oleh berbagai penemuan dan kebenaran kontemporer aktual empirik paling terbaru lainnya, sebelum kemudian penemuan baru tersebut bernasib sama seperti penemuan sebelumnya.

Pada mulanya, kita mengira dan berpraduga bahwa sains tergolong sebagai Iptek yang rigid dan mapan, telah ternyata memiliki nasib yang tidak ubahnya ilmu hukum—dimana seorang Sarjana Hukum harus kembali mengulang dari “NOL” ketika peraturan perundang-undangan maupun haluan / kebijakan hukum negara diubah atau diganti dengan yang baru (itulah juga sebabnya, seorang profesi hukum adalah “tabu” serta tidak dibenarkan untuk menjual murah jasa profesinya, mengingat investasi waktu sebagai modal usaha jasa hukum sangatlah penuh resiko perubahan peraturan perundang-undangan, lain halnya dengan profesi kedokteran dimana anatomi tubuh pasien adalah “begitu-gitu saja” sejak jutaan tahun lampau).

Sebagai prolog, pastilah kita pernah memperhatikan bagaimana pancaran sinar dari lampu bohlam, sekalipun kita tidak melihat ke arah sumber cahaya lampu atau kita menutup pandangan dari sumber cahaya, namun sinar tersebut seperti merembes ke sekitarnya, persis seperti fenomena gerhana dimana bulan menghalangi pandangan kita terhadap matahari, namun kita masih dapat melihat sinar matahari merembes ke area di sekitar bulan yang menutupi matahari. Hal itu terjadi, akibat tembakan partikel sinar mengenai objek berupa udara, karenanya partikel udara menjadi tampak seperti bercahaya di sekitar objek sumber cahaya. Masalahnya, apakah ada udara atau partikel di sekitar bulan (tata surya) sehingga bisa menimbulkan efek “rembesan sinar matahari”?

Namun pula, bagaimana menjelaskan fenomena distorsi cahaya pada alam semesta di luar angkasa, yang konon diisi oleh kehampaan? Albert Einstein menjawabnya dengan mengemukakan teori spekulatif bernama “Teori Relativitas” yang termasyur itu dan membuat namanya dikenang sebagai pencetus teori paling berpengaruh disepanjang sejarah ilmu pengetahuan modern selama satu abad terakhir. Kini, teori Einstein mendapati tantangan hebat, terutama ketika telah ditemukannya materi baru yang mengisi dan memadati / menyesaki alam semesta, bernama “dark matter” alias “materi gelap”. Telah satu abad lamanya, teori Albert Einstein berhasil bertahan dan dikukuhkan, membuat delusi bahwa itulah “kebenaran yang absolut”.

Seorang jenius yang hidup satu zaman dengan Albert Einstein, bernama Nikola Tesla sang penemu dinamo turbin pembangkit listrik, dimana umat manusia berhutang budi kepada kerja kerasnya, pernah berkata bahwa teori relativitas Einstein sebagai “a mass of error and deceptive ideas and opposed to common sense,” serta “not a single one of the relativity propositions has been proved.” Apa yang dikatakan oleh Tesla di telinga orang sezaman ia, terdengar sebagai “arogan”. Namun, Pallab Ghosh, dalam publikasinya bertajuk “Peta materi gelap mengungkap misteri alam semesta, sekaligus bisa runtuhkan teori Albert Einstein”, 31 Mei 2021, dilansir oleh https:// www. bbc .com/indonesia/dunia-57278092, diakses pada tanggal 19 September 2021, mengungkap fakta dan temuan terbaru saat ulasan ini disusun, dengan rincian sebagai berikut:

Sebuah tim peneliti internasional telah membuat peta terbesar dan paling rinci atas apa yang disebut materi gelap di alam semesta.

Hasilnya mengejutkan kalangan ilmuwan, karena peta ini menunjukkan materi gelap yang lebih halus dan lebih tersebar, berbeda jika dibandingkan dengan prediksi teori-teori selama ini.

Pengamatan tersebut nampaknya bertentangan dengan teori relativitas umum Einstein - sehingga memunculkan teka-teki baru bagi para peneliti.

Hasil pengamatan ini telah dipublikasikan oleh Dark Energy Survey Collaboration.

Materi gelap adalah zat tak kasat mata yang dapat menembus ruang. Zat ini berkontribusi terhadap 80 persen materi di alam semesta.

Para ahli astronomi dapat mengetahui keberadaannya, karena materi gelap ini dapat mendistorsi cahaya dari bintang-bintang yang jauh. Semakin besar distorsinya, semakin besar konsentrasi dari materi gelap.

Dr Niall Jeffrey dari École Normale Supérieure di Paris, yang ikut membuat peta itu, mengatakan bahwa hasil gambaran materi gelap ini memunculkan “persoalan nyata” bagi ilmu fisika.

Jika perbedaan ini benar, kemungkinan Einstein telah keliru,” katanya kepada BBC News. “Anda kemungkinan berpikir bahwa itu adalah hal yang buruk, mungkin akan membuat ilmu fisika runtuh. Tapi bagi para fisikawan, ini sangat menyenangkan. Artinya, kita dapat menemukan sesuatu yang baru mengenai keberadaan alam semesta yang sebenarnya.”

Profesor Carlos Frenk dari Durham University, yang meneliti berdasarkan pemikiran-pemikiran Albert Einstein dan para ilmuwan lain dalam mengembangkan teori kosmologi, mengaku perasaannya bercampur aduk mendengar kabar itu.

“Saya menghabiskan waktu saya terhadap teori ini, dan hati saya berkata tidak ingin melihatnya runtuh. Tapi otak saya mengatakan bahwa pengukurannya [peta materi gelap] sudah benar, dan kita harus melihat kemungkinan hukum fisika yang baru,” kata Prof Frenk.

“Lalu perut saya melilit, karena kami tak punya dasar yang kuat untuk mengeksplorasi, karena kami tak punya teori fisika dapat jadi pegangan. Hal ini membuat saya gugup dan takut, karena kita memasuki domain yang sama sekali tidak dikenal, dan entah apa nantinya yang akan kita temukan.”

Dengan menggunakan teleskop dari observarium Victor M Blanco di Chile, para ilmuan yang berada di balik penelitian ini menganalisis 100 juta galaksi.

Peta itu menunjukkan bagaimana materi gelap menyebar di seluruh jagat raya. Bagian hitam adalah area ketiadaan yang luas, disebut rongga, di mana ini berbeda dari hukum fisika. Bagian yang terang ini adalah bagian di mana materi gelap berkumpul. Mereka disebut “lingkaran cahaya” karena tepat berada di tengahnya adalah realitas di mana kita berada.

Di tengahnya ada galaksi-galaksi seperti seperti Bima Sakti yang kita huni, berkelap-kelip seperti permata kecil di bentang kosmik yang sangat luas.

Menurut Dr Jeffrey, yang juga menjadi bagian dari penelitian ini, peta itu dengan sangat jelas menunjukkan bahwa galaksi-galaksi adalah bagian dari struktur tak kasat mata yang lebih besar.

“Tak ada satu orang pun dari sejarah umat manusia yang dapat melihat ke luar angkasa dan melihat di mana materi gelap sedemikian rupa. Para astronom telah mampu membangun gambaran dari kepingan-kepingan kecil, tapi kami telah mengeluarkan petak-petak baru yang menunjukkan strukturnya. Untuk pertama kalinya kami melihat alam semesta dengan cara berbeda,” kata Jeffrey, yang juga peneliti University College London.

Tetapi peta baru materi gelap ini tak begitu menunjukkan apa yang diharapkan para astronom.

Peta ini memiliki gagasan yang akurat mengenai sebaran materi 350.000 tahun setelah Big Bang, dari observatorium Badan Antariksa Eropa yang mengorbit disebut sebagai Planck. Ia mengukur jejak radiasi yang masih ada sejak itu, yang disebut latar belakang gelombang kosmik.

Menggambarkan dari ide-ide Einstein, para astronom seperti Prof Frenk mengembangkan sebuah model penghitungan bagaimana materi alam raya berpencar selama 13,8 miliar tahun hingga saat ini. Tapi observasi aktual dari peta yang baru itu keluar beberapa persen - ini menunjukkan bahwa materi tersebar sedikit terlalu merata.

Akibatnya, Prof Frenk berpendapat mungkin ada perubahan besar yang terjadi dalam pemahaman kita mengenai kosmos.

“Kita mungkin telah mengungkap sesuatu yang sangat mendasar mengenai susunan alam semesta. Teori saat ini masih samar, karena bertumpu pada pilar yang terbuat dari pasir. Dan yang mungkin kita lihat adalah runtuhnya salah satu dari pilar itu.”

Kolaborasi DES ini meliputi 400 ilmuan dari 25 lembaga di tujuh negara.

Menurut para fisikawan, sebagian besar “materi” di “ruang kosong” alam semesta tak memancarkan atau memantulkan cahaya. Mereka tak bisa dilihat, tak bisa dirasakan, tapi bisa diuji keberadaannya. “Materi gelap” bisa dideteksi dari radiasi dan gaya gravitasinya terhadap benda-benda yang terlihat. Seabad silam, di muka forum Akademi Sains Prussia di Berlin, Albert Einstein mempresentasikan teori Relativitas Umum. Teori Einstein mengungkap sebagian “rahasia” alam semesta. Lewat teorinya, Einstein menjelaskan pengaruh medan gravitasi terhadap cahaya, ruang, dan waktu. Di depan medan gravitasi sangat besar, lintasan cahaya dan waktu pun bisa terbelokkan. Teori tersebut mengorbitkan nama Einstein, menjadikannya tersohor di antara ilmuan modern, bahkan masih dipandang sebagai ilmuan paling jenius hingga saat kini disaat teorinya diambang keruntuhan.

Kevin Pimbblet, seorang Senior Lecturer in Physics, University of Hull, menuliskan sebagai berikut sebagaimana dipublikasikan dalam https:// theconversation .com/studi-menunjukkan-materi-gelap-dan-energi-gelap-mungkin-tidak-ada-bagaimana-jalan-keluarnya-92818, diakses pada tanggal 19 September 2021:

Materi gelap (dark matter) dan energi gelap (dark energy) itu misterius, zat tak dikenal yang diperkirakan bisa membentuk lebih dari 96% alam semesta. Walau kita tidak pernah melihatnya secara langsung, zat ini menjelaskan dengan sangat bagus bagaimana bintang-bintang dan galaksi bergerak dan bagaimana semesta mengembang.

Untuk sesaat kita andaikan bahwa energi gelap maupun materi gelap adalah pil yang terlalu aneh untuk ditelan. Apa alternatifnya? Salah satu jalan keluarnya adalah mengandaikan bahwa pemahaman kita tentang semesta ternyata keliru. Barangkali gravitasi dan relativitas umum tidak bekerja dalam cara seperti yang kita sangka.

Dalam pengandaian serupa, hukum-hukum Newton—yang sudah lama kita pandang menjelaskan segala sesuatu tentang gerak—adalah sebuah penyederhanaan teori relativitas yang lebih rumit, barangkali pemahaman kita tentang relativitas adalah penyederhanaan sesuatu yang lain? Lebih mendasar lagi, barangkali kita sudah membuat kesalahan penilaian tentang asumsi-asumsi yang mendasari persamaan-persamaan yang kita tangani? Mungkin kita perlu memodifikasi persamaan-persamaan gravitasi?

... dari yang dikemukakan Einstein—bahwa ruang kosong beroperasi berdasarkan apa yang dikenal sebagai konstanta kosmologi, yang merupakan sebuah bentuk energi gelap. Ruang dalam keadaan demikian tidak bisa berskala invarian dengan cara yang sama. Banyak ilmuwan yang secara implisit dan eksplisit mengasumsikan deskripsi ini tepat. Tapi ini berarti energi gelap dan materi gelap masih diperlukan dan karena itu fisika baru diperlukan untuk menjelaskannya.

Sejarah mencatat, untuk pertama kalinya “dark matter” teridentifikasi aktualitas dan eksistensinya bahkan di Planet Bumi kita ini hidup, tepatnya satu dekade sebelum ulasan ini disusun, berkat jasa para ilmuwan di Pusat Penelitian Nuklir Eropa atau CERN yang merancang dan menguji-coba proyek ambisius bernama Large Hadron Collider yang turut berjasa dalam penemuan Higgs Boson, satu partikel yang lebih kecil dari atom. Tidak mengherankan bila teori relativitas Einstein selama satu abad kurang mendapat tantangan pada era sebelum penemuan “dark matter”.

CERN, dengan tajuk “Dark matter : Invisible dark matter makes up most of the universe – but we can only detect it from its gravitational effects” yang berbasis Switzerland, dalam situs resminya pada https:// home.cern /science/physics/dark-matter, diakses pada tanggal 19 September 2021, menguraikan rilis deskripsi singkat berikut mengenai project ambisius mereka:

Galaxies in our universe seem to be achieving an impossible feat. They are rotating with such speed that the gravity generated by their observable matter could not possibly hold them together; they should have torn themselves apart long ago. The same is true of galaxies in clusters, which leads scientists to believe that something we cannot see is at work.

They think something we have yet to detect directly is giving these galaxies extra mass, generating the extra gravity they need to stay intact. This strange and unknown matter was called “dark matter” since it is not visible.

Dark matter. Unlike normal matter, dark matter does not interact with the electromagnetic force. This means it does not absorb, reflect or emit light, making it extremely hard to spot. In fact, researchers have been able to infer the existence of dark matter only from the gravitational effect it seems to have on visible matter. Dark matter seems to outweigh visible matter roughly six to one, making up about 27% of the universe.

Here's a sobering fact: The matter we know and that makes up all stars and galaxies only accounts for 5% of the content of the universe! But what is dark matter? One idea is that it could contain “supersymmetric particles” – hypothesized particles that are partners to those already known in the Standard Model. Experiments at the Large Hadron Collider (LHC) may provide more direct clues about dark matter.

Many theories say the dark matter particles would be light enough to be produced at the LHC. If they were created at the LHC, they would escape through the detectors unnoticed. However, they would carry away energy and momentum, so physicists could infer their existence from the amount of energy and momentum “missing” after a collision. Dark matter candidates arise frequently in theories that suggest physics beyond the Standard Model, such as supersymmetry and extra dimensions.

One theory suggests the existence of a “Hidden Valley”, a parallel world made of dark matter having very little in common with matter we know. If one of these theories proved to be true, it could help scientists gain a better understanding of the composition of our universe and, in particular, how galaxies hold together.

Dark energy makes up approximately 68% of the universe and appears to be associated with the vacuum in space. It is distributed evenly throughout the universe, not only in space but also in time – in other words, its effect is not diluted as the universe expands. The even distribution means that dark energy does not have any local gravitational effects, but rather a global effect on the universe as a whole.

This leads to a repulsive force, which tends to accelerate the expansion of the universe. The rate of expansion and its acceleration can be measured by observations based on the Hubble law. These measurements, together with other scientific data, have confirmed the existence of dark energy and provide an estimate of just how much of this mysterious substance exists.

Only about 5% of the matter in the Universe is visible. The rest is of an unknown nature and is referred to as dark matter (27%) and dark energy (68%). Finding out what it consists of is a major question for modern science.

Pembuktian dan penemuan, bisa sangat mahal biaya dan usahanya. Sementara itu asumsi dan spekulasi semudah berimajinasi.“Large Hadron Collider yang dibuat oleh Badan Riset Nuklir Eropa (CERN) dengan panjang keliling 27 kilometer, ditempatkan pada kedalaman 175 meter dibawah tanah. Dibangun diantara perbatasan Perancis dan Swiss, cincin itu sendiri terdiri dari 9300 kumparan magnet superkonduktif dengan berat berton-ton yang dirangkai seperti sosis dan kemudian didinginkan dengan sekitar 96 ton helium cair.

Sampai saat ini Proyek LHC melibatkan sekitar 7.000 orang Ahli Fisika Partikel (hampir separuh dari semua ahli fisika partikel di seluruh dunia) dari 80 negara dan telah menghabiskan biaya sekitar USD 5,8 miliar (sekitar Rp 53,3 triliun). LHC terdiri dari dua buah pipa cahaya yg berdekatan dimana masing-masing pipa berisi sekelompok proton yangberlari mengilingi cincin utama (27 Km) secara berlawanan arah agar saling bertabrakan sebagai simulasi “big bang”. Setiap kelompok proton tersebut didorong oleh mesin LHC sehingga bisa mengandung energi sebesar 7 Trilyun Volt (7 TeV).

Pada 4 titik tertentu 2 pipa tersebut akan bersilangan satu sama lain sehingga 2 kelompok proton tadi akan saling bertabrakan dengan total energi sebesar 14 TeV dan menghasilkan 600 juta partikel per detik. Pada titik-titik tabrakan tersebut dipasang detektor-detektor raksasa yang akan mencatat semua serpihan partikel super kecil yang dihasilkan pada setiap tabrakan. Saking besarnya salah satu dari detektor tersebut konstruksi bisa dipakai untuk membangun satu Menara Eiffel baru. Penelitian CERN, menjadi babak baru lembaran Iptek modern yang sesungguhnya.

Istilah “dark matter”, sebelumnya ternyata telah dikenal oleh sejarah dengan istilah “eter”. Dalam sebuah artikel yang holistik berjudul “Apakah eter akan kembali? "elemen kelima": sejarah dan perspektif modern. apakah aether bertentangan dengan teori relativitas Einstein? Naskah Nikola Tesla: ‘Anda salah, Tuan Einstein, eter itu ada!’ Teori dan hipotesis baru tentang eter”, bersumber dari https:// steadicams .ru/id/efir-vozvrashchaetsya-pyatyi-element-istoriya-i-sovremennyi-vzglyad/, diakses pada tanggal 19 September 2021, terungkap sejarah Iptek terkait “eter” sebagai berikut di bawah ini.

Diketahui bahwa konsep eter telah ada sejak zaman kuno, dan bukan kebetulan bahwa para filsuf kuno menyebut eter sebagai “pengisi kekosongan”. Namun, secara bertahap para ilmuwan mulai berpikir tentang teori eter. Dmitry Mendeleev, memasukkan eter (menyebutnya “Newtonium”) ke dalam tabel unsur-unsurnya yang indah. Namun, tabel ini telah mencapai kita dalam bentuk dipalsukan “terpotong”, karena sama sekali tidak menguntungkan bagi “elit” dunia bahwa orang biasa akan mendapatkan akses ke energi eter bebas dan teknologi bebas bahan bakar yang dapat menghilangkan ketergantungan umat manusia dari bahan bakar, energi, dan masalah metalurgi yang dimiliki oleh klan terkaya di Bumi, keuntungan luar biasa dari penjualan bahan bakar hidrokarbon tradisional dan energi kawat.

Juga, sedikit diketahui adalah fakta bahwa pada tahun 1904 D. Mendeleev menerbitkan konsep eter dunia, yang pada saat itu dibahas dengan penuh semangat di dunia ilmiah. Dalam karya ilmiahnya tentang topik eter, ilmuwan Rusia mengemukakan asumsi bahwa “eter” yang mengisi ruang antarplanet adalah media yang mentransmisikan cahaya, panas, dan bahkan gravitasi. Menurut D. Mendeleev, seluruh ruang diisi dengan eter tak terlihat ini — gas dengan bobot sangat rendah dan sifat yang belum dijelajahi.

Jalan menuju pengembangan energi bebas bahan bakar yang ramah lingkungan oleh umat manusia ini ditutup, dan monopoli Illuminati pada sumber daya bahan bakar tetap ada. Sampai saat ini, kemajuan besar telah dibuat dalam energi bebas bahan bakar. Namun, upaya untuk memperkenalkan teknologi bebas bahan bakar ke dalam praktik luas biasanya berakhir buruk bagi penulis proyek ini. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan yang terpenting, pencetakan, berada di bawah kendali Illuminati. Selain itu, masalah lingkungan yang berkembang digunakan oleh Illuminati untuk mempromosikan gagasan misantropik tentang pengurangan populasi radikal.

Bagaimana tidak, rencana pemilik “elit” dunia untuk mengurangi populasi Bumi hingga 500 juta orang didasarkan pada tesis tentang habisnya sumber daya planet kita. Tetapi itu adalah kekuatan yang sama yang menyembunyikan dari manusia teknologi energi bebas bahan bakar bebas yang mereka miliki, yang telah aktif digunakan selama puluhan tahun secara rahasia dari orang-orang biasa di kota-kota bawah tanah perlindungan “elit” yang tersebar di seluruh dunia.

Namun, kini semakin banyak peneliti dan ilmuwan independen, yang tidak disuap oleh para pelayan “elit” dunia, mulai kembali lagi ke teori teknologi eter dan eterik. Jadi, misalnya, Doktor Ilmu Teknis V. Atsyukovsky, mengamati pada 25 Februari 2011, pengusiran kolosal plasma surya, yang 50 kali ukuran Bumi, mengajukan pertanyaan yang cukup masuk akal: di mana bintang kita mendapatkan energi untuk emisi kolosal seperti itu?

Atas dasar asumsinya, V. Atsukovsky mengajukan hipotesis unik bahwa Matahari mengambil energinya dari eter. Dia sepenuhnya yakin dengan keberadaan gas ini, dan juga dalam kenyataan bahwa di bawah pengaruhnya bahwa Matahari kita mengeluarkan sebuah komet dengan ukuran yang tak terbayangkan dari permukaannya ke segala arah ruang angkasa. Menurut hipotesis ini, bintang kita memiliki begitu banyak energi sehingga dapat mengeluarkan beberapa lusin komet setiap detik. Dan korona matahari itu sendiri tidak lebih dari emisi eter.

Inilah yang dia katakan tentang itu: “Eter berubah menjadi gas biasa dengan tekanan sangat tinggi dan sangat jarang. Kepadatan massanya 11 kali lipat lebih kecil dari udara. Meskipun demikian, ia memiliki energi luar biasa, tekanan luar biasa karena kecepatan molekulnya yang sangat tinggi.” Pengembangan dan pengenalan massal teknologi eterik akan memungkinkan manusia untuk menyelesaikan banyak masalah, yang sudah menjadi bencana planet untuk semua makhluk hidup. Ini menyangkut ekstraksi biadab hidrokarbon tradisional dan pencemaran lingkungan habitat, yang menjadi lebih dan lebih bencana. Juga, pengenalan teknologi ini akan mencegah rencana pemilik “elit” dunia untuk penghancuran total umat manusia dengan tangannya sendiri.

Dan ini harus diingat oleh semua orang, yang telah menjual diri mereka sendiri kepada kekuatan-kekuatan anti-manusia ini, mencoba untuk menentang pengenalan besar-besaran teknologi ini. Jangan berpikir bahwa tuan non-humanoid Anda akan meninggalkan Anda hidup setelah Anda menyelesaikan misi Anda untuk mengurangi populasi Bumi pada tahap pertama menjadi 500 juta orang. Kemanusiaan siap untuk pengenalan dan pengembangan teknologi bebas bahan bakar kembali pada masa penemuan dan penemuan yang dilakukan oleh Nikola Tesla—yang mana sayangnya investor mengundurkan diri ketika mengetahui misi humanis ambisius Tesla yang hendak menjadikan Planet Bumi sebagai magnet raksasa sumber listrik bagi semua oarng.

Tetapi kekuatan yang memusuhi umat manusia mengintervensi dan menghentikan proses ini. Dan hingga baru-baru ini, para pelayan pasukan ini melanjutkan kegiatan mereka yang berbahaya bagi kemanusiaan. Inilah yang dikatakan S.Sall, Calon Ilmu Fisika dan Matematika, tentang para pengikut gagasan Tesla tentang pengenalan teknologi eter beberapa tahun yang lalu: Rupanya, yang pertama setelah Tesla untuk mengetahui bagaimana melakukan ini adalah para ilmuwan Rusia Filippov di St. Petersburg dan Pilchikov di Odessa. Keduanya segera terbunuh, dan surat-surat serta instalasi mereka menghilang. Di masa depan, semua pekerjaan ke arah ini diklasifikasikan atau dilarang. FBI dan CIA mengikuti ini. MI-6 dan layanan khusus lainnya Di Uni Soviet, Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet bertugas mengendalikan non-proliferasi teknologi bebas bahan bakar.

Sekarang RAS memiliki struktur khusus - Komisi untuk Memerangi Pseudosain, yang mencoba untuk melarang teknologi non-bahan bakar bahkan di industri pertahanan dan ruang angkasa. Namun demikian, teknologi tersebut sudah digunakan dalam industri dan transportasi tanpa iklan yang meluas. Baru-baru ini, generator listrik bebas bahan bakar yang sederhana dan efisien diperlihatkan kepada publik oleh seorang penemu Georgia. Namun, berkat para ilmuwan dan peneliti yang jujur, proses pengungkapan ketentuan teori ether untuk kemanusiaan dan pengenalan bertahap teknologi bebas bahan bakar menjadi semakin ireversibel, terlepas dari upaya semua jenis pelayan dari pikiran non-humanoid, yang telah mengkhianati kepentingan kemanusiaan dan berusaha memperlambat proses ini.

Dan pada titik ini kita meneruskan ke ilmuwan besar berikutnya dari asal Slavik, yang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya dalam percobaan dengan eter - ke Nikola Tesla. Teori eter Nikola Tesla. Topik siaran itu memikat penguji muda Serbia di masa mudanya. Didorong oleh impian untuk menyediakan energi yang bebas dan tak berujung kepada umat manusia, mengakhiri perang dunia dan lokal untuk sumber daya, memberi orang-orang kunci ke surga duniawi, Tesla bekerja pada teknologi untuk transmisi nirkabel listrik dari jarak jauh. Ketika kita mulai mempelajari berbagai karyanya, kita tidak bisa percaya bahwa semua perkembangan ini diciptakan oleh satu orang bernama Tesla, dan bahkan pada akhir abad 19 - awal abad ke-20. Penemuan hanya mengalir secara terus-menerus dari kesadaran misteriusnya (dan alam bawah sadar). Bagaimana perkembangan ini muncul di benaknya adalah cerita lain.

Tesla mengasumsikan bahwa eter adalah gas super-ringan, yang terdiri dari partikel ultra-kecil yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dalam radiasi sel-sel yang ada di mana-mana - “sinar utama matahari”. Sinar ini menembus ke dalam partikel eter dan berinteraksi dengan kekuatan dan massa elektronik. Tesla memimpin pengembangan efek pada eter, bereksperimen dengan medan elektromagnetik dan listrik.

Pada tahun 1901, Tesla mulai dibiayai oleh para bankir James S. Warden dan John Pierpont Morgan. Proyek itu bernama “Wardencliff”. Dengan uang yang dialokasikan oleh orang kaya, Tesla seharusnya mengembangkan teknologi untuk transmisi nirkabel pesan telegraf melintasi Samudra Atlantik (ini akan memberi Morgan keuntungan untuk mendapatkan informasi keuangan dari Dunia Lama lebih cepat). Tesla merancang struktur tinggi yang berfungsi sebagai menara telekomunikasi nirkabel. Secara umum, para taipan memiliki ide sendiri tentang apa yang akan dilakukan Tesla dengan uang mereka.

Tetapi ilmuwan tidak berkutat pada proyek, yang bermanfaat bagi para bankir, dan menggunakan semua peluang yang tersedia untuk bekerja pada transmisi nirkabel nirkabel jarak jauh untuk membuat listrik tersedia bagi semua orang di Bumi. Dengan bantuan menara mukjizatnya, Tesla dengan demikian dapat mengelektrolisis ruang-ruang untuk beberapa puluh kilometer di sekitarnya, sehingga udara malam di beberapa kota Amerika sekaligus bersinar seperti siang hari, dan penduduk kota bahkan dapat membaca koran di jalan. Juga, saksi mata mengatakan bahwa segala sesuatu di sekitarnya, termasuk orang-orang, ditutupi dengan lingkaran cahaya. Ketika Morgan menuntut hasil pekerjaan dari Nikola Tesla dan menyadari bahwa uangnya telah pergi ke tempat yang salah, dana untuk semua penelitian ilmuwan ini dibekukan. Dan kolega bankir menolak untuk melakukan proyek bersama dengan Tesla. Pada saat itu, dunia seolah bergerak melawan dan menentang Tesla.

 

Pada tahun 1914, Tesla menulis: “Kita harus segera mendukung pengembangan MESIN TERBANG DAN KEKUATAN NIRKABEL INSTAN dengan semua kekuatan dan sumber daya bangsa.” Ada hubungan teknis yang nyata antara kedua pengembangan ini - mesin terbang (bukan pesawat terbang) dan transmisi daya nirkabel. Morgan dan Rockefeller menyatakan tumpukan paten keluar dari pinjaman, dan ilmuwan besar itu tidak menerima pendapatan yang pantas dari penemuan uniknya. Penting untuk dicatat bahwa pada saat itu, pada kenyataannya, tidak ada yang dapat mengambil pinjaman dari bank untuk memberikan uang kepada ilmuwan untuk pelaksanaan proyeknya. Kemudian, peneliti tidak pernah bisa menarik minat investor dengan teknologinya untuk transmisi daya nirkabel.

Selama beberapa tahun Tesla mengerjakan penemuan “eterik” lain, yang hanya diketahui sedikit orang - pengembangan mesin terbang (bukan pesawat terbang, bukan pesawat terbang!), Yang dapat digerakkan oleh aksi muatan listrik di bawah tegangan tinggi pada ruang eterik sekitarnya ... Kecepatan transportasi tersebut mampu mencapai 36.000 mil per jam! Tesla bahkan menyusun penerbangan antar planet dengan bantuan “mesin terbang”, ia menganggapnya sebagai yang paling nyaman dan murah berkat penggunaan “kabel” listrik panjang yang membentang dari Bumi; artinya, teknologi ini menyiratkan penolakan terhadap jenis bahan bakar lainnya.

Investor Amerika, terlepas dari prospek besar proyek semacam itu, tidak setuju untuk mengalokasikan satu sen pun untuk mereka. Tetapi di Jerman Nazi mereka menjadi tertarik. Secara khusus, Wernher von Braun, pertama kali dikenal di Jerman, dan kemudian (sejak 1955) perancang teknologi roket dan luar angkasa Amerika (dan kemudian pendiri program luar angkasa Amerika), mengakuisisi dan mulai mengembangkan dalam proyek P2 di Los Alamos ( New Mexico) Penemuan listrik Tesla bahwa semua benda dipenuhi dengan konten listrik dan beresonansi dibawah aksi elektromagnetik dengan kekuatan elektrostatik dan eter yang berubah dengan cepat untuk menentukan interaksi gravitasi dan gerak mereka di ruang angkasa (William Line, Top Secret Archives Tesla ", penerbit" Eksmo ", 2009). Pada tahun 1937, von Braun memindahkan proyek ke Reich Ketiga, dan perkembangan di bidang ini berlanjut di Pitsunda, di Negara-negara Baltik dan di pabrik bawah tanah di Jerman. Siapa pun yang mendengar atau membaca tentang piring terbang Nazi mungkin sudah menduga bahwa inovasi ini didasarkan pada teknologi “ethereal” Nikola Tesla.

Peneliti Amerika modern William Line dalam buku-bukunya, misalnya, “Space Aliens from Pentagon”, menjelaskan teknologi ini secara rinci. Dia yakin bahwa UFO adalah karya layanan khusus Amerika atau, menurut teori konspirasi, pemerintah dunia. Ini adalah kemampuan untuk mempengaruhi eter dengan cara tertentu yang mampu mengatur mesin terbang, pada penciptaan yang Nikola Tesla mulai bekerja. Berkat pengetahuan dan pemahaman tentang fenomena alam seperti eter dan sinar kosmik utama, mesin-mesin menakjubkan ini dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal, secara instan mempercepat dan secara dramatis mengubah kecepatan, dan juga melayang di udara. Pada saat yang sama, tubuh pilot tidak mengalami tekanan yang mungkin terjadi pada jenis kendaraan lain. Itu tentang karakteristik unik yang ditulis Tesla yang hebat dulu.

Adapun nasib lebih lanjut dari “piring terbang” Nazi, selama dan setelah perang, Amerika memberikan industri pertahanan mereka dan kemudian - program luar angkasa - dengan personil yang sangat berkualitas dari Third Reich (Operation Paperclip). Tidak mengherankan bahwa kemudian di Amerika Serikat, kasus-kasus ketika orang-orang melihat mobil-mobil yang sangat terbang itu menjadi lebih sering, dan booming sepeda ufologis dicatat dalam masyarakat Amerika.

William Line menulis dalam salah satu bukunya bahwa pada tahun 1953 dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sebuah “piring terbang” yang cukup dekat. Fakta bahwa bagian bawah mesin super cepat ini dikelilingi oleh pelepasan listrik yang berlimpah (yang disebutnya “pelepasan Tesla”) menunjukkan bahwa "piringan" semacam itu menggunakan teknologi “eterik”. Line yakin: mobil itu ditunjukkan oleh penstabil gyroscopic, yang sebelumnya ditulis oleh Tesla. Setelah Tesla meninggal, semua makalahnya, gambar dengan penemuan dan perkembangan menghilang tanpa jejak dari kamar hotel tempat ilmuwan itu tinggal.

Teori Eter (dalam bahasa Inggris disebut “Ether”) adalah teori dalam fisika yang mengandaikan keberadaan eter sebagai zat atau bidang, mengisi ruang, serta media untuk transmisi dan distribusi gaya elektromagnetik dan gravitasi. Teori eter yang berbeda mewujudkan konsep yang berbeda dari medium atau substansi ini. Dalam teori modern, eter memiliki sedikit kesamaan dengan konsep klasik eter, dari mana namanya dipinjam. Sejak pengembangan teori relativitas khusus, teori eter tidak lagi digunakan dalam fisika modern dan digantikan oleh model yang lebih abstrak.

Perihal kesamaan konsep antara “ether” dan “dark matter”, Thierry DELORT, dalam artikelnya “Ether, Dark Matter and Topology of the Universe”, dalam International Journal of Physics. 2015; International Journal of Physics, Department of Physics, Inria Saclays, Saclays, France, Pub. Date: January 11, 2015, 17-28, menuliskan sebagai berikut : “...a substance, called ether-substance, fills and constitutes all what is called ‘vacuum’ in the Universe. We assume that it has a mass and consequently it could be the nature of dark matter.”

Teori relativitas umum. Einstein kadang-kadang menggunakan kata eter untuk merujuk ke medan gravitasi dalam relativitas umum, tetapi terminologi ini tidak pernah didukung secara luas. Kita dapat mengatakan bahwa menurut teori relativitas umum, ruang diberkahi dengan kualitas fisik; dalam pengertian ini, oleh karena itu, ada eter. Menurut teori relativitas umum, ruang tanpa eter tidak terpikirkan; karena dalam ruang seperti itu tidak hanya tidak akan ada perambatan cahaya, tetapi juga tidak ada kemungkinan keberadaan untuk standar ruang dan waktu (batang pengukur dan jam), atau oleh karena itu interval ruang-waktu dalam pengertian fisik.

Materi gelap dan energi gelap sebagai eter. Saat ini, beberapa ilmuwan mulai melihat dalam materi gelap dan energi gelap referensi baru untuk konsep ether. New Scientist melaporkan sejumlah penelitian di Oxford University yang berupaya menghubungkan energi gelap dan eter untuk memecahkan masalah gravitasi dan massa. Starkman dan koleganya Tom Zlosnik dan Pedro Ferreira dari University of Oxford sekarang mentrasformasikan konsep eter dalam bentuk baru untuk memecahkan teka-teki materi gelap, zat misterius yang diusulkan untuk menjelaskan mengapa galaksi tampaknya mengandung massa jauh lebih banyak daripada yang bisa dipertanggung-jawabkan untuk oleh materi yang terlihat.

Sekarang tim Starkman telah mereproduksi hasil Bekenstein hanya menggunakan satu bidang - eter baru. Bahkan yang lebih menggiurkan, perhitungan tersebut mengungkapkan hubungan yang erat antara akselerasi ambang a0 - yang tergantung pada eter - dan laju ekspansi akselerasi alam semesta. Para astronom menghubungkan percepatan ini dengan sesuatu yang disebut energi gelap, jadi dalam arti tertentu eter terkait dengan entitas ini.

Bahwa mereka telah menemukan hubungan ini adalah hal yang benar-benar mendalam, kata Bekenstein. Tim sekarang sedang menyelidiki bagaimana eter dapat menyebabkan ekspansi alam semesta semakin cepat. Andreas Albrecht, seorang kosmologis di University of California, Davis, percaya bahwa model eter ini layak diselidiki lebih lanjut. “Kami telah menemukan beberapa masalah besar dengan kosmologi - dengan materi gelap dan energi gelap,” katanya. “Itu memberitahu kita bahwa kita harus memikirkan kembali fisika fundamental dan mencoba sesuatu yang baru.

Dalam kuliah yang dibawakan oleh Einstein tentang eter, yang diberikan olehnya di kota Leiden di Belanda pada tahun 1920, terdapat argumen tajam relativistik yang menyangkal keberadaan eter. Sampai saat itu, pertanyaan tentang sifat sejati eter akan tetap tidak terjawab. Eter adalah sesuatu yang berbeda dari materi fluida ruang berbobot, atau, lebih baik, ruang dengan sifat material tertentu.

Menghilangkan konsep eter dari fisika teoretis, Einstein sendiri menutup jalan untuk memahami hubungan antara ruang dan materi, yang mengarah pada munculnya kesulitan yang tak terpecahkan dalam teori relativitas umum, seperti “fitur” aspek kosmik infinity, yang tidak memiliki makna fisik, dan upaya Einstein yang gagal secara logis - secara matematis, ganti gaya tarik dengan ruang bulat, dan kurangi gerak benda kosmik alami menjadi geometri murni.

Teori Einstein dipandang bersifat positivistik dan, setelah menembus esensi tidak lebih dari tingkat permainan matematika sensasi pengamat, ia gagal memenuhi impian hidupnya - untuk menafsirkan tatanan dunia dari sudut pandang teori medan terpadu, yang dirancang untuk menyatukan semua fenomena dunia. Akibatnya, ia tidak dapat menggabungkan ontologi, matematika, dan fisika.

Albert Einstein (1879-1955). Dia beralasan pada tingkat ruang dan materi nyata, yang tidak cukup dalam, dan pada prinsipnya, tidak begitu akurat. Mari kita jelaskan: Einstein pada tahun 1920 secara pribadi, dengan otoritasnya, bersaksi bahwa eter tidak ada. Sampai saat itu, fisika adalah ilmu yang terbuka untuk kontemplasi filosofis. Setelah memindahkan eter dari fisika, Einstein memutus hubungan konseptual antara ruang dan materi (materi harus mencakup spasial) dan mendalilkan bahwa waktu tidak ada, yaitu, bahwa waktu hanyalah apa yang “terlihat oleh kita pada jam,” dan dengan demikian Einstein ke fisika dipisahkan dari metafisika, atau lebih tepatnya, dunia sains yang berubah-ubah dipisahkan dari dunia prinsip-prinsip abadi.

Penemuan hukum-hukum alam tidak dapat diidentifikasi dengan ciri-ciri kepribadian ilmuwan dan intuisinya, dengan upaya yang dilakukan olehnya atau kekhasan perasaan. Hukum ilmiah memiliki sifat kosmis, obyektif dan, setelah diproduksi dan dirumuskan secara matematis, hukum itu bekerja secara terpisah dari sifat psikologis ilmuwan mana pun (bjektif, bukan subjektif). Kita berbicara tentang fakta bahwa seorang ilmuwan hanyalah “wahana” gagasan.

Konsep kekuatan, massa, dan energi muncul kemudian. Kekuatan dan massa diperkenalkan ke dalam sains oleh Newton, yang menyebut kekuatan sebagai “produk massa dan percepatan”, dan mendefinisikan massa sebagai “ukuran jumlah materi”. Pada saat yang sama, Leibniz mendefinisikan energi sebagai “produk massa dan kecepatan kuadrat”. (Konsep umum energi adalah milik Dalambér, yang menyebutnya “kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan”, dan dalam fisika modern, pengenalan konsep ini akhirnya menjadi milik Max Planck.)

Apakah eter ada atau tidak? Sebelum beralih ke fisika getaran dan eksperimen John Warrel Keely yang sangat penting bagi masa depan fisika, perlu ditunjukkan secara terperinci bagaimana hal itu terjadi bahwa eter dianggap fiksi dalam fisika. Dari penjelasan berikut akan menjadi jelas bahwa Einstein mencoba menerjemahkan gagasan lama tentang eter ke dalam konsep-konsep baru yang tidak mengenali sifat dasar getaran eter.

Menurut Einstein, penunjukan baru eter, yang kemudian digunakan dalam teori relativitas umum, tidak ada yang mengerti dan benar-benar tidak menerima, tetapi upaya samar-samar ini untuk mengubah gagasan lama tentang eter menghasilkan penolakan besar-besaran untuk menggunakan konsep ini, bahkan dengan serius memikirkannya. Seperti yang Anda ketahui, waktu, ruang dan materi adalah tiga kategori utama yang memainkan peran penting dalam pemikiran ilmiah saat ini. Ruang dan materi dipersepsikan secara empiris, langsung, dan waktu adalah turunan. Jelas bahwa dunia yang kita rasakan tidak nyata.

Argumen Einstein untuk menyangkal keberadaan eter. Dalam ceramahnya yang terkenal yang diberikan pada 5 Mei 1920 di Belanda di Universitas Leiden tentang topik “Eter dan teori relativitas”, Einstein membandingkan teori relativitas khusus dengan imobilitas eter. Berikut ini adalah tahapan utama dari rantai logis Einstein, yang tidak diragukan lagi menyebabkan keterlambatan dalam munculnya ide-ide baru dalam fisika modern.

Eter diakui sama oleh Faraday dan Maxwell. Sama seperti Newton, yang memperkenalkan konsep eter “baru”-nya, yang pada dasarnya terdiri dari sekumpulan semua yang ada, Einstein melakukan hal yang tidak dapat diterima: ia mengkritik model eterik Newton dari sudut pandang elektromagnetisme, dan model Faraday-Maxwell dari sudut pandang gravitasi. Selain itu, ia memperkenalkan konsep “ruang kosong” tanpa memberinya definisi, dan segera kemudian menegaskan bahwa tidak ada gaya gravitasi juga, tetapi hanya bahwa ruang melengkung, karena lintasan benda langit bulat, atau lebih tepatnya, planet bergerak di sepanjang lintasan elips.

Dalam kuliah yang sama yang diberikan pada hari yang sama, Einstein pada awalnya menyatakan bahwa medan elektromagnetik sama sekali tidak disebabkan oleh gravitasi, dan segera mengklaim bahwa fenomena ini dihubungkan oleh hubungan sebab-akibat, untuk kemudian meminta pemahaman tentang kesatuan alami antara gaya, gravitasi, dan fenomena elektromagnetik. Pembenaran ilmiah untuk menyangkal eter, yang dilontarkan oleh tokoh sekaliber Einstein, saat kini benar-benar perlu kita kaji ulang.

Merupakan karakteristik dari proses berpikir Einstein bahwa ia tidak melepaskan diri dari masalah yang sedang dibahas, atau lebih tepatnya, mengidentifikasi metode dan objek, kognisi manusia dan dunia yang dikenali. Ini bukan tipe presentasi ilmiah, dan perasaan puitis menyelinap di setiap kata Einstein, melumpuhkan pikiran pendengar, dan teks, pada dasarnya, berada di bawah wacana alegoris, puisi puitis. Masalah muncul ketika Einstein melanjutkan ke matematika. Kemudian puisinya dan intuisi filosofisnya yang luar biasa dihadapkan pada ketepatan matematis yang tak terhindarkan.

Tidak masuk akal untuk menganalisis matematika Einstein, tetapi harus ditunjukkan bahwa matematika ini mengulangi kekurangan dari logikanya. Teori relativitas khusus didasarkan pada dua hal yang bertolak belakang: yang pertama berkaitan dengan relativitas (induksi saat ini), yang kedua dengan immutabilitas (kecepatan cahaya). Dalam teori yang sama, ia membuat geometri waktu, mengungkapkannya dalam bentuk panjang, dan kemudian memperkenalkan segmen negatif (ukuran panjang dalam ruang-waktu), yang tidak termasuk penjelasan fisik apa pun. Dalam relativitas umum, Einstein mengalikan nol dan mendapatkan model alam semesta. Ketika mereka menunjukkan kesalahan, dia mengoreksi persamaan, setelah itu kosmos mulai berkembang.

Jika dia menguasai matematika suci, dia akan menerima korespondensi langsung antara matematika dan alam. Dia akan memesan sains dan pikirannya sendiri dengan cara yang paling mendalam dan kosmik. Alih-alih, Einstein selamanya hanya akan menjadi pemimpi dialektik, apalagi, secara internal bertentangan, dan karenanya tanpa kekuatan kognitif sejati, hanya seorang pecinta-metafisika.

“"Memahami kesatuan fisik antara gravitasi dan fenomena elektromagnetik akan berarti kemajuan luar biasa ... perbedaan antara eter dan materi akan hilang, dan berkat teori relativitas umum, semua fisika akan dipenuhi dengan pemikiran sistematis tunggal ... yang perlu dilacak adalah hubungan fisika kuantum dan teori medan ... sifat fisik membentuk ruang teori relativitas umum, dalam pengertian ini eter ada ... berdasarkan teori relativitas umum, ruang tanpa eter tidak mungkin, karena cahaya tidak dapat merambat melalui ruang seperti itu, dan tidak akan ada normatif sebutan ruang dan waktu (alat ukur dan jam) dan umumnya tidak akan ada interval ruang-waktu dalam arti fisik kata tersebut. Tetapi tidak dapat diperdebatkan bahwa eter semacam itu mengandung sifat-sifat yang melekat dalam lingkungan berbobot, terdiri dari bagian-bagian yang dapat diamati dalam waktu. Gagasan gerak tidak berlaku untuk eter semacam itu.”

Seperti yang Anda lihat, kekacauan terminologis Einstein berkuasa, dan alasan tentang eter sangat kacau, dan dia, pada dasarnya, ragu-ragu, karena konsep materi belum diselesaikan olehnya. Tetapi, di samping fakta bahwa gagasan eter jelas tidak jelas baginya, ia langsung jatuh ke dalam penilaian wajib, beberapa diantaranya harus didaftar, karena mereka berlimpah dalam pernyataan saling eksklusif dalam eksposisi yang sama:

1. “Teori relativitas saya mengecualikan keberadaan properti mekanik terakhir dalam eter - imobilitas.”

2. “Eter tidak ada sama sekali.”

3. “Sebuah refleksi yang lebih cermat menunjukkan bahwa teori relativitas tidak memaksa kita untuk menyangkal eter.”

4. “Hipotesis eter itu sendiri bertentangan dengan teori relativitas khusus.

5. “Dari sudut pandang teori relativitas khusus, hipotesis eter adalah hipotesis kosong.

6. “Menolak keberadaan eter sama saja dengan tidak mengenali semua sifat mekanik untuk ruang kosong.

7. “Medan elektromagnetik hanya terkait sekunder dengan eter.

8. “Eter gravitasi sama sekali tidak menentukan medan elektromagnetik.

9. “Hubungan sebab-akibat terdiri dari - medan elektromagnetik dan eter gravitasi, atau, sebagaimana mereka juga dapat disebut, - ruang dan materi.

10. “Berdasarkan teori relativitas umum. ruang tanpa eter tidak terpikirkan.”

11. “Untuk ether seperti itu (yaitu, model ether menurut Einstein. - V.A.) gagasan gerakan tidak berlaku.

Demi kebenaran lengkap, satu konfirmasi lagi dapat dikutip, yang dengan sendirinya cukup berbicara tentang alasan ilmiah yang mengarah pada fakta bahwa fisika kehilangan eter. Dari semua hal di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Einstein memiliki gagasan eter yang sangat kabur. Dia percaya bahwa eter bergerak, tetapi bahkan mengenai hal ini dia tidak dapat mengekspresikan dirinya dengan jelas, dan dia tidak pergi ke sifat eter lainnya yang bahkan lebih penting.

Fisika keely berasal dari getaran akustik. Bahkan suara yang paling samar sekalipun menghasilkan gema tanpa akhir. Pelanggaran disebabkan oleh gelombang ruang tak terbatas yang tak terlihat, dan getarannya tidak pernah hilang sama sekali. Energi ini, begitu dilepaskan dari dunia materi dan menembus ke dunia non-material, akan hidup selamanya. Akustik dan elektromagnetisme identik baik karena hukum fisika dan unsur matematika yang termasuk dalam formula. Tidak ada keraguan bahwa gerak osilasi bersifat universal secara matematis. Namun, interpretasi matematis dari formula yang sama untuk suara dan cahaya belum ditemukan oleh sains.

Keely percaya bahwa eter berhubungan dengan tingkat energi yang lebih tinggi daripada massa dan materi, dan itu sejuta kali lebih tebal dan lebih keras daripada baja.

Peka terhadap akustik sejak lahir, Keely mencapai keseimbangan terbaik efek eterik dengan bantuan ritme (dengan menggantung, memutar, mengangkat beban dan banyak pengaruh mental), dan juga mengubah kekuatan - dengan bantuan tempo (dengan melakukan ini ia secara kuantitatif menyamakan efek perangkat pada berbagai beban dan kecepatan) ... Tetapi dia juga tahu metode penggunaan eter secara berurutan dan terpisah dalam eksperimen yang kompleks. Misalnya, dengan bantuan rotasi, ia memengaruhi objek hingga resonansi akustik paling lengkap, diakhiri dengan efek suspensi.

Akustik dapat direduksi menjadi elektromagnetisme, karena pada akhirnya semua getaran atom dan molekul adalah pertukaran emisi radiasi kuantum dengan cara yang sama dengan getaran di ruang tata surya yang disebabkan oleh gaya gravitasi dan disebabkan oleh gerakan planet. Dan mereka semua membuat suara. Rentang suara dari planet-planet tata surya kita, seperti diketahui, didirikan oleh Johannes Kepler.

Oleh karena itu, menghasilkan suara, kami pada dasarnya diatur dalam gerakan dan cahaya. Tentu saja, kebalikannya juga mungkin: untuk mendapatkan suara dari cahaya, dan jika Anda tahu dan menerapkan hukum matematika eter, Anda dapat membuat materi, atau lebih tepatnya, mengembunkan materi dari medan elektromagnetik. Dalam dirinya sendiri, resonansi suara adalah sinkronisme dari sinyal yang dikirim dan diterima. Kondisi yang sama berlaku untuk osilasi elektromagnetik dari laser, hanya saja ini memiliki bentuk penjelasan yang berbeda. Nikola Tesla, menggunakan getaran dan resonansi dalam spektrum elektromagnetik, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Keely dengan suara. Mereka menggunakan hukum alam yang sama, tetapi manifestasi elektromagnetik berbeda satu sama lain.

Keely menganggap dirinya bukan penemu, tetapi seorang pria yang menemukan hukum alam. Dalam kasus lain, ia mendemonstrasikan sebuah metode ketika kekuatan “tak terlihat oleh mata telanjang”, meninggalkan tabung seperti itu, dalam 29 detik tepat mencapai kekuatan yang mampu mengangkat 350 Kg besi. Dalam percobaan ini, ia juga menggunakan air, tetapi ia melakukan penguapannya yang cepat, bukan memanaskannya, tetapi dengan bantuan suara khusus. Uap air dalam volume tertutup diproduksi dengan bantuan getaran eksternal dari energi besar yang berasal dari resonator suara yang sangat besar. Ke silinder yang bergetar di bawah pengaruh gelombang suara, Keely memasang tabung yang sangat tipis dengan diameter yang luar biasa kecil dan dengan cara ini membuat sambungan antara perangkat dan ruangan tempat generator berada.

Dengan mengatur molekul udara bergerak dengan bantuan suara khusus, Keely, kadang-kadang, dalam eksperimennya, mencapai tingkat materi yang lebih dalam, dan dengan demikian ia mendapat ide bahwa ada sesuatu yang mendahului eter, menciptakan eter dan mengendalikan getarannya. Keely juga membuat “laser” suara: kubah yang terdiri dari berbagai bahan digunakan olehnya dalam percobaan sebagai akumulator suara. Di dalamnya, kekuatan suara dengan khas, yaitu, yang paling cocok untuk resonator yang diberikan, frekuensi meningkat menjadi daya kritis, atau lebih tepatnya, sebelum penampilan akustik “transmisi laser”. Suara yang dihasilkan diperkuat Keely dilakukan dengan bantuan tabung ke perangkat, yang, karena itu, bekerja sebagai mesin akustik, menghasilkan efek rotasi, tarik, tolakan dan suspensi.

Diberkahi dengan nada sempurna, berjam-jam sebelum percobaan, Keely mulai mencari karakteristik frekuensi suara resonator ini, mencari emisi “laser” akustik yang cocok. Ini sesuai dengan pencarian frekuensi emisi foton, yang dilakukan pada transisi kuanta tertentu dalam atom, yaitu transisi kuantum yang menyediakan penguat.

Getaran suara periode penuh dalam sistem Keely berhubungan dengan kuantum cahaya. Dia kemudian mereproduksi frekuensi suara yang ditemukan (khusus untuk bahan resonator) sehubungan dengan gelombang yang lebih pendek daripada getaran alami resonator. Dia dengan mudah melakukannya dengan bantuan harmonik rendah dari suara yang sama. Dengan demikian, Keely menyadari peningkatan intensitas suara dalam waktu - akumulasi fisik suara, yang untuk beberapa waktu terkunci dan berdenyut dalam resonator bola. Dia kemudian mengarahkan suara yang diperkuat menggunakan tabung. Sebuah bola logam (kubah) di dasar laboratoriumnya membantu dalam kompresi kompleks suara beberapa frekuensi menggunakan laser atau resonator.

Dengan menyesuaikan periode osilasi sekunder dan getaran pada resonator, ia membangun gelombang vertikal monoakustik dengan intensitas dan konfigurasi yang stabil, yaitu, ia menempatkan minima dan maksima dari osilasi dengan cara yang sama seperti penyelarasan modal, dengan kata lain, ia menghasilkan transformasi yang identik dari gambar - menjadi suara, visual - menjadi suara. , mandalas - ke dalam mantra.

Esensi dari penemuan Keely adalah hukum harmonis dari sifat vibrasi materi. Dengan menggabungkan berbagai tingkat getaran harmonik, mulai dari massa besar, melalui suara dan struktur atom hingga partikel elementer eter, Keely melepaskan energi tak terbatas praktis dari lapisan bergetar paralel yang membentuk Dunia yang terlihat.

Jika dikatakan tentang Pythagoras bahwa ia menemukan “musik bola”, maka tentang Keely kita dapat mengatakan bahwa dia menemukan “musik Dunia” dan mulai menulis skor halusnya. Keely, pada intinya, mencoba untuk merobyikasi secara ilmiah baik bagi yang lain maupun bagi seluruh umat manusia pengetahuan kuno tentang transfer teknis dari massa yang berat dari satu segmen waktu kosmik ke yang lain, yaitu, dari satu realitas paralel ke realitas lain. Terkadang, teori kuno pada gilirannya dapat bangkit dan mematahkan teori modern yang “relatif lebih mapan”. Mari kita tunggu, dunia secara resmi menggantikan teori relativitas dengan teori eter, yang sebelumnya tenggelam sejak era kemasyuran Einstein.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Punya Masalah Hukum? Konsultasikan kepada Konsultan SHIETRA & PARTNERS, Netral dan Objektif

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS