Jangan Bersikap Seolah-Olah Tidak Punya Opsi / Pilihan Lain

SERI SENI HIDUP

Jangan Bersikap seolah-olah Tidak Punya Pilihan Bebas dalam Hidup Ini, dan Jangan Bersikap seolah-olah Tidak Ada Pilihan / Opsi Lain untuk Dipilih

Manusia, bukanlah produk yang sudah sempurna “dari sananya” (bahasa gaulnya, “dari sononya udah begitu”, namun apa yang dimaksud dengan “udah begitu dari sononya”? Jawab : “Bukan salah bunda mengandung, juga bukan salah si orok!” Jika begitu, salah siapa? Silahkan dijawab sendiri). Suka atau tidak suka, kita harus menghindari delusi berbahaya yang bernama : kita sudah benar, sudah sempurna, sudah absolut, sudah mulia, sudah dipuncak, sudah “on the track”, dan lain istilah sejenis sebagainya. Faktanya, kita perlu senantiasa mendidik diri kita sendiri layaknya “guru terbaik ialah diri kita sendiri”, sepanjang hayat. Jangan menjadi “si rambut putih namun berkebijaksanaan hampa”.

Semula, penulis merancang sebuah “kredo” berupa sugesti diri secara mandiri yang terdiri dari kalimat-kalimat yang disuarakan secara membatin berulang-ulang kepada diri kita sendiri, salah satunya berupa “kredo” berikut : “Jangan bersikap seolah-olah tidak punya pilihan bebas.” Teknik sugesti diri dengan bahasa yang jernih dan jelas berupa kalimat yang utuh dan lugas diucapkan atau disuarakan bagi dan untuk diri kita sendiri, berupa “kredo”, biasanya ampuh menjadi semacam “software” yang menjalankan fungsi motor penggerak maupun fungsi olah pikir kita sebagai seorang manusia.

Namun, entah mengapa, “kredo” yang satu tersebut meski terdengar “powerfull”, akan tetapi ketika berbenturan dengan realita, terdapat suatu hal yang mengganjal dan penulis sadari belumlah sempurna adanya sehingga perlu dilengkapi dengan “kredo” pelenggap yang baru penulis temukan baru-baru ini saat ulasan ini disusun. Tanpa perlu menggelitik rasa penasaran para pembaca, langsung saja penulis ungkap “kredo” pelengkapnya agar sugesti diri ini menjadi lebih bertenaga, kuat, serta utuh, yakni kalimat sebagai berikut : “Jangan bersikap seolah-olah tidak punya opsi / pilihan lain untuk dipilih.”—sehingga, jika kita susun secara lebih utuh, “kredo” tersebut akan terdengar seperti ini : “Jangan bersikap seolah-olah tidak punya pilihan bebas dalam hidup ini, dan jangan bersikap seolah-olah tidak ada pilihan / opsi lain untuk dipilih.

“Kredo-kredo” demikian tidaklah datang secara sendirinya sejak kita lahir sebagai modal keterampilan “seni hidup”, ia dibentuk lewat pengalaman dan perenungan terhadap pengalaman tersebut, yang kebanyakan ialah pengalaman personal yang bersifat langsung dan biasanya cukup pahit / getir—meski terkadang kita cukup merefleksikan pengalaman hidup orang lain, tanpa perlu menyelaminya sendiri pengalaman buruk serupa. Hingga saat kini, penulis telah menciptakan serangkaian “kredo” yang mana ironisnya, tidak pernah penulis dapatkan lewat pendidkan formal maupun pendidikan nonformal dalam keluarga ataupun sekolah, dimana hingga beranjak dewasa penulis melakukan serangkaian “try and failure” seorang diri bagaikan meraba-raba dalam kegelapan atau kondisi temaram, sebelum akhirnya menemukan berbagai “kredo” yang tampaknya akan cukup bermanfaat bagi para pembaca, sehingga satu per satu “kredo-kredo” tersebut penulis tuangkan dalam berbagai karya tulis dengan tajuk “seni pikir dan tulis” maupun “seni hidup”. Selamat datang di Universitas Kehidupan, perkuliahan bagi umum yang dibawakan langsung oleh Hery Shietra CSUK (gelar kehormatan bagi para “Calon Sarjana Universitas Kehidupan). Harapan terbesar penulis, ialah agar para pembaca tidak perlu mengalami pengalaman pahit serupa seperti lubang dimana penulis pernah terjatuh ke dalamnya dan terluka.

Penulis juga menemukan suatu fenomena sosial yang cukup unik, bahwasannya untuk memudahkan pemahaman, ilustrasi konkret yang memiliki kedekatan dengan kita dikeseharian (proximity), akan lebih tepat pada sasaran dan dapat diterima (dicerna) oleh kemampuan berpikir orang rata-rata apapun latar belakang pendidikan dan sosialnya. Sebalum memasuki latar belakang peristiwa konkret bagaimana proses pembentukan “kredo” demikian, mari kita telusuri bagaimana sistem kesadaran dan pikiran kita bekerja.

Pendiri aplikasi messenger “Telegram”, Pavel Durov, sempat menyinggung soal kinerja otak, dengan menyebutkan bahwa pikiran adalah alat kita yang paling kuat. Tidak ada yang tidak bisa dilakukannya. Berdasarkan banyak kajian ilmiah, pikiran secara aktif menghasilkan ide baru bahkan saat kita beristirahat atau tidak melakukan apapun. Sering kita punya solusi masalah sulit, justru hadir setelah tidur panjang di malam hari.

Ia menambahkan, seperti halnya wujud fisik kita bergantung pada apa yang kita makan, kondisi mental manusia bergantung pula pada kualitas informasi yang dimasukkan ke otak. “Jika kita memupuk otak kita dengan data real life yang memungkinkannya menyelesaikan masalah-masalah fundamental, ia akan memproses data ini di latar belakang (alam bawah sadar pikiran) dan datang dengan solusi tidak terduga,” urai Pavel Durov.

Dalam level mendalam, otak kita jadi tidak bisa mengetahui fiksi dan realitas, jadi melimpahnya hiburan digital membuat pikiran bawah sadar kita sibuk membuat solusi pada permasalahan yang sesungguhnya tidak ada,” imbuh Pavel Durov menyimpulkan, lalu menyarankan masyarakat agar meminimalisir tontongan tayangan kisah fiktif. “Untuk menjadi kreatif dan produktif, kita pertama-tama harus membersihkan pikiran kita dari konten tidak relevan dari banjir rekomendasi algoritma setiap hari. Jika kita ingin mendapatkan kembali kebebasan kreatif, kita pertama-tama harus memperoleh kembali kendali pikiran kita.”

Sayangnya, Pavel Durov sendiri memungkiri bahwa produk inovasi digitalnya merupakan hasil imajinasi yang tidak real adanya pada mulanya dan merupakan hasil proses olah kesadaran atas sesuatu yang fiktif pada mulanya. Terkadang, kesadaran dapat berpijak pada dua faktor, baik objek pikiran yang konkret (alam panca indera) maupun yang abstrak (alam pikiran) secara bergantian dalam kecepatan yang tinggi pada satu momen kepada momen lainnya)—bahkan sampai-sampai kerapkal kita tidak menyadarinya.

Cukup berlainan dengan pendapat tokoh sebelumnya di atas, secara pribadi penulis lebih banyak menggunakan pendekatan yang sama dengan Nikola Tesla, sang jenius penemu teknologi turbin pembangkit listrik dan berbagai penemuan yang lebih maju ketimbang zamannya hidup, yang menyebutkan bahwa : “The scientists of today think deeply instead of clearly. One must be sane to think clearly, but one can think deeply and be quite insane.”—yang bila kita terjemahkan, kurang lebih bermakna : Saat ini, ilmuan lebih berpikir secara mendalam daripada berpikir secara jernih. Seseorang harus waras untuk dapat berpikir secara jernih. Namun seseorang dapat saja berpikir secara mendalam dan cukup tidak waras. Terlagipula, imajinasi merupakan sumber kreativitas, demikian tokoh lain menambahkan, menciptakan yang nyata dari yang sebelumnya tidak pernah eksis.

Berpikir secara jernih, artinya berpikir secara sadar, itu menjadi domain atau ranah “alam sadar”, bukan “alam bawah sadar”—yang berarti, merupakan proses aktif berkesadaran, bukan mengandalkan alam bawah sadar kita menjadi penentu nasib hidup kita. Berpikir dan melihat fenomena secara sadar, artinya berpikir dan mengamati serta menjadi tahu secara jernih, ketimbang menghabiskan sumber daya waktu berspekulasi. Ibarat mengamati benda di bawah lampu temaram, sedalam dan selama apapun kita berpikir, kita tidak akan pernah tahu warna sebenarnya sebuah objek yang kita amati, apakah merah tua, merah marun, ataukah merah muda? Dengan menghidupkan lampu atau penerangan dan pencahayaan mencukupi yang lebih terang agar dapat melihat secara lebih jernih, maka cukup bagi kita dalam tempo singkat mengetahui warna sebenarnya dari objek yang sedang kita amati dan teliti secara akurat.

Banyak orang mengalami berbagai pengalaman buruk sebagai “real life” mereka, namun tidak pernah menjadikan mereka sebagai seorang filsuf ataupun cendekia. Alam bawah sadar mereka, terlampau pemalas dan semalas keledai untuk berpikir, terkecuali Anda memiliki modal bawaaan lahir berupa alam bawah sadar yang sehat, cerdas, disamping produktif. Cukup memusingkan kita berpikir perihal bagaimana alur atau proses pikiran sadar maupun alam bawah sadar bekerja dan melakukan determinasinya dalam keseharian hidup kita, apapun itu, terlepas dari semua itu, kita melihat kejadian berikut dalam pandangan yang jernih dan melihat hasilnya.

Suatu waktu, dalam perjalanan pulang ke kediaman penulis pada suatu jalan umum di kompleks perumahan, dengan berjalan kaki, pada arah berlawanan seorang pengendara kendaraan bermotor roda dua, tanpa mengenakan helm ataupun masker penutup hidung dan mulut—konteksnya ialah keadaan negeri sedang dilanda wabah akibat pandemik virus menular mematikan antar manusia—di tengah jalan sang pengemudi batuk di depan umum sembari terus mengemudikan laju kendaraannya, tidak memperdulikan kondisi sedang wabah juga banyak warga yang lalu-lintas di jalan umum tersebut.

Posisi penulis yang masih dalam jarak sekitar lima meter dari TKP (tempat kejadian perkara batuk pengendara “tidak takut dosa”) demikian, dengan bodohnya tetap melajukan kaki berjalan menembus “awan microdroplet bioaerosol” mengandung jutaan partikel virus kecil beterbangan yang tidak kasat mata yang sebelumnya dihembuskan dengan ganasnya oleh sang pengendara yang batuk di tengah jalan sehingga virus dan bakteri berhamburan tanpa alat pelindung diri apapun (naked face, wajah yang berterlanjang bulat). Semata-mata karena tidak nampak oleh mata “awan virus” tersebut yang pastilah belum akan hilang sepenuhnya tersapu udara lepas sekalipun di tengah udara terbuka untuk sekian detik berikutnya, secara irasional penulis tetap melaju “menantang maut” dan berspekulasi “mungkin tidak akan terjadi apa-apa” dan “semua akan baik-baik saja”.

Barulah, setelah berjalan sekitar sepuluh meter kemudian, langkah penulis mendadak “mogok”, terhentikan oleh alam sadar yang mencuat ke permukaan dan mengambil-alih proses berpikir atas kejadian tersebut, betapa bodohnya penulis yang terus melaju menembus dan menantang bahaya yang tidak perlu ditantang dan resiko yang tidak perlu diambil. Seketika pikiran penulis menjadi keruh oleh rasa penyesalan, cemas, gelisah, serta merasa “bodoh”. Ketika pikiran kita sedang keruh, berpikir secara mendalam seperti apapun, seperti dikatakan oleh Nikola Tesla di atas, adalah percuma.

Ketika penulis mencoba berpikir secara lebih jernih, barulah penulis menyadari, bahwa penulis bisa saja pada saat itu memilih untuk mengambil pilihan berupa langkah lain untuk menyikapinya, yakni dengan “mengalah”, mundur sejenak, berhenti dari melangkahkan kaki, mencari tempat berlindung yang aman, menunggu sejenak hingga aman sepenuhnya untuk melintas, barulah setelah itu melanjutkan perjalanan. Akibat gagal dalam mengkalkulasi “plus dan minus” dibalik suatu opsi atas suatu realita empirik yang ada yang kita alami sebagai pengalaman langsung, setelah itu selama sisa hari tersebut dan hari-hari berikutnya penulis dirudung oleh penyesalan dan rasa “bodoh” sendiri. Lebih baik dicelakai oleh orang lain, ketimbang mencelakai diri sendiri oleh sikap bodoh diri kita sendiri.

Setelah terjadinya proses berpikir secara jernih itulah, barulah penulis menemukan “kredo” pelengkap yang selama ini membuat “kredo” semacam “jangan bersikap seolah-olah tidak punya pilihan bebas” dirasakan kehilangan “kredo” komplomenternya. Bagaimana mungkin kita bisa membuat pilihan bebas, bila kita tidak menyadari bahwa kita memiliki lebih dari satu opsi yang dapat kita pilih dan ambil dalam menyikapi hidup. Dalam contoh kasus sederhana namun konkret tersebut di atas, pilihan yang ada setidaknya ialah dua buah opsi : tetap melaju mengambil resiko yang tidak perlu, ataukah untuk berhenti sejenak hingga situasi benar-benar aman. Saat itulah, penulis menemukan “kredo” pelengkapnya, sebagai : “Jangan bersikap seolah-olah tidak punya opsi lain untuk dipilih.

Karena ketika kita telah menyadari bahwa kita (sejatinya) memiliki lebih dari satu buah opsi untuk dipilih, opsi sesukar apapun itu konsekuensi dibaliknya, dengan demikian kita baru benar-benar mampu menjiwai hidup dengan memiliki “pilihan bebas” di tangan. Dalam derajat tertentu, pilihan bebas itu memang ada, meski tetap tidak dapat menderogasi seutuhnya deterministik makro kekuatan kode genetik yang menyusun “template” tubuh dan jiwa-pikiran kita, semisal sekeras apapun kita mendidik dan “memberi pelajaran” terhadap seseorang, mereka yang tergolong “keras kepala” akan tetap bersikukuh dengan sikap “keras kepala” mereka, sebagaimana terlihat jelas dalam berbagai laporan hasil riset, bahwa pola asuh dalam suatu keluarga telah ternyata tidak mengubah orientasi gender seseorang transgender.

Deterministik genom, sangat menyerupai orang-orang yang hidup dalam kondisi kecanduan dan mencandu (bahkan memabukkan), mencandu berbuat kriminal bila memiliki genetik kriminal, mencandu berbohong bila memiliki genetik berbohong, mencandu berbuat kebaikan bila memiliki genetik kebaikan (benar-benar eksis, bukan fiktif) dan lain sebagainya. Sekeras apapun kita mencoba mendidik mereka, yang akan kita jumpai ialah hanya sekadar “tobat sambel”, alias tobat untuk saat kini saja, besoknya kembali diulangi seperti orang-orang yang merasa menderita akibat memakan sambal, tetap saja esoknya kembali diulangi dan terulangi kejadian serupa.

Hanya rekayasa genetika, yang mampu mengubah seseorang secara permanen. Umat manusia, merupakan produk yang “terkungkung” dalam kerangkeng atau sangkar berwujud tubuh yang terdiri dari organ-organ tubuh seperti otak, kerangka tulang, darah, dan daging sebagai “hardware” lengkap dengan seperangkat “software” bernama “genom”. Apakah rancang bangun, seorang manusia, adalah memang sesederhana itu? Fakta, selalu pahit (truth always bitter).

Sudah banyak sekali penelitian yang memaparkan bukti-bukti empiris perihal deterministik genom, yang memang perlu kita akui terdengar sangat mengerikan, yakni : kabar baik bagi Anda yang memiliki genetika sebagai “orang baik-baik” dan kabar buruk bagi Anda yang memiliki genetika sebagai orang yang tergolong “bukan orang baik-baik”, dimana seorang kriminal dapat beralibi di hadapan hakim di pengadilan : “Pak Hakim, bukan salah bunda mengandung!” Alhasil, seperti yang telah kita buka pada prolog ulasan ini, “Lalu, salah siapa?” tanya sang hakim pada sang terdakwa. Bagi yang tertarik untuk mendalaminya lebih jauh, silahkan gunakan kata kunci ini untuk menjelajah pada lautan artikel dan publikasi ilmiah neurosains yang tersebar di dunia maya : “genetic determinism”.

Berikut kutipan salah-satu ulasan yang membahas perihal “kegilaan” deterministik biologis : Genetic determinism is a problematic philosophy because it “reduces the self to a molecular entity, equating human beings, in all their social, historical, and moral complexity, with their genes”. Kabar baiknya, hipotesis penulis ialah tawaran yang lebih “humanistik”, yakni alam bawah sadar kita memang mengandung deterministik genetik yang tidak dapat kita tolak ataupun amputasi keberadaannya. Namun, kita berdaya sebagai seorang manusia bebas ketika memasuki kekuatan dibalik “alam sadar”, pusat dimana proses berpikir jernih mampu membuat kita terlepas dari kungkungan dominasi pengalaman buruk masa lampau maupun deterministik genetik. Itulah, yang penulis sebut sebagai “kekuatan alam sadar”.

Sebagaimana kita ketahui, postulat dalam ilmu psikologi menyebutkan, ketika alam sadar terbenam ke dasar permukaan, maka yang mendominasi permukaan ialah alam bawah sadar, begitupula sebaliknya, dimana keduanya tidak dapat eksis secara bersamaan karena satu sama lain saling “menenggelamkan”. Sains modern memang mengenal penyimpangan dari deterministik ini, berupa mutasi gen atau genetik yang terdiferensiasi, dengan istilah “epigenetika”, namun apakah sifatnya mampu sedramatis itu bila kita bahkan tidak mampu mengubah sidik jari tangan kita sendiri lewat kekuatan tekad, kehendak, maupun pikiran.

Salah satu buku yang penah penulis baca, ialah karya Matt Riedley berjudul “Genom, Kisah Spesies Manusia Dalam 23 Bab”, Matt Ridley dalam studinya, menemukan keberadaan determinisme genetik yang tidak lagi dapat dipungkiri dari sejumlah kasus konkret, dikotomi tegas antara konsep “determinisme pengasuhan” dan “determinisme genetik” sebagai faktor penentu kepribadian manusia. Riedley mendapati pula bahwasannya manusia mendapatkan kepribadian dari berbagai kromosom di dalam genetik tubuh mereka dan dari pengaruh teman sepergaulan mereka, namun bisa jadi bukan dari orang tua mereka (pola pengasuhan tidak lagi relevan).

Bila Anda berpikir bahwa genetik yang bersifat deterministik merupakan ideologi yang “fatalistik”, maka cobalah perkenalkan pada tawaran baru yang tidak kalah fatalistiknya, yakni “deterministik lingkungan sosial”, yang penuh kesenjangan ekonomi, diksriminasi gender dan ras, hingga aksi perundungan (bullying), sebuah dunia yang kejam, dan sebagainya dan sebagainya, maka output-nya akan sama saja, meski diperhalus dengan kemasan “ada campur tangan selain genetik”, yang mana lagi-lagi, pandangan mengenai kehendak bebas tetap tersisihkan.

Untuk mudahnya, lihat saja fenomena kesenjangan sosial ekonomi yang kian hari kian senjang, yang miskin semakin miskin, dan yang kaya semakin kaya. Kita mungkin dapat menemukan kasus-kasus anomali si miskin berubah menjadi si kaya, namun itu sama sukarnya menemukan si bebek buruk rupa menjelma menjadi si angsa yang cantik rupawan. Bukankah itu lebih mengerikan, daripada deterministik genom, dimana yang senjang semakin senjang dan kian berjarak? Setidaknya, pada konsep deterministik genom, Anda adalah Anda, saya adalah saya, dan mereka adalah mereka, tiada kesenjangan antara Anda terhadap Anda, saya terhadap saya, ataupun mereka terhadap mereka. Anda adalah produk unik diri Anda sendiri, bukan produk deterministik dari lingkungan ataupun “korban keadaan”. Dalam derajat tertentu, deterministik genom merupakan “modal” buah Karma diri kita masing-masing, terlahir dari perbuatan diri kita sendiri serta mewarisi perbuatan diri kita sendiri.

Sebagai penutup, kepada sang pengendara yang batuk di tengah jalan umum tanpa mengenakan masker dikala wabah, yang bisa jadi membaca turut artikel ini di kemudian hari, berikut pesan dari penulis : “Jangan bersikap seolah-olah pintu gerbang neraka tidak terbuka lebar di bawah kaki kita”. Dengan cara begitulah, seseorang dapat hidup secara lebih bertanggung-jawab dan lebih bisa dipertanggung-jawabkan segala perilaku dan tindak-tanduknya, tanpa meremehkan perbuatan buruk dan tanpa penyepelekan korban.

Sungguh sukar dipahami, bagaimana mungkin seseorang yang mengaku sebagai manusia, dapat merasa tidak takut membawa potensi merugikan bagi orang lain, seperti tertular wabah akibat tidak menerapkan “protokol kesehatan” sebagaimana mestinya, dimana warga yang menjadi korban tertular oleh perilakunya baik secara disengaja maupun karena kelalaian, menderita kerugian setidaknya dapat mengancam keselamatan keluarga di rumah, tidak dapat bekerja mencari nafkah, menderita sakit, pengeluaran untuk obat dan makanan / suplemen, kerugian akibat mengalami gejala ringan maupun berat, keharusan isolasi diri, hingga bahkan terancam kematian. Itulah sebabnya, menjadi orang baik dimulai dengan tidak bersikap seolah-olah pintu surga telah terjamin dibuka lebar di atas kepala kita—justru sebaliknya, harus memandang bahwa pintu gerbang neraka terbuka lebar tepat di bawah kaki kita, agar tidak kita meremehkannya terlebih mengabaikannya.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Arsip Artikel HUKUM-HUKUM.COM (Dropdown Menu)

TELUSURI Artikel dalam Website Ini: