Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS

Orang Indonesia Tidak Takut Berbuat dosa, Seram dan Mengerikan, sebuah Cerminan Kultur Arogansi

ARTIKEL HUKUM

Narsistik Cerminan Sifat Egoistik

Narsis + Egois + Arogan + Tidak Malu dan Tidak Takut Berbuat Dosa (Menyakiti, Melukai, atau Merugikan Korban) = T-Rex (“Manusia Dinosaurus”, Bertumbuh Manusia namun Berotak Kadal-Limbik)

Sungguh bukanlah sebuah tantangan ringan hidup sebagai bagian dari anggota masyarakat di Indonesia yang dikenal “agamais” namun kerap menyepelekan dan meremehkan hak-hak orang lain atas kesehatan dan keselamatan hidupnya, tanpa rasa bersalah merampas hak-hak warga lain atas ketenangan dan ketenteraman hidup maupun properti miliknya, lebih galak yang bersalah ketika ditegur (ya sudah, biarkan saja pelakunya kian dalam menggali lubang kuburnya sendiri, orang dungu yang bangga menimbun karma Buruk), membalas air susu dan budi baik dengan air tuba, kerap menyelesaikan segala sesuatu serta memaksakan kehendak dengan cara-cara kekerasan fisik, anti kritik, miskin kejujuran terlebih intergritas, sukar diberi kepercayaan, suka ingkar janji, tidak bertanggung-jawab, dimana ketika negeri ini dilanda pandemik akibat wabah menular mematikan, kondisi warga yang patuh terhadap hukum maupun patuh terhadap “protokol kesehatan (cegah dan atasi wabah)” jauh lebih memprihatinkan akibat kian kontrasnya keegosian (sifat egois) mayoritas wajah penduduk di Indonesia.

Dapat Anda bayangkan, dikala wabah merebak demikian ganasnya, kita yang mengenakan masker serta menjaga jarak, justru terlihat “aneh sendiri” serta “tampil lain daripada yang lain”—perhatikan kontekstualnya, yakni dikala pandemik sedang merajela. Pandemik, pada satu sisi sungguh memukul rakyat suatu bangsa. Namun pada satu sisi lainnya, menjadi batu “ujian” bagi para Kepala Daerah maupun seorang Kepala Negara dan Pemerintahan, apakah mereka benar-benar memiliki “leadership” ataukah selama ini hanya pandai janji-janji serta slogan sementara itu jalannya roda pemerintahan dibiarkan “auto pilot”, sekadar berjalan “business as usual”.

Pada sisi lainnya lagi, menjadi instrumen paling jitu untuk menilai wajah asli bangsa kita sendiri, apakah betul telah beradab atau justru masih “jauh panggang dari api”, apakah humanis ataukah premanis-aroganis, apakah “humanis” dan “Tuhanis” ataukah “aroganis” serta “premanis”, apakah taat ataukah pembangkang, apakah rendah hati ataukah penuh kesombongan (atas kesehatannya), apakah menghormati hak kesehatan dan hak hidup warga lainnya dengan menerapkan “protokol kesehatan” atau sebaliknya, punya malu dan rasa bersalah ketika merugikan dan menyakiti orang lain ataukah justru merasa bangga mengoleksi serta menimbun diri dengan Karma Buruk, suciwan ataukah pendosa (hanya seorang pendosa, yang membutuhkan iming-iming semacam “penghapusan / penebusan dosa”), serta berbagai mitos lainnya seperti sopan-santun, penuh tata-krama (konteks wabah, apakah mengenakan masker dan menjaga jarak atau tidaknya), gotong-royong (gotong-royong menyebar-luaskan wabah sebagai agen penular), jagoan puasa (namun anti “lockdown” yang hanya beberapa minggu lamanya), dsb.

Ketika kita memberi teguran kepada mereka, agar menghormati hak kesehatan orang lain, maka inilah yang mereka sampaikan secara arogan (jauh dari kata kerendahan hati etiked Ketimuran) sebagaimana juga menjadi tanggapan yang lazim dan umum akan kita jumpai dari mulut warga di Indonesia yang “khas”, justru menghakimi dan mendiskreditkan warga yang sekadar menuntut haknya untuk tidak diberi resiko tertular dan resiko kesehatan hingga potensi ancaman keselamatan jiwa : “Ketakutan sekali, musti pakai masker segala, cuci tangan segala, jaga jarak segala! Kamu sudah pakai masker, buat apa saya pakai masker?!

Itu namanya “EGOIS”, dirinya bebas dari resiko tertular dari lawan bicara yang mengenakan masker ketika dirinya mendekat semisal hendak bertanya alamat atau menawarkan barang dagangan, sementara itu dirinya justru membawa resiko tertular kepada orang yang dimintai tolong informasi petunjuk jalan. Sekalipun kita ternyata terkena tular dan tidak tewas akibat infeksi, tetap saja baik bergejala ringan hingga berat, merugikan dari segi kesehatan, kecemasan yang mengganggu batin bilamana sewaktu-waktu gejala infeksi kian memburuk, menanggung biaya perawatan / pengobatan, dan tercurahnya seluruh sumber daya waktu (potential loss, time is money) untuk isolasi diri dan menahan sakit serta merawat diri, disamping tersitanya segala sumber daya pikiran.

Apakah sang pelaku penular, hendak dan bersedia bertanggung-jawab atas segala derita yang kita tanggung dan pikul seorang diri selaku korban yang tertular akibat arogansi warga lainnya? Jika mereka menantang dengan menjawab, “Saya tanggung-jawab dan ganti-rugi!”, maka apa tanggung-jawabnya selain sekadar gimmick obral janji minim realisasi? Ingkar janji, alias wanprestasi, sekalipun itu “hitam diatas putih”, lumrah dan sudah “khas” Bangsa Indonesia. Anda sendiri yang “bodoh”, bila mau percaya iming-iming dan janji-janji dari mulut orang Indonesia bila tidak disertai jaminan atau agunan. Sudah kita semua ketahui orang Indonesia sangat tidak menghargai integritas diri, pandai untuk urusan menipu dan merangkai modus, berdusta dan ingkar janji demikian mudahnya semudah bermain “lidah tak bertulang”, maka percaya pada ucapan orang Indonesia dengan begitu lugunya sama artinya Anda sendiri yang telah gegabah dan sembrono.

Jika kita mendapati perilaku orang “Made in Indonesia” yang arogan semacam itu, cukup jawab sebuah tanggapan sesingkat ini, tanpa perlu mendebat lebih lanjut (karena pasti mereka yang minim kapasitas otaknya, akan cenderung bermain “otot” alias kekerasan fisik) : “Kamu tidak takut berbuat dosa dengan membawa potensi menulari orang lain yang bisa jadi celaka atau menderita kerugian, akibat tertular kamu yang bisa jadi mengidab wabah namun tanpa gejala? Jika kamu minta dan menuntut untuk dihormati, maka hormati dahulu orang lain!” Lalu, sebisa mungkin jauhi dirinya, tanpa perlu memberikan “reward” semisal membeli produk daganganya ataupun memberikannya petunjuk jalan sebagaimana diminta olehnya.

Betapa serakah dan egoistiknya bangsa ini, tercermin dari tatkala wabah meluluh-lantakkan ekonomi rakyat jelata, masih juga bantuan pemerintah di-korup dan di-kolusi oleh oknum Ketua Rukun Tetangga maupun Rukun Warga, bahkan hingga pejabat negara sekelas Menteri Sosial yang menyunat hak-hak rakyat penerima bantuan—dapat kita bayangkan, masih juga mencuri nasi dari piring milik orang-orang yang lebih miskin daripada sang pejabat negara, semata akibat keserakahan dan gagal untuk memiliki “rasa malu” dari berbuat jahat. Jangan tanyakan apakah takut atau tidaknya orang Indonesia dari menjahati individu lainnya, tiada bendungan ataupun benteng moralitas berupa “malu dan takut berbuat jahat” semata akibat menghamba pada dogma-dogma “penghapusan / penebusan dosa” sebagai menu santapan favorit mereka dikeseharian, yang mana akan menjadi mubazir bila tidak menjadi seorang pendosa yang penuh dasa.

Orang Indonesia cenderung berbicara tanpa memiliki kebiasaan untuk dipertimbangkan masak-masak sebelum diutarakan, dimana ucapannya menjadi tidak heran bila “tidak punya hati” serta “tidak punya otak’. Ketika mereka diminta patuh terhadap “protokol kesehatan”, mereka para pelanggarnya tersebut justru menjadikannya sebagai bahan lelucon sebagai “itu protokol ialah protokol ketakutan”. Itulah cerminan “sense of justice yang tumpul”, bangsa yang tidak takut berbuat “dosa” dengan menularkan  atau paling tidak membawa potensi resiko bagi orang lain yang bisa jadi beresiko tinggi terpapar dan bergejala hebat hingga tewas? Jika si indo itu mau mati tertular, ursuan dia, tapi jangan nularin oran lain! Sang Buddha sudah bilang, malu dan takut buat jahat, jadi protokol kesehatan MEMANG HARUS PROTOKOL KETAKUTAN, TAKUT BUAT DOSA!

Jangankan rakyatnya, telah ternyata sang Bapak Presiden selaku Kepala Negara Republik Indonesia pun bersikap arogan terhadap rakyat jelata. Betapa tidak, ketika ekonomi kerakyatan kian hari kian terpukul akibat penanganan pandemik akibat wabah virus menular mematikan dibiarkan berlarut-larut tanpa ketegasan sehingga rakyat di “akar rumput” harus berjuang secara sendiri-sendiri dan masing-masing menyelamatkan diri, dimana sekalipun telah jatuh puluhan ribu korban jiwa dari penduduk bangsa sendiri, sang Bapak Presiden masih juga membuat klaim, “Pemerintah telah bergerak cepat menangani wabah!

Sungguh benar tudingan yang menyebutkan bahwa sang Bapak Presiden adalah “the King of LIP SERVICES”. Kita tidak butuh presiden yang lebih pandai berpidato, lebih sibuk memikirkan citra dan pamor dirinya sendiri, kita butuh tokoh Kepala Negara yang benar-benar bisa menyatukan bangsa dan menggerakkannya secara efektif. Tiongkok, mampu cepat bangkit dari pandemik, akibat pemerintahnya memercayai rakyatnya, dan rakyatnya pun memercayai pemerintahnya, sehingga gerak roda kenegaraan di China demikian efektif serta efisien.

Presiden gembar gembor indikator ekonomi membaik, angka ekspor-impor meningkat, pertumbuhan ekonomi surplus ditengah-tengah wabah memasuki puncak-puncaknya tanpa kejelasan ujung akhirnya, dikala tingkat ekonomi rakyat jelata benar-benar di ambang mulut krisis moneter akut. Pertanyaannya yang tidak disampaikan oleh sang Bapak Presiden iaalh, itu siapa yang menikmati, nilai-nilai statistik ekonomi yang terdengar menggiurkan di telinga? Mengapa berbeda seratus delapan puluh derajat dengan realita? Rakyat yang terkena imbas resesi ekonomi akibat pandemik, benar-benar menjadi sedih dan terpukul jatuh “K.O.” (Knock Out) mentalnya mendengar pidato sang Bapak Presiden, sembari membatin:

“Bapak Presiden mengatakan dengan begitu bangganya dalam konferensi pers yang diperdengarkan kepada jutaan penduduk Indonesia, ekonomi Indonesia pada nilai plus, namun mengapa saya masih terpuruk dan kian terjungkal dan keluarga kita terancam mati kelaparan? Apakah Bapak Presiden kini kembali sedang ‘llip service’ kepada rakyatnya? Apakah rakyat butuh, ‘lip service’ sang Bapak Presiden? Apakah rakyat memilihnya untuk sekadar menjadi aktor badut ‘lip service’? Ini adalah republik, bukan Taman Kanak-Kanak ataupun panggung hiburan!”

Dalam ilmu psikologi perilaku, disebutkan bahwa “sikap narsistik merupakan cerminan sifat egoistik”. Para warga yang selama ini menantang wabah, bahkan masih juga sang manusia “Made in Indonesia” menantang dan mencobai Tuhan, dengan sama sekali tidak menerapkan “protokol kesehatan”, tidak patuh pada imbauan pemerintah, meremehkan dan menyepelekan hak atas kesehatan dan keselamatan jiwa warga lainnya, menganggap pemberitaan terkait bahaya wabah dan korban jiwanya ialah “bisikan iblis penipu”, mempropa-gandakan anti himbauan pemerintah, adalah cerminan sifat narsistik, seolah-olah dirinya serta hendak pamer kepada dunia bahwa yang bersangkutan merupakan anak kesayangan Tuhan karena masih sehat tanpa mengenakan masker sekalipun dikala wabah merebak demikian hebatnya, dan berkeliaran bak “kebal dan imun seperti Superman”.

Itulah tepatnya, wajah asli segala klaim bangsa penuh sopan-santun “lip service” Bangsa Indonesia, yang bahkan bergotong-royong semudah dan sekadar mengenakan masker serta menjaga jarak serta tidak berkerumun pun sekalipun kecanggihan teknologi sudah sedemikian maju secara digital untuk berkomunikasi jarak jauh, masih juga menentang dan melawan dengan tetap mudik, tidak bersedia mengenakan masker (mereka, berbadan besar dan kekar, begitu pengecutnya seolah menganggap dirinya akan mati tidak dapat bernafas bila mengenakan masker?), tidak bersedia tidak berkerumun (arogan sekaligus narsis, “Lihat betapa saya kebal wabah!”), tetap tidak bersedia kooperatif terhadap segala “protokol kesehatan” ataupun himbauan pemerintah, sekalipun pemerintah Indonesia telah tergolong sebagai pemerintahan yang demikian tidak pernah tegas dalam urusan penanganan dan pengendalian wabah, sangat longgar, dan kompromistis terhadap rakyat dan kebijakannya sendiri.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

TELUSURI Artikel dalam Website Ini: