Debat antara TUHAN Vs. MANUSIA PENDOSA tentang Penghapusan Dosa

SERI SENI HIDUP

Standar Ganda, Cerminan Watak yang Curang, Serakah, dan Tidak Akuntabel sebagai Seorang Umat Manusia yang Mengaku Ber-Tuhan dan Rajin Beribadah

Menurut para pembaca, konsep curang sejenis iming-iming “janji surgawi” semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, adalah lebih menguntungkan ataukah merugikan umat manusia, membawa ancaman ataukah memperutuh “standar moral” umat manusia, menjernihkan ataukah mengeruhkan, lebih banyak mudarat ataukah faedah, musuh untuk ditolak ataukah teman untuk dipeluk dan dipelihara, merusak ataukah membangun dan memelihara peradaban, menjadikan umat manusia kian humanis ataukah menjadikan manusia kian biadab-premanis, obat penyembuh ataukah racun pembunuh, adil ataukah curang, dan lain sebagainya yang saling bertolak-belakang satu sama lainnya menjelma blunder hebat tersendiri yang mengandung “moral hazard” terhebat dalam sejarah umat manusia?

Faktanya, hanya seorang dan para pendosa yang berdosa, yang membutuhkan janji-janji “too good to be true” semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”. Di mata seorang pendosa yang penuh dosa, tentunyalah iming-iming korup semacam semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa” adalah tawaran yang menggiurkan untuk dipeluk dan diyakini, secara membabi-buta jika perlu, terutama ketika dosa-dosanya telah menggunung. Karena ada “supply” bernama janji-janji “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa” yang ditawarkan “Agama DOSA” bagi para pendosa, maka ada muncul “demand” bernama manusia-manusia pendosa yang berdosa karena berbuat dosa yang bersumber dari perbuatan-perbuatan jahat dan buruk.

Namun, roda kehidupan terus berputar. Tidak selamanya korban tertindas, dan tidak selamanya pelaku kejahatan akan bergembira di atas penderitaan para korbannya. Cepat atau lambat, para penjahat tersebut akan berhadapan dengan para penjahat dan para pendosa lainnya, menjadi serta mencicipi pula rasa pahit-getirnya menjadi seorang korban yang menderita kerugian ataupun tersakiti. Seorang penipu yang menjual barang secara tidak jujur kepada konsumennya, kelak dirinya pun akan membeli produk-produk dari penjual tidak jujur lainnya, dan terkena tipu. Tidak selamanya, seorang pelaku kejahatan akan berkedudukan sebagai seorang penjahat, tanpa dapat menghindar akan tiba saatnya diri bersangkutan menjadi seorang korban kejahatan oleh para penjahat dan pendosa lainnya.

Mari kita simak dialog berikut, sebagai ilustrasi bahaya dibalik konsepsi iming-iming “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, malapetaka bagi pihak korban namun juga lambat-laun akan menjadi malapetaka bagi diri sang pelaku kejahatan ketika kelak turut menjadi korban perbuatan jahat para pendosa lainnya. Bermula ketika seorang umat kerap berbuat kejahatan dan menimbun dirinya dengan perilaku jahat, alias sebagai seorang pendosa yang penuh dosa dan berdosa. Menyadari dirinya dapat dipastikan akan masuk alam neraka berkat timbunan dosa yang ia koleksi hingga menggunung, maka sang pendosa mencoba “bernegosiasi” dengan Tuhan.

Pendosa :

“Halo Tuhan, apakah Tuhan ada di tempat? Ini saya lagi, mau minta penghapusan dosa kembali agar segala dosa-dosa saya dihapus dan diampuni.”

Tuhan :

“Kamu tidak lihat, saya sedang sibuk rencanakan dan mengatur agar bayi si anu lahir hari ini, ayam si anu harus bertelur berapa butir hari ini, si anu menikah dengan si anu, si anu harus meninggal, si anu harus diluluskan atau digagalkan saat ujian, si anu harus dapat pekerjaan hari ini, si anu harus dipecat hari ini, si anu terpeleset hari ini, si anu dapat bonus besar dari bosnya hari ini, dan masih banyak hal penting lain yang harus saya atur serta rencanakan setiap harinya. Mana ada waktu saya untuk ladeni pendosa yang tergila-gila agar dosa-dosanya dihapus seperti kalian itu, para pendosa? Kamu pikir saya kurang kerjaan?”

Pendosa :

“Bukankah ini, yang menjadi janji-janji dari Tuhan? Tuhan hendak wanprestasi janji-janjinya Tuhan selama ini, “Malaikat menemuiku dan memberiku kabar baik, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak mempersekutukan ... dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga. Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzinah? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzinah’.” Itu janji-janji surgawi, tertulis di ‘Kitab Dosa’ sumber ‘Agama Dosa’ yang Engkau turunkan ke dunia manusia. Saya akan lebih rajin lagi dalam beribadah, bila dosa-dosa saya dihapuskan!”

Tuhan :

“Kamu pikir kamu itu siapa, hendak tawar-menawar dengan Tuhan? Kamu berhutang pada orang lain, lalu tidak mau bayar dan lunasi kembalikan uang pinjaman itu, justru kamu memilih lari dan melarikan diri dari kewajiban pembayaran hutang. Jadilah kamu berhutang dan menjadi pendosa karena merugikan orang lain. Sudah itu menyuruh saya yang menebus dosa-dosanya kamu, dengan cara menyuruh saya untuk membayari semua hutang-hutangnya kamu itu?! Enak di kamu, tidak enak di saya dan di korban.”

Pendosa :

“Saya selama ini rajin beribadah, melayani Anda lewat servis lidah dan mulut berupa puja-puji dan sembah-sujud. Mengapa tidak mengabulkan permohonan saya untuk dihapuskannya seluruh dosa-dosa saya selama ini?”

Tuhan :

“Ya sudah, saya hapuskan dosa-dosa kamu itu, wahai manusia pendosa yang penuh dosa. Namun ingat, jangan meminta sesuatu secara berstandar ganda, pantang!”

Pendosa :

“SIAP! Asyik, sekarang bisa buat dosa baru lagi. Segala dosa-dosa lama sebelum ini telah dihapus dan ditebus oleh Tuhan, sehingga kembali menjadi manusia yang bersih dan suci kembali.”

Tuhan :

“Lain kali ambil nomor antrian terlebih dahulu sebelum menelepon-telepati kepada saya. Ini ada miliaran manusia disaat bersamaan berdoa kepada saya meminta ini dan itu. Mereka dan kalian semua harus antri satu per satu, dan giliran kamu masih sekitar lima belas tahun lagi mengantri barulah dapat berdialog dengan saya. Betapa sibuknya menjadi Tuhan, manusia tidak pernah terpuaskan diberikan apapun, sekaligus korup, berani berbuat namun tidak berani bertanggung-jawab.”

Beberapa waktu kemudian, musim demi musim silih-berganti datang dan pergi. Daun-daun meranggas sebelum jatuh berguguran. Berganti musim semi, kuncup-kuncup bunga tumbuh dan bermekaran. Waktu berlalu, dan kehidupan terus bergerak maju dengan cara serta laju kecepatannya sendiri. Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, demikianlah pepatah yang tepat untuk mewakili sang pendosa.

Kini, giliran sang pendosa menjadi korban kejahatan oleh para pendosa lainnya. Uangnya terkena modus penipuan dan terjebak pada modus penipuan para penjahat dan penipu ulung. Merasa tidak terima diperlakukan demikian, terkena tipu dijadikan korban, sang pendosa kembali mencoba menghubungi Tuhan, namun kali ini ialah dalam rangka agar Tuhan bersedia memberi hukuman kepada pelakunya seberat-beratnya dan disaat bersamaan memberikan keadilan bagi dirinya selaku korban.

Pendosa :

“Wahai Tuhan, ini urgen, jadi saya menghubungi tanpa mengindahkan nomor antrian. Saya kini mau buat laporan dan aduan!”

Tuhan :

“Aduh, ini ada jutaan ibu yang sedang bersalin menunggu melahirkan anak yang harus saya atur dan rencanakan tanpa lagi bisa menunggu lebih lama lagi, harus cepat saya tentukan dan putuskan, apakah bayi laki-laki ataukah perempuan, serta bagaimana warna rambut serta matanya. Sungguh repot dan merepotkan, tidak pernah saya istirahat tidur sejak menciptakan manusia jutaan tahun lalu. Mau buat laporan dan aduan tentang apa, kali ini? Mau kembali minta dihapus atau ditebus dosa-dosa kamu, seolah dosa-dosa kamu yang kemarin sebesar gunung itu, belum cukup juga?”

Pendosa :

“Bukan itu, sama sekali bukan itu. Meminta dihapus dosa-dosa saya, cukup setiap tahun sekali saya mintakan, alias selama sebelas bulan saya bebas sebebas-bebasnya buat dan timbun banyak dosa, lalu dibulan kedua-belas saya akan kembali meminta penghapusan dosa. Kali ini saya minta agar penipu yang telah menipu dan membawa lari uang saya, dihukum seberat-beratnya karena berdosa dan telah berbuat dosa dengan menjahati saya selaku korban modus penipuannya!”

Tuhan :

“Sayang sekali, Anda kalah cepat dan kalah gesit. Baru saja, sekitar beberapa jam dan sekian menit yang lalu, pelakunya meminta agar segala dosa-dosanya dihapus, termasuk dosa-dosa karena telah menipu banyak orang, salah satunya menipu uang Anda. Ia tampaknya rajin beribadah dengan melayani saya lewat servis bibir dan lidah, karena itulah saya hapuskan segala dosa-dosanya sebagai hadiah.”

Pendosa :

“SAYA TIDAK SETUJU!”

Tuhan :

“Bila Anda tidak setuju, maka itu urusanmu sendiri. Mengapa kini Anda menerapkan ‘Standar Ganda’ dalam hal ini? Sebelumnya kita telah sepakat, tidak boleh ada ‘Standar Ganda’. Bila Anda menghendaki agar dosa-dosa Anda dihapuskan, maka orang lain dan para pendosa lainnya pun punya hak yang sama, untuk dihapus dan ditebus segala dosa-dosanya. Satu hal lagi, bukan hanya dosa-dosamu sebelum ini yang telah saya hapuskan, namun segala pahala kamu pun telah saya turut hapus!”

Pendosa :

“Wah, saya MERUGI dan benar-benar menjadi RUGI dua kali! Ini seperti sebuah jebakan, saya masuk perangkap!”

Tuhan :

“Memang iming-iming tentang penebusan ataupun penghapusan dosa, adalah sebuah tipu-muslihat ‘Agama DOSA’ yang bersumber dari dogma-dogma dalam ‘Kitab DOSA’, sebuah jebakan bagi manusia-manusia korup, dimana keserakahan dirinya sendiri yang membuatnya jatuh ke dalam lubang perangkap dan terperangkap.”

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Arsip Artikel HUKUM-HUKUM.COM (Dropdown Menu)

TELUSURI Artikel dalam Website Ini: