Parity, being Equal, Unrequited. Kesetimpalan, Seimbang, Tidak Bertepuk Sebelah Tangan

HERY SHIETRA, Parity, being Equal, Unrequited. Kesetimpalan, Seimbang, Tidak Bertepuk Sebelah Tangan

This is what is called the human principle,

Namely,

An attitude and reciprocal nature,

Reciprocity.

We can also call it a principle of justice,

Balanced.

When we were alone,

Who is nice to someone,

But that person doesn’t treat us well,

That is what is known as “one-sided clapping”, unrequited,

Because only we are good alone while other people don’t behave the same way towards us.

Only when the parties are kind to each other,

So we no longer unrequited.

When our good attitude backfires on ourselves,

Harming ourselves,

Then it is not a healthy good deed,

But hurting yourself by wearing the packaging is called good attitude.

When we are generous to someone,

But that person is actually being selfish towards us,

So that’s what we call a lame relationship,

One-sided,

Alias, one-sided clap,

Unrequited.

When others are selfish towards us,

Then it is time for us to be just as selfish, with their selfish attitude,

Then we can call it,

No longer unrequited,

Namely,

Be selfish to each other!

That’s,

The paradox of life,

We must learn to be selfish as well as being able to be generous.

A good cop, does not give a reward of freedom, to criminals who commit criminal acts,

However, giving them a reward in the form of imprisonment.

Otherwise,

When the police and the judge release a criminal,

Then we call it,

Evil attitude that is unrequited.

When we are very tolerant towards others,

While on the contrary,

The other person is very intolerant towards us,

That is what we call one-sided tolerance.

Why should we force ourselves to be tolerant, while other people are intolerant towards us?

When other people are intolerant towards us,

We may also need to be equally intolerant towards them.

That is what we can call intolerance that is not one-sided.

To be wrong and unhealthy,

When we are obliged to be tolerant while other people are free to be intolerant towards us.

When someone maliciously persecutes us,

Meanwhile we do not retaliate against the same evil persecution, against the perpetrator who has hurt us,

So let the Law of Karma do the vengeance.

We don't need to ask for the Law of Karma to wash away the offender’s sin,

So that these crimes are not unrequited.

Repay evil by forgiving the culprit,

Isn’t that also called one-sided clapping?

When a criminal’s sins are washed away,

Meanwhile the victims of these criminals were allowed to swallow the bitter pill of injustice by themselves,

Suffering from pain alone,

Losing alone,

Without justice,

Without parity,

Without merit,

That is what is called the one-sided sin.

The principle of reciprocity,

Become a pillar of egalitarian principles and principles of meritocracy.

A person who works hard,

Should be rewarded with prizes in the form of compensation and awards,

In the form of a fair wage.

Asking to be granted rights,

Then other people must also be given rights by those who previously asked for rights.

There is a right,

Then there is an obligation.

That’s what we call,

Hard work that is unrequited.

Those who are lazy,

So it is only right to suffer poverty and adversity.

That;s what we call,

An unrequited lazy attitude.

Someone who builds self-integrity through honesty,

Get recognition and respect from others,

It’s just right.

We call it,

Integrity and honesty that is not unrequited.

When someone or your opponent is at a trial,

Being dishonest,

Meanwhile you insist on being completely honest,

Then you will experience absolute defeat.

That is what is called unrequited dishonesty,

As well as honesty which is also one-sided.

When another person or your opponent is cheating in a game of chess,

Meanwhile you play chess on the chess board in obedience to the rules of the game,

Then you will definitely experience defeat.

That is what is called unrequited cheating,

As well as one-sided obedience.

That’s why,

Honesty or obedience,

Should not be one-sided.

Full of responsibility,

It is a good and noble character.

But when only we are responsible,

For example, as an employee of the company where we work,

However, the owner of the company is not responsible for what is their obligation to us as employees,

Then that is what we call unrequited responsibility.

Responsible for each other,

That's what we can just call as not being unrequited.

Apart from mutual respect,

Respect each other,

Understand each other,

Help each other,

Take care of each other,

Give each other,

Understanding each other,

Give each other warning when making mistakes, to each other,

And various other aspects of life,

As the people towards the government,

Or as fellow people,

As workers towards employers,

Or as a fellow worker,

As a child towards a parent,

Or as a fellow child,

As a student towards a teacher at school,

Or as a fellow student,

It should be reciprocal in nature,

Respect them when they respect us,

Respect each other,

According to their respective status and roles,

So that we don’t find circumstances,

Where we just being unrequited.

So that we don’t clap one hand,

When other people are not able to be nice to us,

Then we just have to be nice to ourselves, who is also nice to ourselves,

Want to understand ourselves who are full of understanding towards ourselves,

Appreciate ourselves for being respectful towards ourselves.

Therefore,

We did not clap one-sided hands to ourselves.

© HERY SHIETRA Copyright.

 

Inilah yang disebut sebagai prinsip kemanusiaan,

Yakni,

Suatu sikap serta sifat yang saling bertimbal-balik,

Resiprositas.

Kita dapat juga menyebutnya sebagai sebuah prinsip mengenai keadilan,

Kesetimpalan.

Ketika hanya kita seorang diri,

Yang bersikap baik kepada seseorang,

Namun orang tersebut tidak memperlakukan kita secara baik,

Itulah yang disebut sebagai “bertepuk sebelah tangan”,

Karena hanya kita seorang diri yang bersikap baik sementara itu orang lain tidak bersikap serupa terhadap kita.

Hanya ketika para pihak saling bersikap baik satu sama lainnya,

Maka kita tidak lagi bertepuk sebelah tangan.

Ketika sikap baik kita justru menjadi bumerang bagi diri kita sendiri,

Merugikan diri kita sendiri,

Maka itu bukanlah perbuatan baik yang sehat,

Namun menyakiti diri sendiri dengan memakai kemasan bernama sikap yang baik.

Ketika kita bersikap murah hati kepada seseorang,

Namun orang tersebut justru bersikap egois terhadap diri kita,

Maka itulah yang kita sebut sebagai sebuah relasi yang timpang,

Berat sebelah,

Alias, bertepuk sebelah tangan.

Ketika orang lain bersikap egois terhadap diri kita,

Maka sudah saatnya kita pun harus bersikap sama egoisnya, dengan sikap egois milik mereka,

Barulah kita dapat menyebutnya sebagai,

Tidak lagi bertepuk sebelah tangan,

Yakni,

Saling bersikap egois!

Itulah,

Paradoks kehidupan,

Kita harus belajar bersikap egois disamping mampu bersifat dermawan.

Polisi yang baik, tidak memberikan balasan berupa hadiah kebebasan kepada para penjahat yang melakukan perbuatan kriminal,

Namun memberikan mereka ganjaran berupa hukuman penjara.

Sebaliknya,

Ketika polisi dan hakim melepaskan seorang penjahat,

Barulah kita menyebutnya sebagai,

Sikap jahat yang bertepuk sebelah tangan.

Ketika kita bersikap sangat toleran terhadap orang lain,

Sementara sebaliknya,

Orang lain tersebut bersikap sangat intoleran terhadap kita,

Itulah yang kita sebut sebagai toleransi yang bertepuk sebelah tangan.

Mengapa kita harus memaksakan diri bersikap toleran, sementara itu orang lain bersikap intoleran terhadap kita?

Ketika orang lain bersikap intoleran terhadap kita,

Kita pun mungkin perlu bersikap sama intolerannya terhadap mereka.

Itulah yang baru dapat kita sebut sebagai sikap intoleran yang tidak bertepuk sebelah tangan.

Menjadi salah serta tidak sehat,

Ketika kita diwajibkan bersikap toleran sementara itu orang lain bebas bersikap intoleran terhadap kita.

Ketika seseorang menganiaya kita secara jahat,

Sementara itu kita tidak membalas penganiayaan yang sama jahatnya terhadap sang pelaku yang telah menyakiti diri kita,

Maka biarkanlah Hukum Karma yang melakukan pembalasannya.

Kita tidak perlu meminta Hukum Karma untuk menghapus dosa sang pelaku,

Agar kejahatan tersebut tidak bertepuk sebelah tangan.

Membalas kejahatan dengan memaafkan pelakunya,

Bukankah itu juga disebut sebagai bertepuk sebelah tangan?

Ketika dosa-dosa seorang penjahat dihapuskan,

Sementara itu korban-korban para penjahat tersebut dibiarkan menelan pil pahit ketidakadilan seorang diri,

Menderita sakit seorang diri,

Merugi seorang diri,

Tanpa keadilan,

Tanpa kesetimpalan,

Tanpa kepatutan,

Itulah yang disebut sebagai dosa yang bertepuk sebelah tangan.

Prinsip resiprositas,

Menjadi pilar dari prinsip egaliter dan prinsip meritokrasi.

Seesorang yang bekerja keras,

Patut diganjar dengan hadiah berupa kompensasi dan penghargaan,

Berupa upah yang setimpal.

Meminta diberikan hak,

Maka orang lain pun wajib diberikan hak oleh mereka yang meminta diberikan hak.

Ada hak,

Maka ada kewajiban.

Itulah yang kita sebut sebagai,

Kerja keras yang tidak bertepuk sebelah tangan.

Mereka yang bermalas-malasan,

Maka sudah sepantasnya bila menderita kemiskinan dan keterpurukan.

Itulah yang kita sebut sebagai,

Sikap malas yang tidak bertepuk sebelah tangan.

Seseorang yang membangun integritas diri lewat kejujuran,

Mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari orang lain,

Adalah sudah selayaknya.

Kita menyebutnya sebagai,

Integritas dan kejujuran yang tidak bertepuk sebelah tangan.

Ketika seseorang atau lawan Anda di sebuah persidangan,

Bersikap tidak jujur,

Sementara itu Anda bersikukuh bersikap jujur sepenuhnya,

Maka Anda akan mengalami kekalahan mutlak.

Itulah yang disebut sebagai ketidakjujuran yang bertepuk sebelah tangan,

Sekaligus kejujuran yang juga bertepuk sebelah tangan.

Ketika orang lain atau lawan Anda bersikap curang dalam suatu permainan catur,

Sementara itu Anda memainkan catur di atas papan catur secara patuh terhadap aturan main,

Maka Anda pasti akan mengalami kekalahan.

Itulah yang disebut sebagai kecurangan yang bertepuk sebelah tangan,

Sekaligus sebagai kepatuhan yang bertepuk sebelah tangan.

Karena itulah,

Kejujuran maupun kepatuhan,

Seyogianya tidak bertepuk sebelah tangan.

Penuh tanggung jawab,

Merupakan sifat yang baik dan luhur.

Namun ketika hanya kita seorang diri yang bersikap penuh tanggung jawab,

Semisal sebagai seorang karyawan terhadap perusahaan tempat kita bekerja,

Namun pihak pemilik perusahaan tidak bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi kewajibannya terhadap kita sebagai karyawan,

Maka itulah yang kita sebut sebagai sikap bertanggung jawab yang bertepuk sebelah tangan.

Saling bertanggung jawab,

Itulah yang baru dapat kita sebut sebagai tidak bertepuk sebelah tangan.

Tidak terkecuali sikap saling menghormati,

Saling menghargai satu sama lain,

Saling mengerti satu sama lain,

Saling membantu satu sama lain,

Saling menjaga satu sama lain,

Saling memberi satu sama lain,

Saling mamahami satu sama lain,

Saling memberikan teguran ketika berbuat kesalahan, satu sama lain,

Dan berbagai aspek kehidupan lainnya,

Sebagai rakyat terhadap pemerintah,

Atau sebagai sesama rakyat,

Sebagai pekerja terhadap pengusaha pemberi kerja,

Atau sebagai sesama pekerja,

Sebagai seorang anak terhadap orangtua,

Atau sebagai sesama anak,

Sebagai seorang murid terhadap guru di sekolah,

Atau sebagai sesama murid,

Sifatnya seyogianya bertimbal-balik,

Hormati mereka ketika mereka pun menghormati kita,

Saling menghormati satu sama lain,

Sesuai status dan peran masing-masing,

Agar kita tidak mendapati keadaan,

Dimana kita hanya bertepuk sebelah tangan.

Agar kita tidak bertepuk sebelah tangan,

Ketika orang lain tidak mampu bersikap baik terhadap kita,

Maka kita cukup bersikap baik terhadap diri kita sendiri, yang juga bersikap baik terhadap diri kita,

Mau memahami diri kita sendiri yang bersikap penuh pemahaman terhadap diri kita,

Menghargai diri kita sendiri yang bersikap penuh penghargaan terhadap diri kita.

Dengan begitu,

Kita tidak bertepuk sebelah tangan terhadap diri kita sendiri.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Arsip Artikel HUKUM-HUKUM.COM (Dropdown Menu)

TELUSURI Artikel dalam Website Ini: