[Iklan Resmi "REMEMBERTHAI"] Jasa Pencarian dan JasTip Produk THAILAND serta Impor ke Indonesia

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

Ketika Umat yang Justru Mencobai Tuhan, Bukan Tuhan yang Mencobai Manusia

ARTIKEL SOSIOLOGI

Manusia Bukanlah Produk Sampingan Takdir, Namun Manusia sebagai Perancang serta Penentu dari Nasibnya Sendiri, HAK UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI

Ketika Takdir Manusia ada di Tangan Tuhan, maka Tuhan yang Bertanggung-Jawab atas Nasib Manusia. Ketika Pilihan Bebas Ada di Tangan Manusia, Manusia Itu Sendiri yang Bertanggung-Jawab atas Hidupnya Masing-Masing

Sebagaimana biasa dan yang sudah-sudah, Indonesia, Bangsa “agamais” yang menjadikan orang-orang baik sebagai “mangsa empuk”, menyelesaikan segala sesuatu dengan cara kekerasan fisik, dan bangsa yang ironisnya mengaku ber-“Tuhan” namun tidak takut dan tidak malu berbuat jahat terhadap orang lain, sekaligus menjadi konsumen-pelanggan tetap ideologi “penghapusan dosa” (bagi para pendosa, tentunya). Lagi dan lagi, Bangsa “agamais” di Indonesia membuat blunder dengan spekulasi yang “kelewat berani”, mengajak para masyarakat untuk berspekulasi serta “mencobai Tuhan”.

Betapa tidak, lewat speaker pengeras suara, suatu tempat ibadah di dekat kediaman penulis belum lama ini, oleh pihak penceramah yang berdakwah menyatakan kepada para umatnya juga kepada seluruh masyarakat sejauh radius desibel pengeras suara super “norak” serta super “berisik” demikian, bahwa bila Tuhan tidak berkehendak kita mati, maka kita bunuh diri atau akan dibunuh oleh orang lain sekalipun, tidak akan mati. Sang pendakwah yang lebih menyerupai provokator, kemudian memprovokasi umat dan warga, bahwa wabah virus menular antar manusia yang menjadi penyebeb sumber pandemik tidaklah mematikan umat manusia, karena manusia hidup dan mati atas dasar seizin dan kehendak serta kuasa Tuhan. Bagaimana mungkin, tambah sang pendakwah, virus lebih berkuasa daripada kekuasaan Tuhan?

Tidak mengherankan bila berbagai negara tetap dijerat belenggu wabah, bila akar penyebabnya ialah para pendakwah yang menjelma menyerupai provokator yang mencoba “mengadu domba” antara para umatnya terhadap Tuhan, sehingga menjelma menyerupai “Umat Vs. Tuhan”. di Amerika Serikat, puluhan penginjil memproklamasikan anti terhadap “protokol kesehatan” maupun vaksin, tidak terkecuali masker, dan meminta para umatnya untuk beriman sebagai “vaksin iman” yang sejati. Sejatinya, apa yang dilontarkan oleh para penginjil di Amerika Serikat, yang kini terbukti menjadi bumerang bagi warga Amerika Serikat itu sendiri, adalah sama serta identik dengan dakwah sang pendakwah yang ada di Indonesia. Berlanjut di India, muncul fenomena “tsunami wabah Virus Corona” berkat euforia vaksin dimana para warga India memandang keimanan mereka sangat kuat, yang pada muaranya masyarakat India terkena dampak negatifnya.

Jika memang kesemuanya adalah Tuhan yang memutuskan serta menentukan, maka itu artinya yang bertanggung-jawab atas seluruh rangkaian “episode” kejahatan, musibah, penyakit, bencana, dan segala kemalangan maupun kemiskinan hingga kekumuhan yang banyak kita jumpai di dunia ini ialah pihak Tuhan itu sendiri, sehingga menjadi salah alamat ketika para penjahat yang notabene sekadar sebagai “alat” bagi Tuhan yang memakai tangan mereka untuk memberikan cobaan, menunjukkan / memamerkan kekuasaan (kepada manusia yang lemah tidak berdaya), serta untuk meng-gol-kan rencana ataupun kehendak Tuhan, lewat seizin Tuhan, maka terjadilah tindak pidana seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, penipuan, perampokan, dan lain kejahatan lainnya. Jika begitu, mengapa negara kita perlu membuat lembaga semacam penjara dan menjebloskan para manusia malang bernama “kriminil” yang sekadar menjadi “bidak catur” kuasa Tuhan ke dalam sel-sel di balik jeruji?

Bila penyakit memang bersumber dari Tuhan, maka mengapa para umat beragama tersebut tidak semata meminta penyembuhan dari Tuhan, alih-alih ke rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat, dimana faktanya berbagai rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat kita tidak pernah sepi dari antrian pasien yang membutuhkan pengobatan? Bukankah itu artinya, sang pendakwah hendak meng-“haram”-kan rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat, serta melabel atau memberi stigma bagi para pasien tersebut sebagai telah “menduakan Tuhan” hingga “mempersekutukan” karena mencari pertolongan kepada kalangan selain Tuhan, yakni dokter-medik?

Sehingga, yang menjadi dan keluar sebagai “pahlawan” ialah kalangan dokter-medik yang telah menyembuhnkan sang pasien, sementara itu sosok “antagonis”-nya (yang memberi derita dan penyakit serta musibah dan bencana) ialah Tuhan itu sendiri. Hal demikian sangat menyerupai modus para penyedia jasa “tambal ban”, yang bisa jadi disaat bersamaan menjadi pelaku penyebar “ranjau paku (di daratan jalan tempat melintasnya kendaraan bermotor, yang tentunya tidak jauh dari tempat mereka berpraktik jasa “tambal ban”)”. Ketika korban mengalami ban kendaraan yang bocor hingga pecah terkena paku, sang penyedia jasa “tambal ban” memasang tarif yang tinggi, dimana pihak korban masih pula harus mengucap “terimakasih” terhadap sang pelaku penebar “ranjau paku”? Bukahkan itu ialah modus semacam pemaksaan hingga pemerasan itu sendiri?

Sama halnya dengan produk bernama asuransi jiwa ataupun asuransi jenis lainnya untuk barang berwujud maupun tidak berwujud. Bila kita benar-benar meyakini kesemuanya bersumber dari kehendak, izin, serta kuasa Tuhan, maka untuk apa kita membeli polis asuransi? Bukankah itu menjelma menyerupai “menduakan Tuhan”, alias berpaling dari Tuhan, dan mencari perlindungan diri dari kuasa Tuhan (membentengi serta melindungi diri dari “kuasa Tuhan”)? Sebagaimana namanya, bencana alam dalam dalam Bahasa Inggris dinamakan sebagai “the act of GOD”, sehingga sejatinya produk asuransi patut di-“haram”-kan oleh kalangan agamais—bila kita meminjam serta memakai perspektif sang pendakwah yang kita bahas di muka.

Menjadi pertanyaan besar pula untuk dijawab oleh sang pendakwah, untuk apa juga kita mengkonsumsi makanan yang sehat serta rendah lemah, rendah gula, rendah kalori, menjadi diet asupan makanan disamping gizi berimbang, berpantang dari makanan yang mengandung kimia berbahaya, menerapkan “4 sehat 5 sempurna”, menghindari “junk food”, menghindari obat-obatan terlarang maupun produk tembakau, menghindari minuman beralkohol, bila kesehatan dan penyakit semata telah ditetapkan, ditentukan, serta digaariskan oleh Tuhan. Bagaikan sedang menantang Tuhan:

“Bila Engkau, Tuhan, telah menetapkan umur saya hingga tua mampu mencapai berumur seratus tahun, maka untuk apa saya berpantang makanan berlemak, makanan berminyak, makanan berkimiawi, makanan bergula, dan segala makanan yang dinilai tidak sehat oleh para dokter dan ahli gizi? Bukankah itu artinya rugi dan merugi, menyia-nyiakan panjang umur pemberian Tuhan yang memberikan saya berkah nikmat berupa nikmat kebebasan serta nikmat kesempatan untuk makanan yang bergizi namun tidak enak dan tidak sedap di lidah?”

Bila memang faktor umur seseorang adalah ditentukan oleh penetapan Tuhan, maka menjadi irasional serta menjadi tidak logis, bila kita menjumpai kasus-kasus dimana seorang balita (bawah lima tahun) bahkan seorang bayi yang baru dilahirkan, tewas dan meninggal akibat penyakit, akibat kekurangan gizi, akibat dianiaya orangtuanya sendiri, akibat kecelakaan, akibat bencana, dan lain sebab. Untuk apa dilahirkan dan diciptakan hanya untuk ditewaskan dengan demikian tragisnya?

Bila mereka menjawab, “Itu rencana Tuhan”, maka mengapa sebelumnya ia mampu bicara panjang-lebar seolah mampu membaca pikiran Tuhan dan menjadi “nabi” baru? Bila itu terjadi demi memberi “cobaan” terhadap orangtuanya, maka mengapa Tuhan seolah-olah “Maha Tidak Tahu” bak seorang ilmuan yang masih harus meneliti apa yang bukan diciptakan olehnya sendiri? Mengapa harga dibalik sebuah upaya mencoba-cobai, mahal sekali, sebuah nyawa anak yang tidak bersalah (bagaikan dilahirkan hanya untuk menjadi tokoh “figuran” dalam hidup ini)?

Bukankah itu sama artinya manusia menjelma menyerupai “kelinci (atau bahkan tikus) percobaan” Tuhan? Jika gagal dicoba atau saat dicoba, siapakah yang sesungguhnya bersalah? Mengapa diciptakan lengkap dengan cacat dan kegagalan demikian, lantas sang “kelinci percobaan” yang kemudian dilempar ke dalam “tong sampah” bernama “neraka”? Mungkinkah, penciptanya sempurna namun ciptaannya tidak sempurna? Bila ciptaannya tidak sempurna, bukankah itu artinya penciptanya juga belum serta tidaklah sempurna adanya, alias sama-sama penuh cacat-cela? Bukankah itu menyerupai Tuhan yang sedang “cuci tangan” atas ciptaannya sendiri serta terhadap kegagalannya saat proses mencipta?

Bukankah umur umat manusia sudah setua usia Planet Bumi ini, sehingga mengapa Tuhan masih tidak kunjung belajar dari “eksperimen” dan berbagai kegagalan dalam percobaan sebelumnya, sekalipun sudah sedimikian banyak bahkan tidak terhitung lagi “kelinci-kelinci percobaan” yang dikorbankan serta dilempar ke “tong sampah” hasil “eksperimen” Tuhan? Akan sampai kapankah, umat manusia yang tidak berdaya dan diciptakan apa adanya ini, dicoba-coba?

Untuk anak sendiri, dicoba-coba? Terhadap kasus kejahatan asusila seperti pemerkosaan, siapakah yang sejatinya diperkosa, sang korban yang masih “virgin” (kehormatan, harta terbesar kalangan gadis) dirampas kegadisannya oleh sang pemerkosa, ataukah cobaan bagi sang pelaku pemerkosaan, ataukah keduanya adalah “korban cobaan” Tuhan? Tuhan seolah lupa untuk mencobai dirinya sendiri, mengapa seolah tidak “Maha Kuasa” dengan menciptakan seluruh ciptaan yang sempurna adanya?

Katakanlah memang modal seseorang manusia ditetapkan hingga mencapai usia seratus tahun, sebagai contoh, lantas dirinya menantang Tuhan (baca : mencobai Tuhan), dengan mencoba mengambil sebilah pisau untuk kemudian menusuk ulu hatinya sendiri dengan sebuah tikaman yang maut (yang bila menurut Anda belum cukup mematikan, maka silahkan tusuk berulang-kali pada organ vital di depan tubuh Anda). Menurut Anda, mungkinkah dirinya akan selamat? Please, don’t try that at home.

Atau, ketika Anda ditakdirkan dan diramalkan akan menjadi seorang miliarder, namun Anda kemudian menjadi “takabur” dengan hidup bermalas-malasan. Menurut Anda, apakah ramalan seorang peramal paling jitu sekalipun, selalu manjur dan tepat? Faktanya, dalam banyak kasus, bahkan ramalan seolang peramal paling kredibel ataupun ramalan seorang dokter spesialis terhadap kasus pasien dengan tingkat keparahan tertinggi, meleset—bukanlah ramalan mereka yang sejatinya meleset, namun sang pasien yang membuatnya menjadi meleset lewat daya upaya mereka sendiri. Dalam bahasa penulis, ketika manusia berjuang dengan penuh kegigihan dan ketekunan, langit pun akan bergetar dibuatnya, atau berjuanglah terus hingga singgasana para dewata di alam dewata turut bergerat dan tergetar.

Sebaliknya, mungkinkah seseorang yang diramalkan akan hidup singkat atau bahkan hidup miskin sepanjang hidupnya, tidak dapat mengubah nasib dan takdir? Ajaran yang fatalistis, secara fatalistis menjatuhkan vonis seolah-olah menafikan (mengecilkan) peran perjuangan dan pilihan bebas seorang anak manusia. Seseorang yang diramalkan akan hidup miskin sepanjang hidupnya, justru harus berjuang sekeras mungkin untuk bisa mematahkan “kutukan” berupa ramalan dan takdir buruk hidupnya sendiri. Siapa yang tidak akan tersentuh melihat perjuangan “banting-tulang” sang anak manusia demikian yang tidak mengenal kata menyerah dalam hidupnya? Begitupula ketika seseorang diramalkan akan hidup sebatas mencapai usia tiga pulu tahun, atau bahkan kurang dari itu, lantas pasrah begitu saja, apakah itu sikap yang benar? Apakah nasib atau takdir tidak dapat diubah? Itulah pandangan yang fatalistis, menurut hemat penulis, amat sangat berbahaya.

Tiada ajaran keyakinan keagamaan yang lebih menista nama Tuhan, ketika seorang manusia yang justru menantang Tuhan bahkan mencoba-cobai Tuhan sebagaimana dakwah sang pendakwah tersebut sebagaimana telah kita singgung di muka bahasan ini. Sebaliknya, akan lebih rasional bila Tuhan memberikan umat manusia apa yang disebut sebagai “hak untuk menentukan nasib sendiri”—dalam artian, faktor seperti umur hidup, penghasilan, jodoh, prestasi, karir, dan lain sebagainya, tidak semata tanggung-jawab Tuhan, namun menjadi pula dapat dimintakan pertanggung-jawaban umat manusia itu sendiri karena memiliki pilihan bebas dalam hidupnya. Ada pilihan bebas, karenanya dapat dimintakan pertanggung-jawaban. Mungkinkah, manusia tidak menyukai doktrin “pilihan bebas”, karena semata ingin melimpahkan seluruh tanggung-jawab atas hidupnya kepada pundak Tuhan?

Dalam ilmu hukum pidana, seseorang dapat dimintakan pertanggung-jawaban atas perbuatannya bila sang pelaku memang memiliki pilihan bebas untuk berbuat ataupun untuk tidak berbuat. Semisal, seseorang yang tidak memiliki kendali atas hidupnya karena diancam dengan senjata tajam, terpaksa melakukan sesuatu perbuatan ilegal yang diluar kehendaknya suatu perbuatan mana disadarinya melawan hukum, namun dirinya tidak akan dikenakan sanksi pemidanaan akibat terjadi dalam kondisi / posisi tekanan yang memaksa (daya paksa, overmacht). Akan lain halnya, bila sang pelaku memiliki pilihan bebas untuk berbuat ataupun untuk tidak berbuat, maka ketika sang pelaku melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum, dirinya pun dapat dimintakan pertanggung-jawaban secara hukum pidana.

Menjadi begitu dangkal disamping fatalistis, disamping cerminan cara berpikir yang sempit serta picik, dakwah sang pendakwah, dengan menyesatkan umat manusia seolah-olah manusia adalah produk sampingan dari kehendak Tuhan semata dan belaka, yang menihilkan peran kehendak bebas dan usaha umat manusia untuk serta dalam rangka “menentukan nasibnya sendiri”—suatu ruang bebas yang mana patut dihargai oleh umat manusia, yang karenanya manusia dapat dimintakan pertanggung-jawaban untuk memakai ataupun tidak memakai pilihan dan kehendak bebasnya (sesempit apapun ruang bebas yang ada untuk kita pilih). Akan lebih rasional, bila ajaran suatu keyakinan keagamaan mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah mencabut dan menihilkan komponen “software” berupa potensi untuk membuat pilihan bebas atas hidup umat manusia itu sendiri yang mendampingi “hardware” yang mereka masing-masing miliki.

Karenanya, kehidupan ditentukan oleh setidaknya dua faktor, yakni : Pertama, “Faktor Alam” seperti nasib, takdir, ataupun itu sebutannya. Kedua, “Faktor Manusia” itu sendiri, seperti ketetapan hati, perjuangan, pilihan bebas, kegigihan (determination), keuletan, ketekunan, kerajinan, dan lain sebagainya. Ketiga, tambah para ahli Fengshui maupun Hongshui, ialah “Faktor Lingkungan”, yakni ditentukan oleh “getaran tanah bumi” yang ibarat manusia sehat atau tidaknya ditentukan oleh apa yang mereka konsumsi sehari-hari, faktor cuaca, serta apa dan dimana mereka bertempat tinggal serta berusaha disamping menata tempat dimana mereka bermukim, disamping bagaimana mereka mengelilingi diri mereka dengan orang-orang ataupun hal-hal material maupun nonmaterial lainnya. Dunia dan manusia, tidaklah sesempit daun kelor. Potensi manusia demikian tidak terbatas, ibarat seseorang yang merasa telah pintar akan cenderung merasa tidak memerlukan belajar apapun hal baru lainnya, sehingga terkungkung bagai “katak dalam tempurung”.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.