Learn to Dare to Say AS IT IS. Belajar untuk Berani Berkata APA ADANYA

HERY SHIETRA, Learn to Dare to Say AS IT IS. Belajar untuk Berani Berkata APA ADANYA

  Is it a taboo or even prohibited and forbidden thing,

When other people ask, “Are you okay?” or “Are you alright?”,

By answering honestly, as it is,

“No, I’m NOT ‘ALRIGHT’.”

If we really are in trouble or facing a problem,

And it is “NOT alright”,

Is it wrong,

Say honestly and be honest with ourselves and to others?

If we believe that honesty is a good thing and goodness itself,

So why don't we start that honesty, by starting to be honest with ourselves?

We don’t need to and cannot deceive ourselves.

If we really are “alright”,

Then answer as, we are “alright”,

As it is.


If we are in the “alright” condition,

Then answer what it is with courage, transparently, and openly,



Nothing hurts more,

Rather than being forced or feeling compelled to answer,

“Yes, I’m alright.”

Even though,

In fact, “We are NOT alright”.


For real!

Those who ask us,

Are we “alright”,

But at the same time they just wanted to hear the answer “alright” came out of our mouths,

It means wanting to avoid responsibility and at the same time wanting to look as if they are ready and willing to take responsibility.

The second thing, which is no less important,

When they ask us,

“Are you fine and alright?”

Yet unwilling to open his ears to hear the answer,

“No, I am NOT alright!”,

Not ready and not daring to take responsibility,

Then it becomes a much worse attitude, than simply not asking questions about our conditions and circumstances.

Someone or those who have been, ever, or even often hurt our physical or our feelings,

Then formally or diplomatically,

Asking us about the feelings or conditions we experience as a result of his actions,
“Are you ‘all right’?”

In fact, they never have the right to expect, even more so to demand and force us,

To answer, “Yes, I’m alright.”

People who truly feel sorry for their bad deeds or bad deeds towards others,

For hurting or injuring ourselves,

Will never ask questions such as, “Are you okay?”,

But will ask with full readiness to take real responsibility,

“What is the injury or problem that you have suffered?”

They are ready mentally,

Even to hear the most terrible answer to listen to.

Questions such as “Are you okay?”,

Is a question that closes the opportunity for the perpetrator himself to be ready and willing to take responsibility,

Hoping solely for an answer that everything is “all right”,

Although in fact “It’s not okay” all that is.

Is everything all right?

Is everything all right?

Is everything going well?

Is everything no problem?

It is a question of an employer or a boss to his subordinates and to his men,

Question in a position that is never one degree,

Not a question from fellow members of society who are equal.

Those who really empathize with us and want to help, or are mentally ready to take responsibility for their actions towards us,

Will never ask, “Are you alright?”

But they will ask questions responsibly and more rationally, such as “Are you hurt?”,

As a form of acknowledgment of guilt and self-readiness to undertake all forms of responsibility that need to be taken in response.

Whatever it is,

It is not taboo,

To answer,

“I’m not alright at all. NOT all right!”

“I’m NOT okay!"

Feeling hesitant or hesitate to answer bluntly,

Identical to denying your own conscience,

At the same time it may be an attempt to betray our own self,

By not daring to say bluntly, as it is.

Who are we trying to lie to?

Is it worth, deceive ourselves by always answer cliche, though not in place,

“I am doing fine”.

Where also lies the mistake of answering frankly, as it is,

“I’m not alright”,


“I am NOT fine or even all right.”

We just need to start a new habit,

Habit to dare to be honest,

As bitter as it is,

Especially for simply answering “No, there is a problem, I am NOT fine at all.”

Rather is a lie in itself,

When we always answer the standard, “I’m fine”,

Even though we are well aware, that it is not,

Because we are not a log or a lifeless corpse who cannot feel the pain of being wounded either.

Be honest and transparent as is,

Is not a trait that spoiled crybaby,

Rather are those who are spoiled and cowardly,

Who did not dare to hear the answer,

“I’m not okay, NOT all right”,

“I DO NOT alright!”

Feeling forced and pressured to always answer,

“I am doing fine”,


“I am fine and all right”,

Already a reflection of “it’s NOT OK at all”,

The alias of the problem itself, “There is something WRONG” or “It’s just bad and NOT GOOD at all”.

Freedom of expression,

Is a human right.

As well as a violation of human rights,

When someone tries to silence us to answer,

“I’m NOT fine”,

“I’m NOT okay”,

“I’m NOT alright”,

“I’m NOT all right at all!”

That is my answer. Do you have complaint with these answer?

It does not matter, whether that person will be responsible or not, for the injuries or losses that we suffer as a result of their actions,

Most importantly, we have and are able to speak honestly and fairly to ourselves.

© HERY SHIETRA Copyright.


Apakah merupakan hal yang tabu atau bahkan dilarang dan terlarang,

Ketika orang lain bertanya, “Apakah engkau baik-baik saja?

Dengan menjawab secara jujur, apa adanya,

Tidak, saya TIDAK ‘TIDAK APA-APA’.

Bila kita memang sedang bermasalah atau menghadapi masalah,

Serta memang “TIDAK ‘tidak apa-apa’”,

Apakah salah,

Berkata jujur dan bersikap jujur terhadap diri kita sendiri maupun terhadap orang lain?

Bila kita meyakini bahwa kejujuran merupakan hal baik dan kebaikan itu sendiri,

Maka mengapa kita tidak memulai kejujuran itu, dengan mulai bersikap jujur terhadap diri kita sendiri?

Kita tidak perlu dan tidak dapat menipu diri sendiri.

Bila kita memang “Tidak apa-apa”,

Maka jawablah sebagai, kita sedang “Tidak apa-apa”,

Apa adanya.


Bila kita memang sedang mengalami kondisi “TIDAK ‘tidak apa-apa’”,

Maka jawablah apa adanya dengan berani, secara transparan, dan secara terbuka,

Sebagai “TIDAK ‘tidak apa-apa’.


Tidak ada yang lebih menyakitkan,

Daripada dipaksa atau merasa terpaksa untuk menjawab,

Ya, aku ‘tidak apa-apa’


Senyatanya “Tidak, aku TIDAK ‘tidak apa-apa’”.

Mereka yang bertanya pada kita,

Apakah kita “Tidak apa-apa”,

Namun disaat bersamaan hanya ingin mendengar jawaban “Tidak apa-apa” terucap keluar dari mulut kita,

Sama artinya ingin menghindari tanggung-jawab dan disaat beramaan ingin terlihat seolah-olah siap dan bersedia untuk bertanggung-jawab.

Hal kedua, yang tidak kalah pentingnya,

Bila mereka bertanya kepada kita,

Kamu tidak apa-apa?

Namun tidak bersedia membuka telinganya untuk mendengar jawaban,

TIDAK ‘tidak apa-apa’”,

Karena tidak siap dan tidak berani untuk bertanggung-jawab,

Maka itu menjadi sikap yang jeuh lebih buruk, daripada sama sekali tidak bertanya tentang kondisi dan keadaan kita.

Seseorang atau mereka yang selama ini telah, pernah, atau bahkan sering melukai fisik ataupun perasaan kita,

Kemudian secara formalitas ataupun diplomatis,

Bertanya kepada kita mengenai perasaan atau kondisi yang kita alami akibat perbuatannya,

Apakah engkau ‘tidak apa-apa’?

Sejatinya mereka tidak pernah memiliki hak untuk mengharap, terlebih menuntut dan memaksa kita,

Untuk menjawab, “Saya ‘tidak apa-apa’.

Orang-orang yang betul-betul merasa menyesali perbuatan buruk atau perbuatan jahatnya terhadap orang lain,

Karena telah menyakiti atau melukai diri kita,

Tidak akan pernah bertanya semacam, “Apakah engkau ‘tidak apa-apa’?”,

Namun akan bertanya dengan penuh kesiapan untuk bertanggung-jawab secara nyata,

Apakah luka atau masalah yang telah engkau derita?

Mereka telah siap secara mental,

Sekalipun untuk mendengar jawaban yang paling mengerikan untuk didengarkan.

Pertanyaan-pertanyaan semacam “Apakah engkau ‘tidak apa-apa’?”,

Adalah pertanyaan yang menutup peluang diri pelakunya itu sendiri untuk siap dan bersedia bertanggung-jawab,

Semata mengharap jawaban bahwa semuanya “baik-baik saja”,

Meski senyatanya “Tidak baik-baik saja” semua itu adanya.

Apakah semuanya baik-baik saja?

Apakah semuanya tidak apa-apa?

Apakah semuanya berjalan lancar?

Apakah semuanya tidak ada masalah?

Itu adalah pertanyaan seorang majikan atau seorang bos terhadap bawahan dan anak buahnya,

Pertanyaan dalam posisi yang tidak pernah bersifat satu derajat,

Bukan pertanyaan dari sesama anggota warga masyarakat yang saling sederajat.

Mereka yang betul-betul berempati kepada kita dan hendak menolong, atau siap mental untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya terhadap kita,

Tidak akan pernah bertanya, “Apakah engkau baik-baik saja?

Namun mereka akan bertanya secara bertanggung-jawab serta lebih rasional, seperti “Apakah engkau terluka?”,

Sebagai bentuk pengakuan telah bersalah dan kesiapan diri untuk melakukan segala bentuk tanggung jawab yang perlu untuk diambil sebagai responsnya.

Apapun itu,

Bukanlah hal tabu,

Untuk menjawab,

Saya tidak ‘baik-baik saja’.

Saya TIDAK ‘tidak apa-apa’

Rasa ragu ataupun sungkan untuk menjawab secara berterus-terang,

Identik dengan upaya mengingkari suara hati sendiri,

Sekaligus disaat bersamaan mungkin adalah sebuah upaya untuk mengkhianati diri kita sendiri,

Dengan cara tidak berani untuk berkata secara berterus-terang, apa adanya.

Siapakah yang hendak kita bohongi?

Apakah layak, membohongi diri sendiri dengan selalu menjawab secara klise, meski tidak pada tempatnya,

Saya baik-baik saja”.

Dimana jugakah letak kesalahannya untuk menjawab secara terus-terang, apa adanya,

Saya tidak ‘baik-baik saja’”,


Saya TIDAK ‘tidak apa-apa’.

Kita hanya perlu memulai kebiasaan baru,

Kebiasaan untuk berani berkata jujur,

Sepahit apapun itu,

Terlebih untuk sekadar menjawab “Tidak, ada masalah, saya TIDAK ‘baik-baik saja’”.

Justru adalah suatu kebohongan itu sendiri,

Ketika kita selalu menjawab secara baku, “Saya baik-baik saja”,

Sekalipun kita menyadari betul, bahwa tidaklah demikian adanya,

Karena kita bukanlah seonggok batang kayu ataupun sebuah mayat yang tidak bernyawa yang juga tidak dapat meraskan rasa sakit ketika dilukai.

Bersikap jujur dan transparan apa-adanya,

Bukanlah sebuah sifat cengeng yang manja,

Justru adalah mereka yang manja dan pengecut,

Yang tidak berani mendengar jawaban,

Saya tidak ‘baik-baik saja’”,

Saya TIDAK ‘tidak apa-apa’”.

Merasa terpaksa dan tertekan untuk selalu menjawab,

Saya baik-baik saja”,


Saya tidak apa-apa”,

Sudah merupakan cerminan “TIDAK ‘tidak apa-apa’”,

Alias masalah itu sendiri, “Ada apa-apa” atau “Buruk-buruk saja adanya”.

Kebebasan untuk menyampaikan pendapat,

Adalah hak asasi manusia.

Serta merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia,

Ketika seseorang mencoba membungkam kita dari jawaban,

Saya tidak ‘baik-baik saja’”,

Saya TIDAK ‘tidak apa-apa’”,

Apakah engkau keberatan atas jawaban saya?

Tidak penting, apakah orang tersebut akan bertanggung jawab atau tidak, terhadap luka ataupun kerugian yang kita derita akibat perbuatan mereka,

Yang terpenting, ialah kita telah dan mampu untuk berkata jujur serta adil terhadap diri kita sendiri.