A Pure Melody about Human. Melodi Bersahaja tentang Manusia dan Kemanusiaan

 HERY SHIETRA, A Pure Melody about Human. Melodi Bersahaja tentang Manusia dan Kemanusiaan

 In the beginning we may believe,

That by being HARD towards ourselves,

Then this unfriendly world will be more lenient to us.


Do you know,

That’s a big mistake!

The world is always hard,

Especially if we are also being HARD towards ourselves,

So don’t be surprised,

If then other people will be even harder on us, who are better at torturing ourselves.


Such belief is completely wrong,

Although it’s nice to hear the fiery slogan of being HARD, to yourself.


When we can’t be fair and rational to ourselves,

Then other people will also behave the same to us,

Because we seem to say to this world,

That we deserve and should be treated as such.

By being HARD towards ourselves,

Then we will transform into negative human beings in seeing ourselves,

And being negative in a true sense,

Who would be better at torturing and hurting ourselves,

Even sadistically,

Becoming Hitler by and to ourselves.


We need to start learning to LOVE ourselves while being ASSERTIVE / BOLD toward ourselves,

A learning process that has never been taught to us in school,

Where all this time we have been trained and accustomed to being smarter in torturing and being HARDER against ourselves,

Starting from elementary school to our social community environment,

Urging us to be HARD, to ourselves.

We need to change, to start becoming a person who are able to appreciate, love, and respect ourselves,

In this way we will be able to help, care for, and elevate our own dignity.

As we begin to realize that being authoritarian dictators of ourselves,

Is not an ideal solution,

So we need to change the approach in living life and in dealing with ourselves,

Namely by being a humanist person in viewing and responding to our own lives,

In this way, we can only make ourselves reliable and can look at life more positively.

More enjoyable,

More humorous,

Because we don’t need a figure of ourselves that resembles a military in uniform with all its militaristic disciplines,

However, a humanistic self, full of understanding and love.

Do you know,

What happens, when we are hard on life and ourselves?

We will get sick and fall.

We weren’t born to torture ourselves.

That is why,

We need to start to be willing to learn,

Learn to change our approach, when looking at ourselves,

A new approach, altogether.

Love ourselves,

This does not mean that we will be soft or lenient with ourselves,

That is what we call loving ourselves, but at the same time keep being firm.

The firmness based on love,

That will make us encouraged and motivated to comply and obey our own voice.

We never like people who are HARD, especially HARD HEADS.

Therefore if we become HARD people,

So we tend to defy our own voice, rather than obey it.

It is the psychology of human character that is very simple for us to understand.

People with a “hard on themselves” mindset,

Will tend to hate himself,

Practicing and working will serve as a means to torture oneself,

Because there is a demand to be “hard on yourself”.

We weren’t born to be hard on ourselves,

Our heads are not as hard as a rock for us to fight or crash against other hard stones.

Hence also,

We weren’t born with a mission to hit our heads with a rock.

Try it,

And let’s see,

Which one is louder and harder,

Your head or this brick?

The brick will never feel pain, hurt, or bleed,

It is our heads that will be injured and bleeding,

Or even fainting and concussion.


People with a “self-loving and the same time self-affirming” mindset,

Will tend to view life in a more positive light,

It’s as simple as they are able and willing to love and love themselves.

Practicing and working will be seen as a form of training for the good of ourselves in the future,

Because there is no demand to hit our heads with those hard bricks.

We may have thought and believed,

That we deserve to suffer,

That we deserve to feel the harshness of life,

That we must taste the bitterness of life,

That we deserve to live hard lives,

With reason or excuses that sound perfect, like what motivators love to say, “for the sake of forging oneself”.


They forget to recognize and admit,

Without torturing ourselves though,

This life has been hard and will remain hard as it is,

We don’t need to increase the hardness of this rock by hitting it with our heads.

The bricks will always be harder than our heads.

Be lenient or tough in our attitude towards each of us,

This life continues by its own natural laws.

We can’t bargain with this life,

Especially bartering with self-torture,

Assuming that life and the rock would be softer when smashed against our heads.

It’s called STUPID and RIDICULOUS.

Playing with fire,

Will burn.

No matter how hard we behave ourselves,

Still fire will burn those who play with fire.

There are enough bullies out there already,

There have been enough natural disasters that we have faced and experienced,

Enough of this world’s injustice that we must taste,

There has been enough pain and tears as long as we live in this world as humans,

This world has never been kind to us.

If you already know so,

Why should we also add to the pain and suffering of ourselves,

By being hard on ourselves?

If we are not the ones who started to love and love ourselves,

Who else can we count on for that?

Don’t be hard on ourselves,

So that we don’t become stubborn people who have hovered around a lot.

The world is always short of loving people,

Poor understanding,

Lack of warmth,

Zero concern,

No sincerity,

Empty tenderness,

That’s why we need to exist and be present to love ourselves.

Believe me, our heads can never get harder, even by boiling them in boiling water,

Because our heads are neither potatoes nor eggs,

Unless we believe so.

All choices are in the hands of each of us.

Keep extending our hands to ourselves patiently,

When we fall.

And always there for us,

When we fall back down.

Isn’t that so beautiful and it touches our deepest feelings?

Unless our hearts have become a HARD stones,

As hard as a rock head.

There are enough people out there who are happy and better at judging ourselves,

Is it still not enough, by making ourselves participate in judging ourselves?

There are times when it is autumn,

There are times when it is spring.

There are times when it is summer,

There are also times to enjoy winter.

This and life is always flexible and flowing,

It is never as hard as an inanimate object like a brick.

Be a good friend to ourselves,

Because there are too many “judges” judging out there,

And occasionally give gifts to appreciate ourselves.

© HERY SHIETRA Copyright.


Pada mulanya bisa jadi kita meyakini,

Bahwa dengan bersikap KERAS terhadap diri kita sendiri,

Maka dunia akan bersikap lebih lunak kepada diri kita.


Tahukah engkau,

Itu keliru besar!

Dunia ini selalu keras,

Terlebih bila kita pun turut bersikap KERAS terhadap diri kita,

Maka janganlah heran,

Bila kemudian orang lain pun akan bersikap lebih keras lagi terhadap diri kita, yang lebih pandai menyiksa diri kita sendiri.


Keyakinan demikian adalah keliru sepenuhnya,

Meski sedap untuk didengarkan slogan berapi-api untuk bersikap KERAS terhadap diri sendiri.


Ketika kita tidak dapat bersikap adil dan rasional terhadap diri kita sendiri,

Maka orang lain pun akan bersikap serupa terhadap diri kita,

Karena kita seolah berkata pada dunia ini,

Bahwa kita layak dan patut diperlakukan demikian.

Dengan bersikap KERAS terhadap diri kita sendiri,

Maka kita aka menjelma menjadi manusia yang negatif dalam memandang diri kita sendiri,

Dan menjadi negatif dalam arti yang sesungguhnya,

Yang akan lebih pandai menyiksa serta menyakiti diri kita sendiri,

Bahkan secara sadistik,

Menjadi Hitler oleh dan terhadap diri kita sendiri.


Kita perlu untuk mulai belajar MENCINTAI diri kita sendiri sembari bersikap TEGAS terhadap diri kita,

Sebuah proses pembelajaran yang tidak pernah diajarkan pada kita di bangku sekolah,

Dimana selama ini kita dilatih serta terbiasa untuk lebih pandai menyiksa dan bersikap KERAS terhadap diri kita sendiri,

Mulai dari bangku sekolah dasar hingga lingkungan komunitas sosial kita,

Mendesak kita untuk menjadi KERAS, terhadap diri sendiri.

Kita perlu berubah, dengan mulai menjadi pribadi yang mampu menghargai, mencintai, dan menghormati diri kita sendiri,

Dengan cara demikianlah kita baru akan dapat menolong, merawat, serta mengangkat martabat diri kita sendiri.

Ketika kita mulai menyadari bahwa menjadi diktator yang otoriter terhadap diri kita sendiri,

Bukanlah solusi yang ideal,

Maka kita perlu mengubah pendekatan dalam menjalani hidup dan dalam menghadapi diri kita sendiri,

Yakni dengan menjadi pribadi yang humanis dalam memandang dan menyikapi hidup kita sendiri,

Dengan cara begitulah, kita baru dapat menjadikan diri kita dapat diandalkan serta dapat memandang hidup secara lebih positif,

Lebih dapat dinikmati,

Lebih penuh humor,

Karena kita tidak membutuhkan sosok diri kita yang menyerupai militer berseragam dengan segala disiplin militeristiknya,

Namun sosok diri yang humanis dan penuh pengertian serta cinta kasih.

Apakah engkau mengetahui,

Apa yang terjadi ketika kita bersikap keras terhadap hidup dan diri kita sendiri?

Kita akan jatuh sakit dan terjatuh.

Kita tidak dilahirkan untuk menyiksa diri kita sendiri.

Itulah sebabnya,

Kita perlu mulai untuk bersedia belajar,

Belajar mengubah pendekatan diri kita, ketika memandang diri kita sendiri,

Pendekatan yang baru, sama sekali.

Mencintai diri kita,

Bukan artinya kita akan bersikap lembek ataupun serba lunak terhadap diri kita sendiri,

Itulah yang disebut sebagai mengasihi diri kita, namun disaat bersamaan tetap bersikap tegas.

Ketegasan yang dilandasi cinta kasih itulah,

Yang akan membuat kita terdorong dan termotivasi untuk patuh dan taat terhadap suara diri kita sendiri.

Kita tidak pernah menyukai orang-orang yang KERAS, terlebih KERAS KEPALA.

Karenanya bila kita menjadi orang yang KERAS,

Maka kita cenderung akan membangkang suara diri kita sendiri, daripada mematuhinya.

Itu adalah psikologi karakter manusia yang sangat sederhana untuk dapat kita pahami.

Orang-orang dengan pola berpikir “keras terhadap diri sendiri”,

Akan cenderung membenci dirinya sendiri,

Berlatih dan bekerja akan dijadikan sebagai sarana untuk menyiksa diri sendiri,

Karena adanya tuntutan untuk “keras terhadap diri sendiri”.

Kita tidak dilahirkan untuk bersikap keras terhadap diri kita sendiri,

Kepala kita pun tidak sekeras batu untuk dapat kita adu atau benturkan dengan batu keras lainnya.

Karenanya pula,

Kita tidak dilahirkan dengan misi untuk membenturkan kepala kita dengan sebuah batu.


Dan mari kita saksikan,

Mana yang lebih keras,

Kepala engkau ataukah batu bata ini?

Batu bata itu tidak akan pernah merasakan sakit, terluka, ataupun mengeluarkan darah,

Justru kepala kita yang akan terluka dan berdarah,

Atau bahkan pingsan dan gegar otak.


Orang-orang dengan pola berpikir “menyayangi diri namun tegas terhadap diri”,

Akan cenderung memandang hidup ini secara lebih positif,

Sesederhana karena mereka mampu dan bersedia untuk mencintai dan mengasihi diri mereka.

Berlatih dan bekerja akan dipandang sebagai bentuk latihan untuk kebaikan diri kita di masa yang akan datang,

Karena tidak ada tuntutan untuk membenturkan kepala kita dengan batu bata yang keras itu.

Kita mungkin selama ini berpikir dan meyakini,

Bahwa kita patut untuk menderita,

Bahwa kita patut untuk merasakan kerasnya hidup,

Bahwa kita harus merasakan pahitnya hidup,

Bahwa kita layak untuk menjalani hidup yang keras,

Dengan alasan atau dalih yang terdengar sempurna seperti yang selama ini gemar dikumandangkan para motivator, “demi menempa diri”.


Mereka lupa untuk menyadari dan mengakui,

Tanpa menyiksa diri kita sendiri sekalipun,

Hidup ini sudah keras dan akan tetap keras adanya, apa adanya,

Kita tidak perlu menambah keras batu ini dengan membenturkannya dengan kepala kita.

Batu bata itu selalu akan lebih keras daripada kepala kita.

Bersikap lunak ataupun kerasnya sikap diri kita terhadap diri kita masing-masing,

Kehidupan ini tetap berjalan dengan hukum alamnya sendiri.

Kita tidak dapat tawar-menawar dengan kehidupan ini,

Terlebih membarternya dengan cara menyiksa diri,

Dengan asumsi bahwa kehidupan dan batu itu akan lebih lunak ketika dibenturkan dengan kepala kita.

Itu namanya BODOH dan KONYOL.

Bermain api,

Akan terbakar.

Sekeras apapun kita bersikap terhadap diri kita,

Tetap saja api akan membakar mereka yang bermain-main dengan api.

Sudah cukup banyak orang-orang yang gemar mem-bully kita di luar sana,

Sudah cukup banyak bencana alam yang kita hadapi dan alami,

Sudah cukup banyak ketidakadilan dunia ini yang harus kita cicipi,

Sudah cukup banyak derita dan tetesan air mata selama kita hidup di dunia ini sebagai seorang manusia,

Dunia ini tidak pernah ramah terhadap diri kita.

Jika sudah mengetahui demikian,

Mengapa juga kita harus menambah parah luka dan derita diri kita,

Dengan turut bersikap keras terhadap diri kita sendiri?

Jika bukan kita yang memulai untuk menyayangi dan mengasihi diri kita,

Siapa lagi yang dapat kita andalkan untuk itu?

Janganlah bersikap keras terhadap diri kita sendiri,

Agar kita tidak menjelma orang-orang keras kepala yang sudah banyak bergentayangan di luar sana.

Dunia ini selalu kekurangan orang-orang penuh kasih,

Miskin sikap penuh pengertian,

Minim kehangatan,

Nihil kepedulian,

Tiada ketulusan,

Kosong kelembutan,

Karena itulah kita perlu ada dan hadir untuk mencintai diri kita sendiri.

Percayalah, kepala kita tidak akan pernah dapat lebih keras lagi dengan cara merebusnya di dalam air mendidih sekalipun,

Karena kepala kita bukanlah kentang ataupun telur,

Kecuali diri kita meyakininya demikian.

Semua pilihan ada pada tangan kita masing-masing.

Tetap ulurkan tangan kita kepada diri kita dengan penuh kesabaran,

Ketika diri kita terjatuh.

Dan selalu ada untuk diri kita,

Ketika kita kembali terjatuh.

Bukankah itu sangat indah dan menyentuh perasaan kita yang terdalam?

Kecuali hati kita telah menjadi batu yang KERAS,

Sekeras kepala batu.

Sudah cukup banyak orang-orang diluar sana yang senang dan lebih pandai menghakimi diri kita,

Apakah masih belum cukup, dengan turut menjadikan diri kita turut menghakimi diri kita sendiri?

Ada kalanya musim gugur,

Ada kalanya musim semi.

Ada kalanya musim panas,

Ada kalanya pula musim dingin.

Hidup dan kehidupan ini selalu fleksibel dan mengalir,

Tidak pernah sekeras benda mati semacam batu bata.

Jadilah sahabat yang baik bagi diri kita sendiri,

Karena sudah terlampau banyak “hakim” menghakimi di luar sana,

Dan sesekali berikanlah hadiah untuk mengapresiasi diri kita sendiri.