We Cann’t FACE the Problem, if the Problem is Our FACE

HERY SHIETRA, We Cann’t FACE the Problem, if the Problem is Our FACE

A girl who is absolutely gorgeous,
Never made herself look beautiful,
Because she is already beautiful,
Just the way she is,
Even without facial makeup,
Even if dressed modestly,
And even though her body language and attitude were not made up,
We call this,
Natural beauty.
She is beautiful,
Without needing any makeup,
Without ever feeling the need to be beautiful, artificially made up.
She doesn’t need to force others to acknowledge her beauty,
Like butterflies and honey bees that come on a flower,
The beauty of the flower was proven to be able to invite butterflies and honey bees to always come to visit.
Someone who is really kindhearted,
Never felt the need to be kindhearted in front of many people,
Because he knows very well about himself,
Good people,
Even though they don’t get recognition from other people as good people.
Good people, never feel the need to pretend to be kind,
Because he is already well,
Just the way you are.
Even though other people consider those good people, who even though they never show kindness, as an individualist,
But good people do good to glorify themselves,
Because someone is noble or not, is not determined by the comments and opinions of others about someone,
But by our own actions.
Good people do good not to pursue praise or appreciation from others.
Do good by using the name “anonymous”,
Still a good person is good,
It doesn’t matter whether others know it or not,
Good people are good.
Good people, raising the names of parents and the Creator.
Bad people, tarnished the names of parents and the Creator.
That’s how good people glorify God,
Not by way of bowing down,
It’s also not as easy as “lip service”,
But by becoming a noble human and noble character.
That is precisely being the example and attitude of the Buddha’s life,
His attitude and nature are perfect,
Purifies His own dignity and at the same time glorifies the Creator.
Kindness that is done surreptitiously,
Unknown to others,
Still, the culprit is called a good person,
And the opposite principle applies,
An evil person who commits crime in secret,
It’s still a bad person even though other people might think that they have never committed a crime.
Someone who is really smart,
Never behaved as if he was smart.
Intelligent people never feel the need to pretend to be smart,
Because he is indeed smart,
Just the way you are.
Even though other people might think he is a fool,
Intelligent people will never care about the comments or opinions of others about him,
Because he knows best about himself and his own life,
Because he is a smart person.
Even if intelligent people don’t like to argue or compete with others,
To pursue a title or to be declared first place or winner in a brain battle,
So it looks as if it’s stupid.
However, it is not an acknowledgment as an intelligent person, that intelligent people want to seek and pursue,
Because he has and has been intelligent,
Just the way you are.
Just like people who are not beautiful,
Needs and relies on “makeup” to make herself look beautiful on the surface,
So that smart people never feel the need to look smart artificially,
Because he has been smart,
Even though he might not realize how smart he is,
And never really need recognition from others, for the intelligence that intelligent people have,
Because it is not the recognition of the external party which is the determining factor.
Just like a gem,
Never mind if everyone thinks this gem is a piece of worthless stone,
Gems are jewels.
Where only those who know best appreciate the precious value of a gem who can see how precious this stone is named,
Although fools will not appreciate the stone that turned out to be of such high value.
People who truly holy and pure,
Never needing recognition or praise from others about his holiness,
Or for pretending to be pure,
Through all his claims, claiming to be heavenly messengers,
Or behave as if holy and pure, without stain or blemish,
Because a saint is pure,
Just the way you are,
No longer need any artificial polish.
A person becomes holy due to his behavior which is always pure and clean,
Not because it is called a saint,
Especially because of claims claiming to be saints.
Even if the saints were insulted, slandered, and reviled,
Saints never confuse all the comments or opinions of others,
Because the saints know best about who he is, the conditions and situations of his personal life, his journey and background, and his own purity,
Because holy people are pure,
Without stain,
Just the way you are,
Do not depend on comments or opinions of others.
A figure that really and truly is God,
Then God is full,
No longer feeling lonely or in need of praise, especially worshiping prostrations from humans,
Because God is God,
Already perfect,
Already intact,
Already full,
Without stain,
Without human personification traits that can be angry, disappointed, desires, pleasures, hatred, joys, favorites, and various other human qualities, defilements.
The presence or absence of humans,
Presence or absence of humans who recognize the figure of God,
Whether or not there are humans who know the figure of God,
The presence or absence of human praise for the figure of God,
God is still God.
God does not exist because of human recognition,
As if God can be destroyed and no longer exist, if no one acknowledges or worships God,
Because God is still God,
Does not depend on external conditions such as praise or recognition from humans.
Even if humans reject God,
Even if humans don’t acknowledge God,
Even though humans don’t worship God,
Even though humans don’t know God,
Even though humans criticize God,
God is still God,
God is full,
God is complete,
God is perfect without an inner stain like a human being who still has the nature of desire and greed.
Bad people are still bad people, the presence or absence of God.
Good people are still good people, the presence or absence of God.
We call this,
Authentic people,
Just the way you are,
Without any conditions,
Especially external factors like the opinions of others.
The truth is still the truth,
Even though we all deny it.
Falsehood that is believed by all humanity,
Still is fake.
We call it fact and reality,
Not fantasy,
Not expectations,
Nor is false hope.
You cann’t FACE the Problem, if the Problem is Your FACE.
© HERY SHIETRA Copyright.

Seseorang gadis yang benar-benar cantik,
Tidak pernah membuat-membuat dirinya seolah tampak cantik,
Karena dirinya memang sudah cantik,
Apa adanya,
Sekalipun tanpa perias wajah,
Sekalipun berpakaian sederhana,
Dan sekalipun bahasa tubuh maupun sikapnya tidak dibuat-buat.
Kita menyebutnya sebagai,
Kecantikan alami.
Ia sudah cantik,
Tanpa perlu polesan apapun,
Tanpa pernah merasa perlu untuk menjadi tampil cantik secara dibuat-buat.
Ia tidak perlu memaksakan orang lain untuk mengakui kecantikannya,
Bagai kupu-kupu dan lebah madu yang datang hinggap di atas sekuntum bunga,
Keindahan bunga itu terbukti sudah mampu mengundang kupu-kupu dan lebah madu itu untuk selalu datang berkunjung.
Seseorang yang benar-benar baik hati,
Tidak pernah merasa perlu untuk tampil baik hati di depan banyak orang,
Karena ia tahu betul tentang dirinya sendiri,
Orang yang baik,
Sekalipun tidak mendapat pengakuan dari orang lain sebagai orang yang baik.
Orang yang baik, tidak pernah merasa perlu untuk berpura-pura baik hati,
Karena dirinya sudah baik,
Apa adanya.
Sekalipun orang lain menganggap diri orang-orang baik yang tidak pernah memamerkan kebaikan hati, sebagai orang yang individualis,
Namun orang-orang baik berbuat baik untuk memuliakan dirinya sendiri,
Karena seseorang menjadi mulia atau tidaknya, bukan ditentukan oleh komentar dan pendapat orang lain tentang diri seseorang,
Namun oleh perbuatan diri kita sendiri.
Orang baik berbuat baik bukan untuk mengejar pujian ataupun penghargaan dari orang lain.
Berbuat baik dengan memakai nama “anonim”,
Tetap saja orang baik adalah baik adanya,
Tidak menjadi penting apakah orang lain mengetahuinya ataupun tidak,
Orang baik adalah baik adanya.
Orang baik, mengharumkan nama orangtua dan Sang Pencipta.
Orang jahat, mencoreng nama orangtua dan Sang Pencipta.
Begitulah cara orang-orang baik memuliakan Tuhan,
Bukan dengan cara sembah sujud,
Bukan juga dengan semudah “lip service”,
Namun dengan menjadi manusia yang mulia serta berwatak luhur yang agung.
Itulah yang tepatnya menjadi teladan dan sikap hidup Sang Buddha,
Sikap dan sifatnya sempurna,
Tanpa cela,
Memurnikan keagunan dirinya dan disaat bersamaan memuliakan Sang Pencipta.
Kebaikan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi,
Tanpa diketahui oleh orang lain,
Tetap saja, pelakunya disebut sebagai orang baik,
Dan berlaku prinsip yang sebaliknya,
Orang jahat yang melakukan kejahatan secara sembunyi-sembunyi,
Tetap saja merupakan orang jahat sekalipun orang lain mungkin mengira bahwa dirinya tidak pernah melakukan kejahatan.
Seseorang yang benar-benar cerdas,
Tidak pernah bersikap seolah-olah dirinya cerdas.
Orang cerdas tidak pernah merasa perlu untuk berpura-pura cerdas,
Karena ia memang telah cerdas,
Apa adanya.
Sekalipun orang lain mungkin mengira dirinya adalah orang bodoh,
Orang-orang cerdas tidak akan pernah perduli terhadap komentar ataupun pendapat orang lain tentang dirinya,
Karena ia yang paling tahu tentang diri dan hidupnya sendiri,
Karena ia orang cerdas.
Sekalipun orang cerdas tidak suka berdebat ataupun berkompetisi dengan orang lain,
Untuk mengejar predikat ataupun agar dinyatakan sebagai juara pertama atau pemenang dalam suatu pertarungan otak,
Sehingga tampak seolah-olah bodoh.
Namun, bukanlah pengakuan sebagai orang cerdas, yang hendak dicari dan dikejar oleh orang cerdas,
Karena ia sudah dan telah cerdas,
Apa adanya.
Sama seperti orang-orang yang tidak cantik,
Membutuhkan dan bergantung pada “make up” untuk membuat dirinya tampak cantik di permukaan,
Sehingga orang cerdas tidak pernah merasa butuh untuk tampak cerdas secara dibuat-buat,
Karena dirinya telah cerdas,
Sekalipun mungkin dirinya sendiri tidak menyadari betapa cerdas dirinya,
Dan tidak pernah benar-benar membutuhkan pengakuan orang lain terhadap kecerdasan yang dimiliki orang-orang cerdas,
Karena bukanlah pengakuan pihak eksternal diri yang menjadi penentunya.
Sama seperti sebuah permata,
Tidak pernah perduli bila semua orang mengira permata ini adalah sebongkah batu yang tidak berharga,
Permata tetaplah permata,
Dimana hanya orang-orang yang paling tahu menghargai nilai berharga sebuah permata yang dapat melihat betapa berharga batu bernama permata ini,
Meskipun orang-orang bodoh tidak akan menghargai batu yang ternyata bernilai tinggi tersebut.
Orang-orang yang benar-benar suci dan murni,
Tidak pernah membutuhkan pengakuan ataupun pujian dari orang lain tentang kesucian dirinya,
Ataupun untuk berpura-pura suci,
Lewat segala klaim dirinya yang mengaku-ngaku sebagai manusia suci utusan langit,
Ataupun bersikap seolah-olah suci dan murni tanpa noda serta tanpa cela,
Karena orang suci adalah suci adanya,
Apa adanya,
Tidak lagi membutuhkan polesan buatan apapun.
Seseorang menjadi suci akibat perilakunya yang senantiasa murni dan bersih,
Bukan karena disebut sebagai orang suci,
Terlebih karena klaim yang mengaku-ngaku sebagai orang suci.
Sekalipun orang-orang suci tersebut dihina, difitnah, dan dicaci maki,
Orang-orang suci tidak pernah memusingkan semua komentar ataupun pendapat orang lain,
Karena orang-orang suci yang paling mengetahui betul tentang siapa dirinya, kondisi dan situasi kehidupan pribadinya, perjalanan dan latar-belakang hidupnya, dan kemurnian dirinya sendiri,
Karena oang suci adalah suci adanya,
Tanpa noda,
Apa adanya,
Tidak bergantung pada komentar ataupun pendapat orang lain.
Suatu sosok yang betul-betul adalah Tuhan,
Maka Tuhan adalah telah penuh adanya,
Tidak lagi merasa kesepian ataupun membutuhkan puja-puji, terlebih sembah sujud dari manusia,
Karena Tuhan adalah Tuhan,
Telah sempurna,
Telah utuh,
Telah penuh,
Tanpa noda,
Tanpa sifat-sifat personifikasi manusia yang dapat marah, kecewa, keinginan, kesenangan, kebencian, kesukaan, kesayangan, dan berbagai sifat seorang manusia lainnya, kekotoran batin.
Ada atau tidaknya manusia,
Ada atau tidanya manusia yang mengakui sosok Tuhan,
Ada atau tidaknya manusia yang mengetahui sosok Tuhan,
Ada atau tidaknya pujian manusia kepada sosok Tuhan,
Tuhan tetaplah Tuhan.
Tuhan tidak eksis karena adanya pengakuan dari manusia,
Seolah-olah Tuhan dapat musnah dan tidak lagi eksis, bila tiada yang mengakui ataupun menyembah Tuhan,
Karena Tuhan tetap adalah Tuhan,
Tidak bergantung oleh syarat eksternal seperti pujian ataupun pengakuan dari manusia.
Sekalipun manusia menolak Tuhan,
Sekalipun manusia tidak mengakui Tuhan,
Sekalipun manusia tidak menyembah Tuhan,
Sekalipun manusia tidak mengetahui Tuhan,
Sekalipun manusia mengkritik Tuhan,
Tuhan tetaplah Tuhan,
Tuhan telah penuh,
Tuhan telah utuh,
Tuhan telah sempurna tanpa noda batin layaknya seorang manusia yang masih memiliki sifat penuh keinginan dan keserakahan.
Orang jahat tetap adalah orang jahat, ada atau tidak adanya Tuhan.
Orang baik tetap adalah orang baik, ada atau tidak adanya Tuhan.
Kita menyebutnya sebagai,
Para kaum yang otentik,
Apa adanya,
Tanpa syarat apapun,
Terlebih faktor eksternal seperti pendapat orang lain.
Kebenaran tetaplah adalah kebenaran,
Sekalipun kita semua memungkirinya.
Kepalsuan yang diyakini seluruh umat manusia,
Tetap adalah palsu.
Kita menyebutnya sebagai fakta dan realita,
Bukan fantasi,
Bukan espektasi,
Bukan pula harapan semu.