There are Times, We Need to Say ENOUGH. Ada Saatnya, Kita Perlu Berkata CUKUP

HERY SHIETRA, There are Times, We Need to Say ENOUGH Ada Saatnya, Kita Perlu Berkata CUKUP

We think that we will feel satisfied and fulfilled,
When we have and consume something we want.
We will never get satisfaction, by following the urge to seek satisfaction, or when we follow all the desires in ourselves that seem to ask to be satisfied.
We are even bothered by all our desires,
Or even inconveniencing others by our personal desires.
Become slaves of our own desires,
Or even enslave other people.
All of these roots are always the same thing,
Namely all desires that will never be satisfied and can not be satisfied,
One desire will lead us to another set of desires,
Where all these desires will never be satisfied,
Because a human being is a creature that can never be satisfied,
So it is useless if life is just to pursue satisfaction,
That’s what a long time ago, was said by the Buddha.
We will never be satisfied,
Even though we have many properties,
Even though we have a lot of wealth,
Even though we have many followers and subordinates,
Even though we have many wives and children,
Even though we have a lot of power,
Even though we have many academic degrees,
Even though we have a lot of fans,
Despite all these desires, we follow and fulfill.
Chasing satisfaction,
Makes us slaves and is played with by our endless desires.
One desire will lead us to a series of other desires that will never be satisfied and will never end.
Once that desire is fulfilled and followed,
That desire will give birth to a variety of other desires more and more,
Making us fail to be aware and control ourselves,
Failing to see the danger behind all desires that lead us to a mental full of greed,
Incarnate a greedy human,
And if necessary, use methods that harm and hurt others.
A king,
Served by thousands of maids and servants,
Owning and controlling such vast land,
But still filled with dissatisfaction,
The desire to rule the world,
The desire to marry many wives,
The desire to be worshiped by all his people,
The desire for eternal life,
The desire to colonize the heavenly realms, if necessary.
That is why,
It is impossible if God is still shackled and trapped by the desire to be worshiped by human and mankind,
God who will never be satisfied.
The Buddha,
In His previous life as a Boddhisatta,
Once born a king of gods in the heavenly realm,
It turns out that it is still filled with dissatisfaction,
Resulting in him continuing to pursue more and more,
Even though he had sat on the king’s throne of the gods,
Still want more,
Not satisfied,
Never satisfied,
Cannot be satisfied.
To overcome all dissatisfaction in our lives,
It is by not giving up and not submitting to all the desires that arise in us,
Practicing to control yourself,
Limit yourself,
Not obeying all the impulses that will lead us to a series of other endless desires,
And feel it’s enough,
While saying to ourselves,
It is enough,
This is enough.
It has been very quite a lot,
It’s time to say “ENOUGH”,
We never need more than this,
Our stomach is limited,
We only have two hands and two legs.
Our lifetime is limited,
Our nostrils are even very small,
Our mouth is small,
Our teeth and bones can become porous in no time,
Then we need to learn to limit ourselves.
Following all desires,
It actually makes us trapped and trapped deeper, in the trap of dissatisfaction and discontent, which is even greater,
Like the mud of life, which binds us even stronger when we go deeper.
More and more desires,
Then the greater the dissatisfaction that dominates us,
Makes us suffer the consequences and by all our own desires.
Desire, really resembles the trap of our own mind games,
As if satisfaction is there when we follow and obey,
As if satisfaction can be achieved and held tight by chasing it,
Like chasing after our own shadow,
Or like a dog that is busy all its life chasing its own tail,
Where we are as the culprit,
And ourselves as victims,
Or even sacrifice the existence of other people’s lives to satisfy all our selfish desires,
Plunging ourselves into a deep valley of evil.
That is the time,
For us to pay attention to a fact or truth of life,
And observe carefully, attentively,
That all this does not lead us to life satisfaction.
There is a time,
We need to conquer ourselves.
As the Buddha said,
Even if a soldier is able to defeat a thousand opposing soldiers,
Still, it is greater that he is able to conquer himself.
Know the word satisfied,
It’s when we actually limit all our desires,
Control our thoughts and behavior,
As well as being simple in life,
Do not follow all that desire.
Just enough so far,
No matter how much the temptations from within us reach even more.
Do you know,
Even the Buddha only eats once a day,
Just sleep with a simple sleeping pad,
Wearing a robe made from discarded cloth,
Not seeking worldly comfort,
Avoiding all the pleasures that many other humans pursue,
Even though,
Prince Sidharta Gautama at that time could have chosen to become a king, who wore a luxurious robe and had many wives and servants.
Because the Buddha knows,
It is not in all desires that happiness lies and rests.
If we truly love ourselves,
We will not harm and plunge ourselves,
Also will not be selfish towards ourselves,
By planting bad karma like harming others,
By delaying work,
By having fun first, then getting sick later,
By pursuing life satisfaction that will never be satisfied,
By hurting and damaging ourselves like consuming alcohol or unhealthy food,
By degrading our dignity so that it is no different from an animal,
By behaving more humiliately than a beggar, where even a beggar does not look for food by robbing rice from someone else’s plate,
And also in ways that harm others or yourself.
That’s why,
It’s important for us to love life and this world,
As bad, or not as ideal as we hoped, the face of this world,
And willing to accept the condition of ourselves, as is.
When we learn to love life and this world,
Then we will begin to learn to love ourselves and our lives,
Just the way you are,
By knowing the word “enough”.
© HERY SHIETRA Copyright.

Kita berpikir bahwa kita akan merasa dipuaskan dan terpuaskan,
Ketika kita memiliki dan mengkonsumsi sesuatu yang kita inginkan.
Kita tidak akan pernah memperoleh kepuasan dengan cara mengikuti dorongan untuk mencari kepuasan ataupun ketika kita mengikuti segala keinginan dalam diri kita yang seolah meminta untuk dipuaskan.
Kita bahkan direpotkan oleh segala keinginan kita,
Atau bahkan merepotkan orang lain oleh segala keinginan pribadi diri kita.
Menjadi budak dari keinginan diri kita sendiri,
Atau bahkan memperbudak orang lain.
Kesemua itu akarnya selalu hal yang sama,
Yakni segala keinginan yang tidak akan pernah terpuaskan dan tidak akan dapat dipuaskan,
Keinginan yang satu akan membawa kita pada serangkaian keinginan lainnya,
Dimana segala keinginan tersebut tidak akan pernah terpuaskan,
Karena seorang manusia adalah makhluk yang tidak pernah dapat dipuaskan,
Sehingga adalah percuma bila hidup sekadar untuk mengejar kepuasan,
Itulah yang sejak lama lampau telah disampaikan oleh Sang Buddha.
Kita tidak akan pernah terpuaskan,
Sekalipun kita memiliki banyak properti,
Sekalipun kita memiliki banyak harta kekayaan,
Sekalipun kita memiliki banyak pengikut dan anak buah,
Sekalipun kita memiliki banyak istri dan anak,
Sekalipun kita memiliki banyak kekuasaan,
Sekalipun kita memiliki banyak gelar akademik,
Sekalipun kita memiliki banyak penggemar,
Sekalipun segala keinginan itu kita ikuti dan penuhi.
Mengejar kepuasan,
Membuat kita menjadi budak dan dipermainkan oleh segala keinginan kita yang tidak akan pernah ada habisnya.
Keinginan yang satu akan mengarahkan kita pada serangkaian keinginan lain yang tidak akan pernah terpuaskan dan tiada akan pernah usai.
Sekali keinginan itu kita penuhi dan ikuti,
Keinginan itu akan melahirkan berbagai keinginan lain yang lebih banyak dan lebih banyak lagi,
Menjadikan kita gagal untuk mengendalikan dan mengontrol diri kita sendiri,
Gagal melihat adanya bahaya dibalik segala keinginan yang mengarahkan diri kita pada mental penuh keserakahan,
Menjelma manusia yang serakah,
Dan jika perlu memakai cara-cara yang merugikan dan melukai orang lain.
Seorang raja,
Dilayani oleh ribuan pelayan dan anak buah,
Memiliki tanah kekuasaan yang demikian luas,
Namun masih juga diliputi ketidakpuasan,
Keinginan untuk menguasai dunia,
Keinginan untuk menikahi banyak istri,
Keinginan untuk disembah oleh seluruh rakyatnya,
Keinginan untuk hidup kekal,
Keinginan untuk menjajah alam surgawi, jika perlu.
Itulah sebabnya,
Adalah mustahil bila Tuhan masih dibelenggu dan terjebak oleh keinginan untuk disembah oleh umat manusia,
Tuhan yang tidak akan pernah terpuaskan.
Sang Buddha,
Dalam masa kehidupan sebelumnya sebagai seorang Boddhisatta,
Pernah terlahir sebagai seorang raja dewa di alam surgawi,
Ternyata masih juga diliputi oleh ketidakpuasan,
Mengakibatkan dirinya terus mengejar yang lebih dan lebih lagi,
Sekalipun dirinya telah duduk pada tahta raja dari para dewa,
Masih juga menginginkan lebih,
Tidak terpuaskan,
Tidak pernah terpuaskan,
Tidak dapat dipuaskan.
Untuk mengatasi segala ketidakpuasan dalam hidup kita ini,
Ialah dengan cara tidak menyerah dan tidak tunduk pada segala nafsu keinginan yang muncul dalam diri kita,
Berlatih untuk mengontrol diri,
Membatasi diri,
Tidak menuruti segala dorongan keinginan yang akan mengarahkan kita pada serangkaian keinginan lain yang tiada habisnya,
Dan merasa telah cukup,
Sambil berkata pada diri kita sendiri,
Sudah cukup,
Ini sudah cukup,
Ini sudah cukup banyak,
Ini saatnya untuk berkata “CUKUP”,
Kita tidak pernah membutuhkan lebih daripada ini,
Perut kita terbatas,
Kita hanya memiliki dua tangan dan dua kaki,
Masa hidup kita terbatas,
Lubang hidung kita bahkan sangat kecil,
Mulut kita kecil,
Gigi dan tulang kita dapat menjadi keropos dalam waktu singkat,
Maka kita perlu belajar untuk membatasi diri kita sendiri.
Mengikuti segala keinginan,
Justru membuat kita terjerat dan terjebak dalam jebakan ketidakpuasan yang lebih hebat lagi,
Bagaikan lumpur hidup, yang makin mengikat kita lebih kuat lagi ketika kita masuk lebih dalam.
Semakin banyak keinginan,
Maka semakin besar lagi ketidakpuasan yang menguasai diri kita,
Membuat kita menderita akibat dan oleh segala keinginan diri kita sendiri.
Keinginan, sungguh menyerupai jebakan dari permainan pikiran diri kita sendiri,
Seolah kepuasan adalah eksis adanya bila kita mengikuti dan menuruti keinginan,
Seolah kepuasan dapat diraih dan digenggam erat dengan cara mengejarnya,
Bagai mengejar bayangan diri kita sendiri,
Atau bagaikan seekor anjing yang sibuk sepanjang hidupnya karena mengejar ekornya sendiri,
Dimana diri kita sebagai pelakunya,
Dan diri kita sendiri pula sebagai korbannya,
Atau bahkan mengorbankan eksistensi hidup orang lain untuk memuaskan segala keinginan egois diri kita sendiri,
Menjerumuskan diri kita dalam lembah kejahatan yang sangat dalam.
Itulah waktunya,
Bagi kita untuk memperhatikan sebuah fakta atau kebenaran hidup,
Dan mengamatinya baik-baik secara penuh perhatian,
Bahwa semua ini tidak membawa kita kepada kepuasan hidup.
Ada waktunya,
Kita perlu menaklukkan diri kita sendiri.
Seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha,
Sekalipun seseorang prajurit mampu mengalahkan seribu prajurit lawan,
Tetap, adalah lebih hebat ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.
Mengenal kata puas,
Ialah ketika kita justru membatasi segala keinginan diri kita,
Mengontrol pikiran dan perilaku kita,
Serta bersikap hidup secara sederhana,
Tidak mengikuti segala keinginan itu.
Cukup sampai sejauh ini saja,
Sebesar apapun godaan dari dalam diri untuk meraih lebih banyak lagi.
Apakah engkau tahu,
Bahkan Sang Buddha hanya makan satu kali dalam sehari,
Hanya tidur dengan alas tidur yang sederhana,
Memakai jubah dari kain bekas buangan,
Tidak mencari-cari penghiburan duniawi,
Menghindari segala kesenangan yang banyak dikejar oleh para manusia lainnya,
Pangeran Sidharta Gautama dapat saja memilih untuk menjadi seorang raja yang berjubah mewah dan memiliki banyak istri dan pelayan.
Karena Sang Buddha mengetahui,
Bukan pada segala keinginan itulah letak kebahagiaan berada dan bertumpu.
Bila kita benar-benar mencintai diri kita,
Kita tidak akan mencelakai dan menjerumuskan diri kita sendiri,
Juga tidak akan bersikap egois terhadap diri kita sendiri,
Dengan cara menanam karma buruk,
Dengan cara menunda-nunda pekerjaan,
Dengan cara bersenang-senang dahulu barulah bersakit-sakit kemudian,
Dengan cara mengejar kepuasan hidup yang tidak akan pernah terpuaskan,
Dengan cara menyakiti dan merusak diri kita sendiri seperti mengkonsumsi minuman keras atau makanan yang tidak menyehatkan,
Dengan cara merendahkan martabat kita sehingga menjadi tidak berbeda dengan seekor hewan,
Dengan cara berperilaku lebih hina daripada seorang pengemis, dimana bahkan seorang pengemis tidak mencari makan dengan cara merampok nasi dari piring orang lain,
Maupun dengan cara-cara yang merugikan orang lain ataupun diri sendiri.
Karena itulah,
Penting bagi diri kita untuk mencintai kehidupan dan dunia ini,
Seburuk atau tidak ideal seperti apapun wajah dunia ini,
Dan bersedia untuk menerima kondisi diri kita, apa adanya.
Ketika kita belajar untuk mencintai hidup dan dunia ini,
Maka kita akan mulai belajar untuk mencintai diri dan hidup kita sendiri,
Apa adanya,
Dengan mengenal kata “cukup”.